FF JJ PROJECT : MY PROJECT IS YOU


Title

My Project Is You

Cast

JJ Project’s Im Jaebum (JB) who also known as GOT7’s JB

JJ Project’s Park Jinyoung (Jr.) who also known as GOT7’s Jr.

Han Neul Chan

Park Ni Chan

Genre

Romance, School-Life

Rating

Teenage

Length

One-shoot

Author

Nesha

***

“aku tak mau berada dalam satu kelompok dengannya, tingkatan kami berbeda, aku adalah senior disini, sedangkan dia…” tunjuknya pada Jin Young. “dia hanya pemula yang tak memiliki bakat apapun!”.

“apa maksudmu, hah? Dia diterima di sekolah ini  karena bakat dancenya! Jaga ucapanmu” yeoja yang bernama Ni Chan membantah ucapannya.

“sudahlah, Ni Chan. Bukan hak kita untuk melarangnya berkata seperti tadi” Jin Young seakan pasrah pada keadaan. “tapi aku tak terima kau menghina dan merendahkanku dengan sebutan tanpa bakat seperti itu”

“ah ne.. arrasheo. Buktikan kalau memang kau punya bakat itu! Minggu depan, disini, aku tunggu kau untuk battle dance. Biarlah yang lain menjadi juri dan saksi atas kemenanganku juga ketidakbakatanmu akan apapun, bagaimana?” tawarnya pada Jin Young.

“ya, aku terima tawaranmu. Akan ku tunjukkan seluruh bakatku pada semuanya, terutama kau!” Jin Young yakin dengan ucapannya itu.

“terserah apa katamu, tapi kau harus tau. Aku.. Im Jae Bum tidak akan mungkin kalah hanya karena pemula sepertimu, cam kan itu!” ia pun pergi meninggalkan Jin Young dan Ni Chan. Tak lupa ia menarik tangan Neul Chan dengan kasar.

“kau keterlaluan, Jae Bum” Neul Chan menghentikan langkahnya tepat di samping mobil Jae Bum.

“sudahlah. Aku sedang kesal” Jae Bum mendorong tubuh Neul Chan untuk duduk di dalam mobilnya.

Mau tak mau Neul Chan harus mengalah dari Jae Bum.  Bagaimana pun Jae Bum adalah teman terdekat Neul Chan sedari bangku sekolah dasar, sehingga ia sangat mengerti kondisi mental dan keadaan Jae Bum. Ketika sedang kesal, Jae Bum bisa saja menyakiti dirinya sendiri atau bahkan menyakiti orang yang ada disekitarnya. Jae Bum memang terkenal dengan sifat emosinya yang sulit di bendung. Maka karena itulah Neul Chan selalu berada disamping Jae Bum untuk menenangkannya atau setidaknya membuat Jae Bum  tidak menyakiti dirinya sendiri.

Banyak orang yang salah mengartikan hubungan mereka karena kedekatannya  yang bisa dibilang kurang dari kata ‘wajar’. Jae Bum yang kasar pun sebenarnya adalah seorang tipe namja yang romantis juga manja  dan Neul Chan lah yang selalu mendapati Jae Bum bertingkah manja terhadapnya.

***

H-7

“apa kau sudah mempersiapkan gerakan untuk battle dance nanti?” tanya Ni Chan pada Jin Young. Sedangkan yang ditanya malah asik membenamkan kepalanya kedalam kolam renang yang ada di sekolah.

“Jin Young..” rengek Ni Chan.

“yaa~~~ Park  Jin Young!!!” Ni Chan yang merasa tak digubris pun terus menerus mencolek lengan Jin Young.

“mwoya??? Aku sedang berfikir, Ni Chan~ah.. berfikir bagaimana cara menunjukkan bakatku tanpa mengalahkan Im Jae Bum itu.”

“ish.. waeyo?” tanya Ni Chan kebingungan.

“apa kau lupa?” Jin Young malah bertanya balik.

Jin Young POV
-flashback-

Hari ini pelajaran olahraga menyambutku. Tes berlari sejauh satu kilometer harus aku hadapi. Menurut penjelasan songsaenim, tes ini berguna untuk melatih pernafasan dikala bernyanyi atau menari. Hal ini membuatku harus melakukannya, padahal aku sangat tak menyukai olahraga berlari.

7 menit adalah waktu yang berhasil aku habiskan untuk berlari hingga garis finish. Tanpa sadar aku pun melonjak kegirangan. Bagaimana tidak, 7 menit adalah waktu tercepat yang belum pernah tercatat sebelumnya. Tapi, ada pemandangan aneh. Kulihat Jae Bum di sisi lapangan terduduk dengan wajah yang kusut. Menurut informasi yang tak perlu aku jelaskan darimana sumbernya, ternyata Jae Bum kesal akibat waktu yang ia peroleh adalah 7 menit 5 detik. Terlalu menyakitkan sepertinya karena hanya berbeda 5 detik denganku. Kudengar juga saat tes berlangsung, kakinya terkilir. Sehingga menghambatnya saat berlari, namun ia tetap memaksakannya.

Saat akan kuhampiri Jae Bum, kulihat Neul Chan ternyata sedang berjalan menghampiri Jae Bum terlebih dahulu.

“jangan memaksakan..” kudengar suara lembut Neul Chan menenangkan Jae Bum.

“aku kalah hanya karena kaki ini, sungguh tak dapat dipercaya bukan?” ucapan Jae Bum membuatku tak berani mendekat lagi. Entah kenapa ada aura hitam yang melarangku untuk lebih dekat menghampirinya.

“biar aku yang urus kakimu..” terlihat Neul Chan mulai memijat kaki Jae Bum.

“sudah, pergi sana! Buat apa kau mengurusku? Memangnya kau ini siapa?” Jae Bum pun pergi meninggalkan Neul Chan dengan kaki yang setengah pincang.

Entah kenapa ada rasa kesal melihat perlakuan Jae Bum tadi. Kalau saja aku berani, mungkin sekarang sudah kuhampiri Neul Chan yang tertunduk di lapangan.

Neul Chan mungkin sudah sangat mengetahui sifat buruk Jae Bum, tapi kenapa ia masih setia bersama namja yang tak tahu diri itu? Andai saja bisa, mungkin akan kubuat Neul Chan menjadi temanku yang tak akan pernah aku sakiti layaknya apa yang dilakukan Jae Bum tadi.

