FF : BLACK MAGIC (Chapter 5)


image

BLACK MAGIC (Chapter 5)

Kim Jong In (EXO, Kai) as Pangeran Jongin

Gong Chan Shik (B1A4, Gongchan) as Kim Chan Shik – Pangeran Chanshik

Kim Min Seok (EXO, Xiumin) as Raja Minseok

Choi Min Hyo (OC) as Ratu Minhyo

Wu Yi Fan (EXO, Kris) as Wufan – Penyihir Wu

Wu Jae Won (OC) as Wu Jae Won

Wu Ni Chan (OC) as Wu Ni Chan

Byun Baek Hyun (EXO, Baekhyun) as Byun Baekhyun

Lu Han (EXO, Luhan) as Luhan

Park Chanyeol (EXO, Chanyeol) as Park Chanyeol

Genre : Fantasy, Romance, Family, Friendship

Rating : Teenage

Length : Multichapter

Author : @ririnovi

.

.

Lalalalala~~~ *masuk dengan backsound lagu Red Light*
Kenapa ya SM kalo bikin lagu suka aneh-aneh tapi ujungnya terus aja keputer di otak, wkwk. f(x) udah comeback tapi ff ini belum selesai juga. Halah, sedang mencoba menyelesaikannya secepat mungkin. Dan ini chapter 5. Aku udah kepikiran buat ending nya bakal kaya gimana, jadi plisss baca terus sampe chapter terakhir nanti ya >.<
Juga selamat menjalankan ibadah puasa buat semua yang menjalankannya. Semoga lancar sampe hari terakhir nanti^^

Here we go~~~

*

Previous chapter>>

Cukup lama mereka menertawakan alasan yang diungkapkan Minseul barusan, hingga terdengar sebuah lolongan.

“Suara apa itu?”, tanya Nichan.

“Apa? Memangnya ada suara apa?”, tanya Chanyeol yang baru reda dari tawanya.

“Seperti sebuah lolongan serigala.”

“Serigala? Aku tidak mendengarnya.”, ucap Baekhyun mencoba menajamkan indera pendengarannya.

Suara lolongan itu kembali terdengar.

“Itu, apa kalian tidak mendengarnya?”, tanya Nichan lagi.

“Tidak ada suara apapun. Apa kau mengkhayal, Nichan?”, tanya Minseul mengerutkan keningnya. “Kau mungkin terlalu terbawa cerita liliput tadi. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan.”

“Tidak, aku memang mendengarnya. Suaranya sangat jelas.”, bela Nichan.

“Apa itu berasal dari serigala penjaga sekolah ini? Jika ya, kau dalam keadaan bahaya.”, ucap Luhan mendramatisir keadaan.

“Maksudmu?”, Chanyeol mengajukan pertanyaan yang juga ingin diajukan oleh yang lainnya.

“Jika kita mendengar suara lolongan serigala itu, berarti kita sedang dalam bahaya. Ingat, jangan pernah menirukan suara serigala itu. Jika kau menirukannya, para serigala itu akan datang ke tempatmu dan menerkammu hidup hidup.”, jelas Luhan mengatakan semua hal yang ia tahu.

“Tapi kenapa hanya aku yang mendengarnya? Apa aku melakukan kesalahan?”, Nichan mulai gelisah.

“Itu yang aku tidak tahu. Berjaga-jaga saja, jangan sampai kau memanggil mereka tanpa sadar.”, ucap Luhan. Membuat mereka berempat menegang karena takut hal buruk akan terjadi.

***

Prolog

Chapter 1

Chapter 2

Chapter 3

Chapter 4

*

“Darimana saja?”, tanya Pangeran Chanshik saat Pangeran Jongin baru memasuki pintu utama.

“Menemui Penyihir Wu, bukankah hyungnim sudah mengetahuinya?”, jawab Pangeran Jongin.

“Sebenarnya aku ingin bertanya padamu apa yang kau bicarakan dengan Penyihir Wu sampai selarut ini, tapi kurasa Abeonim lebih ingin berbicara denganmu sekarang.”, ucap Pangeran Chanshik memberi isyarat agar adiknya itu segera menemui raja sekarang juga.

