FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 4)


Title

Six Deathly Of Perfume (Chapter 4)

Cast

All Member of EXO-K

Wu Yi Fan (Kris)

Dr. Nesha

Riri

Genre

Horror, Mystery, Romance

Rating

NC-17 (violence)

Length

Multi-Chapter

Author

NN Project

Aigooooo ga kerasa udah ngebunuh 4 orang selama ngeberesin 3 chapter sebelumnya. Kira-kira siapa lagi yang bakal terbunuh ya? Tinggal dua orang lagi loh! Karena disini member EXO tinggal sisa BaekYeol, jadi berbangga hatilah BaekYeol shipper *gue* walaupun sebenernya gak begitu banyak sih moment romantis mereka yang biasanya selalu ditunjukkan didepan umum, wkwk. Okai deh daripada kelamaan, kalo yang belom baca chapter sebelumnya bisa dibaca dulu biar ngerti chapter yang ini yaaaa

Warning!

Story idea by @neshanavy

Edited by @ririnovi

Written by NN Project

Previous chapter –> Chapter 1Chapter 2. Chapter 3.

-Preview Chapter 3-

BRUGG! Terdengar hantaman keras saat mobilnya berguling.

“Sehun-ah!”, teriak Baekhyun dan Chanyeol bersamaan ketika mendapati sesosok tubuh manusia yang sudah bersimbah darah. Pakaian rapinya sudah terkoyak. Kulit mulusnya tergores hitam aspal yang melebur dengan merah darah. Tulangnya mungkin sudah remuk tak berbentuk. Wajahnya yang setengah hancur, untung masih bisa dikenali.

Baekhyun dan Chanyeol berhambur kearah jasad Sehun. Sementara Riri berdiri ditempat, menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tangisnya tidak meledak.

“Apa.. Apa yang terjadi?!”, Chanyeol mendadak diliputi emosi.

Semua warga yang ada disitu diam melihat tingkah Chanyeol. Mereka bungkam. Tak ada satupun yang angkat bicara. Baekhyun meratapi nasib dongsaengnya, dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang apa yang terjadi.

Suasana tersebut pecah saat ponsel Baekhyun berdering. Setelah melihat nama penelepon, Baekhyun segera menjauh untuk menjawab panggilan teleponnya.

“Kris hyung, waeyo?.. Hadiah dariku?.. Oya parfum itu.. Merah? Hijau mungkin hyung.. Botol parfumnya merah?.. NN Perfume??”

Baekhyun menatap kosong pada jasad Sehun. Tubuhnya melemas hingga tak sanggup menahan ponselnya agar tetap di tempat semula. Tubuhnya terduduk ditopang oleh kedua lutut.

“Parfum.. Parfum itu masih ada..”

***

“Tenangkan dirimu dulu, Baekhyun.”, ucap Chanyeol.

“Benar apa kata Chanyeol, yang penting masyarakat tidak tahu soal kejadian ini. Bisa-bisa menambah korban.”, timpal sang manager.

“Tapi semua ini tak adil untukku.”, Baekhyun masih tetap memandangi foto Sehun yang tengah ia pegang.

“Adil jika kau menyimpan foto itu diantara foto yang lain.”, manager menyimpan foto itu tepat disamping foto Kai.

“Perlahan-lahan semuanya pergi, dulu jumlah kita enam orang, kini hanya tersisa dua. Mungkin aku akan menyusul.”, Baekhyun terus menangisi foto mantan personil EXO yang terpampang di dorm utama.

“Lebih baik kita cari cara untuk menyelesaikan ini semua.”, Chanyeol menyemangati roommate-nya tersebut.

“Aku ingin beristirahat di kamar, jangan ada yang menggangguku.”, Baekhyun melangkahkan kaki kearah kamarnya, kemudian menutup pintu dengan kasar. Chanyeol dan manager menghembuskan nafas berat hampir bersamaan.

“Bagaimana dengan hyung-nya?”, tanya manager memecah suasana.

“Baekhyun sudah memberitahu hyungnya untuk tidak menggunakan parfum itu. Besok kami akan langsung ke China, hyungnya bilang ada sesuatu juga yang ingin dia bicarakan dengan Baekhyun.” jelas Chanyeol.

