FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 5)


Title

Six Deathly Of Perfume (Chapter 5)

Cast

All Member of EXO-K

Wu Yi Fan (Kris)

Dr. Nesha

Riri

Genre

Horror, Mystery, Romance

Rating

NC-17 (violence)

Length

Multi-Chapter

Author

NN Project

Wowwh banget udah mau tamat, hahaaay! Seperti yang dibilang kemarin, disini bakal nambah satu cast yang sebenernya dari awal dia udah muncul sih, tapi dikit banget wkwk. Mulai dari chapter ini sampe  tamatnya, cast baru itu langsung jadi peran penting. Gak terlalu membantu sih keberadaan dia, tapi cukup membantulah. Ayoloh author nya bikin bingung, wkwk. Tinggal satu kematian lagi kan? Siapa nih kira-kira? Apa pemeran utama yang bakal mati? Atau peran-peran gak pentingnya? Yah baca aja sendiri kalo gitu. Okai, happy reading^^

Warning!

Story idea by @neshanavy

Edited by @ririnovi

Written by NN Project

Previous chapter –> Chapter 1Chapter 2. Chapter 3. Chapter 4.

-Preview Chapter 4-

Angin sepoi bertiup mengepakkan poni Baekhyun yang sudah melewati alisnya. Tak ada tanda-tanda hal buruk akan terjadi, namun Baekhyun terus berwaspada.

Setelah yakin tak ada bahaya disekitarnya, ia perlahan meraih buku keramat itu kemudian menutupnya.

“Ayo kita pergi sekarang, cepat!”, suruh Baekhyun pada kedua orang yang kini sudah terpampang jelas dihadapannya.

“Ya! Ayo kita pergi, ada apa dengan kalian??”, tanya Baekhyun mulai panik. Riri dan Chanyeol terpaku, mereka tak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada dunia sekitarnya kini.

Baekhyun yang baru menyadari terpaksa mengikuti gerak-gerik kedua rekannya tersebut. Daun yang berhenti berguguran. Angin yang berhenti berhembus. Awan yang berhenti bergerak. Sampai barisan semut yang berhenti berjalan, namun masih membuat satu barisan penuh.

Baekhyun yakin, ini berhubungan dengan apa yang ditemukannya di rumah itu tadi.

***

DI CHINA

“Apa ada telepon dari adikku? … Ah tidak, jika ada segera beritahu aku … Ya, tentu saja.”, Kris menutup telepon yang ada di mejanya. Ia heran. Dua hari yang lalu Baekhyun mengatakan bahwa ia akan berkunjung, namun sampai sekarang tak juga ada kabar. Nomor ponselnya pun selalu gagal dihubungi. Sebenarnya ada dimana dia sekarang? Pikirnya.

“Apa aku harus mengatakan padanya sekarang? Tapi apa dengan mengatakannya akan membantu memecahkan masalah ini?”, pikir Kris dalam hati.

“Baiklah, mungkin kami bisa mencari jalan keluar bersama-sama. Bukan hal yang buruk juga, kan?”, ujar Kris bermonolog sambil melanjutkan pekerjaannya. Mengotak-atik kumpulan kertas yang harus ia tandatangani secepatnya.

“Proyek pembuatan cabang di Shanghai? Boleh juga.”, ucapnya sembari menandatangani kertas proposal tersebut.

“Membuat proyek kerjasama dengan desainer terkenal untuk mendekor toko? Ide bagus, tapi kurasa ini bisa ditunda.”, Kris meletakkan map tersebut di sebelah kanannya.

“Mengadakan studi banding dengan perusahaan parfum besar di Perancis, NN.. Ah tunggu, kurasa..”

***

“Ke.. Kenapa semuanya berhenti?”, tanya Riri kebingungan.

“Apa yang terjadi?”, Chanyeol balik bertanya.

“Kesalahan apalagi yang telah aku perbuat?”, Baekhyun berlutut diatas tanah.

“Sudah kubilang jangan pernah membuka buku itu diluar rumah yang kalian cari, ini akibatnya. Terjebak di dunia kami.” ucap sumber suara tepat dihadapan mereka semua.

“dokter Nesha??”, Riri seakan tak percaya.

“Apa yang kau lakukan disini? Kami ada dimana?”, tanya Chanyeol sedikit tergesa-gesa.

“Inilah tempat kami, tempat arwah yang terjebak akibat ulah kedua hantu itu. Hanya disini kami bisa menampakkan diri dan tak terdeteksi kedua hantu itu, tapi..”, jelas Sehun yang tiba-tiba ada disebelah dokter Nesha.

“Tapi apa?”, tanya Baekhyun.

“Tapi jika pembatas rumah itu terbuka, mereka tentu dapat menemukan kami.”, jawab dokter Nesha.

“Baekhyun.. Kita..”, Chanyeol menatap Baekhyun kebingungan.

“Buku itu! Dimana buku itu sekarang??”, Baekhyun langsung gelagapan.

“Percuma, buku itu tidak akan tampak kecuali.. kecuali ada darah murni yang menetes dalam parfum itu.”, jelas Nesha.

“Darah murni? Maksudnya?”, tanya Baekhyun.

“Darah dari keturunan asli mereka. Aku, kau, dan kakakmu adalah keturunan mereka.”, jawab Nesha.

“Jadi sebenarnya apa alasan mereka mengincarku? Dan, bukankah semua parfumnya sudah musnah?”

“Lebih baik kita masuk kedalam rumah. Setidaknya mereka tidak bisa memasuki rumah itu.”, titah Sehun.

“Baiklah.”

