wpid-picsart_1400026553768.jpg

FF : BLACK MAGIC (Chapter 4)


image

BLACK MAGIC (Chapter 4)

Kim Jong In (EXO, Kai) as Pangeran Jongin

Gong Chan Shik (B1A4, Gongchan) as Kim Chan Shik – Pangeran Chanshik

Kim Min Seok (EXO, Xiumin) as Raja Minseok

Choi Min Hyo (OC) as Ratu Minhyo

Wu Yi Fan (EXO, Kris) as Wufan – Penyihir Wu

Wu Jae Won (OC) as Wu Jae Won

Wu Ni Chan (OC) as Wu Ni Chan

Byun Baek Hyun (EXO, Baekhyun) as Byun Baekhyun

Lu Han (EXO, Luhan) as Luhan

Park Chanyeol (EXO, Chanyeol) as Park Chanyeol

Genre : Fantasy, Romance, Family, Friendship

Rating : Teenage

Length : Multichapter

Author : @ririnovi

.

.

Baru sempet ngepost lagi ff yang sebenernya udah berumur agak jadul ini. Ada cast baru muncul di chapter ini. Siapa hayo siapa? Wkwk. Akhirnya Luhan muncul juga setelah dari chapter 1 wajahnya muncul di poster tapi belom ada juga orangnya, hehe. By the way, posternya ganggu banget gak sih? Bikinnya asal karena emang gak bakat soal ngedit ngedit foto apalagi bikin poster xD lagi iseng aja. Yaudah deh, kebiasaan banyak bacotnya muncul. Oke, happy reading~~^^

*

Previous Chapter>>

“Jadi kau berasal dari Pyeonghwa?”, tanya seorang namja pada Nichan yang sedang berjalan ke lorong asramanya.

“Ya, kau yang tadi berasal dari.. ehm Hwanggyu?”, tebak Nichan karena ia sedikit lupa.

“Benar, namaku Baekhyun. Ayo kita berteman dengan baik.”, ajaknya.

“Baiklah, namaku Nichan, senang bertemu denganmu Baekhyun-ssi.”, Nichan tersenyum ramah. “Asrama laki-laki ada di sebelah kiri kan? Kalau begitu, aku akan pergi ke kanan. Sampai bertemu lagi!”, ucap Nichan sembari melambaikan tangan.

Baekhyun membalas dengan melambaikan tangan juga. Belum sampai mereka di pintu kamar masing-masing, suara speaker menggema di seluruh bagian sekolah.

“Baek Ye Ri masuk ke dalam kelas sihir putih. Nam Min Seul masuk ke dalam kelas sihir hitam. Han Jong Tae masuk ke dalam kelas sihir putih. Byun Baek Hyun masuk ke dalam kelas sihir hitam. Lu Han masuk ke dalam kelas sihir putih. Kim Goo Rim masuk ke dalam kelas sihir putih. Lee Chan Mi masuk ke dalam kelas sihir putih. Jang Ha Seop masuk ke dalam kelas sihir putih. Park Chan Yeol masuk ke dalam kelas sihir hitam. Wu Ni Chan masuk ke dalam kelas sihir hitam.”

*

Prolog

Chapter 1

Chapter 2

Chapter 3

*

“Apa yang harus kukatakan pada Abeoji nanti? Apa jadinya jika aku mempelajari ilmu sihir hitam?”, Nichan gelisah. Kakinya tak henti berbolak-balik kesana kemari. Dibiarkannya baju-baju yang belum sempat ia bereskan sesampai di kamar tadi.

“Yang kudengar sihir hitam bukan hanya berarti untuk kejahatan. Sihir hitam adalah sihir yang digunakan untuk melengkapi saat sihir putih tidak bisa mengendalikan sesuatu. Jadi, energinya lebih kuat.”, ucap Minseul, penghuni kamar sebelah yang kebetulan sedang berkunjung.

“Tapi sihir hitam tetap saja kebalikan dari sihir putih, dan ayahku adalah seorang penyihir dengan sihir putih.”, Nichan duduk diujung ranjang. Masih memikirkan cara mengatakan hal ini pada ayahnya. Pasti ia akan marah dan tak mau menerima Nichan lagi sebagai anaknya.