“Sudah kuduga.”, manager menyunggingkan senyum sinisnya.

“Maksud hyung?”, Chanyeol tak mengerti.

“Pergilah secepatnya kesana, kupikir firasatku benar. Pasti ada anggota keluarga Baekhyun yang mengetahui asal usul kejadian ini.”

***

Didalam pesawat menuju China, Chanyeol sama sekali sulit mengajak Baekhyun bicara. Baekhyun terus memandangi laptop yang ada dipahanya.

“Apa yang kau lakukan?”, tanya Chanyeol iseng. Tapi tetap tak ada jawaban.

“Ayolah, tak akan ada apapun yang terjadi, percayalah.”, ucap Chanyeol menenangkan. Layar laptop yang hitam menyulitkan Chanyeol untuk melihat apa yang sedang dilakukan Baekhyun.

Tiba-tiba suara pramugari terdengar. Ia meminta semua penumpang bersiap dengan pengaman dan mematikan segala alat elektronik, karena penerbangan akan segera dimulai.

“Baekhyun-ah, matikan laptopmu.”, pinta Chanyeol halus.

Trak! Baekhyun menutup laptopnya kasar.

“Wae.. Waeyo?”, Chanyeol terkejut.

“Ambil barang-barangmu, kita kembali ke dorm!”, Baekhyun bergegas mengambil barangnya.

“Ada apa?”

“Nanti kujelaskan.”, Baekhyun menarik Chanyeol kasar.
BAEKHYUN’s POV

‘File ini tak ada kelanjutannya!’, keluhku dalam hati. ‘Dimana aku harus mencari data lengkapnya?’, tanganku terus bergerak mencari file yang kuperlukan. Tiba-tiba kuingat ucapan Sehun dulu.

FLASHBACK ON

“Hyung lihat! Aku mendapatkan sebuah kado!”, ucap Sehun bahagia.

“Kado apa?”, tanya Chanyeol penasaran.

“Mwooo?”, Sehun terkejut.

“Waeyo?”, tanyaku kebingungan.

“Hanya sobekan kertas koran usang, buku usang, foto usang juga, sepertinya cuma dari sasaeng-ku saja.”, ucapnya kecewa. “Kusimpan saja.”

FLASHBACK END

 

“Baekhyun-ah, matikan laptopmu.”, pinta Chanyeol halus.

Trak! Aku menutup laptop dengan kasar.

“Wae.. Waeyo?”, Chanyeol terkejut.

“Ambil barang-barangmu, kita kembali ke dorm!”, aku bergegas mengambil barang-barang.

“Ada apa?”

“Nanti kujelaskan.”, aku menarik Chanyeol kasar.

Di taksi, kujelaskan apa yang membuatku memilih kembali ke dorm. Dan Chanyeol sedikit tersentak.

“Hanya itu?”

Pertanyaan Chanyeol membuatku sedikit emosi. Dia seakan tidak mempercayaiku.

(BAEKHYUN’s POV END)

 

Baekhyun keluar dari taksi sembari melayangkan pandangan tak sukanya pada Chanyeol.

“Kau itu benar-benar bukan partner yang baik.”, gumam Baekhyun ditengah perjalanan menuju pintu dorm.

Chanyeol yang masih sanggup mendengar suara Baekhyun berjalan mendekatinya. “Kalau aku bukan partner yang baik, aku takkan menemanimu sampai disini.”, sanggah Chanyeol tak terima.

“Keberadaanmu disini tak pernah sama sekali membantuku. Bisakah kau sedikit saja memberi perhatian pada masalah ini?”, Baekhyun memasukan kunci pada lubang pintu. Memutarnya satu kali searah jarum jam.

“Tidakkah kau mengerti berapa kali harus kutekankan, aku peduli padamu dan..”

“Chanyeol, pintunya tidak terkunci..”

Chanyeol menghentikan ocehannya. Kemudian mendekati Baekhyun yang menatapnya was-was.

“Apa kemungkinan yang terjadi didalam?”, tanya Chanyeol sembari memegang knop. Mengambil ancang-ancang untuk membuka pintu.

