FF BTOB : CRUSH


Title

CRUSH

Cast

Yook Sung Jae
Park Ni Chan
Song Eun Chan
Im Hyun Shik as Yook Hyun Shik
Jung Il Hoon

Genre

Romance

Rating

Teenage

Length

Songfic

Author

@ririnovi

FF BTOB pertama aku dengan cast my lovely bias (pastinya), SUNGJAE! Aslinya kan Sungjae ini 4D banget. Apalagi waktu aku liat Diary BTOB pas episode dia mecahin semangka pake kepala dia sendiri. Bukannya kesakitan, malah ketawa-ketawa gitu. Tapi gak susah bikin image dia jadi cool, soalnya kalo cuma liat di foto atau di MV BTOB, gak akan nyangka deh dia 4D. Aku juga gak nyangka soalnya, wkwk. Meskipun 4D atau gimana pun, tetep sih kalo liat senyumnya Sungjae yang menarik hati itu langsung gak bisa berkata apa-apa. Suka aja terus 😀

Ini kenapa malah curhat soal Sungjae? Wkwk. Ini songfic dari lagu solonya Sandeul B1A4 – Crush. Suka banget sama lagu ini. Malah sampe sering diputer puluhan kali setiap harinya. Jangan tanya ya, lagunya B1A4 tapi kok cast-nya BTOB, aku juga gak tau hehe, mungkin pengen aja.

Okai, Sungjae is coming..

 

Kkwae orae doen geotman gata (I feel like it’s been a long time)
Neol mollae johahaetdeon na (since i liked you in secret)

Sudah sekitar dua bulan ini aku melakukan rutinitas yang menurutku sangat membuang waktu. Tapi aku menikmatinya. Benar ternyata apa kata orang, bila sedang jatuh cinta, kita bisa melakukan hal yang melampaui batas pemikiran manusia normal. Contohnya aku.

Sore ini aku sedang ada di studio foto pribadiku. Mencetak foto-foto yang tadi siang kuambil. Semua gambar yang kucetak bersifat dominan. Seorang yeoja. Yeoja yang sangat cantik menurutku. Dia adalah sahabat kecilku, Nichan.

Jika Nichan seorang idol, mungkin dia bisa memanggilku sasaeng fans-nya. Karena jika kau ingin tahu, aku selalu mengikuti semua aktivitasnya. Tentu saja tanpa ia ketahui. Dia memang sahabat kecilku. Hanya sahabat kecil. Kami berpisah saat masuk sekolah menengah. Dan saat kami dipertemukan kembali di highschool ini, dia seperti tidak mengenalku. Aku sudah mencoba mendekatinya dengan berbagai cara. Cara yang diam-diam.

“Bagaimana Sungjae-ah? Kau sudah berhasil menyapanya?”, tanya Hyunshik hyung, masuk ke kamarku tanpa izin. Sudah biasa.

“Belum hyung, tadi siang aku melihatnya terburu-buru pergi. Jadi aku tak berani mengganggunya.”, ucapku sambil melihat-lihat foto yang baru saja kucetak.

“Mau sampai kapan kau akan menjadi penguntit seperti ini? Cepat dekati dia dan katakan bahwa kau teman semasa kecilnya. Setelah itu, kau nyatakan perasaanmu.”, ujar Hyunshik hyung menasihati. Ia mengambil beberapa foto Nichan yang ada di tanganku. “Dia sudah sangat berbeda dengan yang dulu, bukan?”, tanyanya tanpa harus kujawab.

“Hyung, bagaimana jika sebenarnya ia ingat padaku, namun malah tetap mengacuhkanku seperti saat ini? Apa aku tak perlu mengatakannya saja?”

 
Hoksina deulkikkabwa maeum jorimyeo (With worries that I might get caught)
Moreul halkka malkka honja gomineulhae (I conptemplate by myself, whether or not I should tell you)

“Apapun yang terjadi, semua akan baik-baik saja jika kau merasa sudah melakukan yang terbaik. Kalau kau butuh bantuanku, aku akan membantumu sebisaku.”

“Gomawo, hyung. Akan kupikirkan lagi semuanya.”

Hyunshik hyung memukul pundakku pelan kemudian berjalan keluar kamarku.

Selepas kepergiannya, pikiranku disibukkan dengan berbagai pertanyaan. Apa yang harus kulakukan? Meski berulang kali kucoba menguatkan diriku sendiri bahwa aku bisa, tetap saja saat bertemu dengannya aku merasa lemah.

“Oya, apa kau punya nomor ponselnya?”, tanya Hyunshik hyung masuk lagi ke kamarku.

“Ada hyung, tapi aku tak tahu apa masih aktif atau tidak.”, jawabku jujur.

“Cobalah. Kau tak pernah seburuk ini, saeng.”, Hyunshik hyung mengedipkan sebelah matanya sebelum menghilang dari pandanganku, membuatku sedikit bergidik ngeri.

