FF : BLACK MAGIC (Chapter 6)


image

BLACK MAGIC (Chapter 6)

Kim Jong In (EXO, Kai) as Pangeran Jongin

Gong Chan Shik (B1A4, Gongchan) as Kim Chan Shik – Pangeran Chanshik

Kim Min Seok (EXO, Xiumin) as Raja Minseok

Choi Min Hyo (OC) as Ratu Minhyo

Wu Yi Fan (EXO, Kris) as Wufan – Penyihir Wu

Wu Jae Won (OC) as Wu Jae Won

Wu Ni Chan (OC) as Wu Ni Chan

Byun Baek Hyun (EXO, Baekhyun) as Byun Baekhyun

Lu Han (EXO, Luhan) as Luhan

Park Chanyeol (EXO, Chanyeol) as Park Chanyeol

Genre : Fantasy, Romance, Family, Friendship

Rating : Teenage

Length : Multichapter

Author : @ririnovi

.

.

Previous Chapter>>

“Aku mendapat informasi, jika serigala penjaga sekolah ini bisa berjumlah lebih dari 20 ekor. Jika kau mengganggu satu ekor, maka kau akan berurusan dengan semua serigala.”, papar Baekhyun. “Yang kudengar juga, hanya beberapa orang saja yang bisa melihat serigala itu. Hanya siswa dengan aura sihir yang sangat kuat.”, lanjutnya.

“Apa diantara serigala-serigala itu tak ada yang berhati baik? Setidaknya kita bisa berteman dengan salah satu dari mereka.”

“Kau becanda? Siapa yang mau berteman dengan hewan buas seperti itu? Jika melihatnya saja, kurasa aku akan langsung lari terbirit-birit.”, ucap Baekhyun membuat Nichan tertawa ringan.

“Nichan-ssi! Nichan-ssi! Ayo ikut aku! Cepaaat!”, ucap sebuah suara didekat kaki Nichan.

“Liliput biru? Ada apa?” tanya Nichan. Liliput itu merangkak naik menuju pundak Nichan dan membisikkan sesuatu ditelinganya.

“Ah, sepertinya aku harus kembali ke kamarku sekarang. Terimakasih untuk sarapan kali ini, Luhan-ssi.”, ucap Nichan beranjak dan membuat lawan bicaranya membulatkan mata.

“Oya!”, Nichan kembali berbalik. “Kau tahu, aku sering memperhatikan cara berjalan seseorang, dan cara berjalanmu tentu berbeda dengan Baekhyun. Dan yang paling penting, Baekhyun tidak menggunakan nametag Lu Han di blazer-nya. Jadi, jangan pernah lakukan itu lagi, Luhan-ssi.”, ucap Nichan tersenyum manis kemudian pergi. Membuat Luhan menunduk malu, dan mengakibatkan wajah Baekhyun yang sedang ditirunya mengeluarkan rona merah. Gadis itu menarik, pikirnya.

*

Prolog

Chapter 1

Chapter 2

Chapter 3

Chapter 4

Chapter 5

*

“Nichan! Pagi-pagi kau sudah keluar.”, ucap Baekhyun dari seberang kamar Nichan. Asrama laki-laki dan perempuan dipisahkan oleh sebuah pohon besar yang entah kenapa bisa tumbuh subur didalam ruangan tertutup. Mungkin karena sihir.

“Kan kau sendiri yang mengajakku keluar.”, ucap Nichan terkekeh kemudian masuk ke kamarnya. Meninggalkan Baekhyun yang masih tidak mengerti.

“Dimana?”, tanya Nichan pada liliput biru.

“Tadi dia masuk lewat jendela. Apa kau yang memanggilnya?”, liliput biru naik menuju jendela. Mencari-cari mungkin ada sedikit jejak yang ditinggalkan serigala itu.

“Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara memanggilnya.”, ungkap Nichan jujur.

“Serigala penjaga sekolah hanya akan menampakkan diri karena dua hal. Pertama, jika kau menirukan suara lolongannya. Kedua, jika kau pergi ke tempat terlarang di sekolah. Itu pun kau tidak selalu bisa melihatnya.”, jelas liliput biru.

