wpid-picsart_1400026553768.jpg

FF : BLACK MAGIC (Chapter 2)


image

BLACK MAGIC (Chapter 2)

Kim Jong In (EXO, Kai) as Pangeran Jongin

Gong Chan Shik (B1A4, Gongchan) as Kim Chan Shik – Pangeran Chanshik

Kim Min Seok (EXO, Xiumin) as Raja Minseok

Choi Min Hyo (OC) as Ratu Minhyo

Wu Yi Fan (EXO, Kris) as Wufan – Penyihir Wu

Wu Jae Won (OC) as Wu Jae Won

Wu Ni Chan (OC) as Wu Ni Chan

Genre : Fantasy, Romance, Family, Friendship

Rating : Teenage

Length : Multichapter

Author : @ririnovi

Yesss baru bisa nge-post part 2 nya sekarang. Sekalian nunggu teaser MV Overdose yang katanya confirmed ya sore ini. Gak tau deh jam berapa, hahay.

FF ini sebenernya udah aku kerjain sampe part 7, kita liat aja nanti apakah pas part 7 di post semua ceritanya udah selesai atau belum hehe. Oya, ff ini juga aku kirim ke exofanfiction dengan nama author yang sama. Okai deh, happy reading^^

Prolog

Chapter 1

*

“Aku lelah sekali, eomma. Dua pangeran itu ternyata tidak seberwibawa yang kubayangkan. Mereka pintar melemparkan lelucon seperti teman-temanku yang lain.”, cerita Jaewon saat ia duduk di meja makan bersama keluarga kecilnya.

“Saat bergaul dengan temannya, dan saat berada dihadapan publik, sikap mereka pasti berbeda. Bagaimanapun, mereka tetap seperti remaja-remaja pada umumnya.”, jelas Eunra.

“Aku jadi berpikir, apa mereka mempunyai teman? Selama ini kan kehidupan mereka selalu berkutat di area kerajaan. Aku tidak pernah melihatnya berkeliling di pusat kota untuk berbelanja atau sekedar berjalan-jalan di taman kota untuk menghilangkan kejenuhan.”, komentar Nichan.

“Apa kau tak lihat? Semua yang mereka butuhkan ada disini. Ada lapangan yang bisa mereka gunakan untuk bermain, juga ada taman yang luas jika mereka ingin berjalan-jalan. Kurasa, aku juga akan berpikir dua kali untuk pergi keluar dari istana ini.”, ujar Jaewon sembari membayangkan dirinya adalah putera raja.

“Selain itu, bukankah akan sangat berbahaya jika penghuni kerajaan berkeliaran di tengah kota? Bagaimana jika ada yang mengenali mereka, kemudian bertindak jahat? Sesukses apapun seorang pemimpin, pasti ada oknum-oknum yang membenci mereka. Dan para oknum itulah yang dikhawatirkan akan melakukan tindakan jahat pada anggota kerajaan.”, jelas Eunra lagi.

“Benar juga apa kata Eomma. Oya, Abeoji, lukisan itu, dimana aku pernah melihatnya?”, tanya Nichan.

“Apa kau tak ingat? Beberapa bulan yang lalu, kau membuat lukisan yang sama persis dengan itu.”, ujar Wufan mencoba menarik ingatan anaknya.

“Ah? Terlalu banyak lukisan yang kubuat sampai aku tak bisa mengingat satu per satu.”, terang Nichan mencoba mengingat lukisan bergambar pemandangan yang pernah ia buat.

“Lukisan yang seperti apa memangnya?”, tanya Jaewon ingin tahu.

Wufan menunjukkan lukisan yang masih bisa digapai oleh tangannya yang panjang. Hingga sekarang, ia masih bisa merasakan kekuatan sihir yang dipancarkan oleh lukisan tersebut.

“Ah ya! Nichan-ah, kau membuat lukisan ini untuk pacarmu itu kan, aku lupa siapa namanya. Ka.. Kao.. Kai.. Ya, Kai!”, teriak Jaewon bersemangat.

Nichan hanya menekuk wajah. Ia sudah pernah mengingatkan oppa-nya itu agar tak ada satupun yang tahu bahwa Kai adalah pacarnya, ehm mungkin sekarang sudah tidak. Dan sekarang, kedua orangtuanya tahu.

