wpid-picsart_1400026553768.jpg

FF : BLACK MAGIC (Prolog)


image

BLACK MAGIC (Prolog)

Kim Jong In (EXO, Kai) as Pangeran Jongin

Gong Chan Shik (B1A4, Gongchan) as Kim Chan Shik – Pangeran Chanshik

Kim Min Seok (EXO, Xiumin) as Raja Minseok

Choi Min Hyo (OC) as Ratu Minhyo

Wu Yi Fan (EXO, Kris) as Wu Yifan – Penyihir Wu

Wu Jae Won (OC) as Wu Jae Won

Wu Ni Chan (OC) as Wu Ni Chan

Genre : Fantasy, Romance, Family

Rating : Teenage

Length : Multichapter

Author : @ririnovi

Lalalalala ini adalah ff pertama saya yang dibikin chapter. Sebenernya dulu pengen banget bikin ff dengan genre fantasy, karena emang seneng baca fantasy fantasy juga. Cuma ide cerita tak kunjung datang, jadi belum sempet kebikin. Dan tiba tiba dapetlah mimpi yg bergaya fantasy fantasy gitu, langsunglah dituangkan kedalam tulisan, wkwk. Di mimpi itu emang main cast nya Jongin dan Gongchan, dan aku juga berusaha sekeras mungkin agar tidak mengubah cast-nya. Ini ide utama nya pure dari mimpi, tapi tentu saja dikembangkan lagi. Udah lama bikin ff nya, tahun lalu, cuma baru di post sekarang. Dulu sih maunya di post setelah semua beres, cuma ini belum beres tapi udah pengen di post 😀
Okai deh banyak omong banget gue. Ini dia…………..

*

*

*

“Apa oppa yakin akan masuk ke istana sekarang?”

“Kurasa begitu. Kau akan baik-baik saja, bukan?”

“Tentu. Kita akan bertemu lagi di istana.”

“Tapi status kita akan berbeda saat bertemu disana.”

“Bukan masalah untukku. Oppa juga tidak usah mempermasalahkannya. Anggap saja semua ini sudah selesai. Hanya bagian dari masa lalu kita.”

*

Negeri Pyeonghwa. Sebuah Negeri yang sangat indah. Kehidupan rakyatnya sejahtera dan selalu dibalut dengan kasih sayang antar sesama. Kekayaan alam yang tak terhingga menjadi tumpuan masyarakat untuk melangsungkan kehidupan. Di sudut-sudut pedesaan, semua rakyat saling berinteraksi dengan riang. Beramah tamah, saling membantu, menjadi penyokong kehidupan bagi rakyat lain yang membutuhkan. Taman-taman berbunga terlihat dominan di Negeri ini. Tentu saja, salah satu aset yang tertanam di Negeri ini adalah lahan luas yang tertutup bunga tersebut. Yang sekaligus menjadi ikon Negeri Pyeonghwa.

Seorang namja tua tampak tersenyum dari balik jendela kamarnya. Melihat kenyataan dunia luar membuatnya puas akan hasil kerja keras selama ini. Raja Minseok. Kesolidan rakyat yang sangat kental tersebut tidak lain adalah tujuannya. Menandakan bahwa kepemimpinannya selama ini tidak bisa diragukan.

Dahulu, Negeri Pyeonghwa merupakan Negeri yang tidak tenteram. Permusuhan di kalangan rakyat tidak bisa lagi dihindarkan. Laju inflasi yang naik turun dengan cepat membuat keadaan ekonomi Negeri ini juga rentan dengan kehancuran. Konon, semua ini adalah hasil dari kutukan.

Diceritakan sekitar seratus tahun yang lalu, terjadi peperangan hebat antara Negeri Pyeonghwa dan Negeri Hwanggyu. Kedua Negeri ini bersitegang karena daerah perbatasan antara Negeri mereka sangat tipis. Negeri Hwanggyu selalu memulai perkelahian dengan mengubah posisi perbatasan. Tentu saja untuk memperbesar dareah kekuasaan mereka sendiri. Negeri Pyeonghwa yang merasa harga dirinya diinjak-injak kemudian menyatakan perang dengan Negeri Hwanggyu. Karena saat itu tidak ada yang mau mengalah diantara mereka, maka peperangan tersebut terjadi dengan sangat tidak berprikemanusiaan.

Banyak harta benda, rakyat, dan hal-hal berharga lainnya yang dikorbankan dalam peperangan ini. Akhirnya, perang panjang tersebut berakhir dengan kemenangan di tangan Negeri Pyeonghwa. Karena tidak puas dengan hasil perang tersebut, pemimpin dari Negeri Hwanggyu yang saat itu bernama Shin Dongwoo mengutus seorang penyihir untuk datang ke Negeri Pyeonghwa.