“Tapi aku tidak melakukan keduanya, mereka juga tidak menampakkan diri didepanku, tapi didepanmu.”, Nichan melangkah menuju jendela. Memandang keluar, berharap masih bisa melihat serigala itu.

“Tapi dia masuk ke kamarmu, aku yakin ada yang ingin ia cari disini.”, Nichan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar. Mencoba meneliti keanehan apa yang kira-kira memancing serigala itu untuk datang. Tapi semua tampak normal, tidak ada keanehan sedikit pun.

“Kau akan terus berjaga dikamarku, kan?”

“Tentu tidak. Jika sudah masuk jam belajar, aku akan keluar dan berpatroli dengan liliput lain. Saat jam belajar usai, aku akan kembali menemanimu disini.”

Nichan mendesah pelan. “Kuharap serigala yang kau maksud tidak masuk lagi kesini.”

Pagi ini Pangeran Jongin bangun dengan wajah kusut. Dia tidak bisa tidur semalaman. Bayangan-bayangan buruk selalu hinggap tatkala ia memejamkan mata semenit saja.

“Kenapa aku terus memimpikan hal yang sama? Apa ini pertanda buruk?”, tanyanya sambil beranjak menuju pintu. Namun sebuah suara dengung menghentikan langkah gontainya. Pangeran Jongin pun beralih menghampiri asal suara.

“Kita berjanji untuk merawatnya bersama, eoh? Kau tidak akan membiarkanku merawatnya sendiri, kan?”, tanyanya pada sebuah kandang serangga yang lebih mirip seperti akuarium berbentuk balok. Didalamnya terdapat seekor lebah, belalang, atau apapunlah jenis serangga ini. Nichan sudah berjanji untuk merawat serangga ini bersama. Dan perkataan ayahnya kemarin sukses membuyarkan pemikirannya tersebut.

“Apa Wu Ahjussi bisa membantuku untuk membujuk Abeonim?”, tanya Pangeran Jongin berharap. “Kalau begitu, akan kucoba!”

Pintu kamar Pangeran Jongin diketuk beberapa kali sebelum ia memutuskan untuk membukanya. Disanalah muncul sosok Pangeran Chanshik, hyung satu-satunya. Setelah diperkenankan untuk masuk, Pangeran Chanshik duduk diatas ranjang Pangeran Jongin.

“Mianhae, tapi aku mendengar obrolanmu dengan Abeonim kemarin malam.”, ujar Pangeran Chanshik pelan.

“Gwaenchanhayo hyungnim, itu bukan sesuatu yang harus dirahasiakan lagi sekarang.”, ucap Pangeran Jongin tenang.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan? Mencari yeoja lain?”, tanya Pangeran Chanshik mulai bersemangat.

“Belum hyungnim, aku masih akan memperjuangkan hal yang kuinginkan.”, ucap Pangeran Jongin yakin. Bukankah bagus jika kakaknya tahu apa yang ia inginkan? Jadi ia bisa meminta bantuan.

“Kenapa kau tidak mengatakannya pada Eommonim? Bukankah dari awal ia sangat menyukai gadis itu? Kurasa Eommonim takkan melewatkan kesempatan emas ini.”, ujar Pangeran Chanshik mendapat pandangan kagum dari Pangeran Jongin. Benar apa kata kakaknya, ia bahkan belum mengatakan hal ini pada ibunya.

Pukul 11 semua murid masuk ke ruangan kelas masing-masing. Mereka mendapat pelajaran teori mengenai cara mengendalikan kekuatan sihir sesuai jenis bakatnya. Dua jam mendengar ocehan guru di kelas membuat mereka tentu saja mengantuk dan lapar. Saat bel makan siang berbunyi, itulah rasanya bagaikan menemukan surga.

“Liliput hijauku tidak terlalu ramah, yang dia lakukan hanya diam dan diam, itu membuatku canggung, kau tahu kan aku..”

“Banyak bicara!”, seru Chanyeol menginterupsi Minseul yang sedang asyik bercerita. Baekhyun menawarkannya sebuah tos, dan disambut gembira oleh Chanyeol. Mereka tertawa, sedangkan Minseul memandangi mereka kesal.