Didalam rumah, Riri dan Chanyeol tengah beristirahat dalam suasana tanpa waktu. Sehun terus menemani kemanapun Nesha pergi. Dan sekarang Nesha masih terus bercerita pada Baekhyun.

“Jadi apa penyebab sebenarnya?”, tanya Baekhyun.

“Aku masih tidak mengetahui apa penyebabnya. Hanya saja semua berhubungan dengan perusahaan NN Parfume.”, jawab Nesha.

“Ya, parfum itu. Tapi tetap saja aku masih tidak mengerti arah permainan mereka.”

“Aku hanya mengerti bagaimana cara menghancurkan mereka, tapi dengan keadaanku yang seperti ini rasanya sulit melakukan itu.”

“Keadaan apa yang kau maksud?”

“Aku.. Aku belum mati.”

Pernyataan Nesha sukses membelalakan mata Baekhyun. “Ma.. Maksudmu?”

“Tubuhku terbujur kaku di sebuah rumah sakit di Indonesia. Hanya nenekku yang mengetahui itu, dan karena dialah aku masih bisa hidup.”

“Jangan bergurau..”, Baekhyun tertawa garing.

“Dia serius. Hyung lihat? Wajahnya tak sama sekali pucat seperti orang mati.”, Sehun tiba-tiba membuka suara.

“Ehm benar juga, lalu wanita yang kulihat di rumahmu?”, tanya Baekhyun.

“Itu aku, nenek menukarkan nyawanya dengan nyawaku agar aku bisa hidup dan menghancurkan kedengkian antara nenek moyang kita.”, jelas Nesha.

“Kenapa kau tak bangun saja?”

“Hanya dengan ini aku bisa aman membantu kalian dan bersama Sehun.”

“Baiklah.”

“Dan ingat, mereka tidak bisa membunuh keturunan mereka, itu sebabnya aku tidak mati dan mereka membunuh orang disekitar kita. Itu satu-satunya cara agar mereka bisa menyakiti kita.”

“Lalu bagaimana dengan Kris hyung?”

“Dialah kunci semua ini, dia yang tahu segalanya. Dia yang memegang parfum terakhir.”

***

DI CHINA

Kris masih sibuk dengan tumpukan kertas dan berkas yang sedari tadi menjadi tumpuan kepalanya. Entah apa yang terjadi, namun suatu hal terpaksa membuat otaknya menyortir memori yang sudah ia kubur cukup lama.

“Perasaanku tidak enak, aku takut semuanya terlambat, hanya kau.. hanya kita yang mampu melakukannya, apa yang harus kulakukan?”, tanya Kris menatap selembar foto usang.

Ting ting. iPad Kris berbunyi, sebuah email masuk dan bertuliskan, ‘One new email from Baekhyun’.

“Baekhyun? Email ini semestinya kuterima kemarin sore, kenapa baru sekarang sampainya?”, tanya Kris sembari membuka email tersebut.

Hyung, aku mengunjungi Indonesia lagi untuk misi selanjutnya. Kau lihat wanita yang ada di foto bersamaku? Itu Riri dan dokter Nesha. Merekalah tujuan kami jika ke Indonesia. Bersabarlah, semua akan baik-baik saja. Esok lusa aku akan tiba di China, tapi jika tidak maka percayalah aku menyayangimu.

Dengan hormat, Byun Baekhyun.

“dokter Nesha?”, Kris melihat dengan seksama. “Rasanya wajahnya tak asing, jangan-jangan..”

FLASHBACK ON

“Rasanya hubungan kita tak akan berhasil, oppa.”, rengek Nesha.

“Waeyo?”, tanya Kris.

“Aku masih berumur 9 tahun dan oppa sudah 14 tahun.”, jawab Nesha. “Lagipula, eomma bilang kami akan pindah ke Indonesia, menyusul nenekku untuk tinggal disana.”

“Mwo?? Indonesia? Itu jauh.”, Kris mengerucutkan bibirnya.

“Kris..”, panggil neneknya.

“Waeyo?”

“Sudah nenek bilang jangan bergaul dengannya, dia tak pantas berteman denganmu. Kalian berlawanan!”

“Tapi.. Dia..”, belum selesai bicara, nenek pun memotong.

“Cepat masuk ke kamar! Biar supir mengantar dia pulang.”, titah nenek Kris.

“Tapi, mengapa aku tidak boleh bersamanya?”, tanya Kris pada neneknya.

“Kalian bersaudara, itu saja.”, jawab neneknya.

“Mana mungkin! Jangan membohongiku!”

“Masa lalu yang membuat kalian tak bisa bersama walau hanya teman.”, jelas nenek Kris lagi.

“Memangnya ada apa, nek?”, tanya Kris agak memaksa.

“Ibuku adalah penyebab rusaknya perusahaan milik ibu neneknya Nesha.”

“Perusahaan?”

“Ya, NN Perfume. Yang sekarang adalah perusahaan yang orangtuamu pegang.”

“Lalu kenapa aku tak boleh berteman dengannya?”

“Walaupun kau bukan anak kandung eomma dan appamu, tapi kau telah masuk dalam keluarga ini. Dan kau yang akan lebih mudah dihancurkan nanti.”

Kris masih menatap neneknya, seakan ingin tahu hal lain.

“Nichan dan Neulchan bersumpah sebelum mereka mati, mereka akan membunuh seluruh keturunan ibuku. Hanya saja, entah kekuatan apa yang membuat mereka berdua sama sekali tidak bisa menyentuh keturunan ibuku, apalagi membunuhnya.”, jelas nenek Kris.

“Jadi maksud nenek.. Mereka bisa membunuhku karena aku bukan keturunan kalian?”

