FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 2)


Title

Six Deathly Of Perfume (Chapter 2)

Cast

All Member of EXO-K

Wu Yi Fan (Kris)

Dr. Nesha

Riri

Genre

Horror, Mystery, Romance

Rating

NC-17 (violence)

Length

Multi-Chapter

Author

NN Project

Masih berlanjut soal kasus parfum. Diingetin lagi ya, di FF ini EXO ceritanya cuma ber6 (EXO-K aja). Dan Kris disini sebagai kakaknya Baekhyun.

Warning!

Story idea by @neshanavy

Edited by @ririnovi

Written by NN Project

Previous chapter –> Chapter 1.

***

-Preview Chapter 1-

Betapa terkejutnya ia ketika D.O tiba-tiba mengarahkan tangan pada lehernya seperti hendak mencekik. Semua member EXO berlari menghampiri D.O dengan penuh kekhawatiran. Namun, entah ada sesuatu hal apa yang membuat tubuh D.O tak seimbang. Tubuhnya dengan cepat terperosok ke liang lahat Suho yang belum tertutup tanah.

Tanpa ada yang mendorong, tanah yang berada diatas pemakaman secara otomatis mengubur liang lahat tersebut beserta D.O yang jatuh kedalamnya. Semua orang yang berada disitu tercengangang dan kaget bukan main. Hal yang tak pernah diduga sebelumnya. Ternyata mereka harus melakukan pemakaman untuk dua orang sekaligus dalam lubang yang sama.

***

Matahari bersinar terik siang ini, tapi tak senada dengan keadaan di dorm EXO. Semua member EXO merasa sangat terpukul dengan kejadian yang sangat mencengangkan di pemakaman Suho minggu lalu. Kejadian tak terduga yang tak tahu asal-usulnya. Ditambah lagi dengan kepergian D.O secara tiba-tiba karena kejadian itu. Akhirnya SM Entertainment selaku agensi yang menaungi EXO memutuskan agar EXO vakum untuk sementara waktu sampai masalah ini selesai.

“Bolehkah aku pulang menemui orangtuaku selama beberapa hari?”, Tanya Kai saat semua member sedang berkumpul di ruang tengah.

“Ya, kalian bisa pergi kemana pun kalian suka selama kita masih vakum. Untuk urusan EXO, akan kuambil alih sementara ini.”, ucap Baekhyun yang notabene jadi yang tertua sekarang.

Secepatnya Kai mengemasi sebagian barang yang ada di kamarnya untuk segera pulang ke rumah. Sebenarnya selain merindukan orangtuanya, dia juga takut tidur di kamarnya sendirian. Dulu kan ada D.O, sekarang D.O tidak ada. Bagaimana jika ada yang menghantui Kai saat tidur? Pikirnya. Maka untuk beberapa hari ini Kai memutuskan tinggal di rumah orangtuanya.

Baru sampai didepan kompleks, Kai menemukan sebuah toko parfum yang baru pertama kali ia lihat.

“Apa ini toko parfum yang waktu itu dikatakan Baekhyun hyung?”, Tanya Kai mengira-ngira sambil turun dari taksi untuk melihat-lihat kedalam.

“Kenapa sepi sekali disini?”, ucap Kai saat menemukan tak ada seorang pun yang menjaga toko.

“Annyeonghaseyo, oppa.”, sapa seorang pelayan yang muncul tiba-tiba di belakang Kai.

“Ah, annyeong.. Kau mengagetkanku.”, ucap Kai berbalik dan mengelus dadanya sendiri.

“Mencari parfum yang seperti apa, oppa?”, Tanya seorang lagi dari balik punggung Kai dan sukses membuat jantungnya melonjak karena kaget untuk kedua kalinya.

“Aish, apakah ini cara kalian melayani pelanggan?”, ucap Kai risih. “Aku ingin parfum yang paling wangi disini.”, pinta Kai.

“Ini, di deretan kanan adalah parfum terlangka yang hanya ada disini. Harumnya sudah tidak perlu diragukan lagi.”, ucap salah satu pelayan.

Kai mendekati deretan parfum itu, melihat botolnya satu per satu.

“Silahkan dicoba oppa, itu tester.”

Kai menyemprotkan parfum itu di pergelangan tangannya dan merasakan aroma yang sangat harum. Membuatnya terbuai ingin membeli parfum itu.

“Aku beli ini satu.”, ucap Kai pada salah seorang pelayan. Parfum yang dipilihnya benar-benar persis dengan milik Baekhyun yang diberikan pada Suho.

“Hanya satu, oppa? Kami akan memberi diskon jika kau membeli lebih.”, ucap pelayan tersebut.

“Aigoo, harusnya kau memberi diskon khusus untuk artis sepertiku.”, ucap Kai dengan percaya dirinya.

“Semua pelanggan kami anggap sama, oppa.”, ucap yang satunya.

“Baiklah, aku ambil dua dengan yang ini.”, ujar Kai.

Selagi menunggu parfumnya dibungkus, ia melihat-lihat rak parfum yang lain. Koleksi yang sangat lengkap, gumamnya.

PRANG!

“Suara apa itu??”, Tanya Kai penasaran.

Didatanginya asal suara dan dilihatnya salah seorang pelayan menjatuhkan sebotol parfum tanpa sengaja. Awalnya Kai ingin membantu pelayan tersebut. Namun ia masih terpaku ditempatnya karena melihat cairan yang tumpah dari botol itu. Warnanya tidak bening seperti cairan parfum pada umumnya. Tapi berwarna merah.

“Ini parfummu, oppa.”, ucap pelayan yang lain dari arah belakang Kai.

“Ah, ne. Gomawo.”

Tanpa pikir panjang Kai memasuki taksinya lagi dan meminta supir untuk kembali ke dorm EXO. Ia menatap lekat pada dua parfum yang ada dalam genggamannya sekarang. Masih menerawang sebenarnya apa yang terjadi disini.

“Stop disini, kita sampai!”, perintah Kai saat ahjussi supir taksi terus saja melajukan taksi melewati dorm.

“Kita turun disini.. oppa?”, bisik supir taksi yang kemudian menengok ke belakang, menampakkan wajah yang berbeda dengan sebelumnya.

“Kau.. kau, apa maumu??”, ujar Kai takut pada supir taksi yang berubah wajah menjadi pelayan toko parfum tadi.

“Mari kita akhiri permainan ini..”, ucapnya tertawa sambil membanting stir ke kiri, yang menyebabkan mobil oleng dan kehilangan kendalinya.

“Ah? Kenapa ini?? Tuhan, tolonglah aku..”, ucap Kai disela guncangan hebat mobil.

Meski panik, ia tetap berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan cara berdoa. Ia menutup matanya berharap semua ini akan baik-baik saja, atau malah mungkin ini hanya ada dalam mimpinya.

Namun saat Kai membuka mata, keadaan masih tetap sama.

“Kemana supir taksinya??”, ucap Kai panik karena menemukan stir mobil tanpa pengendali.

Tanpa pikir panjang ia meraih kendali mobil. Tapi naas, saat ia telah berhasil memegang kemudi, dua pelayan toko parfum tadi tiba-tiba saja berada didepan mobil dan membuatnya terpaksa membanting stir ke kiri hingga mobil yang ditumpanginya naik ke trotoar dan sukses merubuhkan sebuah pohon. Kai langsung tak sadarkan diri.

***

“Oppa, apa oppa baik-baik saja?”, Tanya sebuah suara dari arah samping Kai.

Kai mengerjapkan matanya beberapa kali, masih meraba-raba apa yang ada dipandangannya.

