FF : BLACK MAGIC (Chapter 3)


image

BLACK MAGIC (Chapter 3)

Kim Jong In (EXO, Kai) as Pangeran Jongin

Gong Chan Shik (B1A4, Gongchan) as Kim Chan Shik – Pangeran Chanshik

Kim Min Seok (EXO, Xiumin) as Raja Minseok

Choi Min Hyo (OC) as Ratu Minhyo

Wu Yi Fan (EXO, Kris) as Wufan – Penyihir Wu

Wu Jae Won (OC) as Wu Jae Won

Wu Ni Chan (OC) as Wu Ni Chan

Byun Baek Hyun (EXO, Baekhyun) as Byun Baekhyun

Genre : Fantasy, Romance, Family, Friendship

Rating : Teenage

Length : Multichapter

Author : @ririnovi

.

.

Yaheeeey chapter 3! Disini mulai masuk ke cerita sihir-sihiran, gimana Nichan masuk ke sebuah sekolah sihir. Yang kebayang sih setting-nya kaya di Hogwarts gitu ya, so tergantung imajinasinya aja. Okedeh, here we go~~~~

*

Previous Chapter>>

“Lihat, apa yang kutemukan!”, dengan bangganya Pangeran Jongin memperlihatkan sebuah binatang kecil yang ia sembunyikan diantara kedua telapak tangannya.

“Wah, bagus sekali! Kira-kira serangga macam apa ini? Belalang? Atau lebah? Aku baru pertama kali melihatnya.”, Nichan memperhatikan serangga itu dengan saksama.

“Entahlah, tapi lihat. Jika aku menutup serangga ini dengan tanganku, dia akan bersinar. Mungkin ini semacam kunang-kunang.”

“Iya benar, apa ini hanya ada satu?”, tanya Nichan.

“Kurasa begitu, aku tidak menemukan yang lain. Kau mau? Bagaimana jika kita merawatnya bersama-sama?”, ajak Pangeran Jongin.

“Tentu saja. Pasti akan menyenangkan.”

*

Prolog

Chapter 1

Chapter 2

***

Kerajaan memberi Wufan sebuah ruangan khusus, dimana ia bisa melakukan ritual-ritual sihir tanpa mengganggu kenyamanan anggota kerajaan. Dan di ruangan inilah Wufan mulai meracik bahan-bahan sesuai dengan resep. Jaewon sesekali membantunya, entah itu mengambilkan bahan yang terlampau jauh darinya, atau mengambil barang yang jatuh karena tak sengaja tergeser. Peluh bercucuran di kening Wufan. Ramuan ini harus selesai dalam waktu 10 menit. Ia berusaha untuk tidak panik ketika teriakan-teriakan muncul didalam benaknya. Tentu saja hanya dia yang bisa mendengarnya, sedangkan Jaewon sedari tadi hanya diam dalam kebingungannya. Suara teriakan tersebut berasal dari masa depan. Masa depan yang sudah diketahui akan terjadi oleh Wufan. Akan ada sebuah wabah yang memporak-porandakan Negeri Pyeonghwa, dan ia sudah seringkali diingatkan oleh kakeknya melalui mimpi.

“Jaewon, carilah Nichan. Beritahu padanya untuk segera bersiap-siap.”, titah Wufan disela pekerjaannya.

“Bersiap-siap untuk apa, Abeoji?”, tanya Jaewon bingung.

“Untuk masuk ke Sekolah Sihir Hanman, sesegera mungkin. Jangan banyak bertanya, dan lakukan saja. Aku tidak bisa mengubah takdir.”, ucap Wufan tanpa memberi sedikitpun ruang bagi Jaewon untuk sekedar menyanggah.

Jaewon keluar dari ruangan ayahnya tersebut. Ingin rasanya ia kabur membawa Nichan pergi. Ia tidak ingin sampai adik satu-satunya itu masuk ke sekolah dengan peraturan yang super ketat tersebut. Ia juga tak yakin adiknya akan betah disana, bahkan hanya untuk satu hari.