“Sesuatu yang buruk dan kacau.”, ucap Baekhyun ragu.

“Baiklah, kuharap pemikiran kita salah.”

Chanyeol menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya berbarengan dengan terbukanya pintu. Baekhyun membulatkan matanya yang sipit. Sekedar memastikan, ia mengucek matanya beberapa kali.

“Ap.. Apa yang.. terjadi?”, ditatapnya seisi ruangan dengan mata nanar. Meja yang terbalik. Lukisan yang jatuh. Barang yang tidak pada tempatnya. Debu-debu beterbangan tanpa ada yang mengendalikan.

Chanyeol menundukkan kepala. “Apalagi sekarang?”, gumamnya.

Baekhyun memasuki ruangan yang berantakan itu. Mencoba membetulkan posisi lukisan yang jatuh ke lantai.

“Kita harus tinggal dimana sekarang? Tak mudah membersihkan ruangan ini hingga nanti malam.”, ujar Chanyeol tanpa mendapatkan jawaban dari Baekhyun.

Namja bertubuh sedang itu menatap serius pada lukisan yang dipegangnya. Ada bekas cakaran, seperti kucing atau entah apa itu sejenisnya.

Baekhyun teringat akan hal yang membuatnya kembali ke dorm ini. Dengan segera ia menyerbu langkah menuju kamar yang dulu ditempati Suho dan Sehun. Diuliknya lemari baju Sehun meski debu-debu silih berganti menyerang indera penciumannya. Mengharuskannya menahan bersin beberapa kali. Chanyeol yang baru tiba menyusul hanya mengamati pergerakan Baekhyun dari ambang pintu.

“Apa kau puas hanya dengan berdiam disitu? Tidak berniat membantuku?”, sindir Baekhyun tanpa melirik titik objeknya. Matanya masih fokus mencari kotak yang dulu sempat diklaim Sehun adalah hadiah dari sasaeng fansnya.

“Kau tidak pernah lelah, Baekhyun-ah.”, ujar Chanyeol lembut. Jemarinya mulai menjamah laci-laci di ruangan tersebut.

“Jika aku lelah, maka korban semakin banyak.”, jelas Baekhyun singkat namun padat.

“Baiklah, aku coba cari sesuatu di sekitar sini. Mungkin saja ada sebuah petunjuk.”, ucap Chanyeol. Ia tertarik pada pintu kamarnya yang terbuka. Masuklah ia kesana.

Blush! Angin yang cukup kencang menghempas poninya. Menyeka keringat yang membuat suhu tubuhnya mendingin. Bulu kuduknya sedikit menegang saat itu. Namun tak lama, ia kembali dikejutkan oleh sebuah pemandangan dihadapannya.

“Baekhyun! Baekhyun-ah!”, teriak Chanyeol dengan suara khasnya.

“Baekhyun-ah! Baekhyun-ah!”, suaranya semakin terdengar panik. Baekhyun yang mendengar suara teriakan Chanyeol tak kalah panik. Dengan sigap ia berlari. Bahkan kakinya sempat menabrak vas bunga yang secara tidak wajar tergeletak di lantai yang berdebu tebal. Mata keduanya kini terpahat pada bekas darah di lantai. Bekas darah tersebut meninggalkan kesan seretan yang berujung pada lemari besar milik Baekhyun.

“Jangan coba-coba mendekatinya, Baekhyun.”

Namja yang diajak bicara mendengus pelan sambil melangkahkan kaki menuju lemari miliknya.

“Bagaimanapun aku harus menyelesaikan ini semua.”, ucapnya ringan, meyakinkan sahabatnya agar tidak khawatir. Meski ragu, ia sudah membesarkan hatinya. Menerima apapun yang akan nampak dihadapannya nanti. Apakah pintu kematiannya atau orang lain disekitarnya lagi.

Kreeek, pintu lemari terbuka. Chanyeol tertegun, perlahan mulutnya bergerak menunjukkan ekspresi tak percaya. Pemandangan ini sungguh tak ingin dilihatnya lagi. Tubuh managernya terbujur kaku disudut lemari. Darah segar mengucur deras dari robekan-robekan kulitnya. Bekas cakaran dimana-mana. Satu kematian lagi yang tidak wajar.

