FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 6)


Title

Six Deathly Of Perfume (Chapter 6)

Cast

All Member of EXO-K

Wu Yi Fan (Kris)

Dr. Nesha

Riri

Genre

Horror, Mystery, Romance

Rating

NC-17 (violence)

Length

Multi-Chapter

Author

NN Project

***

Nah kaaan, ini final chapter alias chapter terakhir. Gak kerasa aja udah beres lagi postingnya, padahal bikinnya uuuuh lamanya berabad-abad -.-

Di chapter kemarin kan gak ada kematian satu pun, sisa satu berarti ya di chapter ini lah. Siapa yang bakal mati? Baca aja ya, hehe. Peran Kris udah mulai ke yang penting penting nih, dia mau buktiin kalo dia juga bisa akting di FF ini wkwk. Di final chapter ini juga akan ada beberapa adegan action yang gak begitu kuat sih sebenernya, orang berantemna sama hantu. Okai deh, happy reading all!^^

Warning!

Story idea by @neshanavy

Edited by @ririnovi

Written by NN Project

Previous chapter –> Chapter 1Chapter 2. Chapter 3. Chapter 4. Chapter 5.

-Preview Chapter 5-

“Dimana Nesha?”, tanya Kris panik.

“Tadi dia disampingku, masih berbicara denganku. Aku berusaha memegangnya, tapi makin lama ia tak didekatku.”, jelas Sehun.

“Aku tahu.. Dan aku mendengarnya.”, batin Kris.

“Arrgh! Bagaimana ini?? Nesha juga hilang??”, Baekhyun mulai gelagapan mondar-mandir panik.

“Tenang, kami akan berusaha mencari.”, Kai bersua.

Suho dan D.O muncul dengan nafas yang terengah-engah menunjukkan wajah yang sepertinya bisa Sehun tebak.

“Jangan bilang..”, seru Sehun.

“Maaf, mereka terlalu kuat. Kami sudah kehabisan tenaga.”, Suho lemas bukan main.

“Sudahlah, apa kalian tahu dimana pintu menuju dunia nyata?”, tanya Kris.

“Ada diluar rumah ini, tempatnya selalu berpindah-pindah. Memangnya kenapa? Oh ya, bagaimana kau bisa kesini, hyung?”, D.O balik bertanya.

“Jangan dulu dibahas. Kita harus mengakhiri semua ini.”, Baekhyun bersiap dengan amunisi seadanya.

***

“Kita bagi jadi dua.”, titah Kris.

“Aku, Sehun, dan.. Kai akan keluar mencari dimana gerbang tersebut. Kami juga akan menghalangi dan mengalihkan perhatian arwah-arwah itu.”, jelas Kris.

“Dan mencari Nesha.”, tambah Sehun.

“Dan aku akan mencari Riri dan juga Chanyeol bersama D.O dan Suho hyung.”, ucap Baekhyun.

“Kemana memangnya mereka?”, tanya Suho.

“Biar nanti aku ceritakan.”

“Apapun yang terjadi, jangan sampai terpisah.”, pinta Kris pada semuanya.

Tanpa buang waktu, mereka berpencar meninggalkan tempat itu tanpa ada yang tersisa. Langkah tiap langkah, Kris terus berpikir tentang apa yang diucapkan Nesha. Sesakit itukah yang dirasakan Nesha hingga ia tak bisa memaafkan Kris dan melihat kehadirannya disisinya?

“Apa yang hyung pikirkan?”, tanya Kai yang memang mengenal Kris sama dengan Baekhyun mengenal Kris. Kai tahu apa yang terjadi di keluarganya dulu hingga sekarang. Tentu saja kecuali mengenai parfum ini.

“Aku hanya memikirkan Nesha.”

“Memang ada apa? Kau mengenalnya, hyung?”, tanya Kai.

“Dia yeoja yang waktu itu, ingat? Yeoja yang kusuka, yeoja yang kutinggalkan karena keegoisan nenekku.”

“Hah? Bagaimana bisa?”

“Dia pindah ke Indonesia tak lama setelah aku pindah, keluarganya mengganti namanya karena Nesha terus menerus sakit.”

“Aigoo, kenapa aku tak sadar ya?”, tanya Kai pada dirinya sendiri.

“Jadi kau namja yang membuatnya hampir gila dimasa kecilnya? Kau yang meninggalkannya itu? Dan kini, untuk apa kau kembali?”, tanya Sehun pada Kris dengan tatapan dinginnya.

“Aku hanya ingin menolongnya, aku tak ingin menyakitinya dan aku tak bermaksud membuatnya seperti itu.”, jawab Kris menyesal. “Jaga dia, dan jangan sakiti dia. Gantikan aku.”, pinta Kris lirih.

“Akan kulakukan yang terbaik.”, ucap Sehun.

“Guys, lihat!”, ucap Kai sembari menunjuk sebuah cahaya yang berpendar menyinari sebuah tanah kosong.

“Apa itu gerbangnya?”, tanya Kris. Belum sempat ia melangkah, sebuah tangan mencekik lehernya.

“Aigoo!!”, Kris meronta kesakitan karena sulit bernapas.

“Tarik dia, Kai!”, pinta Kris susah payah.