“Kau kan hanya perlu memanfaatkan ilmu yang kau dapat disini, tidak perlu menjadi seorang penyihir dengan ilmu hitam. Lagipula aku yakin, jika sihir hitam digunakan untuk kebaikan, hal itu tidak akan merugikan.”, kata-kata Minseul sedikitnya menenangkan pikiran Nichan. Ya, dia tidak perlu menjadi penyihir. Ia juga bisa menggunakan kemampuannya untuk kebaikan.

“Seluruh siswa tingkat I Sekolah Sihir Hanman harap berkumpul sesuai dengan kelas masing-masing, lima menit dari sekarang.”, ucap seseorang melalui speaker. Suara seorang wanita dewasa yang begitu tegas, sepertinya ia salah satu guru killer di sekolah ini.

Mata Nichan terus mencari dimana letak kelas sihir hitam tingkat I sesuai dengan yang sudah diumumkan. Untung saja, ia melihat satu sosok yang sudah dikenalinya tadi.

“Kita bertemu lagi.”, sapa Baekhyun menghampiri Nichan yang baru saja datang bersama Minseul.

“Hai Baekhyun-ssi, perkenalkan temanku.”

“Minseul.”

“Baekhyun.”

Mereka berjabat tangan singkat kemudian masuk kedalam kelas bersama. Didalam ternyata sudah ada satu orang murid laki-laki.

“Namaku Chanyeol, senang bisa satu kelas dengan kalian.”, ucapnya saat Nichan, Minseul, dan Baekhyun duduk di bangku masing-masing. Ruangan kelas ini di setting sesuai dengan kebutuhan. Tahun ini hanya ada empat murid di kelas sihir hitam, maka hanya akan ada empat buah bangku pula, dengan posisi melingkar. Meja guru diletakkan didepan, menyempurnakan barisan hingga menyerupai sebuah lingkaran penuh.

“Sepi sekali jika hanya berempat, ya?”, tanya Baekhyun setelah mereka berempat saling berkenalan.

“Ya, di sekolahku yang dulu bisa sampai tiga puluh orang dalam satu ruangan.”, cerita Minseul sambil membenahi bangkunya dengan peralatan tulis yang ia bawa. Mendesainnya sama persis dengan bangku yang dimilikinya semasa sekolah menengah dulu.

Tak berapa lama, pandangan mereka beralih pada seseorang yang muncul didepan kelas.

“Selamat siang semuanya. Saya Shin Yeomi, wali kelas kalian di tingkat I. Di pertemuan kali ini kalian akan menjalani ujian tertulis mengenai ilmu sihir hitam. Chanyeol-ssi, bantu saya membagikan kertas ujian ini.”

“Ne, sonsaengnim.”, Chanyeol beranjak bangkit dari bangkunya.

“Ani ani, bagikan ini selagi kau duduk.”

Chanyeol menggaruk leher bagian belakangnya dan kembali duduk. Sejujurnya, ia sama sekali belum pernah mencoba melakukan sihir sebelumnya.

“Ehm sonsaengnim, sebenarnya saya belum pernah melakukan sihir.”, terang Chanyeol setelah beberapa saat mempertimbangkan pengakuannya.

“Semua murid disini mayoritas memang belum pernah melakukan sihir, jadi saya ingin kau mencobanya sekarang.”, jelas sonsaengnim.

Chanyeol menghembuskan napas kemudian mengangguk. Ia mulai memfokuskan pikirannya pada kertas-kertas di meja sonsaengnim. Ditutup kedua matanya dan membuat bayangan dibenaknya. Sedetik kemudian, kertas-kertas tersebut bergerak sesuai dengan bayangan yang ada di benak Chanyeol, perlahan mendekat ke masing-masing meja murid dan berhenti diatasnya.

Baekhyun, Nichan, dan Minseul menatap tak percaya pada Chanyeol. Sama halnya dengan yang lain, Chanyeol pun terkaget-kaget hingga menatap tak percaya. Mulutnya sedikit menganga. Tak pernah disangka ia bisa melakukan hal yang selalu dianggapnya keren tersebut.

“Ah, apa aku benar-benar melakukannya tadi? Aku merasa tidak melakukan apapun. Apa itu rasanya melakukan sihir?”, Chanyeol masih tak percaya. Teman-temannya memberi applause atas hasil kerja Chanyeol yang mencengangkan tersebut.

