FF : THE … TRUTH.


lalalalala1

Title

The … Truth.

Casts

Huang Zi Tao

Atsuko Hara (OC)

Henry Lau

Hana Chikanatsu (OC)

Genre

Romance, Hurt, Family

Rating

PG-15

Length

Oneshoot

Author

NN Project

 

Warning!

Story idea by @neshanavy

Edited by @ririnovi

Written by NN Project

***

Kembali lagi dengan FF oneshot super panjang. Tadinya ini mau dibikin pendek, tapi apa daya saking keasyikannya berakhir dengan panjang lagi 😀 Bikin FF ini awalnya dari bulan Juni 2013 pas EXO mau comeback Growl, pas aku lagi suka sama Tao, jadi main cast nya Tao. Tadinya mau sama Taemin, cuma gak jadi. Jadinya Henry lah. Ini emang bikinnya banyak jeda, makanya baru jadi setahun kemudian. Dan karena sangat panjang, ngeditnya juga perlu niat yang kuat. Barulah sekarang beres dieditnya 😀

Dan untuk cover, subhanallah sekali. Ini pertama kalinya bikin, selama ini gak peduliah gitu mau pake cover atau enggak, tapi sekarang mencoba buat. Terimakasih kamu yang udah posting tutorialnya, sangat membantu. Sekali lagi terimakasih ya kamuuuuu, iya kamu 😀 Terimakasih juga buat semua yang udah ngasih saran buat covernya. Cover diatas hasil dari penggabungan saran-saran dari kalian, peluk cium dulu hihi

Okay, thanks for coming anyway 🙂

 

“Tao-chan.. Bulan depan ya..”, ucap seorang gadis berambut hitam panjang yang kini bersandar pada punggung laki-lakinya. Kepalanya menatap lurus langit dan tangannya bergerak bebas di udara serasa menggenggam matahari. Seberkas cahaya menyilaukan menghalangi pandangannya. Ya, cahaya dari cincin yang bersemat di salah satu jarinya. Seulas senyum tersungging kala matanya menatap cincin tersebut.

“Rasanya baru kemarin aku bertemu denganmu.”, Tao yang kini sedang sibuk dengan komputer lipatnya berkomentar. Matanya terus menatap kedalam layar, namun tak sedikitpun mengacuhkan ucapan gadisnya.

“Kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Ini tahun kelima kita bersama.”, omel gadis itu. Ia berbalik dan memeluk leher Tao dari belakang.

“Ini sudah tanggungjawabku, kelak kau akan tahu kenapa aku begitu serius bekerja.”

“Aku tahu. Untukku, anak kita, masa depan kita, benar kan? Tapi kan perusahaan itu milik ayahmu, kau tak perlu berusaha keras.”

“Aku ingin bekerja keras untukmu, bukan memanfaatkan harta ayahku.”

“Baiklah, karena aku calon istrimu, aku harus mendukung apapun keputusanmu. Jangan terlalu lelah, aku tak mau di hari pernikahan kita, kau malah sakit.”

“Tenanglah, selama kau disampingku, aku selalu merasa sehat. Kau itu nyawaku.”, Tao mengecup punggung tangan gadisnya. Pohon sakura pun seakan menambah suasana romantis mereka dengan menggugurkan bunga merah jambunya ditemani semilir angin tenang yang tetap terasa hangat bagi mereka berdua.

“Hmm..”, Tao menghela napas berat. Dadanya terasa sesak.

Kenangan mengenai gadisnya selalu teringat di benaknya apapun yang ia lakukan. Hampir setiap hari bersama, dia tak menyangka, hari itu adalah hari terakhir ia bertemu dengannya. Pandangannya tertuju pada sebuah figura besar yang terpajang tepat dihadapan ranjangnya. Dia beralasan agar setiap kali bangun, wajah gadisnyalah yang pertama ia lihat.

“Hai, selamat pagi. Bagaimana keadaanmu? Disana menyenangkan, bukan?”, tanya Tao pada foto tersebut. Fotonya bersama gadis itu saat pertunangannya beberapa bulan lalu. Mini dress putih, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai. Mata Tao beralih pada kalender yang terduduk di meja tak jauh dari ranjangnya.

“Semestinya hari ini..”, gumamnya lirih, pandangannya mengarah ke sudut kamar. Tuxedo putih serta gaun pengantin berdiri dengan megah didalam lemari kaca. Tepat didekat pintu lemari tersebut, berserakan banyak undangan yang kondisinya cukup memprihatinkan dari keadaannya sendiri. Kamar megahnya yang selalu rapi kini jauh dari kata rapi. Botol alkohol berserakan dimana-mana. Barang-barang yang tak pada tempatnya, hingga segala persiapan pernikahannya yang tergeletak begitu saja.

“Tuan muda.. Tuan besar menunggu dibawah, Nyonya bilang Tuan muda harus turun untuk makan.”, ucap seorang pria paruh baya yang tak lain adalah pengurusnya dari kecil selain ibu dan ayahnya bila mereka tak bisa mengawasi secara langsung.

“Ya, nanti!”, teriak Tao, takut tak terdengar.

“Apa Tuan muda baik-baik saja?”, tanyanya.

“Tak pernah lebih baik dari ini.”, jawabnya tanpa ekspresi.

“Baiklah, apa Tuan akan mengunjungi makamnya?”

“Tentu saja.”

“Baiklah, akan ku siapkan mobil.”, selepas kepergian pengurusnya tersebut, lagi-lagi Tao menghela napas berat, diacak pelan rambutnya.

***

“Meeting jam delapan malam, sekarang baru jam.. Ya ada satu jam lagi untuk sekedar makan malam.”, ucap Atsuko sambil memainkan tabletnya. Atsuko Hara. Siapa pengusaha yang tak mengenal sosoknya? Pekerja keras dan disiplin, cantik dan mandiri, siapapun takkan menolak untuk bersamanya. Namun sampai sekarang tak satu pun pria yang tak diacuhkannya. Alasannya klasik, belum menemukan yang cocok, tapi yang sebenarnya karena pemikirannya hanya tertuju pada pekerjaan yang dibebankan ayahnya padanya.

“Saya akan pergi keluar dulu, tolong urus segala perlengkapan meeting.”, titah Atsuko Hara dengan angkuhnya pada sekretaris pribadinya. Sikap angkuhnya selalu muncul saat bekerja, terlebih karena ia merupakan orang dengan jabatan paling tinggi kedua di perusahaan penerbangan terbesar di Asia setelah ayahnya, tentu saja.

“Baik, Nona.”, sekretaris tersebut mengangguk seraya mulai mempersiapkan untuk meeting.

Mobil BMW keluaran terbaru meluncur keluar dari basement perusahaannya. Atsuko mengemudikan mobilnya dengan kecepatan lumayan diatas rata-rata. Belum jauh dia membawa mobilnya, tiba-tiba suasana menjadi lebih dingin dari biasanya. Mendadak bulu kuduknya berdiri, dan terdengar suara wanita menangis, entah darimana asalnya. Namun, rasanya suara itu berada dibelakang joknya.

Kepanikan langsung saja menyerangnya. Dalam kecepatan yang memang cukup cepat, Atsuko langsung menyalip kendaraan dan di remnya mobil secara tiba-tiba di pinggir jalan. Keputusan yang salah, gumamnya. Ia berhenti di tempat yang bahkan membuat kakinya bergetar hebat. Entah dimana posisinya sekarang, tapi yang jelas rasanya ia tak mengenal tempat ini. Di kanan dan di kiri nya hanya terdapat banyak pohon besar yang menjulang tinggi. Yang ia tahu, hanya ada mobilnya yang melewati daerah tersebut.

“Apa aku salah mengambil jalan?”, tanyanya pada diri sendiri.

Diambilnya ponsel yang ada di jok sebelah. Namun sepertinya tak ada gunanya. Tak sedikitpun jaringan tertangkap oleh providernya.

“Bagaimana ini?”, tanyanya meski tanpa kepanikan yang ia tunjukan.

Ditengah kepanikannya itu, suara tangisan terdengar lagi. Bahkan lebih jelas.

“Ya ampun, siapa itu?”, Atsuko terdiam dan bersandar di jok nya. Matanya terpejam karena hal ini sukses membuat rasa takutnya muncul.

“Tetaplah melaju..”, ucap seorang wanita tepat di telinganya. Suaranya begitu membuat bulu kuduk berdiri. Dibukanya mata Atsuko, seketika ia memutar kunci dan melajukannya dengan kecepatan sangat tinggi dan terus melaju tanpa tujuan.

‘Yang jelas aku harus mengikuti perintah itu..’, batinnya.

Tak berapa lama berselang, akhirnya ia tiba di sebuah restoran mewah yang sebelumnya tak pernah ia datangi.

The Honey Bee? Restoran apa ini?”, tanya Atsuko pada diri sendiri, tanpa disadari kakinya melangkah memasuki tempat itu.

Suara alunan piano terdengar merdu diantara kesunyian restoran. Harum semerbak bunga mawar, itulah yang pertama kali tercium saat pintu utama restoran terbuka. Hanya ada beberapa kepala yang sedang menikmati makanan disini sambil sesekali bersenda gurau penuh kehangatan. Atsuko tersenyum melihat pasangan dipojok restoran, wanita dan pria tua dengan rambut berwarna putih seluruhnya, saling tersenyum dan sesekali menggenggam erat tangan pasangannya.

“Hmm, sudah berapa lama aku tak merasakan kehangatan ini?”, pikirnya. Namun kebahagiaan itu mendadak sirna kala melihat sesosok pria di pojok lainnya. Bermacam-macam minuman alkohol. Keadaannya kacau, sepertinya memang sudah sangat mabuk.

“Dasar orang tak berguna.”, cerocos Atsuko kesal.

Ia mengambil tempat duduk di tengah ruangan. Sempat terpikir olehnya mengapa orang-orang lebih suka menempati tempat duduk di pojok ruangan? Padahal dengan duduk ditengah seperti ini semua hal bisa terlihat. Ah ya, termasuk pria pemabuk itu.

“Silakan pesanannya.”, ucap seorang pramusaji sambil memberikan sebuah buklet berisi visualisasi dari calon makanan yang akan dipesannya nanti.

Chicken steak, dan.. teh hijau saja.”, ucap Atsuko sambil menutup buku menu. Ditunggunya sang pelayan sambil menikmati alunan nada yang baru diketahuinya berasal dari seorang pianis diarah kanannya.

Mungkin karena pengunjung disini tidak banyak, maka penyajian makanannya pun tidak memerlukan waktu yang lama. Dilihatnya jam dinding antik tak jauh darinya, pukul tujuh lebih lima menit. Mustahil. Ia tadi keluar dari kantor pukul tujuh tepat, dan selama itu dia hanya menggunakan waktu selama lima menit?

‘Jangan pedulikan itu, Atsuko.’, ucapnya menenangkan dirinya sendiri. Dihabiskannya makanan dengan tempo agak cepat, setidaknya ia harus menyiapkan waktu tiga puluh menit di perjalanan. Siapa yang tahu kalau dia akan tersesat? Dia belum pernah kesini sebelumnya.

Setelah menyapu bibirnya dengan selembar tisu, dihabiskan teh hijau yang menurutnya sangat menenangkan itu. Ia hendak berjalan keluar, namun sebuah benda keras menabrak lengan kirinya. Cukup kencang.

“Maaf, bukan maksudku. Maaf.”, orang itu membungkukan badannya beberapa kali pada Atsuko. Bau alkohol yang menjalar di sekujur tubuhnya membuat Atsuko tak ingin berlama-lama. Bukannya tak terbiasa dengan bau seperti itu, hanya saja bau ini terlalu berlebihan. Ia tak suka orang yang mabuk berlebihan seperti itu. Sewajarnya saja.

***

“Dimana Hara-san?”, ucap sekretaris Kagesuki sambil mencoba menghubungi bosnya tersebut, namun selalu tak dijawab.

“Aku sudah sampai Kagesuki-san.”, ucap Atsuko sambil membenarkan tatanan rambutnya yang tersibak angin sewaktu ia berlari masuk kedalam kantor.

“Ah, syukurlah. Silakan masuk, Nona.”

Di ruangan itu sudah berkumpul beberapa orang dengan jabatan penting di perusahaannya.

“Jadi, kita harus mencari partner kerja yang bisa mendongkrak perusahaan ini.”, ucap salah satu manager perusahaan kepercayaan ayah Atsuko, setelah sebelumnya menjelaskan tentang buruknya kurva laba perusahaan mereka akhir-akhir ini.

“Apakah sudah ada calon partner yang mau bekerja sama dengan kita?”, tanya Atsuko. Kerutan di keningnya menandakan seberapa gentingnya keadaan perusahaannya saat ini.

“Kami sedang mencoba bernegosiasi dengan salah satu perusahaan periklanan. Mereka seperti tertarik dengan perusahaan kita. Jika kita berhasil bekerjasama dengan mereka, kita bisa mempromosikan perusahaan ke seluruh Jepang. Karena mereka sudah dikenal sebagai perusahaan periklanan yang dipercaya di seluruh Jepang.”, ucapnya lagi.

Atsuko mengangguk paham. “Kalau begitu, aku ingin bertemu dengan mereka. Tolong susun waktu yang pas.”, ucapnya ingin segera mengakhiri pertemuan ini. Sedaritadi pikirannya tidak fokus. Ada sesuatu yang mengganggunya hari ini. Kejadian aneh tadi, dan perasaannya yang campur aduk setelahnya. Mungkin dengan sedikit berstirahat akan membantu.

“Hara-san, pulang sekarang?”, tanya sekretarisnya. Atsuko mengangguk tanpa memberikan kata apapun lagi.

“Jangan ceritakan apapun yang terjadi hari ini..”, ucap suara itu di kepalanya. Tak pernah terpikirkan olehnya akan mengalami hal seperti ini. Apa itu suara hantu? Tidak ada hantu di dunia ini. Arwah seseorang yang telah mati akan langsung dikirim ke alam baka, pikirnya.

***

Rumah besar dengan halaman yang juga cukup luas. Inilah hasil kerja keras ayahnya membangun perusahaan yang kini berada di tangannya. Atsuko tahu, dia bukan pemimpin utama perusahaan itu, tapi ia tak bisa membiarkan ayahnya yang sudah mulai menua tetap repot mengurusi perusahaan. Maka, ia membiarkan dirinya yang berkorban.

Tanpa mengucapkan salam, ia masuk kedalam rumah. Di jam seperti ini biasanya orangtuanya sudah tidur. Jadi, ia tak perlu susah susah mengucapkan salam pada kumpulan benda mati di rumah.

Lampu ruang tengah masih menyala rupanya.

Atsuko melewati tempat itu. Sadar dengan keadaan, ia membungkukan badan beberapa kali. Ayahnya sedang menerima seorang tamu. Entahlah, itu tamu atau bukan karena tak biasanya ayahnya bertemu dengan seorang yang lebih muda.

“Ayah belum tidur?”, tanya Atsuko basa basi.

“Rekan bisnis ayah. Perkenalkan dirimu, Atsuko-chan.”

“Atsuko Hara.”, ucap Atsuko sambil membungkukan badan.

“Henry, kau bisa memanggilku dengan nama itu.”, ucap pemuda itu.

“Ya, senang bertemu denganmu Henry-san. Ayah, ini sudah malam sebaiknya ayah cepat tidur.”, ucap Atsuko memandang ayahnya yang hanya tersenyum. Ia kemudian menaiki tangga menuju kamarnya.

***

Atsuko turun dengan tergesa-gesa. Tidak biasanya ia bangun terlambat pagi ini. Sebenarnya ini belum bisa dikatakan terlambat, namun pekerjaannya yang menumpuk membuatnya harus memajukan jadwal kerjanya menjadi lebih pagi.

“Sarapan dulu.”, ucap ibu Atsuko di meja makan.

“Aku bawa roti saja bu, aku harus segera ke kantor.”, ucap Atsuko mencium pipi ibunya, kanan dan kiri. Kemudian berjalan mendekati ayahnya dan berpamitan seperti biasa.

Langkahnya tak terhambat oleh heels cukup tinggi yang dipakainya. Sudah terlalu biasa. Yang ia inginkan saat ini hanya masuk kedalam mobilnya, dan membuat perjalanannya ke kantor selesai dalam waktu sepuluh menit. Dilihatnya mobil itu terparkir dengan manis didekat pintu gerbang. Dihampirinya dan lekas membuka pintu kemudi. Terkunci.

Jendela mobil terbuka, membuat Atsuko sedikit terlonjak. Munculah wajah yang tak asing untuknya. Jelas saja, baru tadi malam ia bertemu rekan ayahnya itu.

Tanpa berbicara apapun lagi, Atsuko masuk ke pintu sebelahnya.

“Aku tak ingin menanyakan apapun saat ini, tentang keberadaanmu disini, di mobilku. Tapi, bisakah kau antarkan aku ke kantor sekarang? Aku sudah terlambat.”

Pria itu menggendikan bahu, namun ia setuju. Tanpa berkata apapun juga, ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.

“Kau benar-benar sibuk. Sampai lupa membedakan mana mobilmu dan mana mobil orang lain. Hara-san, ini mobilku.”, gumam Henry sambil memandang lurus ke jalan.

Atsuko membulatkan mata, kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Rapi. Mobil ini sangat rapi, tak seperti miliknya. Juga tak ada kumpulan CD lagu-lagu favoritnya di dashboard. Tak ada boneka panda di bangku belakang. Ia berpura-pura tersedak untuk menghilangkan kesalahtingkahannya. Tersadar kebodohannya, tadi malam ia sengaja membayar taksi dan meninggalkan mobilnya di kantor.

“Ah, maaf.”, ucapnya menelan roti yang sedang dikunyahnya.

“Tidak masalah, Hara-san. Kau sudah sampai di kantor.”

***

“Hari ini aku ada meeting dengan partner baru perusahaanku. Kau lihat kan? Aku bekerja keras setelah kepergianmu. Cukup sulit rasanya, tapi tidak masalah.”, ucap Tao, sambil berbicara dengan sebuah foto seperti orang gila. Tapi, itu sudah menjadi kebiasaan baru untuknya. Pria kebangsaan Cina itu belum bisa melangkah sendiri tanpa kehadiran gadis yang disebut sebagai nyawanya itu.

Sama seperti kerja nyawa pada umumnya, seseorang takan bisa hidup tanpa itu. Dan disinilah ia, seperti seekor anak kucing yang terjebak didalam sangkar. Seperti anak anjing yang terkurung didalam kotak. Ingin mencari jalan keluar, namun tak bisa karena kompas yang digunakannya rusak di tengah jalan.

“Aku pergi.”, salamnya untuk yang terakhir kali sebelum meninggalkan kamar pribadinya.

Beberapa hari yang lalu ia menerima sebuah proposal pengusulan kerjasama dengan sebuah perusahaan penerbangan. Bukan nama yang asing memang, melihat profil perusahaan juga yang memang telah dikenal di seluruh Asia. Namun, desas desus mengatakan akhir-akhir ini perusahaan itu mengalami penurunan, entah itu dari segi keuntungan, ataupun eksistensi.

“Ayah..”, panggil Tao saat di ruangan ayahnya.

“Ya?”, tanya ayahnya bingung. Tao sama sekali bukan orang terbuka yang mudah menceritakan apa yang ia rasa.

“Bolehkah untuk kali ini aku menolak menghadiri meeting itu?”, tanyanya ragu.

“Ada apa? Apa yang terjadi Tao-san?”

“Aku ingin mengunjungi makamnya lagi, dengan keadaan yang lebih baik tentunya.”

“Tao.. sejak kapan kau menomorduakan pekerjaan? Bukankah kau memang mencintai pekerjaanmu?”

“Aku memang mencintai pekerjaanku, tapi itu karena dia. Lalu setelah kupikir lagi, dia kini pergi, untuk apa aku masih bekerja keras? Lagipula kalapun perusahaan ini bangkrut, harta kita tetap tak akan habis semuanya.”

“Sampai kapan kau akan terus begini? Jangan memperberatnya, bahkan ketika dia sudah tak ada.”

“Aku tak memperberatnya, aku hanya ingin mengunjunginya saja. Saat dia hidup, aku tak bisa meluangkan waktu lebih dari dua jam tiap harinya. Apa salah jika aku meminta satu hari saja bersamanya?”