-flashback end-

“kalau aku mengalahkannya, Neul Chan lah yang akan menanggung akibatnya” kini bajuku mulai basah akibat tetesan air dari rambutku ini.

“perhatian sekali kau pada Neul Chan” wajah Ni Chan tampak kesal, terlihat imut.

“neomu kyeopta” tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulutku.

“aish apa maksudmu?” tanyanya kebingungan.

“aniya.. maksudku Neul Chan itu terlalu lembut sebagai teman Jae Bum, aku sering memergokinya menangis setelah Jae Bum berlaku kasar padanya. Kau tahu bukan aku sangat tak suka melihat seorang yeoja menangis.” jelasku pada Ni Chan agar tak terjadi kesalah pahaman.

“hmm baiklah.. oh ya aku baru ingat. Eommaku sudah menunggu digerbang, aku pulang duluan ya. mianhamnida tak bisa menemanimu sampai jemputanmu datang” Ni Chan pun pergi begitu saja tanpa mengijinkanku mengucapkan kata-kata perpisahan.

Bingo! Ni Chan berhasil membuatku kesal. Mengapa ia begitu acuh terhadapku? Apa masih kurang jelas sikap yang aku tunjukkan padanya? Dasar yeoja unik. Sangat tidak peka, huh!

Kini aku sudah berada di pintu ruang latihan sekolahku. Sekarang waktu menunjukkan pukul 7 pm. Pasti sudah tak ada satu orang pun disini kecuali aku. Tapi.. kurasa dugaanku salah, ku dengar suara langkah kaki yang teratur. Rasa penasaran timbul dibenakku. Tanpa pikir panjang, ku buka pintu ruang latihan guna melihat siapa yang berada di dalam sana.

Deg!

Rasanya jantungku berhenti berdetak seketika. sungguh tak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Aku kira seseorang yang bersikap lembut belum tentu memiliki kemampuan menari seperti ini. Aigoo… sulit dipercaya.

Neul Chan POV

Lagu milik girlband ternama T-Ara kini mengalun lembut ditelinga. Tubuhku bebas bergerak seiring lagu ballad yang kudengar melalui earphone ini.

BRUKK!!!

Karena terlalu asik menari tak sadar menabrak seseorang hingga terjatuh diatas tubuhnya.

“aigooo.. neomu apa” kulihat ada darah yang mengalir di lututku. Sepertinya lututku terluka.

“mianhamnida, Neul Chan” kulihat seorang namja yang ku timpa ini. Rasanya tak asing. Tapi.. siapa dia?

“waeyo?” tanyanya kebingungan.

“kau..”belum sempat pertanyaan aku ajukan, dia menjawab dengan sendirinya.

“naega Jin Young imnida, Park Jin Young. Teman sekelasnya Im Jae Bum. Mianhamnida sudah membuatmu terjatuh dan terluka seperti ini” dengan sigap Jin Young membantuku untuk berdiri dan menutupi lukaku dengan plester yang entah darimana ia mendapatkannya.

“ne.. gwaenchanseumnida. Lagipula kau tidak menggangguku, akulah yang ceroboh hingga menabrakmu. Oh ya apa yang kau lakukan disini?” tanyaku ramah guna mencairkan suasana, sementara Jin Young sibuk sendiri.

“ahm andwae, aku hanya lewat saja” jawabnya.

Apa mungkin ia akan menggunakan tempat ini untuk berlatih?

“kau.. tuan Park. Apa kau akan berlatih disini untuk persiapan battle dance nanti?”

“tadinya.. tapi silahkan kau saja terlebih dahulu, aku masih berfikir gerakan apa yang akan aku pakai. Aku tak pandai membuat gerakan.” Akunya padaku. Aigoo jujurnya kau, tuan Park.

“mungkin aku bisa membantumu?” tawarku sehalus mungkin.

“membantuku? Caranya?”

“aku akan menari semampuku. Mungkin nanti ada gerakanku yang bisa menginspirasimu, bagaimana?”

“hmm bukankah kakimu..”

“gwaenchanayo.. lihat aku masih bisa berdiri, awww” lututku terasa nyeri. Baru saja berdiri tubuhku sempoyongan hingga hampir terjatuh. Untung saja Jin Young menahanku.

“kau tak apa? Haha berlagak kuat” canda Jin Young membuatku malu.

“haha tak apa, hanya terasa nyeri dan sedikit cenat cenut. Baiklah.. ayo kita mulai”

Akhirnya ku putar lagu milik salah satu boyband terkenal di korea, kuputar lagu di I-pad ku yang tersambung dengan speaker  dalam volume yang paling tinggi.

Author POV

Tiga jam berlalu, keringat pun membasahi kening Jin Young dan Neul Chan. Mereka berdua terdiam dalam keheningan yang tak berujung. Mungkin karena mereka yang tak pernah sedekat ini sebelumnya hingga timbul kecanggungan nyata di antara mereka. Namun suara phone-cell  Neul Chan mulai menghidupkan kembali suasana.

“anyeong, yeoboseyo?” ucap Neul Chan membuka percakapan.

“…..”

“ah ne.. sudah selesai, waeyo?”

“…..”

“mwo? Aigooo kau menjemputku tanpa izin”

“…..”

“ya.. di ruang latihan seperti biasa”

“…..”

“andwae.. kau tak perlu menjemputku ke ruangan ini, tunggulah dibawah sebentar. Aku sudah selesai berlatih”

“…..”

“aku tak akan lama..”

“…..”

“ne..” percakapan singkat pun berakhir.

Ada raut wajah tak suka dan penasaran pada wajah Jin Young.

“nuguseyo? Namja-chingumu?” tanya Jin Young.

“ani.. tadi itu Jae Bum” senyum Neul Chan merekah, membuat Jin Young terkekeh singkat.

“oh Jae Bum”

“tuan Park, aku pamit pulang terlebih dahulu ya, Jae Bum sudah menungguku dibawah” Neul Chan mulai membereskan barang-barangnya.

“eodiseyo?” tanya Jin Young lagi. Pertanyaan membuat Neul Chan tertahan sedikit lebih lama disini.

“di parkiran, tuan”

“ah ne.. hati hati ya. oh ya panggil aku Jin Young saja, arra?”

“ne.. anyeonghigaseyo, Jin Young” pamit Neul Chan. Jin Young pun tersenyum.