Tapi, mendengar perkataan ayahnya tadi membuat Wufan semakin bingung. Bukankah saat di rumah tadi ayahnya bilang tidak ingin mengirim Nichan kesana? Tapi kenapa secepat itu ia berubah pikiran? Pasti ada sesuatu yang tidak beres, dan Jaewon harus mengetahui hal itu.

***

Jarak antara daerah perbatasan dan perumahan warga sekitar 10 kilometer. Itu berarti hanya butuh waktu kurang dari 15 menit hingga serangga-serangga mematikan tersebut bisa dengan semaunya menyerang warga-warga di negeri ini. Sambil terus berpacu dengan kudanya, Pangeran Chanshik memikirkan jalan yang paling baik. Ia yakin para prajuritnya bisa meyakinkan penduduk untuk segera menutup rapat-rapat rumahnya, sesuai dengan yang ia perintahkan sebelumnya. Tapi, ia tidak yakin dengan serangga-serangga itu. Walau semua lubang telah ditutup, masih ada 30% kemungkinan sebuah serangga kecil masuk ke sela-sela rumah yang tak terlihat.

Sesampainya didepan pintu utama kerajaan, ditinggalkan kudanya dan berlari masuk bersama dua prajurit yang ia minta untuk menemaninya. Seluruh anggota kerajaan yang mereka temui langsung diberi peringatan. Tak jarang pelayan istana berteriak sambil lari terbirit-birit mendengar kabar tersebut. Semua jendela langsung ditutupnya. Bahkan sampai saluran air pun ikut ditutup, walau nantinya mereka akan kebingungan mendapat air darimana. Tapi yang dipikirkan sekarang adalah keselamatan.

“Abeonim! Eommonim! Kita harus segera mengevakuasi diri, kumpulan serangga berbahaya datang dan menyengat siapa saja yang mereka temui!”, seru Chanshik tanpa memberi salam terlebih dahulu. Ia terlalu lelah untuk mengingat kata sapaan.

“Serangga? Apa yang kau maksud, Chanshik?”, tanya Ratu Minhyo yang terlihat panik namun tetap mencoba tenang.

“Serangga beracun, sengatannya bisa menimbulkan kelumpuhan dan cedera otak ringan.”, Pangeran Chanshik masih berkata dengan nafas yang terengah-engah.

Wajah Raja Minseok langsung berubah serius. “Perintahkan seluruh anggota kerajaan untuk masuk ke istana! Tak ada yang boleh terpencar! Fokuskan semuanya di gedung utama istana!”, teriak Raja Minseok pada prajurit-prajuritnya yang dengan segera berhambur untuk mengevakuasi yang lain.

***

Aula istana yang semula sepi kini terasa sesak. Bagaimana tidak? Seluruh pelayan dan prajurit kerajaan yang berjumlah sekitar 200 orang kini berkumpul dalam satu ruangan. Paviliun-paviliun kecil yang ada di sekitar istana dikosongkan, semua dilakukan agar pemantauan terpusat di aula ini.

“Kalian pasti sudah mendengar berita yang datang beberapa saat lalu. Negeri kita diserang oleh sekelompok serangga beracun. Untuk itu, seluruh warga diharuskan tetap tinggal di rumahnya sampai keadaan membaik. Kita tidak tahu kapan itu, tapi sepertinya tidak akan bertahan lama. Karena serangga-serangga itu terus terbang ke tempat lain.”, ucap Raja Minseok yang terdengar hingga ujung aula.

Raja Minseok memandang ke sekeliling. Memastikan semua orang yang berada di ruangan tersebut tidak panik, meski sebenarnya ia sendiri panik. Penyerangan tiba-tiba dari serangga itu sangat mungkin membunuh beribu-ribu orang jika tidak ada tindakan cepat.

“Dimana Penyihir Wu?”, tanyanya ketika tak melihat penyihir yang sangat dibanggakannya tersebut.

“Hamba disini, Baginda.”, jawab sebuah suara yang menampakan sesosok tubuh manusia dari lorong istana. Ditangannya sudah bertengger 2 buah kendi setinggi 20 sentimeter.

“Apa kau sudah tahu semua ini akan terjadi?”, tanya Raja Minseok menginterogasi.