“Baiklah kalau itu maumu, katakan pada sekretarismu untuk menunda meetingnya.”

“Terimakasih, ayah.”

Selepas kepergian Tao dari ruang kerjanya, ayah Tao sontak menangkupkan kedua tangan ke muka.

“Maafkan ayah, Tao.. kalau saja ayah memberitahumu soal kenyataannya, ayah mungkin akan dibenci olehmu seumur hidup ayah. Tapi ayah lebih rela, daripada melihatmu menderita seperti ini.”, ayah Tao menatap sebuah foto yang terpampang di meja kerjanya. Dirinya, istrinya, anak semata wayangnya, dan seorang yeoja. Semestinya yeoja itu kini menjadi istri dari anaknya.

***

“Nona, maaf.. ada telepon.”, ucap salah satu pembantu di rumah Atsuko. Dia mengetuk pintu perlahan.

“Apa? Dini hari seperti ini?”, tanya Atsuko sambil meraba jam weker kesayangannya.

“Sekarang jam sembilan pagi, nona.”

“Astaga, ada meeting hari ini!”, Atsuko melompat dari kasurnya. Sayang, selimut masih membelit kakinya, akhirnya kepalanya lah yang terlebih dahulu mencium dinginnya lantai.

“Hati-hati..”, ucap seorang wanita yang entah sejak kapan ada didalam kamarnya. Wanita itu terduduk membelakangi jendela kamarnya. Wanita dengan wajah pucat, rambut hitam panjang, dan dress kuning langsat.

“Eh, siapa kau?”, tanya Atsuko seraya mencoba bangkit. Tangannya sibuk membuka selimut yang membelitnya. Saat kepalanya mendongak, dia tak menemukan wanita itu lagi.

“Kemana dia?”, tanya Atsuko.

“Mencariku?”, yang dicari malah bertanya balik dan seketika telah duduk manis dihadapan cermin rias milik Atsuko.

“Ba.. bagaimana kau masuk kesini?”

“Apa itu sebuah pertanyaan? Tentu lewat pintu, cantik..”, godanya.

“Tapi.. pintu itu kukunci dari dalam.”, suara Atsuko terputus-putus.

“Memangnya masuk kesini harus membuka pintu dulu? Untukku tidak.”

“Maksudnya?”

Belum sempat wanita itu menjawab, suara pembantunya kembali terdengar.

“Nona, apa anda tertidur lagi?”, tanyanya.

“Ah tidak tidak, sambungkan saja teleponnya dengan telepon di kamarku. Akan kujawab sekarang.”, pinta Atsuko lemah.

“Katanya nona diminta menghubunginya.”

“Baiklah, akan segera kulakukan. Oya, siapa yang meneleponku tadi?”

“Katanya dari pihak agensi periklanan.”

“Mati karirku!”, Atsuko lagi lagi melompat mengambil ponselnya yang tiba-tiba menghilang.

“Kau tak punya foto dirimu sendiri ya? Malangnya.”, ucap wanita itu. Sekarang si wanitaㅡyang sepertinya bukan manusia ituㅡduduk diatas lemari baju Atsuko yang menjulang tinggi. Tangannya terlihat memainkan sebuah benda hitam dan tipis.

“Itu ponselku! Bagaimana kau bisa kesana??”, bentak Atsuko.

“Begini..”, wanita itu tiba-tiba turun melompat begitu saja. Namun sebelum menapaki lantai, tubuhnya berhenti.. dia melayang.

“Kau..”, belum percaya dengan apa yang ia lihat, Atsuko malah terjatuh tak sadarkan diri diatas lantai.

“Kenapa ya dengan wanita ini? Aneh! Seperti melihat hantu saja.”, keluh wanita itu dan seketika pergi keluar menembus pintu kamar Atsuko.

***

“Bagaimana pengiriman barang yang kemarin? Sampai?”, tanya Henry pada anak buahnya.

“Sampai. Kita berhasil lolos pengawasan karena penerbangan itu.”

“Baguslah, bekerjasama dengan perusahaan itu bukanlah hal yang merugikan. Terlebih perusahaan itu hampir gulung tikar, kucuran dana yang besar pasti akan sangat menggiurkan.”, jelas Henry tanpa ekspresi. Matanya menatap lurus kearah foto yang ditancapkan di dinding.

“Jangan harap kau dapat mengganggu bisnis ini, atau kau akan kehilangan yang lebih dari kemarin, Tuan Huang!”, seketika pisau tajam tertancap tepat di foto yang memperlihatkan orang yang disebutnya tadi. Ya, ayah dari Tao.

***

“Kenapa aku harus diturunkan dan bertemu wanita itu? Bahkan mengenalnya pun aku tidak!”

“Lakukan apa yang diperintahkan saja.”

“Tapi mana mungkin aku melakukan apa yang tak aku mengerti. Aku butuh kejelasan.”

“Semua akan jelas dengan sendirinya. Jalani saja.”

“Tapi.. apa memang yang harus aku lakukan?”

“Membantunya menyelesaikan masalah dan masalahmu akan selesai.”

“Masalah? Memangnya ada?”

“Kalau kau  tak memiliki masalah, untuk apa malaikat maut menahanmu diantara dua dunia ini?”

“Jadi?”

“Kau mati dengan meninggalkan banyak hal yang belum selesai, kau harus menyelesaikan itu. Dan wanita itulah jalan satu-satunya.”

“Tapi.. aku tak mengenalnya.”

“Dekati dia, kau harus buat dia mempercayaimu.”

“Baru melihatku saja dia pingsan, seperti habis melihat setan saja.”

“Memangnya kau pikir kau masih manusia?”

“Aku.. ah sudahlah, lalu kenapa aku tak ingat dengan semua hal yang pernah kualami?”

“Kalau kau ingat, kau akan berat meninggalkannya. Tenang saja, wanita itu akan membantumu mengingat semuanya. Tapi..”

“Tapi apa?”

“Saat kau berhasil mengingat semuanya dengan jelas, lambat laun kau akan menghilang dari bumi.”

“Kenapa seperti itu?”

“Jangan banyak bertanya, jalani saja.”

“Baiklah.”

***

“Apa? Meetingnya ditunda? Kenapa bisa?! Apa yang menyebabkanmu terlambat bangun?”, bentak ayah Atsuko.

“Ayah, maaf.. aku..”

“Kau mabuk lagi? Ingat Atsuko, kau itu wanita terhormat! Jauhi segala macam minuman seperti itu!”

“Tidak ayah, bukan gara-gara itu. Aku..”

“Itu apa, hah?!”

“Dengar dulu penjelasan Atsuko..”, ucap ibunya menenangkan.

“Anak ini, wanita ini harus tahu akibat sikap seenaknya! Kalau sampai perusahaan itu mendadak tidak mau bekerjasama dengan perusahaan kita, jangan berharap kau akan bisa masuk ke rumah ini lagi!”, bentak ayahnya yang berhasil membuat tangisan Atsuko pecah.

“Bahkan tekanan seperti itu pun kau menangis? Wanita lemah!”, ayahnya pergi, disusul ibunya yang mencoba menenangkan.

“Nona.. apa nona baik-baik saja?”

Atsuko menghambur ke pelukannya. “Kau tahu kan, mereka menunda meeting karena atasannya mendadak ada urusan, bukan karena aku yang terlambat bangun. Mereka hanya menunda, bukan membatalkan. Benar, kan?”, jelas Atsuko. Tangisannya menderu, suaranya benar-benar serak.

“Tenang nona, tuan hanya emosi. Tidak perlu didengarkan.”

“Tapi aku masih punya telinga, aku ini anak mereka, bukan robot yang harus selalu patuh. Bahkan mereka tak peduli dengan keadaanku. Mereka hanya peduli dengan harta, tahta, dan perusahaan. Mungkin mereka lupa kalau aku ini anaknya.”, keluh Atsuko.

Pembantu pun hanya bisa menepuk punggung Atsuko  yang kini memeluknya.

“Tenanglah, sekarang nona bersiap ke kantor, bukankah pria yang kemarin menunggu nona di restoran ya?”

“Hah? Siapa memangnya?”

“Kalau tak salah namanya Henry, dia menelepon tadi malam. Bibi beri nomor ponsel nona karena kebetulan nona sudah tertidur. Bibi kira tuan Henry sudah menghubungi nona.”

“Astaga, ponselku!”, seketika seakan melupakan persoalan tadi, Atsuko berlari menuju kamarnya dan mencari ponselnya. Benar saja, banyak pesan masuk dari nomor yang tak dikenal, dan itu pasti nomor Henry.

***

Atsuko berjalan cepat tanpa menghiraukan sapaan para bawahannya di sepanjang lorong. Terang saja, tekanan yang diberikan ayahnya mampu menghancurkan perasaannya sepagi ini. Bukan yang pertama memang, sebelumnya ia juga pernah dibentak ayahnya karena melakukan sesuatu yang bukan salahnya. Dan seperti biasanya, sebagai pelarian dia akan bekerja jauh lebih keras, sekedar untuk mengalihkan pikiran. Bukan dengan merenung dan menangis, karena itu tidak produktif, begitu katanya. Namun tak dipungkiri, Atsuko juga memiliki titik lemah dalam dirinya. Ada suatu waktu dimana ia akan pergi ke tempat sepi dan menangis sepuasnya disana. Meski tidak sering.

Dibukanya berkas-berkas baru yang kemarin malam belum ada disana. Beberapa sponsor membatalkan kontrak secara sepihak dengan alasan keuntungan perusahaan penerbangan itu sekarang berada dibawah angka yang tertera pada kontrak. Tidak ada pilihan lain selain menyetujuinya.

Atsuko melempar bolpoin di tangannya ke sembarang arah. Muak menandatangani kumpulan proposal tersebut.

“Jangan terlalu stres memikirkan pekerjaan.”, ucap sebuah suara yang akhir-akhir ini gemar menggemuruh di telinganya.

Atsuko menatap pemilik suara itu dingin, tangan pucat itu sedang memainkan bolpoin yang tadi dilemparkannya di udara. Atsuko tak peduli, diambil bolpoin lain di lacinya dan mulai menandatangani lagi.

“Kau tidak mendengarkanku?”, makhluk semi transparan itu tiba-tiba sudah berada disamping Atsuko, membuatnya terkaget dan hampir menyoret berkas penting yang sedang ditandatanganinya.

“Kau tidak puas menggangguku tadi pagi?!”, bentak Atsuko sambil berdiri, digebraknya meja karena kekesalan yang memuncak. Makhluk itu menghilang tanpa jejak, membuat Atsuko mendesah kencang. Ia yakin halusinasinya sedang tidak normal sekarang.

***

“Pagi yang cerah..”, ucap Tao meletakan seikat bunga tulip ungu diatas pusara kekasihnyaㅡmantan. Setiap hari entah itu pagi, siang, sore, malam, ia selalu menyempatkan datang. Baginya itu adalah tempat ternyaman kedua setelah kamarnya sendiri.

Rekaman itu muncul lagi. Reka adegan peristiwa orang yang sangat dicintainya tak pernah lepas dari ingatan. Hari dimana seharusnya ia berpusing-pusing mengurus acara pernikahan bersama calonnya. Tapi kejadian itu merenggut semua. Ketika ia sedang melajukan motornya, tentu bersama gadis yang selalu setia memeluknya dari belakang. Semua terjadi dalam sepersekian detik saja di otaknya. Mendadak sesuatu yang salah menimpa ban belakang motornya hingga oleng. Motornya jatuh, melemparkan ia dan gadis itu sejauh mungkin. Beruntung, teknik bela diri yang dipelajarinya membuat pertahanan tubuhnya lebih kuat. Namun tidak dengan kekasihnya yang malang.

Kepalanya tertunduk, tangan kirinya berusaha menopang berat tubuhnya dengan menyangga pada batu nisan.

“Andai kau masih hidup, Hana-chan..”, bisiknya lirih.

Diusapnya nama yang tertera pada batu tersebut. Hana Chikanatsu. Tanggal pertanda sebulan yang lalu raga didalam tanah itu dikubur. Masih bisa dirasakannya suara yang selalu meneleponnya untuk bangun setiap pagi. Masih disimpannya juga pesan-pesan singkat yang menyuruhnya agar tidak terlambat makan. Dirinya terlalu jauh untuk merasakan apa yang orang biasa sebut ‘move on’. Ia belum sanggup jika harus menyimpan segalanya untuk sebatas kenangan saja. Gadis itu belum mati didalam benaknya.

Melakukan perjalanan pikiran ke masa lalu nyatanya berhasil membunuh banyak waktunya. Apa saja yang dilakukannya tadi hingga kini matahari sudah sampai tepat diatas kepalanya?

“Besok aku akan datang lagi, selamat siang..”, dirasakan panasnya batu nisan itu dengan bibirnya, kemudian berangsur pergi.

Tak disadarinya, angin sepoi disekitarnya sedang membiaskan sebuah bayangan yang kini tersenyum manis. Sejak tadi bayangan itu tak henti memperhatikan Tao. Sesekali tersenyum, dan sesekali terlihat sedih.

***

“Kau jarang makan siang? Apa kau tidak kelaparan?”

“Aku lebih baik tidak makan, daripada makan dalam keadaan tak tenang karena pekerjaanku belum selesai.”

“Kau hidup bukan hanya untuk bekerja, Hara-san.”

“Setidaknya begitulah yang diajarkan ayah padaku.”

“Jangan dipaksakan.”

“Aku akan berhenti jika aku mau.”

“Baiklah, kau sepertinya bukan gadis manis yang penurut.”

Atsuko mendesah pelan setelah mengakhiri panggilan itu. Sejak kapan pria bernama Henry itu menjadi sok akrab dengannya? Mereka bahkan hanya berkenalan untuk formalitas belaka dihadapan ayah Atsuko. Ah, berapa menit waktu yang dibuangnya hanya untuk memikirkan itu? Pekerjaannya masih menumpuk.

“Kau seharusnya menerima saja tawarannya.”, ucap sebuah suara, menghentikan aktivitas Atsuko lagi.

“Siapapun kau, manusia atau bukan aku tak peduli. Segera pergilah dari sini! Darahku tidak enak!”, ucap Atsuko dengan nada agak tinggi.

“Kau pikir aku vampir? Aku bahkan tak makan apapun setelah aku mati.”, wujud transparan itu menghilang dan muncul lagi tepat di sebelah Atsuko. Membuat jantung Atsuko kembali melonjak.

“Bisakah kau tidak mengagetkanku?? Ya!”, manusia itu tampak frustasi, berbeda dengan roh disebelahnya yang menatap polos.

“Baiklah, apa maumu?”, Atsuko menggeser kursi kerjanya untuk memberi jarak diantara mereka.

“Bisakah kau membantu menyelesaikan masalahku?”

“Lalu apa masalahmu?”

“Justru itu aku tidak tahu.”

Ekspresi frustasi Atsuko tak berubah. Malah semakin menjadi.

“Lalu apa yang bisa kulakukan untuk membantu masalahmu yang bahkan tak kau ketahui?”

“Begini, aku selalu bergerak menggunakan instingku. Dan aku ingin kau menerima ajakan orang itu untuk makan siang bersama.”

“Setelah masalahmu selesai apa kau akan berhenti menggangguku?”

“Ya.”

“Baiklah, kuikuti apa maumu.”

Roh itu menghilang secara perlahan, menyisakan seulas senyum yang lama-lama ikut hilang juga berbarengan dengan suara ketukan pintu.

“Hara-san, ada orang yang ingin bertemu anda.”, ucap sekretarisnya. Atsuko mengiyakan tanpa mengalihkan pandangan dari wujud yang semakin menghilang itu.

“Maaf Hara-san, aku datang kesini untuk memaksamu makan siang.”, ucapnya masuk tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Atsuko mengalihkan pandangan kearahnya disaat yang sama dengan ditutupnya pintu. Dibereskannya juga berkas-berkas yang tercecer diatas meja.

“Kau bahkan menyusulku kemari, Henry-san? Baiklah aku menyerah. Dan ya, panggil aku Atsuko saja.”

***

“Atsuko-san, kau lihat kan bagaimana para karyawanmu melihat kita saat berjalan di lorong tadi? Sepertinya aku akan populer di kantormu.”, ucap Henry memulai percakapan di meja makan mereka.

“Kalau begitu jangan datang ke kantorku lagi.”, jawab Atsuko fokus pada makanan dihadapannya.

“Kenapa? Kau cemburu?”

Atsuko menatap mata Henry heran. Cemburu? Untuk apa? Pikirnya.

“Tidak, aku hanya tidak suka dengan orang pencari sensasi seperti itu.”, jawabnya jujur.

“Maaf kalau begitu.”, ucapnya sambil tersenyum. “Lalu, bisakah kau menceritakan tentang dirimu? Aku sangat ingin tahu, kemarin ayahmu bilang kalau.. Atsuko-san, apa kau mendengarkanku?”

“Ah ya, aku dengar.”, jawab Atsuko bohong. Mendadak saja matanya terpaku pada pengunjung restoran yang baru datang. Pria itu, bukannya yang kemarin ia temui? Pria yang mabuk berlebihan. Namun hari ini tampilannya tak sehancur kemarin. Ia tampak begitu berkelas, tapi tetap saja image-nya sudah buruk dimata Atsuko.

Henry mendengus pasrah dan mulai memakan sajikan dihadapannya dengan kesal. Tak dipedulikannya kemana pandangan Atsuko berlabuh, tidak penting baginya.

“Ajaklah dia berkenalan.”, ucap sebuah suara di telinga Atsuko.

“Apa??”

“Ada apa?”, tanya Henry bingung.

“Ehm, tidak. Kau mengenal pria itu?”, tanya Atsuko menunjuk menggunakan garpunya diam-diam.

Henry menoleh, namun wajah pria itu terhalang dari arahnya. “Tidak terlihat.”, jawabnya saat berbalik.

“Aku akan memesan teh sebentar.”, Atsuko beralasan. Ia melihat peluang berkenalan itu sangat besar, mumpung tempat duduk pria itu dekat dengan meja pemesanan.

“Teh hijau.”, ucap Atsuko sambil mengacungkan telunjuknya setinggi hidung pada seorang karyawan yang merangkap sebagai kasir.

Diliriknya sejenak pria yang duduk di sebelah tempatnya berdiri. Bagaimana cara mengajaknya berkenalan? Dia tampak serius dengan earphone dan ponselnya.

“Ini teh hijaunya.”, ucap pekerja dibelakang meja sambil memberikan satu buah gelas kayu.

“Terimakasih.”, balas Atsuko sambil berbalik.

Sekarang bagaimana.. brak!!

Aww! Panas!”, rintih Atsuko setengah menjerit. Membuat pengunjung restoran memperhatikan kearahnya. Tapi, apa pedulinya? Pria yang baru akan diajaknya berkenalan itu baru saja menabraknya hingga teh panas yang sedang dibawanya tumpah mengenai tangan kirinya. Dan kemana dia sekarang? Pergi begitu saja tanpa mengucapkan maaf? Atsuko bersumpah dalam hatinya ia tak ingin bertemu dengan orang itu lagi. Apalagi harus berkenalan dengannya. Sekalipun ia harus digentayangi oleh hantu yang meminta bantuannya, ia takkan mau. Mungkin Atsuko juga pernah bersikap cuek seperti itu pada orang lain, namun beruntungnya ia tak pernah meninggalkan tata krama seperti pria tadi.

“Atsuko-san, apa kau baik-baik saja?”, tanya Henry khawatir, membuat perih di tangan Atsuko kembali menjadi.

***

“Bagaimana tanganmu?”, tanya Henry selepas Atsuko keluar dari ruangan dokter.

“Hanya sedikit rasa panas yang cukup menyengat, tapi tak sampai melepuh.”, jawab Atsuko. Kejadian di restoran tadi membuat mau tak mau melunakkan sikapnya pada Henry. Terlebih, Henry membelanya saat berdebat dengan Tao didepan restoran.

“Laki-laki menyebalkan!”, gerutu Atsuko tanpa sadar. Henry hanya tersenyum hangat melihat tingkah Atsuko yang berubah tiba-tiba.