“Jadi Kai itu pacarmu?”, tanya Eunra.

“Bukan eomma, dia temanku.”, bohong Nichan sembari menginjak perlahan kaki oppa-nya dari bawah meja.

Wufan tidak banyak berkomentar. Dia sudah tahu semuanya. Kekuatan telepati yang dimilikinya bisa tersambung dengan baik kepada istri dan kedua anaknya. Dia bisa dengan bebas membaca pikiran mereka bertiga. Dia juga sudah tahu lama bahwa anaknya memiliki hubungan khusus dengan namja bernama Kai itu. Bahkan dia sangat tahu siapa Kai sebenarnya. Darimana ia berasal, hal yang tak pernah diceritakan Nichan pada siapapun. Termasuk pada Jaewon, tempat biasanya ia berbagi cerita.

*

“Hyungnim akan pergi lagi? Kemana?”, tanya Pangeran Jongin saat melihat Pangeran Chanshik sudah rapi dengan pakaian prajuritnya. Padahal hari masih sangat pagi.

“Umurku sudah 20 sekarang, aku mempunyai tanggungjawab yang Abeonim berikan untukku. Kau tahu kan, menjaga perbatasan bukan merupakan hal yang mudah.”, cerita Pangeran Chanshik.

“Ya, aku mengerti. Hanya saja, apa tak terlalu aneh jika seorang putera raja menjadi seorang prajurit penjaga perbatasan?”

“Tentu saja aku tidak seperti prajurit pada umumnya. Aku bertugas memberi komando kepada prajurit lain. Bisa dibilang, aku adalah komandan pasukan mereka. Aku tidak turun ke medan perang jika terjadi penyerangan. Aku akan turun jika memang keadaan sudah mendesak. Dan, aku harus menyembunyikan identitasku sebagai putera raja. Jika tidak, kau tahu kan pasti aku yang akan menjadi target penyerangan mereka.”

“Tugasmu sangat berat, hyungnim. Aku salut padamu.”, puji Pangeran Jongin sembari menepuk pelan pundak hyung-nya itu.

“Itu tidak seberapa dengan tugasmu nanti. Aku hanya bertugas mengarahkan satu pasukan, sementara kau akan bertugas mengarahkan seluruh pasukan-pasukan yang ada. Tapi aku percaya, kau bisa melalui itu semua.”, Pangeran Chanshik tersenyum kemudian melangkahkan kakinya menuju halaman istana. Dimana disana ada beberapa orang prajurit yang sudah menyiapkan kuda yang akan ditungganginya. Beberapa menit kemudian, mereka hilang dari pandangan Pangeran Jongin.

“Aku harus menemuinya sekarang juga.”

*

“Oppa akan pulang sebentar lagi, ya?”, tanya Nichan sembari bersandar di pundak namjachingu-nya.

“Ani.”

“Wae? Bukankah sudah hampir genap dua tahun? Kau harus segera pulang, bukan?”, ia beranjak kemudian memandang wajah namjachingunya penuh tanya.

“Memang sudah hampir dua tahun. Tapi aku belum ingin pulang. Aku ingin tinggal dua kali lipat lebih lama dari waktu minimal.”

“Maksudmu, ehm 4 tahun?”, Nichan memastikan.

“Kurasa begitu. Aku masih punya banyak waktu untuk menemanimu disini.”

“Tapi, mungkin Abeoji sudah mengetahui identitasmu. Kau tahu kan, dia orang yang sangat hebat?”

“Ya, aku juga merasa seperti itu. Tapi aku senang dia bisa merahasiakan ini semua pada orang-orang, termasuk pada kita. Yang lebih membuatku senang adalah, dia tidak melarang ataupun menuntut kita meski ia tahu siapa aku.”

“Jadi, kita tidak akan berbagi cerita pada Abeoji-ku?”

“Kupikir tidak perlu, toh dia sudah mengetahui semuanya.”