Wufan mengangguk. “Saya telah membuat ramuan untuk membunuh para serangga-serangga itu. Hanya saja, Daun Pohon Mabeob yang menjadi unsur utama dalam ramuan ini tidak tumbuh di musim semi. Jadi, ramuan ini hanya akan menghalau mereka ke tempat yang lebih jauh, tidak mematikan mereka.”, jelas Wufan sembari berlutut dan memberikan dua buah kendi tersebut pada Raja Minseok.

“Bagus. Bagaimana cara kerjanya?”, tanya Raja Minseok.

“Hanya perlu disemprotkan pada serangga-serangga itu, dan mereka akan menghilang. Dalam arti lain, berpindah ke suatu tempat yang jauh dari sini.”, singkat dan padat.

“Bagaimana cara menyemprotkannya? Serangga-serangga itu tidak berjumlah ratusan, bahkan sampai ratusan ribu. Dan lagi, mereka tersebar di pemukiman-pemukiman warga. Tentu akan memakan waktu lama jika kita menyemprotnya secara perorangan.”, pikir Raja Minseok sembari menatap jendela istana yang tertutup rapat. Dilihatnya serangga-serangga itu sedang mencoba masuk melalui lubang-lubang kecil.

“Abeoji, bukankah serangga berbahaya biasanya tidak menyerang binatang lain? Mereka hanya menyerang manusia, bukan?”, tanya Nichan ditengah acara berpikir.

“Ya, mereka tidak akan menyerang sesama binatang.”, jawab Wufan singkat.

“Kenapa kita tidak menggunakan burung merpati yang biasa digunakan untuk mengirim surat? Mereka akan terbang bebas di langit sembari menjatuhkan air-air ramuan itu.”, usul Nichan dan mendapat jentikan jari dari Raja Minseok.

“Cerdas. Siapkan seluruh burung merpati kerajaan! Kita akan mempunyai misi besar untuk mereka!”

***

Beribu-ribu merpati putih diterbangkan ke angkasa melalui jendela istana. Beberapa serangga mematikan itu menyusup masuk saat jendela terbuka lebar. Antisipasi yang bagus karena seluruh isi aula telah memegang satu semprotan berisi ramuan yang dibuat Wufan. Hingga tak ada yang terluka sama sekali.

Raja Minseok memperhatikan dengan seksama dari jendela istana yang lain. Setiap kali satu titik air jatuh mengenai serangga mematikan itu, tubuh si serangga langsung menghilang tak berbekas. Entah ke daerah mana ia dipindahkan, namun itu cukup membuat Raja lega. Setidaknya ia bisa mempunyai waktu untuk membuat langkah antisipasi lain setelah ini, berjaga-jaga jika mereka kembali suatu saat nanti.

Pangeran Jongin dan Pangeran Chanshik mendekati ayahnya. Memberi penghormatan dan senyum yang membuat Raja Minseok ikut tersenyum.

“Kau sudah melakukannya dengan baik, Chanshik.”, Raja Minseok menepuk bahu anaknya tersebut. “Kau tentunya harus melakukan tugasmu nanti sebaik hyungmu ini.”, ia menepuk pundak Jongin.

Keadaan di aula istana sudah mulai sepi kembali. Setelah keadaan dinyatakan aman, semua menjalankan aktivitasnya lagi seperti biasa, meski diselingi rasa was-was.

“Aku tidak bekerja sebaik itu, Abeonim. Di ujung pedesaan dikabarkan 146 warga tewas karena serangga ini.”, Pangeran Chanshik tertunduk malu. Penyesalan melingkupi seluruh tubuhnya saat ini.

“Tidak ada rencana yang berjalan mulus tanpa masalah. Jika kau tidak bekerja secepat ini, mungkin korban akan lebih banyak.”, ujar Raja Minseok dengan bijaksananya.

“Oya Jongin, tadi pagi kulihat kau berjalan-jalan dengan Nichan, anak Penyihir Wu, benar kan?”

Sejenak Pangeran Jongin membisu, ia takut salah menjawab. “Benar, Abeonim.”