“Aku tak bisa! Aku tak bisa bergerak!”

“Apa yang bisa kulakukan??”, Sehun kebingungan.

“Bantu aku!”, pinta Kris mulai kehabisan tenaga.

“Caranya??”, Sehun panik.

***

“Aishh.. Sakitnya kepalaku.”, ucap Kris.

“Kau sudah bangun? Maaf aku membangunkanmu, tidurlah di sofa.”, pinta Ibu Nesha.

“Ehm ne, ne ahjumma.”, matanya menoleh ke arah kasur Nesha. Dilihatnya yeoja itu dalam, dikecupnya kening Nesha.

“Aku tunggu kau disini, semoga usahaku berhasil.”, batinnya.

“Apa kau mau makan dulu, Kris? Eomma masak banyak makanan, kesukaan Nesha. Siapa tahu kau menyukainya, dan siapa tahu Nesha bisa terbangun.”, Ibu Nesha menahan tangisnya.

“Ehm pasti aku menyukainya dan pasti Nesha terbangun, tapi ahjumma, dimana halmeoni?”, tanya Kris to the point.

“Ada apa?”, yang dimaksud pun muncul.

“Mianhamnida.. Aku ingin..”

“Mana parfum terakhirnya?”, sepertinya Nenek Nesha sudah mengetahui apa yang dimaksud Kris.

Tanpa pikir panjang, ritual pun mulai berlangsung. Semua lampu dimatikan agar menghasilkan suasana yang dingin guna menyamakan suhu yang sama dengan dimana Nesha dan kawan-kawannya berada. Hanya ada cahaya lilin guna menerangi kegiatan Nenek Nesha. Sebuah mangkuk kecil telah dipersiapkan, tak ketinggalan pisau kecil steril yang cukup tajam sudah dipersiapkan untuk merobek sedikit jaringan kulit Nesha guna mendapatkan darah yang cukup. Parfum pun mulai dibuka. Awalnya setetes darah. Parfum itu masih biasa saja. Lama kelamaan, tetes darah membuat parfum itu berubah menjadi hitam dan seketika wadahnya retak dan pecah, lalu terbakar.

“Apa berhasil?”, tanya Kris.

“Iya, kalau Baekhyun berhasil membakar habis rumah itu. Ritual ini hanya akan menghancurkan kesempatan arwah itu kembali kesini.”

“Bagaimana kita memberitahunya untuk membakar rumah itu?”

***

Baekhyun, Suho, dan D.O berjalan di lorong rumah yang gelap. Hanya terdengar sepasang kaki yang mengantuk lantai, karena dua pasang yang lain bisa melewatinya bahkan tanpa perlu menyentuh lantai. Pencarian mereka berlangsung dalam diam. Kedua arwah itu masih ada disekitar sini, bukan hal yang sulit untuk menemukan letak suara-suara diantara benda-benda yang membisu. Dengan kata lain, jika mereka membuat suara sedikitpun, mereka akan lebih mudah ketahuan.

“Bagaimana hyung? Kita sudah diujung rumah, namun tak menemukan apapun.”, bisik D.O sembari menembus dinding menuju halaman belakang rumah.

“Apa diluar aman?”, tanya Baekhyun yang hanya bisa melihat dari balik jendela rumah yang usang.

“Ya, tidak ada apapun disini, sepertinya aman.”, lapor D.O sembari memantau ke sekeliling. Hanya ada tumbuhan cemara yang melingkari pagar rumah.

Suho yang tadi mengikuti langkah D.O keluar rumah kini masuk kembali. “Masuklah D.O, kita tidak bisa meninggalkan Baekhyun sendiri didalam.”

D.O berjalan dengan tenang, tak mempedulikan dinding keras dihadapannya karena ia bisa melewatinya dengan mudah. Namun, bruk! Tubuhnya yang transparan menabrak dinding berwarna putih kusam itu.

“Waeyo?”, tanya Baekhyun, masih mengamati dari balik jendela.

“Ada yang aneh. Aku tidak bisa menembus dinding ini.”, ucap D.O sembari mengusap keningnya yang terantuk dinding tadi.

“Mwo?! Jangan-jangan..??”, wajah Suho yang semakin pucat meyakinkan Baekhyun bahwa hyung-nya tersebut sedang panik sekarang.

“Ada apa, hyung? Apa sesuatu yang buruk terjadi??”, tanya Baekhyun ikut panik.

“Arwah-arwah itu ada di sekitar sini. Jangan bergerak, dan jangan bicara.”, bisik Suho mencoba tenang, meski air mukanya tidak mengisyaratkan hal itu.

Baekhyun menurut. Tak satupun anggota tubuhnya bergerak. Hanya sesekali mengedipkan matanya yang terasa perih. Ia tak tahu apa maksud hyung-nya tersebut, tapi ia yakin ini demi keselamatannya. Suho mengatupkan kelopak matanya. Baekhyun mengikuti.

“Tolong! Tolong aku!”

“Baekhyun-ah! Baekhyun-ah! Kalian dimana??”

“Oppa.. Aku takut..”

“Kami tidak bisa keluar! Tolong kami!”

