FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 3)


Title

Six Deathly Of Perfume (Chapter 3)

Cast

All Member of EXO-K

Wu Yi Fan (Kris)

Dr. Nesha

Riri

Genre

Horror, Mystery, Romance

Rating

NC-17 (violence)

Length

Multi-Chapter

Author

NN Project

Wah wah, setelah beberapa hari kemarin gak posting, sekarang akhirnya posting lagi! Dan di postingan kali ini bakal ada yang meregang nyawa lagi. Siapa? Baca aja, hehe. Diliat dari judul kan, ceritanya bakal ada 6 kematian disini, apakah itu semua member EXO-K yang bakal mati? Entahlah ya, karena sejauh ini memang member-member EXO-K lah yang mengalami kematian. Contohnya di Chapter 1, Suho dan D.O, Chapter 2, Kai, sekarang disini yang bakal mati satu orang lagi. Dan disini juga udah mulai ketauan apa alasan kematian mereka mereka ini. Okai deh, happy reading!^^

Warning!

Story idea by @neshanavy

Edited by @ririnovi

Written by NN Project

Previous chapter –> Chapter 1. Chapter 2.

-Preview Chapter 2-

“Pintunya tidak bisa dibuka! Terkunci!”, teriak supir sembari menunjuk kearah Dokter Nesha dengan wajah pucat.

Tanpa ragu, keempat orang itu berlari menghampiri mobil. Secara bergantian Baekhyun, Chanyeol, dan Sehun mencoba membuka pintu, namun sia-sia.

“Oppa, ada apa sebenarnya ini? Dan wanita didalam mobil itu siapa? Mengapa matanya mengeluarkan darah??”, tanya Riri sembari mundur beberapa langkah dari tempatnya semula.

“Aku juga tidak mengerti. Sehun! Apa yang kau lakukan?!”

Sehun membawa sebongkah kayu yang langsung ia tabrakan ke kaca mobil yang jauh dari tempat dokter Nesha duduk.

“Ergh! Ergh! Ergh!”, dipukulnya beberapa kali hingga kacanya pecah. Dokter Nesha sudah tak sadarkan diri.

“Ke rumah sakit sekarang! Cepat!”, Sehun panik.

“Ayo cepat, Baekhyun! Naik ke mobil!”, seru Chanyeol ikut panik.

“Apa kau mau ikut? Ah, tidak ada waktu untuk berpikir. Lebih baik kau ikut saja!”, Baekhyun menarik tangan Riri yang masih tak mengerti dengan kejadian ini.

***

RUMAH SAKIT

“Ya, hyung?.. Tapi urusan kami belum selesai.. Baiklah kalau begitu.. Ne, hyung.”

“Apa katanya?”, tanya Chanyeol setelah Baekhyun menutup sambungan teleponnya.

“Manager hyung bilang kita harus kembali ke Korea besok. Ada masalah yang sangat penting, tapi hyung baru akan memberitahunya setelah bertemu kita.”

“Lalu bagaimana? Apa kita akan pulang besok?”, tanya Chanyeol memastikan.

“Sepertinya.”

“Aku tidak ikut.”, sela Sehun dengan wajah tanpa ekspresi.

“Kau tidak bisa seperti itu Sehun-ah, sepertinya hal yang ingin dibicarakan manager hyung sangat penting.”, jelas Baekhyun.

“Tidak bisa dibicarakan lewat telepon saja? Manager hyung itu egois dan sangat merepotkan.”, ucapnya meremehkan.

“Ya! Kenapa kau jadi seperti itu?!”, Chanyeol yang sedari tadi diam geram juga.

“Kau tidak tahu, hyung? Aku sedang kesal pada manager hyung!”, suara Sehun meninggi.

“Jarang sekali manager hyung seperti ini, kau harusnya mengerti.”, Baekhyun mencoba meredakan emosi kedua saeng-nya.

“Ini pasti gara-gara dokter itu.”, ucap Chanyeol kesal.

“Ya hyung! Kau..”

“Memang lebih baik kalian kembali ke Korea.”, Dokter Nesha keluar dari ruang rawatnya. “Sehun-ah, kemarilah..”, ujar Dokter Nesha kemudian membisikan sesuatu pada Sehun.

“Benarkah??”, wajah Sehun sumringah.

“Ayo hyung, kita kembali ke Korea sekarang!”, Sehun berubah manja.

Kedua namja dihadapannya hanya saling memandang tak mengerti.

“Jadi.. oppa akan pulang sekarang juga?”, tanya Riri setelah diam cukup lama.

“Ah ya, kami harus kembali sekarang. Tapi kita masih harus bertemu lagi.”, Baekhyun merogoh sesuatu dari sakunya. “Boleh kuminta nomor ponselmu?”

***

“Kira-kira apa yang akan dibicarakan manager hyung ya?”, tanya Sehun seperti pada dirinya sendiri.

Mereka baru saja sampai di Bandara Incheon setelah sekitar tujuh jam mengudara.

“Panjang umur.”

Baekhyun menekan tombol answer pada layar ponselnya.

“Ya, kami baru sampai.. Kantor?.. Lee sajangnim?.. Baik hyung, kami kesana sekarang juga.”

***

“Kalian tidak bisa bertindak sendiri. Masih ada agensi yang berhak mengatur kalian.”, cecar seorang namja berumur sekitar setengah abad. Baekhyun, Chanyeol, dan Sehun menunduk dan mematung.

“Joesonghamnida, sajangnim. Kami hanya tidak ingin merepotkan anda.”, ucap salah satu dari mereka.

“Aku mengerti Baekhyun-ssi, maka dari itu aku akan memaafkan kalian kali ini.”

Ketiga namja itu serempak memandang Lee Soo Man tak percaya.