“Ya, itu maksud nenek. Tapi sudahlah, selama kau mematuhiku, semua akan baik-baik saja.”

“Baiklah kalau itu yang nenek inginkan.”, Kris masih tidak mengerti dengan hal yang mendadak ia ketahui. Tapi ia yakin lambat laun semuanya akan menghilang hingga ia dapat bersama Nesha lagi.

“Lambat laun kau akan tahu semuanya, tapi jangan pernah beritahu adikmu tentang apapun yang terjadi. Semua ini harus berakhir secepatnya. Nenek percaya, kau yang akan menyelesaikan semua ini.”, ucap neneknya seraya meninggalkan Kris.

“Semoga saja..”, Kris menundukkan tubuhnya 75 derajat.

“Oya, nenek hampir lupa. Kau akan melanjutkan pendidikanmu di China sambil menemani appamu disana. Bersiaplah, besok kita berangkat ke China.”, timpal nenek.

“Mwo? China?”, Kris membulatkan matanya.

Beberapa menit setelah sang nenek meninggalkannya sendiri di kamar, langsung saja ia pergi keluar rumah lewat jendela. Tentu saja tujuannya yaitu, ke rumah Nesha.

“Nesha..”, Kris mengetuk gerbang rumahnya.

“Nuguseyo?”, tanya seorang yeoja yang tak lain adalah Nesha.

“Ini aku, Kris.”, jawab Kris setengah berbisik.

“Oppa? Ada apa?”

Nesha dengan segera membuka pintu gerbang rumahnya.

“Aku akan pergi ke China besok.”, Kris menunduk.

“Apa??”, Nesha seakan tak percaya.

“Mianhae, aku tak bisa menolak.”, Kris menutup wajah menggunakan telapak tangannya. Sepertinya ia menangis.

“Oppa, jangan menangis. Tak apa, China itu dekat dengan Korea.”, hibur Nesha.

“Aku tak menangis, hanya saja aku bingung dengan semua ini. Rasanya rumit.”, jelas Kris.

“Memangnya ada apa?”, tanya Nesha.

“Aniya.. Lupakan.”, jawab Kris tersenyum, menunjukkan ketampanan alaminya.

“Oppa, berhati-hatilah disana. Jangan lupakan aku ya.”, Nesha tertawa.

“Aniya, mana mungkin aku..”, ucapnya terhenti.

“Kris! Cepat masuk ke mobil!”, suara neneknya memanggil.

“Nenek?”, kaget Kris.

“Lancang kau melanggar perintahku! Cepat masuk mobil!”, bentak neneknya.

“Pergilah oppa, jangan membantahnya.”, pinta Nesha tersenyum.

“Baik, berjanjilah padaku kita akan bertemu lagi disini.”, ucap Kris sembari memberikan kalung kesayangannya.

“Tentu saja, aku berjanji oppa.”, air mata Nesha tak terbendung lagi.

FLASHBACK END

 

“Aneh sekali, aku masih terus mengingatnya.”, ucap Kris memandangi foto yang dikirim Baekhyun. “Sepertinya aku harus menyusul Baekhyun, perasaanku tidak enak.”

Dengan segera Kris menghubungi travel agent langganannya.

***

DI INDONESIA

“Ibu.. Ayah.. Aku ingin pulang.”, Riri menangis. Suhu tubuhnya mendadak tinggi.

“Jebal.. jangan menangis. Kau akan baik-baik saja.”, Baekhyun mencoba menenangkan Riri dengan mengecup keningnya.

“Aku ingin pulang oppa, semua ini membuatku gila.”, kesadaran Riri mulai menurun.

“Bagaimana ini, Baekhyun-ah? Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, kita akan terjebak di dimensi ini selamanya.”, ucap Chanyeol sembari mengacak rambutnya.

“Percayalah, dokter Nesha tak akan membiarkan kita terjebak disini selamanya.”, Baekhyun meyakinkan sahabatnya itu.

“Tenanglah, kami akan menolong kalian hyung.”, ucap Sehun dan Kai.

“D.O dan Suho hyung mana?”, tanya Baekhyun.

“Mereka sedang menghalangi kedua hantu tersebut. Mereka sudah mengetahui posisi kalian disini, kalau kalian berhasil diketemukan, mereka akan dengan mudah membunuhmu, hyung.”, jelas Kai.

“Bukankah mereka tidak bisa membunuhku?”

“Kalian di dimensi yang berbeda sekarang. Keadaan sudah berubah.”, jawab Sehun.

“Lalu apa kau tak bisa membantu kami?”, tanya Chanyeol putus asa.

“Yang bisa kami lakukan hanya menghalaunya saja, tidak lebih.”, tegas Kai.

“Dokter Nesha bilagn sekarang semua bergantung pada seorang yang memiliki darah asli sepertimu, hyung.”, tambah Sehun.

“Apa mungkin kakakku memilikinya?”, pikir Baekhyun.

***

Kris sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Dicobanya lagi untuk menghubungi Baekhyun, berharap akan tersambung karena mereka sekarang ada di Negara yang sama. Tapi ternyata nihil, masih tetap tidak tersambung.

“Ah, aku kan tidak tahu alamatnya.”, keluh Kris.

“Ah ya!”, Kris langsung saja mencari iPad kesayangannya sembari berjalan menuju pintu keluar bandara.

“Email dari Baekhyun. Baekhyun.. Byun Baekhyun.”, jemari lentik Kris sibuk mencari email dari adiknya.

“Ah ketemu! Alamatnya di Jalan Dago blok 11 nomor 29 Bandung, jalan..”

Tiba-tiba saja.. BRUK! Seorang wanita tua menabrak tubuhnya hingga tak seimbang dan iPadnya terjatuh.