Lain halnya dengan Chanyeol, Baekhyun menatap biasa saja. Seakan hal tersebut sudah menjadi rutinitas yang biasa dilaluinya. Ia hanya menundukkan kepala.

“Joesonghaeyo, hyung.”, suaranya terdengar serak. Dan sedetik kemudian Baekhyun terisak cukup kencang. Chanyeol tak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan Baekhyun. Akhirnya ia memutuskan mengamati Baekhyun tanpa beranjak dari titik pijaknya.

“Tunggu Baekhyun, itu kertas apa yang digenggamnya?”

“Kertas?”, tanya Baekhyun penuh telusur. Matanya mengarah pada apa yang ditunjukkan Chanyeol, yaitu tangan manager mereka.

Chanyeol bergerak lebih cepat untuk mengambil kertas itu. “Sudah penuh darah, tulisannya pun hampir pudar.”

“Biar aku yang urus.”, Baekhyun merebut kertas itu dari Chanyeol dan memasukan kedalam saku celananya. Chanyeol tidak banyak berkomentar.

“Cepat cari kotak berwarna abu-abu itu.”, titah Baekhyun lantang. Wajahnya memucat entah karena apa. Mereka berdua kemudian kembali ke kamar Sehun. Keadaannya belum berubah, masih berantakan.

“Kotak itu?”, tunjuk Chanyeol pada kotak berwarna abu-abu yang hampir terbuka seluruhnya. Isinya pun berhamburan walau tak semua.

Baekhyun mengambil sebuah kertas yang berada disamping kotak tersebut. Sepertinya kertas itu bagian dari isi si kotak.

“Kertas ini hampir lusuh, rapuh pula.”, omel Baekhyun.

Tiba-tiba angin dingin meniup tengkuk Baekhyun kala ia akan merapikan isi kotak itu.

“Angin darimana?”, tanya Baekhyun memandang pintu kamar Sehun yang tertutup rapat.

“Baekhyun, lihat tembok itu!”, tunjuk Chanyeol sembari gemetar.

Seketika mata Baekhyun membulat. Tembok putih itu kini penuh dengan darah segar yang menunjukkan sebuah kalimat.

“Cepat pergi. Bawa itu pergi.”, ucap Baekhyun sembari mengeja tulisan berbahasa inggris tersebut.

“Apa maksudnya?”, tanya Chanyeol.

“Sepertinya itu pertanda buruk. Ayo kita pergi!”

“Tapi.. Bagaimana dengan manager hyung?”

Baekhyun terlihat gelagapan, tak tahu harus berbuat apa.

“Sudahlah!”

Seketika mereka berlari menerjang apapun yang ada dihadapannya. Wujud menyeramkan di ujung mata pun mereka abaikan.

Didalam taksi menuju entah kemana, Baekhyun membuka kotak tersebut. Hanya berisi sobekan koran jaman dulu dengan bahasa yang tak mereka kenali. Juga beberapa foto hitam putih, dan sebuah foto keluarga yang bertuliskan 20 November 1929.

“Foto apa itu?”, selidik Chanyeol.

“Entahlah, semuanya terlihat usang.”, jawab Baekhyun.

“Kecuali ini.”, Chanyeol mengambil sebuah surat berwarna hitam yang menempel dibalik tutup kotak bersebut.

“Coba baca.”, pinta Baekhyun.

“Aish, kau kan tahu aku tidak pintar berbahasa inggris.”, ucap Chanyeol sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.

“Sebegitukah kau yakin bahwa isinya menggunakan bahasa inggris?”, tanya Baekhyun.

“Kau yang bilang kotak ini pemberian dari dokter Nesha. Dia kan tidak begitu paham bahasa kita, begitu juga sebaliknya, kau pikir kita menggunakan bahasa apa ketika berkomunikasi dengannya? Bahasa alien?”, Chanyeol terkekeh.

“Sebentar, bahasa inggris? Kalau begitu tulisan di dinding tadi? Apa.. Apa itu tulisan dokter Nesha?”