“Kau benar, Chanyeol-ssi, kau memang tidak melakukan apapun. Akulah yang baru saja memindahkan kertas itu.”, ujar sonsaengnim membuat semuanya kembali tercengang.

Chanyeol menunduk malu. “Jadi benar, aku tidak melakukan apapun.”, ucapnya lirih, namun itu malah menimbulkan gebyar tawa dari yang lain.

“Tenang saja Chanyeol-ssi, ini baru hari pertama.”, ucap Minseul, murid dengan bangku paling jauh darinya, masih menyembunyikan tawa.

Chanyeol membuat ekspresi kesal.

“Berapa waktu yang kalian inginkan untukku menunggu tawa kalian habis?”, tanya sonsaengnim sinisme. Semua langsung terdiam. bahkan tak ada yang melakukan gerakan sedikitpun.

“Hanya ada empat siswa disini, tapi terasa ada sepuluh.”, ujar sonsaengnim mengomel. “Sekarang jawab pertanyaan di kertas tadi, waktu kalian hanya tiga puluh menit. Lebih dari itu, tidak ada makan siang.”

*

Parade musik bergema di halaman istana Negeri Pyeonghwa. Upacara penyambutan bagi tamu istimewa kali ini berlangsung lebih meriah daripada biasanya. Sederet prajurit membentuk barisan rapi di sepanjang jalan dari mulai pintu gerbang hingga pintu utama istana. Musik yang mengalun mengantarkan sebuah kereta kuda mewah menuju pintu utama, diiringi beberapa kereta kuda sederhana dibelakangnya.

“Selamat datang di Negeri Pyeonghwa.”, sapa Raja Minseok sambil membungkukan badannya 90 derajat. Diikuti Ratu Minhyo dan kedua anaknya.

Sang tamu yang tak lain adalah Raja dari Negeri Sangmyeon membalas hormat Raja Minseok. “Penyambutan yang sangat cantik.”, diikuti pula oleh Ratu dan anaknya yang setia mendampinginya dibelakang.

“Silakan masuk, kami sudah mempersiapkan jamuan terbaik untuk anda.”

Raja Minseok menuntun Raja Woohyun –Raja Negeri Sangmyeon- untuk menyusuri bagian dalam istananya. Tidak semua, hanya bagian utama istana yang pasti mereka lewati jika akan masuk ke ruang makan. Di ruang makan sendiri sudah tersedia banyak sekali jamuan. Mulai dari makanan khas Negeri Pyeonghwa hingga makanan-makanan yang berasal dari Negeri lain.

“Kita berbincang di meja makan saja, bagaimana?”, ajak Raja Minseok yang langsung mendapat persetujuan Raja Woohyun.

Mereka kemudian duduk di meja makan yang sangat panjang tersebut. Raja Minseok duduk di kursi utama. Raja Woohyun duduk berhadapan dengan Pangeran Jongin. Ratu Minhyo duduk berhadapan dengan Ratu Shina –Ratu Negeri Sangmyeon. Dan Pangeran Chanshik duduk berhadapan dengan Putri Taerin, calon istrinya.

“Senang rasanya, akhirnya kesempatan ini datang juga. Bagaimana perjalanan rombongan? Apakah ada hambatan selama di perjalanan?”, tanya Ratu Minhyo sembari menyuguhkan sebuah olahan ikan dengan bumbu dari sari bunga matahari pada Putri Taerin, berharap Putri cantik itu menjawab pertanyaannya.

Putri Taerin menunduk hormat kemudian mengambil sedikit bagian ikan tersebut. “Sangat menyenangkan, bunga-bunga tumbuh dengan subur di Negeri ini, sangat indah. Kami bahkan tidak menemui hambatan apapun, karena yang kami temukan hanya ketentraman.”, jawab Putri Taerin dengan gayanya yang anggun layaknya Miss Universe.

“Syukurlah kalau begitu, kami ikut senang mendengarnya. Karena tepatnya kemarin, ada sebuah wabah serangga yang menyerang Negeri ini.”, cerita Ratu Minhyo kini menawarkan makanan tersebut pada Ratu Shina.

