FF EXO : AEDES AEGYPTI-MAN


Title : Aedes Aegypti-man

Cast : Park Nichan
Kim Jongin

Genre : Romance

Rating : Teenage

Length : Ficlet

Author : @ririnovi

Dan setelah lama tidak membuat FF. Hanya berkutat dengan beberapa FF yang sampe sekarang belum jadi juga. Tadi sore membicarakan tentang Kim Jongin bersama Rina. Sebenernya di grup ID.OTS cuma Rhisma gak baca mungkin lagi sibuk. Ujung-ujungnya scroll dan kebagian obrolan pas tikung menikung bias hahay. Jadi aku menceritakan pasang surut kisah pembiasan aku ke Kim Jongin alias Kai ini ya kalo di EXO. Agak miris sih dalam waktu sebulan diombang-ambingkan antara mau jadiin bias atau enggak. Pas lagi break mandi, di kamar mandi kepikiran sesuatu tentang penyakit demam berdarah dan kasus kisah aku dan Jongin. Lalulah segera dibikin FF. Rekor juga loh ini tiga jam selesai :’) dan aku cukup puas juga dengan hasilnya :’) okedeh hope you like it guys! 😉

~

Biarkan aku memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Park Nichan, seorang anak tunggal yang lahir dari keluarga sederhana, namun bahagia. Menurutku. Ayahku bekerja sebagai seorang karyawan swasta, dan ibuku hanya bertugas mengurus rumah tangga. Tapi, bukan itu yang akan kuceritakan kali ini. Aku akan menceritakan tentang seseorang. Lelaki tampan yang berkata bahwa dia menyukaiku, namun dengan caranya sendiri. Menurutnya.

*

“Kau hanya tinggal menjawab apa kau menyukaiku atau tidak? Bukan masalah jika kau menolakku, yang terpenting adalah kau jujur pada dirimu sendiri.”

Dan aku menjawab tidak. Ya, aku tidak menyukainya. Dan aku sudah berkata jujur seperti yang ia minta.

“Tapi kumohon kau jangan menghalangiku untuk terus menyukaimu. Karena aku akan menyukaimu dengan caraku sendiri.”

Dan aku setuju. Lagipula aku tidak begitu mengenalnya. Dia Kim Jongin, seorang anak dari keluarga yang juga sederhana –sepertiku. Rumahnya beberapa blok lebih jauh dari rumahku –jika diukur dari pusat kota. Kami hanya bertemu sesekali. Seingatku, mungkin hanya sekitar empat kali. Pertama, saat aku dengan terpaksa membeli beberapa bahan untuk membuat kue, eomma yang menyuruh. Dan itu berdekatan dengan rumahnya. Saat itu pula-lah pertama kali kami berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing. Kedua, saat ia pulang sekolah bersama teman-temannya. Aku kebetulan sedang bermain dengan anjingku di halaman. Ketiga, saat ia sengaja datang ke rumahku untuk meminjam buku catatan. Oh, apa aku belum mengatakan bahwa kami satu sekolah? Ya, kami satu sekolah, satu tingkatan, namun berbeda kelas. Dan terakhir, pertemuan kami di kantin sekolah. Saat ia mengatakan bahwa ia menyukaiku. Dan kata-kata terakhir yang terus membayangiku adalah, dia akan menyukaiku dengan caranya sendiri. Meski aku bersikap sangat cuek dan terkesan tidak peduli, toh aku ternyata penasaran dengan apa yang ia ucapkan.

Tidak ada yang berubah semenjak Jongin menyatakan perasaannya padaku beberapa hari lalu. Kami tak kunjung menjadi dekat ataupun semakin menjauh. Tapi harus kuakui, aku mulai memperhatikannya. Meski diam-diam.

Hey, aku hanya memperhatikannya sesekali tanpa ada maksud apapun. Tidak, aku tidak menyukai Kim Jongin itu. Lagipula, sekarang aku sedang menyukai orang lain. Baekhyun-sunbaenim. Dia adalah seorang alumni yang sangat rajin datang ke sekolah untuk memberi pelatihan pada hoobae-hoobae di ekstrakurikulernya. Paduan Suara. Harus kalian tahu, suara Baekhyun-sunbaenim benar-benar merdu! Tapi dia berkata sekalipun tidak pernah mengambil kursus musik dan sejenisnya. Itu membuatku semakin kagum. Bayangkan saja setiap malam kau akan dinyanyikan sebuah lagu romantis pengantar tidur olehnya. Mungkin akan datang mimpi indah selama aku tidur. Hingga akan lupa cara bangun.