Suara-suara itu muncul tiba-tiba dibenak Baekhyun. Suara seorang yeoja dan seorang namja yang sangat ia kenali. Rasa gelisah itu tak bisa dengan mudah ia sembunyikan. Suara-suara parau yang meminta pertolongan. Suara yang tak bisa ia hiraukan. Dimana mereka? Dimana sebenarnya mereka??

Baekhyun spontan membelalakkan matanya ketika sebuah angin menghembus wajahnya lembut. Sebuah ruangan tepat dihadapannya, pintunya tertutup.

“Baekhyun-ah!”, teriak seseorang.

“Kris hyung, eodiga?”, Baekhyun memutar tubuhnya ke segala arah. Mencari asal suara.

“Kau tidak akan bisa melihatku, ikuti saja apa yang kukatakan. Bakar rumah itu sekarang, waktumu tidak banyak!”, teriak Kris yang terasa sangat dekat untuk Baekhyun.

“Bakar? Bagaimana.. Tidak hyung! Aku belum menemukan teman-temanku! Tidak mungkin aku membakar tempat ini!”, ujar Baekhyun tak kalah berteriak.

“Ini semua demi keselamatanmu, cepat lari keluar dan bakar rumah itu!”

“Tidak hyung! Tidak sebelum aku menemukan teman-temanku!”

“Apa ini pertama kalinya kau menemuiku, Byun Baek Hyun?”, ucap sebuah suara dibelakang Baekhyun. Suara yang terdengar asing. Seperti seorang wanita tua.

Dengan keberaniannya yang tersisa, dibalikkannya tubuh ke arah suara. Namun nihil.

“Kau sering mendengar tentangku, tapi belum pernah melihat wujud asliku?”, suara itu kini menggema dibalik telinga Baekhyun. Ia berbalik lagi. Kembali tak ada hasil.

“Siapa kau? Dan mau apa kau menggangguku?”

“Siapa aku? Siapa kau berani bertanya seperti itu padaku, dasar bocah!”, sebuah bayangan hitam melintas tepat di depan mata Baekhyun, namun kembali menghilang.

Baekhyun berdecak. “Cih, kalau begitu aku takkan bertanya siapa kau. Tunjukkan saja dirimu.”, ucap Baekhyun menantang.

“Oppa! Oppa apa kau ada diluar??”, teriak seseorang dari dalam ruangan yang kini dipunggungi Baekhyun.

Baekhyun diam. Matanya beredar ke segala penjuru. Masih mencari sosok tak kasat mata itu. “Kembalikan teman-temanku.”

“Itu mudah. Dengan satu perjanjian.”, sebuah bayangan hitam terbang di hadapan Baekhyun. Semakin lama, bayangan itu menyerupai wujud seorang manusia. Namun dengan lengan yang sangat panjang dan wajah yang mengerikan.

“Nesha??”, pekik Baekhyun ketika dilihat Nesha ada didalam genggaman makhluk itu. Ia tertidur, tidak. Dia pingsan. “Apa yang kau inginkan dariku, uh? Ambil saja nyawaku! Tapi kembalikan teman-temanku!”, seru Baekhyun tak sabar.

“Kau pikir aku membutuhkan nyawamu, eoh? Untuk apa?”, ia tertawa seperti mencemooh. “Aku akan memberikan kembali teman-temanmu, tapi ada satu syarat.”

Baekhyun menelan ludahnya yang terasa pahit. Firasatnya mengatakan ini pasti bukan sesuatu yang baik. Ia harus berhati-hati dalam berucap. Jika tidak, sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Apa yang kau inginkan?”, suara pelan Baekhyun terdengar begitu jelas di telinga makhluk astral yang sebesar tas gendong anak TK itu. Matanya memerah, merasa senang karena akhirnya Baekhyun mau bekerja sama dengannya.

“Aku akan membiarkanmu dan teman-temanmu yang masih hidup, termasuk gadis ini kembali ke duniamu asalkan..”

***

“Bagaimana ini, halmeoni? Teman-teman Baekhyun belum ditemukan. Ia bersikeras untuk menemukan mereka bagaimanapun caranya.”, ucap Kris pada Nenek Nesha.

“Waktu yang tersisa hanya 15 menit lagi. Jika dalam waktu 15 menit ia belum juga membakar rumah itu, maka ia dan yang lainnya takkan bisa keluar dari sana.”, Nenek Nesha tampak tenang, berbeda dengan Kris yang sejak tadi sudah berkeringat dingin.

“Bagaimana ini? Aku juga kehilangan kontak dengannya. Aku tak bisa mendengarnya dan kurasa dia juga tak bisa mendengarku.”, Kris tambah panik.

“Ia sedang bernegosiasi dengan arwah itu. Jika para arwah itu mendekat, tentu saja kontak kalian akan terputus. Sekarang serahkan semua padanya.”

“Halmeoni, ada apa denganmu? Kenapa halmeoni bisa setenang ini disaat cucumu juga ada disana? Jika adikku tidak berhasil, cucumu juga tidak akan kembali, bukan? Arrgh!”, Kris memukul dinding yang tak bersalah disampingnya. Merasa kesal dengan nenek tua disampingnya. Ia sama sekali tidak terlihat panik atau mengkhawatirkan keadaan cucunya. Atau mungkin, dia sudah punya rencana? Tapi tadi dia mengatakan, semua ini tergantung Baekhyun. Mata Kris memanas karena amarah.