“Sudahlah.. dia kan sudah bilang tak sengaja.”, Henry mengacak rambut Atsuko pelan. Tak lama berselang, Atsuko mengangkat kepala dan menatap Henry sambil memegang kepalanya sendiri.

“Apa aku merusak rambutmu? Atau kau baru selesai melakukan perawatan rambut? Maafkan aku.”

“Bukan, selama ini..”, ucapan Atsuko tertahan.

“Selama ini apa?”, Henry penasaran.

“Ah bukan apa-apa, aku ingin pulang.”, pinta Atsuko.

“Dasar wanita, bicara bertolak belakang dengan kenyataannya.”, ucap wanita yang tiba-tiba muncul disamping Atsuko.

“Kau juga wanita.”, timpal Atsuko.

“Eh? Ada apa? Aku? Wanita?”, Henry mulai bingung. Matanya menatap ke segala arah, siapa tahu ia salah dengar.

“Bukan bukan, kau pasti pria sejati Henry-san..”, Atsuko mencoba tertawa, sedangkan wanita itu sudah tertawa terbahak-bahak.

“Kau seperti orang gila, berbicara sendiri!”, ejek wanita itu dilanjutkan dengan tawanya lagi.

“Awas, lihat saja nanti!”, timpal Atsuko meremas tangannya, entah lupa atau memang tidak ingat, dia menyentuh tangannya yang hampir melepuh. “Aww sakit!”

***

Sesampainya di rumah, seperti biasa, rumah dalam keadaan tanpa kehidupan. Lagi lagi, gumam Atsuko. Ia berjalan gontai menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Sesekali mencari ke segala arah, siapa tahu ada satu orang saja yang menyadari kehadirannya. Tapi nihil, ketika sampai di kamar pun semua tetap hening.

“Sudah pulang?”, tanya wanita itu tiba-tiba, membuat Atsuko yang sedang duduk di sudut kasurnya langsung terjatuh.

“Ya! Yang kau lihat? Sudah tahu masih bertanya!”, jawab Atsuko sambil mengelus tangannya.

“Kelihatannya kau mulai dekat dengan pria itu, tapi aku tak menyukainya.”

“Siapa maksudmu? Henry?”

“Ya, dia.. terlihat menyebalkan.”

“Apa urusannya denganmu?”

“Apa kau lupa? Urusanmu kini menjadi urusanku, dan sebaliknya. Mengerti?”

“Lupa? Bahkan aku tak pernah tahu soal itu.”

“Jangan melanggar janji! Kau harus berbagi denganku, agar semuanya menjadi lebih mudah.”

“Mudah? Untukku? Kau bercanda! Lagipula, perjanjian apa? Aku tak merasa pernah menandatangani, apalagi melihat surat perjanjiannya.”

“Dasar maniak kontrak!”, ejeknya.

“Oya, kau lihat? Tanganku ini harus diperban akibat kelakuan pria yang di restoran itu, dia siapa sih?”, omel Atsuko sambil menunjukan tangannya.

“Mana kutahu, kupikir kau sudah tahu tentangnya.”

“Lalu kenapa kau menyuruhku berkenalan dengannya?”

“Sudah kubilang, aku hidup menggunakan insting. Semua spontan dan tanpa berpikir. Bahkan aku saja tak pernah mengingat hal yang telah kulalui.”

“Ah terserahlah! Pergi sana, aku mau istirahat.”

“Sebentar, kau melakukan apa yang kuperintah? Astaga, akhirnya!”

“Maksudnya?”

“Kau berusaha mendekati pria tadi setelah aku menyuruhmu, bahkan kau menerima ajakan Henry setelah aku menyuruhmu menerima ajakannya.”

“Baiklah, aku mengaku, instingmu benar-benar membuatku penasaran tanpa aku sendiri sadari. Tapi kalau ternyata semua ini malah merugikan, aku akan menuntutmu.”

“Aku tak akan merugikan sepihak. Sudah kubilang kau bantu aku, lalu aku membantumu. Walau aku tak tahu ada masalah apa diantara aku dan kau. Ini.. aku sudah menyiapkan kertas perjanjiannya. Kau perlu menandatanganinya.”, jari wanita itu dijentikkan dan keluarlah sebuah map kuning dengan selembar kertas yang berisikan banyak kesepakatan. Karena tak begitu peduli, Atsuko hanya menandatanganinya disamping tanda tangan wanita itu. Hantu mana mengerti soal kontrak?

“Lalu apa yang harus kulakukan untukmu? Oya, kau tak perlu membantuku, aku tak memiliki masalah apapun dan dengan siapapun.”

“Kau bodoh. Mana mungkin kau tak memiliki masalah? Kau hanya terlalu bodoh untuk mengetahuinya.”

“Bahkan kau sendiri pun tak tahu masalahmu, bagaimana kau bisa tahu soal masalahku? Hantu bodoh.”

“Makanya malaikat menurunkanku di hidupmu. Kita harus saling membantu.”

“Baiklah, baik baik. Jadi aku hanya perlu melakukan apapun yang instingmu katakan, bukan?”

“Ya, benar sekali.”

“Lalu apa?”

“Berkenalan dengan pria tadi, dekati, selidiki, bantu, dan selesai.”

“Berkenalan? Sepertinya bukan hal yang mudah. Bagaimana caranya?”

Mendadak hening. Wanita itu seketika menghilang tanpa jejak.

“Ini pasti mimpi..”, batin Atsuko.

***

Paginya, Atsuko terbangun dari tidur. Tubuhnya menggeliat guna melemaskan ototnya yang terasa pegal.

“Sudah kubilang, tadi malam itu hanya mimpi.”, Atsuko terkekeh. Lalu ia pun bergegas bangun dan terkejut kala melihat map kuning yang sama dengan map yang tadi malam. Sebuah post-it tertempel diatasnya.

‘Simpan baik-baik, selamat menikmati Hari Minggu mu.’

Ternyata bukan mimpi, batin Atsuko. Kini Atsuko melangkah menuju kamar mandi, dilihatnya post-it kuning melekat di cermin dekat wastafel-nya.

‘Sepertinya kau harus berbelanja keperluan mandimu.’

Atsuko langsung melirik kearah perkakas mandinya, dan benar, semuanya habis.

“Aku memang harus berbelanja.”, ucap Atsuko pada diri sendiri. Ia tak tahu bahwa sebelumnya wanita, ehm atau hantu tersebut telah dengan sengaja membuang isi seluruh sabun, facial foam, pasta gigi, dan perlengkapan yang lainnya.

***

Sesampainya di super market, Atsuko berjalan kearah tempat yang ia tuju, membeli banyak keperluan yang ia butuhkan.

Lima kantung plastik berisi keperluan kini dibawanya menuju mobil di parkiran. Belum sempat ia masuk ke dalam mobil, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.

‘Datanglah ke restoran itu, Henry mungkin menunggumu. Hati-hati.’

“Nomor siapa ini?”, Atsuko coba mengingat-ngingat, namun kali ini otak cerdasnya tak mengingat apapun.

Tak lama berselang, ponselnya berbunyi lagi, kali ini panggilan masuk dari Henry, berbarengan dengan peringatan baterai ponselnya yang sudah sangat menipis.

“Aku menunggumu di restoran sekarang, aku tak akan memulai makan tanpamu.”, belum sempat menjawab, panggilan tersebut sudah diakhiri oleh Henry di sudut lain.

Tanpa berpikir lagi, Atsuko melajukan mobilnya menuju tempat yang akhir-akhir ini menjadi langganannya mengisi perut walau tak merasa lapar.

Jalanan mendadak padat merayap, cuaca pun seakan mendukung dengan matahari yang bersinar sangat terik. Atsuko terbakar emosi, macet dan menunggu sambil diam, itu adalah hal yang paling dibencinya. Tanpa memilikirkan keselamatan, ia nekat menerobos semak belukar untuk mengambil jalan pintas yang tak begitu jauh dari posisinya sekarang. Jalan itu yang ia lihat di GPS mobilnya. Mungkin hanya ia yang kesal dengan kemacetan ini hingga tak ada mobil lain yang mengikuti arus yang baru ia buat sendiri.

“Mobil ini harus masuk ke bengkel.”, gumam Atsuko kesal.

Tak sampai setengah jam mobilnya melaju diantara jalan yang kosong tanpa ada mobil yang lain, mobilnya mendadak oleng. Untung saja Atsuko masih bisa mengambil alih dan menepikannya di pinggir jalan.

“Ada apa lagi ini?”, gerutu Atsuko seraya memeriksa apa yang terjadi dengan mobilnya. Dan sesuai perkiraannya, salah satu ban mobilnya bocor. Dan yang lebih sialnya lagi, ia tak membawa ban pengganti yang semestinya ia bawa. Dan sekali lagi, ia menggerutu kesal.

“Kenapa harus di jalan ini? Sampai besok pun tak akan ada yang bisa menolongku. Ponselku pun mati.”

Setengah jam menunggu diluar, berharap ada siapa saja yang membantu. Namun rasanya nihil, hingga sebuah mobil melaju searah dengan yang ia tuju. Sekuat tenaga yang ada, ia mencoba memberhentikan mobil tersebut.

“Hey! Berhenti! Tolong aku!”, Atsuko menggerakan tangannya di udara ke kanan dan kiri, namun mobil itu tak berniat mengurangi kecepatannya sedikit pun. Apalagi hingga berhenti. Atsuko yang tak pernah diacuhkan seperti ini mulai merasa kepalanya terbakar matahari. Diambilnya batu kecil, dan tanpa perhitungan ia melemparkannya ke arah mobil tadi.

Entah kekuatan apa yang datang, hingga batu itu mengenai kaca belakang mobil dan mampu memecahkannya.

“Ya ampun!”, Atsuko sontak menutup mulutnya yang menganga. Mobil itu berjalan mundur dengan cepat dan berhenti mendadak beberapa sentimeter tepat dihadapan Atsuko. Suara decitan rem yang diinjak mendadak membuat Atsuko memejamkan matanya tanpa sadar.

“Kau masih hidup.”, ucap pria yang keluar dari mobil itu.

“Kukira kau akan menabrakku.”

“Untuk apa? Aku tak mungkin akan membunuh wanita lagi, walau wanita itu tak kukenal sepertimu.”

“Syukurlah. Ehm, membunuh lagi?”, sindir Atsuko hati-hati. Tubuh pria itu menjulang tinggi hingga Atsuko harus medongakkan kepalanya.

‘Sebentar, pria ini? Yang di restoran itu kan?’, batin Atsuko.

“Apa maksudmu?”, tanya pria itu lagi.

“Eng.. Aku.. Maaf aku tak bermaksud apa-apa, aku akan mengganti rugi soal kerusakan mobilmu. Berapa? Katakan saja.”, jawab Atsuko sambil sibuk mencari dompetnya.

“Tak usah, bukan hal besar yang harus dipermasalahkan. Apa maksudmu melempar batu pada mobilku?”

“Aku ingin mencari tumpangan. Ban mobilku bocor, tak ada taksi yang lewat, dan ponselku mati.”

“Jadi kau ingin menumpang di mobiku setelah kejadian tadi?”

“Aku tak sengaja!”, timpal Atsuko ketus.

“Baiklah, lagipula tak akan ada kendaraan yang lewat sini. Aku sebenarnya tak ingin mengantarmu, kecuali jika ingin ke restoran di ujung jalan sana.”

“Kau akan kesana juga?”

“Cepatlah, waktuku tak banyak.”, pria itu masuk kedalam mobil.

Di perjalanan, tak ada percakapan yang terdengar. Semua bergeming menikmati perjalanan yang dirasa cukup lama.

“Sampai.”, ucap pria itu memberhentikan mobilnya.

“Hah? Masih sekitar beberapa puluh meter lagi.”, omel Atsuko.

“Aku tak ingin ada hal aneh yang dibicarakan pegawai restoran jika melihatku membawa wanita yang tak kukenal sepertimu.”, jelas pria itu dingin.

“Tapi.. ah baiklah, terimakasih.”

Mobil itu melaju dan terparkir tak jauh dari pintu masuk.

“Kenapa lama?”, tanya Henry saat melihat keadaan Atsuko yang kacau. Rambut berantakan, make-up yang tipis bahkan hampir habis, pakaian kasual, dan tanpa tas atau apapun yang mendukung penampilannya.

“Ponselmu tak aktif.”, timpal Henry yang melihat Atsuko hanya terdiam dalam kelelahannya.

“Ponselku mati, mobilku bannya bocor, kutinggal di ujung jalan sana. Dan oya, bisa kau antar aku? Tasku tertinggal disana, bersama ponselku juga.”

“Baiklah baiklah, kau benar-benar membuatku cemas. Makanlah, kau kelihatan lelah.”

‘Tentu saja.’, batin Atsuko keheranan.

Pria yang membantunya tadi terlihat duduk di pojok biasanya. Pelayan datang menghampiri meja Atsuko untuk membawakan makanan yang sudah sedaritadi dipesankan Henry.

“Permisi, pria yang diujung sana itu siapa ya? Apa kau tahu?”

“Dia? Dia itu pemiliki restoran ini.”, jelas si pelayan.

“Oya? Pemilik restoran ini? Lalu apa yang dia lakukan disana? Kenapa rasanya setiap hari dia disana?”, tanya Atsuko penasaran.

“Maaf, saya pegawai baru. Yang saya tahu beliau adalah pemilik Chikanatsu Restaurant ini.”, jawaban yang sedikit mengecewakan bagi Atsuko.

“Ehm baiklah, terimakasih. Oya, siapa namanya?”

“Zitao.. Tuan Tao kami biasa memanggilnya. Umurnya masih cukup muda, jadi jangan sekali kali memanggilnya dengan sebutan lain.”

“Baiklah. Oya, nanti kembali lagi, akan kuberikan tip untukmu atas informasi ini.”, Atsuko tersenyum ramah.

“Rasanya, kau tertarik dengan pria itu?”, ucapan Henry berhasil membuat Atsuko tersedak.

“Aku? Ah, mana mungkin? Dia bukan tipeku.”

“Kalau aku?”

***

“Perkembangan yang bagus.”, ucap seorang wanita yang mendadak muncul dibelakang pintu saat Atsuko baru saja membukanya. Seperti sudah terbiasa, ia tak mempermasalahkan.

“Aku jadi penasaran, kira-kira untuk apa kau menyuruhku berkenalan dengannya?”, tanya Atsuko lebih kepada dirinya sendiri.

“Mungkin suatu saat kita bisa mengetahuinya.”, ucapnya sambil mengikuti Atsuko berjalan masuk menuju kamar pribadinya, meski nyatanya hanya suara langkah kaki Atsuko yang terdengar.

“Kau sedang berbicara dengan siapa?”, sebuah suara berat mengagetkan Atsuko.

“Ayah? Eh.. tadi aku sedang menelepon temanku, baru saja selesai.”, beruntungnya ia sedang menggenggam ponsel yang bisa ia tunjukkan sebagai barang bukti.

“Istirahatlah, tadi ada perwakilan agensi periklanan itu menelepon kemari, mereka bilang siap melakukan pertemuan besok pagi. Kau ingat kan kata-kata ayah tempo hari?”

“Aku mengerti, ayah. Aku akan berusaha untuk tidak mengecewakan ayah.”, Atsuko menunduk hormat kemudian berlalu menuju tujuan asalnya.

“Kau dengar kan apa kata ayahku tadi? Kuharap kau tak menggangguku besok.”

“Ya, aku takkan mengganggumu. Dan, jangan lupa untuk berangkat sebelum pukul tujuh.”

“Aku akan berangkat pukul delapan seperti biasanya.”

“Tidak tidak, kau akan mengikuti instingku kan? Datanglah sebelum pukul tujuh.”

Terdengar hembusan napas berat dari salah satu. “Baiklah, sebelum pukul tujuh.”

***

“Setelah agensi periklanan itu menyetujui kerjasama antar perusahaan kami, maka bisnis yang kita jalankan akan berjalan lebih baik.”, ujar ayah Atsuko pada telepon genggamnya.

“Kulihat proses pengiriman kemarin berjalan lancar, kenapa anda masih berniat bekerjasama dengan perusahaan itu? Apa bekerjasama denganku kurang menguntungkan?”

“Sebuah perusahaan memerlukan kerjasama realistis yang didukung oleh perusahaan lain diluar sana, bukan hanya bisnis kerjasama diam-diam seperti yang kita lakukan. Tenang saja, proyek kerjasama kita takkan putus.”

“Tentu saja, semua sudah tertera di kontrak yang bahkan sudah anda tanda tangani, tidak mungkin mendadak dibatalkan. Jadi, saya harap anda bisa bersikap bijak menanggapi kerjasama dengan saya, dan kerjasama dengan perusahaan itu. Tentu proyek kita lebih menjadi pokok, bukan?”

“Ya, kita sudah pernah membahas ini sebelumnya. Bagaimana jika pertemuan singkat lagi? Besok pagi seperti biasa anakku yang akan bertemu dengan perusahaan itu, jadi kau bisa datang kemari dan kita membicarakan secara leluasa.”

“Baiklah, besok pagi.”

***

“Hara-san, mereka sudah menunggu didepan.”, ucap sekretaris Kagesuki setelah sebelumnya mengetuk pintu.

“Ah ya, kita antar mereka ke ruangan meeting bersama.”, perintah Atsuko sambil berdiri dari kursinya, memastikan keadaannya rapi, dari mulai rambut hingga sepatu. “Berapa orang yang datang?”

“Tiga orang.”

“Kukira hanya akan ada satu orang saja yang datang.”, ujar Atsuko pelan.

Matanya masih mencoba meraba jalan dengan benar. Tadi pagi ia bangun sangat lebih awal dari jadwalnya, jadi ia belum terbiasa. Langkahnya terhenti ketika melihat dua orang pria dan satu wanita yang sedang duduk di sofa ruang tamu mereka.

“Maaf membuat anda sekalian menunggu. Perkenalkan, Atsuko Hara. Dan terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk kami.”, sapanya hangat, tak lupa memberikan salam hormat yang juga dibalas oleh tiga orang dihadapannya.

“Silakan menuju ruang meeting, kami sudah menyiapkannya semaksimal mungkin.”, ajak Atsuko ramah.

“Kepala perusahaan kami masih dalam perjalanan, beliau meminta maaf atas keterlambatannya.”, ucap salah seorang pria bermata paling sipit.

‘Masih ada?’, batin Atsuko.

“Bukan masalah, kami bisa mengantarkannya langsung ke ruang meeting jika beliau sudah datang.”, usul Atsuko.

“Ya, baiklah kalau begitu.”

Atsuko dan sekretarisnya mengantar tiga tamu tersebut ke ruangan yang sudah ditentukan. Tanpa menunggu hal lain, mereka masuk kepada topik utama. Atsuko membuka pertemuan ini dengan menjelaskan segala macam usaha yang dijalankan perusahaannya, hingga hipotesisnya mengenai penyebab penurunan laba perusahaan beberapa waktu belakangan. Tak lupa juga disebutkan apa saja keuntungan dua belah pihak jika nantinya mereka bekerjasama.

“Setelah grafik laba sampai di titik normal, maka..”

Tok tok tok

Semua mata teralihkan kearah pintu. Seorang staf mempersilahkan masuk, entah pada siapa. Mungkin kepala perusahaan yang..

“Ha?”, pekik Atsuko langsung menutup mulutnya. Jangan bertingkah bodoh dihadapan klienmu! Debatnya sendiri.

“Maaf karena keterlambatannya. Perkenalkan, Huang Zitao. Anda bisa memanggil saya dengan nama Tao saja.”, ujarnya tanpa disuruh.

Ini terasa mustahil bagi Atsuko. Wajah yang selalu ia lihat di restoran beberapa hari belakangan kini berada satu ruangan di kantornya. Ia yakin mereka baru saja terlibat kontak mata, tapi kenapa pria ini tak sama sekali kaget melihatnya? Berbeda sekali dengan reaksinya barusan.

Pria itu duduk setelah dipersilahkan oleh sekretaris Kagesuki. Salah satu bawahannya memberikan sebuah catatan tentang apa saja yang ia lewatkan dalam rapat tersebut.

“Silakan dilanjutkan, Hara-san.”, tegur bawahannya yang lain.

“Ya, maaf.”, ucap Atsuko sembari fokus pada pembahasan sebelumnya. Tak sefokus tadi, karena kini matanya banyak terfokus pada Tao.