Pangeran Jongin berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Ia tahu, ayahnya pasti ingin menanyakannya hal yang berhubungan dengan seorang yeoja yang dikatakannya di meja makan tadi siang. Sesungguhnya, ia menyesal karena sudah mengatakan itu. Entah apa yang dipikirkannya, sehingga bisa melontarkan kata-kata yang seharusnya tak ia bongkar sekarang. Setidaknya hingga ia bisa meyakinkan ayahnya bahwa yeoja itu pilihan terbaiknya, meski bukan dari kasta yang sama dengan mereka.

“Maaf, Abeonim, tidak seharusnya aku berkeliaran hingga selarut ini.”, ujar Pangeran Jongin saat menghadap ayahnya.

“Aku tak ingin membahas hal lain yang tak begitu penting sekarang. Aku hanya ingin kau menceritakan tentang yeoja yang sudah menjadi pilihanmu. Kau tidak bisa membuatku menunggu hingga waktu lain.”, ucap Raja Minseok langsung pada intinya.

“Sejujurnya Abeonim, ada banyak hal yang masih membuatku ragu untuk menceritakannya sekarang.”, ucap Pangeran Jongin berusaha memilih kata-kata yang tepat.

“Kau bisa mengatakannya tadi siang, mengapa sekarang kau tak mau mengatakannya padaku? Hanya ada kita di ruangan ini, kau bisa menceritakannya tanpa takut orang lain akan mengetahui.”, ucap Raja Minseok yang melihat kekalutan pada wajah anaknya tersebut.

“Baiklah, tapi sebelumnya aku ingin menanyakan satu hal pada Abeonim.”, pinta Pangeran Jongin sopan.

“Jika kau berjanji akan mengatakan padaku siapa yeoja itu, maka aku akan menjawab pertanyaanmu.”

Pangeran Jongin menatap ayahnya ragu. Dipikirkannya sekali lagi sebelum akhirnya dia berucap, “Bagaimana jika calon pendampingku ini bukan berasal dari keturunan kerajaan seperti layaknya calon kakak iparku? Atau juga bukan berasal dari keluarga bangsawan yang terhormat?”, tanya Pangeran Jongin dengan pandangan menerawang. Sengaja mencari pemandangan lain agar matanya tidak bertemu dengan mata ayahnya. Tapi Raja Minseok dengan tegas tetap menatap matanya. Mencoba menelusuri keberanian yang biasanya selalu ditunjukkan anaknya tersebut.

“Memangnya yeoja seperti apa pilihanmu itu?”, tanyanya, masih menatap Pangeran Jongin intens.

“Seorang yeoja yang kutemui di desa. Yeoja yang pintar melukis dan memiliki bakat yang sangat luar biasa seperti ayahnya. Yeoja yang dengan beruntungnya bisa masuk ke wilayah istana karena ayahnya adalah seorang penyihir yang hebat.”, ucap Pangeran Jongin setelah mengumpulkan semua keberaniannya.

Terdengar sebuah suara tawa yang cukup keras dari seseorang. Tentu saja bukan Pangeran Jongin.

“Apa ada yang salah, Abeonim?”, tanya Pangeran Jongin heran.

“Tidak, tidak.”, Raja Minseok mencoba kembali tenang. “Jika kau ingin membuat sebuah teka teki untukku, beri petunjuk yang lebih sulit kutebak. Atau, kau hanya perlu mengatakan kalau yeoja itu adalah Wu Nichan, benar bukan? Tak disangka ternyata kalian sudah pernah bertemu di desa sebelumnya.”, tebak Raja Minseok tepat sasaran. Pangeran Jongin menunduk malu.

“Aku merasa tidak percaya diri untuk mengatakannya, karena Abeonim bilang calon pendampingku haruslah seorang yeoja yang sama seperti kita.”, Pangeran Jongin mulai bisa tersenyum kembali.

“Aku sangat menyukainya, bahkan sangat sangat menyukai gadis pintar itu.”, ucap Raja Minseok membuat senyum makin terkembang di bibir Pangeran Jongin. “Andai saja kau mengatakannya lebih awal, semua mungkin takkan terlambat.”, sesal Raja Minseok. Pangeran Jongin mengerutkan keningnya tak mengerti.

“Maksud Abeonim?”, tanyanya setelah beberapa saat menunggu ayahnya melanjutkan cerita.

“Jika kau menceritakan hal ini lebih awal, aku takkan mengirimnya ke sekolah sihir itu. Lagipula, seorang putera raja sepertimu tidak diperbolehkan menikah dengan penyihir ataupun keturunannya. Jadi, lupakan saja dia.”