Sore yang cerah di Hari Sabtu, aku melangkahkan kakiku dengan ceria menuju ruang kesenian. Disanalah biasanya anggota-anggota Paduan Suara berlatih. Bukan, aku datang bukan untuk menguntit Baekhyun-sunbaenim. Aku memang salah satu anggota Paduan Suara tetap. Ya, meski niat awalnya memang agar bisa lebih dekat dengannya. Hehe.

“Mulai hari ini kita akan memiliki pelatih baru, karena Baekhyun-sunbaenim akan melanjutkan sekolah seninya di Rusia. Mari kita doakan yang terbaik untuknya.”

Terdengar lenguhan kecewa dari hampir sembilan-puluh-lima-persen anggota di ruangan. Mereka pasti calon-calon anggota yang minggu depan takkan datang untuk ekstrakurikuler lagi. Aku yakin, karena aku juga berpikiran seperti itu.

“Dan inilah pelatih baru kita, seorang pelatih vokal di salah satu sekolah musik. Seo Hyejin-sonsaengnim.”

Ah, yeoja. Semakin besar niatku meninggalkan ekstrakurikuler ini.

Di minggu selanjutnya, aku benar-benar tidak datang ke ruang kesenian untuk berlatih. Aku cukup sedih mendengar tentang kepergian Baekhyun-sunbaenim ke Rusia. Agak berlebihan memang, tapi aku memang benar-benar sedih. Kudengar sekitar tiga-puluh-persen anggota Paduan Suara mengundurkan diri setelah Baekhyun-sunbaenim berhenti menjadi pelatih. Akulah salah satu pelaku dari angka tiga-puluh-persen itu.

Karena tidak ada kegiatan di Hari Sabtu, dan aku belum ingin pulang, kuputuskan mengunjungi perpustakaan. Meski tidak begitu pintar, kalian harus tahu sebenarnya aku senang membaca. Kuputuskan meminjam beberapa buku. Novel dan sastra lain.

Perpustakaan sangat ramai hari ini, jadi aku akan membaca di ruangan kelas saja.

Five.. Six.. Seven.. Eight.. Ya, itu tadi sangat bagus!”

Jangan salahkan aku karena mengintip. Siapa suruh tidak menutup pintu dengan rapat? Membuat orang penasaran saja –sebenarnya hanya aku. Ada dua orang didalam ruangan. Keduanya memakai topi, jadi aku tidak bisa dengan jelas melihatnya. Aku mendongak. Oh, ternyata ini ruang latihan untuk ekstrakurikuler dance. Modern dance tepatnya. Karena rasa penasaran yang belum terobati, aku lagi-lagi mengintip dari celah pintu yang terbuka.

Ya~~ apa yang sedang kau lakukan disini, eoh?”

Suara seorang lelaki, dan dia dengan beraninya menjewer telingaku hingga aku merintih kesakitan. Aku memohon padanya untuk melepaskanku, namun rupanya tidak semudah itu. Ah, baru kusadari. Taewoo-sonsaengnim, salah satu guru yang senang berpatroli di sepanjang koridor sekolah.

“Ada apa ini?”, seseorang bertopi putih keluar dari ruangan tadi, sepertinya dia pelatih dance. Diikuti seseorang lagi menggunakan topi hitam. Ya Tuhan, Kim Jongin.

“Siswi ini ketahuan sedang mengintip kedalam ruang latihanmu, dia seperti-“

Ah, Park Nichan! Sonsaengnim, dia temanku. Ini sudah waktunya pulang, jadi kurasa dia hanya ingin mengajakku pulang. Dia bukan penguntit seperti yang kau pikirkan jika memang begitu adanya.”

Dan kami akhirnya pulang bersama. Aku berusaha meminimalisir pembicaraan diantara kami. Saat ini aku benar-benar malu. Tapi, disamping rasa malu-ku itu aku menyadari suatu hal. Ternyata Kim Jongin orang yang cukup baik. Kenapa aku menyiakan orang seperti dia?

Dia menari dengan sangat baik. Sebaik Baekhyun-sunbaenim bernyanyi. Beberapa minggu terakhir dia sering tampil di ruang pertunjukan, dan aku selalu menjadi penontonnya. Tentu tidak sendiri.

Sekolah kami memang selalu membuat acara pertunjukan setiap akhir minggu. Kami menyebutnya sebagai showcase. Tidak rutin siy, kadang seminggu sekali atau dua minggu sekali. Dan Jongin sudah beberapa kali menjadi pengisi acara. Tidak ada yang mengeluh karena bosan melihat pertunjukannya tiap minggu –setahuku. Yang ada, para wanita selalu meneriaki namanya. Biarkan ini menjadi rahasia, aku juga -terkadang- ikut meneriaki namanya.