“Tenang saja, sebesar apapun kepanikanmu takkan membantunya. Lagipula, seseorang pasti akan dikorbankan disini. Karena parfum terakhir sudah musnah, maka jika jatuh satu korban lagi, semua akan berakhir.”

“Kita tidak bisa mengorbankan siapa-siapa lagi! Sudah cukup aku kehilangan banyak orang dan juga kehilangan diriku sendiri.”

“Sudah kuduga, kau bukanlah Kris.”

***

Baekhyun tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan arwah ini. Beberapa detik yang lalu ia memberi syarat yang sangat membingungkan Baekhyun.

“Kau tahu kan keempat rekanmu sudah terkurung di dunia ini dan tidak mungkin kembali?”, kukunya yang panjang mulai menjamah leher Nesha yang tak berdaya.

Baekhyun mengangguk cepat. Ludahnya masih saja terasa pahit.

“Aku butuh satu orang lagi.”, ucapnya. Terdengar kesan horor setiap kali Baekhyun melihat matanya. Dan kini, apa yang makhluk itu bilang? Dia butuh tumbal lagi?

“Bukankah sudah kubilang tadi, kau bisa mengambil nyawaku! Ambilah dan kembalikan teman-temanku!”, bentak Baekhyun.

“Baekhyun-ah! Baekhyun-ah! Tolong kami! Kami ada didalam!”, suara bass itu menggerayangi telinga Baekhyun dari arah belakangnya. Itu pasti Chanyeol. Baekhyun berbalik dan mencoba membuka knop pintu.

“Kau pikir aku bodoh? Aku sama sekali tidak bisa membunuhmu karena kau adalah salah satu dari keturunan mereka, jadi kau tidak dibutuhkan disini. Dan teman-temanmu didalam akan mati kehabisan nafas sebentar lagi. Jadi biarkanlah mereka berdua menjadi tumbalku dan kau bisa kembali ke duniamu lagi, bagaimana?”

Mata Baekhyun memicing. Ditatapnya makhluk itu dengan tatapan tajam yang ia miliki. Apa makhluk itu sadar dengan apa yang dia ucapkan? Baekhyun disini untuk menolong teman-temannya. Jika ia memberikan teman-temannya pada makhluk jelek ini, untuk apa dia susah payah mencari mereka? Baekhyun lupa, benda mati mana bisa berpikir.

“Kau makhluk bodoh! Untuk apa aku memberikan mereka padamu? Aku tidak akan memberikan mereka dengan alasan apapun, itu sama saja aku membunuh mereka, bukan? Aku bukan pembunuh sepertimu.”, ucapnya tegas. Tak ada keraguan sedikitpun.

“Oppa! Jangan lawan dia! Lakukan saja apa yang diinginkannya!”, teriak Riri yang masih bisa mendengar perbincangan Baekhyun dengan arwah sewangi parfum itu. Suaranya terdengar parau.

“Aku berubah pikiran, segeralah pergi Baekhyun-ah! Pergi dan selamatkan dirimu!”, susul Chanyeol menyetujui.

“Dengar apa kata teman-temanmu, mereka sudah menyerahkan dirinya padaku. Jadi, segera menyingkirlah dari situ. Aku akan membawa mereka dan kau bisa pulang.”, ia melepaskan tubuh Nesha hingga ambruk di lantai.

“Tidak! Aku sudah mengatakan tidak dan aku takkan mengubah keputusanku!”

“Keras kepala!”, wajah sang arwah berubah menjadi semakin menyeramkan. Baekhyun mengira dia sedang marah. Karena dirinya, tentunya.

Baekhyun bersandar didepan pintu yang tertutup. Pintu yang menghubungkannya dengan kedua teman yang terkurung didalam. Lorong yang tidak terlalu lebar membuatnya tidak bisa melarikan diri kemana pun. Lagipula tak ada niatan untuk melarikan diri sebelum temannya kembali. Makhluk itu mendekatinya perlahan. Tangannya yang panjang bergerak untuk meraih leher Baekhyun. Baekhyun menutup matanya, berusaha untuk tidak merasakan apa yang akan menimpanya tak lama lagi. Dari balik pintu, ia mendengar suara isakan seorang yeoja. Juga suara keputus-asaan dari seorang namja.

“Aku tawarkan untuk yang terakhir kalinya. Menyingkir dan berikan teman-temanmu padaku.”, Baekhyun bisa merasakan kuku-kuku panjang dan tajam menggores lehernya. Beranjak menuju pipinya. Ia semakin mengeratkan pejaman mata. Berharap ia bisa mati tanpa merasakan sakit. Cairan yang terasa hangat mengalir dari pangkal lehernya. Menciptakan noda merah dibajunya.

“Jawab aku, dan kau boleh pergi.”, ulang sang arwah.

Baekhyun menggeleng. “Tidak.”

Ditariknya rambut Baekhyun yang mulai memanjang. Dihempaskan tubuhnya sehingga menabrak dinding. Menimbulkan bunyi yang memantul di sepanjang lorong.

