FF : BLACK MAGIC (Chapter 7)


image

BLACK MAGIC (Chapter 7)

Kim Jong In (EXO, Kai) as Pangeran Jongin

Gong Chan Shik (B1A4, Gongchan) as Kim Chan Shik – Pangeran Chanshik

Kim Min Seok (EXO, Xiumin) as Raja Minseok

Choi Min Hyo (OC) as Ratu Minhyo

Wu Yi Fan (EXO, Kris) as Wufan – Penyihir Wu

Wu Jae Won (OC) as Wu Jae Won

Wu Ni Chan (OC) as Wu Ni Chan

Byun Baek Hyun (EXO, Baekhyun) as Byun Baekhyun

Lu Han (EXO, Luhan) as Luhan

Park Chanyeol (EXO, Chanyeol) as Park Chanyeol

Genre : Fantasy, Romance, Family, Friendship

Rating : Teenage

Length : Multichapter

Author : @ririnovi

.

.

Udah lama (banget) gak ngepost FF disini, dan kali ini memutuskan untuk oke, kita post satu FF. Masih lanjutan yang kemarin karena belom beres. Sekarang jarang baca FF, apalagi bikin. Jangankan itu, buat download download lagu aja udah jarang. Hah jadi kangen masa-masa punya banyak waktu luang. Bisa nonton ulang Showtime, nonton Running Man, nonton drama sampe pagi, huh sekarang udah susah banget :’)

.

Previous Chapter>>

“Mau apa kalian..?”, tanya Baekhyun meski dirinya takut. Ia tak boleh lebih takut dari Nichan, seharusnya ia melindungi agar yeoja itu tidak bertambah panik.

Percuma. Memangnya serigala bisa berbicara dengan manusia? Tentu saja tidak. Para serigala itu menatap tajam pada Baekhyun, namun sedetik kemudian pandangan mereka beralih pada Nichan. Ia masih menutup matanya rapat, bibirnya bergetar sambil mengucapkan beberapa kata yang tak bisa Baekhyun dengar dengan jelas. Seekor serigala bergerak terlebih dahulu, ia mengendus kaki Nichan yang tak beralaskan apapun. Hal itu membuat Baekhyun kaget. Apa yang harus ia lakukan? Otaknya panik.

Geraman serigala itu bertambah kencang, seperti siap menerkam. Baekhyun dengan sigap memeluk tubuh Nichan, bermaksud melindunginya. Sekarang para serigala itu marah, mereka mulai melolong kencang kemudian menggores-gores kukunya yang tajam pada punggung Baekhyun. Nichan menjerit ketakutan saat melihat wajah Baekhyun yang terlihat kesakitan.

“Te.. tenang saja.. aku.. aku akan melindu.. ngimu..”

*

Prolog

Chapter 1

Chapter 2

Chapter 3

Chapter 4

Chapter 5

Chapter 6

*

“Apa yang terjadi?”, tanya Luhan yang baru saja datang. Dilihatnya Minseul dan Chanyeol sedang sibuk menempelkan telinga mereka di daun pintu ruangan Shin sonsaengnim.

“Kau pasti akan shock mendengarnya. Nichan dan Baekhyun tidur sekamar tadi malam!”, ucap Minseul memprovokasi, membuat mata Luhan seakan ingin keluar.

“Aku tidak percaya, mereka tidak mungkin melakukan itu.”, Luhan mendesak mendekati daun pintu. Ia juga ingin mendengar apa yang mereka bicarakan didalam.

“Jadi kalian melihat serigala itu?”, tanya Shin sonsaengnim.

“Ne. Mereka berjumlah lima ekor.”, ucap Baekhyun setelah meyakinkan tak ada yang terjadi pada mereka tadi malam. Nichan masih tampak gelisah.

“Apa mata mereka berwarna kebiruan?”, tanya Shin sonsaengnim.

“Tidak, sonsaengnim. Mata mereka berwarna merah menyala.”, terang Baekhyun membuat Shin Yeomi menekuk wajah. Setahunya, serigala penjaga sekolah memiliki mata berwarna biru terang.

“Ya baiklah, kali ini aku percaya pada kalian. Beritahu aku jika serigala itu datang lagi. Sekarang bersiaplah untuk masuk ke kelas, kalian sudah membuat waktuku tersita sebanyak tiga puluh menit.”, ucap Shin sonsaengnim yang memang seharusnya mengajar pada jam pertama di kelas sihir hitam pagi ini.