Lambat laun jejak Neul Chan pun hilang seiring raganya yang kini mungkin telah bersama Jae Bum. Dilihatnya dari jendela ruang latihan yang berada di lantai 3 bangunan sekolahnya. Ada Jae Bum dengan motornya yang menanti Neul Chan yang tengah berjalan ke arahnya. Tak lama keduanya pun telah pergi meninggalkan parkiran sekolah. Entah kenapa ada perasaan kesal di hati Jin Young sekarang. Apa mungkin itu cemburu?

***

Jin Young POV

“anyeong..” sapaku ramah pada Neul Chan di pagi buta seperti ini. Rasa dingin menyeruak rata di tubuhku. Namun tiba-tiba menjadi panas ketika melihat Neul Chan yang tengah digandeng oleh Jae Bum. Sebenarnya Neul Chan menanggapi sapaanku itu, meskipun hanya dengan tersenyum, hanya saja Jae Bum malah menatapku dengan tatapan ‘JANGAN GANGGU YEOJAKU!!’. Terlebih tangan Jae Bum yang menarik pinggang Neul Chan agar jarak di antara mereka berdua menjadi sangat dekat.

‘Kenapa Neul Chan diam saja? Kenapa ia tak berontak paa Jae Bum?’ batinku.

Neul Chan terlihat senang dengan perlakuan Jae Bum padanya. Sampai sekarang aku masih berfikir dengan keras, sebenarnya ada hubungan apa di antara mereka? Jae Bum mengikat Neul Chan selayaknya mereka seorang pasangan saja, hingga semua namja tak berani mendekati Neul Chan meskipun hanya untuk menanyakan hal penting.

“hey Jin Young, kenapa kau melamun? Apa yang sedang kau lakukan disini? Berdiri seperti patung di depan barisan loker” omona, ternyata aku sedang melamun, suara yeoja yang tak asinglah yang membuatku tersadar dari lamunan. Suara yeoja yang aku sukai.

“eh hai Ni Chan.. kemana saja kau? Aku mencarimu dari tadi” langsung saja ku rangkul pundaknya dan menarik Ni Chan untuk pergi ke kantin.

“kau mencariku pasti karena Neul Chan yang mengacuhkan sapaanmu, kan? Haha” guraunya.

“haha tidak juga”

“oh ya Youngie~ah.. bagaimana dengan persiapan battle dancemu? Enam hari lagi, bukan?”

aigoo.. akhirnya Ni Chan bertanya tentangku.

“tenang saja, sudah ada beberapa gerakan”

“dari mana kau mendapatkannya?” tanya Ni Chan.

“dari bidadari yang turun ke bumi tadi malam, haha”

“kyaaa~~~~ serius, Youngie~ah”

“aku serius haha, nanti sore kau mau menemaniku berlatih kan?”

“aniyaa…”

“aigooo, waeyo??”

“jemputanku akan datang lebih awal, Youngie~ah. Mianhamnida..”

“ne.. arrasheo” sepertinya mukaku kini mulai melipat melipat.

“besok aku akan menemanimu berlatih” ucapnya yakin.

“geurae?”

“ne..” Ni Chan tersenyum simpul. Omona… noneun neomu yeppo.

“gomapta, Ni Chan” ucapku sembari mencubit pipi chubby Ni Chan.

“ne.. Cheonmaneyoo..”

Pesanan kami pun datang. Kini saatnya makan sebelum jam pelajaran dimulai hingga 8 jam kedepan. Sungguh melelahkan.

Ni Chan POV

“dari mana kau mendapatkannya?” tanyaku pada Jin Young.

“dari bidadari yang turun ke bumi tadi malam, haha” jawaban yang menyakitkan rasanya.

“kyaaa~~~~ serius, Youngie~ah” rengekku padanya. Hanya pada Jin Young lah sifat kekanakanku muncul.

“aku serius haha, nanti sore kau mau menemaniku berlatih kan?” tanyanya. Omona Jin Young, mengapa kau selalu tak mengerti akan perasaanku. Kau pikir aku tak bisa sakit hati melihatmu berlatih, huh?

“aniyaa…” tolakku halus.

“aigooo, waeyo??”

“jemputanku akan datang lebih awal, Youngie~ah. Mianhamnida..” maaf aku harus membohongimu.

“ne.. arrasheo” sepertinya ia mulai kesal, mukanya kini berlipat-lipat.

“besok aku akan menemanimu berlatih” ucapku meyakinkan.

“geurae?”

“ne..” aku pun mengangguk, kulihat Jin Young tersenyum bahagia.

“gomapta, Ni Chan” ucapnya sembari mencubit pipi chubbyku.

“ne.. Cheonmaneyoo..”

Makanan yang telah dipesan kini sudah datang. Namun, nafsu makanku kini telah hilang jika membayangkan Jin Young. Andai saja kau tahu yang sebenarnya, Youngie~ah.

Neul Chan POV

“membuatnya kalah.. hanya itu pintaku” ucapan yeoja itu terus terngiang di telingaku.

“kajja, kita pulang..” suara Jae Bum membuyarkan lamunanku.

“aniya.. ini masih pukul” omona.. apa terlalu lama aku melamun hingga tak sadar bel pulang sudah berlalu dari 3 jam yang lalu?

“ppali, sudah mau hujan” Jae Bum terus menarik tanganku.

“shireo!! Aku masih harus mengerjakan tugas” entah kenapa suaraku makin meninggi.

“waeyo, Neul Chan? Tiba-tiba kasar seperti itu” Jae Bum terlihat kebingungan.

“aku tak mau dipaksa dan kau tadi baru saja memaksaku” kepalaku tertunduk dihadapannya. Ada rasa bersalah telah membentaknya.

“mianhae, Neul Chan. Aku tak bermaksud memaksamu” Jae Bum mengelus puncak kepalaku lembut.

Aigoooo!!! Jantungku berdetak kencang, untung saja aku tak sedang berdekatan dengan microphone. Kalau saja berdekatan, mungkin Jae Bum akan tahu tentang perasaanku padanya. Fiuuuuuhh….

“hati-hati, arra?” ucapnya lagi.

“ne, oppa” sebuah senyuman manis melayang untuknya.

“haha manja sekali kau..” Jae Bum menyikut pinggangku.

“tak boleh, hah?”