Kim Jongin sangat berbakat di bidang ini. Dia bisa mengisi segala macam musik dengan gerakannya. Dan satu hal yang sangat menarik, kharisma-nya selalu meluap-luap, meski ia baru melakukan satu gerakan. Perlu kuulang? Meski ia baru melakukan satu gerakan. Entah itu hanya menjentikkan jari atau sekedar melangkahkan kaki. Dia bahkan bukan seorang idol. Dia hanya siswa sekolah menengah, dan hanya seorang anggota ekstrakurikuler dance.

Aku menyukainya. Ya, aku mengaku kali ini aku menyukainya. Entah bagaimana aku mengatakan ini tapi aku benar-benar menyukainya. Ada sedikit penyesalan yang tersisa, tentang aku yang menolaknya waktu itu. Baiklah, itu semua sudah lalu dan aku tidak mau menyesalinya terlalu larut.

Salah seorang teman mengajakku kembali mengikuti ekstrakurikuler Paduan Suara. Aku sempat mencibir dengan mengatakan bahwa tidak mungkin aku kembali. Lagipula, suaraku tidak bagus, jadi bukan masalah jika aku keluar, kan? Dan bahkan itu sesuatu yang bagus?

Tapi aku mengutuk diriku sendiri karena mengatakan alasan tadi. Bosan. Aku bosan karena tidak memiliki kegiatan di Hari Sabtu. Tanpa rasa malu, aku kembali bergabung. Namun tidak satupun dari mereka mempermasalahkannya. Aku bersyukur.

Pasti ada –setidaknya– salah satu dari kalian yang bertanya mengenai Kim Jongin, kan? Entahlah, kurasa aku terlalu mengelu-elukannya pada waktu itu. Mungkin aku bukan menyukai Kim Jongin di kehidupan nyata, aku hanya menyukai Kim Jongin saat berada diatas panggung. Buktinya, hanya kurang lebih satu bulan dan aku begitu saja melupakan perasaanku padanya. Mungkin dia datang sebagai selingan saja karena aku terlalu merindukan Baekhyun-sunbaenim.

Di acara showcase kali ini, aku tidak lagi bertindak sebagai penonton, melainkan sebagai pengisi acara. Setelah melewati beberapa kali latihan, pelatih baru itu memutuskan bahwa kelompok Paduan Suara kami sudah layak tampil. Itu membuatku bahagia sekaligus gugup.

Kami mendapat bagian tampil setelah ekstrakurikuler dance. Beberapa minggu tak terlihat, Kim Jongin kembali muncul diatas panggung. Anehnya, aku tak sehisteris saat dulu, awal aku melihatnya diatas panggung. Benar kan, ini hanya rasa suka sesaat.

Aku dan Jongin berpapasan di tangga penghubung panggung dan ruang ganti. Aku akan tampil sekarang, tapi perasaanku semakin tidak karuan. Gugup, itu sudah pasti. Dan bertambah gugup lagi saat melihat Kim Jongin berlumuran keringatnya sendiri. Aku benci mengatakan ini, tapi menurutku itu.. err.. sexy?

Baiklah, fokus pada penampilan pertamamu lebih baik daripada memikirkan hal lain.

Jangan Kim Jongin, jangan. Tersenyum padaku seperti itu. Jangan.

Aku mengutuk dalam hati. Kami bertemu siang ini di kantin. Sorot mata kami berpapasan dan dia tersenyum dengan sangat manis. Aku pasti gila karena memberi predikat manis untuknya. Tapi kali ini tolong percaya padaku, bahwa tadi itu senyumnya memang sangat manis.

Beberapa hari belakangan aku jadi sering bertemu dengannya di sekolah. Dia tidak menyapaku, atau mengajakku makan bersama saat jam istirahat. Dia hanya memberikusenyum, setidaknya paling sedikit dia tersenyum satu kali padaku setiap harinya. Awalnya aku agak risih, tapi kemudian itu malah menjadi kebiasaan. Terasa aneh jika terlewat sehari saja. Tanpa kusadari sejak kapan, aku mulai menginginkan senyumannya lagi. Jika aku tidak bertemu dengannya di kantin, aku akan mencarinya di tempat tempat potensial. Misalnya di ruang latihan ekstrakurikuler dance, atau lapangan olahraga. Kadang di halaman belakang sekolah. Hanya untuk mendapat satu senyumnya saja. Tentu aku membuat semuanya seakan kebetulan. Apa jadinya jika aku secara terang-terangan mencarinya? Aku masih ingin melindungi wajahku dari rasa malu dihadapannya.