Nichan dan Baekhyun membungkuk hormat, kemudian beranjak keluar dari ruangan.  Pakaian mereka masih sama seperti kemarin sore, pakaian santai, bukan pakaian seragam seharusnya. Entah apa yang terjadi kemarin, setelah kejadian punggung Baekhyun yang dicakar-cakar itu mereka tak mengingat apapun. Ingatan mereka tiba-tiba tersambung keesokan paginya. Pukul enam pagi, Minseul datang ke kamar Nichan dan mendapati Baekhyun yang tertidur pulas disamping Nichan. Karena tak percaya dengan apa yang ia lihat, akhirnya ia memanggil Chanyeol. Tak disangka, Shin sonsaengnim melihat keributan yang dibuat oleh Minseul tersebut sehingga ia ikut masuk ke kamar Nichan. Begitulah.

Sekeluarnya dari ruangan Shin sonsaengnim, Nichan memeluk Minseul yang langsung balas memeluknya. Minseul merasakan tubuh Nichan yang tidak rileks, setengah menegang. Maka, dielusnya lembut punggung Nichan, mengalirkan sebuah ketenangan.

“Kau bersyukur tidak masuk ruang sidang.”, ucap Chanyeol menepuk pundak temannya.

“Dengan alasan apa aku masuk ruang sidang? Aku tak melakukan apapun.”, ucap Baekhyun meyakinkan Chanyeol. Ia tahu pasti Chanyeol dan Minseul berpikir yang tidak-tidak tentang mereka setelah tadi pagi.

“Kau tidak masuk kelas?”, tanya Baekhyun pada Luhan yang mematung memandangi Minseul dan Nichan.

“Aku memiliki kemampuan istimewa sejak lahir. Aku sudah menaruh satu klon-ku di kelas untuk mengikuti pembelajaran.”, ucap Luhan. Yang lain hanya mengangguk. Ya, itulah yang menyebabkan dia diterima di sekolah ini. Basic sihir yang dimilikinya berasal dari lahir.

***

Wufan dan Jaewon memasuki daerah sekitar Hutan Eodum. Perjalanan mereka sedikit menghadapi hambatan tadi. Banyaknya sulur-sulur liar yang sulit ditebas membuat langkah mereka menjadi pelan. Pasalnya, jika mereka menyentuh bagian dari sulur itu,  maka kaki mereka akan terlilit. Tak ada yang tahu bagaimana cara melepaskannya. Namun, sulur itu akan terlepas sendiri setelah enam jam. Apa mereka akan menunggu selama enam jam untuk menunggu sulur itu lepas? Tentu saja tidak. Sangat membuang waktu.

“Abeoji, kita akan pergi ke kanan atau ke kiri?”, tanya Jaewon saat mereka menghadapi jalan bercabang.

Wufan menajamkan instingnya terlebih dahulu. “Kiri.”, ucapnya kemudian.

Jalan ke kiri ini banyak ditumbuhi pohon-pohon berdaun kemerahan. Sangat cantik. Lebih cantik lagi jika kau menemukan pepohonan Mabeob nanti. Batang pohon yang kuat, serta daun berwarna hijau dengan warna biru pucat diujungnya. Jika dilihat dari jauh, ujung daun berwarna biru tersebut akan terlihat berwarna silver.

“Sst..”, ucap Wufan menghentikan langkah Jaewon. Jaewon memandang ayahnya tanpa berkata apapun. Ia tak boleh mengeluarkan suara saat ini. Mata Wufan memandang ke sekeliling, mencari aura keanehan yang ia tangkap barusan. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya lagi dengan waswas.

“Ada apa, Abeoji?”, tanya Jaewon setelah merasa keadaan cukup aman.

“Daerah ini tidak aman, kita harus berhati-hati.”, ucap Wufan, masih mengawasi sekitar. Mata Jaewon menajam kala mendengar perkataan Wufan barusan. Tidak aman dalam kamus ayahnya berarti benar-benar tidak aman.

Mereka berjalan perlahan namun pasti. Gerakan-gerakan sekecil apapun tak pernah luput dari pandangan mereka. Bahkan bunyi desir angin yang menjadi penyejuk mereka pun perlu diwaspadai. Mereka berada di hutan yang memang jarang terjamah oleh manusia. Walaupun ada yang masuk ke hutan ini, pastilah hanya untuk keperluan penting atau mendesak, sama seperti mereka.

