FF EXO : BURGER KIMCHI


Title

Burger Kimchi

Cast

Kim Min Mi

Do Kyung Soo

Genre

Romance with a bit comedy

Length

Oneshoot

Rating

General

Author

Park Ni Chan (@ririnovi)

Ini adalah hasil editan dari FF INVITATION CARD yang aku posting kemarin dengan cast JJ Project. FF ini pernah aku kirim buat sebuah lomba gitu, cuma gak menang. Itulah salah satu alasan aku ganti cast-nya, karena lomba itu menginginkan cast utamanya harus member EXO. Gak tahu, D.O aja pengennya. Dan karena Kiki keberatan aku main bareng D.O disini, jadi dialah yang akhirnya jadi cast. Muungkin itu salah satu alasan FF ini gak menang *digampar Kiki*

Enggak deh. Sejujurnya aku merasa banyak banget kesalahan di FF ini. Contohnya diatas. Tulisan yang aku kasih warna merah adalah salah satu salahnya. Pertama, aku tulis length-nya oneshot. Jelas-jelas FF ini pendek dan cuma memenuhi syarat ficlet. Sedangkan emang disuruh darisananya sepanjang oneshot, hehe. Lalu ratingnya General. General itu kan maksudnya bisa dibaca semua umur, sebenernya gak masalah sih kalo FF ini dibaca semua umur, tapi alangkah lebih tepatnya kalo aku bubuhin rating teenage aja biar lebih pas. Lalu ini banyak nih typo dibawah. Typos ini ketauan setelah aku kirim FF-nya. Menyebalkan -_-

Okai lah, D.O is coming..

♥♥♥

“Bisa kita bertemu sebentar? Aku ingin memberikanmu sesuatu.”

“Sekarang? Ehm, baiklah. Dimana?”

“Di tempat biasa.”

“Aku pasti datang.”


♥♥♥

Aku sedang menunggu kedatangan Kyungsoo. Dia memintaku untuk datang ke restoran tempat pertama kali kami bertemu. Katanya ada yang inigin dia berikan padaku. Aku menghembuskan napas panjang. Sempga saja ini adalah hari baik yang dipilih Kyungsoo.

Aku dan Kyungsoo sudah berteman cukup lama. Hampir dua tahun. Selama itu kami selalu pergi bersama kemana pun. Mungkin itulah yang membuatku perlahan menyukainya. Berawal dari tempat ini. Restoran yang menyediakan burger kimchi sebagai menu utamanya. Makanan itu pula lah yang mempertemukan aku dan Kyungsoo.

♥♥♥

“Aku tidak suka kimchi!”, teriakku yang membuat seluruh pengunjung restoran menatap pada satu arah. Kearahku.

“Kau jangan mempermalukanku disini, Minmi!”. Nichan menyentuhkan dagunya ke permukaan meja. Berharap agar wajahnya tak terlihat oleh pengunjung lain.

“Tapi kenapa kau memesankan kimchi untukku? Sungguh, aku tak suka kimchi.”. aku mengikuti apa yang Nichan lakukan. Kutatap piring dihadapanku. Burger. Terlihat sangat menggiurkan. Sudah ada satu bekas gigitan disana. Gigitanku sendiri. Satu gigitan yang sangat kusesali.

“Mana kutahu kau tak suka kimchi? Lagipula, sebenarnya kau orang Korea atau bukan? Mana ada orang Korea yang tak suka kimchi?”, Nichan mengangkat kepalanya kembali. Aku refleks mengikutinya.

“Entahlah, lidahku merasa tak nyaman dengan makanan itu.”, aku menjauhkan piring berhiaskan burger kimchi sejauh sepuluh sentimeter dari tempatnya semula.

“Annyeong..”, ujar seorang namja yang entah siapa. Kalau tidak salah, tadi namja itu beranjak dari meja disebelah kananku.

Aku menatap Nichan yang juga balas menatapku.

“Mianhae aku mendengar pembicaraan kalian tadi.”, ucapnya sembari tersenyum.

“Lalu?”, Nichan menatap heran pada namja itu yang malah menatapku.

“Kyungsoo imnida. Aku tak terlalu menyukai beef burger, jadi, maukah kau bertukar makanan denganku?”

♥♥♥

Jujur saja, aku sedikit banyak menyimpan harapan padanya. Aku tidak asal berharap. Teman-temanku bilang, Kyungsoo juga menyukaiku. Maka dari itu aku menunggu saat-saat indah dimana ia akan mengutarakan perasaannya padaku.

“Mianhae, aku terlambat. Banyak hal yang harus kuurus.”, ucap Kyungsoo saat ia baru saja datang.