“Sebenarnya tidak masalah jika kalian masih ada di Indonesia saat ini, karena kalian masih dalam masa istirahat. Tapi aku sudah menemukan siapa pelaku pembunuhan rekan-rekan kalian tempo hari.”

“Jeongmalyo?”, ketiganya serempak dengan tatapan penuh harap.

***

“Apa yang harus kukatakan pada Sehun nanti? Tapi aku sudah berjanji padanya untuk datang kesana.”, Dokter Nesha bingung.

“Apa data yang kukumpulkan sudah lengkap? Kurasa sudah. Ah, kecuali itu. Aku akan mencoba mengatakannya langsung pada Sehun. Sekarang, kita lihat jadwal senggangku. Ehm, ya lusa. Baiklah, lusa aku akan kesana.”, ucapnya pada diri sendiri.

Waktu makan siang digunakan Dokter Nesha untuk menyetir. Mendatangi rumah yang kemarin sempat didatanginya juga bersama Baekhyun, Chanyeol, dan Sehun.

“Kuharap kali ini pun dia belum memakai parfumnya.”, ucap Dokter Nesha seraya melepaskan sabuk pengaman dan turun dari mobil.

Tok tok tok

“Tunggu sebentar.”, ucap suara didalam disusul daun pintu yang terbuka.

“Mencari siapa ya?”, tanya seorang wanita tua.

“Oma, jangan halangi aku. Aku tahu ini kau, kan?”, ucap Dokter Nesha pada wanita tua itu. Seketika wanita itu berubah menjadi sosok hantu yang akhir-akhir muncul menghantui hidup dokter Nesha.

“Apa yang kau lakukan disini?”, tanya hantu tua tersebut. Rambutnya panjang menjuntainya mengikat lengan dokter Nesha.

“Lepaskan aku! Aku hanya ingin membuat kalian tenang.”

“Tidak! Kami tenang dengan seperti ini!”

“Jangan bersikap bodoh!”, Dokter Nesha mencoba melepaskan rambut-rambut itu.

“Kau yang bersikap bodoh!”

Hantu tua itu membuka mulutnya lebar-lebar, sebuah asap keluar dari mulutnya. Asap itu masuk kedalam mulut Dokter Nesha dan seketika perlahan-lahan bayangan keluar dari tubuh Dokter Nesha.

“Asta.. Astaga..”, nafasnya tercekit.

Tak jauh dari tempat itu, sesosok hantu yang tak asing pun berkelebat.

“Hyung, bantu dia jebal..”, pinta D.O pada Suho.

“Tak bisa, tenaga kita tak cukup kuat.”, jelas Suho.

“Kita bisa mati, hyung!”, timpal Kai.

“Biar saja, lagipula kita sudah mati kan?”

“Bukan itu maksudku, hyung.”, Kai malah kebingungan.

“Kita akan musnah dan tak bisa mengawasi yang lain, kau mau itu?”, tanya Suho.

“Jalan satu-satunya hanya dengan mengacaukan perbuatan mereka.”, sela Kai.

“Ganggu mereka sebelum ruh dokter Nesha keluar dan terperangkap diantara dunia kita.”, titah Suho kepada dua saengnya.

Dengan sekuat tenaga, D.O dan Kai menarik hantu tersebut hingga proses pertukaran ruh batal terjadi. Tubuh Dokter Nesha terkulai lemas namun selamat ketika Riri berhasil terbangun dari lamunannya.

“Astaga, ada apa ini? Eh, kau.. Kau wanita yang waktu itu? Bagaimana ini?”, Riri kebingungan. “Bagaimana cara membangunkannya? Saat pelajaran PMR kan aku tertidur terus.”, eluh Riri pada diri sendiri.

“Tampar perlahan pipinya, buat rangsangan sakit pada tubuhnya. Cepat!”, bisik D.O pada Riri.

“Mwo? Baiklah.”, Riri langsung melakukan perintah yang ia dengar. “Eh.. I.. Itu suara siapa? Rasanya aku pernah mendengarnya, tapi dimana ya?”

“Ehm, Riri?”, tanya Dokter Nesha saat ia baru saja sadar.

“Ah, baguslah kau sudah sadar! Apa yang kau lakukan disini?”

“Maaf menyusahkanmu. Aku Nesha, kau ingat? Aku ingin bertanya tentang sesuatu yang mungkin pernah Baekhyun berikan padamu.”

“Apa tentang parfum itu?”

“Iya. Apa parfum itu ada?”

“Memang ada apa dengan parfum itu?”

“Maaf, aku tak bisa menjelaskannya sekarang. Bisa-bisa kau celaka..”, ucap dokter Nesha setengah berbisik.

“Jelaskan saja, kami akan melindungimu. Namun hanya lima menit, selebihnya mereka akan tahu.”, jelas Suho pada dokter Nesha yang memang bisa melihat mereka.

“Baiklah, jadi begini. Jangan potong ucapanku, waktuku hanya lima menit.”

“Oke, lalu?”

Dokter Nesha pun menjelaskan semuanya, secara jelas namun tak seluruhnya. Seluruhnya ada di file yang akan dia berikan sesampainya di Korea nanti.

“Jadi ada tiga parfum dan parfum yang berada padaku adalah parfum terakhir?”

“Iya..”, tepat setelah ucapan tersebut, perlahan Suho, D.O, dan Kai pun menghilang.

“Jangan berbicara apapun, bersikap tidak tahu.”, bisik Dokter Nesha.

“Aku tak tahu dimana parfum itu, mendadak saja hilang.”

“Tak mungkin hilang, parfum itu kan ada pada targetnya.”, jelas Dokter Nesha.

“Oya, kenapa kau mengetahui segalanya? Aneh.”