“Oppa, bangunlah.”, ucap suara itu lagi.

Kai mengarahkan pandangannya ke kanan. Dilihatnya pelayan toko parfum itu sedang duduk manis sambil memegang sebotol parfum.

“Parfum ini harum kan, oppa?”, tanyanya lagi sambil menyemprotkan parfum tersebut ke wajah Kai.

Kai mengerjapkan matanya sekali lagi sebelum mengusap wajahnya. Tenggorokannya tercekat saat dilihatnya cairan yang disemprotkan pada wajahnya bukanlah cairan bening seperti parfum melainkan cairan merah berbau amis.

“Pergi.. pergi kau dari sini!”, ucap Kai gemetar.

“Parfumnya harum kan, oppa?”, ucap pelayan tersebut memamerkan seringainya yang terlihat menyeramkan.

“Tidak.. tidak.. tidaaaak!”, teriak Kai histeris sambil mencoba keluar dari taksi tersebut.

Malang, kakinya terhimpit oleh sesuatu dan sulit sekali terlepas.

“Apa kau ingin mencobanya lagi, oppa?”, Tanya pelayan tersebut sambil mencoba merangkak kearah Kai.

“Diam! Jangan bergerak!”

Kai semakin panik. Ia berusaha melepaskan kakinya sebelum pelayan menyeramkan ini bisa meraih tubuhnya. Sulit sekali. Kakinya hampir tidak bisa digerakkan.

“Arrghh!”, kakinya akhirnya bisa terlepas walau dengan darah yang bercucuran deras.

Langsung ia melompat keluar dan mencoba bangkit untuk pergi secepatnya dari tempat itu. Dilihatnya pelayan tadi sudah tak berada didalam mobil.

Dengan langkah tergopoh-gopoh, Kai mulai berjalan menjauhi mobil tersebut. Kakinya yang berlumuran darah sekalipun tak ia pedulikan. Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana cara memberitahu member lain tentang parfum yang dibeli Baekhyun kemarin, yang saat ini mungkin itulah penyebab kematian dua hyung nya beberapa waktu lalu.

Untung saja mobil yang membawanya tidak terlalu jauh dari dorm EXO. Ujung pintu depannya pun sudah terlihat dari tempatnya kini. Beberapa kali ia melihat kebelakang karena takut makhluk itu muncul lagi. Ia bersyukur karena makhluk itu sudah tidak terlihat, membuat Kai bisa merasakan sakit di kakinya karena sudah mulai tenang. Terdengar suara tawa renyah dari arah kanan Kai.

Bola matanya sengaja ia pusatkan pada sudut matanya. Melirik kearah datangnya suara tadi, sekedar menghilangkan rasa penasarannya.

“Shit! Dia muncul lagi!”, ujar Kai mencoba berjalan lebih cepat.

“Apa dia mengikutiku? Ah, peduli apa? Yang terpenting sekarang memberitahu semuanya!”

Didorongnya pintu gerbang hingga terbuka seluruhnya. Dengan langkah cepat mendekati pintu dorm yang sedang dalam keadaan tertutup.

“Arrgh!”, entah apa yang membuat tubuh Kai tersungkur jatuh sebelum ia sempat meraih knop pintu. Rasanya sangat sakit, apalagi banyak batu-batu kecil yang tertimpa olehnya.

Ia mencoba kembali bangkit, namun sebuah suara cekikikan menghentikan aksinya tersebut. Masih dalam keadaan tengkurap, Kai mencoba memalingkan wajahnya kebelakang. Memastikan bahwa suara tadi berasal dengan apa yang ia perkirakan, meski ia takut.

Betapa terkejutnya ia, karena selain apa yang dipikirkannya benar, makhluk itu sekarang sangat dekat dengannya. Tidak sampai jarak 5 sentimeter dari kakinya.

“Aaaaargh!”, Kai mengerang kesakitan ketika makhluk itu menginjak kakinya yang terluka dengan sengaja.

“Apa oppa mau mencoba parfum ini?”, tanyanya ramah namun dengan tatapan yang menyiratkan kematian.

“Ani, ani. Menjauh dariku sekarang juga!”, teriak Kai yang tidak mendapat respon apapun.

“Ini tester, oppa boleh mencobanya gratis.”, ia menyodorkan sebotol parfum pada Kai.

Dengan gerakan cepat, tangan Kai menyambar parfum yang disodorkan padanya kemudian menyemprotkannya pada mata makhluk itu beberapa kali. Terlihat makhluk tersebut merasa kepanasan setelah apa yang dilakukan oleh Kai. Apakah parfum ini adalah kelemahannya?

Tak mau buang-buang waktu, Kai melanjutkan perjalanannya dengan cara merangkak karena kakinya yang sangat sulit digerakkan. Untung saja daun pintu tinggal beberapa jengkal lagi.

Tok tok tok

Kai mengetuk pintu dengan parfum yang masih digenggamnya. Makhluk itu menatapnya lebih tajam. Matanya merah padam seperti dengan sengaja menyemburkan aura kemarahan pada Kai.

Kai tetap berusaha mengetuk pintu yang tak kunjung dibuka. Seringkali ia beralih pandang menatap pintu dan makhluk yang kini sudah berdiri tepat disebelah lengannya. Tak ada lagi yang bisa lakukan sekarang selain pasrah. Makhluk itu memukul kepala Kai hingga terbentur alas yang keras. Membuat darah mengalir deras. Beberapa kali hingga kepala Kai pening dibuatnya. Mungkin karena darah yang terus menerus keluar sedari tadi.

***

“Aku mendengar suara pintu tapi aku tak yakin, hyung.”, ujar Sehun.

“Ah? Coba kita lihat.”, ajak Baekhyun.

Baekhyun berada dibarisan depan dan membuka pintu dengan hati-hati.

PRANG!

Sebuah botol parfum terlempar kedalam. Pelakunya berwajah yang berhiaskan darah.

“Kai??”, teriak mereka bertiga bersamaan.

***

“Hari-harimu menjadi seorang leader sepertinya akan sangat berat, hyung.”, ucap Sehun ketika baru saja kembali dari pemakaman Kai. Pemakaman ketiga yang sudah mereka hadiri dalam satu bulan ini.

Sungguh entah apa yang terjadi secepat ini. Baekhyun memandang dongsaeng-nya itu dengan tatapan frustasi. “Apa aku akan menjadi leader Sehun-ah? Leader dalam sebuah grup yang kini tinggal tersisa tiga orang?”

“Sudahlah Baek, lebih baik istirahatkan tubuhmu sejenak. Kurasa kau terlalu memikirkan semua ini.”, ujar Chanyeol perhatian.

“Aku hanya penasaran, sebenarnya apa yang menyebabkan kematian mereka yang mendadak seperti ini? Apa ada hal-hal yang mereka sembunyikan dari kita sebelum meninggal?”, pikir Baekhyun keras.

“Mollasseo. Sepertinya hyung terlalu fokus pada parfum-parfummu itu sampai tak tahu keadaan yang lain.”, ucap Sehun asal bicara.

“Parfum?”, mata Baekhyun membulat sempurna. Kenapa tak pernah terpikirkan sebelumnya?

“Parfum, parfum..”, gumam Baekhyun terus menerus.

“Ada apa hyung? Apa aku salah dengan ucapanku tadi?”, Tanya Sehun.

“Ani, ani. Aku hanya mencari dimana parfumku.”, jelas Baekhyun.

“Memangnya ada apa?”, Chanyeol mulai turun tangan.