“Itu berarti kau sudah cukup kenal dengannya, bukan? Aku ingin kau membujuknya untuk mau masuk ke Sekolah Sihir Hanman. Aku melihat bakat sihir yang besar dalam dirinya.”, ucap Raja Minseok sukses membekukan Pangeran Jongin di tempatnya. “Lebih cepat lebih baik, karena mereka tidak suka siswa yang bergerak lambat.”

***

Jaewon sedaritadi tidak mengeluarkan suaranya. Dari mulai ketika mereka berkumpul di istana, maupun setelah mereka kembali lagi ke tempat masing-masing, bahkan saat ia dan Nichan berada dalam satu meja seperti halnya sekaranng. Hal itu tentu membuat Nichan canggung untuk menyapanya terlebih dahulu. Sebenarnya ia sudah biasa menghadapi sifat kakaknya yang labil itu, tapi sampai sekarang ia masih belum menemukan hal yang bisa membuat Jaewon move on dari keburukan suasana hatinya.

“Nichan, apakah Jaewon sudah memberitahu sesuatu hal padamu?”, tanya Wufan menyadari kebisuan diantara kedua anaknya.

“Oppa tidak memberitahukan apapun, Abeoji. Memangnya ada apa?”

“Biar aku saja yang mengatakannya, Abeoji.”, pinta Jaewon sembari meninggalkan rumah.

Nichan menatap Wufan sejenak. Setelah mendapat persetujuan ayahnya, ia mengikuti langkah Jaewon keluar rumah. Sepertinya ada hal penting yang tak ia tahu. Dan sekarang adalah saatnya ia mengetahui semua.

Mereka berhenti didepan lapangan sepak bola, keadaan sedang sepi saat itu. Tidak ada prajurit istana yang tengah melatih diri atau sekedar melepas keinginannya untuk bermain. Hal itu sangat menguntungkan, mengingat Jaewon hanya ingin berbicara berdua dengan Nichan.

“Kau tahu, Raja sangat menginginkanmu masuk ke sekolah sihir.”, ucap Jaewon membuka percakapan. Matanya menatap lurus kearah rumput hijau lapangan. Tidak tertarik menatap Nichan yang ada disampingnya.

“Sekolah sihir? Untuk apa?”, tanya Nichan heran.

“Raja mengatakan kau mempunyai darah sihir yang kuat, mungkin bisa saja menandingi Abeoji.”, jelas Jaewon. “Beliau ingin mengirimu ke Sekolah Sihir Hanman, kau tahu sekolah itu kan?”, kali ini barulah Jaewon menatap adiknya.

“Ya, aku tahu. Bukankah sangat sulit masuk kesana? Lagipula aku belum siap jika harus berpisah dengan Abeoji, Eomoni, dan Oppa selama delapan tahun.”, Nichan memeluk lututnya erat. Menimang-nimang perkataannya barusan.

“Aku juga belum siap melepasmu untuk pergi kesana. Kau tahu, meski sihir Abeoji sangat kuat tetaplah kemampuannya tak bisa menembus pertahanan sihir di sekolah itu.”, cerita Jaewon.

“Tapi ini perintah Raja, apa dia akan mendengar keluhan-keluhanku dengan alasan belum siap?”, tanya Nichan tak yakin.

“Aku tahu dia pasti akan memaksamu. Bahkan kemarin, Abeoji yang semula tak setuju tiba-tiba saja menyetujui rencana itu. Aku tak tahu alasannya apa.”, ungkap Jaewon. “Tapi jika kau memang benar-benar tidak ingin, aku bisa membantumu mengatakannya pada Raja. Mudah-mudahan dia mau mengerti.”

“Entahlah oppa, akan kupikirkan lagi.”, Nichan beranjak dan mulai melangkah menjauhi lapangan. Meninggalkan Jaewon yang masih duduk menghadap blok-blok rerumputan berwarna hijau tersebut.

***

“Nichan-ssi!”, panggil seseorang saat Nichan sedang berjalan didepan pintu istana. Nichan menoleh seraya membungkukan badannya, memberi penghormatan. Pangeran Jongin.