“Karena.. Karena aku keturunannya.”

“Maksudnya?”

“Lupakan, dimana parfumnya?”

“Aku.. Aku tak tahu. Tapi aku yakin tidak mungkin hilang.”

“Kau tidak memakainya, kan?”

“Tidak.”

“Bagaimana ini? Dimana parfum itu?”, tanya Nesha pada dirinya sendiri. Seketika, sekelebat bayangan D.O muncul.

“Parfumnya ada didekatmu.”, bisiknya.

“Dimana? Aku tak melihatnya.”

“Cari dengan cahaya putih.”

“Apa maksudmu? Jangan menyulitkanku.”

“Pejamkan matamu.”

“Lalu?”, Nesha terus mencari sosok D.O, namun nihil.

“Kenapa? Kau berbicara dengan siapa?”, tanya Riri.

“Aniya, teruslah mencari.”, mata Nesha mulai terpejam. Nafasnya perlahan melambat. Kepalanya tertunduk. Dan kini matanya kembali terbuka.

“Dokter? Dokter Nesha? Apa yang terjadi?”, terdengan suara Riri, namun tak nampak sosoknya.

“Sepertinya aku berhasil. Astaga, kenapa gelap seperti ini? Bagaimana aku mencari parfum itu?”, matanya mencari ke sekeliling kamar yang berubah menjadi ruangan gelap. Dilihatnya sosok Suho yang berdiri tepat disamping parfum yang sedang ia cari.

“Hancurkan bentengnya.”, pinta Suho.

“Dokter Nesha? Sadar! Bangun!!”, suara Riri berhasil menyadarkan Dokter Nesha yang sedari tadi tertunduk.

“Ah iya iya, aku tahu sekarang dimana parfum itu! Ada didalam kotak, ehm.. Disana!”, tunjuk Nesha pada sebuah kotak didalam laci meja Riri.

“Kenapa bisa ada disini? Sudah hampir lima kali aku mencari disini tapi tak ada parfumnya.”

“Jangan tanya kenapa, sembunyikan parfum tersebut didalam kain putih. Jaga baik-baik.”

***

Didalam pesawat, Dokter Nesha masih sibuk memasukkan barang-barang kecil ke bagasi diatas kursinya. Seketika ia mengingat tentang Sehun. Diketiknya sebuah pesan singkat.

To : Sehun 🙂

I’m in the plane with the number 29N1995 to Seoul. Waiting! I have something for you. See you in EXO camp.

“Segera matikan telepon selular anda, nona.”, pinta sang pramugari.

“Baik.”

“Terimakasih, nona. Semoga nyaman di perjalanan bersama kami.”, tutup sang pramugari.

***

“Hyung, kalian lihat telepon selularku?”, tanya Sehun memandang hyungnya yang sedang asyik bermain playstation.

“Kau mendudukinya, Thehun.”, jawab Chanyeol.

“Aigoo hyung, kenapa tidak bilang dari tadi? Hampir saja hancur.”

“Ada pesan baru? Ya hyung, empat jam yang lalu! Aish! Mianhae dokterku..”, Sehun asyik membaca isi pesan itu. Seketika ia melonjak kegirangan akan isi pesan singkat tersebut. Tubuhnya refleks bergoyang ala gangnam style.

“Hyuuuuuung! Dokter Nesha sedang dalam perjalanan! Yippiiii, akhirnya dia menepati janjinya! Yuhuuuuuu!”

“Hah? Maksudmu kesini? Menepati janjinya?”, tanya Baekhyun tak mengerti.

“Dia berjanji akan tinggal beberapa lama di Korea, dengan syarat aku harus ikut kalian pulang kesini. Karena dia pikir akan ada hal penting dari management.“, jelas Sehun.

“Aish, Sehun dasar bocah tengil!”, hujat Baekhyun.

Tok tok tok

“Siapa ya malam-malam begini bertamu?”, tanya Baekhyun pada dirinya sendiri. “Nuguseyo?”

Tok tok tok

Mata Baekhyun menerawang lubang pintu.

“Dokter Nesha?”, tanya Baekhyun kebingungan.

“Mwo?? Secepat itukah??”, Sehun terkejut.

“Silakan masuk.”, pinta Baekhyun.

“Wah dokter cepat sekali, naik penerbangan apa?”, tanya Sehun menarik dokter Nesha untuk masuk.

“Entahlah, aku juga tidak mengerti.”, jawab Nesha seadanya.

“Kau.. Tanganmu membeku, kau kedinginan?”, Sehun memakaikan sweater kesayangannya pada Nesha.

“Tidak, tubuhku memang begini.”, jelasnya.

“Oya, apa yang akan kau berikan padaku?”

“Ini..”, Nesha mengeluarkan kotak kecil berwarna hijau kesukaannya.

“Boleh aku buka sekarang?”

“Jangan, buka ketika aku pergi.”

“Maksudnya?”

“Aku tak bisa lama disini, taksi menungguku menuju tempat beristirahat.”

“Aniya, disini saja. Nanti biar aku yang antar.”

“Tidak, maaf aku menyusahkanmu. Terimakasih.”

“Iya, sama-sama.”, Sehun kebingungan.

“Kau tahu? Aku menyukai pria sepertimu.”, ucap Nesha tanpa ekspresi.

“Mwo??? Jeongmal???”, muka Sehun sangat terkejut.

“Kau perhatian padaku, dan itu membuatku senang. Sekali lagi terimakasih. Aku pergi ya, annyeonghaseyo..”

Sehun menundukkan kepalanya. “Ehmm, ne.”, wajahnya sangat merasa keberatan seiring perginya dokter Nesha dari hadapan mereka.