Kuambil ponselku yang tergeletak diatas meja belajar. Kucari kontak bernama Nichan. Ada. Sudah sekitar sebulan yang lalu aku mendapat nomor ini, tapi tak pernah sekalipun kucoba menghubunginya.

“Hubungi? Tidak. Hubungi? Tidak. Hubungi! Ah, tidak. Hubungi? Aigoo~ eotteokhae??”, aku mengacak rambutku sendiri.

“Geurae, aku akan menghubunginya. Tapi, apa yang harus kukatakan? Annyeong Nichan, apa kau masih mengingatku? Aku Sungjae, temanmu semasa kecil. Apa harus begitu?”

Aku beranjak menuju cermin yang ada di kamarku. Kuperhatikan detail-detail yang ada diwajahku.

“Apa wajahku banyak berubah dari kecil? Tidak juga. Aku masih tetap tampan seperti dulu.”, aku terkekeh setelah memuji diriku sendiri.

Setelah cukup merasa percaya diri, aku meraih kembali ponselku. Tanpa ragu kutekan tombol call pada layar. Dengan berdebar dan rasa penasaran yang tinggi aku menunggu dia menerima panggilanku. Terdengar nada sambung.

“Yoboseyo..”, ucap suara diseberang sana. Ya, aku sangat tahu ini suara Nichan. Tapi entah kenapa lidahku tiba-tiba tidak bisa berucap.

“Yoboseyo? Nuguya?”, ucapnya sekali lagi.

Aku terhenyak dan refleks mematikan sambungan teleponnya. Aku menghembuskan nafas panjang. Sibuk menenangkan diriku sendiri.

“Sadar, sadar, sadarlah Sungjae!”, aku menepuk-nepuk pipiku sendiri. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

 
Nae mameul algo isseulkka? (Do you kow how I feel?)
Moreun cheokhago isseulkka? (Or are you pretending not to know?)

Keesokan harinya aku pergi ke sekolah seperti biasa. Sejenak aku melirik ke kolam ikan yang ada ditengah taman. Seperti biasa Nichan ada disana. Setiap pagi ia memang selalu berada disitu entah untuk apa. Biasanya ia selalu bersama sahabatnya, Minrin. Tapi sekarang ia terlihat sendiri. Tatapannya teduh seperti biasa, senyumnya juga manis seperti seharusnya.

Aku memberanikan diri menghampirinya. Sekedar untuk lewat didekatnya dan mencari tahu apa yang dilakukannya sendiri disitu.

Ia memainkan air kolam tersebut, terkadang melempar beberapa potongan kecil roti yang langsung diserbu segerombolan ikan koi. Aku sengaja menendang buah jambu air yang jatuh ke tanah hingga mengenai kaki Nichan. Nichan menoleh kaget padaku.

“Mianhae, aku tidak sengaja.”, ucapku hati-hati.

Ia memandangku kemudian tersenyum. “Gwaenchanha.”, ucapnya sambil membalikan tubuhnya lagi kearah kolam.

Entah apa yang kurasakan saat ini. Aku berjalan dengan langkah gontai. Ya, sepertinya dia tak mengingatku. Atau pura-pura tak mengingatku? Tapi ekspresinya tadi benar-benar biasa saja.

 
Jeokdanghi twinggidaga mot igineun cheok (Can’t you just play hard to get for a little while)
Nae mam badajwo, geureom andoelkka? (and then accept my heart-can’t you?)

Wajahku lesu saat masuk ke kelas. Mengapa aku harus mengalami hal itu sepagi ini? Membuatku tidak mood untuk melakukan hal lain.

“Ya, ada apa denganmu Sungjae-ah? Kau terlihat murung?”, tanya Eunchan, teman sebangkuku.

“Tidak apa-apa, aku hanya kurang tidur.”, ucapku sambil merebahkan kepalaku di meja.

“Kenapa sampai kurang tidur? Kau terus memikirkan teman lamamu itu?”, tanya Eunchan, membuatku malas menjawabnya.

“Ani.”

“Ayolah Yook Sungjae, ceritakan padaku siapa nama temanmu itu? Sekian lama aku mendengar ceritamu tentang dia, aku tak sama sekali tahu yang mana orangnya.”, tanya Eunchan memaksa.

“Itu tidak penting lagi sekarang. Dia benar-benar tidak mengenalku, Eunchan. Mungkin dia memang tidak ingat atau tidak mau mengingatku lagi.”

“Seandainya aku tahu siapa orangnya, aku pasti akan membantumu. Sabar ya Sungjae, mungkin dia memang tidak menginginkanmu lagi.”

Kata-kata Eunchan sungguh sangat membuat hatiku perih. Apa benar Nichan berpikir seperti itu? Tapi setahuku Nichan yeoja yang baik. Dia tidak akan mungkin melakukannya. Tapi jika ia baik, apa dia masih akan melakukan ini padaku? Tak bisakah ia sedikit saja membuka diri untukku? Membuat sedikit harapan agar aku bisa mendekatinya?