***

Nichan sampai di kamarnya tepat pukul enam sore. Pelajaran menembak rusa setelah makan siang tadi cukup membuatnya lelah. Belum lagi hukuman yang harus dijalaninya karena tiga kali berturut-turut gagal mengenai sasaran. Bukan hukuman yang ringan, karena ia harus memetik buah apel langsung dari pohonnya dengan tinggi dua kali lipat ukuran aslinya. Melihat kamarnya yang masih berantakan membuat rencana awalnya yang ingin langsung tidur harus dibuang jauh-jauh.

“Baiklah, baju ini harus digantung.”, ucap Nichan mengambil sebuah kemeja sekolah. “Ehm, kalau ini dilipat saja.”, ia terus memilah pakaian demi pakaian yang akan dibereskannya.

Setelah selesai dengan pakaian, ia meraih lukisan yang ada diatas ranjang. Lukisan pemandangan dengan bingkai kayu berdetail unik, hasil karyanya sendiri. Lukisan yang sengaja ia buat atas permintaan Kai. Sekarang lukisan itu kembali padanya, karena Kai mengingingkan Nichan menyimpan lukisan tersebut sebagai pelampiasan jika suatu saat gadis itu merindukan Kai. Mungkin nama Kai terdengar sedikit rancu, tapi Nichan menyukai panggilan itu. Ia mengelus pelan bingkai indahnya.

“Nichan akan baik-baik saja.”

“Bagaimana eomma bisa seyakin itu?”

Apa ini? Mengapa Nichan mendengar suara Ibu dan kakaknya?

“Meski umurnya baru 17, tapi pemikirannya sudah sangat matang. Eomma yakin semua masalah dapat diselesaikannya.”

“Apa tidak lebih baik jika Nichan keluar saja dari sekolah itu?”

“Kita bahkan tidak bisa berkomunikasi dengannya.”

“Eomma..”, ucap Nichan lirih sembari merekatkan pegangannya pada si lukisan. Sekelompok air menggenangi matanya.

“Ada apa?”, tanya seseorang dibalik punggung Nichan. Ia kaget saat dilihatnya tak ada siapapun disana. Namun jika diperjelas lagi, ada seorang liliput yang sedang berdiri diatas lantai kamar Nichan.

“Tenang saja, ini baru hari pertamamu. Lama kelamaan kau juga akan terbiasa.”, ucap liliput yang berpakaian persis dengan kurcaci dalam dongeng Putri Salju. Nichan mengangguk dan menghapus butir airmata yang jatuh dipipinya.

“Kukira takkan ada liliput di kamar siswa.”, ucap Nichan sambil menggantungkan lukisan tersebut di dinding.

“Ratusan liliput akan berjaga disekitarmu. Tapi khusus untuk kamar siswa, hanya akan ada satu liliput yang berjaga. Dan perkenalkan, akulah yang bertugas menjadi penjaga disini.”, ucap liliput dengan baju berwarna biru ini.

“Sepertinya kau liliput yang baik, siapa namamu?”, tanya Nichan ramah.

“Sejak kapan liliput mempunyai nama? Kami bahkan tidak mengenal satu sama lain disini.”, ucap si liliput.

“Lalu aku harus memanggilmu dengan panggilan apa?”, tanya Nichan lagi.

“Ehmm, kau bisa memanggilku liliput biru saja.”, jawabnya.

“Jika aku memanggilmu liliput biru, bagaimana caraku membedakanmu dengan liliput lain? Disini ada banyak liliput berpakaian biru sepertimu.”

“Apa kau punya spidol?”, tanya liliput tersebut, membuat Nichan mengerutkan kening. Tanpa bertanya lagi, ia mengambil spidol yang ada di meja belajarnya.

Si liliput tadi menggenggam spidol yang terasa cukup berat untuknya. Terlihat dari wajahnya yang tampak kesusahan. Ia membuka penutup spidol itu kemudian mengarahkannya pada topi biru diatas kepalanya. Dibuatnya sebuah segitiga yang cukup besar oleh spidol itu, menyebabkan timbulnya noda kehitaman.

“Nah, dengan ini kau akan mengenaliku. Hanya ada satu liliput berbaju biru dengan noda segitiga hitam di topinya.”

Nichan terkekeh melihat kelakuan liliput dihadapannya. Sepertinya dia akan mempunyai satu teman yang menyenangkan di kamarnya.