“Ucapan Sehun ada benarnya! Aku yakin semua ini gara-gara parfum itu, iya kan?”

“Maksudmu?”

“Apa kalian tidak merasa aneh dengan semua peristiwa ini? Semua peristiwa terjadi setelah parfum itu hadir dan berpindah tangan, benar kan?”

“Mungkin juga sih, cuma masih kemungkinan.”, tambah Sehun.

“Sudah sudah, kalian sepertinya beranjak aneh.”, Chanyeol terlihat tak suka.

“Ada apa? Kau tak setuju dengan pendapatku?”, Tanya Baekhyun.

“Aniya. Sudah jangan dibahas lagi, aku tak ingin kehilangan kalian.”, Chanyeol pun pergi begitu saja.

“Mau kemana kau?”, Tanya Baekhyun.

“Ke toko diujung jalan, aku ingin membeli cemilan.”, jawab Chanyeol.

“Baiklah hati-hati. Oya, parfum!”, Baekhyun teringat kembali. Kini ia beranjak ke kamar member-member lain untuk mencari parfum.

“Mau kemana, hyung?”, tanya Sehun.

“Mencari parfumku, bantu aku.”

“Parfum itu terakhir kali di Kai hyung, dan kau tak ingat? Parfum itu Kai hyung lempar kearah tembok.”, tunjuk Sehun pada dinding yang berada tepat dihadapan pintu masuk.

“Ah iya, lalu bagaimana?”

“Jadi tak usah jadi masalah, kan?”

“Iya juga sih. Omona, Sehun ada apa denganmu hari ini? Otakmu pintar untuk kali ini saja.”

“Aku terasuki arwah Suho hyung.”, ucap Sehun sambil terkekeh.

“Sekarang kau bodoh! Jangan ungkit itu lagi, aku merinding.”

“Mianhae, hyung.”, ujarnya innocent.

“Ne, tak masalah. Tapi mengapa aku merasa semuanya belum berakhir, ya?”

***

“Hyung tolong aku..”, desah suara menghampirinya.

“Si.. Siapa?”, Tanya Baekhyun.

“Ini aku hyung, Kai..”

“Kai.. Kai kau dimana?? Ini benar kau?”

“Iya hyung, tolong aku..”

“Apa yang bisa aku lakukan?”

“Selamatkan dirimu dan yang lainnya.”

“Dari apa? Selamatkan bagaimana?”

“Parfum, cepat atau lambat kau harus mengetahui segalanya. Kau yang memulai, kau juga yang harus mengakhiri.”

“A.. Aku? Parfum? Maksudnya?”

“Kaaaai!”, Baekhyun terbangun di tengah malam.

“Ada apa?”, Chanyeol ikut terbangun mendengar teriakan room mate-nya tersebut.

“Aniya, aniya.”, Baekhyun mencoba menenangkan dirinya sendiri.

“Ya sudah, tidurlah lagi.”, titah Chanyeol.

“Sehun.. Sehun mana?”, Tanya Baekhyun panik.

“Dia masih di ruang TV, dramanya masih belum selesai ia tonton.”, Chanyeol mulai terpejam kembali.

“Baiklah..”, Baekhyun mencoba terpejam.

***

Keesokan harinya..

“Yippiiii!”, Sehun berteriak sibuk sendiri.

“Aish.. Apa yang kau lakukan, maknae?”, gurau Chanyeol.

“Aniya..”

“Kau bohong, sedari tadi malam kau sibuk dengan BB-mu. Ada apa sih?”

“Wah hyung, kau mengintipku. Tak sopan itu!”

“Bukan mengintip, hanya tak sengaja memperhatikan saja.”, ucap Chanyeol sambil terkekeh.

“Sama saja, hyung!”

“Ya sudah, jadi ada apa di telepon selularmu?”

“Baiklah, aku sedang melakukan pendekatan pada dokter yang waktu di Indonesia. Ya walaupun hanya sebatas pada pesan singkat atau BBM saja.”

“Wah, cinlok Sehunnie? Congrats ya..”

“Ehmm, aku ingin bicara serius dengan kalian bisa?”, Tanya Baekhyun yang entah sejak kapan hadir disitu.

“Ada apa, hyung? Wajahmu terlihat terpaksa serius.”, cela Sehun.

“Aku serius, Sehun. Aku ingin bicara soal tadi malam.”

“Tadi malam? Ada apa memang?”, Tanya Sehun.

“Baik baik, duduklah dulu baru kita bicara. Arra?”, pinta Chanyeol.

Mereka bertiga duduk dan menempatkan posisi senyaman mungkin.

“Aku bermimpi soal Kai.. Ia memintaku menolongnya, menolongnya untuk menjaga kalian dan diriku sendiri.”, Baekhyun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Aigoo hyung, kukira ada apa. Itu kan hanya mimpi, namanya mimpi ya kebalikan dari kenyataan, hyung.”, Sehun masih asyik dengan kesibukannya sendiri.

“Tidak, kukira ini bukan sekedar mimpi biasa. Aku merasa aku benar-benar berbicara dengan Kai. Ini masih soal parfum itu.”

“Sudahlah, aku muak mendengar soal parfum.”, Chanyeol terlihat kesal. “Dan ingat, jangan pernah bahas orang sudah tidak ada. Kasihan mereka.”, Chanyeol pergi menuju kamarnya dengan membanting pintu.

“Kenapa dia jadi seperti itu?”, Tanya Baekhyun pada Sehun.

“Entahlah, hyung.”, jawabnya tanpa melihat kearah Baekhyun.

“Walapun begitu aku akan tetap mencari tau tentang parfum itu”, ucap Baekhyun kukuh pada pendiriannya.

“Ah? Apa maksudnya ini?”, Sehun memandang ponsel nya tak mengerti.

“Ada apa denganmu, Sehun-ah?”, tanya Baekhyun heran.

“Beberapa hari yang lalu Dokter Nesha pernah memberitahuku untuk berhati-hati, aku tak tau maksudnya apa. Dan baru saja dia memberitahuku aku harus hati-hati karena masih ada yg mengawasi dorm ini. Apa kau tau maksudnya apa, hyung?”, tanya Sehun innocent.

“Apa ini ada hubungannya dengan parfum itu?”, Baekhyun mencoba berpikir.

“Tapi, memangnya kau menceritakan tentang parfum ini pada doktermu itu?”

“iya, hyung.”, Sehun terkekeh.

Ting tung, suara bel memecahkan sejenak kesuyian yang ada di dorm EXO.

“Biar aku saja yang membukanya.”, ucap Sehun tak seperti biasa. Biasanya dia hanya mau enaknya saja duduk manis dan melihat hyung-hyungnya bergerak.

Baekhyun tak mempedulikannya. Ia masih memikirkan kemungkinan apa saja yg mungkin terjadi selanjutnya. Sebuah parfum tak pernah mempermainkannya seperti ini sebelumnya.

“Hyung! Ada bingkisan dari Dokter Nesha! Ah hyung, apa kau tahu betapa senangnya aku??”, Sehun berjingkrak-jingkrak diatas sofa yang kemudian mendapat jitakan di kepalanya.

“Ya! Jangan seperti anak kecil seperti itu! Coba buka, aku juga ingin tahu apa isinya.”, pinta Baekhyun terus melirik kearah kotak abu-abu yang dipegang Sehun.

“Ani! Ini punyaku!”, ucap Sehun berlari masuk ke kamarnya dan segera mengunci pintu. Baekhyun hanya bisa berdecak.