“Ya, Baekhyun-ah, kau tidak sadar apa yang dilakukan liliputmu kemarin? Setidaknya lebih baik memiliki liliput pendiam daripada pendendam seperti liliput merahmu.”, ujar Nichan membuat Baekhyun terdiam, sedangkan Chanyeol tetap tertawa.

“Ya, kau belum menceritakan pada kami tentang liliputmu.”, Baekhyun menepuk pundak Chanyeol agar ia berhenti tertawa.

Chanyeol meminum jus apel yang menjadi menu siang ini. Wajahnya berubah serius, seperti tak pernah ada kejadian lucu apapun sebelumnya.

“Aku sebenarnya juga tidak betah di kamar.”, ucap Chanyeol, semua temannya diam, menunggu Chanyeol bercerita. “Liliput ungu itu seperti ibu tiri, selalu memerintahku ini dan itu, mengomel, dan ya melakukan hal menyebalkan lainnya. Sepertinya ia ingin menyiksaku di tempat seharusnya aku beristirahat.”, Chanyeol mengerucutkan bibirnya. Beberapa saat kemudian, Minseul, Nichan, dan Baekhyun tertawa bersamaan.

“Bagaimana kau bisa tertawa selepas tadi kalau ternyata nasibmu lebih parah daripada aku?”, ucap Minseul ditengah tawanya.

“Sepertinya menyenangkan melihat kalian tertawa seperti ini. Bisakah aku bergabung lagi disini?”, tanya Luhan, keadaannya sama seperti kemarin, sedang membawa nampan berisi makanan.

“Kemari kemari, ceritakan pada kami tentang liliput yang ada di kamarmu.”, ajak Chanyeol. Luhan duduk disebelah Chanyeol. Berhadapan dengan Nichan dan Minseul.

“Liliputku berwarna kuning, dan dia selalu mengajakku berdiskusi tentang hal apapun. Kurasa dia cukup cerdas diantara liliput-liliput sebangsanya.”, cerita Luhan, membuat Chanyeol sedikit kecewa, karena berharap ada cerita yang lebih tragis daripada miliknya.

“Kau dan Nichan sangat beruntung ditemani liliput yang ramah dan menyenangkan.”, ucap Baekhyun. Ia kembali menatap sajian daging kelinci dihadapannya. Mulai mengiris dagingnya hingga bisa dimasukkan kedalam mulut.

“Ehm Nichan-ssi, mianhaeyo untuk yang tadi pagi. Aku menyukaimu, maka dari itu aku melakukannya.”, ucap Luhan, membuat beberapa diantara mereka tersedak karena makanannya sendiri, begitupula Nichan. Ia merasakan hal itu, tapi ia tak menyangka Luhan akan menyatakannya dengan cara seperti ini.

“Kau tidak sedang membuat lelucon kan, Luhan?”, tanya Minseul dengan matanya yang membulat sempurna.

“Ya, aku menyukaimu Nichan-ssi.”, ulang Luhan sambil memainkan garpu diatas makanannya. Wajahnya tampak tenang, tapi tidak dengan gerak-geriknya. Ia pun tidak menatap kearah lain selain makanannya.

Nichan tak bereaksi. Sejujurnya, ia selalu bingung menghadapi hal yang mencanggungkan seperti ini. Minseul menyenggol lengan Nichan, menyuruhnya untuk memberikan respon. Luhan menegakkan kepalanya, tersenyum getir menatap Nichan.

“Tidak perlu dipikirkan, aku hanya ingin mengungkapkannya saja.”, ucap Luhan mulai menyuapkan sedikit demi sedikit makanan ke mulutnya.

Chanyeol dan Baekhyun yang sejak tadi mematung mulai mengunyah kembali makanan didalam mulutnya secara kompak. Kejadian ini membuat mereka tidak banyak bicara, terlihat idiot bagi yang lain.

“Ehm, memangnya apa yang terjadi tadi pagi?”, tanya Minseul ragu.

Nichan dan Luhan saling menatap. Mereka memikirkan hal yang sama, apa harus dibicarakan atau tidak?