*

Pagi yang cerah ini tak disia-siakan oleh Jaewon. Sejak matahari belum muncul dari peraduannya, ia sudah keluar dari rumah dan menikmati kesejukan yang jarang ia dapat. Di rumahnya yang dulu, tidak banyak tanaman menghiasi pekarangannya. Hanya ada tembok batu besar yang dibuat ayahnya untuk menghalau sihir jahat yang bisa muncul kapan saja. Pernah Nichan menanam sebuah pohon kecil di halaman, tapi beberapa hari kemudian pohon tersebut langsung mati. Padahal Nichan selalu merawatnya dengan baik. Mungkin tanaman tidak mempunyai sinkronasi yang baik dengan sihir.

Pandangan Jaewon tertuju pada gerbang istana yang terbuka. Benda itu selalu menimbulkan suara yang menarik perhatian jika ada seseorang yang masuk atau keluar. Ternyata kali ini ada satu pasukan prajurit yang akan meninggalkan istana. Entah mereka akan melakukan tugas dari raja, atau sekedar berpatroli. Ia melihat seseorang yang sudah tak asing. Bagaimana tidak, baru saja kemarin ia berlatih panahan bersamanya.

“Apa yang akan dilakukan Pangeran Chanshik diluar istana?”, Jaewon seperti biasa, selalu ingin tahu banyak hal.

Pertanyaannya buyar begitu saja saat dilihatnya Pangeran Jongin sedang berjalan kearahnya. Pakaiannya santai, tidak seformal saat mereka bertemu di ruang utama kerajaan. Namun juga bukan pakaian yang kemarin ia pakai saat panahan. Buyarnya pertanyaan tadi malah menimbulkan pertanyaan baru. Untuk apa Pangeran Jongin datang ke tempatnya?

“Selamat pagi, Jaewon-ssi.”, sapa Pangeran Jongin.

Agak kaget karena ternyata Pangeran Jongin sudah ada dihadapannya, Jaewon langsung menundukkan tubuh. Hal yang seharusnya ia lakukan pada keluarga kerajaan.

“Bukankah kemarin aku sudah memberitahumu untuk tidak melakukan penghormatan berlebihan seperti yang lain? Kita kan teman.”, Pangeran Jongin menjulurkan tangan kanannya. Meminta Jaewon untuk meraihnya sebagai tanda bahwa mereka benar-benar berteman.

“Ah, mianhae.”, Jaewon menerima uluran tangan Pangeran Jongin. “Tapi, apa yang membuatmu kemari?”, tanya Jaewon sebiasa mungkin.

“Aku hanya berkunjung. Hyungnim baru saja pergi, jadi aku tidak memiliki teman lagi selain kau. Kau tidak keberatan, kan?”

“Tentu saja tidak. Apa yang biasanya kau lakukan jika sedang sendiri disini?”, tanya Jaewon.

“Oppa! Eomma sudah memanggil kita untuk sarapan! Ayo cepat, bisa-bisa..”, teriakan Nichan terhenti saat ia melihat seseorang disamping oppanya. “Oh, mianhamnida. Aku tak tahu jika ada Pangeran disana.”, Nichan menundukkan kepalanya lalu membungkuk beberapa kali karena malu.

“Gwaenchanhayo, kalian masuk saja. Mungkin aku akan kembali siang nanti. Annyeong..”, Pangeran Jongin menunduk pelan kemudian mulai beranjak meninggalkan posisinya.

“Ah, chamkkanmanyo Jongin-ssi!”, cegah Jaewon.

Pangeran Jongin menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Jaewon.

“Mungkin kau bisa ikut makan bersama kami. Ehm, itu pun jika kau tidak keberatan untuk masuk kedalam.”, tawar Jaewon sesopan mungkin.

“Apa aku diizinkan masuk?”, kali ini Pangeran Jongin menatap Nichan. Nichan yang sedang diam, kaget karena mendapat tatapan tiba-tiba dari Pangeran Jongin.

“Tentu saja, Pangeran bisa masuk kemari kapanpun. Karena yang kami tempati juga milik keluarga kerajaan.”, jawab Nichan sembari menunduk malu. Mungkin karena Pangeran Jongin terlalu tampan untuk ditatap.

“Ayo kita masuk bersama!”, ajak Jaewon.

Wufan menoleh saat mendengar suara pintu yang terbuka. Membuatnya sejenak menghentikan aktivitas di meja makan. Begitupula dengan istrinya, Eunra. Selama detik itu mereka terpana. Namun di detik berikutnya, mereka tersadar kemudian segera memberikan penghormatan penuh pada sang pangeran.