“tentu saja boleh, Chanie~~~..” Jae Bum tertawa. Inilah Jae Bum yang aku sukai. Jae Bum yang lembut dan memahamiku. Entah setan apa yang merasukinya hingga ia sering kasar apabila emosi menguasainya.

“eottokhae? Aku pulang sendiri? Apa kau tega, Neul Chan? Aku tak suka sendirian” belum sempat aku menjawab pertanyaannya, ku dengar suara yeoja yang sedang berbicara dengan seseorang di phone-cellnya, mungkin.

“mwo?? Aish eomma. Aku tak bisa pulang sendiri. Aku..” begitulah percakapan yang aku dengar. Kalau tak salah itu seperti suara Ni Chan, temanku di ekskul musik.

Aku pun kini berjalan keluar kelas untuk mencari dimana sumber suara. Hingga ku temukan Ni Chan yang tengah berjalan melewati kelas yang sedang aku diami bersama Jae Bum tadi.

“Ni Chan~ah.. kemari!” suaraku nyaring memanggilnya.

Ni Chan pun menghampiri kami dengan wajah kebingungannya. Sementara Jae Bum terus memasang wajah tak suka terhadap Ni Chan. Bagaimana pun Ni Chan adalah salah satu dari teman Jin Young. Dan segala hal tentang Jin Young adalah hal yang tak pernah ia suka. Aku tahu dari ekspresinya Jae Bum sekarang.
“rumahmu masih di Gokjang Ddi, kan?” tanyaku pada Ni Chan.

Ni Chan POV

“eomma dimana? Aku sudah pulang sedari tadi eomma” ucapku pada eomma di seberang sana.

“mianhada chagi, eomma sedang sibuk di kedai, pulanglah sendiri” kudengar banyak suara selain suara eomma yang aku dengar di phone-cellku. Sepertinya eomma memang sedang sibuk.

“mwo?? Aish eomma. Aku tak bisa pulang sendiri. Aku takut eomma..” rengekku.

“gunakan saja taxi, jangan naik bus. Arra?” tawar eomma.

“ah ne..” mau tak mau aku harus pulang sendiri. Aish!!! Ini kan sudah malam. Ups salah, hampir malam. Sekolah pun kini sudah tak berpenghuni lagi kecuali aku dan…

“Ni Chan~ah.. kemari!” suara seorang yeoja yang nyaring di ujung lorong kelas memanggilku.

“rumahmu masih di Gokjang Ddi, kan?” tanyanya. Ternyata Neul Chan lah yeoja yang memanggilku. Pertanyaannya cukup mengherankan. Sejak kapan ia memperdulikan aku? Bukankah ia adalah makhluk individu yang hanya tinggal di bumi bersama Jae Bum saja?
Kalau saja dunia berbentuk seperti kartun atau film animasi 3D, pasti Bumi sudah berubah bentuk seperti wajah Jae Bum dengan nama Neul Chan Earth. Tanpa sadar aku terkekeh sendiri membayangkan semua itu. Terkadang imajinasiku memang melambung cukup jauh, malah terlalu jauh.

“hey.. kenapa kau malah senyum-senyum seperti orang tak waras saja?” kini Neul Chan menggoyangkan tubuhku pelan. Dasar perusak imajinasi! Mungkin akan menjadi sebuah cerita bila saja imajinasiku itu tidak hancur.

“ehm, geurae.. waeyo, Neul Chan~ah?”

“nah Jae Bum, rumah kalian satu arah bukan? Ni Chan yang akan menemanimu” seru Neul Chan yang tentu saja membuatku berdecak keheranan.

“hah? Apa maksudmu, Neul Chan?” Jae Bum sepertinya memang tidak ingin bersama denganku.

“yaa~~~ Jae Bum.. kemari..” Neul Chan menarik lengan Jae Bum hingga terlihat ada pembicaraan tertutup diantaranya, hingga..

“ne, baiklah aku pulang duluan, anyeoonghigaseyo” ucap Jae Bum yang tiba-tiba saja pergi, Neul Chan malah mendorong tubuhku perlahan dan melambai manis ke arah kami –aku dan Jae Bum- sementara Jae Bum mencoba tersenyum semanis mungkin untuk Neul Chan, hingga aku sangat tak percaya dibuatnya.

Di mobil mewah milik Jae Bum kulihat beberapa foto yang sengaja disimpan sepertinya. Fotonya bersama Neul Chan tentunya. Tapi, disana terdapat foto seorang namja. Cukup asing buatku, tapi rasa penasaran kini berkumpul dipikiranku.

“siapa ini?” tanyaku pada Jae Bum. Sontak saja ia membuang tanganku.

“jangan sentuh apapun!” ucapnya.

“aku hanya ingin tahu saja”

“kau tak berhak untuk tahu”

“tapi kelihatannya namja ini sangat dekat dengan Neul Chan, apa itu Park Jung Soo? Namja yang pernah ia ceritakan kepada Jin Young kemarin?” aigoo bibirku ini selalu frontal.

CEKIIIIIIITTTTTTTTTTT!!!!!

Mobil yang sedang melaju kencang tiba-tiba berhenti.

“aish, Jae Bum..” ringisku kesakitan.

“apa maksud ucapanmu tadi? Namja yang pernah diceritakan Neul Chan kepada lelaki tengil itu?” Jae Bum mengulang ucapanku. Secepat mata ini berkedip, Jae Bum sudah berada di luar dan membukakan pintu mobilnya untukku.

“naiklah taxi itu” tunjuknya pada taxi yang entah sejak kapan sudah berada disamping mobilnya “taxi ini akan sampai tepat di depan rumahmu dan sudah ku bayar dimuka”

yaiiks!!! Jadi Jae Bum mengusirku dari mobilnya? Dasar namja tak berperasaan! Tidak bisa menghargai wanita sedikitpun. Awas kau, Jae Bum! Tunggu pembalasanku nanti.

Jin Young POV

“kelihatannya kau sudah mahir dan menguasai teknik andalan Jae Bum” Neul Chan tertawa singkat.

Aigoo!! Melihatnya tertawa membuatku senang bukan kepayang.

“ya begitulah, ini semua berkat jasamu juga kan? Gomawo Neul Chan sudah membantuku”

“ne, gwaenchanayo, Jin Young. Aku hanya tak ingin Jae Bum menang. Tapi, aku tak bermaksud menyuruhmu untuk berbuat curang, tuan Park” akunya.