“Ah, ah ya mungkin saja. Sudahlah, baca dulu saja isinya.”, Chanyeol menyodorkan surat hitam tersebut pada Baekhyun.

“Datanglah ke rumahku. Temui aku di ruang kerja. Akan kuceritakan semuanya sebelum korban bertambah banyak.”, ucap Baekhyun layaknya kamus terjemahan google.

“Apa kita harus ke Indonesia?”, tanya Chanyeol retoris.

“Harus. Ahjussi, tolong ke Bandara Incheon sekarang.”, pinta Baekhyun sopan.

“Ne.”, jawab sang supir taksi.”

***

Sesampainya di Indonesia.

“Apa kau masih ingat tempatnya?”, tanya Chanyeol.

“Mungkin.”, jawab Baekhyun singkat. Kepalanya terasa berat setiba di Indonesia.

“Apa yang ini rumahnya? Terasa berbeda.”, Chanyeol masih tak yakin.

“Coba saja masuk, kalaupun salah tak masalah kan?”, Baekhyun mulai melangkahkan kakinya.

Tok tok tok.

Ketukan pertama tapi tak ada jawaban.

Tok tok tok.

Ketukan kedua masih tidak ada jawaban.

Tok tok tok.

Ketukan ketiga tetap masih tidak ada jawaban.

“Mungkin kita salah rumah.”, Chanyeol berbalik meningalkan Baekhyun.

“Baiklah, mungkin kali ini aku salah.”, ujar Baekhyun.

“Ada apa?”, terdengar suara perempuan muda dibelakang Baekhyun dan Chanyeol.

“Ehm, kami ada keperluan.”, ucap Baekhyun dengan bahasa inggris berlogat Korea.

“Kalian teman Nesha?”, tanya yeoja itu.

“Ne, eh iya. Kami pun tak tahu untuk apa kami diminta datang kemari.”, tambah Baekhyun.

“Masuklah, akan kuberitahu tentang apa itu.”, ajak yeoja tersebut.

Didalam sebuah ruangan, yeoja itu memperlihatkan sebuah rumah bangsawan yang besarnya bukan main. Serta beberapa hal yang mirip dengan benda-benda di kotak milik Sehun.

“Jadi, apa maksud semua ini?”, tanya Chanyeol kebingungan.

“Datanglah ke rumah itu, disanalah kalian bisa aman membaca buku ini tanpa diikuti setan-setan yang sedari tadi melihat tajam kearah kalian.”, ujar yeoja aneh tersebut dengan tatapan mata yang kosong.

Perjalanan panjang cukup membuat fisik mereka sedikit melemah.

“Kenapa tidak kau saja yang menceritakan segalanya?”, tanya Baekhyun.

“Kalau aku ceritakan disini, korban akan bertambah banyak. Intinya, ketika kau mengetahui segalanya lakukanlah apa yang ada di halaman paling belakang. Ingat, jangan pernah membuka buku jika kalian belum sampai rumah itu.”, jelas yeoja tersebut.

“Memangnya kenapa?”, tanya Baekhyun penasaran.

“Buku itu akan memanggil arwah penasaran keluar dan dengan bebas membalaskan dendamnya, cukup Nesha yang pernah melakukan itu. Selesaikan kisah ini, karena kau pun bagian dari ini semua.”, tambah yeoja itu sembari menatap dalam pada Baekhyun.

Baekhyun menunduk.

“Jangan biarkan kain putih ini lepas dari buku itu, karena itulah perisainya. Agar para arwah tidak bisa menghancurkan segel dibuku itu.”, ucap sang yeoja sembari tersenyum.

“Baiklah, akan kucoba mengingat semuanya.”, Baekhyun memasukkan buku itu kedalam ranselnya.

“Sekarang sebaiknya kalian cepat cari rumah itu.”, titah sang yeoja. “Jangan buang-buang waktu. Kau tak ingin semuanya meninggalkanmu, kan?”

“Terimakasih atas bantuannya, aku mengerti.”

Baekhyun dan Chanyeol berpamitan. Sesampainya diluar rumah, Chanyeol mulai berbicara.