“Eomoni, Abeoji, bukankah tidak apa jika Pangeran Jongin ikut sarapan bersama kita disini?”, tanya Jaewon hati-hati.

“Oh, apa itu sungguhan? Tentu saja boleh. Mari pangeran, silakan duduk.”, ujar Eunra seraya membersihkan tempat duduk yang sebenarnya sudah sangat bersih. Anggap saja hal itu merupakan simbolisme dari kesopanannya.

Pangeran Jongin mengangguk antusias, apalagi setelah melihat makanan yang ada diatas meja. Makanan-makanan yang hanya bisa ia jumpai sewaktu tinggal di desa. Ada kimchi mentimun, makanan yang sangat ia sukai. Dan wow, diujung meja ada sup ikan! Makanan yang tak pernah dibuat sebagai menu kerajaan, padahal rasanya sangat nikmat. Pangeran Jongin berseru riang dalam hatinya. Sudah lama juga ia tidak berkumpul dengan keluarga ini.

*

“Pangeran, sepertinya akan ada serangan binatang asing dari arah utara.”, terang seorang prajurit.

“Sudah berapa kali kuingatkan padamu, panggil aku komandan!”, sentak Pangeran Chanshik.

“Joesonghamnida, komandan.”, si prajurit membungkuk dalam.

“Sudahlah. Seperti apa binatang yang kau maksudkan tadi?”

“Negeri seberang mengatakan ada serangga berbahaya. Ciri-cirinya ia memiliki tubuh bercahaya seperti kunang-kunang, namun juga memiliki sengat seperti lebah. Jika siang hari, binatang ini terlihat serupa dengan belalang sembah, dan mereka hidup berkelompok. Di Negeri seberang, binatang ini sudah menciptakan sebuah wabah penyakit baru. Orang yang tersengat akan mengalami kelumpuhan dan cedera otak ringan.”, jelas prajurit dengan nada khawatir.

“Kira-kira berapa jumlah binatang-binatang itu?”

“Bisa mencapai puluhan ribu, bahkan ratusan ribu.”

“Kurasa kita harus segera memberitahu..”

“Komandan! Ada sekumpulan lebah beracun yang datang dari arah utara! Mereka menyengat siapapun manusia yang mereka temui!”, teriak prajurit lain sembari berlari-lari kearah Pangeran Chanshik.

“Mwoya?? Serangga itu sudah datang? Baiklah, semuanya mundur! Menyebar ke desa dan beritahu semua warga untuk tidak meninggalkan rumah! Menutup semua celah-celah sekecil apapun yang ada di rumah mereka! Sekarang!”, perintah Pangeran Chanshik dengan teriakannya. Seluruh prajurit menurut dan mulai menyebar ke segala arah.

“Kau dan kau. Kalian ikut aku ke kerajaan. Kita juga perlu memberitahu warga kerajaan tentang hal ini.”, suruh Pangeran Chanshik pada dua prajurit yang ada dihadapannya.

*

“Kemana Jaewon?”, tanya Pangeran Jongin.

“Oppa sedang bersama Abeoji. Mereka harus kembali ke rumah lama kami dan mengambil sesuatu yang penting disana.”, jawab Nichan canggung.

“Kenapa kau begitu canggung saat berbicara denganku?”, tanya pangeran lagi.

“Karena kau seorang pangeran, aku harus tetap bersikap sopan padamu. Mungkin itu bukan nada canggung, hanya nada hormat.”, jawab Nichan tanpa menatap Pangeran Jongin.

Mereka sekarang sedang berjalan santai di taman istana. Sejak acara sarapan bersama tadi, Jaewon langsung pergi dengan Wufan. Jadi, teman Pangeran Jongin kini hanya Nichan.

“Apa julukan Pangeran terdengar cocok untukku?”

“Entahlah, kurasa aku sudah terbiasa memanggilmu dengan nama lain.”, ucap Nichan jujur.

“Nama apa? Nama yang kupakai saat tinggal di desa? Apa kau mau memanggilku dengan nama itu lagi?”, tawar Pangeran Jongin.