Dibuai oleh kemenangan, Kim Joon Myeon, raja dari Negeri Pyeonghwa pada masa itu tidak menyadari keberadaan penyihir tersebut di daerahnya. Penyihir ulung tersebut dengan mudah mengubah pemikiran rakyat yang semula sangat pro-pemerintah menjadi balik tidak mempercayai pemerintah. Dia menyebarkan berita mulai dari menteri-menteri kerajaan yang korupsi, raja yang tak pernah mengatur pemerintahan dan hanya menyerahkan pada anak buahnya, sampai secara khusus membuat kabar tentang keadaan kerajaan yang mulai runtuh karena kelakuan buruk raja mereka. Hal itu tentu saja membuat Raja Joonmyeon keheranan. Keadaan tersebut terus berlanjut tanpa ada jalan keluar yang jelas.

Saat itu, rakyat terbagi menjadi dua kubu. Kubu pembela pemerintah dan kubu pembenci pemerintah. Hal tersebutlah yang menyebabkan perpecahan di kalangan rakyat. Di usia Raja Joonmyeon yang sudah mendekati 80, rasanya konflik seperti ini bukan merupakan konflik yang mudah. Maka, pada umurnya yang genap 81, Raja Joonmyeon meninggal dan meninggalkan permasalahan yang ia turunkan pada anaknya, Kim Min Seok. Dan pada masa inilah, pemerintahan mulai kembali stabil. Raja Minseok membawa rakyat kembali kedalam keharmonisan dan kedamaian. Semua karena sosok wibawanya dan juga perangainya yang menyenangkan. Membuat banyak rakyat terpikat pada pesonanya.

Dan sekarang, umur Raja Minseok sudah tidak bisa dikatakan muda lagi. Tahun ini, ia genap berusia 70 tahun. Merasa sudah tidak mampu mempimpin Negeri, ia memutuskan untuk memberikan tahta tertinggi tersebut kepada anaknya, Kim Jong In.

“Pangeran Jongin akan segera datang. Raja dipersilahkan untuk turun ke ruang utama kerajaan.”, ujar seorang pelayan kerajaan pada Raja Minseok. Raja tersenyum dan mempersilahkan pelayan tersebut untuk meninggalkannya.

“Akhirnya dia datang juga. Semoga saja rencana pengalihan sihir ini berhasil. Aku tak ingin ada kekacauan lagi setelah tahtaku berpindah.”, gumam Raja Minseok selagi menyelaraskan letak mahkota yang tersemat dengan indah di puncak kepalanya.

*

Ratu Minhyo menyambut kedatangan suaminya di ruang utama kerajaan. Hari ini adalah hari kepulangan anak mereka. Salah satu hukum kerajaan mengatakan, seorang calon raja diharuskan berbaur dengan rakyat sebelum mendapatkan tahtanya. Setidaknya selama dua tahun mereka diharuskan keluar dari kerajaan dan menjalani kehidupan layaknya rakyat biasa. Bekerja untuk meneruskan hidup, dan bersosialisasi dengan sesama. Tentu saja dengan tidak membongkar identitas mereka yang sebenarnya sebagai salah satu anggota kerajaan. Pangeran Jongin sudah melakukannya selama kurang lebih empat tahun. Tentu Raja Minseok dan Ratu Minhyo sangat merindukan anaknya tersebut.

Alunan nada yang mengaum dari alat-alat musik kerajaan menandakan dimulainya upacara kedatangan Pangeran Jongin. Dengan santainya, Pangeran Jongin berjalan di karpet merah istana yang sudah disediakan untuknya. Pakaiannya masih sama seperti sehari sebelumnya. Menggunakan pakaian rakyat, namun tetap menunjukkan kharisma yang memang sudah seharusnya dimiliki oleh seorang putera raja.

Di penghujung hamparan karpet merah itu, sudah menanti Raja Minseok dan Ratu Minhyo dengan penuh rasa haru. Dipeluknya anak mereka untuk menghilangkan rasa rindu selama empat tahun terakhir.

“Tak kusangka, anakku masih tampan seperti saat aku terakhir kali melihatnya.”, puji Ratu Minhyo pada anaknya.

“Aku menjalankan perintahmu untuk merawat diriku dengan baik, eommonim.”, jawab Pangeran Jongin dengan segala rasa hormat.

“Masuklah, bersihkan tubuhmu dan segera ikut kami ke ruang makan. Sudah lama kau tidak makan masakan kerajaan. Apa kau merindukannya?”, tanya Raja Minseok.

“Tentu saja, abeonim. Yang lebih kurindukan adalah makan bersama dengan keluargaku disini.”, senyum Pangeran Jongin mengembang seiring ekspresi bahagia yang ditunjukkan kedua orangtuanya.

*

Pangeran Jongin sudah duduk bersama Raja Minseok dan Ratu Minhyo di meja makan kerajaan yang mewah. Pakaiannya sudah lebih rapi sekarang. Busana kerajaan yang bersahaja sangat cocok untuknya. Dengan dominasi warna merah dan hitam, dia tampak seperti sosok raja di masa depan.