“Ya! Ya! Ya! Ya! Geumanhae! Geumanhae! Andwae!!”, beberapa teriakan panik muncul dari luar ruangan. Dengan sigap, Nichan bergegas membuka pintu kamarnya dan menengok keluar. Beberapa siswa lain pun ikut panik dan berhamburan keluar kamar.

“Ya! Byun Baekhyun! Apa yang kau ributkan??”, teriak Chanyeol yang terlihat mendekati Baekhyun ㅡpelaku keributan tadi.

“Ini! Ah, Chanyeol-ssi, bantu aku! Ya! Geumanhae! Ya!”, ucap Baekhyun sambil menjambaki rambutnya sendiri, seperti kerasukan.

Suara tadi ternyata datang dari asama laki-laki yang letaknya bersebrangan dengan asrama perempuan. Nichan yang penasaran akhirnya mendekati lokasi. Siswa yang mendekat sudah membuat sebuah kerumunan. Tentu saja dengan Baekhyun aktor utamanya, dan Chanyeol yang mencoba menjadi penyelamat.

“Apa yang terjadi, huh? Kau berteriak seperti orang gila!”, teriak Minseul yang sudah ada disamping Nichan.

“Ini! Tolong aku! Liliput ini menjambaki rambutku! Kalian tidak melihatnya?? Aww!“, Baekhyun memukul kepalanya sendiri. Meski ia bilang ada seorang liliput di kepalanya, tetap saja tak akan terlihat saking kecilnya. Dia malah terlihat seperti orang gila yang meronta-ronta tidak jelas.

“Diam! Biar kucoba mengambil liliput itu. Kau diam dulu, Byun Baekhyun!”, teriak Chanyeol yang mencoba menghentikan temannya yang terus saja berteriak seperti kerasukan.

“Biar kubantu. Chanyeol-ssi,  kau pegang dia agar tidak terus bergerak, aku akan mengambil liliputnya.”, tawar Nichan yang mendapat anggukan dari Chanyeol.

“Jangan Nichan! Dia ini liliput yang berbahaya! Aww!“, teriak Baekhyun lagi. Sepertinya liliput itu tak suka dihina oleh Baekhyun.

“Cepat cepat! Nanti dia bergerak lagi!”, ucap Chanyeol yang sudah berhasil mengunci tubuh Baekhyun.

Nichan melihat sesuatu berwarna merah di kepala Baekhyun. Sepertinya itulah liliputnya. Dengan perlahan, ia menarik ujung topi milik liliput tersebut, membuatnya ikut tertarik dan akhirnya lepas dari kepala Baekhyun. Baekhyun menghembuskan nafas lega.

“Kau tidak boleh nakal.”, ucap Nichan masih menarik ujung topi liliput itu hingga ia menggantung di udara.

“Dia yang nakal! Dia terus mengumpatku! Dia mengataiku makhluk kecil pengganggu! Padahal aku hanya melaksanakan tugas!”, cerita sang liliput, masih mencoba meraih Baekhyun yang kini terlampau jarak yang lumayan jauh dengannya.

Nichan menatap Baekhyun yang masih meringis, kepalanya sangat pusing. Liliput itu benar-benar membuatnya kapok berurusan dengan makhluk kecil sejenis. Chanyeol mengacak rambut Baekhyun yang sudah berantakan.

“Kau ini! Pantas saja dia menyiksamu seperti tadi! Ayo minta maaf!”, seru Chanyeol kesal.

“Ya, maafkan aku. Dan kau juga harus minta maaf padaku!”, ucap Baekhyun menatap liliput yang masih menggantung di tangan Nichan.

“Baik, aku juga minta maaf.”, ucap liliput itu dengan sombongnya. Nichan dan Chanyeol tertawa melihat hal yang terjadi dihadapan mereka. Sementara itu, siswa yang tadinya ramai berkumpul kini sudah kembali ke kamarnya masing-masing.

Mata Nichan menangkap sosok Luhan yang masih memperhatikan dari jauh. Nichan tersenyum padanya, dan namja itu pun membalas senyum sambil masuk ke kamarnya dan menutup pintu.

*

“Abeoji, apa ada kabar dari Nichan?”, tanya Jaewon, menghampiri ayahnya yang ada di ruang keluarga.

“Belum, aku sedang mencoba menghubunginya.”, ucap Wufan sambil mengusap lembut lukisan dari istana yang dikatakannya mempunyai aura sihir hitam.