Aku mengembuskan nafas panjang. Jangan memikirkan itu lagi, Sungjae!

 
Nae sarang-a, nae sarang-a (My love, my love)
Ijen naege mameul yeoreojwo butakhae (Please open your heart to me know, i ask of you)

“Kau mau ikut, Sungjae?”, tanya Eunchan saat kami sedang berada di lapangan sesaat setelah pelajaran olahraga berakhir.

“Kemana?”, tanyaku dengan nafas terengah-engah karena baru saja selesai berlari mengelilingi lapangan.

“Ke laboratorium. Choi sonsaengnim bilang dia akan memberi tugas untuk besok.”

Aku mengikuti langkah Eunchan menuju laboratorium biologi. Ah, sial! Aku bertemu lagi dengannya.

“Nichan-ah, kapan kita akan menonton film bersama lagi?”, tanya Eunchan, sukses membuat jantungku melonjak kaget.

“Secepatnya, Eunchan. Sudah lama ya?”

Mereka berdua tertawa bersama. Aku hanya diam tak percaya. Jadi selama ini Eunchan sudah mengenal Nichan?

“Kau.. Kau kenal dia?”, tanyaku saat kami kembali dari laboratorium.

“Dia? Dia Nichan maksudmu?”, tanya Eunchan.

“Ya, dia Nichan. Kau mengenalnya sejak kapan?”, tanyaku memberanikan diri meski aku malas mengungkitnya.

“Dia temanku semasa sekolah menengah, waeyo?”, tanya Eunchan mengangkat sebelah alisnya.

“Ani, aku hanya baru melihatmu berbicara dengannya.”

Aku melangkahkan kakiku lebih cepat. Eunchan mengikutiku sambil menggerutu tidak jelas. Aku semakin dekat dengan Nichan. Teman sebangkuku bahkan mengenalnya. Tapi mengapa ia tak mengenalku?

 
Gidarime jichyeo beoryeoseo (so that I won’t get tired)
Himdeuro jujeoantji anke (from waiting and fall down)
Nae son jabajwo (Hold my hand)

“Eunchan mengenal Nichan? Bukannya itu bagus untukmu? Kau jadi semakin dekat dengan Nichan!”, Hyunshik hyung antusias.

“Ne, tapi tadi pagi kucoba menarik perhatiannya, dia hanya tersenyum padaku sekilas. Dia mungkin memang lupa padaku, hyung.”, ucapku lirih.

“Jangan cepat menyerah seperti itu, saeng. Kalau kau berusaha mengingatkannya, aku yakin ia akan mengingatmu.”, Hyunshik hyung menepuk-nepuk pundakku entah untuk keberapa kali.

“Aku tahu aku masih ada di langkah awal, tapi sepertinya aku mulai lelah, hyung. Kau tahu sendiri aku berusaha mati-matian mengikutinya seharian hingga aku menyelundup ke ruang latihan ekskulnya..”

“Kau menyelundup? Ya! Kau tidak memberitahukannya padaku, saeng!”, Hyunshik hyung terdengar tidak puas.

“Mianhae hyung, bukan maksudku tak memberitahukannya padamu.”

“Sudahlah, aku lupa kalau aku harus pergi sekarang. Tapi ingat saeng, kelelahanmu itu akibat kesalahanmu sendiri. Dia takkan tahu kau sudah mengorbankan segala cara untuk mendekatinya kalau kau sendiri tidak memberitahunya. Ungkapkan selagi kau bisa, saeng.”, ucapnya langsung keluar dari kamarku.

Aku masih duduk diujung ranjangku. Mencerna kata-kata yang Hyunshik hyung ucapkan. Benar apa katanya, Nichan sama sekali tak tahu apa saja yang sudah kukorbankan untuk mendapatkan identitasnya.

“Kau terlihat ceria hari ini, tidak seperti kemarin.”, sapa Eunchan saat ia baru datang dan duduk disebelahku.

“Ne, bukankah aku memang seharusnya seperti ini?”, tanyaku retoris.

“Ah sudahlah, aku bingung berbicara denganmu.”, Eunchan duduk dan memainkan ponselnya.

“Eunchan-ah, kau mau mengantarku ke kantin? Aku belum sarapan.”, pintaku manja.

“Kasihan sekali temanku ini.”, Eunchan menepuk pundakku pelan. “Baiklah, daripada aku kerepotan jika temanku ini tiba-tiba pingsan karena kelaparan.”

Aku dan Eunchan berjalan bersama ke kantin sembari bercanda ria. Tawaku terhenti seketika saat kulihat yeoja itu. Pasti sudah tertebak, kan? Nichan.