“Apa kau ada waktu? Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”, ucap Pangeran Jongin mengajak Nichan melangkah ke tempat yang lebih privat.

“Tentang rencana Raja untuk memasukanku ke sekolah sihir?”, tebak Nichan layaknya peramal.

“Kau sudah tahu?”, sejenak Pangeran Jongin menghentikan langkahnya. Mungkin Nichan sudah mengetahuinya dari Penyihir Wu, pikirnya.

“Ya, Jaewon oppa baru saja memberitahuku.”, jujurnya. Ia melangkahkan kakinya kembali, diikuti oleh Pangeran Jongin yang memposisikan diri disebelah Nichan.

“Jadi bagaimana keputusanmu? Kau tidak akan pergi kesana, kan?”, tanya Pangeran Jongin menginterupsi langkah Nichan.

Nichan berhenti sejenak sembari berpikir. “Aku sebenarnya memang tidak ingin, tapi apa aku bisa memberikan alasan yang membuat Raja menerima permintaanku?”, Nichan kembali berjalan. Otaknya terus berpikir, kira-kira apa keuntungan dan kerugiannya dia masuk ke sekolah itu. Juga keuntungan dan kerugiannya jika ia tidak masuk.

“Jadi kau akan melakukannya dengan terpaksa?”, tanya Pangeran Jongin tak percaya.

“Kurasa tidak. Lagipula, apa salahnya mencoba hal yang baru? Bukankah Raja bilang aku memiliki bakat di bidang sihir?”, ujar Nichan, memberi pertimbangan.

“Tapi kau akan masuk asrama disana, kau pikir aku akan mengizinkanmu?”

“Berhentilah bersikap seperti itu, kumohon. Sekarang keadaan sudah berbeda. Kau, adalah putera raja disini. Sedangkan aku, anak dari seorang penyihir yang secara beruntung bisa menemuimu lagi di istana.”, ucap Nichan pelan. Takut ada pelayan yang lewat dan mendengar perbincangan mereka.

Pangeran Jongin mendesah keras. “Jadi bagaimana keputusanmu?”

“Aku, mungkin akan mengambil kesempatan itu.”, jawab Nichan pasti. Pertengkaran di otaknya akhirnya menghasilkan satu keputusan.

“Kau yakin? Bagaimana denganku? Aku akan segera menggantikan tahta ayahku untuk menjadi Raja. Dan aku ingin kau yang mendampingiku di singgasana nanti.”, secara tidak langsung, ini adalah pernyataan lamaran dari Pangeran Jongin untuk Nichan.

“Sudah kukatakan, status kita tidak sama lagi sekarang. Normalnya, seorang putera raja akan memilih puteri-puteri dari Negeri lain, kan? Kau juga harus begitu.”

“Itu adalah normalnya, sedangkan aku abnormal.”, ucap Pangeran Jongin, mencubit pipi Nichan kemudian berlari kearah istana, meninggalkan Nichan sendiri.

“Uh! Sifatnya masih sama seperti Kai oppa, tidak berubah.”, gerutu Nichan sembari melangkah menuju kediamannya. Akan diceritakan keputusannya sekarang juga pada ayahnya.

***

Sekolah Sihir Hanman. Sekolah idaman para siswa-siswi yang tertarik dengan ilmu sihir. Sekolah favorit yang kadang ditakuti pula. Selain karena seleksi masuknya yang sangat ketat, peraturannya pun bisa dibilang tidak jauh dengan yang ada di kemiliteran. Bangun pukul 6 pagi, jika tidak, ada ratusan liliput yang akan mencubitimu setiap malam sepanjang 7 hari. Menggunakan seragam khusus yang disediakan oleh sekolah, jika tidak, setiap hari hanya akan disediakan air mendidih untukmu mandi selama 7 hari. Tidak diperkenankan berkomunikasi dengan dunia luar, itu berarti kau mengeluarkan dirimu sendiri dari sekolah. Tidak akan ada sekolah lain yang akan menerimamu. Begitulah.