“Sedang mencoba? Apa maksud Abeoji? Apa dengan mengelus lukisan ini akan membuat kita bisa berkomunikasi dengan Nichan?”, tanya Jaewon meragukan.

“Nichan, apa kau baik-baik saja?”, tanya Wufan sedikit terlonjak dari posisi duduknya. Ia begitu bahagia, akhirnya bisa berkomunikasi dengan puteri satu-satunya itu.

Jaewon memiringkan kepalanya. Apa ayah yang begitu dibanggakannya sekarang malah beranjak gila? Apa yang dilakukannya? Berbicara dengan sebuah lukisan?

“Sentuh lukisan ini.”, seru Wufan pada anaknya yang masih nampak kebingungan itu. Jaewon masih heran, tapi kemudian dilakukannya juga perintah Wufan.

“Aku masih tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi. Abeoji, bisa kau ceritakan padaku apa yang terjadi disana?”

Suara Nichan. Jaewon yakin itu suara Nichan. Dan itu berasal dari.. lukisan ini?

“Begini, kau terhubung dengan kami disini melalui lukisan itu, bukan?”, tanya Wufan hingga mendapat jawaban ya dari anaknya tersebut. “Itu berarti lukisan yang kau buat dan lukisan yang kita temukan di istana ada hubungannya. Apa kau tidak merasakan sesuatu saat membuat lukisan itu?”

“Semuanya terjadi begitu saja, Abeoji. Aku tak tahu apa yang kulakukan sampai membuat lukisan yang sama persis, dan ternyata kedua lukisan itu memiliki hubungan juga?”, tanya Nichan di seberang sana. Suaranya kecil sekali, hampir berbisik.

“Jangan terlalu dipikirkan, katakan saja padaku jika mulai terjadi sesuatu yang aneh dengan lukisan yang ada padamu.”, ucap Wufan, di-iyakan lagi oleh Nichan.

“Nichan, apa kau baik-baik saja disana?”, tanya Jaewon perlahan.

“Ya, oppa. Aku baik-baik saja disini, meski sejujurnya aku akan lebih baik jika di rumah.”, ucap Nichan lirih.

“Apa saja yang kau pelajari disana?”, tanya Jaewon mulai ceria.

“Ehm..”, Nichan masih terdengar ragu untuk menjawab. “Aku sangat ingin meminta maaf pada Abeoji.”, ucapnya sambil berpikir bagaimana kata-kata yang tepat agar terdengar enak di telinga ayahnya. “Aku.. disini aku masuk kelas.. ehm, sihir hitam.”

“Mwoya??”, Jaewon membuat ekspresi berlebihan. Berbeda dengan ayahnya yang terlihat sangat tenang. Tentu saja, ia sudah mengetahui semuanya.

“Maaf, Abeoji. Aku tidak tahu semuanya akan jadi seperti ini.”, ucap Nichan, sarat akan penyesalan.

“Aku sudah tahu. Pelajari saja apa yang ada disana, kurasa temanmu benar, kau bisa saja membuat sihir hitam itu menjadi sihir kebaikan. Aku akan membantumu setelah lulus nanti.”, ucap Wufan. Jaewon menatap ayahnya tanpa berkedip. Bagaimana bisa? Keluarganya berasal dari golongan penyihir dengan sihir putih, apa jadinya jika ada salah satu anggota keluarga yang tiba-tiba mengalihkan diri ke sihir hitam?

“Ah, terimakasih Abeoji. Kukira Abeoji akan memarahiku habis-habisan dan takkan mengakuiku sebagai anakmu lagi.”, ucap Nichan dramatis.

“Jangan pernah berpikir seperti itu, kau akan tetap menjadi anakku, meskipun ada darah hitam yang mengalir ditubuhmu.”

*

Wufan mengakhiri komunikasi diantara mereka dengan sebuah kalimat yang bagi Nichan sangat menyesakkan. Baru saja ia merasa senang karena ayahnya tersebut tidak marah, tapi nyatanya ada sebuah rasa kecewa yang dirasakan Nichan. Ia menggantungkan kembali lukisan yang tadi sempat digenggamnya beberapa saat. Jika ia ingin berkomunikasi lagi dengan keluarganya, ia tinggal menyentuh lukisan itu. Namun, tentunya seseorang harus menyentuh lukisan disana agar bisa mendengar apa yang ia katakan. Singkatnya, hanya dengan menyentuh bagian dari lukisan tersebut, ia bisa dengan mudah mengetahui bagaimana keadaan rumahnya sekarang. Ah, mungkin bukan hanya rumah. Keadaan dimana lukisan itu berada.