“Omona!”, Kris terkejut.

“Mianhae, mianhae.”, ucap wanita tua itu.

“Oh ne, cheonmaneyo.”, Kris langsung menyelamatkan iPad nya tanpa melirik kearah nenek tua tersebut. iPad nya kini mati total, layarnya pun retak dan banyak goresan dimana-mana. Sementara alamat yang ia butuh ada didalam situ dan hanya iPad yang ia bawa, telepon selularnya tertinggal di kantor. Langsung saja ia menaiki taksi yang paling dekat dengan posisinya.

Baru saja ia duduk di taksi itu, matanya bertemu dengan wanita tua yang sepertinya menabraknya tadi. Karena wanita itu masih diam tak bergerak di tempatnya tertabrak tadi.

“Aigoo!”, nafasnya tercekit. Matanya membulat sempurna. Wanita tua yang selama 20 tahun terakhir hadir dan mengganggu di mimpinya, kini terlihat jelas tak jauh dari tempatnya berada.

Tubuhnya pucat, pakaiannya seperti zaman dahulu dengan gaun kusam, rambut yang tak terurus berwarna putih kehitaman. Matanya menatap kosong kearah Kris, senyumnya menyiratkan beribu arti. Senyum licik yang membuat Kris menahan nafasnya lebih lama. Tak sedikitpun ia bisa memalingkan pandangan dari wanita tua itu. Seketika darah segar mengalir dari salah satu lubang hidung Kris. Rasa sakit menyeruak dikepalanya.

“Astaga, jangan menggangguku lagi!”, cibir Kris didalam hati. Semakin lama sosok wanita tua itu mendekati Kris. Pandangan Kris pun mendadak buram.

“Mau kemana, tuan?”, tanya supir taksi menyadarkan Kris dengan bahasa inggris ala kadarnya.

“Ohok ohok, ehm.”, Kris masih merasakan sesak dan sakit pada tubuhnya dan darah itu memang ada.

“Ada apa, tuan?”, tanya supir taksi lagi.

“Tidak ada apa-apa, bisa antarkan saya ke..”, ucapan Kris tersendat, pikirannya mendadak buyar. Ia mencoba mengingat alamat rumahnya Nesha. “Ke Jalan Doga, Bandung.”

“Maaf tuan, Jalan Doga? Di Bandung hanya ada Jalan Dago.”, supir taksi pun kebingungan.

“Ya, mungkin jalan itu.”

“Bisa saja, tapi mungkin biayanya lebih mahal. Mungkin tuan bisa menggunakan jasa travel.”

“Baiklah, tolong antar saja ke jasa travel terdekat.”, pinta Kris. Senyum kecil terukir diwajahnya kala mendengar ucapan supir taksi yang tak masuk dalam kategori grammar apapun.

“Untung saja aku bisa berbahasa inggris dengan baik, setidaknya aku bisa mengerti ucapannya.”, ujar Kris dalam hati.

***

“Maaf tuan, apa anda sudah mengingat dengan lengkap alamat tujuan anda? Kita sudah sampai di Dago.”, ucap supir travel.

“Entahlah, yang aku ingat hanya nomor 29.”, jelas Kris.

“Nomor 29? Blok berapa? Ada sekitar 12 blok disini.”, ujar si supir.

“Ya sudah, tetaplah mencari. Aku membayarmu karena memerlukan jasamu, bukan menemaniku dengan turut kebingungan juga.”, ucap Kris.

“Baiklah, tuan.”

Beberapa menit kemudian.

“Ehm, berhenti disini.”, ucap Kris tiba-tiba.

“Disini?”

“Iya, itu. Di rumah yang besar itu.”

“Baiklah, apa perlu saya tunggu?”

“Tidak usah, nanti saya hubungi lagi kalau saya akan kembali ke bandara. Terimakasih.”

***

“Apa benar yang ini? Entah kenapa rasanya pernah melihat rumah ini.”, ucap Kris yang tepat berdiri didepan gerbang rumah yang tak terkunci itu.

“Ah, dari foto yang pernah Baekhyun kirim untukku.”, Kris mencari foto yang ia maksud.

“Kemana ya?”, Kris mencari didalam tas gendongnya.

“Mencari ini?”, tanya seorang wanita dengan suara seraknya.

“Ka.. Kau..”, Kris terkejut dengan apa yang ia lihat. “Ma.. Mau apa kau..? Jangan menggangguku lagi!”

“Kau yang mengusik kami, untuk apa kau mencari keturunanku?”, ucap dua sosok wanita tua yang tak lain adalah Neulchan dan Nichan, arwah yang selalu menggentayangi Kris dalam mimpinya.

“Aku tak mengganggunya, aku hanya ingin bertemu dengannya saja, cukup.”

“Jangan datang kemari!”, ucap salah satu arwah tersebut berteriak, memekakkan telinga Kris.

“Hentikan! Sakit!”, Kris menutup telinganya. Lagi-lagi darah segar mengalir dari hidungnya.

“Berhenti berteriak di telingaku!!”, bentak Kris kesakitan.

“Berhenti mendekati keluargaku jika kau tak ingin mati.”

“Tidak!”, Kris setengah berteriak. Matanya menangkap seisi ruangan dimana ia terbaring.

“Kau sudah sadar?”, tanya yeoja paruh baya yang tak asing baginya.

“Ibu?”, Kris malah balik bertanya.

“Kau masih mengingatku? Ya, aku ibunya Nesha. Untunglah aku tidak terlambat menemukanmu.”, jawabnya.

“Mianhae sudah merepotkanmu, ibu.”, ucap Kris menunduk.