Rambutnya basah. Begitupula dengan jaket putih yang dipakainya. Hujan deras memang setia mengguyur Kota Seoul selama beberapa hari belakangan.

“Gwaenchanha, apa yang ingin kau berikan padaku? Cepatlah, kurasa burger jelek ini sedang sibuk.”, ucapku.

Dia duduk di kursi yang tepat berada dihadapanku. Menyodorkan sebuah amplop putih yang masih terbungkus rapi. Ada beberapa titik air jatuh dari rambut Kyungsoo yang tak sengaja membasahi amplop tersebut. Sepertinya Kyungsoo menjaga amplop itu dengan sangat baik hingga tetap kering sampai disini.

“Ini undangan. Aku ingin kau datang. Terimakasih karena sudah menjadi teman terbaikku selama ini.”

Perkataannya tersebut sukses membelalakan mataku.

“Un.. Undangan?”, tanyaku heran.

“Ne, undangan. Aku harus pergi sekarang, Yoomi sudah meneleponku sedari tadi. Gomawo, kimchi.”

Aku mematung melihat kepergiannya. Harapanku musnah seketika itu juga. Hatiku hancur menjadi kepingan paling kecil. Kuingsoo yang selama ini kukira menyukaiku, ternyata telah memiliki seorang yang spesial. Bahkan telah merencanakan pernikahan? Dia memberikanku undangan ini. Dia mengundangku. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?

Air mataku tertahan karena aku berusaha sekeras mungkin mengikat mereka. Aku tidak mungkin menangis di tempat ramai seperti ini.

Kuputuskan untuk pulang dan menenangkan diri. Amplop tersebut kulempar dengan sembarang kedalam tas. Tak peduli hujan yang sangat deras diluar, aku ingin pulang dengan berjalan kaki. Tak peduli sudah berapa juta titik air hujan yang jatuh mengguyur tubuhku. Biar mereka jadi saksi bagaimana rasa sakit yang kurasakan. Air mataku berbaur dengan air hujan. Semoga perasaan itu cepat luntur bersama air hujan ini.

“Minmi, kenapa kau basah kuyup seperti itu? Bukankah tadi kau bilang pergi bersama Kyungsoo?”, tanya eomma saat aku baru memasuki rumah.

“Ne, eomma.”, tanpa basa-basi lagi aku masuk ke kamarku dan menguncinya. Agar tak ada yang tahu aku sedang menangis.

“Dasar kau nappeun Kyungsoo! Mengapa kau tidak pernah menceritakannya padaku? Kalau kau bercerita padaku, aku tidak akan berharap sampai sebesar ini!”, teriakku saat berada didalam kamar mandi kamarku. Duduk sembari memeluk lutut pada lantai kamar mandi yang dingin. Aku sering berteriak disini untuk mengeluarkan semua keluh kesahku.

“Sekarang apa yang kau lakukan, burger jelek? Kau membuat seorang yeoja yang kau sebut teman terbaikmu itu patah hati!”, teriakku memberi penekanan pada kata ‘teman terbaikmu’.

“Siapa yeoja yang menjadi calon istrimu itu, Kyungsoo? Siapa??”, teriakku lagi sembari menangis seperti orang gila.

“Yoomi? Tadi kau menyebut nama Yoomi. Apa yeoja itu Yoomi? Teman lama yang sering kau ceritakan padaku?”, tanyaku mungkin pada diriku sendiri.

“Kyungsoooooo!”, teriakanku yang terakhir itu terdengar sangat kencang, bahkan di telingaku sendiri. Kemudian aku keluar dari kamar mandi setelah sebelumnya membersihkan air mata yang membuat mataku bengkak.

Aku mengambil ponselku yang ada didalam tas. Mataku tertuju pada amplop putih pemberian Kyungsoo tadi. Perasaan sakit itu kembali menjalar dan menggerogoti setiap inci tubuhku. Namun, terselip rasa penasaran untuk membukanya.

“Kira-kira aku akan menyesal atau tidak jika membukanya?”, tanyaku bermonolog.

Amplopnya sudah basah karena tadi kuajak hujan-hujanan. Karena sudah rapuh, kurobek saja amplopnya dan hanya menyisakan sebuah benda dengan tekstur yang lebih keras dari amplop. Menyebabkan benda tersebut tidak ikut tersobek. Aku belum berani membuka mata untuk melihat undangan tersebut, dan..

“Mwo? Undangan ulang tahun Kyungsoo? Ini.. Ini bukan undangan pernikahan?”, tanyaku beruntun saat kudapati undangan yang sedang kupegang tersebut.

“Jadi.. Jadi.. Apa yang kutangisi sedari tadi? Aigoo.. Pabo yeoja! Seharusnya kau menelitinya dulu sebelum membuat reaksi. Kyungsoo pasti akan menertawakanku jika ia tahu aku melakukan ini semua!”, ucapku sembari mengacak rambutku yang masih basah. Antara merasa bodoh dan frustrasi.