“Sangat mengejutkan, dalam tempo satu hari semua bisa kembali seperti sedia kala. Pengaturan kekuasaan yang sangat hebat.”, puji Ratu Shina pada Raja Minseok.

Raja Minseok tertawa singkat. “Terimakasih, tapi itu semua tidak akan berjalan lancar tanpa adanya anakku, Kim Chanshik. Dialah yang memberitahu bahwa ada sekelompok serangga beracun yang akan menyerang Negeri kami, karena itulah, penduduk Negeri Pyeonghwa bisa selamat dan kembali damai seperti semula.”, Raja Minseok menatap bangga pada anaknya yang pertama itu.

“Ini semua tidak akan terjadi tanpa koordinasi yang baik dari semua penduduk Negeri, Abeonim.”, ucap Pangeran Chanshik merendah. Membuat Putri dihadapannya tersenyum.

Pangeran Chanshik menawarkan sebuah hidangan dari daging ayam, yang diolah menggunakan bumbu khas Negeri Sangmyeon. Ia yang meminta koki istana menyajikannya, karena itu adalah makanan kesukaan Putri Taerin. Sang Putri mengambil sedikit bagian dari hidangan tersebut, meski sebenarnya ia ingin melahapnya secara keseluruhan.

“Jadi apa kalian sudah mempunyai rencana untuk pernikahan? Apa saja hal yang kalian inginkan di pesta pernikahan?”, tanya Ratu Minhyo, membekukan sejenak adegan senyum yang sedaritadi mengukir wajah Pangeran Chanshik dan Putri Taerin.

“Belum Eommonim, kami menyerahkan segalanya pada keluarga saja, benar kan?”, tanya Pangeran Chanshik meminta konfirmasi dari Putri Taerin.

“Benar sekali.”, jawab Putri Taerin singkat.

“Oh begini, jika semuanya setuju sebaiknya rencana pernikahan tidak dilaksanakan bulan depan seperti rencana awal. Bulan depan adalah pergantian antara musim semi dan musim panas, dan hal itu sangat tidak bagus menurut mitos Negeri kami.”, ungkap Raja Minseok menolak halus.

“Dan musim panas bukan waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahan di Negeri kami.”, terang Ratu Shina membuka suara.

“Bagaimana jika diawal musim gugur? Saat daun pertama jatuh.”, usul Ratu Minhyo.

“Sangat indah sepertinya.”, seru Ratu Shina menyetujui.

“Jadi bagaimana menurut kalian?”, tanya Raja Minseok pada kedua calon mempelai.

Pangeran Chanshik dan Putri Taerin saling memandang, kemudian mengangguk mengiyakan.

“Aku penasaran, apa Pangeran Jongin juga sudah mempunyai calon pendamping?”, tanya Raja Woohyun pada seorang yang hanya mendengarkan obrolan sedari tadi.

Pangeran Jongin hampir saja memuntahkan makanan di mulutnya. Untung saja ia paham dengan kondisi waktu dan tempat yang tidak seharusnya. Juga predikatnya sebagai putra raja. Ia tersenyum menyembunyikan kegugupannya.

“Sebenarnya ada, hanya aku masih belum begitu yakin untuk beberitahukannya.”, ucap Pangeran Jongin. Membuat ayah dan ibunya menatap kearahnya. Ia bahkan belum memberitahukan semua pada kedua orangtuanya.

“Semoga kau segera menyusul mereka.”, ucap Ratu Shina dengan polosnya, membuat Pangeran Jongin tersenyum kikuk.

*

“Apa yang sedang dilakukan Nichan disana ya?”, Jaewon mulai mengkhayal. “Apa dia sedang belajar menggunakan tongkat sihir, atau sapu terbang seperti dalam film Harry Potter? Tapi Abeoji tidak pernah menggunakan kedua benda itu.”

“Jaewon! Apa yang sedang kau lakukan didalam? Cepat bantu ayahmu!”, titah Eunra dari luar pintu kamar Jaewon.

Ne, eomma. Apa yang harus kulakukan? Abeoji bisa melakukannya sendiri.”, tanya Jaewon dengan wajah malasnya, keluar dari kamar yang sedaritadi dikuncinya.