Ia kemudian menekan tombol on pada remote TV. Sejenak tertawa karena acara komedi yang sedang ditontonnya. Baekhyun menirukan beberapa gerakan lucu yang ditunjukkan MC acara tersebut. Tingkahnya sungguh masih kekanakkan.

“Baekhyun-ah..”, panggil seseorang. Tidak, suara siapa ini?

Baekhyun memutar kepalanya, mencari asal suara. Yang ditemukan hanya pintu-pintu kamar yang tertutup.

“Sehun-ah, apa kau memanggilku? Ini terakhir kalinya kuingatkan padamu, panggil aku hyung!”, ucap Baekhyun sedikit berteriak, namun tak ada respon dari Sehun.

“Baekhyun-ah..”, panggil suara itu sekali lagi. Dan kali ini Baekhyun yakin suara itu bukan berasal dari kamar Sehun. Ia mencari lagi ke segala arah. Pikirannya diliputi oleh ketakutan. Bulu kuduknya sudah berdiri tegak sejak tadi.

“Aku tahu itu suaramu, hyung..”, ucap Baekhyun pada akhirnya. Suho. Yang terpikirkan olehnya adalah suara Suho.

“Semua kecurigaanmu tentang parfum itu benar. Aku yakin kau bisa menyelesaikan semua ini. Kau percaya padaku, kan?”

Baekhyun mengangguk entah pada apa dan siapa. Ia hanya dilingkupi oleh ruang kosong, tapi suara itu begitu jelas di telinganya. “Aku percaya padamu, hyung. Aku akan menyelesaikannya sesegera mungkin.”

“Hyung! Coba lihat ini!”, ucap Sehun keluar dari kamarnya, dan suara Suho tak terdengar lagi. Baekhyun langsung memberi perhatian sepenuhnya pada Sehun.

“Ada apa Sehun-ah?”

“Didalam kotak tadi ada sebuah flashdisk yang berisi artikel ini. Aku yakin penyebab semua ini adalah parfum itu!”

Baekhyun mengambil alih laptop yang dibawa Sehun.

“Pada taun 1890 di Perancis terjadi pembunuhan secara tragis yg tak diketahui asal-muasal penyebabnya. Satu-satunya petunjuk hanya sebotol parfum yg selalu ditemukan disamping korban yang sudah meninggal. Hingga berita ini diluncurkan belum ada penemuan yang bisa menjelaskan semuanya.”, baca Baekhyun.

“Mungkinkah ini kasus yang sama, hyung?”, tanya Sehun.

“Kurasa begitu. Yang ingin kutanyakan, mengapa hal itu menimpa kita? Padahal kejadian ini dulu terjadi di Perancis kan?” Baekhyun membaca lanjutan artikelnya namun tak mendapat petunjuk sedikit pun.

“Apa mungkin?”, tanya Baekhyun pada dirinya sendiri.

“Mungkin apa, hyung?”

“Kau mungkin takkan percaya tapi sebelum kau datang tadi aku mendengar suara Suho hyung. Dia memberitahuku untuk percaya padanya, kurasa parfum ini memang penyebabnya.”

***

Sore harinya Baekhyun sudah duduk manis di meja kamarnya. Menatap intens pada laptop yg ada di hadapannya sekarang. Sebuah flashdisk menancap pada salah satu sisi. Flashdisk yang dikirimkan dokter Nesha pada Sehun tadi siang. Baekhyun ingin mengamati lebih seksama artikel tersebut.

“Apa yang sedang kau lakukan, Baekhyun-ah?”, Tanya Chanyeol yang baru selesai mandi.

“Membaca artikel tentang pafum itu.”, ucap Baekhyun masih fokus pada layar laptopnya.

“Parfum itu lagi? Sudahlah Baek, itu hanya dongeng anak..”

“Chanyeol-ah, kumohon kau percaya padaku kali ini saja. Ini benar-benar serius, aku tidak main-main dengan parfum itu. Dulu memang pernah terjadi hal yg sama, dan ini kutukan.”

Chanyeol menatap kesal pada Baekhyun kemudian berbaring di kasurnya. Tak mempedulikan Baekhyun.

“Lakukan saja sesukamu.”

***

“Aku sudah siap hyung.”, ucap Sehun sambil membawa sebuah koper dan tas gendong.

“Kau seperti akan tinggal disana, Sehun-ah”, ucap Baekhyun heran karena Sehun sangat banyak membawa barang.

“Banyak oleh-oleh yang ingin kuberikan.”, Sehun terkekeh.

“Baiklah, dimana Chanyeol?”, Tanya Baekhyun.

“Entahlah. Dia kan room mate-mu, hyung.”, jawab Sehun sekenanya.

“Chanyeol-ah..”, ucap Baekhyun sembari masuk kedalam kamarnya. Dilihatnya Chanyeol masih tertidur di kasurnya.

“Ya! Kupikir kau sudah bersiap! Ayo, kita akan segera berangkat.”, Baekhyun menggoyang-goyangkan tubuh Chanyeol.

“Pergi kemana?”, Tanya Chanyeol innocent.

“Ke Indonesia. Kau jangan pura-pura lupa seperti itu!”, Baekhyun geram.

“Menemui dokter itu untuk bertanya mengenai parfum? Aku sudah bilang aku tidak ikut.” Chanyeol menutup dirinya dengan selimut.

“Kenapa kau masih tidak mempercayaiku? Geurae, aku dan Sehun pergi sekarang. Aku harap kau menyusul kesana.”, ucap Baekhyun meletakkan tiket pesawat disamping tempat tidur Chanyeol.

***

“Jangan pernah memberikan informasi apapun tentang kami, Adele! Jangan pernah atau kau akan mati!”

PRANK! Sebuah gelas kaca terjatuh dari tangan Nesha. Suara apa itu? Adele? Siapa Adele? Hmm, informasi soal apa? Pikir Nesha semakin bingung.

Ting Tong.

Didengarnya suara bel pintu berbunyi.

“Siapa?”, tanya Nesha setengah berteriak. Apa mungkin pasien? Tapi ini masih cukup dini hari untuk waktu prakteknya, batin Nesha dalam hati.

“Ehmm, mianhae..”, terdengar jawaban dari luar pintu.

“Siapa?”, tanya Nesha sekali lagi.

Tok.. Tok.. Tok.. Hanya suara ketukan pintu yang terdengar.

“Annyeonghaseyo..”, ada suara dari luar pintu.

Nesha sudah mulai geram dengan tingkah tamunya yang tidak menggubris pertanyaannya beberapa kali.

“Si.. Sia.. Eh, annyeonghaseyo? Jangan-jangan?”

“Ehm, who is that?”, tanyanya ragu-ragu.

“Sehun, Oh Sehun. I came with Baekhyun hyung.”, jawab sumber suara.

“Sehun? Aigoo..”. Langsung saja dibukakan pintu.

Saat pintu terbuka, yang terlihat adalah dua sosok yang sepertinya tak ia kenali, bahkan mungkin baru sekali ia melihatnya. Postur tubuhnya bukan bentuk tubuh Sehun ataupun Baekhyun. Siapa mereka?

“Hai, ada angin apa kalian kesini?”, tanya Nesha sembari memegang pundak salah satu dari mereka hingga berbalik. Meski merasa ragu dengan hal ini, ia melakukannya juga. Dan ternyata.. Betapa terkejutnya Nesha melihat wajah mereka yang.. yang.. Ah Tuhan, apa yang terjadi? Apa matanya bermasalah? Muka.. Muka mereka.. Rata..

***

“Hey, bangun! Bangun!”, ucap Sehun menepuk perlahan pipi Nesha.