Listen
Neukkil su inni
Nae simjangi ttwijireul anha
My heart be breakin’

Ada seseorang yang meneleponku! Ah, panjang umur sekali orang ini. Aku menjawab panggilannya dengan ceria.

“Yoboseyo burger Kyungie..”, sapaku.

“Yoboseyo uri kimchi..”, jawabnya. “Bagaimana? Kau sudah membaca undangannya? Mianhae, tadi sebenarnya aku masih ada urusan dengan Yoomi. Tapi kuluangkan sedikit waktu untuk menemuimu.”, jelas Kyungsoo panjang lebar.

“Gwaenchanha. Memangnya ada urusan apa kau dengan Yoomi?”, tanyaku penasaran.

“Aku meminta bantuan Yoomi dan event organizer tempat ia bekerja untuk menangani pesta ulang tahunku.”, ucap Kyungsoo.

Aku mengangguk-angguk bahagia. Senang rasanya mengetahui Kyungsoo tidak punya hubungan khusus dengan Yoomi.

“Jadi, apa sepotong kimchi ini akan datang ke pesta ulang tahunku?”, tanya Kyungsoo.

“Kau bercanda? Aku akan jadi orang pertama yang datang!”, ucapku antusias.

“Gomawo nae kimchi. Saranghaeyo!”, ucapnya langsung memutuskan hubungan telepon.

Tak ada satu pun kata yang keluar dari mulutku. Tubuhku tiba-tiba saja menegang. Tak sanggup menggerakkan seujung jari pun.

“Saranghaeyo.. Saranghaeyo? Ya, saranghaeyo! Dia mengatakan saranghaeyo padamu, Minmi! Dia mencintaimu! Itu sungguhan!”, teriakku kegirangan.

♥♥♥

12 Januari

“Saengil chukhahamnida, saengil chukhahamnida, saranghaneul uri Kyungsoo, saengil chukhahamnida..”

Semua orang bernyanyi untuk Kyungsoo. Ini adalah pesta perni.. Maksudku pesta ulang tahunnya.

Kyungsoo terlihat berseri-seri. Wajahnya yang tampan terpoles cahaya remang dari lilin dihadapannya. Kue tart yang cukup besar menjadi alas yang manis bagi lilin-liin tersebut. Kyungsoo bagaikan putra mahkota malam ini. Berdiri sendiri diatas panggung kecil. Mengenakan sebuah makhota plastik yang sukses menambahkan kesan berwibawa untuknya. Senada dengan pakaian bak pangeran yang juga ia kenakan.

“Terimakasih untuk semua yang telah hadir disini. Terlebih untuk seseorang yang beberapa hari lalu mengubah hidupku jadi lebih tenang. Karena setelah selama ini aku memendam semua, akhirnya bisa kuutarakan juga. Dia pun menanggapinya positif. Terimakasih untuk sahabat sekaligus yeojachinguku.”, ucap Kyungsoo saat melakukan pidato ulang tahunnya. Tunggu.. Yeojachingu?

“Eh, Kyungsoo telah memiliki yeojachingu?”, tanyaku pada Baekhyun, salah satu teman Kyungsoo yang kebetulan berdiri di sebelahku. Dia tidak menjawab, malah menatapku aneh.

“Kyungsoo, kenalkan kami pada yeojachingumu!”, seru salah satu tamu undangan, entah siapa.

“Ya! Ya! Kenalkan yeojachingumu!”, timpal yang lain.

“Baiklah, aku akan mengenalkannya pada kalian.”, ucap Kyungsoo membuat jantungku berdegup tak menentu.

“Ya, cepat kau maju!”, ucap Baekhyun sedikit mendorong tubuhku.

“A.. Apa?”, lidahku tercekat saat kudapati semua mata tertuju padaku.

Baekhyun menarikku hingga aku sekarang ada diatas panggung. Tepat di sebelah Kyungsoo.

“Kyungsoo, apa maksudmu?”, tanyaku berbisik.

“Kenapa? Kau malu? Gwaenchanha.”, ujarnya sambil tersenyum manis.

“Apa maksudmu? Kau bilang kau akan mengenalkan yeojachingumu, mana dia?”, tanyaku mencoba sebiasa mungkin.

Dia memandangku seolah berkata, ‘Apa kau baik-baik saja?’

“Apa kau baik-baik saja?”, tanya Kyungsoo tepat seperti apa yang kupikirkan.

Aku diam, tak menjawab pertanyaannya. Otakku bergelut dengan semua kemungkinan-kemungkinan yang ada.