Ini kesempatan. Tuhan telah mengirim cara agar ia bisa lebih mudah mengenal pria ini. Berarti kini misinya memiliki dua tujuan, membuatnya tertarik untuk bekerjasama, setelah itu ia bisa mengenal lebih jauh tentangnya. Tapi, apa bisa setelah kejadian yang sangat memalukan kemarin?

“Kita bisa membuat jangka waktu percobaan beberapa bulan, dan jika hasilnya bagus mungkin kontrak kerjasama akan secepatnya dibuat. Jujur saja Hara-san, caramu mempromosikan perusahaan sangat menarik untukku.”, ucap Tao tak bisa dipercaya. Keprofesionalan pria ini sungguh patut diacungi jempol, bahkan Atsuko tak bisa bersikap seprofesional itu.

“Terimakasih Tao-san, dan semoga kita benar-benar bisa bekerjasama dalam hal ini.”, tutup Atsuko dalam perjumpaan kali ini. Ingin rasanya ia berjingkrak bahagia mendapati kenyataan itu. Mungkin setelah hal ini selesai, hidupnya akan kembali tenang seperti dulu.

“Hara-san, sudah ada tamu yang menunggu anda.”, ucap salah satu pegawainya saat ia sedang mengantar rombongan keluar ruangan, padahal saat itu Atsuko sedang mencoba berinteraksi secara informal dengan Tao.

“Siapa?”, tanya Atsuko heran.

“Atsuko-chan, ini saatnya makan siang..”, ajak sebuah suara riang yang begitu akrab di telinga Atsuko, namun dengan nada yang tidak familiar.

“Baiklah kalau begitu, selamat siang dan sampai berjumpa lagi.”, pamit Tao ramah seraya meninggalkan gedung bersama antek-anteknya.

“Bukankah aku sudah memberitahumu jangan datang ke kantorku lagi? Kau kan bisa menghubungiku.”

“Kenapa dia bisa ada disini?”

“Jawab dulu pertanyaanku, Henry-san!”

“Baiklah, aku takkan datang kemari lagi. Dan sekarang giliranmu menjawab pertanyaanku.”

“Dia ternyata pemimpin perusahaan iklan yang akan bekerjasama dengan perusahaan kami. Kau pasti kaget kan? Aku juga!”

“Dan mereka akan menjadi sumber pemasukan yang cukup besar bagiku, mereka bisa menopang perusahaanku sehingga bisnis kami semakin lancar, selama ini..”,

Henry terdiam. Teringat saat itu, selagi ayah Atsuko berbicara dan meyakinkannya bahwa langkah yang diambilnya akan sukses, pria muda itu berkelana jauh didalam otaknya. Ia hanya tak ingin bisnisnya diketahui luas jika semakin banyak partner kerjasama. Ia tahu dengan pasti yang sedang dijalankannya merupakan bisnis ilegal. Maka, ia harus pintar-pintar meminimalisir risiko. Pikirannya mengotak-atik bagaimana cara agar agensi iklan itu tak mau bekerjasama dengan perusahaan penerbangan ini.

Namun, niatnya hancur berkeping-keping setelah beberapa detik lalu Atsuko berkata, “Dia klien yang sangat berarti untukku. Jika aku tidak mendapat kontrak itu, mungkin aku lebih baik bunuh diri saja.”

Dan jiwanya seperti dihantam. Henry tak sungkan mengakui bahwa sepertinya ia jatuh cinta pada gadis itu. Sangat. Tentu pilihan yang berat saat dihadapkan dengan kesuksesan bisnisnya, atau kebahagiaan orang yang kini setiap hari selalu ingin ditemuinya itu?

***

“Hai..”

“Astaga!”, Atsuko terlonjak kaget mendapati seorang wanita yang kini berbaring disamping tubuhnya.

“Masih perlukah bersikap berlebihan seperti itu? Aku bukan setan.”

“Tapi kau hantu, salah kalau aku terkejut?”

“Baiklah, maafkan aku.”

“Ada apa? Ini hari libur dan kau masih mengusik hariku?”

“Bangunlah, aku ingin memintamu menemaniku.”

“Kemana?”

“Berkeliling Jepang, bisa kan? Aku ingin bersikap seperti manusia lagi.”

“Apa? Ya ampun, ada apalagi dengan instingmu? Bisa bisa aku jadi sinting!”, omel Atsuko.

“Hari ini, malaikat memberiku hadiah. Entah kenapa, kau akan tahu hadiah ini saat kita berkeliling.”

“Haruskah aku melakukan apa yang kau mau? Aku lelah, baru dua jam aku tertidur.”

“Lalu salahku kalau kau pulang dini hari hanya demi mabuk-mabuk saja?”

“Lalu apa keinginanmu dan hadiahmu itu juga adalah urusanku? Pergilah sendiri, aku..”, belum selesai Atsuko bicara, tubuhnya sudah basah kuyup akibat diguyur air.

“APA YANG KAU LAKUKAN?!”, teriak Atsuko kesal.

“Apa yang kau lakukan?”, tanya seseorang. Suaranya bukan suara hantu perempuan itu. Tapi suara pria, dan suara itu..

Mata Atsuko langsung membelalak lebar. “Henry-san??”

“Maaf, aku melakukannya. Kau terus mengigau.”

“Ah, aku? Ya mungkin aku kelelahan.”

“Aku yang menyuruhnya.”, timpal hantu itu.

Atsuko mendengus.

“Bagaimana kalau kita pergi keluar untuk makan? Kulihat tak ada siapapun di rumahmu.”, tawar Henry.

“Ayo ayo!”, hantu itu bersemangat, hingga kakinya terpeleset akibat percikan air tadi.

“Hati-hati.”, ejek Atsuko sambil menahan tawa. “Baiklah, aku bersiap dulu.”

***

Sesampainya di restoran Chikanatsu, pertanyaan Henry sontak membuat Atsuko terkejut lagi.

“Siapa nama temanmu itu? Kenapa dia tak juga bersuara? Kulihat sebelum aku datang kalian tengah berdebat.”

“Hah? Temanku? Yang mana?”, tanya Atsuko bingung, matanya mencari siapa sosok yang dimaksud Henry. Yang ia lihat hanyalah seorang bartender di sudut restoran dan beberapa pelayan, entah apa yang sedang mereka lakukan. Juga hantu perempuan yang memang sedaritadi mengisi kursi kosong yang ada disamping Atsuko.

“Astaga, ada apa denganmu, Atsuko?”, Henry terkekeh.

“Maksudku, teman yang mana yang kau bicarakan tadi?”

“Yang disampingmu. Yang kini sedang menatapmu dengan pandangan yang tak kumengerti.”

Jelas saja Atsuko hampir tersedak air liurnya sendiri. “Dia? Dia maksudmu??”, tunjuk Atsuko pada perempuan itu, sementara si perempuan hanya tersenyum semanis mungkin walau sesekali terlihat menahan tawa.

“Ya, memang mana lagi? Tak ada yang kulihat lagi di kamarmu selain dia.”

“Kau.. kau bisa melihatnya?”, Atsuko masih tak percaya.

“Ya tentu saja, memangnya dia hantu sampai aku tak bisa melihatnya?”, goda Henry sambil mengedipkan mata pada hantu perempuan itu.

Atsuko hampir kesulitan bernapas mendengar ucapan Henry, berbagai pertanyaan muncul di otaknya.

“Inilah hadiah yang kumaksud.”, bisik hantu tersebut pada Atsuko.

“Kau berhutang cerita padaku.”, tunjuk Atsuko tepat mengenai ujung hidung perempuan tersebut.

‘Bahkan aku bisa menyentuh hidungnya!’, batin Atsuko tak percaya.

“Siapa namanya?”, tanya Henry lagi.

“Namanya..”, ucapan Atsuko terhenti. Matanya menerawang ke segala arah. Bahkan ia sendiri pun tak pernah tahu siapa nama perempuan itu.

“Chika!”, nama karangan itu berhasil ia buat setelah melihat kedatangan Tao.

Entah kenapa, mendengar suara tersebut pandangan Tao berubah menjadi hangat. Matanya seperti ingin mencari tahu yang mana Chika itu. Berbeda dengan pandangan yang biasa ia layangkan pada Atsuko. Dingin, dan terkesan sadis. Bahkan Atsuko memilih untuk membutakan matanya sejenak jika bertemu pandang dengannya.

“Chika? Nama yang bagus.”, puji Henry.

“Terimakasih.”, balas perempuan yang entah sejak kapan bernama Chika tersebut.

“Oya Atsuko-chan, aku harus pergi sekarang, maaf. Ada urusan mendadak. Ehm, Chika-san, aku titipkan Atsuko padamu, mohon bantuannya.”, pamit Henry buru-buru. Dan sekarang, barulah Atsuko bisa menghela napas lega.

“Instingmu, benar-benar menyusahkanku.”, keluh Atsuko selepas kepergian Henry.

“Tapi aku senang, kini aku bisa berjalan disampingmu dengan semua hal yang serupa denganmu.”

“Tapi aku tak bisa biasa saja, semua ini rasanya aneh. Aku tak percaya dengan semua keanehan yang muncul tiba-tiba seperti ini.”

“Maafkan aku, aku memang menyusahkanmu. Tapi hanya kau yang mampu membantuku.. hadiah ini pun, bukan tanpa syarat. Akan ada orang yang tetap tak bisa melihatku.”

“Siapa itu?”

“Orang yang mengenalku, orang yang merasa kehilanganku, mereka takkan bisa melihatku. Dan itulah tugasmu, mencari tahu siapa orang itu hingga aku mengingat semuanya, dan ketika semua itu selesai, kegilaan ini akan berakhir sesuai perjanjian.”, jelas Chika.

“Baiklah, janji adalah janji, tak akan kuingkari.”

“Lihat.. pria itu, membawa apa ya?”, tanya Chika kearah Tao yang melangkah kembali keluar restoran dengan kotak besar serta keranjang piknik di tangan yang lainnya.

“Mungkin akan berkencan diluar dengan kekasihnya.”

“Oya? Bagaimana kalau kita mengikutinya saja?”

“Tidak mau, moodku sedang buruk.”

“Baiklah, tapi apa kau bisa mengantarku?”

“Kemana?”

“Ke tempat dimana banyak bunga sakura gugur, aku ingin berteduh dibawahnya.”, tutur Chika ragu.

***

“Tuan Tao..”, sapa salah satu pegawai restorannya.

“Ya, apa pesananku sudah siap?”

“Tentu saja. Strawberry cake, strawberry juice, dan beberapa strawberry eclair dengan saus cokelat, bukan? Kami sudah menyiapkan segalanya di kotak rotan ini.”

“Terimakasih.. baiklah aku bergegas pergi dulu, Hana sudah menungguku.”

“Hana? Ah iya, kekasih Tao-san, kan?”, tanya pelayan yang memang mengenal Tao dari beberapa bulan yang lalu.

“Ya, hari ini ulang tahunnya. Aku harus merayakannya.”

“Semoga kejutanmu sukses, tuan..”, ucap pelayan tersebut diiringi kepergian Tao.

“Kekasihnya? Bukankah..”, tanya pelayan yang lainnya.

“Ya, mungkin semua itu terlalu berat untuknya. Tao-san masih terlihat sangat terpukul dengan kepergian kekasihnya. Biarkan saja, yang penting kondisinya masih bisa terpantau. Itu pesan Tuan Besar Huang.”

“Baiklah, aku mungkin tak akan bisa setegar dia jika kehilangan soulmate hidupku yang begitu kucintai.”

***

Bulan ini masih sama seperti bulan di tahun-tahun sebelumnya. Bunga sakura berguguran diantara orang-orang yang berlalu-lalang, berkutat dengan waktu yang serasa singkat. Namun berbeda bagi Tao. Hari ini, masih di tanggal yang selalu ia tunggu, di tempat yang selalu ia kunjungi bersama Hana, kini hanya menyisakan luka mendalam.

Datang ke tempat yang merekam jutaan kebahagiaan dan kehidupan indah mereka, terutama bagi Tao, kala bersama dengan Hana tentunya. Nafasnya menjadi terasa berat. Pohon sakura yang kini berdiri kokoh dihadapannya menjadi saksi bisu hubungan Tao yang berjalan bukan dalam waktu yang singat. Tapi kecelakaan itu tiba-tiba saja merenggut Hana dari kehidupan Tao.

“Kebahagiaan ini kita bangun susah payah, namun dengan mudahnya direnggut begitu saja.”, keluh Tao saat menyiapkan peralatan piknik seperti yang biasa ia lakukan.

“Biasanya kau akan mencibir jika aku melakukan ini.”, ucap Tao pelan.

“Jangan, ini tugas seorang wanita, biar aku yang melakukannya. Bagaimanapun, aku calon istrimu.”, ucap Tao sembari mengikuti gaya bicara Hana. Sekilas, bayangan masa lalu yang apik kini diputar ulang dalam pikiran Tao. Ia hanya sanggup tersenyum sambil meremas kuat serbet kesayangan Hana.

“Andai saja waktu itu aku tak mengajakmu pergi keluar, kau pasti masih menemaniku sekarang. Merayakan ulangtahunmu dibawah pohon sakura, tempat kesukaanmu.”, Tao menggigit bibirnya, menahan sakit yang tiba-tiba menyerang dadanya. Sekuat tenaga ia berusaha menahan tangisnya. Dan kali ini masih berhasil.

“Seharusnya aku mengerti mengapa hari itu kau bersikap lain dari biasanya. Andai saja aku lebih peka dan sadar kalau itu pertanda bahwa terakhir kalinya kita bersama.”

“Mungkin kau akan memarahiku jika tahu kalau aku selalu menyalahkan diri sendiri atas kejadian itu. Tapi sungguh, semua itu memang salahku yang tak bisa melindungimu. Semestinya ini kali keenam kita merayakan ulangtahunmu disini. Maafkan aku..”, Tao meniup lilin yang tadi ia nyalakan. Sebait doa ia ucapkan dalam hati. “Kalau kami berjodoh, tolong pertemukan kami lagi bagaimanapun caranya. Kalau kami tak berjodoh, aku ingin bertemunya dan meminta maaf.”

“Amin..”, ucap seorang wanita yang langsung saja membuat mata Tao yang sedaritadi terpejam kini terbuka lebar.

“Ada apa?”, tanya Tao dingin.

“Maaf aku mengganggumu, aku hanya ingin meminjam alas duduk yang kau bawa. Aku dan temanku ingin berteduh dibawah pohon yang disana.”, tunjuk wanita itu kearah sebelah kanan.

“Ambil saja.”, titah Tao dengan nada suara yang agak meninggi.

“Kau pasti marah, ehm maafkan aku.”, timpal wanita itu.

“Suaramu, seperti Hana.. apa kau jawaban dari doaku?”, tanya Tao dengan suara yang tiba-tiba melunak.

“Ah, apa maksudmu?”, wanita itu beranjak berdiri, namun Tao lebih cepat menarik tangannya hingga kepala Tao berhasil bersandar disalah satu bahunya.

“Aku Hara, bukan Hana.”, ucap wanita itu, yang tak lain adalah Atsuko.

“Hana.. maafkan aku.. rasa bersalah ini selalu hadir dan menyiksaku.. aku mencintaimu, sangat mencintaimu hingga rasanya aku ingin mati saja untuk menebus kesalahanku.”, ucap Tao tanpa sadar. Atsuko hanya diam sambil merasakan bahunya yang basah.

“Menangislah.. tak apa.. dia pasti memaafkanmu.”, ucap Atsuko pelan.

“Aku harus menemukan pria itu, bagaimanapun caranya!”, suara Tao kini hampir hilang seiring dengan kesadarannya yang juga menghilang. Tubuhnya oleng menimpa Atsuko yang jelas-jelas tak bisa menopang berat tubuh Tao.

“Hei.. Tao-san.. bangunlah.. jangan bercanda.. Chika.. bantu aku, kenapa diam saja!”, omel Atsuko kesal.

“Apa dia bisa melihatku? Tapi.. dia tak bisa menyentuhku. Mata kami.. sempat bertemu. Suaranya.. tak asing bagiku. Tempat ini pun..”, Chika terdiam di tempatnya, pikirannya melayang entah kemana. Omelan serta teriakan Atsuko sama sekali tak didengarnya.

“Siapa pria ini?”, pikir Chika.

“Hey, kenapa kau menjadi samar-samar seperti itu?”, tanya Atsuko yang kini menatap Chika bingung. “Aku hampir tak bisa melihatmu.”

“Semuanya akan segera berakhir sepertinya.”

***

“Jangan bertindak ceroboh! Jika kalian sampai menunjukkan gerak-gerik mencurigakan, kita akan langsung tertangkap!”, bentak Henry pada anak-anak buah dihadapannya.

Kepanikan tak bisa lagi disembunyikan dari wajah tampannya. Baru saja ia mendengar kabar bahwa bisnis pengiriman senjata yang sedang dijalankannya mulai terendus ‘anjing-anjing’ kepolisian. Ia tentu yakin siapa dalang dibaliknya. Pasti detektif kolot itu. Musuh bebuyutan ayahnya dari dulu hingga sekarang. Ia tak pernah berhenti mencurigai bisnis ini. Dulu bahkan sempat masuk pengadilan, namun kenyataan jaman sekarang ternyata terbukti. Hukum bahkan bisa dibeli hanya dengan uang rokok.

“Bagaimana bisa polisi mencurigai tempat ini?”, tanyanya lagi, masih dengan wajah frustasi.

“Ada penduduk yang terlebih dahulu melapor pada pejabat sekitaran sini, dan salah seorang dari kami tadi melihat ada polisi yang terus memperhatikan tempat ini dari kios seberang.”, ujar seorang pria bertubuh pendek.

“Pasti ini ada hubungannya dengan kontrak bersama periklanan itu.”, gumam Henry, lebih kepada dirinya sendiri.

“Lalu bagaimana selanjutnya, bos?”

“Bereskan semua yang ada disini, jangan sampai ada satupun senjata yang tersisa. Bawa ke tempat yang aman, kalian yang tentukan. Dan jangan lakukan kegiatan apapun sampai keadaan aman.”, putusnya sambil terus memikirkan rencana jangka panjang.

“Keadaan semakin mendesak, aku harus menentukan pilihan hari ini juga.”

***

“Kemana dia? Tega sekali meninggalkanku disini.”, keluh Atsuko dengan suara pelan, sangat pelan. Sedaritadi ia hanya duduk dibawah pohon sakura itu, menemani Tao yang hanya diam, tak melakukan apapun, mungkin sudah sekitar satu jam.

Bukannya tak ingin segera pergi, tapi Tao yang memintanya untuk tak pergi. Dan bukannya tak berontak, tapi sedaritadi tangan Tao terus menggenggam pergelangan tangannya. Tidak terlalu kencang memang, tapi pegangan tangan itu terus dipererat jika Atsuko sedikit saja mencoba bergerak. Disinilah, akhirnya Atsuko menyerah.

“Maaf, Hara-san.”, ucap Tao pada akhirnya. Suaranya terdengar sangat lemah, jauh dari kesan pertama yang didapat Atsuko dulu. Mulai dilepaskannya genggaman erat di tangan Atsuko.

Melihat kejadian dihadapannya, Atsuko sama sekali tak bisa berkomentar. Yang dilakukannya hanya diam, menatap Tao tak percaya. Keinginan untuk segera perginya hilang begitu saja.

“Maaf jika aku ikut campur, tapi.. kurasa kau membutuhkan seorang teman untuk membicarakan masalahmu. Kau bisa menceritakannya padaku.”, ucap Atsuko lembut. Meski ragu, ia perlahan memegang pundak Tao, mengusapnya perlahan. Memberi isyarat padanya, bahwa Atsuko seorang yang dapat dipercaya.

“Terimakasih, tapi maaf, kita bukan rekan dalam hal ini.”, ucap Tao dingin. Pria jangkung itu dengan tergesa-gesa membereskan barangnya, pertanda bahwa ia ingin segera pergi dari tempat itu. Sedangkan Atsuko masih diam, menatap Tao dengan pandangan simpatik.

“Kita bisa menjadi teman, bukan?”, ucap Atsuko menghentikan sejenak aktivitas Tao, sepertinya ia sedang memikirkan permintaan Atsuko barusan. “Dan tetap bersikap profesional dalam pekerjaan.”