“Siapa ya yeoja tadi?”, tanya Chanyeol.

“Entahlah, dia sangat mirip dengan dokter Nesha. Mungkin adiknya.”, jawab Baekhyun sekenanya.

“Mungkin. Seperti kembarannya saja.”, Chanyeol tertawa garing.

“Siapa yeoja yang kalian maksud?”, tanya seorang nenek tua di gerbang pintu rumah Nesha.

“Kau mengerti ucapan kami?”, tanya Chanyeol kebingungan.

“Dari logatnya berbicara tadi, ia bukan hanya mengerti, sepertinya ia sangat paham.”, bisik Baekhyun.

“Bagaimana kalian bisa masuk ke rumah cucuku?”, tanya nenek tadi dengan logat Korea yang kental.

“Tadi.. Tadi ada adiknya dokter Nesha didalam, ia menyuruh kami masuk.”, ucap Chanyeol terbata.

“Adik?”

“Iya, dia baik hati seperti dokter Nesha, nek.”, ujar Baekhyun.

“Jangan berbohong. Rumah ini sudah kukunci, ini kuncinya. Dan saya tinggal disini sendiri. Nesha adalah anak tunggal.”, jelas nenek itu.

Seketika mereka saling memandang kebingungan. Sekelebat bayangan putih yang menjelma Nesha berdiri tepat dibelakang sang nenek.

“Baekhyun.. Itu..”, Chanyeol gemetar.

“Dia itu, dia..”, timpal Baekhyun.

“Annyeong..”, mereka berlari menuju sebuah mobil yang mereka sewa.

“Sebaiknya kita cari saja rumah itu.”, usul Baekhyun.

“Baiklah, semoga kita tidak akan salah jalan.”, ucap Chanyeol sembari mengemudikan mobil tersebut.

2 jam kemudian mereka tiba di sebuah rumah mewah di daerah pedalaman Puncak, Bogor.

“Rumah sebagus ini berada di tengah hutan, seperti cerita kolosal saja.”, oceh Chanyeol.

“Sudahlah, yang penting kita berhasil menemukannya.”, Baekhyun mulai berjalan memasuki kawasan rumah tersebut. Semerbak wewangian menyerbu indera penciumannya. Wewangian yang tak pernah ia cium sebelumnya. Tapi ada sebuah wangi yang menusuk hidungnya.

“Parfum..”, ucap Baekhyun menatap tak percaya pada Chanyeol.

Sesampainya di pintu utama, mereka melihat banyak simbol huruf AX yang membentuk berbagai macam pola.

“Apa maksudnya AX ya?”, tanya Chanyeol penasaran.

Pintu rumah pun terbuka. Suasana hangat dan aman menyelimuti mereka. Sesampainya didalam Baekhyun terkesima dengan apa yang ia lihat. Rumah ini persis denga foto yang diperlihatkan yeoja -yang entah siapa itu- tadi. Dan ada satu lemari besar berisi bibit parfum yang tak pernah Baekhyun kenali wanginya.

“Astaga, kenapa ada foto nenekku disini? Dan siapa ini?”, tanya Baekhyun saat melihat foto keluarga berukuran 3×6 meter.

“Yeoja di foto ini rasanya tak asing, siapa ya dia? Mirip dengan.. Nenek tadi?”, ucap Chanyeol seenak jidat.

“Benar juga, tapi..”, Baekhyun menatap lagi keseluruhan foto itu.

“Yeoja ini, rasanya aku pernah menemuinya. Tapi dimana ya?”, tanya Baekhyun pada dirinya sendiri.

“Lebih baik kau buka buku itu. Siapa tahu kau akan mendapatkan info.”

Baekhyun memberikan buku itu pada Chanyeol. Sementara ia menyusuri deretan foto-foto lain yang berjajar di dinding. Sedangkan mata Chanyeol kini terfokus pada lembaran-lembaran buku hingga tak menyadari posisi Baekhyun yang semakin menjauh darinya.

“Sepertinya buku ini bukan ditulis dalam bahasa kita atau bahasa inggris, coba lihat ini Baek.. Baekhyun? Baekhyun? Ya, kau dimana??”, Chanyeol terus memanggil nama rekannya itu sembari melirik satu per satu ruangan disekitarnya.