“Kalau kau tidak akan memberikannya, biar aku yang mengambilnya sendiri.”, tawa sang arwah tertahan, karena perhatiannya kini tertuju pada pintu yang harus dibukanya. Tentu saja bukan untuk dirinya, karena ia tidak memerlukan pintu untuk masuk kedalam. Tapi kedua makhluk didalam yang membutuhkannya.

Pintu terbuka. Wajah Chanyeol yang lelah menghiasi pemandangan. Sementara seorang yeoja bersembunyi dibalik tubuhnya yang jangkung. Chanyeol sempat melirik kearah Baekhyun yang terkapar. Hanya terlihat beberapa gerakan kecil darinya. Chanyeol tidak bergerak sama sekali. Ia hanya membuat sebuah kuda-kuda untuk pertahanannya.

“Menjauhlah!”, teriak Chanyeol pada makhluk itu. Entah pemikiran bodoh apa yang melintas di otaknya. Tentu saja makhluk ini lebih menyeramkan daripada peringatannya barusan.

“Ikutlah denganku, dan kau bisa membebaskan temanmu ini.”, ucap si arwah selembut mungkin. Ia ingat dengan jelas beberapa saat lalu Chanyeol memutuskan menyerahkan dirinya dan menyuruh Baekhyun untuk pergi.

“Tidak semudah itu! Yaaaa!”, entah kekuatan darimana, Baekhyun menusukkan sebongkah kayu tajam tepat di punggung sang arwah. Membuat arwah tersebut mengalihkan pandangannya dari Chanyeol. Menatap kebelakangnya dan membuat sebuah peringatan melalui seringaiannya. Dengan mudahnya ia melepaskan kayu yang tadi ditancapkan Baekhyun, meremasnya menjadi butiran-butiran debu.

“Bisakah kau berhenti membuatku marah?”, ujar si arwah sembari menggeram. “Aku paling tidak suka dengan bocah nakal yang tidak penurut sepertimu.”, perhatiannya teralih sempurna pada Baekhyun. Wajahnya menyiratkan amarah yang semakin membara.

Ujung mata Baekhyun menangkap pergerakan Chanyeol yang akan menyerang makhluk tersebut seperti yang ia lakukan sebelumnya. Ia ingin berteriak jangan, namun Chanyeol menyuruhnya diam dengan isyarat. Chanyeol mengacungkan sebuah clurit yang mungkin ia dapat dari kamar tempatnya disekap barusan. Dengan gesit, ia mengibaskan cluritnya tersebut tepat membagi leher sang arwah menjadi dua bagian. Kepalanya tergeletak meninggalkan raga yang masih berdiri tegak.

Baekhyun segera bangkit dan berdiri. “Ayo cepat! Kita harus pergi sebelum dia kembali bangkit! Chanyeol, bantu aku membawa Nesha. Dia masih tidak sadarkan diri!”, ucap Baekhyun menarik Riri keluar dari ruangan yang sesak itu.

Chanyeol menggendong Nesha di punggungnya. Berharap caranya itu takkan mengurangi kecepatannya dalam berlari. Ia berlari terlebih dahulu, menyusuri lorong-lorong, berharap menemukan pintu keluar paling dekat. Sialnya, semua jendela tiba-tiba menghilang. Satu-satunya cahaya yang menerangi berasal dari titik yang masih terasa jauh dari tempatnya. Tapi hal itu tidak menurunkan kecepatan berlarinya. Serigala pun kalah cepat.

“Kau duluan, aku akan berlari dibelakangmu. Ayo lari!”, titah Baekhyun sambil mendorong tubuh Riri agar berlari lebih cepat. Bukan dia takut untuk pergi lebih dulu, tapi bukan tidak mungkin jika arwah yang masih dibelakang..

“Ugh!”, Baekhyun jatuh tersungkur. Hal itu juga menghentikan Riri dan Chanyeol –tentu saja Nesha- yang sudah didepan lebih dahulu. Sebuah tangan menahan langkah kaki Baekhyun. Meski tak melihat siapa pemilik tangan tersebut, Baekhyun sangatlah tahu siapa pelakunya.

“Teruslah berlari dan jangan pedulikan aku!”, teriak Baekhyun yang sudah mulai putus asa. Tangan itu semakin mencengkram kakinya kuat. Bahkan darah-darah segar mengalir karena kuku si arwah yang menancap.

Riri tampak shock karena arwah tersebut kini mulai menyeret tubuh Baekhyun. Bukankah tadi Chanyeol sudah menebas kepalanya? Kenapa dia masih saja bisa hidup? Ah, dia ini hantu. Dan kini dia bergerak tanpa mempedulikan kepala yang terlepas dari tempatnya.

“Lari cepat! Aku tak apa disini. Chanyeol cepat bawa dia pergi!”, Baekhyun terus menyuruh mereka pergi. Namun tak menghasilkan apapun. Chanyeol yang sadar akan seseorang yang dibawanya segera berlari menuju titik terang yang kini tinggal beberapa meter lagi didepannya. Ia memutuskan untuk meninggalkan Baekhyun yang tengah kesulitan. Bukan karena ia tidak peduli, tapi ia punya rencana lain.