“Meskipun dia bisa melakukannya sendiri, apa salahnya jika kau membantu? Daripada kau tidur saja seharian.”, ceramah Eunra. Akhirnya Jaewon menyerah dan pergi ke halaman belakang rumahnya.

“Abeoji, apa yang sedang kau lakukan? Aku ingin mencoba membantu.”, ungkap Jaewon yang melihat ayahnya sedang mengelus pelan lukisan yang ia ambil dari istana tempo hari.

“Lukisan ini ternyata memiliki kekuatan sihir hitam.”, ucap Wufan, membuat Jaewon penasaran sehingga bergerak cepat menghampirinya.

“Maksud Abeoji? Lukisan yang dibuat Nichan ini memiliki kekuatan sihir hitam?”, tanya Jaewon.

“Bukan, ini bukan lukisan yang dibuat oleh Nichan. Ini lukisan yang ada di istana, kau ingat? Lukisan buatan Nichan kan sudah ia berikan pada orang lain.”, jelas Wufan, Jaewon mengangguk paham.

“Lalu bagaimana dengan lukisan yang dibuat Nichan? Bukankah itu terlihat sama persis? Apa jangan-jangan lukisannya juga memiliki kekuatan.”, selidik Jaewon, hal yang juga dipikirkan ayahnya sedari tadi.

“Bisa saja. Untuk meyakinkannya, kita harus mengambil lukisan itu dari pemiliknya.”, usul Wufan.

“Bagaimana caranya, Abeoji? Nichan bahkan tak pernah memberitahu alamat jelas pacarnya itu. Kita juga hanya beberapa kali melihatnya, bukan?”, Jaewon keheranan.

“Bisa kau panggilkan Pangeran Jongin?”

“Pangeran Jongin? Untuk apa? Apa dia bisa membantu?”

“Panggilkan saja, biar aku yang mengurusnya.”

Jaewon menunduk paham kemudian berjalan menuju area istana. Tamu istimewa tadi baru saja pulang, memudahkannya untuk masuk dan menemui Pangeran Jongin di istana. Rasa canggung masih menyelimuti saat ia akan melangkah masuk. Untung saja Pangeran Jongin dan Pangeran Chanshik sedang berada di dekat pintu masuk, jadi dia tak perlu berjalan terlalu jauh. Jaewon menunduk hormat.

“Ada apa Jaewon-ssi?”, tanya Pangeran Chanshik ramah.

“Abeoji- ehm Penyihir Wu ingin bertemu dengan Pangeran Jongin. Sepertinya ada hal yang ingin dibicarakan.”, terang Jaewon.

Pangeran Chanshik memandang adiknya tersebut, kemudian menyuruhnya segera pergi.

*

“Mianhamnida, dengan tidak sopannya saya meminta anda menghampiri saya kesini.”, ucap Wufan saat Pangeran Jongin sampai di halaman belakang rumahnya.

“Bukan masalah, memangnya ada apa? Ehm, bagaimana aku memanggilmu?”, tanya Pangeran Jongin dengan penuh kecanggungan. Dia tidak biasa berbicara dengan orang yang lebih tua, namun bersikap terlalu sopan padanya.

“Bukankah kau memanggilku Abeoji saat di desa dulu?”, tanya Wufan, membuat Pangeran Jongin membulatkan mata minimalisnya. Namun sedetik kemudian dia sadar, pria didepannya ini memang bukan orang sembarangan. Nichan benar, ayahnya pasti sudah mengetahui identitasnya, bahkan saat masih di desa dulu.

“Ya, benar. Jadi apa aku bisa memanggilmu Abeoji lagi?”, tanya Pangeran Jongin penuh harap.

“Tentu, namun tidak didepan anggota kerajaan yang lain.”, sambut Wufan membuat Pangeran Jongin tersenyum bahagia. “Jadi, apa kau tahu apa yang membuatku memanggilmu kemari?”

Pangeran Jongin menggeleng. “Tapi tadi Jaewon memberitahuku bahwa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan. Tentang apa itu, Abeoji?”

“Lukisan ini.”, Wufan menunjukkan lukisan yang sedaritadi dia pegang. “Bukankah kau menyimpan yang satunya? Lukisan pemberian Nichan.”

“Tapi lukisan itu sudah tidak ada padaku, Abeoji.”, terang Pangeran Jongin, membuat Wufan mengerutkan kening, meminta penjelasan lebih.