“Eh, ada yang aneh.”, ucap Chanyeol selepas Sehun menutup pintu apartemennya.

“Apa memangnya?”, tanya Baekhyun penasaran.

“Apa kau tak lihat? Wajahnya sangat pucat, berbeda dari biasanya.”, jawab Chanyeol.

“Ah iya iya, dia kedinginan mungkin.”, timpal Baekhyun.

“Tapi menurutku dia tetap cantik.”, Sehun terkekeh. “Hyung, kalian mau cokelat panas?”

“Boleh, yang enak ya..”, ejek Chanyeol.

“Aish! Akan kubuatkan yang paling enak, tunggu ya!”, Sehun berlenggang ke dapur.

Sementara Sehun sibuk membuat minuman untuk mereka, Baekhyun dan Chanyeol masih asyik bermain playstation. Namun, bunyi handphone Baekhyun mengacaukan suasana.

“Yoboseyo?”, tanya Baekhyun.

“Oppa, ini aku Riri.”, jawab sumber suara.

“Oya ne, ada apa? Kenapa kau tak ikut kesini? Baru saja dokter Nesha pulang.”

“Mwo? Dokter Nesha? Mana mungkin?”

“Waeyo?”, Baekhyun mengerutkan keningnya meski tak terlihat oleh Riri.

“Lihat TV saluran internasional, berita dari Indonesia. Ppalliwa oppa!”

“Ada apa memangnya?”, Baekhyun langsung merubah pengaturan TV menjadi channel TV digital.

“Sudah lihat?”

“Pesawat arah Korea dengan nomor penerbangan 29N1995 meledak setelah tiga jam mengudara. Penelusuran singkat menyatakan bahwa dikarenakan mesin yang terlalu panas akibat suhu udara yang meningkat drastis.”

“Apa maksudmu memintaku melihat berita di TV ini?”, Baekhyun kebingungan.

“Itu.. Itu pesawat yang ditumpangi dokter Nesha.”, jelas Riri.

Tiba-tiba suasana hening.

“Tim SAR menyatakan seluruh penumpang tewas dan hilang di lautan. Berikut daftar penumpang yang menaiki pesawat dengan nomor penerbangan 29N1995………… yang terakhir, Nesha Xhenemont.”

PRANG! Gelas terjatuh dan pecahan kacanya berserakan.

“Mana mungkin..?”, tanya Sehun.

“Sehunnie?”, Chanyeol kaget.

“Jadi.. Yang tadi?”, tanya Baekhyun.

“Waeyo oppa? Waeyo??”, suara Riri terus membahana di telepon.

“Kita cek dulu Sehunnie.”, Chanyeol seperti mengerti duduk permasalahannya.

“Dia tidak mungkin mati, dia tadi kesini. Lihat? Kotak ini masih ada kan?”, Sehun seperti tidak menerima kenyataan.

Baekhyun beranjak dari tempatnya duduk kemudian meraih kotak yang tadi diberikan dokter Nesha, ehm mungkin hantu dokter Nesha.

“Kita buka kotak ini.”, ucap Baekhyun memberi komando.

“Kotak? Kotak apa oppa?”, Riri terdengar sangat ingin tahu.

“Jadi, beberapa saat sebelum kau menelepon, dokter Nesha datang kemari memberikan sebuah kotak.”, jelas Baekhyun singkat.

“Tunggu Baekhyunnie, kau ingat apa yang dikatakan Lee sajangnim kemarin?”, sela Chanyeol disela aktivitasnya menenangkan Sehun.

FLASHBACK ON

“Jadi alasan kematian ketiga rekan kalian adalah..”, Sooman sedikit memberi jeda. “Keluargamu.”, tunjuk Sooman pada Baekhyun.

“Mwoya?? Anda sedang tidak bercanda kan, sajangnim?”, seluruh member menatap Baekhyun dan Sooman bergantian. Sedangkan Baekhyun menatap kosong kearah lain. Otaknya tidak bisa menyerap kata-kata dengan jernih setelah ucapan Sooman barusan.

“Tidak, kalian akan mengetahuinya, argghhh..”, Sooman memegangi dadanya yang tiba-tiba nyeri.

“Sajangnim! Apa yang terjadi pada anda??”, Sehun meraih tubuh atasannya yang terasa kaku.

“Sajangnim! Ah, apa ada obat disekitar sini??”, Chanyeol panik.

“Kalian jangan mengkhawatirkanku, aku.. aku sudah biasa dengan penyakit ini.. Arggh! Datanglah lagi besok, tinggalkan aku sekarang..”

FLASHBACK END

 

“Apa yang ada dalam kotak itu adalah petunjuknya?”, tanya Sehun asal.

“Bisa jadi. Kalau begitu, apa kita akan membukanya sekarang?”, tanya Baekhyun meyakinkan.

“Buka saja, aku ingin tahu.”, Chanyeol penasaran.

Baekhyun mendesah keras. Mencoba menenangkan dirinya sendiri bahwa tak akan ada sesuatu hal berbahaya yang terjadi.

1.. 2.. 3..

“Hanya ini?”, tanya Baekhyun bingung.

“Ya hyung! Kau bahkan belum melihat apa isi flashdisk itu!”, protes Sehun.

“Ne ne, ayo kita periksa.”

Tut tut tut..

“Eh? Aku lupa kalau sedang menelepon! Aigoo, kenapa terputus?”, umpat Baekhyun pada ponsel yang sedang digenggamnya.

“Telepon saja lagi, hyung. Kemari, biar aku yang periksa flashdisknya”, usul Sehun.

“Tidak aktif, apa yang terjadi??”, Baekhyun panik, pikirannya melayang jauh pada apa yang mungkin terjadi pada gadis tersebut.