“Kami hanya sarapan bersama.”, ucap Nichan pada akhirnya. Minseul hanya mengangguk, kecanggungan ini membuat mereka makan dalam diam, tidak seperti sebelumnya.

Jam makan siang habis. Kini mereka masuk kembali ke kelas masing-masing.

“Bisakah aku bertemu dengan ketua kelas?”, tanya seorang guru di ambang pintu.

“Kami tidak memiliki ketua kelas, sonsaengnim.”, jawab Baekhyun jujur.

“Kalau begitu mulai sekarang kaulah ketua kelasnya. Kemarilah, ada yang ingin kusampaikan.”

Baekhyun mengerutkan kening. Baru pertama kali ia ditunjuk sebagai ketua kelas dengan cara yang tidak demokratis. Teman-temannya yang lain tidak protes, itu berarti mereka setuju. Baekhyun menghampiri guru tersebut. Mereka berbicara ditengah lorong yang sepi.

“Aku ingin memberikanmu ini.”, ucap guru tersebut sambil berbisik. Ia mengeluarkan sebuah kertas usang dari balik topi kerucutnya.

“Apa ini, sonsaengnim?”, tanya Baekhyun sopan, meski sepertinya guru ini tidak terlalu peduli terhadap kesopanannya itu.

“Ini denah sekolah, percayalah suatu saat kau membutuhkannya. Jadi, simpan ini baik-baik dan jangan beritahu siapapun bahwa kau memiliki denah itu.”, ucap sonsaengnim tersebut kemudian menghilang tepat dihadapan Baekhyun. Sihir benar-benar memancing penyakit serangan jantung, ucapnya dalam hati.

“Hamba meminta izin mencari daun dari Pohon Mabeob untuk keperluan ramuan penangkal penyakit.”, ujar Wufan pada Raja Minseok di ruang utama kerajaan.

“Ramuan penangkal penyakit seperti apa yang akan kau buat?”, tanya Raja Minseok memperbaiki posisi duduknya yang tidak nyaman.

“Hamba akan menyempurnakan ramuan yang kemarin digunakan untuk mengusir para serangga itu. Sehingga, jika ada penyerangan kembali, kita bisa langsung memusnahkan mereka.”, ucap Wufan yakin.

“Berapa lama kau akan pergi? Kerajaan masih membutuhkan bantuan dan keahlianmu.”, ucap Raja Minseok bernada khawatir.

“Entahlah, Baginda. Pohon Mabeob tidak hidup di sembarang tempat, mungkin hamba akan mulai mencarinya di Hutan Eodum. Jika tidak ada, maka akan hamba lanjutkan di sekitar Gunung Heomhan.”, ujar Wufan menceritakan rencana yang telah ia susun. “Dan untuk keamanan kerajaan, Baginda tenang saja, hamba sudah membuat pertahanan sementara di sekeliling istana. Pertahanan itu akan bertahan selama 4 bulan.”, lanjutnya.

Raja Minseok terlihat sedikit lega mendengar penjelasan terakhir Wufan. Setidaknya dia bisa merelakan kepergian penyihir itu tanpa takut ada hal-hal buruk yang mungkin saja akan menyerang kerajaan. Selain itu, dia juga sudah mulai percaya pada kemampuan anak-anaknya yang semakin pintar dalam mengurus segala hal tentang kepemerintahan.

“Baiklah, kapan kau akan berangkat?”, tanyanya kemudian.

“Malam ini, Baginda.”, jawab Wufan singkat.

“Apa perlu kusuruh beberapa prajurit menemanimu?”, tawar Raja Minseok.

“Tidak perlu, Baginda. Hamba akan pergi bersama anak hamba, Wu Jaewon.”, tolak Wufan halus.

Raja Minseok menghela napas. “Kalau begitu akan kusiapkan beberapa perbekalan untukmu dan anakmu, semoga saja perjalanan kalian tidak mengalami hambatan apapun.”

Wufan tersenyum mendengar pesan singkat sang raja. Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya.