“omona.. tak apa-apa, kalau curang bisa membuat Jae Bum tak bersikap sombong lagi, aku tak masalah melakukannya, anggap saja balas budi untuk bantuanmu selama ini” jelaskuu. Neul Chan hanya tersenyum simpul.

Jam telah menunjukkan pukul 11 malam. Karena terlalu asik, Neul Chan tak ingat untuk meminta supir untuk menjemputnya, hingga akulah yang akan mengantarnya pulang kerumahnya walau dengan bus umum saja.

“sudah selesai?” tanyaku. Sementara Neul Chan masih sibuk merapikan isi tasnya.

“ne, sudah. Aish lelahnya bukan main..” baru kali ini ku dengar ia mengaku lelah.

Setelah ku pikirkan, bagaimana tidak merasa lelah? Sudah beberapa hari ini ia harus pulang malam untuk membantuku berlatih, belum tugas sekolah yang menumpuk bagai gunung dan kegiatan lainnya yang harus ia selesaikan secara bersamaan.

‘rasanya aku ini detektif bagi Neul Chan, atau malah bodyguardnya yang mengetahui segala kegiatannya’ pikirku.

“mianhae Neul Chan, aku…”

“gwaenchana, Jin Young. Lagipula ini untuk Jae Bum juga kan?” timpalnya.

Benar juga ucapannya. Untuk apa aku dengan percaya dirinya merasa semua pengorbanan Neul Chan ini hanya untukku?

Ucapannya mengingatkanku pada Ni Chan. Ni Chan pernah berkata ‘kita boleh bermimpi setinggi apapun, namun jangan pernah melakukan kebodohan dengan bermimpi dalam mimpi-mimpimu itu’. Dan kini itulah yang sedang aku lakukan.

“dia berbeda jauh dengan Jung Soo” ucapnya lagi. Ini kali kedua dia tak sengaja bercerita padaku tentang kehidupannya di masa lalu.

“sebelumnya, mianhamnida Neul Chan.. sebenarnya, Jung Soo yang kau maksud itu siapa?” tanyaku. Sungguh pertanyaan yang sangat konyol.

“Park Jung Soo itu hyungnya Jae Bum, ya meskipun bukan secara kandung”

“lalu.. apa yg menjadi masalahnya?”

“Jung Soo itu adalah namja pertama yang aku sukai, karena itu Jae Bum sangat membencinya, Jae Bum tak ingin ada cinta di antara kami, terlebih kami bertiga telah dekat semenjak bangku Sekolah Dasar di Amerika, tapi.. semua itu berubah hingga..”

“hingga?”

“hingga salah satu diantara kami pergi untuk selamanya dan itu adalah Jung Soo”

“waeyoo?”

“Jae Bum kesal pada Jung Soo, dia menjahilinya dengan memasang petasan di dekatnya, Jung Soo terkejut. Mungkin terdengar sepele, tapi Jung Soo terlahir dengan jantung yang lemah”

“lalu?”

“Jung Soo kritis selama dua jam hingga akhirnya meninggal akibat gagal jantung. Jae Bum merasa bersalah akibat kematiannya hingga sekarang”

“oh begitu..” rasanya begitu kesal mendengar sikap Jae Bum yang kekanak-kanakan seperti itu.

“dan kini sebagai gantinya, Jae Bum ingin menjadi seperti Jung Soo yang berbakat dalam semua hal dan selalu menjadi nomor 1 hingga bisa menarik perhatianku”

“apa yang ada dipikirannya ya? mana mungkin ia bisa menjadi Jung Soo yang jelas-jelas berbeda dengannya?!” belum sempat pertanyaanku terjawab, kulihat Neul Chan tertidur bersandar di kaca bus. Wajahnya terlihat sangat lelah.

“Jung Soo” Neul Chan mengigau. Keringat dingin mengalir di dahinya. Semoga tak ada hal buruk yang akan menimpanya, aku takut ia sakit.

***

Author POV

H-2

“hap..hap..” Jae Bum menghitung langkahnya. Ini adalah saat dimana  choreographer nya meminta Jae Bum dan teman-teman untuk berlatih salsa dance berpasangan.

“denganku?” tawar Jae Bum pada Neul Chan, ia pun menyambut uluran tangan Jae Bum. Alunan lagu kini sudah menggema di seluruh ruangan latihan. Semua mata tertuju pada gerakan Neul Chan dan Jae Bum. Jin Young dan Ni Chan pun terdiam tanpa komentar apapun.

“cocok, bukan?” uca Ni Chan.

“begitulah..” tanggapan Jin Young yang Ni Chan rasa tak memuaskan.

“hey, jangan menginjak kakiku” Jae Bum berhasil membuat Neul Chan tersipu.

“mianhae, Jae Bum” Neul Chan tertawa singkat.

Lagu pun berakhir, Jae Bum menutup tarian dengan memeluk Neul Chan dari belakang.

“aish Jae Bum, tak ada perintah kau harus memelukku dan tak ada izin pula untuk kau melakukan itu” keluh Neul Chan.

“tapi, apa ada larangan bagiku untuk memelukmu?”

“ehm, benar juga ya? haha” Neul Chan yang tertawa akibat ulah Jae Bum kini tanpa sengaja memandang ke arah Jin Young yang tengah bersenda gurau dengan Ni Chan. Jin Young yang sadar dengan pandangan Neul Chan kini tersenyum. Tanpa mereka sadari, Jae Bum terus mengawasi gerak geriknya.

Ni Chan POV

“i never felt this way before, everything that i do, reminds me of you..” dentingan piano memenuhi ruangan musik. Aku terus bergelut dengan tuts tuts piano kesayanganku ini. Membayangkan dulu dimana Jin Young selalu duduk disebelahku dan menemaniku bermain piano sembari bernyanyi. Entah kenapa ada rasa sakit yang meremas hatiku bila mengingat Jin Young yang akhir-akhir ini makin menjauh dariku. Terlebih kini Jin Young tak pernah ketinggalan satu hal pun tentang Neul Chan. Ada apa sebenarnya ini? Apa mungkin ini juga kesalahanku? Kenapa aku harus meminta pertolongannya?

-flashback-

“hey Neul Chan” sapaku ketika bertemunya di ruang ekskul musik.

“ne? Mworago?” tanyanya.