“Kemana dia?”

PRAK!

Terdengar seperti sebuah benda jauh dari belakang rumah. Chanyeol panik.

“Baehyun-ah! Baekhyun!”, teriaknya disusul sebuah suara derap langkah cepat yang semakin lama semakin mendekatinya.

Semakin lama, derap langkah tersebut mulai menampakkan sesosok bayangan manusia dari lorong yang pekat. Sejenak Chanyeol merasa aliran darahnya terkenti. Otaknya mengira-ngira apa yang akan muncul dari tempat gelap itu.

“Lari! Cepat pergi dari sini!”, teriak Baekhyun seraya menarik Chanyeol menuju pintu keluar. Chanyeol masih belum bisa merespon aksi tiba-tiba Baekhyun pada tubuhnya. Tubuhnya baru merespon saat buku yang ia pegang hampir terlepas dari genggamannya. Dan saat itu, mereka sudah berada di halaman rumah.

“Ada apa ini Baekhyun?”

Baekhyun tidak menjawab. Ia masih sibuk mengatur nafas yang belum stabil.

“Katakan padaku ada apa!”, paksa Chanyeol mengguncang pelan tubuh Baekhyun.

“Sebaiknya kau tak perlu tahu, lakukan saja apa yang kukatakan.”

“Apa katamu? Kau selalu menganggapku tak serius dalam hal ini, aku ingin membantumu juga, Baekhyun!”, ucap Chanyeol sedikit kesal. Baekhyun duduk di rumput halaman yang mulai mengering.

“Aku tak ingin merepotkanmu lagi. Kau dengar apa kata yeoja tadi? Ini semua berhubungan denganku, aku tak ingin kau terlibat lebih jauh.”

“Apa kau sadar sekarang sudah terlambat? Sudah banyak yang terlibat, ini bukan hanya masalahmu saja sekarang.”

“Maka dari itu akulah yang bertanggungjawab atas keterlibatan kalian.”, Baekhyun menarik buku yang ada di genggaman Chanyeol. Namun tidak berhasil.

“Kita akan melakukannya bersama.”

Baekhyun menarik paksa buku itu lagi. “Biar aku yang melakukannya.”

“Tidak!”, Chanyeol kembali menarik buku itu.

“Kau tidak mengerti!”, Baekhyun menarik buku yang masih dipegang teguh oleh Chanyeol. Tak ada yang mau mengalah diantara mereka, mengakibatkan terjadinya peristiwa tarik menarik.

“Lepaskan buku ini jika memang kau peduli padaku!”, teriak Baekhyun beralasan agar Chanyeol mau melepaskannya. Chanyeol masih memegang erat buku itu, namun kali ini sambil berpikir.

“Kau keterlaluan, Byun Baekhyun!”, tanpa bicara lagi, Chanyeol melepaskan buku tersebut. Baekhyun yang masih berusaha menariknya kehilangan keseimbangan. Dan mengingat terdapat banyak bebatuan kecil disekitarnya, dengan sukses Baekhyun terjatuh keatasnya.

“Aw! Aigo, Chanyeol! Apa yang kau lakuk..”

“Oppa?”

Baekhyun langsung bangun dari jatuhnya. Mereka berdua menatap kearah datangnya suara.

“Eh, sedang apa kau disini?”

“Seharusnya aku yang bertanya, sejak kapan oppa datang ke Indonesia lagi? Dan kenapa oppa bisa disini?”

“Aku dan Chanyeol masih mencari tahu tentang parfum itu, dan ehm kerabat dokter Nesha mengatakan kami harus ke rumah ini.”, jelas Baekhyun sembari menunjuk rumah besar yang dipunggunginya tanpa berbalik.

“Ru.. Rumah?”

“Baekhyun.. Rumah.. Rumah itu..”, wajah Chanyeol memucat. Baekhyun memberanikan diri untuk melihat apa yang terjadi dibelakangnya. Celaka, gumam Baehyun.