“Tak apa, kebetulan ada tetangga yang membantu, kenapa kau bisa sampai ke Indonesia dan tahu alamat kami? Ada apa? Lalu mengapa kau tak sadarkan diri diluar?”

“Aku.. Aku mencari adikku, ia berlibur kemari bersama beberapa temannya, ia bilang ia dekat dengan Nesha.”

“Oh berlibur, kemarin lusa nenek berkata ia bertemu dengan adikmu. Ia bertanya soal rumah yang sebelumnya keluarga kami tempati.”

“Ah? Rumah? Oya, Neshanya ada? Aku ingin menemuinya.”, tanya Kris mencari ke segala penjuru.

“Nesha sedang tidak bisa diganggu.”, ucap Ibu Nesha ragu.

“Apa yang terjadi dengannya?”, Kris menangkap gelagat aneh.

“Hampir seminggu ini Nesha tidak sadarkan diri, jadi..”

“Dimana sekarang dia, bu? Izinkan aku menemuinya, bagaimanapun keadaannya sekarang.”, pinta Kris dengan sangat.

Bagaimanapun Kris adalah teman Nesha semasa kecil. Oleh sebab itu, tak ada alasan bagi Ibu Nesha untuk menolak, meski ia ingin. Ia menuntun Kris kearah kamar Nesha. Baru beberapa saat yang lalu Nesha dipindahkan kemari. Sebelumnya ia dibiarkan dirawat di sebuah rumah sakit. Namun, karena dirasa suasana sudah cukup aman, neneknya memutuskan membawa tubuh Nesha kembali ke rumah.

“Besok aku akan mengantarmu ke rumah itu. Bermalamlah terlebih dahulu disini, hari sudah mulai gelap.”, tawar Ibu Nesha dengan ramahnya. Kris menurut. Ia juga tidak mungkin mencari rumah itu sekarang. Selain tak tahu jalan, ia sangat ingin menemui Nesha. Gadis kecil yang dulu pernah ditinggalkannya.

Sepeninggal Ibu Nesha, Kris beranjak mendekati tempat tidur yang berada tepat ditengah ruangan. Matanya menjamah setiap inci karya seni Tuhan dihadapannya.

“Apa yang terjadi sebenarnya? Bukan arwah-arwah itu yang menyebabkanmu jadi seperti ini, kan?”, tanya Kris sembari duduk diujung tempat tidur Nesha.

Rasa lelah tentu saja menggerayanginya. Mata tegasnya terlihat meredup. Kulit cerahnya begitu pucat. Yang ia butuhkan saat ini tentu istirahat. Namun Kris secara pribadi tak ingin melewatkan momen berharga ini. Kemudian ia mengambil langkah tengah. Ia ingin beristirahat, namun tak ingin kehilangan sedikitpun waktu bersama Nesha. Mulai digerakkan dua kaki jenjangnya ke sisi tempat tidur, ia lipat keduanya seraya duduk beralaskan lantai yang dingin. Dengan segala doa, ia berharap semoga tak ada yang bisa memisahkan ia dan yeoja dihadapannya lagi. Apapun yang akan terjadi nantinya. Digenggamnya erat tangan Nesha yang dingin. Beberapa detik kemudian, matanya memejam sempurna.

***

Chanyeol sibuk mengotak-atik sebuah kayu kecil yang ditemukannya tadi. Tentu saja ia bosan. Meski waktu sama sekali tak bergerak di dimensinya, tetap saja semua berjalan seperti biasa. Hanya bedanya, tak ada yang dapat bergerak kecuali mereka dan benda yang mereka sentuh. Di ujung lain, Baekhyun sedang sibuk berpikir bagaimana cara menghubungi kakaknya agar bisa membantunya melepaskan diri. Dokter Nesha sedang memantau keadaan diluar dari balik jendela. Sementara Kai dan Sehun memeriksa seluruh isi rumah. Ditakutkan ada hal-hal yang tak diinginkan.

“Oppa, sepertinya aku harus ke kamar mandi.”, ujar Riri.

“Ah? Biar Sehun dan Kai yang mengantarmu.”, jawab Baekhyun.

“Aku saja.”, tawar Chanyeol.

“Aku khawatir Chanyeol, lebih baik Kai dan Sehun saja. Mereka lebih memahami rumah ini daripada kau.”, terang Baekhyun dengan jujur.

“Tidak masalah, aku akan memanggil salah satu dari kalian jika ada masalah.”, ucap Chanyeol masih mencoba meyakinkan Baekhyun.

Meski masih terasa ragu, Baekhyun akhirnya setuju. Chanyeol membiarkan Riri memeluk lengannya erat, agar mereka tidak terlepas saat menelusuri rumah lebih dalam.

“Mau kemana mereka?”, tanya Nesha yang sedari tadi hanya memperhatikan.

“Ke kamar mandi, bagaimana keadaan diluar?”

“Suho dan D.O masih berusaha menghalau mereka meski kelihatannya mereka sudah mulai lelah. Kurasa kita harus cepat bertindak.”, saran dokter Nesha dan mendapat anggukan cepat dari Baekhyun.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku bahkan tak tahu cara menghubungi kakakku.”, cerita Baekhyun membuat kening Nesha berkerut.

“Kukira kau memang sudah memanggil kakakmu.”, ujar Nesha sembari menuntun Baekhyun kearah matanya memandang.

“Hyung!”, Baekhyun terkaget-kaget melihat Kris yang entah sejak kapan berada di ruangan itu. Darimana dia datang? Kapan dia sampai disini? Dan bagaimana mungkin semua bisa terjadi? Baekhyun tidak serta merta menyebutkan berbagai pertanyaan yang mengganggunya tersebut, ia yakin tidak akan mendapatkan jawaban sedikitpun mengingat tubuh Kris yang tergeletak tak sadarkan diri.