Wufan kembali menghentikan langkahnya, membuat Jaewon kembali terkaku. Mata Wufan bergerak ke kanan dan kiri secara berirama. “Jangan bergerak.”

Sepasang kupu-kupu berwarna hijau kekuningan melayang dengan ceria diatas kepala mereka. Namun, sedetik kemudian sepasang kupu-kupu itu ambruk tepat didepan wajah keduanya. Lantas, Wufan menarik anaknya dan masuk ke semak-semak yang juga berwarna kemerahan. Degup jantung Jaewon tak karuan. Jika ia tak sadar akan kodratnya sebagai pria, ia pasti akan memeluk Wufan dan menangis tersedu saking takutnya. Dilihatnya kupu-kupu yang ambruk tadi membusuk secepat angin menghembuskan bangkai keduanya.

“Jika ada sekelompok hewan yang datang, cobalah menahan napas hingga mereka pergi.”, ucap Wufan berbisik, matanya terus mengawasi ke kanan dan kiri. Jaewon mengangguk paham. Sudah terlintas kemungkinan adanya vampir, karena hanya vampir yang akan bereaksi dengan napas manusia, bukan? Namun, apa makhluk vampir itu benar ada?

“Tahan napasmu sekarang.”, ucap Wufan mengintruksikan. Jaewon mengikuti suruhan ayahnya. Dihisapnya dulu banyak oksigen sebelum menahan karbon dioksida di paru-parunya.

Beberapa detik kemudian, sekelompok serigala melewati jalan yang berada di hadapan mereka. Satu serigala berjalan didepan, memimpin empat serigala lain yang mengikutinya dengan setia. Taring panjang mereka tampak mengerikan, apalagi dengan liur yang keluar dari sudut bibir mereka. Mengisyaratkan bahwa para serigala tersebut mungkin sedang kelaparan. Matanya yang merah menyala memandang ke segala arah dengan tatapan siap terkam.

Jaewon membulatkan matanya. Ia baru pertama kali melihat serigala langsung dengan mata kepalanya sendiri. Biasanya ia hanya mendengar dongeng tersebut dalam buku-buku cerita anak. Dan ternyata, deskripsi serigala di buku-buku itu kurang menyeramkan dibanding melihatnya secara langsung.

Wufan menghembuskan napasnya lega saat rombongan serigala tersebut sudah hilang dari pandangannya. “Ayo, kita lanjutkan lagi perjalanan.”, ajak Wufan keluar dari semak-semak tersebut sambil membersihkan debu di bajunya.

Jaewon melahap oksigen sepuasnya, sebagai wujud rasa syukur akhirnya ia bisa bernapas kembali. Ia melirik pada jalan yang dituju oleh para serigala tadi. “Apa mereka hanya serigala biasa, Abeoji?”

“Kurasa tidak. Kau lihat apa yang terjadi pada kupu-kupu tadi? Jika saja tadi kita tidak menahan napas, mungkin nasib kita akan seperti mereka.”, jawabnya sambil tetap berwaspada. Bisa saja, para serigala itu masih terdiri dari beberapa gerombolan lagi.

“Apa kau pernah mendengar tentang legenda manusia serigala?”, tanya Wufan. Jaewon menggeleng.

“Dulu memang manusia serigala benar adanya. Mereka terlihat seperti manusia pada umumnya, makan, minum, bersosialisasi, dan melakukan hal normal lainnya. Namun, saat bulan purnama datang, tubuh mereka tak bisa menolak takdir. Mereka akan berubah menjadi seorang serigala dengan postur yang besar dan bisa berdiri. Dengan instingnya, mereka akan mencari orang-orang dari keturunan terentu untuk dimangsa.”, jelas Wufan. Ceritanya tersendat kala dilihatnya Jaewon tak sengaja menendang batu dan hampir terjatuh.

“Suatu hari, ada seorang manusia serigala yang kedapatan memangsa anak dari seorang penyihir dengan sihir hitam. Karena didera amarah yang luar biasa, ia akhirnya mengutuk manusia serigala tersebut beserta seluruh keluarganya berubah menjadi serigala sungguhan. Namun tak semudah itu, karena sihir yang digunakannya sangat kuat, ia meninggal karena kekuatannya sendiri saat kutukan itu belum sepenuhnya tertanam pada semua manusia serigala. Dan aku yakin, para serigala tadi adalah sisa keturunan dari para manusia serigala yang dikutuk itu.”, ucap Wufan mengakhiri ceritanya.