“kau dengar tentang masalah tadi pagi,kan?”

“ya tentu saja, battle dance antara Jae Bum dan temanmu yang akan berlangsung minggu depan, waeyo?”

“bisakah aku meminta pertolonganmu?”

“pertolongan apa maksudmu?”

“bantu dia ketika berlatih dan buat dia menang..”

“dia? dia yang kau maksud?”

“temanku, Jin Young, Park Jin Young”

“apa alasanmu hingga aku harus melakukan itu?”

“aku hanya ingin membuat efek jera untuk Jae Bum, agar dia tidak bersikap sombong lagi”

“hmm benar juga ucapanmu, lalu apa keuntungannya buatku?”

“akhir bulan ini bukankah ada tugas membuat sebuah lagu dengan instrumen piano? Dan sepengetahuanku, kau paling tak bisa bermain piano, benar?”

“ya.. lalu?”

“aku yang akan mengerjakan tugas itu untukmu dan akan ku pastikan hanya kaulah yang akan mendapat nilai terbaik dan peringkat pertama di kelas karena lagu itu, bagaimana?”

“tawaran yang bagus, tapi… bagaimana dengan Jae Bum nanti?”

“itu urusanmu.. nanti setelah Jin Young yang memenangkan battle dance  itu, akan akan memberikan lagu untuk tugasmu, bagaimana?”

“hmm.. baiklah, aku terima. Biar aku yang setting semuanya, Ni Chan”

“geurae?”

“ne”

“gomawo”

“cheonmaneyoo”

-flashback end-

“apa yang kau lakukan?” tiba-tiba suara Jin Young menyadarkan lamunanku.

“ehm, sedang menghapal lagu ini” ucapku berbohong.

“kau bohong, ya?”

“maksudmu?”

“aigo Ni Chan.. kau fikir aku sudah tua apa? Ini lagu yang dulu selalu kita bawakan bersama disini, mana mungkin kau menghapal lagi?” Jin Young duduk dan bersandar di bahuku.

“aku kira kau sudah lupa denganku..”

“maksudmu?”

“shireoo, lupakan saja” omona Ni Chan jangan berbuat bodoh!

“mianhae, aku mungkin sudah mengabaikanmu akhir-akhir ini. Tapi aku tak pernah melupakanmu meski hanya seujung jari” jelas Jin Young.

“kau selalu memikirkan latihan, latihan, latihan, dan ….”

“bukankah kau yang menyuruhku untuk selalu berlatih?” potongnya.

“aish, tapi..”

“lagipula kau juga kan yang tak pernah bisa menemaniku berlatih? Padahal aku sangat ingin bersamamu” ucapnya ragu.

“maksudmu?”

“aniya.. hmm sebenarnya aku merindukanmu, merindukan keadaan seperti ini. Hanya kita. Kau dan aku saja”

DEG!! Jantungku rasanya hampir lepas dari tempatnya.

“ada apa denganmu, Jin Young?”

“ya~~ Ni Chan! Sekarang sudah pukul 5 sore, saatnya aku latihan, tunggulah disini, kita pulang bersama, arra?”

“ne.. arrasheo, Jin Young”

“gomawoyooo…” Jin Young tersenyum manja sembari mengelus puncak kepalaku.

“cheonmaneyo, oppa..” kupelankan suaraku saat mengucapkan kata oppa.

“oppa?” kya~ ternyata Jin Young mendengarnya.

“sudah-sudah, cepat latihan, ppalli!!” titahku.

“ne..” Jin Young pun akhirnya pergi meninggalkanku sendiri lagi.

Neul Chan POV

“lepaskan aku, Jae Bum” ucapku memohon padanya. Jae Bum mengunciku bersamanya di dalam mobil.

“diam disini!” sifat kasar Jae Bum kini keluar lagi.

“aku harus berlatih, Im Jae Bum!” ku pertegas suaraku, namun entah kenapa ada rasa berat yang menyerang kepalaku.

“kau pucat, Neul Chan. Kau tak sehat”

“aniya! Aku pucat karena kau. Kau membuatku ketakutan” aku pun bergegas keluar dari mobinya. Namun karena tenaga Jae Bum yang besar berhasil menarikku kembali ke dalam.

“yaa! Jae Bum lepas.. Im Jae..”

CHU~~~~

Omona, apa yang dilakukan jae Bum? Beraninya ia mencium pipiku! Siapa memangnya dia?

“lepas!” aku pun terus memberontak hingga Jae Bum terdorong keras.

Sesampainya diruang latihan, ku lihat Jin Young sedang bersandar di dinding. Keringat sudah bercucuran hebat di dahiku.

“mianhae aku terlambat” ucapku seakan tak ada masalah apapun sebelumnya. Jin Young pun berjalan menghampiriku.

“ne.. tak apa.. gwaenchanayo, Neul Chan? Kau terlihat tak sehat”

“kenapa kau bertanya seperti itu?”

“kajja..” Jin Young menarik tanganku, disimpannya didepan cermin besar. Dia pun berdiri tepat di belakangku. “lihat? Tubuhmu makin kecil dari yang sebelumnya. Wajahmu juga seperti mayat hidup hehe”

Omona, benar juga ucapan Jin Young. Ada apa ini? Aku rasa baik-baik saja.

“ya aku lihat, ppalli kita berlatih, dua hari lagi..” baru saja aku berjalan satu langkah, rasanya sudah seperti melayang dan tubuhku perlahan oleng.

“omona, sudahlah tak perlu dipaksakan. Aku sudah lancar melakukan semua gerakannya” dengan sigap Jin Young menangkap tubuhku tepat sebelum tubuh ini terjatuh ke atas lantai.

“gwaenchanayo, Jin Young” aku masih mencoba untuk bangkit, tiba-tiba..

BUGG!!!!

“jangan sentuh Neul Chan!”

Jae Bum POV

“entah kenapa perasaanku makin tak menentu seperti ini. Hanya ada Neul Chan di pikiranku ini. Ada apa dengannya?” batinku mulai berfikir.

Baru saja tubuh ini akan bersandar pada jok mobil, kulihat tas Neul Chan ternyata tertinggal. Tergeletak di bagian bawah jok mobil, sepertinya terjatuh akibat peristiwa tadi. Sungguh menyesakkan bila mengingat ekspresi Neul Chan saat tak sengaja aku menciumnya. Sekelebat ide mengunjungiku. Mungkin apabila aku mengantarkan tasnya, Neul Chan tidak akan merasa canggung lagi kepadaku. Lagipula, bagaimana ia bisa mendapatkan suplay air yang cukup kalau air minumnya saja tertinggal seperti ini?