“Ehm, tidak. Kurasa aku hanya akan menyebutkannya satu kali. Sekedar melepas kerinduanku dengan nama itu. Apakah aku salah?”, tanya Nichan saat melihat raut wajah Pangeran Jongin yang sedikit sedih, mungkin juga terkesan tidak puas.

“Kau yakin hanya akan menyebutkannya satu kali? Aku sangat berharap kau akan menyebutnya lagi setiap hari.”

“Tentu saja tidak bisa. Kau tahu kan, kita tidak boleh membongkar apapun yang pernah terjadi dulu?”

“Baiklah. Sebut namaku untuk sekali.”

Nichan terlihat sedikit canggung. “Kai oppa.”

*

“Sebenarnya apa yang kau cari sedari tadi, Abeoji?”, tanya Jaewon saat melihat ayahnya sibuk membongkar berkas-berkas yang ada di sebuah lemari kayu.

“Aku sedang mencari ramuan obat. Semua orang akan membutuhkannya.”

“Obat? Obat apa?”, tanya Jaewon lagi, penasaran.

“Bantu saja mencari. Jika kau menemukan kumpulan data dengan nama Future locust disease segera beritahu aku.”, titah Wufan, dan Jaewon hanya menurut tanpa bertanya apa-apa lagi. Ia tahu, saat ini ayahnya sedang sangat serius.

Disela keseriusan mereka mencari data tersebut, Wufan tiba-tiba memcah kesunyian.

“Raja ingin mengirim Nichan ke sebuah sekolah sihir. Dia mengatakan Nichan memiliki kemampuan sihir yang sangat luar biasa.”, ujar Wufan pelan, namun masih terdengar oleh Jaewon.

Jaewon masih diam.

“Aku ingin kau memberitahu pada Nichan tentang hal ini, dan tanyakan apakah dia setuju atau tidak. Jujur saja, aku masih khawatir untuk mengirimnya ke sekolah seperti itu. Kita tidak tahu penyihir macam apa yang akan ada disana. Apakah penyihir beraliran sihir putih, atau sihir hitam.”

“Sekolah sihir apa yang Raja pilihkan untuk Nichan, Abeoji?”, tanya Jaewon serius.

“Sekolah Sihir Hanman. Kau tahu kan sekolah itu?”, tanya Wufan.

“Ne, Abeoji. Sekolah sihir yang sangat tertutup itu, bukan? Dan bukankah membutuhkan waktu lama untuk lulus dari sekolah itu? Lagipula, apa Nichan bisa masuk kedalamnya? Yang kudengar dari 1000 siswa yang mendaftar hanya 10 orang yang terpilih.”

“Dia akan terpilih, dan itulah yang menjadi ketakutanku sekarang. Selama 8 tahun siswa disana tidak diperbolehkan meninggalkan asrama. Itu berarti, selama 8 tahun itu pula kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada Nichan.”, Wufan sejenak menghentikan aktivitasnya kemudian menatap Jaewon.

Jaewon pun ikut menghentikan aktivitasnya. Menatap kosong pada berkas-berkas yang entah isinya tentang apa. Bagaimanapun, Nichan adalah adik yang sangat ia sayangi walaupun mereka sering bertengkar. Dan dia tak ingin sesuatu yang buruk menimpa adik satu-satunya tersebut.

“Ah, apakah ini, Abeoji?”, Jaewon menyodorkan sekumpulan kertas-kertas usang pada Wufan.

Wufan tersadar. Mengambilnya kemudian membaca sekilas.

“Bulan apa sekarang?”

“Bulan keempat.”

“Bagus! Kau menemukan berkasnya. Sekarang kita harus segera kembali ke istana, sebelum semuanya terlambat!”

Otak Jaewon berpikir keras, sebenarnya apa maksud dari perkataan ayahnya. Namun hal itu ia singkirkan sejenak. Ia bisa bertanya setelah mereka sampai nanti. Yang terpenting sekarang, mereka harus kembali ke istana secepatnya. Persis apa yang dikatakan Wufan tadi. Mengenai Nichan, dia akan berpikir bagaimana cara mengatakan ini. Dan mungkin mengupayakan juga agar adiknya tersebut tidak sampai masuk ke sekolah itu.