“Apa kau mengetahui bagaimana cara hyungku bisa sampai kemari?”, tanya Baekhyun tanpa menatap lawan bicaranya. Namun Nesha yakin hal itu ditujukan kepadanya.

“Aku tak tahu, Baekhyun. Aku juga bingung, kukira kau yang memanggilnya.”, dokter Nesha ikut heran. Ia merendahkan tubuhnya untuk menemani Baekhyun yang sedang berusaha membangunkan Kris.

“Tidak ada yang aneh di rumah ini, eh siapa dia?”, tanya Kai yang baru saja selesai berpatroli bersama Sehun.

“Terlihat seperti kembaranmu, hyung. Hanya saja lebih tampan.”, Sehun terkekeh mendengar perkataan yang terlontar dari mulutnya sendiri. Hal yang tidak pas dilakukan disaat seperti sekarang ini. Tawanya terhenti saat Kai menyikut pelan pinggangnya. Diliriknya Nesha yang sedang memberikan tatapan pembunuh padanya.

“Lebih baik kalian bantu Suho dan D.O diluar, tampaknya mereka sudah mulai kewalahan.”, usul dokter Nesha. Kai bergerak lebih cepat dari Sehun sehingga ia kini sudah berada diluar rumah.

“Kemana yang lain?”, tanya Sehun menyadari keberadaan ruangan yang lebih kosong daripada tadi.

“Chanyeol sedang mengantar Riri ke kamar mandi, kurasa sebentar lagi mereka kembali.”

“Kamar mandi? Seluruh ruangan di rumah ini sudah kukunci, jadi mereka tidak bisa masuk ke ruangan manapun.”, ujar Sehun sedikit panik.

***

“Hey, kau harus tahu satu hal. Sebenarnya dari awal aku sangat iri padamu.”, ucap Chanyeol memecah keheningan lorong yang sedikit gelap itu. Debu-debu di sekitarnya beterbangan karena alas kaki yang mengetuk lantai. Langkah mereka yang pelan membuat semua suara di sekitar selalu terdengar, sekecil apapun.

“Iri kenapa, oppa?”, respon Riri singkat. Berbagai sentuhan-sentuhan di kedua kakinya membuatnya merinding ngeri. Entah apa, namun sentuhan yang lebih terasa seperti angin di musim dingin itu selalu merecoki kedua bagian kakinya yang tak tertutupi, meski ia sudah menggunakan celana panjang.

“Byun Baekhyun. Apa kau tak sadar dia selalu membelamu? Kalian bahkan belum genap dua bulan berkenalan, bukan?”, Chanyeol semakin memperlambat gerakan kakinya ketika mereka akan melewati pertigaan lorong. Berjaga-jaga akan kemungkinan yang terjadi.

Sedangkan Riri hanya diam, masih mengamit lengan Chanyeol dengan erat.

“Baekhyun oppa sangat ingin masalah ini cepat selesai, aku yakin semua berpikiran sama. Dan setelah masalah ini selesai, tentu saja kita akan kembali jauh, oppa. Aku juga tak mengira kalian akan kembali lagi ke Indonesia.”, ujar Riri mengutarakan pendapatnya, meski agak menyimpang dari topik awal.

“Tunggu sebentar.”, ucap Chanyeol menghentikan langkahnya.

“Aku takut, oppa.”, Riri bersembunyi dibelakang tubuh Chanyeol. Namja setinggi 185cm itu masih menerka-nerka apa yang terjadi. Sesaat yang lalu ia merasa hatinya tak enak, ia takut terjadi sesuatu. Maka dari itu, ia tingkatkan kewaspadaannya.

“Aku tak yakin ini jalan yang benar, lebih baik kita mundur.”, ajak Chanyeol seketika membuat wajah Riri memucat. Ia panik, tapi tak membiarkan dirinya lepas kendali.

Chanyeol menarik tangan kecil Riri dengan perasaan takut bercampur bingung. Ada sebuah pintu terbuka, kemudian ia masuk kedalamnya. Sebuah ruangan kecil, lebih mirip seperti kamar pas yang biasa ada di toko baju. Suasana sesak memenuhi ruangan, kala kedua manusia itu berdesak didalamnya. Pintu ditutup dengan rapat. Park Chanyeol meletakkan jari telunjuk didepan bibirnya. Memberi isyarat untuk tak membuat suara sekecil apapun.

Blush~ sesuatu baru saja melewati ruangan mereka. Hal itu terlihat dari sebuah bayangan yang terekam melalui celah pintu. Riri sedikit memekik, hal yang membuat Chanyeol seketika gelagapan lalu menutup mulut Riri dengan tangannya.

Keduanya bernapas secara tak beraturan. Sejumlah karbon dioksida yang tak kasat mata bergerumul disekitar mereka, mengalahkan kadar oksigen yang semakin menipis. Tentu saja, ruangan ini tak memiliki celah satupun kecuali pintu yang kini tertutup.

Chanyeol merasa ada yang aneh dengan ruangan di sekitarnya tersebut. Hingga saat ujung sepatunya menyentuh sesuatu, ia menyadari satu hal. Ruangan ini bergerak. Ia sangat yakin sebelumnya ruangan ini tak sesempit sekarang. Langkah mereka mulai menyempit. Raga mereka terkurung di sebuah ruangan.

“Aku.. Aku tidak ingin berakhir seperti ini..”, ujar Riri dengan nada lirih, mengisyaratkan ketakutan yang teramat sangat.