“Kau tidak terpaksa menjadi yeojachinguku, kan?”, tanya Kyungsoo sukses membuat dahiku mengkerut.

“Tapi.. Kau kan setuju untuk datang kemari, itu berarti kau setuju untuk menjadi yeojachinguku?”, tanyanya lagi dengan rasa kalut yang tinggi. Terlihat dari raut wajahnya.

Aku merasa semua mata tertuju padaku dan Kyungsoo saat ini. Meski mungkin mereka tidak mendengar percakapan kami, tapi mereka pasti menangkap gelagat aneh yang kami pertontonkan.

“Aku.. Menjadi yeojachingumu?”, tanyaku ragu.

“Ne. Kau membaca surat undanganku, kan?”, tanya Kyungsoo masih mencoba mencari kepastian.

“Aku membacanya, lalu ada apa?”, tanyaku lagi.

“Aku menuliskan pernyataan cintaku padamu di permukaan dalam amplopnya. Kukira kau bersedia menjadi yeojachinguku, makanya kau dengan senang hati datang kemari.”, kurasakan aura di wajah Kyungsoo mulai meredup. Terlihat gurat kekecewaan dari sana.

“Sepertinya ada kesalahan komunikasi diantara kita. Kau ingat kan hari itu hujan? Baju dan tasku basah semua saat pulang.”, jelasku.

“Ah, mianhae Minmi. Mianhae aku tidak mengantarmu pulang.”, gurat kekecewaan itu kini bercampur dengan rasa menyesal yang terlihat dalam.

“Sudahlah. Surat undanganmu ikut basah amplopnya, jadi langsung kubuang. Untung saja undangannya masih bisa kubaca.”, ungkapku sejelas-jelasnya.

“Jadi kau tidak membaca pengakuanku?”, tanya Kyungsoo membulatkan matanya.

“Tentu saja tidak. Memang apa yang kau tulis?”, tanyaku lagi penuh harap.

“Salahmu sendiri mengapa membuangnya. Dasar kimchi!”, ia mengacak pelan rambutku. Aku menggerutu.

“Jadi.. Maukah kau menjadi yeojachinguku nae kimchi, Kim Min Mi?”, ia menggenggam erat kedua tanganku. Menatapku dalam. Tak peduli teriakan riuh yang datang dari para undangan.

“Ini sungguh mengejutkan. Kau membuatku hampir pingsan, dasar burger jelek!”, umpatku namun sembari berseri-seri.

“Ayolah kimchi, jangan membuatku malu dihadapan orang banyak. Kau mau kan menjadi yeojachinguku?”, tanyanya sekali lagi.

“Ehm..”, aku berlagak berpikir. “Tentu saja aku mau! Saengil chukhahaeyo nae namjachingu.”, ucapku tersipu malu. Mungkin wajahku sudah sangat merah sekarang.

“Gomawo..”, ucapnya juga sambil tersipu.

Dia memelukku dengan sekali sentakan. Sangat erat. Dan kubalas pelukannya tak kalah erat.

♥♥♥

Untuk sahabat terbaikku, sepotong kimchi.
Selama dua tahun ini aku selalu mencoba untuk ada disampingnya, dalam suka maupun duka.
Mungkin dia tidak tahu apa yang kurasakan. Perasaanku pada sepotong kimchi itu lebih dari sekedar sahabat.
Dan baru sekarang aku berani mengungkapkan perasaanku, walaupun hanya dengan tulisan seperti ini.
Jadi Minmi, maukah kau memberi tahu sepotong kimchi itu? Jika ia bersedia menjadi yeojachinguku, dia harus hadir di pesta ulang tahunku. Tapi jika ia tidak bersedia, ia tak harus hadir.
Mungkin ini terkesan memaksa, tapi aku ingin dia menjadi kado terindah di hari ulang tahunku.
Tolong sampaikan padanya ya, Kim Min Mi

Dari sepotong burger yang menyayangi sepotong kimchi, Do Kyung Soo.

♥♥♥

END

Yaaaah, sejauh ini aku masih ngerasa ceritanya lebih menarik daripada yang INVITATION CARD. Lebih puas aja sama hasil yang ini. Pembatas antar ceritanya juga lope-lope gitu, wkwk maklum buat lomba jadi dibagus-bagusin. Gak ngertinya tuh ya, sebelom aku kirim kan ini FF sempet aku baca ulang 2 kali, tapi typo tetep aja ada. Bahkan fatal banget, apalagi nama Kyungsoo yang jadi Kuingsoo. Apapula itu? Wakwak. Walaupun begitu, aku tetep bangga. Yang penting FF ini adalah murni hasil pemikiran aku, dan tidak ada unsur plagiat didalamnya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s