“Pelan-pelan Sehunnie!”, Baekhyun malah menggoyang tubuh Nesha kasar.

“Aigoo, hyung. Jangan kasar padanya!”, Sehun terlihat geram dengan sikap hyungnya.

“Mianhae. Wah, sepertinya ada yang jatuh cinta ya?”, goda Baekhyun sambil terkekeh.

“Aniya, hyung. Sudah sudah.”, Sehun memindahkan tubuh Nesha ke sebuah kursi panjang yang ada didepan rumah. “Bagaimana cara membangunkannya, hyung?”

“Mana kutahu. Seingatku waktu kau pingsan, Suho hyung meghangatkan tanganmu.”, jawab Baekhyun asal.

“Ne? Apa hyung serius?”

“Ya, tentu saja. Apa mataku terlihat berbohong?”, Baekhyun memasang wajah ter-cutenya.

“Ne, ne, aku percaya. Jadi aku harus menggenggam tangannya?”

“Mungkin. Hanya menghangatkannya, Sehun.”, Baekhyun mencoba meyakinkan.

Sehun pun bergegas menggenggam tangan Nesha yang masih tak sadarkan diri. Mencoba menghangatkan tangan Nesha seperti yang dikatakan hyungnya.

“Hyung, sudah lama aku menggenggam tangannya, kenapa tak sadar juga ya?”

“Wuahahaha….”, tawa Baekhyun membahana di rumah dokter muda tersebut.

“A.. Ada apa hyung?”

“Kau bodoh atau polos? Sejak kapan ada teori seperti itu? Membangunkan orang pingsan tak mungkin dengan cara tadi!”, Baekhyun tertawa sangat bahagia.

“Jadi hyung menipuku? Aish, sialan!”, Sehun beranjak mengejar Baekhyun, namun tiba-tiba Baekhyun menempelkan telapak tangannya di dahi Sehun.

“Ada apa hyung?”, Sehun terkejut.

“Lihat, telunjuknya bergerak. Sepertinya ia akan segera sadar.”, ujar Baekhyun serius memperhatikan jemari Nesha.

“Ehm, teriknya pagi ini.”, ucap Nesha yang baru membuka kedua matanya.

“Kau baik-baik saja, kan?”, Tanya Sehun yang berada di hadapan Nesha.

“Astaga! Si.. Siapa kau?”, Tanya Nesha dengan wajah pucat.

“Aku Sehun, kau lupa?”

“Apa benar kau Sehun?”, Nesha meraba-raba wajah Sehun.

“Apa yang kau lakukan?”, Sehun kebingungan.

“Aku hanya memastikan bahwa kau itu benar-benar Sehun.”

“Memang apa yang terjadi? Kami terkejut menemukanmu didepan pintu depan.”, jelas Baekhyun.

“Aniya, lupakanlah.”

***

“Apa mereka tidak sadar dengan apa yang mereka ributkan saat ini? Aku tahu ini masalah yang cukup aneh, tapi ayolah.. Apa harus berhubungan dengan hantu dan yang sejenisnya? Ini gila!”, umpat Chanyeol pada dirinya sendiri sambil hilir mudik dari satu sisi ke sisi lain.

“Apa yang akan mereka lakukan selama di Indonesia? Mencari dukun? Membeli jimat? Lama-lama aku yang gila jika memikirkan mereka terus!”, Chanyeol terlihat frustrasi.

Disaat yang sama, matanya menangkap sebuah benda diatas meja.

“Kebiasaan anak itu, tidak pernah mematikan laptopnya setelah dipakai.”, Chanyeol menggelengkan kepala. “Tapi jika laptopnya tidak mati, aku bisa melihat apa isinya. Selama ini kan dia protektif sekali pada benda kesayangannya itu. Jangan-jangan dia banyak menyimpan video yadong!”

Dihampirinya laptop Baekhyun, dan masih terbuka satu jendela website. Chanyeol mendecak tak suka, namun nyatanya tetap membaca apa yang tertera disana. Sebuah artikel kuno mengenai parfum.

Setelah selesai membacanya, Chanyeol terlihat sedikit berpikir.

“Baiklah, kalian mendapatkannya!”, ucap Chanyeol sembari berkemas kemudian mengambil tiket yang sengaja Baekhyun tinggalkan untuk dirinya.

***

“Aku? Kenapa harus aku??”, Baekhyun terkejut saat dokter Nesha mengatakan dirinyalah yang jadi sasaran utama.

“Kau kan yang pertama kali membelinya, hyung.”, ujar Sehun polos.

“Lalu aku harus menghentikan semua ini sendiri? Bagaimana caranya?”, Baekhyun mulai gelisah.

“Kami tentu akan membantumu, kau tenang saja. Yang harus kau lakukan adalah mencari tahu kenapa mereka lebih dulu mengincarmu tapi malah teman-temanmu yang terlebih dahulu mati. Dan juga, untuk meminimalisir resiko bertambahnya korban, segera musnahkan parfum yang kau beli dari toko itu.”, usul dokter Nesha.

“Parfum yang kuberikan pada Suho-hyung kan sudah hancur oleh Kai tempo hari, tapi satu parfum lagi kuberikan pada siapa ya?”, Tanya Baekhyun pada dirinya sendiri.

“Parfum untuk hyung-mu itu?”, Tanya Sehun lagi.

“Ani, aku memberikan hyung parfum dari Spanyol.”, sanggahnya.

“Ah ya!”, Baekhyun menjentikkan jarinya dengan ceria. “Aku memberikannya pada fans sewaktu fanmeet terakhir itu. Di Indonesia. Tapi kudengar, jumlah penduduk Indonesia jauh lebih banyak dari penduduk di Negaraku. Jadi, apa mungkin menemukannya?”, raut wajah Baekhyun memancarkan keputusasaan.

“Hyung, yang ikut fanmeet kita kan Cuma enam orang. Pasti mereka langsung jadi trending topic!”, ujar Sehun semangat.

Kedua orang dihadapannya takjub dengan perkataan cerdas yang keluar dari mulut Sehun.

“Aku tiba-tiba takut terjadi apa-apa dengan Chanyeol.”, ucap Baekhyun memecahkan pemikiran yang lain.

“Aku tidak apa-apa.”, jelas sebuah suara bass kental dari daun pintu.

“Chanyeol!”, seru Baekhyun antusias sambil menghambur memeluk Chanyeol.

“Chanyeol hyung, jadi kau menyusul kami juga?”, Tanya Sehun tanpa beranjak dari tempatnya semula.

“Aku hanya, ehm.. Hanya.. Takut mati.”, jawabnya polos.

“Astaga, mereka itu hanya hantu. Mana bisa mereka membunuh kita?”, ucap Dokter Nesha dengan tawa yang dipaksakan.

“Dengan ucapanmu itu aku malah semakin takut.”, Chanyeol membenamkan wajahnya pada ransel yang sedang ia dekap.

“Beristirahatlah, didekat tangga itu ada dua kamar kosong, single bed, dan di sebelah kamarku ada satu kamar kosong. Kalian bisa beristirahat disana.”, ucap Nesha sembari beranjak pergi.

“Aku yang disebelah kamarmu ya.”, Sehun menyerobot Chanyeol yang baru saja akan berbicara.

“Wah, jumlah kamarnya tepat. Daebak!”, hibur Baekhyun.

“Aku ingin satu kamar untuk kita bertiga.”, Chanyeol tertunduk.

“Bisa diatur, kamar di lantai dua cukup untuk kalian bertiga.”, timpal Nesha.