***

“Akhirnya kau sadar, hyung! Ayo lekaslah bangun!”, ujar Baekhyun saat Kris baru saja membuka sedikit matanya.

Kris memegang kepalanya yang terasa berat. Otaknya belum menangkap tempat yang sedang ia duduki sekarang.

“Nesha?”, pekiknya saat mendapati yeoja yang dipanggilnya tengah tersenyum padanya.

“Kalian.. Kalian saling mengenal?”, tanya Baekhyun secara tak sadar, hal yang mungkin lebih tepat ditanyakan di lain waktu.

BRAK! Suara pintu yang dibuka secara kasar mengagetkan seluruh makhluk yang ada di ruangan tersebut. Mereka langsung membuat pose pertahanan diri masing-masing. Melihat keadaan yang kembali hening bukannya memunculkan kesan damai dalam diri mereka, melainkan sebaliknya. Seperti layaknya film horor, semua hal menyeramkan datang setelah keheningan, bukan?

“Mereka ada disini.”, ujar Kris dengan tingkat kesadaran 90%.

Baekhyun mengerti ucapan hyungnya tersebut. Keadaan semakin mencekam dengan keheningan yang semakin panjang.

“Apa ada cara lain selain meneteskan darah murni pada parfum itu, hyung?”, tanya Baekhyun ditengah ketegangan itu. Matanya bermain ke segala arah. Tak membiarkan satu sudut pun terlewatkan.

“Sebenarnya jika buku itu ada disini, semua bisa lebih mudah terselesaikan. Hanya saja, aku tidak melihat buku itu. Apa kau tidak memegangnya?”, tanya Kris.

“Buku itu tidak terbawa kesini, oppa.”, jawab Nesha saat menyadari Baekhyun tak menggubris pertanyaan Kris. “Bagaimana bisa kau ada disini?”, tanyanya.

“Aku datang ke rumahmu, tapi kau sedang tak sadarkan diri, mungkin koma.”, ujar Kris. Pandangannya beralih menuju sebuah lorong. Auranya berubah, seperti ada seorang, atau mungkin sesuatu yang hendak menuju ke tempat mereka sekarang.

“Tidak bisa! Ini tidak bekerja!”, teriak Baekhyun di sudut ruangan. Nesha yang terkejut mendekati Baekhyun yang sedang memegang pisau dan menyayat-nyayat lengannya.

“Apa yang kau lakukan, bodoh?!”, teriak Kris panik. Meski tak ada setetes pun darah yang keluar dari lengan Baekhyun, tentu saja ia khawatir. Segera Kris menarik pisau yang entah didapat Baekhyun darimana. Keberuntungan baginya, mungkin pisau itu bisa digunakannya untuk mempertahankan diri.

“Aku memiliki darah murni itu, tapi mengapa darahnya tidak bisa keluar?”, dengan bodohnya ia mencakar-cakar permukaan kulitnya menggunakan kuku.

“Sepertinya percuma saja jika kau berdarah-darah disini. Parfum itu ada pada Kris oppa, kan? Kita bisa mengambilnya setelah kita keluar dari dimensi ini. Jadi berhentilah bertingkah bodoh, itu hanya akan menghambat kita.”, jelas dokter Nesha menghentikan tingkah kekanak-kanakan Baekhyun.

“Sehun, dimana kau?”, panggil Nesha, namun Sehun tak kunjung muncul.

“Dimana dia? Tiba-tiba menghilang dan tak kembali.”

Suasana yang tadi sempat mencekam kini kembali normal. Tidak ada aura-aura negatif yang muncul. Namun mata mereka tetap tak berkedip mengawasi pergerakan disekitar.

“Aku akan mencari Chanyeol dan Riri, sedaritadi aku mengkhawatirkan mereka.”, ujar Baekhyun hendak berjalan keluar dari ruangan.

“Terlalu berbahaya jika hyung keluar dari ruangan ini sendiri, ruangan ini yang teraman dari seluruh penjuru rumah.”, suara Sehun yang tiba-tiba mengagetkan yang lain.

“Tapi bagaimana dengan mereka? Kau mengira aku akan membiarkan mereka berada di ruangan yang tak aman diluar?”, emosi Baekhyun mulai tak bisa ia kendalikan lagi.

“Bukan begitu hyung, aku baru saja memeriksa rumah ini lagi. Aku merasa ada beberapa kejanggalan. Yang tercium hanya aroma parfum yang menyengat, tidak ada bau manusia selain di ruangan ini.”, jelas Sehun membuat yang lain terdiam.

“Jadi bagaimana ini?!”, pekik Baekhyun frustasi.

“Hanya ada satu cara.”, ucap Nesha bergetar.

“Ani! Bukan ini cara yang benar. Kau bisa terjebak disini selamanya, bahkan mati! Aku tidak mau itu terjadi.”, Sehun makin menggenggam tangan Nesha erat.

“Kalau itu bisa membuatmu ada disisiku, bukan masalah.”, Nesha berjalan menjauhi Sehun, namun kali ini Kris yang menghalanginya.

“Kau bukan satu-satunya yang hidup. Aku dan Baekhyun masih hidup. Kami bisa membantumu.”, ucap Kris.

“Apa mungkin orang di luar sana bisa menemukan tubuh Baekhyun? Hanya nenekku yang bisa, dan kau? Apa yang bisa kau lakukan? Darahmu bukan darah murni, darahku yang murni!”, nada suara Nesha meninggi. Sedangkan Baekhyun hanya berusaha menelan ludahnya yang tercekit.

“Aku tahu. Setidaknya aku bisa membantumu ke dunia nyata.”