“Ah, ya! Tadi dia bukan menelepon menggunakan nomor yang ia berikan waktu itu.”, Baekhyun mendekatkan ponsel pada telinganya.

“Tak pernah aku melihatmu sepeduli itu pada orang lain.”, ucap Chanyeol sembari membantu Sehun menyalakan laptopnya.

Baekhyun terlihat gelagapan, bingung harus menjawab apa. Untung saja teleponnya segera diangkat.

“Kenapa teleponnya mati? Apa yang terjadi??”, cecar Baekhyun tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.

“Tadi aku menelepon dengan telepon rumah, dan tiba-tiba saja mati lampu.”, terang Riri.

Baekhyun melepas nafas lega. “Kukira tadi sesuatu yang buruk terjadi padamu. Tapi kau tidak kenapa-kenapa, kan?”, tanya Baekhyun meyakinkan.

“Lihat ini!”, Chanyeol menghadapkan layar laptop pada rekan-rekannya. Baekhyun membacanya dengan saksama, sementara Sehun membacanya juga meski tak mengerti.

“Apa maksudnya, hyung?”

Baekhyun tak merespon.

“Hyung, apa maksudnya?”, Sehun beralih pada Chanyeol.

“Jadi bisa kau ceritakan yang sesungguhnya pada kami? Di flashdisk ini juga ada nama keluargamu.”, tatapan Chanyeol sangat mengintimidasi.

“Jujur, aku tak mengerti. Apa kita tanyakan pada Lee sajangnim sekarang saja?”, usul Baekhyun pada akhirnya.

“Kemarin sajangnim bilang keluargamu adalah penyebab kematian Suho hyung, Kai hyung, dan D.O hyung,”, ucap Sehun. “Kenapa ia bisa tahu? Apa kau mempunyai hubungan kekerabatan dengan sajangnim, hyung?”

“Kurasa tidak. Aku baru mengenalnya sejak masuk ke agensi ini, sebelumnya tidak.”, jelas Baekhyun jujur.

Tok tok tok

“Biar aku yang buka.”, pinta Sehun. Ia lalu beranjak membuka pintu.

“Ya?”

“Anda bertiga dipanggil oleh sajangnim ke kantornya sekarang juga.”

Sehun memandang kedua hyungnya yang sedang tersenyum. Benar-benar pas.

“Aku akan menemui sajangnim untuk mengklarifikasi masalah ini. Kau sendiri di rumah? Dan apa masih mati lampu? Keluar rumahlah, aku tak mau terjadi hal yang buruk. Setelah ini aku akan menghubungimu lagi.”

Klik.

***

Mereka bertiga segera menemui sajangnim. Tak lupa membawa data-data yang diberikan dokter Nesha untuk meminta penjelasan lebih lanjut.

“Mwoyaaa?”, penjelasan Sooman sukses membelalakan mata Baekhyun yang sipit.

“Jadi yang dibicarakan dalam file ini adalah keluargaku dan keluarga anda? Bagaimana bisa??”, Baekhyun masih tak percaya.

“Seperti yang kukatakan tadi, ada konflik pada masa lalu yang tak juga ku mengerti. Namun berdampak hingga kini.”

“Lalu apa hubungannya dengan dokter Nesha? Kenapa dia bisa mendapatkan file-file ini?”, tanya Sehun sebenarnya pada diri sendiri.

“Kalian mengenalnya? Orang Indonesia itu?”, tanya Sooman heran. “Dia salah satu turunan keluargaku, musuh besar keluargamu.”

“Lalu parfum itu kenapa bisa membuat teman-teman kami mati? Bukankah tak ada hubungannya?”, giliran Chanyeol bertanya.

“Tak ada alasan lain, teman-temanmu pasti telah memakai parfumnya.”, Baekhyun, Chanyeol, dan Sehun kompak menundukkan kepala.

“Ah ya, apa kalian sudah membuang semua parfumnya?”, tanya Sooman kemudian.

“Masih ada satu lagi, ada pada fansku.”, ucap Baekhyun jujur.

Fans? Kau pasti memberikannya sebagai hadiah, kan?”, Baekhyun mengangguk polos.

“Lalu bagaimana cara mendapatkannya lagi? Fansmu kan bukan hanya satu.”, tambahnya.

“Dia fans dari Indonesia yang sangat spesial untuknya.”, goda Chanyeol yang membuat Baekhyun salah tingkah.

“Sepertinya semua akan berjalan baik Baekhyun-ssi, bukankah begitu?”, Sooman terkekeh. “Lalu apa rencana kalian sekarang? Ingin memulai debut dengan grup baru yang beranggotakan tiga orang?”

“Shireo. Kami tetap EXO, sajangnim.”, ujar Baekhyun tegas.

“Apa kita bisa ke Indonesia dan mencari tahu kejelasan kabar mengenai dokter Nesha?”, tanya Sehun penuh harap.

“Memang apa yang terjadi dengannya?”, Sooman menatap Sehun.

“Dia.. Dia mengalami kecelakaan pesawat saat menuju kesini.”, Sehun menghela napas berat kemudian menunduk. “Kabarnya semua penumpang tak ada yang..”

“Baiklah aku mengerti.”, potong Sooman saat mendengar perkataan Sehun yang terasa ragu. Kemudian Sooman mengangkat gagang pesawat teleponnya dan menekan angka 3.

“Tolong pesankan tiga tiket penerbangan ke Indonesia hari ini juga. Kutunggu sekarang.”

Baekhyun, Chanyeol, dan Sehun saling menatap tak percaya.

“Jadi, apa kalian tidak akan bersiap? Atau kubatalkan saja pesanan tiketnya?”, ketiganya langsung berdiri dan berposisi hormat.