“Sepertinya menyeramkan. Apa serigala itu memang tinggal di hutan ini, Abeoji?”, Jaewon merasa tertarik dengan cerita ayahnya tersebut.

“Entahlah, tak ada yang bisa melihat keberadaannya lagi. Dan jika benar yang tadi kita lihat adalah turunan dari manusia serigala itu, berarti kita orang pertama yang melihatnya setelah beratus-ratus tahun.”

“Aku tak tahu, apa aku harus bangga, atau aku seharusnya merasa sial karena melihat mereka?”, Jaewon menggaruk kepalanya yang tak sama sekali terasa gatal.

“Ah, kurasa itu Pohon Mabeob.”, ucap Wufan menunjuk kearah barat.

***

Kemarin malam saat ia sedang mengobrol dengan Raja Minseok di ruang utama kerajaan, ia mengelus beberapa kali lukisan hasil karya Nichan hingga terdengar beberapa suara. Salah satunya suara Nichan, dan ada suara seorang laki-laki. Mungkin teman sekolahnya. Mereka membicarakan sesuatu tentang denah sekolah yang dirasanya aneh. Saat Nichan mengucapkan sesuatu tentang kepala serigala, ia bertanya pada ayahnya, Raja Minseok.

Alih-alih mendapat jawaban, kepala Pangeran Jongin seketika terasa berat dan ia tak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya.

“Kau sudah bangun, Jongin?”, tanya sebuah suara lembut yang masuk ke kamar Pangeran Jongin. Ibunya.

“Ne, Eommonim. Apa yang terjadi?”, tanyanya sambil memperhatikan sekeliling kamar.

“Seharusnya Eommonim yang bertanya padamu, sebenarnya apa yang terjadi tadi malam? Kau berteriak seperti orang kerasukan, kemudian pingsan dan baru bangun pagi ini.”, ucap Ratu Minhyo dengan kekhawatiran yang bisa dirasakan oleh Pangeran Jongin.

“Benarkah?”, tanya Pangeran Jongin mencoba beranjak dari ranjangnya. Tangannya meraih air dalam gelas yang dibawakan ibunya.

“Apa kau memimpikan sesuatu?”, tanya Ratu Minhyo, duduk disamping anaknya.

Pangeran Jongin menggeleng. “Kurasa aku tidak bermimpi apapun tadi malam.”

“Mungkin kau kelelahan.”, terka Ratu Minhyo. “Bukankah sekarang jadwalmu berlatih panahan? Kau akan tetap berlatih atau istirahat saja? Eommonim khawatir keadaanmu semakin memburuk.”, tawar Ratu Minhyo.

“Apa hyungnim akan berlatih juga hari  ini?”, Tanya Pangeran Jongin bersemangat.

“Tentu saja.”, jawab Ratu Minhyo sambil tersenyum.

“Kalau begitu aku ikut berlatih.”

***

Jam pelajaran di kelas sihir hitam hari ini dimulai baru pukul setengah tujuh pagi. Hal yang sangat sulit ditemukan, yaitu keterlambatan. Baekhyun dan Nichan masuk ke kelas pada pukul tujuh tepat, setelah mendapat dispensasi dari Shin sonsaengnim untuk melakukan persiapan sebelum belajar.

“Hari ini kita tidak akan membahas pelajaran.”, ucap Shin sonsaengnim. Mata Chanyeol membulat sempurna. Hari ini seharusnya ada pelajaran teori mengenai ilmu penguasaan sihir hitam lagi. Dan Shin sonsaengnim mengatakan tidak akan membahas pelajaran? Sungguh sempurna, tidak akan ada pelajaran membosankan hari ini.

“Lalu apa yang akan kita bahas hari ini, sonsaengnim?”, Tanya Minseul sopan.

“Kita akan membahas masalah tadi pagi.”, jawab Shin sonsaengnim, memandang kearah Baekhyun dan Nichan yang memang duduk bersebelahan.

Nichan menunduk. Ia masih trauma dengan kejadian yang menimpanya kemarin. Apalagi dengan tatapan Shin sonsaengnim yang sama sekali tak bisa ia artikan. Kondisi yang sama dialami oleh Baekhyun, ia juga menunduk, tak tahu harus melakukan apapun.