“Apa kau gila? Pintu menuju dunia nyata itu ada diluar yang entah di sebelah mana, sedangkan dua arwah itu mulai muncul dimana-mana.”, Nesha mendorong bahu Kris.

“Aku mohon, jangan pernah korbankan dirimu sendiri. Aku ingin kau hidup.”, pinta Sehun sembari duduk bersimpuh menggenggam kedua tangan Nesha.

“Aku seorang dokter, aku telah berjanji harus menyelamatkan nyawa orang lain.”

Baru saja Nesha selesai bicara, tiba-tiba hawa dingin kembali menyelimuti mereka. Kabut tebal pun tak luput hadir menemani. Bulu kuduk pun tak segan untuk berdiri layaknya menyambut tamu yang akan hadir. Bau parfum itu lagi-lagi menyeruak. Cahaya pun kini perlahan memudar. Sebuah pintu terbuka tiba-tiba.

“Lalu apa yang bisa kita lakukan, hyung? Kami berbeda dengan kalian. Hanya ini yang bisa kami lakukan.”, tanya Kai yang muncul tiba-tiba.

“Biar aku yang mencari Riri dan Chanyeol.”, ucap Nesha yakin.

“Ani!”, ucap Kris dan Sehun bersamaan. Refleks Sehun memegang tangan Nesha erat. Sedangkan Kris hanya bisa terdiam karena Nesha tak cukup dekat dengannya. Betapa terkejutnya Nesha, setelah sekian lama akhirnya ia bisa menyentuh Sehun.

Ia senang, tapi jauh di lubuk hatiya ada rasa tersayat yang sakitnya bukan main. Kenapa namja itu muncul lagi setelah berhasil membuatnya jatuh terkoyak seperti makanan harimau? Namja yang meninggalkannya dengan berjuta janji yang tak ditepati satupun. Dan kini muncul saat dia sudah berhasil mengisi hatinya oleh sosok Sehun yang memang sudah tak mungkin hidup.

BRAK! Semua terkejut bukan main. Sehun mencoba mendekati Nesha dengan cahaya yang seadanya.

“Oppa..”, ucap Nesha lirih.

“Ne, tenanglah. Semuanya jangan berpencar.”, pinta Sehun setengah berteriak. Dan semua kompak memberi peringatan bahwa semua sudah saling mendekat.

“Oppa, jangan tinggalkan aku lagi. Aku.. Aku ingin kau menemaniku lagi.”, ucap Nesha yang Sehun rasa kini tak disampingnya.

“Aku.. Aku tak pernah meninggalkanmu, aku akan selalu ada disampingmu, kau tahu itu.”, Sehun berusaha mencari-cari dimana Nesha berada. Tiba-tiba pintu tadi sepertinya menutup kembali. Cahaya pun mulai kembali, tapi..

“Dimana Nesha?”, tanya Kris panik.

“Tadi dia disampingku, masih berbicara denganku. Aku berusaha memegangnya, tapi makin lama ia tak didekatku.”, jelas Sehun.

“Aku tahu.. Dan aku mendengarnya.”, batin Kris.

“Arrgh! Bagaimana ini?? Nesha juga hilang??”, Baekhyun mulai gelagapan mondar-mandir panik.

“Tenang, kami akan berusaha mencari.”, Kai bersua.

Suho dan D.O muncul dengan nafas yang terengah-engah menunjukkan wajah yang sepertinya bisa Sehun tebak.

“Jangan bilang..”, seru Sehun.

“Maaf, mereka terlalu kuat. Kami sudah kehabisan tenaga.”, Suho lemas bukan main.

“Sudahlah, apa kalian tahu dimana pintu menuju dunia nyata?”, tanya Kris.

“Ada diluar rumah ini, tempatnya selalu berpindah-pindah. Memangnya kenapa? Oh ya, bagaimana kau bisa kesini, hyung?”, D.O balik bertanya.

“Jangan dulu dibahas. Kita harus mengakhiri semua ini.”, Baekhyun bersiap dengan amunisi seadanya.

TO BE CONTINUED

Gimana gimana? Gak nyambung ya? Wkwk di chapter ini tuh baru dibikin lagi FF nya setelah beberapa bulan ngebangke, makanya kalo ada yang terlupakan mianhaeeeee *bow bareng member EXO* males ngedit juga sih sebenernya soalnya panjang banget, kali kali aja kalo lagi niat baru diedit wkwk. Gak ada yang mati ya disini, berarti sisa kematiannya masih tetep satu. Tuh kan sebenernya dokter Nesha disini gak mati, cuma dia nya aja yang gak mau bangun hehe. Yasudah, tetep ya ditunggu komennya dari author @neshanavy kalo saya nunggu apa ya? Nunggu member EXO nya baca FF ini deh *ngayal*. Udah ah banyak bacot, sampai ketemu di Final Chapter nya yaa 😀

3 thoughts on “FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 5)

  1. woa~ jinjja daebak! ff author kren!! jjang!

    jdi hntu itu brhsil lpas dri d.o dan suho iya kn?

    chanyeol sma riri gmna?? mrka trprangkap d suatu tmpt yg gtw ada dmna..

    nesha?? ko ilang jga??

    gila ko bsa kpikiran bkin ff gni thor? kren bngt alurnya!

    • Awalnya kan emang aku suka baca ff horor, tapi kok jarang nemu yang beneran serem, apalagi dalam bahasa indonesia. Jadi coba cobalah bikin. Saking asiknya nih kita bikin berdua, tadinya rencana ff ini cuma bakal 3 chapter, eh malah jadi 6 lol

      Makasih ya udah sempetin baca dan komen lagi 😘 (5)

  2. Pingback: FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 6) | Born to be an Imaginer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s