Tanpa menjawab apapun, Tao pergi begitu saja meninggalkan Atsuko sendiri.

***

“Sudah malam, tapi kenapa dia belum kembali?”, tanya Atsuko pada bayangannya sendiri di cermin. Diam-diam, ia juga merasa kehilangan hantu perempuan yang dinamainya Chika itu. Bagaimana tidak? Biasanya sepanjang hari hantu itu selalu mengganggunya dengan insting-insting yang bisa digolongkan tak masuk akal. Dan sekarang, semenjak kejadian di taman tadi dia menghilang entah kemana. Atsuko juga tak terbersit satu tempat pun yang mungkin dia bisa menemukan Chika.

“Apa ini ada hubungannya dengan Tao? Tapi apa?”, pikir Atsuko sambil membenahi rambutnya yang masih basah.

Mendadak saja terbersit di otaknya, bukankah hantu biasanya akan berdiam di pemakaman? Ini gila, tapi Atsuko benar-benar berpikir untuk mengunjungi pemakaman malam ini. Maka, ia mempercepat gerakannya untuk merapikan diri.

“Atsuko-chan, mau kemana? Ini sudah malam.”

“Aku, sebentar bu. Aku hanya pergi keluar untuk membeli beberapa makanan.”

“Tidak bisa besok lagi saja?”, tanya ibu Atsuko kukuh.

“Aku sudah terlalu lapar, bu. Hanya sebentar, janji!”, ucapnya sambil mengacungkan kelingking dengan ekspresi memohon.

“Ayahmu sedang membicarakan bisnisnya dengan Henry-san didepan, kau sebaiknya tidak keluar.”

“Henry?”

“Ya, lebih baik kau kembali ke kamarmu.”

Bukannya menurut, Atsuko malah memajukan langkahnya kearah ruang depan. Ya, ada Henry disana. Dan sepertinya mereka benar-benar sedang membicarakan bisnis yang sangat penting, dilihat dari raut wajah keduanya yang sangat serius. Baru disadari, selama ini ia tak pernah tahu apapun mengenai bisnis yang sedang mereka jalankan, bahkan tak bertanya sama sekali.

Atsuko sengaja berlagak tidak tahu, dan berjalan ke tempat yang bisa dijangkau oleh mata ayahnya.

“Atsuko-san!”, panggil seseorang, bukan ayahnya.

“Ah, Henry-san, sejak kapan ada disini?”, tanya Atsuko basa-basi.

“Atsuko-chan, kemarilah. Ayah ingin membicarakan sesuatu juga denganmu.”

Atsuko mendekat, dalam hatinya ia puas karena rencananya berhasil. Ia duduk di kursi yang berdekatan dengan ayahnya.

“Kulihat, kalian akhir-akhir ini sudah banyak mengenal. Bagaimana jika, kita membuat sebuah rencana untuk kalian?”

“Maksud ayah?”, tanya Atsuko menyuarakan pertanyaan Henry.

Entah apa yang dikatakan ayah Atsuko selanjutnya, mata gadis itu malah tertuju kearah lain. Ia melihat bayangan itu lagi. Sosok hantu perempuan yang tadi akan dicarinya, namun gagal karena berita kedatangan Henry. Chika sedang menggelengkan kepalanya, menyatakan ‘tidak’ untuk apapun yang akan Atsuko lakukan nanti.

“Tidak.”, ucap Atsuko dan Henry berbarengan, membuat keduanya sepakat untuk saling memandang satu sama lain.

***

“Aku tak ingin kau dekat dengan Henry lagi.”, ucap Chika saat Atsuko masuk ke kamarnya.

“Kenapa?”

“Entahlah, aku tak suka. Kau mau kan fokus membantuku? Sepertinya pria bernama Tao itu mengenalku, aku ingin kau mencari tahu semua hal tentangnya.”, ucap Chika dengan nada dingin, tak seperti biasanya.

“Ba..baiklah. Tapi aku butuh waktu, sepertinya dia orang yang keras. Kau bisa lihat sendiri kan setiap aku bertanya padanya, dia selalu mengacuhkanku?”

“Ya, aku mengerti. Dan selama itu pula, kau harus benar-benar menjauhi Henry.”

“Beritahu aku jika kau sudah mendapatkan alasannya, aku sangat ingin tahu.”

“Aku agak ragu dengan alasanku setelah melihat ia menolak usul ayahmu tadi.”

***

“Memangnya ada apa dengan kalian?”, tanya ayah Atsuko di sudut lain rumah itu.

“Mari kita bahas hanya mengenai bisnis kita saja, aku tak ingin ada hal lain yang menggagalkan bisnis kita. Polisi biasanya bertindak cekatan, dan kita harus lebih licin daripada mereka.”

“Baiklah, tapi perlu kau ketahui. Aku takkan membatalkan kontrak apapun dengan periklanan itu.”

“Dan sekarang, tolong pikirkan mengenai bisnis kita juga. Semua akan berjalan mulus tanpa adanya periklanan itu.”

“Tetap tidak bisa, kita bisa mencari alternatif lain.”

“Lalu pikirkanlah, aku hanya akan tahu semuanya selesai sesuai harapan.”

***

“Apa yang kulakukan?! Bagaimana bisa aku membandingkanmu dengan orang lain? Aku bahkan baru saja mengenalnya!”, protes Tao pada dinding yang tadi sempat dipukulnya. Perasaannya bergemuruh saat ini. Perasaan yang entah bagaimana ia harus mengungkapkannya meluber keluar dari rongga hatinya. Entah kenapa di sela kekesalannya, ada perasaan bahagia yang terasa, meski samar. Dan itulah masalahnya sekarang.

“Mungkin ini karena aku terlalu mencintaimu, membuatku selalu berharap. kau akan kembali lagi disini, tapi itu tidak mungkin! Kau hanya ada satu, dan sekarang telah pergi, seharusnya aku sadar akan hal itu!”

Tao meraih ponselnya, dan ia melihat kontak nama itu. Masih mencoba mengatur napas, ditunggunya hingga nada sambung terdengar.

“Hara-san, sudah kupertimbangkan perkataanmu tadi siang.”

***

“Ayo kau harus keluar sekarang,” bujuk Chika. Atsuko sedang asyik membaca buku di kamarnya. Ini masih pukul 10 pagi dan dia ada janji bertemu Tao pukul 1 nanti. Bertingkah seolah tak mendengar apapun, lebih meyakinkan karena saat ini ia sedang menggunakan earphone.

“Ayooooo,”

Atsuko mendengus ketika Chika sudah mulai terdengar menyebalkan. Ia memandang hantu itu dingin. “Kau mau aku keluar untuk apa? Aku ada janji bertemu Tao hari ini, dan itu pukul 1. Sekarang masih pukul 10, aku ingin memanfaatkannya untuk istirahat,”

“Ada Henry didepan rumahmu,”

“Henry?”

Ia melirik kearah jendela kamarnya. Di depan, ada mobil Henry terparkir, dan pemiliknya baru saja masuk ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian, asisten rumah tangga Atsuko memberitahu bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.

“Baiklah, suruh dia menungguku sebentar,”

Atsuko melihat kearah Chika sejenak. “Kau bilang aku harus menjauhinya kan? Kenapa kau malah menyuruhku keluar dan bertemu dengannya?”

“Entahlah, ikuti saja dia,”

Atsuko memilih baju yang pantas untuk dikenakannya, lalu berjalan menuju ruang depan. Disana sudah ada Henry yang sedang tersenyum manis seperti biasa.

“Kau tidak sibuk kan hari ini? Kita bisa pergi keluar bersama, entah itu ke taman, menonton film, atau hal lainnya,” Henry melihat ekspresi Atsuko yang biasa saja. “Ini bukan kencan, hanya pergi berjalan-jalan biasa,”

Tanpa begitu mempedulikannya, Atsuko berjalan keluar diikuti Henry. “Aku ada janji pukul 1 nanti, jadi pastikan untuk membawaku pulang sebelum waktunya,”

Henry membuat gerakan hormat sebagai isyarat persetujuan, lalu membukakan pintu mobilnya untuk Atsuko. “Kalau begitu, kau saja yang putuskan kita akan kemana,”

Atsuko berpikir sejenak saat Henry mulai melajukan mobilnya. Dia mengemudi dengan santai seakan tahu arah yang akan mereka tuju, sambil menunggu jawaban Atsuko. Tidak ada satu pun yang terlintas di kepala Atsuko saat ini. Ia tak ingin memakan waktu lama bersama Henry, akan membuatnya sulit jika suatu ketika Chika memintanya kembali menghindari Henry.

Eoh? Ehm, bisakah kau mengikuti kemana perginya mobil itu?” ucap Atsuko melihat mobil yang tak asing baginya.

Henry melihat kearah depannya, mencoba mengingat plat nomor mobil yang ditunjuk Atsuko, tapi ini terasa asing. “Kenapa? Itu mobil siapa?”

“Temanku, setelah kita tahu kemana tujuannya, kita pergi ke taman,” jawab Atsuko dan Henry menurutinya. Diikutinya perlahan supaya mobil didepannya tak merasa curiga. Sebenarnya hal mudah baginya yang memang sering melakukan ini.

Sampai di sebuah pertigaan, Henry kebingungan karena mobil tersebut hilang dari pandangannya. Ini gara-gara ada motor yang menyalipnya tadi. Salahkan pengemudi itu!

“Maaf Atsuko-san, kita kehilangan jejaknya. Jadi sekarang apa yang akan kau lakukan?”, tanya Henry setengah menyesal. Matanya sesekali melirik Atsuko dan diam dengan wajah pucatnya.

Setelah memutuskan untuk menepikan mobilnya sejenak, ia membalikan tubuhnya pada Atsuko.

“Atsuko-san, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kau seperti sedang tidak enak badan. Apa kita pulang saja?”, tawarnya hendak memegang kening Atsuko, namun gadis itu menghindar secepat mungkin.

“Henry-san, kumohon jangan.. mengikutiku lagi.”, ucap Atsuko, suaranya terdengar bergetar. Didukung wajah pucatnya yang juga tak sedikitpun menatap Henry.

“Ada apa?”

“Kumohon.. setidaknya sampai masalahku selesai, kau jangan mengikuti ataupun menghubungiku.”

“Masalah? Aku harus tahu masalah seperti apa itu.”

“Tidak, kau tidak bisa mengetahuinya. Kau mau kan melakukannya? Aku.. tak bisa menyelesaikan semuanya jika kau terus berada didekatku.”

Henry menunduk. Ada sedikit rasa sesak yang muncul didadanya, namun hanya ia keluarkan dengan sebuah hembusan napas keras.

“Apa berhubungan dengan pria itu?”, tanya Henry merujuk pada Tao. Dilihatnya wajah Atsuko yang semakin meredup. “Baik, aku sudah tahu jawabannya. Dan aku akan melakukan apapun yang kau inginkan. Sekarang, aku akan mengantarmu pulang dan setelah itu akan menjauh darimu sebisa mungkin. Tapi.. setelah masalahmu selesai, kita bisa bertemu lagi, bukan?”

Kali ini Atsuko menatap bola mata coklat milik Henry tanpa ragu. Kemudian mengangguk. Segaris senyum terukir, meski tak begitu terlihat.

Ada satu hal yang membuat Atsuko tiba-tiba berkata seperti itu pada Henry. Sebelum sampai di pertigaan tadi, ia melihat mobil Tao memasuki area pemakaman. Didepan gerbang pemakaman itu berdiri Chika, menatap kosong pada mobil Tao. Apa yang sedang dilakukannya disana? Apa sebenarnya hubungan Chika dan Tao dulu? Ia harus menyelidiki ini, dan tidak mungkin bisa jika Henry masih berada di dekatnya. Entah untuk alasan apa, ia juga membatalkan pertemuannya dengan Tao pukul 1 nanti.

***

“Sebaiknya kita mulai berkegiatan lagi, bos.”, ucap salah satu anak buah Henry.

“Kenapa memangnya?”, tanya Henry dengan tatapan tidak ramah. Suasana hatinya sedang buruk saat ini.

“Keuangan kita semakin menipis karena tidak pernah adanya pemasukan selama kegiatan dihentikan. Sementara, pengeluaran terus saja mengalir. Banyak pihak yang harus kita berikan uang tutup mulut. Mereka mulai mencium tempat persembunyian senjata kita.”, jelas pria jangkung bertelinga lebar. Wajah seriusnya membuat Henry berkerut kening. Pemikirannya belum bisa terfokus.

“Kalau begitu lanjutkan saja kegiatan kita. Bukankah sudah cukup lama sejak si detektif itu menyelidiki tempat ini? Dan sampai sekarang tak ada tanda-tanda apapun.”, putusnya.

“Bagaimana dengan perusahaan penerbangan itu? Dan periklanan yang akan bekerjasama dengannya? Apa tidak akan menjadi masalah?”

“Akan kubereskan secepat mungkin.”, ucapnya sambil meraih ponsel dan menghubungi seseorang. “Kita harus segera bertemu. Tidak, kurasa diluar saja, terlalu mencurigakan. Bagaimanapun aku masih memiliki hak untuk ikut campur dalam bisnismu. Baik, malam ini juga.”

***

“Sudah beberapa minggu ini aku tidak pernah memeriksa data keuangan. Jadi, apa kau sudah merekap semuanya?”, tanya Atsuko pada kepala bagian keuangan di kantornya. Pagi ini ia tampak serius, padahal hari-hari sebelumnya ia telah berubah menjadi atasan yang ramah.

“Ini, semuanya sudah tersimpan rapi. Dan..”, kata-kata wanita bernama Wei Qian Ya itu terhenti kala Atsuko mendapat sebuah panggilan di ponselnya.

“Buat sesegera mungkin, sepertinya mereka terlalu lama melakukan penilaian terhadap perusahaan kita.”, ucap Atsuko cepat pada seseorang di seberang sana, hanya itu dan panggilan ia akhiri.

“Dan ini, berikan saja pada sekretarisku, biar nanti suruh dia simpan di mejaku. Aku harus mengadakan pertemuan dengan perusahaan iklan itu.”, ucap Atsuko terkesan bercerita. Wanita berkebangsaan Cina itu hanya mengangguk.

Tanpa memikirkan apapun, Atsuko berjalan cepat menuju basement, menghampiri mobilnya yang terparkir rapi di lokasi istimewa. Menjalankannya dengan kecepatan sedang, menuju perusahaan iklan milik Tao.

Matahari pagi yang terasa hangat sama sekali tak menggugah senyum Atsuko untuk mengembang walau hanya beberapa detik saja. Lagu yang diputarnya pun tak sama sekali menggugah bibirnya walau hanya untuk bersenandung kecil. Hari itu terasa datar baginya, entah kenapa.

“Aku mendukung keputusanmu.”, ucap sebuah suara dibelakang telinganya. Atsuko mengalihkan spion depannya kearah yang dirasa benar. Dan ya, dia bisa melihat Chika dengan sangat jelas dari kaca spion tersebut.

“Keputusan apa maksudmu?”

“Kau memang tak seharusnya dekat dengan pria bernama Henry itu. Instingku berkata, dia memiliki sebuah rahasia besar yang tak kau ketahui.”

“Semua orang pasti punya rahasia, bukan? Aku juga merahasiakan identitasmu sebagai hantu padanya.”

“Kasusnya berbeda dengan itu. Hey, coba kau tengok aku dibelakang.”, ucap Chika lagi, berbarengan dengan mobil Atsuko yang sampai di halaman parkir sebuah gedung besar yang cukup mewah.

Setelah dirasa nyaman dengan lokasi parkirnya, Atsuko melepas sabuk pengaman dan menengok ke bangku belakang. “Kau dimana?”, tanya Atsuko heran karena Chika tiba-tiba menghilang.

“Benar, kau sudah tidak bisa melihatku. Kalau begitu, bawalah cermin kemanapun kau berada, sepertinya hanya dengan benda itu kau bisa melihatku.”, pinta Chika, dan Atsuko tentu tak bisa menolak. Ia cukup muak untuk berdebat hari ini.

“Jangan menggangguku selama didalam.”

Namun tak ada respon dari Chika. Dilihat dari kaca spion pun sudah tidak ada tanda keberadaannya. Tak ambil pusing, Atsuko masuk kedalam gedung diantar oleh bawahan Tao, sepertinya.

“Dilihat dari kondisi keuangan perusahaanmu yang semakin menurun, kukira aku mulai ragu untuk menandatangani kontrak kerjasama itu.”, ucap Tao masuk pada topik utama. Dalam satu ruangan hanya ada dia, Tao, dan satu bawahannya, entah apa jabatannya.

Atsuko menarik kertas yang disodorkan bawahan Tao tadi, laporan keuangan perusahaan yang bahkan belum sempat ia lihat tadi, sebelum pergi kesini. Kurva yang semakin menurun dari minggu ke minggu. Belum lagi banyaknya warna merah yang menandakan seberapa kritis keadaan keuangannya.

“Beri aku waktu satu minggu lagi. Aku yakin bisa mengubah kondisi keuangan lagi. Selama beberapa minggu ini kuakui memang jarang memperhatikan kondisi kantor.”

“Aku membutuhkan partner kerja yang profesional, bukan main-main seperti ini.”, ucap Tao dengan tatapan mematikannya.

“Bukan maksudku, aku hanya..”

“Baik, kuberi waktu seminggu lagi. Jika memang keadaan tidak membaik, aku takkan mau menandatangani kontrak itu. Dan ya, kau harus menunggu hingga aku kembali ke Jepang lagi. Aku akan pergi sementara waktu, tapi jika aku setuju, akan langsung kukatakan padamu.”, ucap Tao memberi isyarat untuk mengakhiri pertemuan ini.

“Baiklah, terimakasih banyak.”, jawab Atsuko tanpa dibalas Tao yang hanya melengos pergi.

“Anda sepertinya sudah mengenal Tao-san cukup baik.”, ucap bawahan Tao sambil mengantar Atsuko. “Dia takkan bicara se-informal itu pada rekan bisnis.”

“Begitukah?”

***

Atsuko harus bekerja ekstra keras sekarang. Ia tak ingin perusahaan Tao menganggapnya tidak profesional. Ia harus bisa menaikkan kembali kurva keuntungan internal perusahaan. Tidak mudah memang, makanya ia harus bekerja hingga malam hari, bahkan hingga sudah tak ada siapapun di kantor.

“Hari ini aku ingin pulang dengan berjalan kaki, sepertinya akan membantuku menghilangkan penat di kepala,” ucap Atsuko, mengunci kembali mobilnya dan memutuskan untuk meninggalkannya disana. Kantor ini cukup aman, pikirnya.

Ia memilih jalan yang tidak terlalu ramai. Jalan ini sering dipakainya jika jalan di kota sedang padat. Ini merupakan salah satu alternatif jalan yang digunakan Henry jika menjemputnya dari kantor dulu. Sekarang dia hanya berjalan sendiri disini. Sudah cukup lama ia tak bertemu Henry, juga Chika. Kemana hantu itu? Dulu saat Chika seharian tak muncul, Atsuko pernah berniat menyusulnya ke pemakaman. Dia berhenti sejenak untuk menengok ke pintu gerbang pemakaman yang kebetulan dilewatinya. Tapi, dia seperti melihat seseorang didalam sana. Apakah itu hantu? Manusia mana yang datang ke pemakaman tengah malam begini? Tapi ia yakin itu manusia, dan bukan hantu. Sejak kehadiran Chika, dia setidaknya bisa membedakan aura manusia dan aura hantu. Itu dua hal yang sangat berbeda.

Maka dengan segenap keberanian yang ia punya, ia masuk untuk mendekati sosok itu. Berusaha keras untuk tidak mengagetkannya. Berbekal lampu dari ponselnya, ia berjalan perlahan. Ya, semakin dekat semakin jelas bahwa itu manusia, dan seorang pria. Pria itu sedang berdoa dengan tenang sembari memejamkan matanya.

“Maaf mengganggumu,” ucap Atsuko pelan.

Orang itu mendongak, matanya menyipit kala bertemu dengan cahaya ponsel Atsuko. Dengan gerakan meminta maaf, Atsuko menggelapkan sedikit cahayanya.