“Mau kemana?”, tangan Sehun menahan jemari Nesha yang baru saja akan pergi.

“Kalian lapar, kan? Aku akan memasakkan sedikit makanan. Apa salah?”

“Ehm, ani. Hati-hati..”, Sehun gugup.

“Ya, Sehun. Jangan cari-cari kesempatan.”, gurau Baekhyun.

“Aniya hyung, aku serius. Perasaanku mendadak tak enak.”, jelas Sehun. “Boleh kutemani?”

“Silahkan, tapi apa kau tak lelah sehabis perjalanan tadi pagi?”

“Aniya. Aku namja kuat, dokter.”

“Baiklah, kajja ikut aku!”

“Kau mau minum apa?”, Tanya Nesha setibanya di dapur.

“Biar aku yang ambil sendiri.”, jawab Sehun.

“Astaga!”, Sehun terkejut bukan main.

“Waeyo Sehunnie?”

“A.. Aniya.”

“Apa yang kau cari di lemari itu? Minuman? Bukan disitu.”

“Ehm, iya iya. Mian, mianhae.”

“Mukamu pucat, ada apa Sehun?”

“Aniya, hanya..”

PRANG! Salah satu dari gelas kaca yang akan dibawa ke ruang makan terjatuh dan pecah berserakan.

“Awas, hati-hati..”, pinta Nesha.

“Aw..”, darah segar keluar dari telunjuk Sehun.

“Aigoo! Aku sudah bilang hati-hati.”, langsung saja dokter muda itu menghisap darah dari sumber lukanya.

Malamnya..

“Hyung, kau tahu? Tadi.. Tadi aku melihat sosok wanita tanpa wajah di lemari coklat yang ada di dapur.”, ucap Sehun to the point.

“Apa maksudmu? Jangan bicara yang tidak-tidak!”, Chanyeol tersulut emosi.

“Sungguh! Aku tidak berbohong, hyung. Apa.. Apa mungkin mereka mengikuti kita?”

“Sepertinya iya..”, Baekhyun masih sibuk melihat foto EXO semasa masih berenam.

***

“Enam fans yang mengikuti fanmeet with EXO.”, ucap Nesha mengetik pada keyboard laptopnya. “Aigoo, banyak berita tentang itu. Bagaimana aku mencarinya?”

Kkrrkkrrr…

“A.. Apa itu?”, Nesha mencari sumber suara, namun tak ia temukan apapun. Suatu hal yang membuatnya terkejut. Sesosok wanita tua berjalan mendekatinya.

“Jangan bantu mereka, atau..”

“Atau apa?”

“Atau aku akan membuatmu pergi menjauh dari mereka. Ingat ucapanku! Bagaimanapun kau keturunanku dan dia keturunan si biadab! Camkan itu!”

“Tidak! Tidak! Jangan sakiti mereka! Jangan! Jangan!”, tiba-tiba Nesha terbangun.

“Aigoo, ternyata cuma mimpi. Mimpi yang menyeramkan.”

“What happened?”, Tanya Sehun yang entah sejak kapan berada di kamar Nesha.

“Eh, sejak kapan kau disitu? Ini kamarku, tolong hargai privasiku.”, jawab Nesha ketus.

“Mianhae, aku hanya terkejut dengan teriakanmu.”

“Oh, aku yang meminta maaf seharusnya. Oya, aku temukan data dari enam fans yang mengikuti fanmeet waktu itu.”

“Mana?”

Baru saja Nesha berjalan satu langkah untuk menghampiri Sehun, tiba-tiba saja entah apa yang menghalanginya. Tubuhnya terhuyung jatuh keatas lantai hingga menyenggol sebuah figura.

“Aigoo, sakitnya.. Apa yang menancap di keningku?”, Tanya Nesha pada dirinya sendiri.

“Apa yang terjadi? Astaga! Ada kaca di keningmu. Ayo segera ke rumah sakit!”, Sehun panik.

“Kau lihat? Kalau kau membantu mereka, kau yang akan merasakan akibatnya.”, sebuah suara seram terdengar oleh Nesha.

“Ini demi kebenaran..”

“Demi kebenaran apa, dokter?”, Tanya Sehun.

“Aniya..”

***

“Sehun-ah, apa kau yakin ini tempatnya?”, Tanya Baekhyun keesokan harinya. Mereka sedang menelusuri emperan Kota Jakarta. Mencari pemilik parfum Baekhyun.

“Alamatnya sangat tepat.”, jawab Sehun setelah memeriksa kembali alamat yang tertera pada kertas digenggamannya. “Ini memang alamat yang Dokter Nesha berikan.”

“Coba ketuk pintunya.”, suruh Chanyeol.

“Kenapa tidak kau saja yang melakukannya?”, Baekhyun menatap Chanyeol sinis.

“Bukankah aku sudah pernah mengatakannya? Aku takut mati, Baekhyun..”, geram Chanyeol.

“Apa dengan mengetuk pintu saja kau akan mati?”, debat Baekhyun.

“Bukan masalah..”

“Sudah hyung, aku saja.”, tawar Sehun sembari menghampiri daun pintu.

Tok tok tok

Tidak ada jawaban.

Tok tok tok

Masih tidak ada jawaban.

“Mungkin tidak ada orang.”, ucap Baekhyun hendak beranjak kembali ke mobil yang dipinjami oleh dokter Nesha.

Kreeek. Pintu terbuka, dan membuat langkah Baekhyun terhenti.

Munculah seorang wanita paruh baya. Memakai dress panjang dan topi khas wanita Eropa.

“Mencari siapa?”, Tanya wanita itu ramah.

“Kami mencari Riri, apa ada?”

Wanita itu mengerutkan keningnya yang sudah mulai berkeriput. “Saya tinggal sendiri di rumah ini.”, ucapnya terheran-heran.

Baekhyun, Chanyeol, dan Sehun saling memandang satu sama lain.

“Oh mungkin kami salah alamat. Maaf mengganggu anda.”, Chanyeol segera menjauh diikuti kedua temannya.

“Apa kalian melihat wajah tak jujurnya?”, selidik Baekhyun saat mereka bertiga baru sampai di mobil.

“Tidak usah dipikirkan, orang tua tidak mungkin berbohong.”, ucap Chanyeol santai.

“Tapi aku setuju dengan Baekhyun hyung. Ada yang aneh dengan nenek tadi.”, Sehun berlagak seperti detektif.

“Dia terlihat biasa saja, sama seperti wanita lain seumurannya.”, ucap Chanyeol sebiasa mungkin.

“Ya! Apa maumu sebenarnya?! Selalu saja menghindari keadaan. Kalau kau memang tak ingin ikut, pulanglah saja!”, sentak Baekhyun penuh emosi.

“Aku memang tidak sekali pun berniat mengikuti pencarian bodoh kalian. Tapi aku peduli dengan kalian!”

Terjadi keheningan setelah ucapan Chanyeol.

“Aku membaca artikel yang kau cari, Baekhyun. Aku membacanya. Sebenarnya aku tak takut mati, aku hanya mengkhawatirkan kalian.”, lanjut Chanyeol.

“Mianhae..”, ucap Baekhyun lirih.

“Sudahlah, apa kalian ingin kembali ke rumah tadi?”, Tanya Chanyeol mulai melunak.

“Lebih baik kita tanyakan dulu saja pada dokter Nesha.”, usul Baekhyun.

“Dia di rumah sakit sekarang, ayo kesana!”, Sehun antusias.