Sekolah ini memang terkenal dengan fasilitas sarana dan prasarananya yang terbaik dan bisa disebut nomor wahid, tetapi… untuk mencapai lantai ke 5 apa masih perlu menggunakan tangga manual? Sudah sepuluh menit berlalu namun aku masih kebingungan dimana ruang latihan tempat Neul Chan berlatih.

Ruang latihan yang sekolah ini punya tidak hanya ada satu pada setiap lantai, melainkan dua puluh lima ruangan disediakan hanya untuk tempat latihan. Mungkin bisa dibayangkan seberapa besar sekolah ini dan aku harus mengunjungi ke-lima lantai itu untuk mencari Neul Chan.

“Pabo namja!” umpatku pada diri sendiri.

Dimana dia berada sekarang? perasaanku kini makin tak tenang. Tinggal dua ruang latihan lagi yang belum aku periksa, tapi aku sudah memperkirakan bahwa ruang latihan di ujunglah yang merupakan tempat Neul Chan berlatih.

Aku pun berlari agar lebih cepat sampai di ruang latihan bernomor 25 itu, aku harus segera bertemu dengannya dan meninta maaf, tapi.. omona!? Apa yang aku lihat sekarang ini bukan mimpi? Jin Young si namja gila itu memeluk tubuh Neul Chan yang entah kenapa terlihat sangat lemah. Inilah jawaban dari ketidaktenangan hatiku sedari tadi. Apa sebenarnya maksud Jin Young melakukan itu? Dasar tukang pencari kesempatan!

“jangan sentuh Neul Chan!” tinjuku pun terarah ke mukanya.

“Jae Bum..” masih kudengar suara lembut Neul Chan walaupun hanya samar-samar.

“apa yang kalu lakukan pada Neul Chan, hah?” tanganku ini seakan tak bisa berhenti untuk memukulinya. “ kalau kau menyukainya, katakan saja! Jangan bersikap pengecut seperti ini!”

“yaa~~ Jin Young!” ku dengar suara seorang yeoja berteriak. “hentikan!!!”

Ni Chan POV

“lamanya, Jin Young” tak henti-hentinya aku mengomel, padahal belum satu jam ia berlatih. Tanpa basa-basi, aku pun memutuskan untuk menghampirinya yang mungkin sedang berlatih. Baru saja aku akan menghampur keluar kelas musik, kulihat Jae Bum yang telah lebih dulu berlari ke arah yang sama dengan tujuanku. Ada apa ya?

Langkahku berubah perlahan. Kudengar suara yang membuatku penasaran. Tapi aku tak mau melihat Jin Young bersama Neul Chan. Rasanya dada ini sesak.

BUG!!!!

“Jae Bum..” kudengar suara Neul Chan samar. Ada apa ini? Apa jangan-jangan…

“omona… Jin Young!!!!” kulihat Jin Young bersimbah darah di lantai, sementara Jae Bum terus memukulinya. “hentikaaaaaan!!!!”

Aku pun terus berusaha melerainya dan melindungi Jin Young, namun apa daya malah Jin Young yang menutupi tubuh mungilku dengan tubuhnya.

“Jin Young-ah..” panggilku.

“ne.. Gwaenchanayo..”

“hey Jae Bum.. buat apa kau memukulinya? Pikirkan Neul Chan.. lihat keadaannya sekarang!” ucapku singkat. Kulihat Neul Chan pun sibuk dengan darah yang keluar dari lubang hidungnya.  Jae Bum terkejut dengan apa yang ia lihat.

“Neul Chan…” kudengar Jin Young masih sempat memanggilnya sebelum kesadaran Jin Young benar-benar hilang. Omona… apa hanya Neul Chan yang ada dipikirannya?

Author POV

“aigoo.. kenapa mereka malah bertengkar seperti ini?” pikir Neul Chan.

Tiba-tiba saja darah dengan lancar mengalir dari lubang hidungnya. Neul Chan yang memang phobia terhadap darah akan seperti ini apabila melihat darah. Dan kini yang menyebabkannya ketakutan adalah Jae Bum. Temannya sendiri.

“hey Jae Bum.. buat apa kau memukulinya? Pikirkan Neul Chan.. lihat keadaannya sekarang!” Ni Chan berteriak.

“omona…” Jae Bum menghampiri Neul Chan.

“wae… waeyoo? Gwaenchanayo? Terpejamlah.. ini darah” Jae Bum membuka bajunya dan menyumbat hidung Neul Chan.

“aniya, lepas!” Neul Chan pun beranjak pergi.

“mau kemana, kau?” Jae Bum berteriak.

“kejarlah, Neul Chan tak sedang dalam keadaan baik-baik saja” titah Ni Chan yang masih berusaha menyadarkan Jin Young.

“hey Neul Chan, tunggu aku” Jae Bum terus mengejarnya. Terlihat Neul Chan yang terjatuh dan menangis.

“waeyo? Uljima..” Jae Bum memeluk Neul Chan.

“andwae.. lepas” pinta Neul Chan.

“diam,, lihat.. darahnya terus mengalir” suara lembut Jae Bum menenangkan Neul Chan. Ia duduk di samping Neul Chan dan membuatnya bersandar pada bahu Jae Bum.

“uljima..” Jae Bum mengulangi perkataannya tadi. Tangan Neul Chan yang sebelumnya menggenggam lengan Jae Bum kini terkulai lemah.

“good night, chagi”  Jae Bum berbisik.

Ni Chan POV

“bagaimana bisa kau bertanding dengan wajah yang babak belur seperti ini?” ucapku pada Jin Young yang masih terlelap di kamarnya.

“semoga besok keadaanmu membaik, ya. Kau harus menang..” tanpa sadar ternyata aku menangis. Omona, apa yang perlu aku tangisi?

“uljima..” kudengar samar dari mulut Jin Young.

“kau.. kau sudah sadar??”

“Jin Young, wake up…”

“yaaa!!! Tak mungkin aku salah dengar!”

“eottokhae? Jangan-jangan aku sudah gila karena dia” tunjukku pada dahi Jin Young.