“Bagaimana? Kau sudah tidak merindukan mereka lagi kan?”, tanya liliput biru sambil berbaring dengan santai di ranjang Nichan.

“Apa kau becanda? Aku tentu masih merindukan mereka.”, ucap Nichan sambil merebahkan tubuhnya tepat disamping liliput tadi. Beberapa saat yang lalu, Nichan memutuskan untuk menceritakan semuanya pada liliput ini. Liliput biru berjanji tidak akan mengatakan pada siapapun tentang apa yang diceritakan Nichan.

“Oya, kau merasa menyesal telah masuk ke kelas sihir hitam?”, tanya liliput biru.

“Ya, aku sangat menyesal. Kau tahu, beberapa anggota keluarga besarku adalah penyihir. Dan mereka memiliki ilmu dengan sihir putih.”, cerita Nichan dengan nada pilu.

“Kalau begitu kau seharusnya menyesal dari awal.”, ucap liliput itu. Nichan bangkit dari tidurnya dan menatap liliput biru dengan penuh perhatian, memintanya memberi alasan dari kata-katanya tadi.

“Sekolah Sihir Hanman sebenarnya mengajarkan ilmu sihir hitam secara keseluruhan. Pembagian kelas sihir hitam dan kelas sihir putih hanya untuk membandingkan tingkat. Kelas sihir putih menandakan siswa yang masuk sana memiliki aura sihir yang lemah, sedangkan kelas sihir hitam menandakan siswa yang masuk sana memiliki aura sihir yang kuat. Jadi, kelas sihir putih pun sebenarnya diajarkan untuk mengendalikan sihir hitam disini.”, jelas liliput biru itu.

“Lalu kenapa mereka memberi nama kelas sihir putih? Bukankah itu sebuah bentuk penipuan?”, tanya Nichan berapi-api.

“Ini hanya strategi. Bukan tidak mungkin siswa yang telah lulus dari sini membongkar semua kegiatan yang ada di Sekolah Sihir Hanman. Jika seluruh masyarakat tahu bahwa sekolah ini mengajarkan sihir hitam secara keseluruhan, tentu saja mereka akan menggugat. Masyarakat meyakini, jika jumlah penganut ilmu sihir hitam lebih sedikit dari penganut ilmu sihir putih, maka tidak akan terlalu membahayakan. Itulah sebabnya kelas sihir hitam disini selalu mendapat murid yang lebih sedikit daripada sihir putih. Itu juga hanya strategi semata.”, jelasnya lagi, membuat Nichan tertegun. Ternyata ia memang dari awal sudah terperangkap dalam sihir hitam.

“Lebih baik kau tidur. Oya, kau sudah tahu? Di sekolah ini Hari Kamis merupakan hari yang sangat santai. Kau baru akan masuk kelas pada pukul 11 siang. Sedangkan di hari-hari biasa, kau akan masuk pada pukul enam pagi. Jadi, bersiaplah untuk Kamis pertamamu di sekolah ini.”, ucap liliput itu, menarik selimut hingga batas leher Nichan.

“Kau akan tidur dimana?”, tanya Nichan sebelum benar-benar tertidur.

“Disini. Disampingmu.”

“Ya! Bukankah kau adalah namja?!”

“Kau dapat informasi darimana? Semua liliput itu sama, tidak ada namja ataupun yeoja.”, ucap liliput biru sambil merebahkan tubuhnya di bantal yang sama dengan Nichan. Setidaknya dia tidur dengan makhluk yang tidak memiliki gender.

*

Pagi yang lengang di setiap koridor sekolah. Tidak ada hiruk pikuk dari siswa yang sedang berjalan menuju kelasnya, atau sekedar mengunjungi ruang makan untuk mendapat sarapan sebelum masuk ke kelas utama. Masih pukul tujuh pagi, itu berarti kelas di Hari Kamis baru akan dimulai empat jam lagi. Waktu yang cukup untuk tidur kembali dan mengistirahatkan tubuh dari aktivitas yang padat.

Namun hal itu berbeda dengan Nichan. Di pukul tujuh ini ia sudah rapi. Ia memang bukan tipikal orang yang suka tidur berlama-lama, selelah apapun. Entah apa yang telah di setting didalam otaknya, tapi ia pasti akan bangun pukul lima pagi setiap harinya.