“Sebelumnya hamba ingin memberikan lukisan ini kembali. Namun, tak ada yang boleh menyentuh lukisan ini selain Pangeran Jongin.”, ucap Wufan, sebenarnya agak sedikit ragu untuk menyampaikan hal tersebut pada raja. Tadinya ia ingin memberikannya langsung pada Pangeran Jongin, namun tidak ada waktu yang tersisa untuknya. Ia harus segera berangkat.

“Ah, itu mengingatkanku pada sesuatu.”, ucap Raja Minseok tak mempedulikan Wufan yang menyodorkan lukisan itu padanya. “Bagaimana keadaan Nichan, anakmu?”

“Tidak ada kabar apapun, tapi hamba yakin dia akan baik-baik saja disana.”, ucap Wufan menarik kembali lukisan itu.

“Kau tahu, anak kita pernah bertemu di desa dulu?”

Pertanyaan yang tak sama sekali terprediksi oleh Wufan. Jadi, Pangeran Jongin sudah mengatakan hal ini pada Raja Minseok? Pikirnya. Ia berusaha mencari jawaban yang tepat. Ia tahu dengan siapa ia berhadapan sekarang, dan sejujurnya ia sendiri tak ingin membahas hal ini. Ia belum siap menerima komentar negatif untuk anaknya, meski sepertinya Raja Minseok tidak akan melakukan hal itu.

“Hanya sekedar mengetahuinya, Baginda.”, ucap Wufan ragu.

“Jadi, sebenarnya aku ingin membicarakan hal ini lebih lama denganmu. Jika kau sudah kembali nanti, kuharap kau memiliki waktu yang cukup.”, ucap Raja Minseok setengah memohon. Wufan hanya mengangguk singkat, kemudian hendak berjalan keluar dari istana.

“Penyihir Wu!”, panggil Raja Minseok lagi.

Wufan membalikkan badan kembali dan menatap Raja Minseok penuh hormat.

“Kau bisa meletakkan lukisan itu disini. Akan kusampaikan pesanmu pada Jongin.”

“Eommonim..”, Jongin mengetuk pintu kamar orangtuanya. Berharap ibunya ada didalam sendirian, karena dilihatnya tadi sang Abeonim sedang duduk di ruang utama kerajaan, sepertinya menunggu seseorang.

“Jongin? Masuk saja, nak.”, suruh Ratu Minhyo. Pangeran Jongin menatap puas ruangan yang kosong. Hanya ada ibunya yang sedang menyisir rambut panjangnya didepan meja rias. “Ada apa?”, tanyanya menghentikan aktivitas, kemudian menatap Pangeran Jongin penuh perhatian.

“Kemarin aku membicarakan sesuatu dengan Abeonim.”, jawab Pangeran Jongin sambil duduk disamping ibunya. “Tentang yeoja yang kubicarakan saat kita makan bersama kemarin.”, lanjutnya.

“Ya? Kau bisa memberitahukannya sekarang?”, tanya Ratu Minhyo antusias.

Pangeran Jongin mengangguk yakin. “Yeoja itu adalah Nichan, eommonim. Anak dari Wu Ahjussi, ehm Penyihir Wu.”, ucapnya cepat, untuk menghilangkan kegugupannya.

Ratu Minhyo menatap tak percaya pada anaknya. “Jadi dia yeoja yang kau sukai itu?”

“Sebenarnya aku bertemu dengannya saat masih di desa dulu. Dia dan keluarganya sangat baik padaku. Meski aku menggunakan penyamaran saat di desa, ternyata Wu Ahjussi sudah mengetahui identitasku sejak lama. Dia juga tahu, jika aku dan Nichan sempat dekat.”, ceritanya. Ratu Minhyo memandang anaknya tersebut dengan tatapan yang tak dapat diartikan apa maksudnya.

“Jika kau mengatakannya lebih awal, mungkin Abeonim takkan mengirimnya ke sekolah sihir itu.”, tepat seperti apa yang dikatakan Raja Minseok kemarin.

“Ya. Dan ada satu hal yang ingin kuminta pada eommonim.”

“Apa itu?”

“Kemarin Abeonim mengatakan bahwa tidak seharusnya seorang putera raja berjodoh dengan seorang penyihir, ataupun keturunannya. Tapi, eommonim sangat menyukai Nichan kan? Apa eommonim ada di pihak yang sama denganku?”, tanya Pangeran Jongin mulai merengek.