“Saat Nichan akan pergi ke Sekolah Sihir Hanman, aku memberikan lukisan itu kembali padanya.”, ucap Pangeran Jongin jujur.

“Pantas saja. Kau tahu apa yang terjadi dengan lukisan ini?”, tanya Wufan lebih mendekat pada Pangeran Jongin. Yang diajak bicara hanya menatap tak mengerti.

“Sentuh lukisan ini.”, titah Wufan. Pangeran Jongin menurut meski masih tak mengerti.

Saat ia menyentuh bingkai lukisan itu, ia mendengar beberapa suara. Namun tidak jelas suara apa.

“Suara apa itu, Abeoji?”, tanya Pangeran Jongin pada akhirnya.

“Ini berasal dari lukisan satunya. Itu berarti begitulah keadaan tempat dimana Nichan berada sekarang. Sepertinya sedang tidak ada siapapun di tempat itu.”, ucap Wufan. Dia sudah menyadari hal tersebut tadi siang. Ia bisa mendengar suara Nichan saat memegang lukisan itu. Ia mendengar kata-kata Nichan tentang sihir hitam. Tentang dia yang mau tak mau harus mempelajari ilmu sihir hitam di sekolah tersebut.

*

“Ah, senang rasanya bisa terbebas dari kelas itu! Kau tahu, Yeomi sonsaengnim begitu tegas. Tidak ada ruang bagi kita untuk sekedar tertawa atau mengobrol!”, keluh Chanyeol. Baekhyun yang ada disampingnya langsung menyenggol tangannya.

Sst! Kau ingat, di sekitar sini banyak liliput yang akan mendengar kata-katamu. Mereka bisa saja mengadukannya pada Yeonmi sonsaengnim. Kau akan dapat masalah.”, tegur Baekhyun. Chanyeol langsung memasukan sesendok penuh nasi kedalam mulutnya.

Mereka sedang berada di ruang makan Sekolah Sihir Hanman. Disana sudah berkumpul semua murid, mulai dari murid tingkat I, II, dan III. Tidak ada guru disini, karena mereka sudah mempunyai tempat sendiri.

“Tapi menurutku itu baik untuk merubah mentalmu.”, ucap Nichan yang sedari tadi tenang dengan makannya. “Agar kau bisa lebih disiplin tentunya.”

“Tapi ini sama sekali bukan gayaku. Aku sama sekali tidak bisa terus diam dan memperhatikan. Belum lagi, ujian apa tadi? Aku belum pernah mendapatkan ujian dengan soal-soal seperti itu!”, keluhnya lagi.

“Kalau yang itu aku setuju.”, Minseul menelan makanannya yang belum sepenuhnya terkunyah itu. “Apa makanan dari serigala penjaga Sekolah Sihir Hanman? Mereka pikir aku datang kesini untuk memberi makan serigala yang bahkan belum pernah kulihat?”, seorang liliput naik keatas meja kemudian mengetuk kepala Minseul dengan sendok yang direbutnya dari tangan Minseul.

“Hey, kalian jangan main-main dengan serigala penjaga disini. Mereka bisa datang kapan saja, dan mereka memakan apapun yang menurut mereka membahayakan.”, jelas liliput itu kini menginjak-injak makanan Minseul. Membuat Minseul memandang jijik dan seketika kehilangan selera makan.

“Dan ingat, semua yang kalian bicarakan kami tentu mendengarnya. Berhati-hatilah, banyak liliput nakal yang akan mengadukannya pada dewan pengadilan.”, peringatnya kemudian pergi.

“Sekolah ini lebih mengerikan daripada yang kupikir.”, ucap Nichan melanjutkan kembali makannya.

Minseul menjauhkan makanannya kemudian membasuh tangannya dengan sebuah tisu basah. “Apa dia berkata jujur, atau hanya untuk menakut-nakuti kita saja?”

“Kurasa dia berkata yang sebenarnya.”, ucap seseorang yang mendekati mereka dengan sebuah nampan berisi makanan di tangannya. “Bolehkah aku duduk bersama kalian?”, tanyanya sopan.

“Tentu saja.”, ucap Minseul tanpa berpikir. “Hey, kau dari kelas sihir putih ya?”