“Eunchan-ah, sebenarnya aku bingung dengan teman lamaku itu. Kenapa sampai sekarang ia tidak menyadari kehadiranku?”, tanyaku cukup keras. Berharap Nichan mendengarnya.

“Kau juga mengapa sampai sekarang tak mencoba memproklamirkan kehadiranmu padanya? Kau yang salah, pabo!”, ucapnya sembari memukul kepalaku.

Aku melirik kearah Nichan. Dia tidak ada ditempatnya tadi. Mungkin dia sudah pergi. Aku mendesah kencang.

“Bisa kau ambilkan sedotan yang ada didekatmu? Aku memerlukannya.”, ucap seorang yeoja yang sedang berdiri disebelahku sembari memegang satu cup orange juice.

“I.. Ini.”, aku menyodorkan sebuah sedotan putih padanya. Ia memandangku sambil tersenyum.

“Gomawo.”

Ah Tuhan, kenapa Nichan begitu manis saat tersenyum?

 
Saramdeulgwa tteodureodo (Even if I chat with people)
Onjongil ni saenggakppunya (All day I think of you)

Aku menunduk setelah Nichan pergi. Sekedar menenangkan jantungku yang tak henti-hentinya bergemuruh sedari tadi.

“Ya! Kau lama sekali, Sungjae-ah!”, ucap Eunchan tepat di telinga kananku. Membuatku melonjak kaget.

“Kau tak perlu melakukan itu, Eunchan-ah! Kasihan telingaku!”, aku mengusap telinga yang sempat mendengung saat Eunchan berteriak.

“Sudahlah cepat, nanti kau tak sempat makan. Lee sonsaengnim datang sepuluh menit lagi!”, ujar Eunchan sembari menarik lenganku.

Makananku baru habis setengahnya saat Lee sonsaengnim datang. Sayang sekali harus kubuang. Padahal aku sangat suka ayam goreng ahjumma kantin.

“Bagaimana cara mengerjakan nomor dua, Yook Sungjae?”, aku menatap Lee sonsaengnim. Guru fisika ini memiliki wajah yang lumayan menyeramkan.

Tapi tadi dia bilang nomor dua? Hanya nomor dua saja? Bukan masalah. Aku maju kedepan kelas dan mulai menuliskan jawaban nomor dua. Sangat cepat dan pastinya tepat. Teman-teman memberikan applause untukku. Ada yang berteriak mengucapkan kata-kata yang kudengar seperti “Nichan!”. Apa aku salah dengar atau memang ada yang menyebut nama itu? Aku hanya bersikap seakan tidak ada apa-apa seperti biasa.

“Daebak, Sungjae! Soal itu sangat sulit tapi kau mengerjakannya begitu mudah!”, puji Eunchan.

“Jinjja? Menurutku soal itu berada pada tingkat kesulitan sedikit diatas rendah.”, jawabku bangga diiringi cibiran Eunchan.

Aku ingat saat masa sekolah dasar dulu bagaimana sulitnya mengajari teman sekolahku belajar fisika. Ia orang yang sangat tidak suka dengan fisika. Namun, tidak suka bukanlah alasan untuk tidak mempelajarinya. Karena bagaimanapun, untuk lulus dari sekolah ini semua murid butuh nilai fisika. Aku datang ke rumahnya hampir setiap hari. Eomma-nya selalu membuatkan kue jahe kesukaan kami.

Hingga kini ternyata dia masuk jurusan IPA. Bertemu kembali dengan aku dan fisika. Park Nichan.

“Bagaimana menurutmu, Sungjae?”, tiba-tiba Eunchan menatap mataku tegas, membuat lamunanku buyar seketika.

“Ah? Mwo? Mianhae aku tak mendengarmu.”, ucapku jujur tanpa rasa bersalah.

Eunchan mendesah pelan. “Aniyo, mungkin bukan sesuatu yang penting.”, ucapnya seperti kecewa. Kemudian aku sangat merasa bersalah.

 
Eotteokehaeya nae maeumeul jeonhalkka? (What can I do to express my heart to you?)
Ojik han saram, neppuninde (It’s just one person-you)

Eunchan tak mencoba berinteraksi denganku setelah kejadian itu. Aku jadi semakin merasa bersalah. Kurasa dia marah padaku karena aku tak mempedulikannya. Tapi sungguh, aku tak tahu apa yang membuatku hanya memikirkan Nichan dan melupakan hal lain.

Saat bel istirahat, Eunchan berjalan sendiri keluar kelas.

“Eunchan-ah! Eunchan-ah!”, aku memanggilnya tanpa berusaha menyusul. Kuharap dia membalikkan tubuhnya sejenak, tapi ternyata tidak.

Karena takut terjadi apa-apa padanya, aku berniat menyusulnya.

“Kau dan Eunchan sedang bertengkar?”, tanya Ilhoon, menghadangku yang akan segera berlari menyusul Eunchan.