Dinding-dinding batu yang menghiasi seluruh detail bangunan membuat kesan dingin. Ditambah lagi, penghuni sekolah yang hanya sekitar 70 orang saja. Itu sudah termasuk guru, pelayan asrama, serta murid di tingkat satu, dua, dan tiga. Jangan heran jika di sudut matamu kadang terlihat benda-benda kecil yang bergerak, mungkin itu adalah liliput. Liliput ini adalah semacam mata-mata bagi para murid yang kemungkinan besar akan membuat pelanggaran saat guru yang bertugas mengajar sedang lengah atau tidak ada didekat mereka.

Meski dengan peraturan yang sangat ketat tersebut, kehidupan di sekolah ini sangat harmonis. Karena sedikitnya jumlah penghuni, seluruhnya bisa langsung mengenal satu sama lain. Tidak ada kesenjangan antara senior dan junior, karena pada dasarnya mereka dididik untuk menomorsatukan kekeluargaan antar anggota. Jika ada yang merasa terganggu, maka akan ada ruangan khusus untuk membicarakannya secara damai. Tapi, jika sudah tidak bisa dibicarakan secara damai, Sekolah Sihir Hanman juga memiliki sebuah ruang sidang. Dimana didalamnya terdapat hakim dan jaksa yang akan berperan sesuai tugasnya. Banyak murid yang gugur dari sekolah ini karena mendapat masalah dan berhadapan dengan sidang. Jadi, jika kau sudah memiliki masalah dan sudah masuk ke ruang sidang ini, kemungkinan untuk tetap bisa bersekolah di Hanman hanya sekitar 20 persen.

Dari 10 orang siswa yang diterima setiap tahunnya, biasanya hanya ada 2 atau 3 orang saja yang bisa bertahan hingga akhir tahun kedelapan. Alasan terbesarnya tentu karena peraturan yang ketat tadi. Keuntungan yang akan didapat jika kau berhasil menyelesaikan hingga tahun kedelapan adalah namamu akan terpajang sebagai penyihir dengan kemampuan paling hebat, dan itu diakui di seluruh dunia. Dan tak jarang, kau akan mendapat tempat terhormat di berbagai kerajaan yang tersebar di belahan dunia manapun.

Hari ini, persis pertengahan Bulan April adalah penerimaan siswa baru di Sekolah Sihir Hanman. Sudah ada beribu-ribu surat lamaran yang masuk. Dan sudah ada pula 10 nama yang akan diterima di sekolah ini. Sebut saja kriteria penerimaannya adalah: harus memiliki keinginan yang kuat untuk mempelajari sihir, mental yang kuat, dan tentu saja berasal dari keluarga dengan reputasi yang tinggi di masyarakat. Disamping menomorsatukan otak yang extra ordinary, Hanman juga menomorsatukan reputasi. Mereka selalu ingin dianggap menjadi sekolah yang berkasta tinggi.

Dan disinilah 10 orang itu sekarang. Menunggu didepan gerbang sekolah yang belum terbuka. Sekarang pukul 10.55, itu berarti gerbang akan dibuka tepat 5 menit lagi. Tidak mungkin lebih cepat ataupun lebih lambat. Semua pasti akan sesuai dengan jadwal. 5 murid laki-laki dan 5 murid perempuan. Ke sepuluh siswa baru ini sudah mengenakan seragam sekolah lengkap berwarna biru kehitaman. Di hari pertama ini akan ada pencarian bakat sihir. Dengan satu pertemuan saja, pengajar sudah bisa mengetahui apakah siswa tersebut memiliki bakat di bidang sihir putih, atau sihir hitam.

“Seluruh siswa diperkenankan masuk kedalam lingkungan sekolah. Menuju aula utama dalam waktu 5 menit.”, ucap seseorang yang terdengar melalui speaker.

Seketika pintu gerbang terbuka, masuklah para siswa tersebut kedalam dan segera dicari aula utama yang dimaksud. Beruntung, lokasinya tidak jauh dari pintu gerbang, mereka hanya memerlukan waktu 3 menit untuk berlari kesana.