Dengan kesadaran yang sudah diambang batas, Riri berlari kembali kearah Baekhyun. Ia meraih tangan Baekhyun yang masih bisa ia genggam. Menariknya dengan harapan si arwah mau mengalah. Tapi, apa yang terjadi tentunya berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan. Dengan cepat, si arwah melepaskan cengkramannya pada Baekhyun. Tangan panjangnya bergerak perlahan, mencoba menyentuh wajah Riri. Manusia yang tidak ada hubungannya dengan kutukan parfum inilah incarannya. Dan kini, mangsanya seperti menyerahkan diri karena malah berlari mendekatinya.

Tanpa banyak basa-basi, ditengah adegan slow motion yang terjadi, Baekhyun menendang tubuh arwah yang nyatanya tidak tembus pandang itu. Jangan tanya bagaimana ia bisa mendapatkan kekuatan itu dengan keadaan kaki yang berlumuran darah. Yang Baekhyun tahu saat ini, ia harus menyelamatkan orang-orang yang ia sayangi.

“Oppa!”, Riri membantu Baekhyun berdiri dan membopongnya sebelum hantu itu kembali mendekat. Sebuah pintu menyambut mereka dengan penuh cahaya matahari yang menenangkan.

“Baekhyun-ah!”, teriak Chanyeol yang berlari dari sudut lain halaman rumah tersebut. “Aku tahu kau pasti akan selamat, maka dari itu aku segera berlari keluar. Bagian belakang rumah ini sudah kubakar. Takkan memakan waktu lama sampai semuanya hangus.”, ujar Chanyeol sembari terengah-engah menggendong Nesha yang juga belum sadar. Mereka berdiri mematung, menyaksikan langsung bagaimana proses hangusnya satu per satu bagian rumah hingga benar-benar hangus dan rata dengan tanah. Asap-asap hitam bergerak keatas langit. Membuat beberapa gambaran menyeramkan, namun sedetik kemudian asap tersebut hilang dibiaskan oleh angin.

***

“Bagaimana nenek tahu aku bukan Kris?”, tanya Kris.

“Kris tidak pernah tertingkah bodoh sekalipun. Ia perfectionist. Ia pun bukan orang yang ekspresionis seperti kau ini.”, ucap Nenek Nesha.

“Benar juga, aku tak akan membuatnya menjadi orang yang bodoh untuk pertama kali. Aku akan membuat semua usahanya ini berguna.”

Baru saja Kris selesai bicara, lilin yang berada dihadapannya mati seperti tertiup oleh sesuatu. Tapi ia sama sekali tak merasakan adanya angin berhembus. Dengan sigap Nenek Nesha menyalakan saklar lampu yang memang tak jauh dari tempatnya sekarang.

“Sudah 14 menit, tinggal beberapa detik lagi sebelum waktu Nesha dan teman-temanmu habis.”, nenek berjalan perlahan menuju kasur yang ditiduri cucunya.

Teng Tong! Jam rumah berbunyi nyaring. Waktu telah menunjukkan pukul 2 dengan jarum panjang yang tepat menginjak angka 12. Itu artinya 15 menit sudah berlalu beberapa detik. Mungkin sudah sekitar 2 detik.

“Ayo Nesha, bangun.”, ucap Kris menggenggam tangannya. Tapi masih tak ada sedikitpun tanda-tanda kehidupan.

“Nek, apa mereka gagal?”, tanya Kris.

“Seharusnya mereka berhasil.”, jawab neneknya sedikit agak panik.

“Ehmm, mereka berhasil, oppa.”, ucap Nesha yang tiba-tiba bicara dengan suara yang parau dan pelan. Malah hampir sulit didengar sekilas.

“Aigoo.. kau, ehm kalian berhasil? Untunglah..”, tanpa basa-basi Kris meraup tubuh Nesha kedalam pelukannya. Bulir-bulir air mata terasa membasahi bahu Kris.

“Wae.. Waeyo?”, tanya Kris.

“Ani, aku bahagia melihatmu kembali walau..”

“Walau apa?”

“Walau bukan dengan ragamu sendiri.”

“Mwo? Kau?”

“Ya, aku tahu. Bahkan aku mendengar percakapan kalian.”, ucap Nesha sembari menghapus air matanya. “Gomawo Kris oppa. “

“Jadi, kau..”, belum sempat Kris berbicara, telunjuk Nesha telah mendarat terlebih dahulu pada bibir Kris.

“Jangan banyak bertanya, Kris oppa tidak sebawel dirimu. Lebih baik kita mencari yang lain saja.”, pinta Nesha mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Tapi alangkah terkejutnya ketika kakinya tak bisa ia gerakkan. Kris yang terkejut pun terlihat panik.

“Sepertinya ada yang perlu belajar berjalan lagi..”, ucap Nesha tertawa.

“Tenang saja, nenek sudah menyiapkan kursi roda dan tongkat untukmu.”

“Goma.. ehm, terimakasih nek.”, Nesha memeluk erat nenek kesayangannya tersebut.

***

“Cahaya terik apa ini?”, ucap Riri mencoba menatap langit. Kepalanya kini berada tepat diatas paha Baekhyun yang terlihat tertidur pulas bersandar dibawah pohon rindang. Sementara Chanyeol terbaring tak jauh darinya. Dia pun tertidur tak kalah pulas dari hyung-nya, Baekhyun.