*

“Aku tak tahu apa yang terjadi. Tapi akhir-akhir ini aku merasa ada yang aneh dengan diriku sendiri.”, ungkap Nichan, hendak memulai bercerita pada Pangeran Jongin.

“Ada apa? Apa lingkungan di istana ini tidak membuatmu nyaman?”

“Aku cukup nyaman disini. Tapi aku merasa ada yang aneh. Setiap kali aku mengunjungi sudut-sudut istana, aku selalu menemukan hal janggal. Contohnya kemarin, aku menemukan bunga yang layu, juga kuda yang sakit, belum lagi buah yang membusuk. Dan ya, ada satu hal yang ingin kutanyakan.”

Pangeran Jongin segera menghadapkan tubuhnya pada Nichan. Memberikan perhatian penuh pada apa yang akan ditanyakan Nichan.

“Apa oppa masih menyimpan lukisan yang kubuatkan untukmu? Abeoji bilang, lukisan yang kubuat untukmu sama dengan lukisan yang ada di istana.”

“Kau sudah melihat lukisan yang ada di istana? Jadi begini, lukisan yang ada di istana itu memang miliku. Saat itu, aku memintamu membuatkanku lukisan tentang pemandangan desa ini, kau ingat kan?”

“Ya, aku ingat. Oppa meminta lukisan yang harus kubingkai dengan ukiran kayu, kan? Sangat melelahkan.”

“Geurae. Aku akan memberitahumu sekarang. Kau sangat ajaib.”

“Ajaib? Ajaib apa maksud oppa?”

“Kau membuat lukisan yang sama persis dengan lukisan favoritku di istana. Bahkan detail ukiran yang membingkainya, aku tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana buatanmu.”, seru Pangeran Jongin bersemangat. “Lukisanmu masih kusimpan di kamarku. Kudengar lukisan yang ada di istana diambil oleh Wu-ahjussi? Ada apa memangnya?”

“Abeoji merasa ada yang aneh dengan lukisan itu. Dia  bilang ada semacam sihir yang melingkupinya. Entah itu sihir putih atau sihir hitam, beliau belum bisa memastikan. Maka dari itu, ia bawa untuk diteliti lebih jauh. Apa ada keanehan dengan lukisan yang kubuatkan untukmu?”, tanya Nichan.

“Ani. Lukisanmu terlihat sama seperti awal aku mendapatkannya, tidak ada hal aneh.”

“Syukurlah kalau begitu.”, Nichan duduk di rerumputan. “Apa aku boleh memetik beberapa bunga disini?”

“Tentu, ambilah sesukamu.”

Dengan bersemangat, Nichan mulai memetik bunga berwarna biru, kesukaannya. Lalu kemudian berjalan lagi ke sekumpulan bunga berwarna ungu, dia memetiknya lagi. Pangeran Jongin memperhatikan gerak Nichan yang semakin jauh dari tempatnya. Sudah lama ia tidak bercengkrama dengan gadis itu. Melihatnya lagi dalam jarak dekat sungguh membuatnya tenang.

Wussh! Seekor serangga terbang didepan matanya. Membuat Pangeran Jongin sedikit terhenyak.

“Nichan-ah, kemarilah!”, ajak Pangeran Jongin sembari berteriak memanggil Nichan.

Meski sedang asyik memetik bunga yang berwarna-warni itu, Nichan mengiyakan dan segera datang ke tempat Pangeran Jongin.

“Lihat, apa yang kutemukan!”, dengan bangganya Pangeran Jongin memperlihatkan sebuah binatang kecil yang ia sembunyikan diantara kedua telapak tangannya.

“Wah, bagus sekali! Kira-kira serangga macam apa ini? Belalang? Atau lebah? Aku baru pertama kali melihatnya.”, Nichan memperhatikan serangga itu dengan saksama.

“Entahlah, tapi lihat. Jika aku menutup serangga ini dengan tanganku, dia akan bersinar. Mungkin ini semacam kunang-kunang.”

“Iya benar, apa ini hanya ada satu?”, tanya Nichan.

“Kurasa begitu, aku tidak menemukan yang lain. Kau mau? Bagaimana jika kita merawatnya bersama-sama?”, ajak Pangeran Jongin.

“Tentu saja. Pasti akan menyenangkan.”

*

TO BE CONTINUED

20 Mei 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s