“Atsuko?” Tanya suara itu. Atsuko hanya diam, mencerna suara yang baru saja menyebutkan namanya. “Sedang apa kau disini?”

Baru, saat pria itu berdiri, Atsuko bisa lebih jelas melihat wajahnya. “Tao-san?”

“Apa yang sedang kau lakukan disini? Kau belum menjawab pertanyaanku,”

Atsuko tertegun. “Aku, aku baru saja pulang dari kantor dan kebetulan lewat didepan pemakaman ini. Aku melihat ada orang disini, dan bertanya-tanya, orang seperti apa yang datang ke pemakaman di tengah malam. Ternyata itu kau,”

“Kau? Pulang dari kantor selarut ini? Perusahaan macam apa yang membiarkan pegawainya bekerja hingga tengah malam,”

“Tenang saja, hanya aku yang tersisa di kantor tadi, tentu saja aku takkan membiarkan karyawanku bekerja sampai selarut ini,”

“Jadi hanya kau sendiri di kantor? Dan kau pulang selarut ini sendiri? Kau tidak pernah berpikir bagaimana orangtuamu akan khawatir padamu? Kau ini perempuan,” ucap Tao agak kencang. Atsuko hanya diam, baru bertemu dengan sisi lain Tao. “Aku akan mengantarmu, ayo,” ajaknya. Atsuko mengikuti langkah kakinya, beberapa kali menengok kearah batu nisan yang tadi dikunjungi Tao. Mencoba membaca namanya, namun karena ini terlalu gelap, Atsuko tak dapat jelas melihatnya.

“Masuklah,” ucapnya membuka pintu untuk Atsuko.

“Terimakasih,”

Saat mobil berjalan, suasana sangat hening. Tak ada niatan dari Tao untuk memulai pembicaraan. Namun, ini kesempatan bagus bagi Atsuko untuk mengobrol informal dengannya. Mengingat, dulu Tao sempat mengiyakan ajakannya untuk menjadi teman, hanya saja saat itu Atsuko harus membatalkan rencana pertemuan informal mereka. Sangat disayangkan.

“Ehm, apa yang membuatmu berpikir untuk pergi ke pemakaman selarut ini?” Tanya Atsuko meski agak ragu.

“Itu adalah calon istriku, dia meninggal karena kecelakaan beberapa waktu sebelum pernikahanku. Aku ingin mengunjunginya sebelum pergi ke Jerman besok. Aku tak punya waktu lagi karena besok aku akan mengambil penerbangan pertama kesana. Maka, aku memutuskan untuk mengunjunginya sekarang,”

“Kau tahu, kau akan dianggap gila jika ada orang lain yang melihatmu disana,”

“Kau juga gila, untuk apa menghampiri orang yang sedang ada di pemakaman selarut tadi? Kau tidak takut?”

“Tidak. Aku tahu yang kulihat itu bukan hantu,” Atsuko terkekeh pelan. “Jika kau tak keberatan, memangnya seperti apa calon istrimu itu?”

“Dia orang yang baik, sangat baik. Aku mengajaknya pergi hari itu, dan kecelakaan pun terjadi. Jika saja aku tahu semua ini akan terjadi, aku pasti takkan membiarkannya keluar dari rumah,” ucapnya. Atsuko hanya tersenyum hambar.

“Ini bukan salahmu, berhentilah berpikir seperti itu. Dia pasti tahu kau juga tak menginginkan ini. Aku tebak, kau pasti masih menyimpan fotonya kan?”

“Tentu saja, kau ingin lihat?”

Atsuko mengangguk. Tao merogoh sesuatu di dompet tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. Dia menjulurkan sebuah foto kearah Atsuko, namun..

“Berhenti! Berhenti sekarang!” sebuah suara kencang mengetuk kaca jendela mobil Tao, tepat disampingnya. Dua orang pengendara motor mengepung mereka dari kedua sisi. Menggunakan helm. Dari ketukan mereka, sepertinya mereka bukan orang ramah. Dengan malas, Tao menghentikan kendaraannya.

“Keluar!” suruh orang itu lagi. Atsuko membeku di tempatnya. Tangan dan kakinya gemetar. Mengapa ia harus ada di situasi seperti ini? Dan apa yang pengendara motor itu inginkan? Apa mereka perampok?

“Kau tunggu disini, apapun yang terjadi, jangan keluar,” ucap Tao.

“Lebih baik kau juga jangan keluar,” ucap Atsuko menghentikan Tao.

“Kau tidak lihat mereka sudah mengepung kita? Jika aku tak menuruti apa yang mereka inginkan, kita berdua takkan selamat. Sudahlah, mereka mungkin hanya ingin mengambil hartaku,” ucapnya sambil keluar.

“Apa yang kalian inginkan?” tanyanya.

Para pengendara motor itu turun dari kendaraannya. Menghampiri Tao yang berdiri bersandar di pintu mobilnya. Pintu mobil Atsuko sudah ia kunci.

“Kau bertanya apa yang kuinginkan?” Tanya orang asing tersebut, mencengkram kerah kemeja Tao yang semula rapi.

“Ya, apa yang kau inginkan sampai menghentikan mobilku? Berapa yang kau inginkan? Aku harus segera kembali ke rumah, jadi selesaikan semua ini sekarang,”

“Kau kira aku ingin uangmu? Baru kali ini aku dianggap serendah ini,” ucap seseorang yang lain. “Aku bukan perampok,”

“Lalu? Berkeliaran tengah malam di jalan yang sepi dan tidak melepaskan helm saat berbicara dengan orang lain. Bukankah kalian tampak seperti perampok? Hidupku tidak lebih berharga dari mobil ini sekarang, jadi untuk apa kalian menginginkanku? Siapa yang menyuruh kalian?”

“Sepertinya mulut orang ini harus diberi pelajaran supaya berbicara lebih sopan lain kali,”

Dan tanpa aba-aba, salah satu dari mereka memukul pipi sebelah kanan Tao. Tao masih tak melawan. Atsuko masih diam di tempatnya, jantungnya berdegup tak karuan. Beberapa saat lalu ia mencoba membuka pintu disebelahnya, tapi Tao dengan sengaja menguncinya. Apa yang harus ia lakukan? Suara pukulan-pukulan itu semakin jelas di telinga Atsuko. Ia tak mampu melihat kearah suara itu. Tangannya yang gemetar hebat mencoba mencari bantuan. Siapa yang harus dia hubungi saat ini? Henry? Ayahnya?

Di sisi lain, Tao yang sudah tak berdaya tak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Ia hanya menerima pukulan-pukulan yang dilayangkan orang-orang asing itu. Kepalanya semakin berputar, sudah beberapa kali ia memuntahkan darah dari mulutnya. Tapi satu hal yang ia coba pertahankan sedari tadi. Seberapa kuat orang-orang itu memukulnya, ia mencoba untuk tak mengubah posisinya dari pintu. Karena jika ia mengubah posisinya, orang-orang itu akan menerobos masuk ke mobilnya, lalu melakukan hal buruk pada Atsuko.

Tapi, semuanya selesai. Tidak ada lagi pukulan-pukulan itu. Tao jatuh tersungkur di aspal yang kotor. Orang-orang tersebut pergi. Tak ada suara yang bisa Tao dengar, hingga matanya terpejam sepenuhnya.

“Ayo! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!” ucap Atsuko setelah Henry berhasil mengeluarkannya dari mobil Tao. Henry kemudian membopong tubuh yang lebih berat darinya itu kedalam mobilnya. Mereka meninggalkan lokasi tersebut dan segera mencari  rumah sakit terdekat.

“Apa yang terjadi sebenarnya?” Tanya Henry melaju sekencang mungkin.

“Itu! Itu rumah sakit!” tunjuk Atsuko. Meski agak sebal karena Atsuko tak mengindahkan kata-katanya, Henry mengalah kali ini. Ia tak pernah melihat Atsuko sekhawatir ini, hanya karena pria itu?

Atsuko segera keluar dari mobil Henry dan memanggil beberapa perawat disana. Henry sudah mengeluarkan Tao dari mobilnya, bertepatan dengan datangnya perawat. Atsuko benar-benar panik. Ia tak tahu lagi harus bagaimana. Sepanjang lorong rumah sakit, yang ia lakukan hanya menangis. Sampai perawat menahannya untuk tidak ikut masuk ke ruang gawat darurat.

“Tenangkan saja dulu dirimu, dia takkan kenapa-kenapa,” Henry mencoba menenangkan Atsuko. Sekarang pakaiannya penuh darah karena menolong pria itu tadi.

“Aku.. aku tak tahu kenapa.. tadi..” Atsuko masih terisak. Henry mendudukkannya di bangku paling dekat. Ia juga duduk disamping Atsuko, memeluknya dan berharap ia akan segera tenang. Meski ia merasa sedikit cemburu mengetahui Atsuko menghubunginya hanya untuk meminta bantuan. Tapi setidaknya, dia bertemu lagi dengan Atsuko.

***

Mentari pagi bersinar dengan terik. Burung-burung diluar berbunyi nyaring, seakan memberitahu bahwa hari ini tak akan seburuk kemarin. Henry membuka matanya dan melihat sekitar. Masih di rumah sakit. Dan Atsuko masih ada disini, dipelukannya sepanjang malam. Namun, ia masih tertidur. Jaket miliknya masih menutupi tubuh Atsuko supaya tidak kedinginan. Tapi, ia harus pergi sekarang. Tidak ada waktu lagi. Dengan beribu maaf yang terucap, ia meninggalkan Atsuko disana sendiri.

‘Ada hal mendadak yang harus kukerjakan pagi ini. Maaf meninggalkanmu sendiri, kau harus tahu aku tak berniat seperti ini. Sekali lagi maafkan aku <3,’

Setelah memastikan pesannya sampai di ponsel Atsuko, ia bergegas menuruni tangga dan keluar dari rumah sakit itu.

***

“Aku dimana?” Tanya tao sembari melihat kesekelilingnya. Kini dia berdiri di tengah padang ilalang tanpa ada satu orang pun, kecuali..

“Hana?” ucap Tao pelan. Dilihatnya seorang wanita yang sudah lama pergi dan sukses membuatnya kacau beberapa waktu lalu. Rambut panjang Hana yang hitam sempurna tertiup angin, hingga membuat rasa rindu yang terpendam makin memuncak. Apalagi kala gadis itu tersenyum dan menghampiri Tao hingga tersisa jarak beberapa langkah saja di antara mereka.

“Hana? Apa benar ini kau?” suara Tao bergetar. Chika hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Apa kabar, Tao?” Tanya Hana. Tangannya menyentuh pipi Tao dan mengusapnya perlahan. Tanpa ragu tangan Tao menahan milik Hana agar tetap berada di pipinya. Matanya terpejam, airmata pun menetes dari matanya membasahi tangan Hana.

“Tao, jangan menangis, itu menyakitkan,”

“Tetaplah seperti ini, Hana. Jangan pergi lagi, aku merindukkanmu, aku rindu setiap hal tentangmu,”

“Aku juga merindukkanmu, tapi kau tidak bisa berada disini, kau harus kembali,”

“Kenapa tidak bisa? Aku harus kembali kemana? Kalau itu bersamamu aku mau,”

“Ketempat yang memang disana banyak orang yang lebih membutuhkanmu dari pada aku,” ucap Hana parau.

“Tapi aku lebih membutuhkanmu..” bantah Tao.

“Aku tau, tapi ini belum saatnya Tao, kembalilah. Akan ku tunggu kau disini,”

“Tidak, kau harus ikut denganku atau aku yang akan bersamamu,”

“Kau belum bisa bersamaku sekarang, Tao. Mengertilah… ini masih terlalu cepat. Kembalilah. Aku mohon,”

“Tapi..”

“Apa kau mencintaiku?” Tanya Hana.

“Tentu saja, aku akan terus mencintaimu sampai akhir hayatku nanti,”

“Kalau begitu kembalilah dulu, demi aku. Demi kita, Tao. Ada hal yg harus kau ketahui,”

“Tapi.. berjanjilah kau akan menungguku disini, jangan pergi lagi,”

“Tentu saja.. aku akan disini..” ucap Hana. Langkahnya mendekat dan kini hanya tersisa beberapa senti saja. “Aishiteru, Tao” Hana memeluk Tao. Tao hanya terdiam, airmatanya makin mengalir deras. Tao menangis dalam diam, rasa sakitnya hilang setelah bertemu lagi dengan Hana. “Berjanjilah akan terus mencintaiku, Tao,” pinta Hana.

“Hanya kau yang mampu mengatur hidupku.. hanya kau satu satunya yang aku cintai,” jelas Tao sembari melepaskan pelukannya dan mencium kening Hana. “Aishiteru, Hana..”, Tao mengecup bibir Hana dan seketika tubuh Hana menghilang bagai debu.

“Tao… bangunlah, apa yg terjadi?? Dokter !!! Dokter!!!” teriak Atsuko panik kala melihat detakan jantung Tao yang meningkat. Juga airmata yang terus mengalir dari matanya yang terpejam.

Beberapa perawat datang ke kamar Tao dengan tergesa. Satu diantara mereka menyuruh semua yang ada di ruangan untuk keluar sementara mereka memeriksa keadaan Tao.

Dokter mulai memainkan alat-alat canggih milik rumah sakit tersebut. Dicobanya membenarkan apa yang salah pada fisik Tao. Hingga setelah bercucur keringat beberapa lama, Tao mulai tenang meski belum bisa membuka matanya. Setidaknya ada perubahan baik.

***

“Kami akan memindahkan seluruh peralatan kami ke tempat baru hari ini. Kau sudah menyiapkan tempat itu kan?” tanya Henry pada ayah Atsuko. Pemuda itu terpaksa mendatangi rumahnya karena ini sangat darurat.

“Aku belum membereskannya. Kalau kau mau, aku akan memberikan kuncinya padamu,” ucap ayah Atsuko.

“Mana kuncinya? Dengar, aku memiliki riwayat permasalahan dengan seorang detektif dari kepolisian. Dan sekarang detektif itu sedang memburuku karena bisnis ini. Jika aku sampai tertangkap, maka seorang direktur perusahaan penerbangan juga akan tertangkap. Jadi tutuplah mulutmu. Jangan pernah dekati perusahaan iklan itu. Kau mengerti? Ini semua demi kebaikanmu dan keluargamu juga,”

Tanpa menunggu komentar dari ayah Atsuko, Henry bergerak menjauh setelah mengambil kunci ditangan ayah Atsuko. Tak lupa menutup pintu rumah dengan kencang. Meninggalkan pria separuh baya tersebut yang semakin bingung dengan keputusan apa yang harus ia ambil untuk bisnisnya.

***

Atsuko sedang mencuci wajahnya di kamar mandi rumah sakit. Matanya terlihat sembab karna beberapa jam ini ia menunggu kesadaran Tao dengan menangis. Ia bahkan tak tahu mengapa ia menangis separah ini. Yang bahkan ia tidak mengenal Tao begitu dekat.

Sampai saat ini Tao belum juga sadar. Entah apa yang terjadi padanya, dokter bilang gangguan di otaknya kembali muncul. Menurut penuturan ibu Tao, pria berdarah Cina itu memiliki suatu kelainan di otaknya. Ia hanya akan mengingat beberapa hal saja dalam satu hari, dan menghilangkan sebagian lainnya. Dokter juga bilang ada salah satu saraf yang tidak berfungsi di otak Tao, menyebabkannya jadi seperti ini. Mungkin itu sebabnya Tao sering bertingkah seperti tak mengenalnya? Pikir Atsuko dalam hati.

Kran wastafel disebelahnya menyala, membuat Atsuko kaget setengah mati. Namun ia kembali berpikir positif setelah melihat refleksi tubuh Chika di cermin.

“Aku.. mendapat sebuah mimpi,” ucap Chika. “Kau mungkin takan mempercayai ini,”

“Kupikir hantu tak bisa bermimpi,” Atsuko terlihat acuh.

“Ini serius Atsuko, kau harus mendengarkanku,” pinta Chika sambil memohon.

“Baiklah, aku akan mendengarkanmu,”

“Aku bermimpi, disana.. ada Tao,” Chika terlihat sedih. “Kau tahu, kurasa ini bukan mimpi, kurasa ini adalah..”

“Apa yang dilakukan Tao di mimpimu? Aku disini hanya untuk mendengarkan mimpimu saja, jadi cepat,”

“Awalnya aku sedang berjalan di padang rumput sendirian, tempat itu sangat nyaman, hanya saja sepi. Kemudian aku bertemu dengan seorang pria, yang ternyada adalah Tao. Dia mengenaliku dan aku mengenalinya. Dia berkata bahwa ia mencintaiku, dan aku berkata bahwa aku juga mencintainya. Anehnya, aku merasakan hal itu hingga aku sadar bahwa itu hanya mimpi. Aku benar-benar merasa semua sangat nyata. Terlalu nyata. Kupikir dia pasti ada hubungannya dengan masalahku yang belum selesai di bumi ini,” ucap Chika, air mukanya benar-benar memancarkan kesedihan.

“Seperti yang kau bilang, itu hanya mimpi dan jangan terlalu memikirkannya. Kau hanya terlalu sering bertemu Tao, jadi kau memimpikannya,” Atsuko keluar dari kamar mandi seiring menghilangnya Chika dihadapan cermin.

Ruang rawat Tao terbuka, ternyata semua anggota keluarganya sudah masuk kedalam. Dan berita baiknya, Tao akhirnya siuman.

“Kau ingat siapa dia Tao?” tanya ibu Tao saat menyadari kedatangan Atsuko. Atsuko tersenyum, berharap Tao mengingatnya.

“Atsuko, dia temanku,” ucap Tao, membuat Atsuko tersenyum lebih lebar. Bukan hanya karena Tao mengingatnya, tapi karena Tao juga menganggapnya teman. Itu sudah lebih dari cukup.

“Kau ingat Hana?” tanya ibu Tao lagi.

Tao mengangguk. “Tentu saja, aku takan pernah melupakannya. Aku selalu membawa fotonya kemanapun aku pergi. Tapi mungkin setelah kejadian kemarin, aku menghilangkan foto itu,” Tao tampak lesu.

“Tidak, kemarin polisi menemukannya di tempat kejadian dan memberikannya pada ibu. Ibu menyimpan fotonya untukmu,” ibu Tao merogoh tas kecilnya untuk mengambil selembar foto yang sudah terdapat bercak darah. Ia menunjukan foto itu kearah Tao, namun sebelum Tao sempat meraihnya, Atsuko terlebih dahulu merebut foto itu. Membuat Tao dan ibunya keheranan.

Atsuko benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Foto seorang gadis manis yang sedang berpose kearah kamera. Dan, wajah ini sangat familiar bagi Atsuko. Tangannya bergetar memegangi foto itu, berbarengan dengan ekspresi shocknya yang berlebihan.

“Ada apa Atsuko?” tanya Tao lemas

Atsuko kembali tersadar. “Ah tidak, kukira ini temanku. Mereka sangat mirip. Apa benar ini Hana?”

Tao meraih foto yang diberikan Atsuko. “Tentu saja ini Hana, kekasihku. Hana Chikanatsu,”

“Hana? Hana Chikanatsu?” ulang Atsuko sekali lagi.

“Iya, kenapa memangnya?” tanya Tao sinis. Atsuko hanya mampu menjawabnya dengan gelengan kepala saja.

“Maaf Tao, aku sepertinya harus bergegas. Ada urusan yg belum sempat aku selesaikan,” pamit Atsuko tanpa menunggu izin dari Tao ataupun ibunya.

Sepanjang perjalanan, mata Atsuko menatap kosong jalanan yg kebetulan sedang lengang, pikiran dan tubuhnya tidak berada pada tempat yg sama. Sekelebat bayangan masa lalu teringat, disaat pertama kali bertemu Chika, hingga pertemuannya dengan Tao yang bukan tidak mungkin sudah diskenariokan.

‘Apa maksudnya semua ini?’, Batin Atsuko. ‘Urusan apa yg sebenarnya belum selesai dan apa hubungannya denganku?’

Atsuko terdiam sejenak ketika melihat sebuah taman yang sering dikunjungi Tao. Kenapa tiba-tiba taksi ini berhenti disini? Umpatnya dalam hati. Ternyata macet. Tak bisakah macet di tempat lain?