Namja itu mengangguk mengiyakan. “Padahal aku sangat ingin masuk ke kelas sihir hitam.”

Ucapannya tersebut membuat Nichan sedikit menaruh perhatian padanya. Dia ingin masuk ke kelas sihir hitam, dan Nichan sendiri ingin masuk ke kelas sihir putih. Apa mereka bisa bertukar kelas?

“Perkenalkan, namaku Nichan.”, ucap Nichan mengulurkan tangannya yang disambut baik.

“Luhan, aku dari Hwanggyu.”

“Hwanggyu? Jadi kita berasal dari daerah yang sama?”, tanya Baekhyun. “Namaku Baekhyun.”

“Sebenarnya aku tinggal di China, baru sekitar seminggu aku tinggal di Hwanggyu untuk menunggu masuk ke sekolah ini.”, ucap Luhan dengan senyumnya yang manis. Chanyeol saja mengakui itu, dalam hatinya.

“Aku Chanyeol. Apa kau tidak berkumpul dengan teman-teman sekelasmu?”

“Mereka terlalu membosankan. Ada gadis manja yang selalu cari-cari perhatian, ada pria yang kerjaannya selalu bertanya padaku soal China, dan ada juga satu diantara mereka yang sangat pendiam. Aku tidak mengerti bagaimana harus bersosialisasi dengan mereka.”, cerita Luhan sambil mulai menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.

“Benar, seharusnya kau masuk ke kelas kami.”, ucap Chanyeol menyimpulkan.

“Apa kita tidak bisa bertukar kelas? Aku sangat ingin masuk ke kelas sihir putih.”, ucap Nichan membuat Baekhyun langsung melirik.

“Tentu saja tidak bisa Nichan-ssi, semua murni atas bakat yang kita miliki masing-masing. Kurasa jika bisa pindah kelas, aku akan melakukannya sesegera mungkin.”, ucap Luhan membuat Nichan sedikit kecewa.

“Kenapa kau ingin pindah kelas? Kau juga tidak betah di kelas kita?”, tanya Baekhyun. Nichan menggeleng.

“Ayahnya seorang penyihir sihir putih. Ia takut digantung ayahnya sepulang dari sini.”, ucap Minseul membuat tawa yang lain meledak, termasuk Luhan yang baru saja bergabung.

Cukup lama mereka menertawakan alasan yang diungkapkan Minseul barusan, hingga terdengar sebuah lolongan.

“Suara apa itu?”, tanya Nichan.

“Apa? Memangnya ada suara apa?”, tanya Chanyeol yang baru reda dari tawanya.

“Seperti sebuah lolongan serigala.”

“Serigala? Aku tidak mendengarnya.”, ucap Baekhyun mencoba menajamkan indera pendengarannya.

Suara lolongan itu kembali terdengar.

“Itu, apa kalian tidak mendengarnya?”, tanya Nichan lagi.

“Tidak ada suara apapun. Apa kau mengkhayal, Nichan?”, tanya Minseul mengerutkan keningnya. “Kau mungkin terlalu terbawa cerita liliput tadi. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan.”

“Tidak, aku memang mendengarnya. Suaranya sangat jelas.”, bela Nichan.

“Apa itu berasal dari serigala penjaga sekolah ini? Jika ya, kau dalam keadaan bahaya.”, ucap Luhan mendramatisir keadaan.

“Maksudmu?”, Chanyeol mengajukan pertanyaan yang juga ingin diajukan oleh yang lainnya.

“Jika kita mendengar suara lolongan serigala itu, berarti kita sedang dalam bahaya. Ingat, jangan pernah menirukan suara serigala itu. Jika kau menirukannya, para serigala itu akan datang ke tempatmu dan menerkammu hidup hidup.”, jelas Luhan mengatakan semua hal yang ia tahu.

“Tapi kenapa hanya aku yang mendengarnya? Apa aku melakukan kesalahan?”, Nichan mulai gelisah.

“Itu yang aku tidak tahu. Berjaga-jaga saja, jangan sampai kau memanggil mereka tanpa sadar.”, ucap Luhan. Membuat mereka berempat menegang karena takut hal buruk akan terjadi.

.

.

.

TO BE CONTINUED

14 Juni 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s