“Mungkin kalian masih bingung mengenai masalah yang dihadapi teman kalian ini. Jangan salah sangka, mereka tak melakukan pelanggaran apapun.”, ucap Shin sonsaengnim mendekat kearah Nichan. Jiwa penyayangnya keluar begitu saja saat melihat wajah Nichan yang panik.

Chanyeol dan Minseul tak berkomentar. Mereka memang masih berpikir negatif tentang Nichan dan Baekhyun, hanya saja mereka berusaha mengusir pemikiran itu dengan tak membicarakannya.

“Untuk meluruskan masalah ini, apa kau mau menceritakannya kembali, Baekhyun-ssi?”, pinta Shin sonsaengnim.

Baekhyun mengangguk, kemudian memulai ceritanya dengan hembusan nafas berat. “Aku berada di kamar Nichan untuk membahas sesuatu. Awalnya terasa biasa saja, namun lama kelamaan aku merasa suasana semakin tidak enak. Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari luar, aku mencegah Nichan untuk melihatnya. Mendadak ada seekor serigala masuk lewat jendela. Beberapa serigala lain ikut masuk hingga ada lima ekor serigala disana. Matanya merah menyala, taring dan kukunya panjang serta tajam. Mereka terus mendekat kearah kami. Saat itu punggungku sempat terkena cakaran-cakaran mereka karena mencoba melindungi Nichan. Setelah itu, aku tak mengingat apapun. Yang kuingat saat Minseul masuk ke kamar Nichan, dan ya setelah itu kalian bisa tahu sendiri ceritanya.”, cerita Baekhyun, meski ia sebenarnya tak ingin mengingat kejadian itu lagi.

“Apa yang terjadi dengan punggungmu?”, Tanya Chanyeol khawatir.

“Entahlah, saat aku bangun tadi pagi sudah tidak terasa sakit. Tidak ada bekas apapun.”, jawabnya dengan wajah heran.

Minseul mencoba menjangkau punggung Nichan dan mengelusnya. Tidak sepantasnya ia berpikiran buruk pada temannya sendiri.

“Aku akan menjelaskan sedikit. Apa kau tahu serigala apa yang kau lihat kemarin, Nichan-ssi?”, Tanya Shin sonsaengnim. Nichan mengangkat kepalanya.

“Serigala penjaga sekolah..?”, jawabnya ragu.

“Darimana kau bisa mendapatkan jawaban itu?”

Nichan menghela napas sejenak, membenarkan posisi duduknya. “Dua hari yang lalu aku mendengar suara lolongan serigala saat kami makan siang. Tapi hanya aku yang mendengarnya. Kemudian Luhan, siswa dari kelas sihir putih menjelaskan tentang apa yang ia tahu mengenai serigala penjaga sekolah. Kukira, serigala yang kemarin itulah penjaga sekolah.”

Shin sonsaengnim berjalan kembali kearah mejanya. Ia menyandarkan diri didepannya. “Perlu kalian ketahui, serigala penjaga sekolah tidak memiliki mata berwarna merah menyala. Serigala penjaga sekolah memiliki mata berwarna biru terang. Kesimpulannya, yang kalian lihat bukanlah serigala penjaga sekolah.”, jelas Shin sonsaengnim, membuat Baekhyun dan Nichan memandangnya tak percaya.

“La.. lu.. jika bukan..”, Nichan tergagap sambil menerka-nerka kira-kira apa jawaban sebenarnya.

“Mereka serigala liar. Aku belum bisa memastikan hal apa yang membuat mereka bisa masuk ke lingkungan sekolah, nanti akan kudiskusikan bersama guru yang lain. Sekarang yang harus kalian tahu adalah mengenai serigala liar itu. Mereka adalah sisa keturunan dari bangsa werewolf. Salah satu penyihir yang merupakan pendiri sekolah ini pernah mengutuk mereka hingga mereka menjadi serigala seutuhnya. Namun, karena kekuatan sihir yang digunakan untuk mengutuk serigala itu sangat kuat, penyihir tersebut meninggal karena kekuatannya sendiri. Karena proses kutukan tersebut belum sepenuhnya selesai, masih ada jiwa werewolf didalam para serigala tersebut.”, ceritanya panjang lebar. Chanyeol mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Apa mereka berbahaya?”, Tanya Minseul, wajahnya mulai ketakutan.