“Kau pasti banyak memiliki cerita baru. Apa yang ingin kau bagi pada kami?”, tanya Ratu Minhyo.

Makanan dengan wangi yang menggiurkan tak sekalipun meningkatkan selera sang ratu untuk melahapnya. Ia akan jauh lebih senang mendengar cerita anaknya terlebih dahulu.

“Terlalu banyak yang harus kuceritakan, eommonim. Tapi, dimana hyungnim? Aku tidak melihatnya sedari tadi.”, Pangeran Jongin mengedarkan pandangannya kesegala penjuru.

“Chanshik sedang melaksanakan tugasnya di Negeri bagian utara dan baru akan kembali besok. Kau tahu, bulan depan dia akan melangsungkan pernikahan dengan puteri cantik dari Negeri Sangmyeon.”, cerita Ratu Minhyo.

“Benarkah?”, tanya Pangeran Jongin singkat. Ia ingin mendengar penuturan lebih jelas dari hyung-nya besok.

“Dan kau sendiri, apa kau sudah ada rencana untuk menikahi seorang puteri layaknya hyung-mu?”, tanya Raja Minseok.

“Belum, abeonim. Aku belum menemukan sosok yang menurutku cocok.”, sanggah Pangeran Jongin.

“Kau tahu kan, kriteria seperti apa yang harus kau pilih untuk pasangan hidupmu nanti? Seorang yeoja yang layak dijadikan ratu untuk Negeri Pyeonghwa ini.”, jelas Raja Minseok mengingatkan.

“Algesseumnida, abeonim.”

*

Pagi harinya, Pangeran Jongin terbangun di kamar yang sudah lama ia rindukan. Segera ia melakukan aktivitas pagi yang dulu selalu ia lakukan selama di kerajaan. Berjalan-jalan di sekitar taman kerajaan yang penuh dengan bunga. Kegiatan ini sudah tak ia lakukan lagi selama ia tinggal bersama rakyat lainnya.

Ia harus bangun pagi hari sekali dan pergi ke tempat pemetikan bunga. Pangeran Jongin bekerja sebagai buruh pemetik bunga selama ini. Tidak ada satu pun di tempatnya bekerja yang mengetahui identitasnya sebagai putera raja. Jika mereka semua tahu, Pangeran Jongin pasti akan diperlakukan istimewa. Hal tersebut juga tentu akan membuat Pangeran Jongin risih.

“Annyeonghaseyo, Pangeran Jongin.”, sapa para pelayan istana yang kebetulan bertemu dengan Pangeran Jongin didekat taman.

Pangeran Jongin hanya membalas dengan senyum hangatnya. Itu sudah lebih dari cukup, karena hanya dengan tersenyum, kharisma seorang putera raja langsung mengalir di seluruh tubuhnya.

“Annyeonghaseyo, Pangeran Jongin.”, sapa sebuah suara yang dirasa sudah tak asing lagi untuknya.

“Hyungnim?”, ujar Pangeran Jongin sedikit berteriak.

Ia segera memeluk hyung satu-satunya itu.

“Sudah lama sekali kita tidak bertemu, wah tinggi kita sudah sama sekarang.”, ucap Pangeran Chanshik mencairkan suasana.

“Aku masih akan lebih tinggi dari hyungnim sebentar lagi, lihat saja.”, balas Pangeran Jongin sedikit bergurau.

“Apa saja yang kau lakukan selama di desa, saeng?”, tanya Pangeran Chanshik.

“Banyak sekali. Aku menjadi pemetik bunga disana, sungguh melelahkan.”, cerita Pangeran Jongin. “Kudengar sebentar lagi hyungnim akan menikah, siapa yeoja beruntung itu?”

“Akan kuperkenalkan padamu nanti saat dia berkunjung kesini. Dia yeoja yang manis dan baik, kau pasti akan iri padaku.”, bangga Pangeran Chanshik. “Kau sendiri, apa menemukan seorang yeoja yang menarik di desa?”

“Banyak sekali yeoja menarik disana, mereka semua bersikap baik padaku. Sebenarnya ada seorang yeoja yang kuincar, sayang sekali dia sudah bersuami.”

Mereka berdua tertawa. Setelah itu melangkahkan kaki mereka bersama-sama menyusuri hamparan bunga berwarna-warni di halaman istana. Sungguh keakraban yang sangat dirindukan oleh masing-masing individu itu.

*

“Apakah keluarga penyihir itu sudah datang?”, tanya Raja Minseok pada penasihat kerajaan.

“Sudah, tuan raja. Mereka sudah ditempatkan di area kanan istana seperti yang anda perintahkan.”

“Baguslah. Suruh mereka menghadap padaku, anak-anakku harus mengetahui keberadaan mereka agar tidak terjadi kesalahpahaman. Aku juga akan menceritakan semua hal tentang mitos-mitos istana pada mereka.”

“Baik, tuan raja.”

TO BE CONTINUED

22 Maret 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s