“Aku juga tidak tahu.”, jawabku singkat dan melanjutkan langkah yang kembali dihadang Ilhoon.

“Dengarkan aku, aku menyukai Eunchan. Jadi jangan sampai membuat dia menangis karena hal apapun. Kalau itu sampai terjadi, aku tak tahu apa yang akan terjadi padamu.”, ungkap Ilhoon dengan tatapan tajam.

Aku tak menghiraukan ucapannya, hanya berlari dan mencari kira-kira kemana Eunchan pergi.

Kutemukan ia berada di sebuah bangku didepan laboratorium. Sedang memandang pepohonan, mungkin untuk menyejukkan diri.

“Kau bisa beritahu aku apa alasanmu marah padaku?”, tanyaku selembut mungkin sembari duduk di sebelahnya.

“Nanti. Aku sedang tak ingin membahasnya.”, ucap Eunchan dingin.

“Geurae, lalu apa kau mau memberitahuku soal kedekatanmu dengan Ilhoon?”, tanyaku membuat matanya membelalak.

“Kau tahu soal itu?”, tanya Eunchan heran.

“Jahat sekali kau tidak memberitahuku.”, aku memasang ekspresi pura-pura marah pada Eunchan.

“Dasar kau menyebalkan, Yook Sungjae!”

“Aw! Aw! Ya! Apa yang kau lakukan??”, aku merintih ketika dia memukul-mukul lenganku kencang. Sangat kencang seperti hulk.

“Tadi di kelas aku meminta pendapatmu tentang Ilhoon! Tapi kau tidak mendengarkanku dan sekarang, tiba-tiba kau menanyakan hal itu. Apa maksudmu, hah?!”, ia memukul lenganku sekali setelah itu menatap kesal kearah lain.

“Mian.. Mianhae Eunchan, aku benar-benar sedang memikirkan hal lain tadi. Jadi, apa kau akan menerima Ilhoon menjadi namjachingumu? Dia baik, dan kurasa cukup bertanggungjawab.”, usulku.

“Entahlah, aku harus banyak memikirkannya.”, terlihat wajah berpikir Eunchan.

“Jadi, apa sahabatku yang cantik ini sudah tidak marah lagi pada sahabatnya yang tampan?”, tanyaku disambut tatapan jijik dari Eunchan. Kami tergelak bersama.

“Tapi Sungjae-ah, aku penasaran sebenarnya apa yang kau pikirkan sedari tadi?”, tanya Eunchan saat kami berjalan kembali ke kelas.

“Ani, hanya tentang sahabat kecilku itu. Aku sungguh tak tahu lagi bagaimana cara memberitahu Nichan jika aku..”, aku menyadari Eunchan memandangku tajam sembari memicingkan matanya. Aku salah bicara.

“Nichan?”, akhirnya Eunchan bertanya.

Aku menghembuskan nafas berat. “Mungkin ini saatnya aku memberitahukan padamu. Teman semasa kecilku itu Nichan. Maka dari itu aku kaget saat tahu kau mengenalnya.”, jelasku.

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Kalau kau memberitahukan dari dulu kan aku bisa membantumu!”, kemudian Eunchan terbahak.”

“Kalau begitu, jika aku meminta bantuanmu sekarang kau masih mau membantuku?”

 
Neomu saranghanikka, neomu johahanikka (Because I love you so much, i like you so much)
Oemyeonhaji marajwo (Please don’t turn your head from me)
Ijen nae mam badajwo (Please accept my heart now)

“Eunchan-ah, maukah kau pergi ke pesta ulang tahun Nichan bersamaku?”, tanya Ilhoon saat aku dan Eunchan baru tiba didepan pintu kelas. Eunchan melirikku sejenak. Aku memberikan senyum terbaikku dan dia mengerti.

“Baiklah.”, jawab Eunchan singkat, kemudian Ilhoon memberikan sepucuk surat undangan pada Eunchan.

“Kau juga datang kan, Sungjae?”, tanya Ilhoon.

“Apa aku diundang?”, tanyaku sedikit berharap.

“Entahlah. Tapi aku tak mendapat undangan untukmu”, jawab Ilhoon memecahkan seluruh harapanku.

Aku berjalan gontai menuju tempat dudukku diiringi Eunchan. Ia sepertinya tak berani mengajakku bicara. Mungkin ia tahu suasana hatiku saat ini. Aku memutuskan membaca buku sastra yang belum rampung sejak seminggu yang lalu. Buku dengan tebal sekitar empat ratus lima puluh halaman.

Dimana bukunya ya? Aku merogoh tasku dan mencari-cari, namun tak ada. Ah, pasti di bawah meja.

Apa ini? Tanyaku pada batinku sendiri.

“Song Eunchan!”, aku refleks berdiri dari kursiku dan menatap yeoja disampingku dengan mata berbinar-binar.

“Aku mendapatkan undangannya!”