“Tentu saja. Dahulu pernah ada seseorang yang didatangi oleh para serigala liar itu, mereka mati mengenaskan. Kalian benar-benar beruntung.”, ucap Shin sonsaengnim pada Baekhyun dan Nichan.

***

“Kau sudah mengatakannya pada Eommonim?”, Tanya Pangeran Chanshik, melepas kebisuan diantara mereka berdua. Suasana yang tidak panas dan juga tidak mendung membuat acara berlatih panahan mereka kali ini berlangsung lama. Dan diantara lamanya waktu itu, tak ada satu pun dari mereka yang memutuskan memulai percakapan.

“Sudah, hyungnim. Eommonim akan membantuku.”, ucap Pangeran Jongin memusatkan perhatiannya pada sebuah titik yang cukup jauh. Target anak panahnya.

“Kurasa aku akan membantumu juga jika dibutuhkan.”, ujar Pangeran Chanshik meletakan busur panahnya di tempat yang sudah disediakan. Ia mendudukan tubuhnya disamping lapangan. Sepertinya latihan hari ini sudah cukup.

“Hyungnim pasti akan sangat membantuku.”, ucap Pangeran Jongin setelah melepaskan anak panah terakhirnya. Dia mengikuti langkah Pangeran Chanshik untuk beristirahat.

“Apa hyungnim tahu apa yang terjadi padaku tadi malam?”, Tanya Pangeran Jongin. Ia meminum segelas air mineral, kemudian meraih satu buah jeruk yang terlihat segar dipandangannya.

“Soal itu, aku tak yakin. Aku hanya melihatmu dari jauh. Kau berteriak seperti orang kerasukan. Setelah beberapa tabib istana memberimu semacam mantra, atau entahlah apa itu, kau mulai tenang dan pingsan.”, cerita Pangeran Chanshik. “Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang terjadi?”

“Aku memiliki sebuah rahasia dengan Wu Ahjussi.”, ucap Pangeran Jongin, membuat Pangeran Chanshik menatapnya dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

“Rahasia apa?”, tanyanya kemudian.

“Hyungnim tahu lukisan yang kupegang tadi malam?”, Tanya Pangeran Jongin sembari mengingat dimana terakhir kali ia menyimpan lukisan itu. Kejadian ia pingsan tiba-tiba tersebut membuatnya lupa segala.

“Ah ya, lukisan favoritmu itu kan? Yang kau dapat dari Abeonim? Aku sudah menyimpannya di kamarmu. Ada apa dengan lukisan itu?”, Tanya Pangeran Chanshik.

“Dulu saat di desa, aku pernah meminta Nichan melukiskan sebuah pemandangan dan harus diberi ukiran pada bingkainya. Aku hanya merindukan lukisan pemberian Abeonim itu, dan ternyata Nichan membuatnya sama persis dengan yang ada di istana.”, jelas Pangeran Jongin. Pangeran Chanshik mengerutkan keningnya, merasa tak percaya.

“Percayalah padaku, hyung. Lukisan buatan Nichan sudah kukembalikan padanya, dan hyungnim tahu apa? Ternyata kedua lukisan tersebut memiliki kekuatan sihir. Mereka bisa terhubung satu sama lain. Jadi, aku bisa tahu bagaimana keadaan Nichan disana.”, cerita Pangeran Jongin, masih diragukan oleh Pangeran Chanshik.

“Jika hyungnim berpikir aku berbohong, akan kutunjukan padamu suatu saat. Asalkan hyungnim mau merahasiakan ini dari semuanya, termasuk Abeonim.”, pinta Pangeran Jongin. Melihat ekspresi dongsaengnya yang seakan memohon dengan sangat, akhirnya dia mengiyakan.

“Kejadian kemarin, semuanya terjadi setelah aku mendengar suara Nichan dari lukisan itu. Dia dan temannya sedang membicarakan tentang serigala yang ada di Sekolah Sihir Hanman.”, ujar Pangeran Jongin. “Aku tak tahu hyungnim, tapi kurasa itu berhubungan dengan kejadian yang menimpaku kemarin.”

Pangeran Chanshik terdiam di tempatnya. Entah apa yang ia pikirkan hingga sebuah suara mengganggu indera pendegarannya.

“Kau mendengarnya?”, Tanya Pangeran Chanshik.

“Mendengar apa, hyungnim?”, Tanya Pangeran Jongin tak mengerti.

“Ada suara lolongan serigala.”

TO BE CONTINUE

01 Juli 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s