“Selamat datang siswa-siswi pilihan. Kalian adalah 10 orang terbaik dari 1800 siswa yang melamar ke sekolah ini. Seperti biasa, di awal perjumpaan kita akan berkenalan satu sama lain.”, ucap seorang guru yang tengah berdiri diatas panggung di aula tersebut. Para siswa yang masih belum bisa mengatur napas dengan baik itu pun harus menelan ludah. Keinginan mereka sampai disini adalah masuk ke asrama dan mengistirahatkan sejenak tubuh masing-masing, semua itu luntur seketika.

“Baik, dimulai dari ujung kanan. Perkenalkan diri kalian masing-masing didepan sini.”, ucap guru perempuan tersebut dengan rambut yang tinggi karena disasak. Pertanyaannya adalah, apakah di sekolah seperti ini disediakan salon?

Murid yang ditunjuknya maju. Agak risih karena ia membawa koper di masing-masing tangannya.

“Annyeonghaseyo, Baek Ye Ri imnida. Aku berasal dari Namguk.”, ucapnya kemudian kembali ke tempat semula, masih dengan dua koper itu.

“Annyeonghaseyo, Nam Min Seul imnida. Aku berasal dari Sangmyeon.”

“Annyeonghaseyo, Han Jong Tae imnida. Aku berasal dari Chulsang.”

“Annyeonghaseyo, Byun Baek Hyun imnida. Aku berasal dari Hwanggyu.”

“Annyeonghaseyo, Lu Han imnida. Aku berasal dari China, tapi tempat tinggalku di Hwanggyu.”, dia adalah satu-satunya murid dari luar Korea.

“Annyeonghaseyo, Kim Goo Rim imnida. Aku berasal dari Dooji.”

“Annyeonghaseyo, Lee Chan Mi imnida. Aku berasal dari Hoonsan.”

“Annyeonghaseyo, Jang Ha Seop imnida. Aku berasal dari Yongdae.”

“Annyeonghaseyo, Park Chan Yeol imnida. Aku berasal dari Ilnam.”

“Annyeonghaseyo, Wu Ni Chan imnida. Aku berasal dari Pyeonghwa.”

Tidak ada satu pun murid yang terlihat mencolok. Mereka semua berpenampilan kasual layaknya anak sekolah.

“Baiklah, kalian akan mendapatkan kelas setelah beristirahat selama 2 jam. Namaku Seo Rin Yong, salah satu pengajar kalian di tingkat satu. Tanyakan padaku jika ada hal-hal yang mengganggu kalian.”, ucapnya kemudian meninggalkan ruangan.

***

“Jadi kau berasal dari Pyeonghwa?”, tanya seorang namja pada Nichan yang sedang berjalan ke lorong asramanya.

“Ya, kau yang tadi berasal dari.. ehm Hwanggyu?”, tebak Nichan karena ia sedikit lupa.

“Benar, namaku Baekhyun. Ayo kita berteman dengan baik.”, ajaknya.

“Baiklah, namaku Nichan, senang bertemu denganmu Baekhyun-ssi.”, Nichan tersenyum ramah. “Asrama laki-laki ada di sebelah kiri kan? Kalau begitu, aku akan pergi ke kanan. Sampai bertemu lagi!”, ucap Nichan sembari melambaikan tangan.

Baekhyun membalas dengan melambaikan tangan juga. Belum sampai mereka di pintu kamar masing-masing, suara speaker menggema di seluruh bagian sekolah.

“Baek Ye Ri masuk ke dalam kelas sihir putih. Nam Min Seul masuk ke dalam kelas sihir hitam. Han Jong Tae masuk ke dalam kelas sihir putih. Byun Baek Hyun masuk ke dalam kelas sihir hitam. Lu Han masuk ke dalam kelas sihir putih. Kim Goo Rim masuk ke dalam kelas sihir putih. Lee Chan Mi masuk ke dalam kelas sihir putih. Jang Ha Seop masuk ke dalam kelas sihir putih. Park Chan Yeol masuk ke dalam kelas sihir hitam. Wu Ni Chan masuk ke dalam kelas sihir hitam.”

.

.

.

TO BE CONTINUED

09 Juni 2013

Advertisements

4 thoughts on “FF : BLACK MAGIC (Chapter 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s