Mata Riri menatap lekat wajah Baekhyun. Dipegangnya kedua pipi Baekhyun sambil melihat lehernya. Ia pun bangun dan melihat kaki Baekhyun. Sepatu dan kaus kakinya masih sama dan bersih sepereti terakhir kali ia melihatnya. Chanyeol pun masih terlihat cukup tampan dengan pakaian yang tak berbeda dari sebelumnya.

“Kita selamat!!”, sontak Riri memeluk Baekhyun hingga Baekhyun terbangun karena terkejut.

“Selamat?”, Baekhyun kebingungan menatap sekitarnya. “Dimana ini?”

“Gomawo, oppa.”, ucap Riri tak lupa mengecup pipi namjanya itu tanpa ragu. Lantas saja kecupan itu membuat wajah Baekhyun merah padam seperti saus tomat.

“Apa yang kulewatkan?”, tanya Chanyeol serasa beruang yang bangkit dari tumpukan es batu yang mencair. Tangannya terus memanjang seraya tubuhnya yang terus meliuk karena pegal.

“Ehm, aniya.”, Baekhyun hanya tertawa sambil menyimpan lengannya di pinggang Riri. Sepertinya ia tak ingin kehilangan yeoja itu untuk kedua kalinya.

“Dan sepertinya ada yang harus mengurus kepindahan ke Indonesia..”, sindir Chanyeol sembari tertawa lepas. Sepertinya kejadian sebelumnya benar-benar mereka lupakan. Tak ada satu pun yang mau membahas itu. Entah mungkin karena mereka yang terlalu senang bisa kembali ke dunia.

“Aku sudah kira, kalian pasti akan ada di tempat ini.”, suara yeoja tiba-tiba mengejutkannya. Semua langsung menoleh ke arah sumber suara.

“Nesha?”, ucap semuanya. Tapi Chanyeol-lah yang terlihat paling senang diantara Baekhyun dan Riri. Chanyeol menghampiri kursi roda Nesha dan berdiri sejajar dengan Nesha.

“Kenapa dengan kursi roda?”, tanya Chanyeol.

“Kakiku terlalu lama tidak digerakkan, alhasil semua ototku kaku.”, jawab Nesha salah tingkah.

“Hey! Jangan ganggu yeojaku.”

“Ehm, ani Sehu.. eh Kris hyung. Eh, kenapa aku masih merasa Sehun dekat dengan kita ya?”

“Ah perasaanmu saja. Wah hyung, senang melihatmu kembali seperti ini. Terimakasih telah membantu kami semua.”, ucap Baekhyun memeluk hyungnya.

“Seharusnya aku yang berterimakasih.”, ucap Kris.

“Berterimakasih? Pada siapa?”, tanya Baekhyun.

“Pada hyungmu, Kris hyung.”, ucap Kris.

“Maksudnya?”

*FLASHBACK*

“Apa itu gerbangnya?”, tanya Kris. Belum sempat ia melangkah, sebuah tangan mencekik lehernya.

“Aigoo!!”, Kris meronta kesakitan karena sulit bernapas.

“Tarik dia, Kai!”, pinta Kris susah payah.

“Aku tak bisa! Aku tak bisa bergerak!”

“Apa yang bisa kulakukan??”, Sehun kebingungan.

“Bantu aku!”, pinta Kris mulai kehabisan tenaga.

“Caranya??”, Sehun panik.

“Gantikan posisiku.”

“Maksud hyung?”

“Gantikan posisiku di dunia nyata dan di hati Nesha.”

“Jangan bicara yang aneh-aneh, hyung.”

“Turuti saja.”, timpal Kai.

“Aku tahu kau begitu menyukai Nesha, dan Nesha pun begitu. Aku hanya masa lalunya. Aku tak bisa kembali mengisi hari-harinya lagi. aku tak mungkin mengisi hatinya lagi. aku yang melukainya. Tolong sampaikan saja, maafkan aku dan katakan aku mencintainya, maka dengan cara ini aku mencintainya.”

“Cepat lari!”, Kai berteriak sebelum arwah lain berhasil mendapatkan Sehun. Cahaya terang itu menjadi redup tepat setelah Sehun memasuki ruangan cahaya tersebut. Tanpa mereka sadar, Nesha disekap didalam salah satu dari badan pohon besar yang berada di sekitar mereka.

“Gomawo, oppa. Terimakasih atas segalanya. Aku kini tahu mengapa kau meninggalkanku dulu.”, batin Nesha.

*FLASHBACK END*

 


“Jadi begitu ceritanya.”, ucap Chanyeol sedikit kecewa.

“Ya! Kau semestinya bahagia karena saengmu ini sudah kembali lagi.”

“Walau dengan tubuh hyungku.”, ucap Baekhyun tanpa sadar.

“Aku tahu apa yang kau rasakan, oppa.”, ucap Nesha. “Aku bingung. Aku senang karena Sehun bisa kembali disisiku, dilain pihak aku sedih, bukan karena oppa ada di tubuh Kris, tapi karena Kris kembali hanya untuk sebentar. Bahkan menyapaku saja belum.”

“Kau masih mengharapkannya?”, cela Sehun sebal.