“Siap, sajangnim!”, kemudian keluar ruangan dan kembali ke dorm.

‘Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahan keluargaku yang telah mengambil orang-orang terdekat kalian.’, ujar Sooman dalam hati.

***

“Lama sekali, hyung.”, keluh Sehun dalam mobil.

Mereka baru saja sampai di Indonesia dan sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat dokter Nesha bekerja.

“Nah, kita sampai. Tenangkan dirimu Sehunnie.”, ujar Chanyeol.

Sehun mengangguk dan berjalan mendahului kedua hyungnya. Mereka berhenti didepan meja resepsionis. Baekhyun mengedarkan pandangannya ke segala arah.

“Apa yang sedang kau cari?”, tanya Chanyeol.

“Ah itu dia!”, Baekhyun melambaikan tangannya tanpa menggubris pertanyaan Chanyeol.

“Ayo oppadeul, ikuti aku.”, ajak Riri pada ketiga namja tampan tersebut.

Gadis berumur 18 tahun tersebut membawa mereka ke taman belakang rumah sakit. Mengajak duduk di sebuah bangku panjang yang cukup untuk mereka berempat duduk.

“Kukira kau akan membawa kami pada keluarga atau salah satu temannya.”, protes Sehun.

“Aku sudah mendapatkan informasinya. Dokter Nesha benar-benar menjadi korban dalam kecelakaan itu. Keluarganya sudah tahu, tadi mereka kesini dan mengatakan pemakaman akan dilaksanakan besok.”, jelas Riri. “Apa kalian akan datang?”

“Tentu saja!”, ucap Sehun dengan suara lantang diiringi persetujuan yang lain.

***

Setelah melewati perdebatan panjang, akhirnya mereka setuju untuk bermalam di rumah Riri. Baekhyun baru saja selesai mandi ketika suara telepon rumah diluar kamarnya berdering. Dihampirinya asal suara. Dilihatnya Riri baru saja menutup telepon.

“Dari siapa?”, tanya Baekhyun yang membuat Riri sedikit terhenyak.

“Eh, temanku. Dia bilang takkan pulang malam ini.”, jelas Riri. “Oppa belum tidur?”

“Baru pukul 10, aku belum mengantuk.”

Riri hanya mengangguk.

“Ehm, bisa kita bicara sebentar?”

“Jangan disini oppa, kita duduk saja.”, ajak Riri.

“Kau masih menyimpan parfumnya, kan? Bisakah aku mengambilnya kembali?”, tanya Baekhyun setelah duduk di kursi ruang keluarga. “Nanti akan kuganti dengan hadiah yang baru.”, ucap Baekhyun buru-buru menambahkan.

“Dokter Nesha sudah menceritakan semua padaku, aku juga sudah memberikan parfum itu padanya. Dia bilang akan memberikan padamu secepatnya, jadi belum sampai juga?”, tanya Riri heran.

“Apa mungkin dia bawa sewaktu akan berkunjung ke tempat kami? Apa mungkin parfumnya ikut meledak dalam pesawat?”, tanya Baekhyun sembari berpikir.

“Mungkin saja. Aku sungguh tak percaya hal itu bisa terjadi pada Dokter Nesha.”, Riri terlihat iba.

“Ya, aku juga tidak menyangka. Aku kasihan pada Sehun, aku tahu dia lebih sedih daripada yang nampak dari luar.”

“Mereka terdengar sangat akrab, memangnya ada hubungan apa diantara mereka?”

“Bagaimana ya? Ehmm, seperti.. kau dan aku.”

“Maksu..”

“Kalian sedang apa disitu?”, tanya Chanyeol yang tiba-tiba datang.

“Ah ya, aku baru saja akan ke kamarku.”, ujar Baekhyun terkekeh sambil berdiri. “Kau juga sedang apa disitu?”

“Aku haus, apa aku boleh minta minum?”, tanya Chanyeol innocent.

Riri dan Baekhyun tertawa pelan melihat kepolosan namja jangkung itu.

“Sudahlah, kau cepat tidur ya, sudah malam.”, ucap Baekhyun pada Riri yang segera beranjak meninggalkan Chanyeol yang juga segera melangkahkan kakinya menuju dispenser.

Tak mereka sadari, sedari tadi ada empat pasang mata yang mengikuti gerak-gerik mereka.

***

KEESOKAN HARINYA

“Kau tidak menangis, kan?”, goda Baekhyun pada si maknae.

“Tidak, hyung. Untuk apa aku menangis?”, ucap Sehun didepan cermin, membenarkan gaya rambutnya.

“Kau kan biasanya yang paling cengeng.”, ejek Chanyeol yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Aku kan namja kuat, aku berjanji tidak akan menangis lagi.”, ujar Sehun menatap kedua hyungnya, mencoba tegar.

“Benar kau tidak akan menangis lagi? Buktikan pada kami.”, tantang Baekhyun disusul persetujuan Sehun.

Mereka segera berangkat menuju tempat pemakaman dokter Nesha, salah satu pemakaman umum yang berada di Jakarta.

“Itu orang tuanya.”, tunjuk Riri dari jauh. Mereka baru saja akan menghampiri sekerumun orang yang sedang larut dalam isakan tangis.

Sehun melangkahkan kakinya pertama, dengan segera mengambil posisi disebelah orangtua Nesha. Ia terlihat memperkenalkan dirinya. Ibu Nesha merespon dengan baik dan ramah.

“Nesha pernah beberapa kali bercerita tentangmu.”, ujar Ibu Nesha. “Kau ternyata baik, seperti apa yang diceritakannya.”

Sehun tersenyum dengan wajah merona. Tidak bertepuk sebelah tangan ternyata, pikirnya. Tapi.. Apa yang bisa diharapkan sekarang? Dada Sehun terasa sesak ketika beberapa orang datang membawa sebuah peti mati. Sudah pasti bukan, siapa yang ada didalamnya?