Atsuko kembali teringat pada Tao. ‘Apa mungkin aku menyukainya?’ ucap atsuko masih di batinnya, ‘Lalu takdir apa yang berkaitan dengan hidupku nanti?’, Atsuko menghela napas keras. ‘Aku baru sadar, akhir-akhir ini Chika juga sering sekali membicarakan Tao. Mungkin karena dia dulu mengenalnya sedekat ini? Atau mungkin dia malah ingin menjebakku? Bagaimanapun, dia adalah calon istri Tao, dan aku.. apa aku benar menyukai Tao?’ Atsuko menghembuskan nafas panjang. ‘Chika adalah sosok wanita yang Tao bilang sempurna, tapi sesempurna apapun dia, dia bahkan tak bisa ada disampingnya? Mungkin ini maksudnya Tao memang terlahir untuk bersamaku, dan apapun yang Chika katakan, itu hanya rencananya saja supaya bisa kembali bersama Tao. Ya, Chika pasti sudah mengetahui ini sebelumnya, pikir Atsuko.

***

Ayah Atsuko sedang menunggu kedatangan tamu di rumahnya dengan gelisah. Entah sudah berapa kali ia mondar-mandir disana. Menimang-nimang apakah keputusannya kali ini akan tepat atau malah akan merugikan semuanya.

Ting tong. Bel berbunyi. Ayah Atsuko sendiri yang membukanya. Diketahuilah bahwa yang datang adalah pria yang mungkin tak berbeda umur jauh dengannya, memakai kemeja abu-abu dan jaket kulit berwarna hitam.

“Terimakasih telah menghubungi kami, apa saja yang Anda tahu tentang dia?” tanya pria tersebut setelah mereka duduk nyaman di ruang tamu.

“Dia adalah rekan bisnisku, sebenarnya mungkin aku juga terlibat,” ucap ayah Atsuko dengan raut ketakutan.

“Lebih baik dikatakan sekarang, kurasa dengan pengakuanmu ini akan mempercepat proses penangkapan. Serta jikalau nanti Anda ikut ditangkap, itu akan memperingan hukuman. Percaya saja padaku,”

“Baiklah. Aku mengenalnya saat aku membuka iklan kecil-kecilan di surat kabar. Dia menghubungiku dan menawarkan sebuah perjanjian bisnis. Dia memiliki bisnis penjualan senjata ilegal dan memerlukan penerbanganku untuk mengirim senjata-senjatanya. Karena saat itu keadaan perusahaanku benar-benar sangat krisis, aku mengiyakan dan memang keuntungannya cukup besar, sehingga keadaan perusahaanku bisa meningkat sedikit demi sedikit.”

“Sejak kapan anda melakukan bisnis ini?”

“Sekitar 2 tahun lalu, aku lupa tepatnya. Beberapa bulan belakangan, anakku yang mengurus kantor, dia mengirimkan proposal-proposal pengajuan kerjasama ke beberapa perusahaan lain, agar aku tidak perlu bekerjasama lagi dengan..”

“Jadi anak Anda juga ikut terlibat?”

“Tidak, dia tidak mengetahui ini. Dia hanya tahu bahwa aku memiliki bisnis dengan Henry. Tapi dia tidak terlibat,”

“Maaf, tapi kurasa anakmu harus ikut diperiksa juga. Kami harus mencari informasi sebanyak mungkin dari beberapa narasumber. Kau harus tahu, dia benar-benar penjahat kelas kakap. Sangat sulit bagi kami menemukan dan menangkapnya,”

***

“Kupikir kau harus menjauhi pria itu sekarang juga,” ucap sebuah suara yang Atsuko pastikan adalah Chika. Entah dimana hantu itu sekarang, sepertinya disampingnya. Atsuko menaruh ponsel di telinganya, hanya untuk menunjukan pada supir taksi bahwa dia berbicara dengan seseorang di telepon, bukan orang gila yang berbicara dengan udara kosong.

“Pria siapa? Aku sudah menjauhi Henry seperti yang kau mau,” ucap Atsuko.

“Bukan Henry, tapi Tao,”

Atsuko menghembuskan napasnya keras. “Dengar, bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa aku takkan mendengarkan kata-katamu lagi? Semua yang kau minta benar-benar menyusahkanku! Beberapa waktu lalu kau menyuruhku menjauhi Henry, ya aku menjauhinya. Sekarang, kau juga menyuruhku menjauhi Tao? Cih! Ini pasti hanya akal-akalanmu saja kan?!”

Berbarengan dengan selesainya perkataan Atsuko, sampailah ia didepan rumahnya.

“Mobil siapa ini?”

“Kau masuk saja, kau akan tahu nanti,” ucap Chika.

“Tanpa kau pinta pun tentu saja aju akan masuk kedalam. Bagaimana mungkin aku hanya diam disini?” gerutu Atsuko. Dibukanya pintu rumah.

“Aku pulang..”

Terdengar suara dari arah ruang tamu. Berarti mobil didepan adalah milik teman ayahnya, karena salah satu suara disana adalah suara ayahnya. Mereka terdengar sedang membicarakan hal serius, jadi Atsuko langsung beranjak ke tangga menuju kamarnya.

“Atsuko, darimana saja semalam? Kenapa tidak membalas pesan ibu?” tanya ibu Atsuko menahan langkah Atsuko, padahal baru satu anak tangga yang dinaikinya.

“Aku menjenguk teman yang kecelakaan bu, maaf menghawatirkan ibu.” Atsuko turun kembali dan memeluk ibunya singkat.

“Tidak masalah selama kau pulang dengan keadaan baik. Apa pekerjaanmu berjalan lancar?”

“Sejauh ini iya, semuanya cukup lancar,”

“Ayah sedang bertemu dengan seorang detektif dari kepolisian, tapi tadi ibu mendengar sekilas ayah membicarakanmu,”

“Membicarakan apa?” wajah Atsuko berubah heran.

“Entahlah, ibu juga tidak mengerti apa yang mereka bicarakan,”

“Baiklah kalau begitu bu, aku akan ke kamarku dulu,”

Baru sampai setengah tangga, ayahnya mmanggil.

“Atsuko, kau sudah pulang? Kemarilah sebentar!”

Dengan wajah malas, Atsuko menuruti. Sebenarnya ia ingin beristirahat sekarang juga.

“Ah? Tu.. Tuan Huang?” Atsuko begitu kagetnya kala mendapati ayah Tao sedang duduk bersama ayahnya.

“Kita bertemu lagi disini, Atsuko-san,”

“Jadi kalian saling mengenal?” ayah Atsuko kebingungan.

“Ayah.. Tuan Huang ini.. beliau ayah dari rekan kerjaku. Pemilik perusahaan periklanan yang akan bekerjasama sengan kita,” jelas Atsuko singkat. Ayahnya memandang tak percaya, sedangkan Tuan Huang hanya tersenyum, seperti sudah mengetahui semuanya. Oya, bukankah tadi ibunya bilang tamu ayahnya adalah seorang detektif dari kepolisian? “Apa ayah bisa menjelaskan semuanya padaku?” pinta Atsuko menyadari ada yang tidak beres disana.

“Duduklah dulu, ceritakan pada ayah kenapa kau tidak pulang tadi malam,”

Atsuko menurut. “Tadi malam, aku baru saja pulang dari kantor dan tak sengaja bertemu dengan Tao, putra dari Tuan Huang. Kami pulang bersama, namun di perjalanan ada beberapa orang yang menghadang kami, Tao dipukuli oleh preman, sepertinya mereka perampok.” Atsuko menelan salivanya sendiri mengingat akan kejadian semalam.

“Saat itu keadaan Tao sangat parah, untung saja ada Henry yang datang dan menolong. Kami langsung membawa Tao ke rumah sakit dan aku menunggunya semalaman,”

“Jadi Henry berada di rumah sakit kemarin?”

“Ya, dia semalaman menemaniku menunggu Tao, tapi pagi harinya dia harus pergi karna ada hal yang harus dikerjakannya. Apa Tuan juga mengenal Henry? Atau kalian teman berbisnis juga?” Atsuko antusias.

“Atsuko, ayah minta mulai hari ini kau menjauhi Henry,” sukses membuat Atsuko berubah heran.

“Ke.. Kenapa?”

“Tidak, tidak perlu,” sanggah Tuan Huang. “Akan kuceritakan padamu jika kau mau membantu kami menangkap Henry,”

“Menangkap?”

***

“Apa Atsuko belum kembali?” tanya Tao, dia baru terbangun dari tidurnya.

“Dia menunggumu semalaman, mungkin dia baru akan kembali lagi besok,” jawab ibu Tao.

Tao diam, merasa puas dengan jawaban ibunya. “Bu, kapan aku bisa pulang?”

“Dokter bilang kau bisa pulang besok jika hingga nanti malam keadaanmu meningkat lagi. Jadi kau harus berusaha sembuh,”

Tao mengangguk, mencoba mengambil sisi baiknya. Mungkin dengan sakitnya kali ini ia jadi memiliki waktu bersama ibunya, dibanding bekerja dan terus bekerja.

“Kau tidak bertanya dimana ayahmu?”

“Aku tahu, pelaku yang kemarin itu sama dengan buronan yang sedang dicari oleh ayah. Dia akan bekerja dengan giat,”

***

“Sekarang kau percaya dengan insting ku kan? Aku tidak bermain-main saat kubilang kau harus menjauhi Henry,” ucap Chika, Atsuko bisa melihat dari cermin riasnya.

“Sulit bagiku untuk percaya. Selama ini, Henry selalu bersikap baik padaku, dia tidak pernah sama sekali bersikap jahat,”

“Itu karena dia menyukaimu, pria akan melakukan hal-hal baik didepan wanita yang ia sukai, meski itu bukan gayanya. Bukankah begitu?”

“Ya, tapi ini masih sulit untuku,”

“Ehm, kau masih ingat perkataanku kemarin?”

“Tentang apa?”

“Aku ingin kau menjauhi Tao, demi kebaikanmu,”

“Maaf Chika.. untuk kali ini aku tidak bisa menuruti apa perintahmu, ini hidupku dan berhenti mengaturku,” ucap Atsuko pelan.

“Tapi aku tak bermaksud mengaturmu aku hanya memperingatkanmu tentang..”

“Tentang apa?” sela Atsuko sinis.

“Tentang takdir, bukankah kau percaya itu?”

“Aku percaya tapi apa kau lupa bahwa takdir itu tak mungkin bisa diubah?”

“Aku tak bermaksud mengubah takdir, aku hanya ingin memperlambat takdir, membuat jalannya menjadi sedikit lebih baik,”

“Hah? Membuat lebih baik? Siapa kau, Chika? Kau merasa dirimu Tuhan?”

“Aku bukan Tuhan, aku hanya diberi kesempatan untuk memperbaiki apa yg bisa kuperbaiki,”

“Sudahlah jangan bertele-tele, aku sudah muak, kepalaku hampir pecah mendengar ocehanmu,”

“Aku mohon Atsuko, lakukan ini demi dirimu sendiri, kali ini bukan tentangku,”

“Demi aku? Aku? Dimana keuntungannya untukku? Menjauhi tao adalah hal yang tidak akan pernah aku lakukan, apalagi disaat-saat seperti ini,”

“Hanya menjauhi.. itu bukan hal yg sulit menurutku,” komentar Chika dingin.

“Apa karena kau hanya jiwa yang sudah mati, mengakibatkan hatimu dingin dan beku?”

“Maksudnya?”

“Menjauhi Tao adalah hal yang paling sulit dan tidak akan pernah aku lakukan, karena kau tau? Aku menyukainya. Kau membuatku mengenalnya dan sebegitu penasaran padanya, dan akhirnya, aku menyukainya,”

Chika terdiam, matanya berkaca kaca.

“Aku masih memiliki perasaan, Atsuko. Aku tau itu rasanya sakit. Tapi ini demi kau juga,”

“Demi aku? Aku mohon berhenti bersikap egois. Aku tidak akan pernah menjauhi Tao! Sadarlah Chika, dunia kalian berbeda. Berhenti mencampuri kehidupannya dan relakan dia dengan hidupnya sekarang, walau tanpa kau,” bentak Atsuko.

“Aku tidak mengerti apa yg kau katakan,”

“Jangan berpura pura bodoh. Aku sekarang tahu siapa kau, Chika,” Atsuko merogoh ke dalam tas kerjanya, diperlihatkan segala data-data yang dia berhasil dapatkan dari internet kemarin.

“Jadi.. aku?”

“Ya, kau adalah gadis yang ada di berita ini, gadis beruntung yang akan menikah dengan seorang Tao, anak pengusaha kaya, dan yang lebih beruntungnya lagi, Tao tak bisa melupakanmu,”

“Jadi.. aku mati karena terbunuh, tapi siapa..”, komentar Chika setelah membaca berkas yang diberikan Atsuko.

“Sudahlah, sekarang tinggalkan aku dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku, karena apapun ocehan bodohmu tentang takdir, tak akan pernah kudengar. Bodohnya aku selama ini mengikuti dan mendengarkan hantu egois sepertimu. Dan satu lagi. Tao akan bahagia denganku. Jadi iklaskan dan jangan ganggu kami lagi,”

“Aku tahu Tao mulai tertarik padamu, tapi bukan karena aku cemburu padamu, hingga aku menyuruhmu menjauhi Tao. Aku mendapat tugas terakhir yang harus ku sampaikan padamu,”

“Terserah, aku sudah tak peduli,”

“Aku hanya ingin kau tidak menyesal, sungguh aku baru mengetahui sekarang kalau gadis yang Tao maksud adalah aku, maaf membawamu dalam masalahku,”

“Sudahlah, tinggalkan aku,”

“Aku harus memberi tahumu sesuatu..” Chika menyentuh pundak Atsuko yang membuat tubuhnya menegang, sekelebat bayangan melintas lintas di pikirannya.

***

“Atsuko, apa nanti siang kau bisa menemuiku di kantor?” Tanya ayah Tao di ponselnya.

Ehm tentu saja, memangnya ada apa? Terdengar seperti ada hal penting,” jawab Atsuko.

“Ada hal yg memang harus kuketahui darimu. Ini penting,”

“Baiklah, sebentar lagi aku akan mendatangi kantormu, Tuan,” Atsuko kemudian menutup panggilan tersebut dan segera bergegas seperti biasanya. Namun geraknya terhenti kala Atsuko mengingat Tao.

“Ah aku bisa mengunjunginya nanti,” ucap Atsuko sembari menutup pintu mobilnya. Diinjaknya gas mobil dengan kecepatan tinggi. Entah kenapa ia merasa memang ada hal penting yang harus segera ia ketahui.

Mobil pun terhenti tepat disebuah bangunan mewah yg tidak lain adalah perusahan jasa periklanan milik keluarga Huang. Seorang penjaga mengambil alih mobil Atsuko untuk diparkirkan dibasement.

“Jangan diparkirkan di tempat yg jauh dari lift basement ya, aku akan kesulitan mencarinya nanti,” ucap Atsuko sembari memberikan kunci mobilnya, disusul anggukan dari petugas penjaga tersebut. Tiba-tiba ponsel atsuko berdering tepat ketika pintu lift dilantai lima terbuka.

“Siapa?” tanya Atsuko malas, terlebih nomor pribadi yg meneleponnya.

“Atsuko ini aku, Tao,” jawab si empunya nomor.

“Ah Tao-san, ada apa?”

“Nanti sore dokter sudah mengizinkanku pulang, apa kau bisa menjemputku?” pinta Tao. Entah kenapa suaranya belum pernah terdengar seceria ini sebelumnya.

“Baiklah, oya aku sedang ada urusan sekarang, bisa kah kau..”

“Atsuko.. Tepat waktu,” Tuan Huang keluar dari ruangannya dan hampir saja Atsuko menabraknya. Tanpa sempat berpamitan atau pun mematikan panggilan tersebut, Atsuko langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku blazer.

“Ya Tuan Huang, kebetulan aku sedang tak ada jadwal apapun sehingga bisa dengan cepat kemari,” jelas Atsuko, “Memangnya ada hal apa hingga aku harus menemuimu, Tuan Huang?”

“Mari kita berbicara diruanganku, ini tentang Henry, Hana, dan Tao,” ucap Tuan Huang ragu. Langkah Atsuko sempat terhenti sebelum memasuki ruangannya.

“Apa yg kau lamunkan, Atsuko? Cepat masuk ruanganku,’

“Ada apa sebenarnya Tuan Huang?” tanya Atsuko setelah menutup pintu ruangan kerja.

“Begini, aku butuh bantuanmu. Tolong jebak Henry,”

Atsuko diam, tak menanggapi apapun.

“Kami dari pihak kepolisian telah mendapatkan cukup bukti untuk memenjarakannya seumur hidup,”

“Bukti apa?”

“Sebenarnya ini adalah rahasia besar, bahkan kau adalah orang yang pertama tahu selain pihak kepolisian,” Tuan Huang memberi sedikit jeda pada kata-katanya. “Pembunuh Hana.. adalah Henry..”

“Astaga..” Atsuko menutup mulutnya yg tertutup, “Bagaimana bisa?”

“Dia ingin membalaskan dendamnya padaku karena aku berhasil membuat ayahnya dipenjara, dia ingin aku merasakan apa yg dia rasakan, kehilangan hal terpenting dihidupnya,”

“Tapi Hana, bukankah dia hanya calon istri Tao?”

“Ya, dia ingin membuatku merasakan hal yang lebih sakit daripada kehilangan satu orang saja dan dia berhasil. Tao depresi dan aku turut tersiksa,”

‘Benarkah? Henry, aku tak menyangka dia tega berbuat itu. Jadi, jadi ini maksud Chika.. Dia memang ingin menolongku dari Henry, tapi kenapa aku malah berpikir yang tidak tidak terhadapnya? Maafkan aku Chika..’ batin Atsuko.

“Kumohon kau dapat membantuku menjebak Henry,” pinta Tuan Huang sekali lagi.

“Baiklah, apa yg bisa aku bantu?”

“Ajaklah dia bertemu di tempat dimana kau sering bertemu bersamanya, jika sudah, beritahu aku, dan tenanglah.. Pihak kepolisian akan melindungimu,” jelas Tuan Huang.

***

Beberapa menit kemudian Atsuko meluncur menuju tempat yang telah dijanjikan. Ya, restoran milik Tao. Sepanjang perjalanan Atsuko menyetir tanpa fokus. Matanya menerawang ke jalanan, jantungnya berdegup kencang, segala kemungkinan sedang ia pikirkan hingga lamunannya tersadar kala ponselnya berbunyi. Panggilan masuk dari Tao.

“Siapa?” tanya Atsuko malas.

“Menyetirlah dengan fokus,” jawab Tao.

“Tao? Kau? Kenapa kau tahu aku sedang menyetir?”

“Fokuslah, aku akan mengikutimu,”

“Mengikutiku? Untuk apa?”

“Aku sudah tahu semuanya. Ini akhir penantianku. Akan kubalaskan sakit hatiku pada manusia biadab itu,”

“Apa maksudmu?”

“Henry. Kau akan bertemu dengannya kan? Maaf, aku harus membunuhya dengan tanganku sendiri,”

“Tapi Tao.. Apa yang akan kau lakukan itu adalah hal yang salah, untuk apa? Dan bagaimana kau tahu?”

“Apa kau tak sadar? Kau belum memutuskan panggilan saat aku menghubungimu tadi,”

‘Bodoh!’ hujat Atsuko pada dirinya sendiri.

“Sekarang bersikaplah tenang, aku akan mengikutimu,”

“Tapi, bukankah kau masih di rumah sakit?”, tapi Tao terlanjur menutup panggilannya.

Atsuko sampai di tempat tujuan. Dengan langkah ragu, ia membuka pintu restoran tersebut, diedarkan pandangan ke segala arah. Henry belum datang, tidak ada dia dimanapun. Lalu Atsuko memilih tempat duduk, ia merasa sangat gelisah saat ini. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apa ia harus membiarkan Tao datang lalu membunuh Henry seperti yang dikatakan pria itu baru saja? Tidak mungkin mereka membuat keributan di tempat seperti ini. Tapi sekali lagi, ini juga permintaan ayah Tao dan Atsuko sudah berjanji untuk membantunya. Tapi sekali lagi, apakah Atsuko rela melihat Henry dibunuh begitu saja? Pikirannya berkecamuk.