Eunchan ikut berdiri dari tempatnya dan menatap tak percaya padaku. Sedetik kemudian kami berjingkrak-jingkrak berdua tak peduli mata lain yang memandang aneh.

Apa ini artinya Nichan mengingatku? Apa mungkin dia mau menerimaku menjadi namjachingunya? Ah, kurasa aku berpikir terlalu jauh. Mungkin saja Nichan memang mengundang semua siswa di sekolah ini. Tapi apa peduliku? Yang penting aku senang karena diundang. Semoga ini langkah awal untuk dia agar bisa menerimaku.

 
Haengbokhagehae jullge yeongwonhi (I’ll make you happy forever)
Hamkke hago shipeo (I want to be with you)
Naege wajumyeon andoeni? (Can’t you come to me?)

Aku pulang dengan semangat. Berjalan percaya diri menuju halte bus dekat sekolah. Sinar terang menghalau mataku. Tidak, bukan sinar. Hanya saja yeoja yang kulihat begitu terang seperti sebuah sinar. Nichan. Apa aku perlu mendekatinya dan berterimakasih karena dia sudah mengundangku?

Dia melihat kearahku sementara aku terpaku. Dia melihatku. Park Nichan melihat seorang Yook Sungjae. Sedetik kemudian Nichan menaiki bus yang berhenti tepat didepan halte tempat ia menunggu.

Bodohnya aku hanya diam sedari tadi. Aku mencoba mengerjar bus itu namun percuma. Kakiku tak cukup cepat bersaing dengannya. Akhirnya aku pasrah dan duduk di halte. Menunggu bus selanjutnya.

“Apa ini sebuah pertanda aku hanya akan terus jauh dengannya? Dan aku takkan pernah bisa dekat dengannya? Dia akan selamanya menjadi anganku?”, gumamku sendiri di halte. Suasana yang semakin melankolis.

“Itu bagus, saeng! Jadi apa yang telah kau siapkan untuknya?”, tanya Hyunshik hyung saat kuceritakan tentang undangan pesta ulang tahun Nichan.

“Apa yang aku siapkan? Aku tidak tahu, hyung.”, ucapku pasrah.

“Kau ini pabo atau apa? Apa kau tidak menyiapkan kado spesial untuknya? Ini ulangtahunnya ke tujuh belas, pasti sangat spesial.”, ujar Hyunshik hyung menasihati.

“Apa yang harus kuberikan, ya? Ah ya! Aku akan membuat sebuah hadiah yang akan mengingatkannya pada masa lalu kami. Bagaimana menurutmu, hyung?”, tanyaku antusias.

“Bagus, apa kau akan membuatnya sendiri?”

“Tentu saja. Hal ini tidak bisa dibeli di toko manapun, bukan?”

Aku tersenyum puas. Ini saat yang benar-benar tepat. Terimakasih Tuhan, kau memberikan kesempatan emas ini untukku menyatakannya pada Nichan.

 
Nae sarang-a, nae sarang-a (My love, my love)
Ijen naege mameul yeoreojwo butakhae (Please open your heart to me now, I ask of you)
Nae mokseumboda sojunghan saram (The person more precious than my own life)

Kusemprotkan parfum di beberapa titik di tubuhku. Sudah harum.

“Banyak sekali kau menyemprotkannya! Kau ingin parfum mahalku habis??”, Hyunshik hyung seperti biasa masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu.

“Mianhae hyung, aku hanya sekali ini memintanya.”, ucapku terkekeh tanpa rasa bersalah.

“Sudah pukul 18.50, kau akan sampai disana pukul berapa?”, ucapnya mengingatkan.

“Aku akan mengendarai motorku dengan kecepatan tinggi seperti sedang di area balap.”, aku memperagakannya.

“Kau kecelakaan, barulah menyesal!”, ia membenarkan kerah jasku yang terlipat.

“Gomawo, hyung. Aku pergi sekarang!”

“Ya! Kadonya!”

“Aku lupa!”, aku terkekeh sembari mengambil bungkusan kado yang akan kuberikan pada Nichan.

Sesampainya di tempat acara, aku bertemu dengan Eunchan dan Ilhoon. Mereka rupanya baru beberapa jam yang lalu resmi menjadi pasangan. Aku ikut senang. Semoga saja malam ini aku bisa seperti mereka.

“Sungjae-ah, dia ada disana. Hwaiting!”, bisik Eunchan sembari menunjuk ke dekat sebuah pohon yang lumayan besar. Kulihat sosok itu.

“Ayo Yook Sungjae, kau pasti bisa! Hwaiting!”, batinku bergemuruh.

Suasana ramai di pesta ini tak sama sekali menciutkan nyaliku. Bagaimanapun caranya, aku harus menyatakannya malam ini pada Nichan. Ia berdiri dibawah sebuah pohon dibelakang rumahnya. Dibalik tubuhnya berjajar kado-kado ulangtahun yang entah dari siapa saja. Beberapa orang hilir mudik menghampiri Nichan dan memberinya ucapan selamat.