“yasudahlah, aku pulang saja” kini rasa sebal yang aku rasakan.

“yaa,… Ni Chan aaaah…” panggil Jin Young.

“aish, kau sudah sadar?” tanyaku seraya menghampirinya.

“sudah, daritadi malah” Jin Young memasang wajah sebal yang tadi aku pasang.

“waeyo?” tanyaku.

“ani” Jin Young mengerucutkan bibirnya.

“waeyoooo, Jin Young-aah?” ku cubit pipinya.

“bukannya beri aku nafas buatan, kau malah bergegas pulang”

“mwoo? Nafas buatan? Aniyaaa!!!”

“ya sudahlah, pulang saja. Aku mau beristirahat sampai 3 hari ke depan”

“ah, geurae.. akan kuberi kau nafas buatan” ku lepas kaus kakiku dan ku tiupkan angin ke dalamnya, lalu kuberikan pada Jin Young.

“sudahkan? Aku pulang ya, anyeoong”

“aish!! Yeoja pabo!!” Jin Young mengerutu.

***

Author POV

Hari yang ditunggu pun tiba, semua telah bersiap di aula sekolah. Jin Young dan Jae Bum pun sibuk dengan yeojanya masing-masing sebelum battle dimulai.

“doakan aku menang, ya. Kalau aku menang, kau harus jadi…” tiba-tiba bel berbunyi, suaranya melebihi suara teriakan kepala sekolah yang terkenal sangat keras. Sehingga ucapan Jin Young pun tak terdengar seluruhnya.

“arra?” Tanya Jin Young.

“aigo, aku tak mendengarnya, ulangi..” rengek Ni Chan.

“suruh siapa melihat Jae Bum terus? No replay, honey…” Jin Young terkekeh.

Di tempat lain, Jae Bum diliputi rasa gelisah luar biasa. Entah apa yang akan terjadi, namun Jae Bum mulai ketakutan. Tidak seperti Jae Bum yang biasanya. Yang selalu percaya diri dalam keadaan apapun.

“waeyo, Bum-miee?” Neul Chan merapikan rambut Jae Bum.

“aniya”

“arrasheo…” Neul Chan berjalan menjauhi Jae Bum perlahan.

Battle dance pun dimulai, Jin Young dipersilahkan untuk memulai terlebih dahulu untuk menari. Jae Bum pun terenyak ketika melihat gerakan Jin Young yang di dominasi semua gerakan andalannya. Apa ini alasan dari ketakutannya tadi? Otak Jae Bum pun terus berfikir. Mencari gerakan baru agar memenangkan battle ini. Baru setengah lagu mengalun, namun suasana sudah mulai memanas. Neul Chan yang tak bisa menenangkan diri juga sedangkan Ni Chan bersikap tenang karena sudah mengetahui hasil dari battle ini. Ni Chan tersenyum samar diantara kerumunan teman-temannya.

-cuplikan rap lagu exo history-

BUGG!!!  Jae Bum terjatuh karena terus mendapat tekanan dari Jin Young. Mendadak Jin Young aktif menambahkan gerakannya dengan gerakan yang selama ini diajarkan Neul Chan. Tapi, tanpa disangka Jin Young meminta Jae Bum menghentikan lagunya.

“ppali.. bangunlah, jangan mempermalukan diri sendiri dengan terus duduk setelah terjatuh” Jin Young mengulurkan tangannya.

“cih!! Tak sudi. Apa karena aku terjatuh kau menjadi super bangga? Jangan salah! Aku jatuh karena mengalah” Jae Bum seakan tak terima dengan kekalahannya tadi.

“apapun ucapanmu, aku tak perduli. Sekarang kau lihat bukan? Aku memiliki bakat menari yang lebih dari apa yang kau punya, hanya saja kau jauh lebih beruntung. Itu saja” Jin Young pun pergi meninggalkan Jae Bum sementara penonton masih terkejut dengan peristiwa tadi.

“kau tak apa, Jae Bum?” Neul Chan menghampirinya.

“aniya, aku ingin pulang” pinta Jae Bum lembut.

“ne, kajja” ajak Neul Chan.

Dilain tempat…

“aku memenangkan battle ini..” ucap Jin Young bangga.

“ya, aku sudah tahu” ejek Ni Chan.

“mwo? Bagaimana kau bisa mengetahui itu?”

“kan aku menyaksikan battle kalian”

“ahiya… oh ya, bagaimana soal taruhan kita tadi?”

“taruhan apa”

“kau lupa?”

“aku lebih tak mengingatnya saja, bukan lupa”

“sama saja.. yasudahlah. Intinya sekarang kau adalah kekasihku”

“baiklaah “ Ni Chan tersenyum manis.

Satu minggu kemudian..

“apa maksudmu, Neul Chan? Apa salahku hingga kau tega berbuat itu padaku?” Tanya Jae Bum.

“dengar penjelasanku dulu” Neul Chan terus menghalangi Jae Bum yang akan bangkit dari duduknya.

“penjelasan apa lagi, huh? Sungguh diluar pemikiran akal sehatku!” Jae Bum mendorong tubuh Neul Chan hingga terjatuh dan membentur ujung tajam dari meja keramik milik Jae Bum.

“awww..” Neul Chan mengaduh kesakitan, tanpa sadar Jae Bum menghampiri Neul Chan.

“aniya.. Mianhamnida Jae Bum. Aku memang bodoh”

“aniya… aku yang memang salah sudah mendorongmu, tadi”

“seharusnya kau tahu, aku melakukan ini demi kau juga, aku menyayangimu, aku ingin kau berubah, sementara lagu itu, anggap saja imbalan untukku” Neul Chan terus tertawa pahit sementara darah terus mengalir di dahinya. “kau ingat perkataan Jung Soo Oppa? Seseorang akan menjadi lebih baik apabila ia pernah  terjatuh sebelumnya” Jae Bum pun mengangguk tanda mengiyakan ucapan Yeoja tersebut. Namun sayang sekali, Neul Chan terlebih dahulu tak sadarkan diri karena darah di pelipisnya. Akibat perbuatan kasar Jae Bum tadi.

“mianhada, aku tak bisa menjadi Jung Soo untukmu, tapi.. geudae saranghamnida, Han Neul Chan.” Jae Bum dengan sigap membopong tubuh Neul Chan ke rumah sakit.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s