“Ada yang bisa dibantu?” suara seorang pelayan sedikit membuat Atsuko terlonjak.

“Ah, ya. Ehm, nanti saja, aku sedang menunggu seseorang.” ucap Atsuko sambil menutup buku menu yang sebelumnya sempat ia  buka. Hingga sang pelayan pamit meninggalkannya lagi sendiri.

Suara lonceng mengalun nyaring, pertanda seseorang membuka pintu. Itu Henry. Senyumnya yang sangat cerah menyambut Atsuko yang mau tak mau juga ikut tersenyum, meski tidak terasa tulus.

“Apa kau merindukanku?” tanya Henry sembari menarik kursi dihadapan Atsuko lalu duduk disana.

Tanpa pikir panjang, Atsuko mengangguk. “Bagaimana kabarmu?”

“Aku baik, malah lebih baik saat ini,” dia tersenyum lagi. “Kau tampak tidak terlalu baik, apa ada sesuatu yang mengganggu?”

“Tidak, aku hanya lelah bekerja,” Atsuko tersenyum semampunya.

“Jangan terlalu berlebihan. Begini saja, kau akan bekerja hingga pukul lima sore, lalu setelah itu aku akan mengajakmu keluar setelahnya. Bagaimana?”

Hati Atsuko terasa tertusuk. Akankah semua itu terjadi? Tapi dia mengangguk juga.

“Baiklah, kau belum pesan makanan?”

***

Tuan Huang menerima pesan singkat di ponselnya, lalu bergegas menghubungi Tao.

“Kau ada disana??”

“Ya ayah, aku ada disini,”

“Jangan lakukan hal ceroboh apapun. Kau tidak bisa melakukan sesuatu hanya karena kau ingin melakukannya,”

“Aku hanya ingin membalas apa yang sudah ia lakukan terhadap Hana, itu saja.”

“Jangan bertindak bodoh. Atsuko mengatakan padaku, ia tak ingin keributan terjadi disana. Kita akan bergerak saat mereka keluar dari sana. Dan, jangan pernah gunakan senjatamu apapun yang terjadi,”

“Ya, aku akan menunggu sampai mereka keluar. Tapi maaf ayah, mungkin aku akan tetap menggunakan senjataku,”

***

“Jadi, kau akan kembali ke kantor setelah ini?”

Atsuko mengangguk. “Kau akan menjemputku jam 5 sore kan?”

“Ya, tepat jam 5 sore,”

“Baiklah kalau begitu, ayo kita keluar bersama,”

Beberapa candaan keluar dari mulut Henry, mengantar mereka sampai ke pintu keluar. Namun hal itu malah membuat degup jantung Atsuko semakin kencang. Pintu keluar berarti ia harus merelakan Henry untuk pergi. Apa dia bisa melakukan itu?

“Itu mobilmu kan?”

“Iya, ehm, apa kau mau menemaniku membeli beberapa cemilan di toko itu?” tunjuk Atsuko ke toko di seberang jalan, tentu saja Henry setuju.

Mereka berjalan dengan tenang, jalanan pun terasa lengang hari ini. Mata Atsuko terus mencari-cari keberadaan Tao ataupun ayahnya. Ia tak ingin semua berlalu begitu cepat.

“Besok apakah kau..”

“Diam disana,”

Suara seseorang menghentikan ucapan serta langkah Henry. Begitu juga dengan Atsuko. Henry berbalik ke belakang dan mendapati sebuah pistol diarahkan padanya, hanya berjarak lima meter. Henry terlihat santai, sementara Atsuko kini bergetar hebat.

“Ada yang bisa kubantu?” tanya Henry masih dengan nada santai, sementara tangannya dengan cepat membawa Atsuko untuk bersembunyi dibalik punggungnya.

“Atsuko, kau bisa pergi sekarang. Terimakasih sudah membawanya kemari,” ucap Tao, Henry masih diam. Atsuko menggenggam bagian belakang baju Henry kencang. Sangat kencang.

“Terimakasih sudah datang kemari, Henry-san. Aku sangat senang, karena kedatanganmu, aku jadi bisa membunuhmu sekarang juga,”

Henry tertawa kecil, mencemooh. “Ehm, jadi kau menggunakannya untuk membawaku kemari, lalu kau ingin membunuhku? Terdengar menarik, seperti dalam film-film action. Apa kau memang bercita-cita menjadi seorang aktor?”

“Diam kau mulut busuk! Atsuko! Kau bisa pergi sekarang! Biar aku selesaikan semuanya!” ucap Tao. Semakin lama, nada bicaranya semakin menegaskan amarahnya.

“Aku yakin dia takkan pergi,” ucap Henry. Dan ya, Atsuko masih belum terpikir untuk pergi dari sana. Ia masih takut, namun ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ditakutkannya.

“Atsuko pergi dari sana sekarang juga!”

Klik.

Sepersekian detik saja, sebuah pistol mengancam kearah Tao. Henry sepertinya sudah mulai serius menghadapi ini. Matanya yang terlihat santai kini berubah menjadi tajam. Senyum manis yang dikembangkannya tadi kini berubah menjadi seringai. Keadaan sudah semakin mencekam, khususnya bagi Atsuko.

Beberapa orang berlalu-lalang dengan menampakan wajah takutnya. Ada pula orang yang menghentikan langkahnya sejenak, ingin melerai namun terlalu takut. Pasti ada diantara mereka yang sudah menghubungi kepolisian sekarang. Percuma saja, karena ini memang rencana dari kepolisian itu sendiri.

“Kita akan mengubah ini menjadi film romantis. Kalau aku mati, tentu saja kau akan mati juga,” ucap Henry masih dengan seringai yang membuat auranya tampak berubah menjadi mengerikan.

“Ja..jangan..” Atsuko bersuara, meski takkan terdengar oleh siapapun, ia yakin.

Bunyi sirine sudah terdengar dari kejauhan.

Polisi semakin dekat. Tao hanya ingin menyelesaikan ini sebelum semua datang, apalagi ayahnya. Tapi bagaimana bisa jika Atsuko masih tetap disana?

Sebuah bayangan melintas diantara kerumunan orang, lalu berhenti di ujung jalan yang terlihat oleh Atsuko. Chika. Chika ada disana, sedang melambaikan tangannya menyuruh Atsuko untuk mendekatinya. Atsuko masih bergeming. Melihat kearah Chika, namun tak sedikitpun terpikir untuk melangkah. Beberapa detik kemudian, Atsuko baru menyadari, Chika terlihat lagi walau dalam wujud setengah nyata. Hanya berupa bayangan. Chika terus menyuruhnya mendekat, hingga akhirnya sosoknya hilang. Atsuko masih diam, Henry dan Tao seperti membeku di tempatnya karena tak ada yg mereka lakukan selain memantau pergerakan satu sama lain. Memastikan tak ada yang menyerang terlebih dahulu.

Tanpa diduga, sosok bayangan Chika muncul tepat disamping Atsuko. Wajahnya tidak seperti wajah Chika biasanya. Tidak ada sedikitpun keramahan yang terpancar.

“Kau tidak seharusnya disini,” ucapnya dengan suara mengancam. “Takdir sudah menentukan mereka akan mati. Kau tidak akan mati sekarang, kau harus percaya kata-kataku, jadi sekarang bergegaslah pergi ke tempat lain!” Chika mulai membentak, namun Atsuko malah menggelengkan kepalanya cepat. Henry mulai merasa harus melakukan sesuatu. Sebenarnya ia merasa panik sekarang, namun silakan ganti namanya jika ia menunjukan rasa panik secara langsung. Bukan gaya Henry.

“Cepat! Atau semuanya terlambat!” bentak Chika lagi. Dibarengi dengan sampainya beberapa mobil polisi di lokasi kejadian. Orang terdepan yang langsung menghampiri mereka adalah tentu saja Tuan Huang.

“Turunkan senjata kalian,” ucap Tuan Huang sembari menjulurkan senjatanya.

Karena gemas, Chika menarik tubuh Atsuko menggunakan seluruh kekuatan yang tersisa di tubuhnya, hingga Atsuko tersungkur. Terlalu jauh untuk ukuran kekuatan manusia. Dan tidak sadarkan diri.

Hal itu digunakan Tao untuk membidik senjatanya lebih tegas pada Henry. Namun, Henry bergerak cepat dengan mengubah arah sasarannya kepada Tuan Huang, membuat Tao kembali diam dan mengumpat beberapa kata-kata kasar. Ini kesempatan, setidaknya jika terjadi sebelum ayahnya datang.

Tao kerap menatap tajam ke arah Henry yang memang tak memfokuskan pandangan pada satu titik. Kini Henry menyimpan kedua tangannya pada kedua buah senjata yg dengan sekejap bisa membunuh Tao dan ayahnya hanya dengan sekali melepas pelatuk.

“Sudahlah menyerah saja, kau sudah dikepung puluhan anggota kepolisian,” titah Tao kesal. Bagaimana pun ia hanya ingin membuat Henry mati hingga rasa sakit hatinya terpenuhi.

“Menyerah? Untuk apa? Bilang saja kau yg ingin menyerah! Sekarang nyawamu ada di tanganku, begitu pula dengan nyawa ayahmu,” ejek Henry yang berhasil membuat Tao geram.

“Lakukan saja apa maumu, pengecut! Kau hanya berlindung pada senjata yang bahkan telah membuat ayahmu tewas,”

“Kalau bukan karena kebodohan ayahmu, aku tidak akan sampai membunuh calon istrimu itu,”

“Apa maksudmu?” Tao mulai mempererat cengkeraman pada senjatanya.

“Ayahmu membuat aku harus memilih membunuhmu atau calon istrimu hanya karena keegoisannya! Tapi berhubung aku masih mengenal belas kasihan, maka aku tak jadi membunuhmu. Karena menurutku, membunuhmu tidak akan membuat rasa sakit yg sama dengan yang aku rasakan,”

“Henry!” Bentak Tuan Huang.

“Kenapa? Kau tidak ingin anakmu tahu cerita yg sebenarnya?”

“Hentikan semua omong kosongmu ini!” Ucap Tuan Huang lagi.

“Ayahmu pasti berkata bahwa aku adalah penyelundup senjata ilegal, bukan begitu? Lalu ayahmu bilang bahwa ia adalah anggota FBI yang menyelidiki kasus ayahku? Tapi apa kau pernah tau cerita yang sebenarnya? Ayahku ia bunuh hanya karena ia kesal bisnis ayahku lebih maju darinya! Sehingga ia berusaha menjatuhkan ayahku dengan kekuasaan yang ia punya. Ia memanipulasi segala perizinan yang dimiliki ayahku agar ia bisa menggeser bisnisnya. Sekarang aku yang ingin bertanya, apa salah ayahku?  Kenapa kau tega membunuhnya, Tuan Huang? Kalau kau sedikit bersikap dewasa, kejadian seperti ini tidak akan terjadi!”

“Tidak mungkin! Ayahku bukan seperti apa yang kau katakan!” Bentak Tao.

“Jangan dengarkan dia, Tao,” ucap ayahnya.

“Sore itu saat kau tengah mengurusi tentang pernikahanmu, aku juga mengikuti kegiatanmu di hari yg sama,” jelas Henry seketika terdiam. “Saat itu terbesit pemikiran untuk balas dendam atas kematian ayahku, tapi aku pikir untuk apa? Dan disaat itu juga ayahmu menghubungiku dan bilang jika aku bekerja sama dengan perusahaan Atsuko, maka dia tak akan segan-segan membunuhku. Dengan pemikiran matang, aku ancam ayahmu dengan mengatakan akan memberitahumu tentang semua ini, tapi lagi lagi aku kalah. Dia mengancamku kalau sampai kau tahu tentang masalah ini, perusahaan manapun yang bekerja sama denganku akan dihancurkan, aku kesal. Karena apa? Karena aku telah jatuh cinta pada Atsuko, dan aku tahu ternyata dia adalah anak dari pemilik perusahaan yang akan bekerja sama denganku. Aku tak ingin dia menjadi korban sehingga aku harus berpikir lebih jernih. Aku beritahu semua ini pada Hana, tapi ayahmu berhasil mengetahui hal tersebut, lalu disaat yg sama dia mengancamku untuk memilih Atsuko atau membunuh Hana. Dan ya, kau tau apa pilihanku Tao..”  Henry berhasil membuat air mata Atsuko mengalir.

‘Tuan Huang..’ batin Atsuko.

“Hentikan! Kau kira aku akan percaya semua itu? Jangan bodoh!” Tao mulai menarik pelatuknya.

Disudut lain, Chika terdiam saat mendengar penjelasan Henry. Mendadak sekelebat bayangan masa lalu melintas bergantian dipikirannya.

‘Aku ingat semuanya.. apa yg Henry katakan… semuanya benar. Jadi ini maksudnya kenapa aku harus turun ke bumi lagi,’ batinnya. Kini ia mengerti kenapa Atsuko lah yang terpilih untuk membantunya. Mungkin karena dialah yang harus mengetahui kejahatan Tuan Huang lebih dulu. Tapi mengapa selama ini Henry lah yg terlihat salah?

‘Chika.. sekarang aku mengerti kenapa kau memintaku menjauhi Henry. Karena aku harus mengetahui segala kejahatan Tuan Huang, tapi aku tidak menyadari itu. Aku baru menyadari sekarang, mengapa dia tak pernah memanggilku secara formal ke kepolisian untuk memberi kesaksian? Sekarang semua sudah terlambat. Keadaan ini.. tak bisa kuubah,’ pikir Atsuko.

“Hentikan, Henry-san. Aku mohon,” ucap Atsuko setengah bergetar. “Tao.. turunkan senjatamu. Chika.. ehm, Hana pasti tak ingin kau melakukan itu,”

Deg! Tao terdiam. Tatapan nanarnya mengarah pada Atsuko. Seketika pandangannya terkunci pada sesosok bayangan transparan yg berada dihadapannya, diantaranya dan Henry.

“Hana?” ucap Tao pelan. Seketika matanya berkaca-kaca. Ia tak percaya bisa melihat Hana lagi walau ia tahu bukan tak mungkin ini hanya halusinasi saja.

“Ya, ini aku Tao..” sahut Hana sembari tersenyum. Wajahnya bersinar layaknya embun yang terkena sinar matahari pagi.

“Kemana saja kau?” tanya Tao cemas. Seketika senjata api di tangannya menurun.

“Hentikan ini Tao, aku mohon. Jangan kotori tanganmu dengan membunuh orang. Kalau kau lakukan itu.. kau sama seperti ayahmu,”

“Maksudmu?”

“Apa yang Henry bilang.. itu ada benarnya. Maaf semasa hidup aku tak sempat memberi tahumu,”

“Tapi.. tapi dia membunuhmu. Memisahkanku darimu.. apa kau tak tahu? Selama ini aku tersiksa,”

“Aku tau itu.. itu sebabnya aku kembali lagi ke bumi walau sebagai hantu. Mungkin ini terakhir kali kita bertemu, maafkan aku. Aku mencintaimu Tao. Bahagialah dalam hidupmu walau tanpa aku. Aku yakin kau bisa..” ucap Hana dan seketika bayangannya menghilang.

“Hana.. aku mohon ajak aku denganmu,” teriak Tao membuat kaki Henry seketika bergetar. Ada aura mencekam yg tiba tiba menyelimuti pertempuran itu.

“Tao.. dengar ayah. Kau tau apa yg harus kau lakukan. Bergegas pergi saat ucapan ketiga, mengerti?” Tanya Tuan Huang.

“Tidak ayah, aku ingin membunuh Henry dengan tanganku sendiri!” jawab Tao yang berhasil membuat Atsuko berlari menghadang senjata Tao.

“Jangan bunuh Henry! Aku mohon,” pinta atsuko yg berhasil membuat senjata api Tao terlepas dari tangannya.

“Kenapa? Kenapa kau menghalangiku?” Tanya Tao.

“Kau tahu bukan rasanya kehilangan orang yang kau cintai? Aku tak ingin hal itu terjadi padaku.. aku menyayangimu Tao.. aku tak ingin kau menjadi seorang pembunuh.. dan aku sadar, aku mencintai Henry.. aku tak ingin dia membunuh, apalagi terbunuh.. aku mohon,” Atsuko menitikkan air mata.

“Tapi rasa sakit ini menyiksaku.. aku ingin membalaskan dendamku!” Tao menjambak kepalanya sendiri dengan rasa frustasi. Tangisannya sudah tak terbendung lagi. Atsuko berjalan mendekati Tao perlahan dan mencoba menenangkannya namun..

“Astaga..” Tao memegang dadanya. Ada rasa sakit luar biasa yang menyerang lagi, bahkan ini berkali-kali lipat. Napasnya tersengal. Pandangannya  buram. Suaranya menghilang dan pendengarannya mati.

“Tao!!! Apa yg terjadi?” Atsuko menangkap kepala Tao sebelum jatuh ke atas aspal. Dengan gerak refleks, Henry menghampiri Tao dengan segera.

Namun belum sempat ia menolong, Tuan Huang telah melepaskan tembakannya karena ia anggap Henry lah yg menembak Tao.

“Tao!” Tuan huang langsung menghambur ke arah Tao, sedangkan Atsuko terdiam menatap kepala Henry yang tertembus peluru senjata api Tuan Huang.

***

Beberapa bulan kemudian.

“Bagaimana keadaanya?” Tanya dokter.

“Ia masih kehilangan fokusnya, pandangannya selalu kosong dan beberapa kali berteriak histeris tanpa sebab,” jawab perawat dengan tangan yang sibuk menyiapkan suntik bius bagi salah satu pasien yang kini ada di hadapannya.

“Kalau sudah disuntikkan bius, lepaskan saja tali pengikat tangannya,” titah dokter.

“Baiklah, akan saya lakukan. Atsuko, sekarang waktunya suster berikan kamu obat. Boleh kan?”

Atsuko terdiam.

“Suster anggap diammu itu artinya iya ya, bersabarlah.. tidak lama lagi kalau kau menuruti perintah dokter kau akan keluar dari rumah sakit ini. Bersabarlah..” seru suster seakan telah mengenal Atsuko dengan baik.

“Oya suster Hana, setelah ini tolong keruangan saya,” pinta dokter.

Seketika Atsuko memfokuskan pandangannya pada suster tadi.

“Hana? Kau hana? Bawa aku pergi, Hana. Aku tidak gila! Mereka yang gila!” bisik Atsuko. “Apa kau bertemu Henry? Mana Tao? Kenapa kalian meninggalkanku?!” teriak Atsuko histeris, membuat dokter dengan segera menyuntik bius yang telah disiapkan pada nadi Atsuko.

Inilah Atsuko, kini ia ada dirumah sakit. Rumah sakit jiwa tepatnya. Setelah kejadian baku tembak tempo lalu dia kehilangan fokusnya. Semua pekerjaannya berantakan, terkadang ia berteriak histeris karena entah kenapa, ada rasa sakit yg cukup dalam. Bahkan tak jarang mimpi buruk selalu mendatangi tidurnya. Ia mengaku tidak gila. Dan selalu berkata seperti itu saat dokter datang. Dan mungkin memang masih ada sedikit bagian otaknya yang tidak rusak, dalam hatinya ia masih bisa berpikir, mengapa orang tuanya malah memasukkannya ke penjara ini? Meninggalkan ia diruangan serba putih dengan orang-orang gila yang memang gila. Atsuko hanya ingin bertemu Hana. Ia ingin Hana membawakan Henry padanya seperti saat pria itu selalu ada disampingnya. Apa itu sulit? Hati Atsuko hancur tiap kali mengingat kejadian itu.

Apa kalian tahu rasanya kehilangan orang yang baru saja kita sadari kalau ternyata dialah selama ini kalian cintai? Lebih dari sakit. Dan yang Atsuko bingungkan, mengapa semua pergi di waktu bersamaan? Sudah segala cara ia lakukan untuk mengakhiri hidupnya. Tapi nihil. Ia malah berada di rumah sakit ini.

‘Tuhan jika kau mendengarku, bawakan aku malaikat hatiku atau bawa aku untuk berada dengan dia di surga…’

END
7 Juni 2014

Baca juga FF kita yang lain disini. Have a nice day! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s