Dia terlihat sangat cantik memakai dress hitam itu. Ditambah lagi mahkota yang tersemat dikepalanya. Sempurna. Mungkin setelah ini dia akan diangkat menjadi ratu di Inggris, sementara aku rajanya.

Kulangkahkan kakiku semakin mendekat kearah Nichan. Mataku menangkap ada sesuatu hal yang janggal dengan pinata yang menggantung disalah satu dahan pohon. Dimana dibawahnya ada Nichan yang belum beranjak dari posisinya. Apa yang akan terjadi? Jangan-jangan pinata itu akan jatuh? Jaraknya memang tidak persis diatas Nichan, jadi meski jatuh pun Nichan tak akan terkena imbasnya. Eomma Nichan terlihat menghampirinya. Eomma Nichan pun masih terlihat cantik seperti dulu.

“Nichan, teman sekolahmu datang dan..”

BRAKK! Kemudian gelap.

“Sungjae-ah! Sungjae-ah! Ireona! Ppali ireona!”

Samar-samar aku mendengar suara seorang yeoja, sedikit terisak. Mataku tak bisa terbuka dengan sempurna, aku sangat lemas. Badanku terus digerakkan oleh sebuah benda yang entah akan membawaku kemana. Suasana yang kudengar sangat riuh. Belum lagi bau obat yang sangat kentara masuk ke hidung.

Seketika suasana yang tadi sangat riuh tergantikan oleh suara beberapa orang dan benda-benda berdenting yang seperti terbuat dari besi.

“Suntikan obat biusnya.”

Dan semua gelap untuk kedua kalinya.

Saranghae i sesang kkeutkkaji (I love you-till the end of this world)
Hamkke haejullae? (Will you be with me?)

Setitik cahaya masuk ke mataku. Membuatku mengerjap beberapa kali sebelum benar-benar membuka mata. Kugerakkan sedikit jari-jari tanganku untuk membiasakan diri. Takut lupa cara menggerakan tubuh.

“Sungjae-ah, kau sadar?? Kau sudah bangun??”, kudengar suara histeris seorang yeoja. Setelah beberapa detik menerka-nerka, baru aku sadar. Tuhan, apa dia benar Nichan?

“Dokter! Dokter! Sungjae sudah sadar! Dokter!”, ia berteriak-teriak kelimpungan mencari dokter. Sedangkan aku masih tertidur lemas diranjangku. Kepalaku terasa sakit saat kugerakkan sedikit saja.

Beberapa saat kemudian dokter datang memeriksaku. Tangan lihainya dengan cekatan memeriksa seluruh bagian tubuhku.

“Keadaan sudah normal. Luka juga sudah mengering, tapi kau belum boleh banyak bergerak. Algesseumnida?”, tanya dokter retoris. Aku hanya tersenyum.

Dokter keluar meninggalkanku bersama seorang yeoja di ruangan ini. Hari apa sekarang? Kenapa ia masih memakai dress hitam saat pesta ulangtahunnya?

“Sungjae-ah, mianhae..”, ucapnya lirih sambil mendekat kearahku.

Lagi-lagi aku hanya tersenyum. Mulutku bahkan sulit hanya untuk mengatakan ‘Ne.’

“Gomawo karena kau sudah menolong eommaku. Aku menyesal melihat kepalamu terluka saat itu. Harusnya aku yang menolong eomma, bukan kau.”, ia menunduk.

Aku ingat kejadian malam itu. Saat eomma Nichan menghampirinya, saat itu pulalah pinata besar tersebut jatuh. Tanpa pikir panjang aku melindungi tubuh eomma Nichan dengan punggungku. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi.

“Gwaenchanha.”, ucapku dengan suara parau.

Sempat terjadi keheningan untuk beberapa saat.

“Nichan-ah, aku.. Aku Yook Sungjae.”, ucapku tanpa basa basi.

“Ne, aku tahu. Apa maksudmu memperkenalkan dirimu lagi?”, tanyanya heran.

“Kupikir kau tak mengingatku, karena selama ini kau selalu bersikap dingin ketika bertemu denganku.”, ucapku miris.

“Tentu saja aku mengingatmu. Mana mungkin aku melupakan sahabat kecilku? Aku hanya.. Aku hanya menunggu kau yang lebih dulu menyapaku.”, ujarnya. Pipinya merona.

Mengapa pipinya merona? Apa dia menyukaiku? Ya, Sungjae! Apa yang kau pikirkan??

“Mianhae, aku hanya takut kau tak mengingatku. Jadi beberapa kali aku mengurungkan niatku untuk menyapamu.”, ucapku jujur.

“Namja macam apa yang takut dengan hal semacam itu?”, tanyanya sinis kemudian tertawa.

“Namja semacam aku, yang juga tak berani menyatakan rasa sukanya padamu.”, ucapku dengan keberanian yang entah datang darimana.