“Ayo cepat menjauh dari tempat ini! Cepat!”, Baekhyun mendorong tubuh Riri dan Chanyeol agar segera menjauh. Sementara ia bersiap untuk membenarkan kesalahannya.

“Kau mau kemana?!”, teriak Chanyeol kala Baekhyun malah berlari menghampiri rumah. Lebih tepatnya lahan yang tadinya terbangun sebuah rumah. Entah dengan kekuatan sihir apa, rumah yang Baekhyun telusuri bersama Chanyeol tadi hilang dan hanya menyisakan sebuah lahan kosong dengan dua pohon besar serta tiga batu nisan yang terpahat diantaranya. Sebuah buku tergeletak manis disamping salah satu nisan dalam keadaan terbuka. Dan itulah kesalahannya.

“Oppa, jangan!”, teriak Riri dengan wajah pucat. Namun yang dipanggil tidak menyahut. Langkahnya malah semakin cepat mendekati buku itu. Berharap Tuhan masih menyelamatkan hidupnya hari ini. Udara di sekitar pohon begitu menyejukan, membuat keraguan Baekhyun sedikit memudar.

Angin sepoi bertiup mengepakkan poni Baekhyun yang sudah melewati alisnya. Tak ada tanda-tanda hal buruk akan terjadi, namun Baekhyun terus berwaspada.

Setelah yakin tak ada bahaya disekitarnya, ia perlahan meraih buku keramat itu kemudian menutupnya.

“Ayo kita pergi sekarang, cepat!”, suruh Baekhyun pada kedua orang yang kini sudah terpampang jelas dihadapannya.

“Ya! Ayo kita pergi, ada apa dengan kalian??”, tanya Baekhyun mulai panik. Riri dan Chanyeol terpaku, mereka tak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada dunia sekitarnya kini.

Baekhyun yang baru menyadari terpaksa mengikuti gerak-gerik kedua rekannya tersebut. Daun yang berhenti berguguran. Angin yang berhenti berhembus. Awan yang berhenti bergerak. Sampai barisan semut yang berhenti berjalan, namun masih membuat satu barisan penuh.

Baekhyun yakin, ini berhubungan dengan apa yang ditemukannya di rumah itu tadi.

TO BE CONTINUED

Nah loh, itu kenapa pada berhenti semua? Yah, di chapter selanjutnya akan diceritakan yaaa hehe. Ada lagi toh yang mati disini? Kasian sih sebenernya, manager kan baru masuk sedikit banget dan harus mati akhirnya, huhu. Di dunia nyata kan manager EXO ada 3 *meskipun aku cuma tau 2* tapi disini ceritanya cuma satu aja ya, jadi mereka kehilangan manager satu-satunya itu. Kalo gitu, kematian yang tersisa tinggal 1 dong? Kalo ada yang nanya, kan dokter Nesha mati tuh, kok gak diitung kematiannya? Karena.. jawabannya ada di chapter selanjutnya! Wakwakwak.

Oya, sebenernya aku gak terlalu mempermasalahkan sih mau ada yang baca tapi gak komen, atau yang numpang lewat gak ninggalin jejak. Tapi, author yang satunya lagi yaitu @neshanavy mempermasalahkannya ternyata, huhu. Jadi mohon deh keikhlasannya 🙂

Ya syudah, sampai bertemu di kematian selajutnyaaaa *serem amat*

Advertisements

4 thoughts on “FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 4)

  1. aigoo~ apa lgi ini?

    baekhyun nmuin apa lagi?

    jdi yeoja itu dokter nesha kan?

    knpa rmah itu tba” ilang?

    yg aku plng bngung knp riri bsa d sna tba”?

    • Riri kan emang lagi pulang ke Indonesia dan secara kebetulan (mau maunya author) rumahnya itu di daerah Puncak, sama kaya tempat Baekhyun Chanyeol dateng gitu haha ngayal banget ya maafin 😜
      Biarkan semuanya jadi misteri buat chapter selanjutnya hihi

      Makasih ya udah sempetin baca dan komen 😘 (4)

  2. Pingback: FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 6) | Born to be an Imaginer

  3. Pingback: FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 5) | Born to be an Imaginer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s