Selama di perjalanan menuju rumah sakit, tak ada sedikit pun kata yang keluar dari mulut mereka bertiga. Baekhyun sibuk berkutat dengan gadget-nya, mencari informasi lebih jauh tentang parfumnya. Sehun asyik mengotak-atik jejaring sosialnya. Chanyeol terlihat acuh dengan headphone yang tersemat di kedua telinganya. Sedangkan supir mereka mengendarai mobil dalam keheningan. Perbedaan bahasa menyulitkannya berkomunikasi dengan tiga namja tampan dibelakangnya.

Keheningan tersebut bertahan hingga mereka sampai di rumah sakit. Mencari ruangan dokter Nesha tetap dalam diam. Tak peduli berpasang-pasang mata yang memperhatikan mereka sedari tadi.

“Apa aku sangat tampan, hyung? Sampai mereka menatapku seperti itu?”, tanya Sehun mencoba mencairkan suasana.

“Kau aneh.”, ucap Baekhyun dan Chanyeol disaat yang hampir bersamaan. Refleks mereka saling memandang.

“Kompak sekali dua hyung-ku ini.”, Sehun terkekeh tepat saat mereka sampai didepan pintu ruangan dokter Nesha.

Sehun mengetuk pintu sebelum membukanya. Ia menyelipkan kepalanya ke celah pintu yang sengaja tak lebar dibukanya. Mencari sosok yang ternyata tak ditemukan.

“Tidak ada, hyung.”, ucap Sehun heran seraya menutup pintu kembali.

“Mungkin sedang mengurus pasiennya.”, tebak Baekhyun disusul anggukan Chanyeol.

“Akan kucoba menghubunginya.”, ucap Sehun.

“Apa kalian teman dari dokter Nesha?”, tanya seorang yeoja berpakaian suster.

“Ya, apa kau melihatnya?”, tanya Sehun membatalkan niatnya menghubungi sang dokter.

“Dokter Nesha ada di ruang rawat, tadi tiba-tiba saja beliau mengeluh sakit di kepalanya.”, jelas suster.

“Ah? Dimana tempatnya dirawat? Bisakah kau mengantarkan kami bertiga kesana?”, tanya Sehun panik.

Suster tadi mengantarkan mereka ke ruangan rawat Dokter Nesha. Ternyata Dokter Nesha sedang tertidur. Terlihat peluh yang mengucur dari dahinya. Masih ada plester yang menempel di keningnya akibat peristiwa tadi pagi. Tak ada satu pun yang tahu alasan sakit mendadaknya kecuali dirinya sendiri. Makhluk itu. Yang selalu menerornya beberapa hari terakhir.

“Maaf, tapi bukankah lebih baik untuk pasien jika yang berkunjung digilir satu orang satu orang? Setidaknya suasana tidak akan terlalu sesak.”, ujar dokter yang menangani dokter Nesha dengan gaya khas pria berumur sekitar pertengahan lima puluh.

Baekhyun dan Chanyeol mengalah. Mereka membiarkan Sehun mengunjungi dokternya tersebut terlebih dahulu.

“Aku akan membeli beberapa makanan untuk kita bertiga. Apa kau mau ikut?”, tawar Chanyeol pada kawan dihadapannya.

“Aku menunggu disini saja.”, ucap Baekhyun sembari duduk di kursi tunggu.

Chanyeol mengiyakan. Kemudian mulai berjalan kearah kantin rumah sakit.

***

“Tapi aku yakin disanalah rumahnya.”, kukuh Nesha.

“Nenek itu bilang, dia tinggal sendiri.”, protes Sehun lembut.

“Dari sumber yang kudapat, dia tinggal bersama seorang temannya. Dan tak ada penghuni lain.”, sang dokter heran.

“Apa perlu kami mendatangi rumahnya lagi untuk memastikan?”

“Kurasa begitu.”

***

“Lama sekali Chanyeol, apa aku harus menyusulnya?”, Baekhyun bermonolog.

Ia mulai mengedarkan pandangan ke segala arah yang dapat dijangkau lensa matanya. Mencari sosok namja jangkung yang hingga sekarang tak jua tampak. Harus diakuinya, ia takut. Lorong sepi ini memberi kesan mencekam dan sangat tak nyaman.

“Hyung.”

Telinga Baekhyun terasa panas. Ada yang memanggilnya? Atau ia salah dengar?

“Hyung.”

Sekali lagi, dan Baekhyun menyerah.

“Kembalilah ke rumah itu, hyung.”

Baekhyun menutup matanya. Mengingat sejenak suara yang dirasanya tak asing.

“Kau..”

Lidahnya tercekat ketika mendapati kecocokan antara pikiran dan sosok dihadapannya kini. Sosok itu berada sekitar lima meter darinya.

“Kau harus kembali ke rumah itu, hyung. Percayalah padaku..”

Baekhyun diam, tak berucap sepatah kata pun. Pikirannya masih terjepit keadaan, bahwa dongsaengnya menampakan diri hanya dalam bentuk bayangan semu.

“Percayalah padaku, hyung..”

Tubuh Baekhyun terasa menegang dan terguncang-guncang.

“Baekhyun? Baekhyun?”

Baekhyun membuka matanya perlahan dan mendapati Chanyeol sedang mengguncang-guncang tubuhnya.

“Chanyeol-ah, kali ini kau harus percaya padaku. Kyungsoo memberitahuku untuk kembali ke rumah itu. Kita harus kesana lagi!”

Chanyeol belum sempat menjawab permintaan Baekhyun saat Sehun keluar dari ruang rawat dokter Nesha.

“Hyung, Dokter Nesha bilang lebih baik kita coba kesana lagi.”

Baekhyun menatap Sehun penuh arti seakan berterimakasih.

“Kurasa aku tak punya pilihan lain.”

Dalam hatinya, Chanyeol tidak keberatan sama sekali. Sejujurnya ia mulai penasaran dengan permainan bodoh ini. Meski tujuan utamanya tetap sama, melindungi kedua temannya.

“Apa aku boleh ikut?”, tanya Nesha.

“Aniya, kau harus beristirahat.”, jawab Sehun.

“Hmm, tapi tak ada salahnya dia ikut. Entah kenapa perasaanku begitu yakin, dia akan sangat membantu kita.”, jelas Baekhyun.

“Tapi..”

“Hanya mendatangi saja, kan? Tidak akan membahayakan.”, sela Chanyeol.

“Tenang saja, Sehunnie.”, Nesha menggenggam tangan Sehun.

“Entah kenapa aku tak bisa membiarkan dia ikut dalam pencarian ini.”, Sehun tetap pada pendiriannya.

***

Sesampainya di rumah Riri.

“Benar ini rumahya? Kurasa ini bukan rumah yang kemarin.”, Baekhyun kebingungan.

Rumah yang kemarin mereka lihat sangat jauh berbeda dengan rumah ini. Rumah ini bersih dan terlihat seperti baru.

“Apa kita salah tempat kemarin?”, tanya Sehun.

“Coba kalian periksa kedalam.”, pinta Nesha.

“Kau mau ikut?”, tanya Baekhyun.

“Aniya, aku ingin disini saja.”

“Baiklah, kalau terjadi sesuatu langsung panggil kami.”, pesan Sehun kemudian beranjak meninggalkan dokter Nesha di mobil.

“Terimakasih atas bantuanmu.”, terdengar suara namja yang tiba-tiba muncul disamping dokter Nesha.

“Astaga, siapa kau??”

“Aku salah satu korban perbuatan dua hantu itu. Aku Jongin, dan terimakasih untuk bantuannya.”