“Isinya hanya ada beberapa helai rambut Nesha. Saya mengambilnya sewaktu memotong rambut Nesha dulu. Jasadnya tak tersisa sedikitpun.”, Ayah Nesha seakan menyanggah pemikiran Sehun.

Sehun semakin kacau dalam pemikirannya sendiri. Menahan air mata adalah hal tersulit untuk dirinya, meski ia sudah berjanji pada Baekhyun.

“Saya permisi.”, Sehun melangkah mundur dari kerumunan. Berjalan menjauh dari pemakaman ini, tak peduli suara para hyung-nya yang meneriaki untuk kembali. Dia ingin menangis. Dan tentu saja tidak di tempat ini.

***

Sehun mulai menelusuri jalan yang ada di sekitar pemakaman. Ia terus berjalan meski sama sekali tidak tahu daerah ini. Langkahnya terhenti ketika melihat seorang yeoja yang berdiri dihadapannya. Senyumnya ramah, hanya saja terasa ada yang aneh.

“Tuan, apa anda mau membeli parfum?”, tawarnya, sukses membelalakkan mata Sehun yang sudah berair.

“Pa.. Parfum??”

Sehun mundur selangkah demi selangkah. Masih melihat senyum yeoja tersebut yang kini mulai menyerupai seringai.

“Apa kau tak mau mencobanya dulu, Tuan?”, ucap yeoja itu sembali melangkahkan kakinya kearah Sehun. Sehun menggeleng cepat dan tak henti berjalan mundur dengan teratur.

“Pergi! Menjauhlah dariku!”, gertak Sehun lalu berlari sekencang-kencangnya tak tentu arah.

***

“Aku akan menyusul Sehun.”, ucap Baekhyun yang sedari tadi gelisah karena dongsaengnya tersebut tak juga kembali. “Dia mungkin lupa jalan kesini.”

“Aku juga, entah kenapa perasaanku tak enak daritadi.”, susul Chanyeol.

“Kalau begitu aku juga ikut.”, pinta Riri cepat.

“Kau lebih baik disini saja, ikuti acaranya sampai selesai.”, perintah Baekhyun.

“Memang setelah menemukan Sehun oppa, oppa tahu jalan kembali?”

Baekhyun dan Chanyeol saling memandang. Benar juga, pikir mereka.

“Tapi kau aman disini.”, sergah Baekhyun.

“Jadi oppa akan pergi ke tempat yang tidak aman? Kalau begitu oppa tidak boleh pergi.”

“Keras kepala sekali anak ini.”, ucap Chanyeol mengacak pelan rambut Riri.

“Baiklah, kau boleh ikut.”, ujar Baekhyun melangkah sembari menarik tangan Riri. Terlihat sekali bahwa ia tak suka dengan perlakuan Chanyeol beberapa saat lalu.

***

“Apa yang terjadi sebernarnya? Kenapa makhluk itu muncul lagi? Bukankah seharusnya mereka mati? Parfumnya kan sudah hancur semua!”, pikir Sehun sembari terus berlari.

PRANK! Sebuah botol parfum jatuh tepat dihadapannya. Sehun mendongak. Didapatinya sesosok yeoja berpakaian putih panjang, dan.. Tak berwajah?

“Si.. Siapa dia??”, tanya Sehun pada dirinya sendiri sembari melangkah kembali kearah berlawanan.

“Ini semua salahmu sendiri.”, ujar sebuah suara. Seketika langkah Sehun menjadi berat. “Kau tahu apa yang dilakukan dokter bodoh itu hingga mati?”

Suara itu semakin terdengar jelas di telinga Sehun. Namun ia berusaha keras untuk tidak meresponnya. Langkahnya terhenti saat ia terlalu lelah. Sehun menopang kedua tangannya pada lutut. Nafasnya tidak stabil.

“Karena ia membantumu dan si biadab itu untuk menghancurkan rencana kami.”, suara itu masih terdengar. “Salahnya sendiri mempertaruhkan nyawa dengan kami..”

Sehun terpekik mendengar kalimat terakhir. “Jadi.. Jadi kalian yang membunuhnya, hah?! Dasar pengecut! Tunjukan wajah kalian kalau berani!!”, tantang Sehun.

Angin berhembus kencang. Menerbangkan debu-debu yang kemudian hinggap di bola mata Sehun, membuat pandangannya kabur.

Saekki-ya! Hanya ini yang bisa kau lakukan?! Bunuh saja aku jika kau bisa!”

Sebuah benda jatuh tepat diatas kepala Sehun. Benda keras itu membuat keseimbangannya goyah. Entah apa, namun saat benda itu jatuh ke tanah terdengar bunyi pecah.

Dan satu benda lagi jatuh di kepalanya. Sepertinya benda yang sama. Keseimbangan Sehun semakin buruk. Tubuhnya oleng hingga tak sadar memasuki badan jalan. Sebuah mobil bahkan sampai membanting stir-nya ke kanan agar tidak menabrak Sehun. Namun naas, mobil dibelakangnya tak sempat menyadari keberadaan Sehun. Mobil tersebut memaksa menginjak pedal rem meski sedang melaju dengan kecepatan tinggi.

Alhasil, karena respon mendadak itu mobil kehilangan keseimbangan hingga menabrak Sehun yang sudah setengah sadar. Tubuhnya terseret bersamaan dengan mobil tersebut. Diujung jalan, mobil itu terbalik dan menahan jasad Sehun dibawahnya.

***

“Kemana sebenarnya dia?”, tanya Chanyeol tak henti mengedarkan pandangannya ke segala arah. Berharap menemukan sosok Sehun.