“Sejujurnya, itulah yang sedaritadi eommonim pikirkan. Sangat senang jika ternyata gadis itu bisa masuk ke keluarga kita.”, ucapnya memasang wajah berpikir. “Kita lihat nanti, semoga saja kita bisa mematahkan peraturan itu.”, ucap Ratu Minhyo sambil mengelus lembut rambut Pangeran Jongin. Anak bungsunya itu masih terlihat manis baginya, seperti anak berumur 13 tahun.

Terdengar suara ketukan dari daun pintu. Masuklah seorang pelayan istana.

“Pangeran Jongin, Raja memanggil anda ke ruang utama kerajaan. Ada yang ingin disampaikannya.”

Pangeran Jongin menatap sekilas pada ibunya, tersenyum, kemudian segera beranjak menemui ayahnya. Di sepanjang perjalanan menuruni tangga, ia terpikir, apalagi yang ingin disampaikan ayahnya? Apa ia akan memberi izin untuknya menikah dengan seorang anak penyihir? Tapi, ia rasa bukan. Mana mungkin ayahnya bisa berubah pikiran dalam tempo waktu semalam?

Pintu dibukakan oleh dua orang prajurit yang sedang berjaga. Postur tubuh mereka tinggi dan kekar, seperti atlet olimpiade dunia. Kadang Pangeran Jongin memimpikan memiliki tubuh seperti itu. Namun kini pikirannya tertuju pada hal lain. Ayahnya sudah duduk di singgasana menanti kehadirannya.

“Ambilah lukisan itu, Penyihir Wu mengatakan tak ada yang boleh menyentuh lukisan itu kecuali kau.”, ucap Raja Minseok tanpa basa basi. Ia menunjuk sebuah lukisan bergambar pemandangan yang berdiri dengan elegan di sisi kanan kursinya, yang tak lain adalah singgasana sang Ratu.

Pangeran Jongin tidak banyak berbicara. Ia menurut dan mengambil lukisan tersebut. Setelah berpikir agak lama, ia baru melontarkan sebuah pertanyaan.

“Apakah tadi Penyihir Wu datang kemari, Abeonim?”, tanya Pangeran Jongin sambil duduk di kursinya sendiri.

“Ya, dia tidak bisa memberikannya langsung padamu karena ia harus segera berangkat.”, ucap Raja Minseok memancing pertanyaan lain dari anaknya.

“Berangkat? Kemana?”, seperti yang seharusnya, Pangeran Jongin pasti sangat ingin tahu.

“Dia dan Wu Jaewon akan melakukan perjalanan mencari Pohon Mabeob untuk keperluan ramuan. Dia tidak mengatakan kapan akan kembali, tapi kurasa tak akan lebih dari 4 bulan. Karena jika lebih dari itu, dia akan mendapat masalah.”, ucap Raja Minseok, masih memancing anaknya tersebut untuk bertanya. Tapi kali ini Pangeran Jongin tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia malah memandangi lukisan di tangannya dengan serius.

“Abeonim, apa abeonim tahu bahwa ada serigala di Sekolah Sihir Hanman?”

Jam besar ditengah asrama berdentang sebanyak enam kali. Itu berarti sekarang sudah pukul enam sore, dan seluruh siswa diharuskan berada di lingkungan asrama, tidak berjalan di lorong sekolah, ataupun halaman.

“Aku bingung dengan denah ini. Gambar ini menunjukkan ruang kelas kita, tapi disebelahnya adalah kamar mandi? Bukankah disebelah ruang kelas kita adalah kelas lain? Kamar mandi selalu berada di ujung koridor, bukan?”, tanya Baekhyun memastikan. Ia sedang berada di kamar Nichan untuk mendiskusikan hal ini.

“Ya, benar. Dan dimana letak kamar kita?”, tanya Nichan penasaran.

“Disini.”, tunjuk Baekhyun pada sebuah gambar di kertas usang tersebut.

“Apa ini?”, tunjuk Nichan pada sebuah gambar aneh disamping asrama mereka.

“Ah, entahlah.”, Baekhyun mengusap tengkuknya yang terasa merinding.