“Apa.. Apa kau yang membantu kami memperlihatkan rumah yang sebenarnya??”

“Tentu saja, tapi aku dan yang lain tak bisa mengalahkan hantu itu. Kami hanya bisa memperlambatnya.”, tiba-tiba sosok pucat itu menghilang.

“Astaga, apa yang telah kalian lakukan, oma?”

“Ada apa, non?”, tanya sang supir.

“Tidak, pak.”

“Non menangis?”

“Tidak, kenapa memang?”

“Apa non sakit? Kenapa mata non mengeluarkan darah??”, supir tersebut mulai panik. Dokter Nesha menyentuh kedua matanya.

“Ya ampun, darah apa ini??”, Dokter Nesha terbatuk-batuk. “Pak.. Pak, tolong saya..”, batuknya kian menjadi-jadi.

Mata Nesha terpaku pada kaca spion mobil, terlihat dua sosok yang tak asing untuknya.

“To.. Tolong aku.. Lepaskan..”, suara dokter Nesha tersendat. Matanya kini melihat keluar. Melihat sosok Jongin yang menggeleng dan pergi begitu saja.

“Mianhae, aku tak bisa.”, ucap Jongin.

Sosok wanita tua dengan rambut putih panjang menjuntai, menggenggam pergelangan tangan Nesha hingga membiru. Serta sosok lain yang mencekik lehernya. Serta pandangan makhluk tersebut yang membuat mata Nesha mengeluarkan darah dan wajahnya membiru.

“Lepaskan aku.”

“Non, bagaimana? Apa yang terjadi?? Tunggulah disini, biar saya panggilkan yang lain.”

Baru saja supir akan keluar, pintu mobil mendadak terkunci dan sulit dibuka.

***

“Hyung, coba tekan belnya.”, pinta Sehun.

“Ne, tunggu.”

Ting tong

“Tunggu sebentar.”, ucap seorang wanita dari dalam rumah.

“Ada orangnya..”, Chanyeol berbisik. “Kau masih ingat orang itu?”

“Tentu saja, dia berbeda dengan fans lain. Sikapnya lembut tak histeris, namun aku tahu dia fanatik. Sangat fanatik.”, jelas Baekhyun dengan percaya diri yang tinggi.

“Kau menyukainya, hyung?”, tanya Sehun innocent.

“Eh, aniya. Cepat tekan belnya lagi.”, titah Baekhyun salah tingkah.

“Maaf, ada perlu.. Hah? E.. EXO?”, ucap seorang wanita muda setelah membukakan pintu.

“Annyeong, bolehkah kami masuk? Ada hal yang ingin kami bicarakan.”, pinta Chanyeol.

“Ah, bo.. Boleh tentu saja. Maaf, rumahku berantakan. Aku tinggal berdua dengan temanku, dia sedang pergi keluar kota. Jadi, aku tinggal disini sendiri dan belum sempat merapikan apapun.”, jelas yeoja tersebut panjang lebar. Terlihat sekali raut wajahnya yang salah tingkah.

“Dia banyak bicara sepertimu, hyung.”, Sehun terkekeh.

“Kau.. Riri kan?”, tanya Baekhyun tanpa mempedulikan perkataan Sehun.

“Ya, benar. A.. ada apa? Beruntungnya kau masih mengingatku.”, ucap Riri bangga.

“Ehmm, apa.. Apa kau punya seorang nenek?”, tanya Chanyeol tiba-tiba.

“Ah, ada. Tapi nenekku sudah lama meninggal.”, jawab Riri apa adanya.

“Mwo? Ehm, apa boleh kami tau dimana makam nenekmu?”, tanya Chanyeol lagi.

“Makam nenekku ada di Pontianak, kenapa?”, Riri balik bertanya.

“Be.. Berarti.. Yang kemarin..”, ucap Sehun tersendat.

“Ada apa memang?”, Riri terlihat sangat kebingungan.

“Aniya, tak perlu dipikirkan. Oya, soal parfum yang dulu kuberikan, apa masih ada?”

“Tentu saja.”

“Apa semenjak memakai itu ada hal aneh yang mengganggumu?”

“Tentu saja tidak. Lagipula aku tidak memakainya, aku hanya menyimpannya sebagai kenang-kenangan.”, ujar Riri jujur.

“Benarkah? Bagus kalau begitu!”

“Memangnya ada apa sih?”, tanya Riri sedikit kesal.

“Jadi begini..”

Belum sempat Baekhyun menjelaskan, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil.

“Astaga!”, pekik Chanyeol terkejut.

“Apa yang terjadi?”, tanya Sehun seraya bangkit keluar menuju sumber suara.

“Wae.. Waeyo?”, tanya Riri dengan logat Korea ala orang Indonesia.

“Kajja, kita lihat!”, Baekhyun menarik tangan Riri.

“Aigoo, wanita selalu merusak hubungan pria.”, umpat Chanyeol.

“Pintunya tidak bisa dibuka! Terkunci!”, teriak supir sembari menunjuk kearah Dokter Nesha dengan wajah pucat.

Tanpa ragu, keempat orang itu berlari menghampiri mobil. Secara bergantian Baekhyun, Chanyeol, dan Sehun mencoba membuka pintu, namun sia-sia.

“Oppa, ada apa sebenarnya ini? Dan wanita didalam mobil itu siapa? Mengapa matanya mengeluarkan darah??”, tanya Riri sembari mundur beberapa langkah dari tempatnya semula.

“Aku juga tidak mengerti. Sehun! Apa yang kau lakukan?!”

Sehun membawa sebongkah kayu yang langsung ia tabrakan ke kaca mobil yang jauh dari tempat dokter Nesha duduk.

“Ergh! Ergh! Ergh!”, dipukulnya beberapa kali hingga kacanya pecah. Dokter Nesha sudah tak sadarkan diri.

“Ke rumah sakit sekarang! Cepat!”, Sehun panik.

“Ayo cepat, Baekhyun! Naik ke mobil!”, seru Chanyeol ikut panik.

“Apa kau mau ikut? Ah, tidak ada waktu untuk berpikir. Lebih baik kau ikut saja!”, Baekhyun menarik tangan Riri yang masih tak mengerti dengan kejadian ini.

TO BE CONTINUED

Waaah kira-kira apa yang bakal terjadi sama mereka selanjutnya? Setelah Suho dan D.O jadi korban, sekarang Kai juga turut jadi korban. Apa akan ada korban lainnya? Gimana nasib EXO yang kini tinggal bertiga? Tunggu Chapter 3 nya yaaaa 😉

6 thoughts on “FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 2)

  1. andwae~ tggal brtiga ._.

    ah serem bngt sih smpe kluar drah gtu dr mata .. woah sehunie bnr” uda ska ama dokter nesha .. lalu baekkie jga kyknya suka ama riri .. yeolie galau~

    kkk~

    nama kota ku d sbut d chapter ini :v tmpt nenek riri di makmin ..

    aigoo mkin seru ffny

    • Kamu tinggal di Pontianak? Yah.. Tadinya aku mau datengin rumah kamu, ngucapin terimakasih karena udah baca ff nya, tapi rumah kamu nun jauh disana 😢

      Jadi disini aja ya, makasih udah sempetin baca dan komen 😘 (2)

  2. Pingback: FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 6) | Born to be an Imaginer

  3. Pingback: FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 5) | Born to be an Imaginer

  4. Pingback: FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 4) | Born to be an Imaginer

  5. Pingback: FF EXO : SIX DEATHLY OF PERFUME (Chapter 3) | Born to be an Imaginer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s