“Oppa, itu ada apa?”, tanya Riri sembari menggoyangkan tangannya yang masih ada dibawah kendali Baekhyun. Ditunjuknya sekerumun orang. Tanpa berkata apapun, Baekhyun kembali menarik tangan Riri, menuju kerumunan orang tersebut. Diikuti Chanyeol dibelakang mereka.

“Kecelakaan.”, ujar Baekhyun setelah melihat sekilas.

“Ayo, kita masih ada kepentingan lain untuk mencari Sehun.”, ajak Chanyeol sembari melangkah menjauh. Mereka menelusuri kembali trotoar jalan.

“Aw!”, ringis Baekhyun ketika sesuatu yang tajam menusuk telapak kakinya.

“Hati-hati oppa, ada pecahan kaca.”, Riri menunjuk pecahan kaca yang lain.

“Tidak apa-apa, untung sepatuku alasnya kuat.”, ucap Baekhyun sembari melanjutkan langkahnya lagi.

“Tunggu, Baekhyun.”, tahan Chanyeol. “Apa kau tidak merasa familiar dengan pecahan kaca itu?”, Chanyeol berjongkok mengamati tanpa menyentuhnya. Baekhyun ikut berjongkok.

“I..Itu..”, ternyata Riri sudah menyadarinya, sementara Baekhyun masih kebingungan.

Baekhyun menatap Chanyeol seolah meminta penjelasan. Chanyeol meraup sebongkah pecahan kaca dan menunjukkannya pada Baekhyun sembari menatap penuh arti.

“NN Perfume, kau ingat?”

Baekhyun terhenyak menatap pecahan kaca yang ada di tangan Chanyeol. Sedetik kemudian ia teringat sesuatu.

“Parfum?? Kecelakaan tadi? Dan.. Dimana Sehun?!”, seru Baekhyun panik.

Chanyeol yang mengerti arah pembicaraan Baekhyun segera beranjak. Langsung saja mereka berlari kearah kerumunan orang tadi. Kini orang-orang sedang mencoba membalikan mobil yang terguling menuju posisi semula.

BRUGG! Terdengar hantaman keras saat mobilnya berguling.

“Sehun-ah!”, teriak Baekhyun dan Chanyeol bersamaan ketika mendapati sesosok tubuh manusia yang sudah bersimbah darah. Pakaian rapinya sudah terkoyak. Kulit mulusnya tergores hitam aspal yang melebur dengan merah darah. Tulangnya mungkin sudah remuk tak berbentuk. Wajahnya yang setengah hancur, untung masih bisa dikenali.

Baekhyun dan Chanyeol berhambur kearah jasad Sehun. Sementara Riri berdiri ditempat, menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tangisnya tidak meledak.

“Apa.. Apa yang terjadi?!”, Chanyeol mendadak diliputi emosi.

Semua warga yang ada disitu diam melihat tingkah Chanyeol. Mereka bungkam. Tak ada satupun yang angkat bicara. Baekhyun meratapi nasib dongsaengnya, dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang apa yang terjadi.

Suasana tersebut pecah saat ponsel Baekhyun berdering. Setelah melihat nama penelepon, Baekhyun segera menjauh untuk menjawab panggilan teleponnya.

“Kris hyung, waeyo?.. Hadiah dariku?.. Oya parfum itu.. Merah? Hijau mungkin hyung.. Botol parfumnya merah?.. NN Perfume??”

Baekhyun menatap kosong pada jasad Sehun. Tubuhnya melemas hingga tak sanggup menahan ponselnya agar tetap di tempat semula. Tubuhnya terduduk ditopang oleh kedua lutut.

“Parfum.. Parfum itu masih ada..”

TO BE CONTINUED

Ketauan ciyeeee siapa yang mati, maaf ya Sehun T_T karena Sehun pergi meninggalkan kita di Chapter ini, Chapter 4 nanti bakal muncul satu cast yang sebenernya udah ada dari chapter 1, cuma dikit banget bagiannya. Tuh muncul dia di ujung ujung chapter ini #pokekris. Mianhae kalo misalnya tadi pas baca nemu banyak typo, dan cerita yang gak nyambung soalnya bikin FF ini butuh waktu lama bangeeeeet, jadi keburu lupa cerita sebelumnya dan males baca lagi 😛 saat itu juga author ini dua-duanya lagi sibuk siap-siap buat UN, jadi ya beginilah jadinya, wkwk. Makasih juga yang kebetulan nyasar dan akhirnya baca juga! *bow*

Advertisements

5 thoughts on “FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 3)

  1. ya! hunie~ andwaee~~ kris~

    hua parfumnya msi ada –” gmna sih

    dokter nesha jga mati -..- jodoh #eh

    riri ama baekhyun mkin dkat aja .. kyknya ujung”nya jdian .. baekhyun aja ampe cmbru liat chanyeol nglus pala riri yg ada chanyeol cmbru sma riri uda rbut baekie dri dia baekyeol nya jdi trpsah kkkk~ *peace thor*

    jdi sehun bkalan gbung sma arwah suho d.o kai?

    ga snggup lnjt bca *lebay*

    jngn ada yg mti lgi plis T.T

    • Doain ya author bisa jadian sama Baekhyun. Amin. Meski gak mungkin tapi aminin aja ya 😁😁
      Iya nih aku seneng banget bikin baekyeol terpisah, abis mereka berduaan mulu sih bikin author sirik haha

      Terimakasih ya udah sempetin baca dan komen 😘 (3)

  2. Pingback: FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 6) | Born to be an Imaginer

  3. Pingback: FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 5) | Born to be an Imaginer

  4. Pingback: FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 4) | Born to be an Imaginer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s