Ah sial, mulutku ini memang sampah sekali.

Coba lihat? Dalam hitungan minggu saja pikiranku sudah berubah lagi. Apa yang kukatakan dulu? Biar kuulang.

Mungkin aku bukan menyukai Kim Jongin dalam dunia nyata, aku hanya menyukai Kim Jongin saat ia berada diatas panggung. Dia hanya selingan karena aku terlalu merindukan Baekhyun-sunbaenim.

Baiklah, apa aku masih memiliki kesempatan untuk menarik kembali semua kata-kataku? Kumohon. Lain kali, jangan terlalu percaya dengan hal apapun yang kuucapkan. Aku bisa mengubahnya kapan saja semauku.

Hey! Aku menyukai Kim Jongin lagi! Aku mestinya menertawakan diriku sendiri, bagaimana bisa aku mengulang perasaan itu? Jika kau mengira aku menyukainya lagi karena senyumannya itu.. Begini, senyum Kim Jongin tidak pernah berubah jika kau ingin tahu. Dari dulu, saat pertama kali aku mengenalnya, senyumnya tetap sama. Lalu, sekarang biarkan aku merenung, memikirkan alasan paling masuk akal mengapa aku bisa menyukainya lagi.

Perasaan ini berbeda dengan saat pertama kali aku menyukainya. Tidak semenggebu waktu itu. Terkesan lebih santai, namun aku menikmatinya. Perlahan, aku mulai melepaskan kebiasaanku mencari senyumnya itu. Ini akan semakin gila jika diteruskan. Aku harus menyelesaikannya.

Ya! Kim Jongin!”, panggilku di lorong sekolah yang sepi. Aku dan dia kini berhadapan. Gayanya yang asal sungguh membuatku gugup. Kedua tangannya tenggelam di saku celana panjangnya. Responnya yang terlihat cool.. tidak! Aku datang kesini bukan untuk memujinya didalam hati seperti ini!

“Aku menyukaimu. Apa kau masih menyimpan rasa yang sama padaku?”

Smirk andalannya ia pamerkan. Aku meleleh.

*

“Selamat atas peluncuran buku terbaru Anda. Buku ini sudah mendapat gelar ‘Best Seller’ di beberapa toko buku terkemuka. Bagaimana pendapat Anda?”

“Aku hanya menuliskan kisahku saja, tidak lebih.”

“Bagaimana dengan pemilihan judul buku? Ini sangat unik, bisa Anda jelaskan?”

“Judul buku ini adalah ‘Aedes Aegypti-Man’, seperti yang kita tahu, Aedes Aegypti adalah nama nyamuk pembawa penyakit demam berdarah. Disini aku mengambil perumpamaan dari gejala penyakit ini. Mulanya pasien yang terjangkit akan merasakan demam tinggi, dan berangsur turun. Namun, keadaan demam yang turun bukanlah tanda bahwa penyakit ini sembuh, kan? Ini merupakan awal dari penyakit demam berdarah yang sesungguhnya. Biar kujelaskan lebih lanjut. Aku mengalami hal itu pada kisah cintaku. Aku pernah sekali menyukainya, sangat menyukainya. Namun, semuanya reda dan aku berpikir bahwa itu adalah akhir. Tapi bukan, nyatanya itu adalah awal dimana aku akan menyukainya, bahkan lebih jauh dari sebelumnya..”

Kata-kataku terhenti ketika pintu bookstore ini terbuka. Seseorang datang. Membawa sebuket bunga ditangannya. Berjalan dengan percaya diri diantara kerumunan wartawan yang tak henti mengedipkan lensa kamera mereka. Berjalan lurus menuju meja utama. Memberikan bunga tersebut padaku sembari mengecup hangat tepat di kening.

“Dan inilah dia, Aedes Aegypti-man yang menyebabkanku menderita penyakit itu. Dan sepertinya, aku tergolong pasien yang tidak akan pernah bisa disembuhkan dengan cara apapun.”

Acara press-conference ini berakhir dengan tepuk tangan dari semua penduduk di ruangan itu.

“Terimakasih Nyonya Kim dan Tuan Kim.”, ucap salah satu wartawan. Nichan dan Jongin hanya membalasnya dengan senyuman seraya meninggalkan bookstore tersebut.

“Sudah kukatakan, aku akan menyukaimu dengan caraku..”

END
03 Maret 2014

2 thoughts on “FF EXO : AEDES AEGYPTI-MAN

  1. wua.. Daebak boleh copy and share nggak?? Oh ya aq lagi kumpulin ff exo, tmen2 aku suka..
    Boleh ya, boleh ya… jebal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s