“Ani, aku hanya ingin berterimakasih atas semua pengorbanannya selama ini. Ternyata bukan hanya aku yang merasa kesakitan jauh darinya, dia pun begitu.”

“Ya, aku tahu.”, Sehun tersenyum getir.

“Hormati hyungku! Bagaimanapun kau meminjam tubuhnya!”

“Ehm ralat hyung, dia memberiku tubuhnya.”

“Ya apapun itu yang penting kau sudah tahu betapa ia mencintaimu dan jangan jadikan pengorbanannya sia-sia.”, ucap Riri bijak sambil menepuk lembut bahu Nesha.

“Ya, aku tahu itu. Tapi ada yang aku bingung.”, seru Nesha.

“Mwo?”, tanya semuanya serempak.

“Bagaimana aku memanggilnya? Kris dan Sehun ada dihatiku dan ada di posisi yang sama. Walau ada ditubuhnya Kris, aku tetap sadar bahwa dia Sehun. Yang membedakan sekarang, dia jauh lebih tampan.”

“Panggil saja aku Sehun kalau begit, chagi.”, ucap Sehun sedikit sebal sembari merangkul bahu Nesha.

“Aniya! Aku menghormati Kris. Kalau begitu aku hanya menganggapmu, sedangkan dia tidak.”

“Bagaimana kalau Krihun?”, tawar Chanyeol.

“Terdengar aneh, tapi.. aku suka itu.”, ucap Baekhyun. “Kau memang terhebat, hyung!”

“Baiklah, semua setuju kan? Bagaimana denganmu, Krihun oppa?”, ejek Riri.

“Yaaa!”, Sehun –dengan-tubuh-Kris- berusaha mengejar Riri.

“Biarkan saja mereka seperti itu.”, pinta Nesha pada Baekhyun.

“Ya, tentu saja. Setelah kejadian itu, apa salahnya bersenang-senang?”, tanya Baekhyun.

“Ya, tapi ajari aku berjalan dulu.”, jawab Nesha.

“Tapi apa benar semua ini sudah berakhir? Entah kenapa rasanya ada yang ganjil.”

“Benarkah? Apa itu?”

“Entahlah, buku mungkin.”

“Buku??”

“Ya, buku. Kenapa?”

“Kau belum menghancurkannya?”

“Apa harus?”

“Tentu saja! Kalau tidak..”

“Permisi adik-adik, saya Neulchan dari NN Perfume..”, ucap seorang yeoja sembari menepuk bahu Baekhyun dan Nesha bersamaan.

“Dia??? Tidaaaaak!!”, teriak Baekhyun dan Nesha ketakutan.

END

05 Juni 2013

Selesaaaaaaaai! Hahaha endingnya gantung, tapi no sequel, jadi emang segitu aja ujungnya. Kalo dilanjutin, gimana nantinya? Member EXO-K abis dong, jadi yang mati itu Kris yaaaa, dia nuker badannya buat diisi sama Sehun, soalnya dia bentar lagi mati. Kalo bisa gitu ya dunia, heheuks. Gomawo yang udah baca FF ini dari awal, komentarnya masih ditunggu sama author @neshanavy, dan aku masih menunggu FF ini dibaca sama member EXO *apadeh*

Sekali lagi, gomawoooooo! *pelukcium*

11 thoughts on “FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 6)

  1. uda end ?? *baca!* uda yahhh 😦 g krasa ..

    tu tukang parfum balik lgi -.- bukunya trlupakan sih ..

    ffny serem dpt romance dpt comedy dpt ah pkoknya jjang! *ngsi 10 jmpol*

    tlat yah aku bcanya .. ffnya uda dr kapan hehe bru dpt sih :v

    jdi trharu pas kris relain nyawanya lalu ksi raganya ke sehun ._. knpa harus my husband brkorban knpa ga idup aja kris ama sehunnya ? #eh ga de susah neshanya ntar

    ga happy ending ya kan?? -..-

    tpi gpp deh suka bngt ama ff thor :v

    keep writing and always fighting ya! ^^

    • TERIMAKASIH KAMU! (nunjuk kamu)
      Aku seneng deh baca baca komen kamu dari awal sampe chapter 6 ini. Makasih ya sayangku muah muah muah 😘😘😘
      Authors jadi semangat bikin ff lagi nih, sekarang lagi ada project baru juga, ditunggu ya.

      Sekali lagi terimakasiiiiiiih! 73838399729 jempol deh buat kamu karena kamu reader yang sangat baik hati 😘😘😘

    • Nama kamu kaya nama sepupuku deh, jangan jangan kamu sepupuku ya??? Hahaha

      Gak deng, makasih ya komennya, author ikut seneng dan makasih juga udah sempetin baca plus komen 😊😊

  2. Wah, sales parfumnya balik lagi tuh..
    Hahha 😀 kocak banget deh endingnya. Seru banget,, ya walaupun telat banget baca nih Ff tapi aku tetep seneng. Pokoknya eonnideul daebakk deh (y) awalnya kesel nih aku gegara D.O (bias aku) matinya kek gitu! 😦
    Tapi seru, gak kebayang sehun dengan badan kris. Pokoknya itulah yah, curcol gapapa kan? Outhor juga curcol terus kok, haha 😀 kidding aja kok kak (y) sukses terus!! Muachh :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s