“Nichan-ssi, apa kau sudah bangun?”, tanya seseorang diluar kamar Nichan. Nichan membuka pintu kamarnya, dan melihat sosok Baekhyun yang sudah menggunakan seragam rapi.

“Ya, Baekhyun? Ada apa pagi begini sudah menemuiku?”

“Aku hanya lapar. Teman-temanku yang lain belum bangun, jadi maukah kau menemaniku sarapan pagi ini?”, tanya Baekhyun ragu, seperti takut mendapat penolakan dari Nichan.

“Boleh. Tunggu sebentar ya.”, ucap Nichan berjalan ke arah ranjangnya kemudian melihat liliput biru masih tertidur lelap. Tadinya Nichan ingin menyampaikan pesan pada liliput itu, tapi melihatnya yang tertidur sangat pulas, Nichan jadi tak tega untuk membangunkannya.

“Ayo!”, ajak Nichan pada Baekhyun.

Mereka berjalan di koridor asrama yang sepi. Hari Kamis disini memang benar-benar berbeda. Sekolah ini seperti mati tak berpenghuni. Disinilah kini Nichan dan Baekhyun, ruang makan yang juga tak berpenghuni. Tapi jangan salah, kau takkan kehabisan makanan disini. Ibarat kata, ruang makan disini bagaikan minimarket 24 jam. Selalu sedia setiap saat. Baekhyun makan dalam diam, tidak seperti biasanya.

“Apa kepalamu masih sakit?”, tanya Nichan membuka percakapan.

“Ya begitulah, liliput merah itu sungguh sangat menyebalkan!”, ucap Baekhyun sambil mengelus pelan kepalanya. Mengingat kejadian tadi malam membuat Nichan geli sendiri. Baru pertama kali ia mengenal orang seperti itu, sangat menyenangkan. Sepertinya itu adalah salah satu faktor yang akan membuatnya merindukan sekolah ini suatu saat.

“Oya, bagaimana dengan suara serigala itu? Apa kau masih sering mendengarnya?”, tanya Baekhyun.

“Tadi malam aku mendengarnya sekali, tapi tak begitu jelas karena aku sudah sangat mengantuk.”, ujar Nichan. “Apa kau mendapatkan informasi lagi tentang serigala itu?”

“Aku mendapat informasi, jika serigala penjaga sekolah ini bisa berjumlah lebih dari 20 ekor. Jika kau mengganggu satu ekor, maka kau akan berurusan dengan semua serigala.”, papar Baekhyun. “Yang kudengar juga, hanya beberapa orang saja yang bisa melihat serigala itu. Hanya siswa dengan aura sihir yang sangat kuat.”, lanjutnya.

“Apa diantara serigala-serigala itu tak ada yang berhati baik? Setidaknya kita bisa berteman dengan salah satu dari mereka.”

“Kau becanda? Siapa yang mau berteman dengan hewan buas seperti itu? Jika melihatnya saja, kurasa aku akan langsung lari terbirit-birit.”, ucap Baekhyun membuat Nichan tertawa ringan.

“Nichan-ssi! Nichan-ssi! Ayo ikut aku! Cepaaat!”, ucap sebuah suara didekat kaki Nichan.

“Liliput biru? Ada apa?” tanya Nichan. Liliput itu merangkak naik menuju pundak Nichan dan membisikkan sesuatu ditelinganya.

“Ah, sepertinya aku harus kembali ke kamarku sekarang. Terimakasih untuk sarapan kali ini, Luhan-ssi.”, ucap Nichan beranjak dan membuat lawan bicaranya membulatkan mata.

“Oya!”, Nichan kembali berbalik. “Kau tahu, aku sering memperhatikan cara berjalan seseorang, dan cara berjalanmu tentu berbeda dengan Baekhyun. Dan yang paling penting, Baekhyun tidak menggunakan nametag Lu Han di blazer-nya. Jadi, jangan pernah lakukan itu lagi, Luhan-ssi.”, ucap Nichan tersenyum manis kemudian pergi. Membuat Luhan menunduk malu, dan mengakibatkan wajah Baekhyun yang sedang ditirunya mengeluarkan rona merah. Gadis itu menarik, pikirnya.

.

.

.

TO BE CONTINUED

17 Juni 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s