“Tapi kau baru saja menyatakannya.”, ia menatapku innocent. Seperti meminta pernyataan lebih.

“Bisakah kau, Park Nichan menerima teman kecilmu ini menjadi namjachingumu?”, tanyaku tersenyum tanpa beban.

“Shireo.”, ia memalingkan wajahnya. Sukses membuat kepalaku berdenyut sakit dan hatiku rasanya.. Ah, aku tak tahu bagaimana mengungkapkannya!

“Aku tak mau memiliki namjachingu yang tergeletak tak berdaya di rumah sakit sepertimu. Maka dari itu, kau cepat sembuh agar bisa menjadi namjachinguku, arra?”, ucapnya galak.

Aku hanya terkekeh mendengar ucapannya.

“Kau tidak mandi ya? Mengapa bajumu masih tetap sama?”, candaku.

“Karena aku mengkhawatirkanmu. Aku tidak pulang sejak dua hari yang lalu meskipun Hyunshik oppa sudah menyuruhku berulang kali.”, ceritanya.

“Dua hari lalu?? Aku sudah dua hari disini??”, tanyaku kaget.

“Ne, kau koma. Untung saja kau segera bangun. Kalau tidak, mungkin aku tidak akan mandi selama berhari-hari!”, ucapnya sambil tertawa.

Aku mengikuti tawanya meski masih dalam keadaan lemas. Aku berjanji takkan berpisah dengannya seperti halnya dulu kami berpisah. Park Nichan, neomu neomu saranghaeyo!

END

04 November 2012

Ceritanya biasa aja sih ya, gak ada yang istimewa. Tapi tiap aku baca FF ini lagi, pasti langsung suka Sungjae to the max, hahaha. Maaf kalo banyak typo atau ada hal yang mengganjal, banyak kekurangan juga. Cerita yang suka tiba-tiba beres atau tiba-tiba konflik berubah dengan sendirinya, huhu. Yang penting ini murni hasil karya aku sendiri 🙂

Advertisements

10 thoughts on “FF BTOB : CRUSH

  1. sorry bru bsa comment….
    pas liat ff ini ada sungjae nya, kei (not my real name) cengir2 kuda lumping….soalny b
    ru sja suka dengan sungjae gara2 big buung ( haah dri mama saja kau ini key)…pas ngenaba ff ini, key mau blang kerennnnnn abožzzzzz

    • Uwaaaw baru suka sungjae?? Kamu mesti nonton video-video gak warasnya dia. Dijamin makin suka! Hahaha
      Aku suka sungjae dan jadi makin suka sungjae semenjak nonton video video dia gila gila kaya gitu xD

      Btw makasih ya udah sempetin baca dan komen 😉

  2. Setuju banget sama cuap-cuap author di paling atas paragraf pertama, Sungjae itu selalu bisa bikin orang jatuh cinta (>////_< *blushing*
    tapi aku lebih suka pake nama Park Hyesun dibanding Park Nichan–omong2, gomawo karena udah couple-in aku sama Sungjae di FF ini, puhahahaahha!! *siapa-elo?!*

    • Ternyata komennya kepotong -_-
      Setuju banget sama cuap-cuap author di paling atas paragraf pertama, Sungjae itu selalu bisa bikin orang jatuh cinta 😀
      uwah! Author-nim, aku sukaaa banget FF-nya. DAEBAK!! Author JJANG!! ^^
      Tapi thor, mau curhat doong~ Park Nichan kan nama korea akuuu xD *blushing*
      tapi aku lebih suka pake nama Park Hyesun dibanding Park Nichan–omong2, gomawo karena udah couple-in aku sama Sungjae di FF ini, puhahahaahha!! *siapa-elo?!*

      • Iya bangeeeetttt aduh senyumnya bikin meleleh, apalagi kalo udah ketawa lucu gitu kan aaaakkk ><

        Park Nichan nama korea kamu? DEMI APA? Park Nichan nama korea aku juga. Hah.. jangan jangan kamu adalah… aku? *loh

        Btw makasih ya udah sempetin baca dan komen 😉

  3. hello. salam kenal. aku baca tentang BTOB, dan yg kusuka juga SUNGJAE. mukanx cantik dan sifatnx juga lucu untuk ukuran magnae. dia magnae yg suka jahilin hyung2nya dan tingkahnx juga konyol…. hehheh lucu bgtlah.

    tapi aku kurang faham dengan yg kamu maksud klu dia punya kepribadian 4D, mksudnx apa ya??? hehhehe

    mksh… ^_^

    • Hai salam kenal juga 🙂
      kepribadian 4D itu ya semacan sifat sifat sungjae yg kamu sebutin itu chingu
      Jadi kadang suka aneh dan gak terduga. Suka bersikap konyol gitu deh 😀

      Btw gomawo ya udah baca 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s