“Apa itu sebuah, ehm.. kepala serigala?”, Nichan menyipitkan matanya guna mempertajam penglihatan.

“Kurasa begitu.”, Baekhyun merekatkan jaket yang ia pakai karena suhu udara tiba-tiba saja menurun, namun hanya ia yang merasakan.

“Perasaanku mendadak tak enak.”, ungkap Baekhyun.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari halaman, seperti ada sekelompok orang yang berlarian, hanya suara kaki, tak ada suara lain. Nichan beranjak dan hendak mendekati jendela untuk melihat, namun Baekhyun dengan sigap menahan tangannya. Ia menggeleng pelan, memberi isyarat agar Nichan tidak melihat.

“Firasatku mengatakan ini bukan hal baik.”, ucap Baekhyun serius, membuat Nichan mengurungkan niatnya. Jarang sekali ia melihat rekannya tersebut seserius ini, dan mungkin ia harus mengikuti apa katanya.

Suara gemuruh itu terdengar semakin mendekat. Baekhyun dan Nichan saling menggenggam tangan. Sebagai simbolis, mereka takkan meninggalkan satu sama lain, apapun yang terjadi. Saat mereka yakin suara itu sudah sampai didekat mereka, kaki mereka mulai mundur teratur. Wajah yang semula serius kini mulai menegang. Masih menerka apa yang terjadi sebenarnya. Terdengar bunyi lolongan panjang, seperti serigala, dan suara itu sangat dekat.

“Baekhyun, aku takut.”, ucap Nichan. Ya, Baekhyun bisa merasakan dari tangan Nichan yang bergetar.

Brak! Seekor serigala masuk kedalam kamar Nichan melalui jendela kamarnya. Lebih tepatnya menembus, karena jendela itu sama sekali tidak terbuka atau rusak sedikitpun. Matanya merah menyala. Taringnya yang tajam membuat siapapun akan membayangkan bagaimana jika tiba-tiba serigala ini menerkamnya. Dan itu pula lah yang dibayangkan oleh Nichan dan Baekhyun sekarang. Wajah mereka bertambah panik saat beberapa serigala mulai mengikuti langkah serigala pertama tadi. Kini, ada lima ekor serigala di kamar Nichan. Semua mata mereka merah bagaikan lightstick. Suara geraman serigala itu membuat suasana semakin bertambah mistik.

Para serigala tersebut mulai melangkah mendekati Baekhyun dan Nichan. Mereka menyerah, kini punggung mereka sudah menempel sepenuhnya pada daun pintu. Tak ada lagi jalan keluar karena para serigala itu sudah mengepung mereka. Nichan menutup matanya rapat, sedangkan Baekhyun berusaha tetap terjaga, mengawasi pergerakan serigala-serigala yang sepertinya adalah penjaga sekolah ini.

“Mau apa kalian..?”, tanya Baekhyun meski dirinya takut. Ia tak boleh lebih takut dari Nichan, seharusnya ia melindungi agar yeoja itu tidak bertambah panik.

Percuma. Memangnya serigala bisa berbicara dengan manusia? Tentu saja tidak. Para serigala itu menatap tajam pada Baekhyun, namun sedetik kemudian pandangan mereka beralih pada Nichan. Ia masih menutup matanya rapat, bibirnya bergetar sambil mengucapkan beberapa kata yang tak bisa Baekhyun dengar dengan jelas. Seekor serigala bergerak terlebih dahulu, ia mengendus kaki Nichan yang tak beralaskan apapun. Hal itu membuat Baekhyun kaget. Apa yang harus ia lakukan? Otaknya panik.

Geraman serigala itu bertambah kencang, seperti siap menerkam. Baekhyun dengan sigap memeluk tubuh Nichan, bermaksud melindunginya. Sekarang para serigala itu marah, mereka mulai melolong kencang kemudian menggores-gores kukunya yang tajam pada punggung Baekhyun. Nichan menjerit ketakutan saat melihat wajah Baekhyun yang terlihat kesakitan.

“Te.. tenang saja.. aku.. aku akan melindu.. ngimu..”

TO BE CONTINUED

23 Juni 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s