FF JJ PROJECT : INVITATION CARD


Title

INVITATION CARD

 

Main Cast

Park Ni Chan -21 years old-
Park Jin Young (Jr.) -22 years old-

 

Support Cast

Im Jae Bum (JB)
Yoomi (OC)

 

Genre

Friendship, romance

 

Rating

Teenage

 

Length

Ficlet

 

Author

@ririnovi

 

Ini FF khusus buat ulangtahun salah satu manusia kesayangan aku, Park Jin Young. Bukan JYP ya maksudnya, ini Park Jin Young muda, anaknya JYP. Sebut aja Jr. JJ Project, wkwk (banyak omong). Sebenernya waktu itu bingung, mau bikin FF buat ulangtahun Chen atau Jr., tapi jadinya ya Jr. ini. Asalnya juga mau masukin Chen disini, jadi kan meskipun gak dibikinin FF, dia tetep ada disini. Tapi dipikir-pikir, dia gak dapet peran juga, dan nanti kesannya maksa kalo tetep dimasukin. Jadi maaf ya Chen, mungkin lain kali 😉

Okai. Jr. is coming..

***

19 September
Aku sedang menunggu kedatangan Jinyoung. Dia memintaku untuk datang ke restoran tempat pertama kali kami bertemu. Katanya ada yang ingin dia sampaikan padaku. Ya, semoga saja ini adalah hari yang baik.

Aku dan Jinyoung sudah berteman cukup lama. Hampir dua tahun. Dan selama itu aku selalu pergi bersamanya kemana pun. Mungkin hal itulah yang membuatku perlahan menyukainya.

Aku tidak asal berharap, karena teman-temanku bilang Jinyoung juga menyukaiku. Maka dari itu aku menunggu untuk saat-saat indah dimana dia mengutarakan perasaannya padaku.

“Mianhae, aku terlambat. Banyak hal yang harus kuurus.”, ucap Jinyoung saat dia baru saja sampai dengan basah kuyup karena hujan yang mengguyur sejak tadi.

“Gwaenchanha. Apa yang ingin kau katakan padaku? Cepatlah, kurasa kau sedang sibuk.”, ucapku.

Dia duduk sejenak di kursi yang tepat berhadapan denganku. Menyodorkan sebuah amplop putih yang masih terbungkus rapi. Tanpa basah setitik pun.

“Undangan, aku ingin kau datang. Terimakasih karena sudah menjadi teman baikku selama ini.”, ucapnya yang berhasil membelalakkan kedua mataku.

“Un.. Undangan?”, tanyaku heran.

“Ne, undangan. Aku harus pergi lagi sekarang, Yoomi sudah meneleponku daritadi. Gomawo, Nichan.”

Aku mematung melihat kepergiannya. Harapanku musnah seketika itu juga. Hatiku hancur menjadi kepingan paling kecil. Jinyoung yang selama ini kukira menyukaiku ternyata sudah mempunyai seseorang yang spesial. Bahkan telah merencanaka pernikahan? Dan mengundangku juga. Bagaimana ini bisa terjadi?

Air mataku tertahan karena aku berusaha sekeras mungkin mengikat mereka. Aku tidak mungkin menangis di tempat ramai seperti ini.

Kuputuskan untuk pulang dan menenangkan diri. Amplop tersebut kusimpan kedalam tas dengan asal. Tak peduli sudah berapa juta titik air hujan yang jatuh mengguyur tubuhku. Biar mereka jadi saksi bagaimana kini rasa sakit yang kurasakan. Semoga perasaan itu cepat luntur terbawa air hujan ini.

“Nichan, mengapa kau basah kuyup seperti itu? Bukankah kau bilang pergi bersama Jinyoung?”, Tanya eomma saat aku baru memasuki rumah.

“Ne, eomma.”, tanpa basa-basi lagi aku masuk ke kamarku dan menguncinya agar tak ada yang tahu aku sedang menangis.

“Dasar kau nappeun Jinyoung! Mengapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?? Kalau kau bercerita padaku aku tidak akan berharap sampai sebesar ini!!”, teriakku saat ada di kamar mandi kamarku. Aku sering berteriak disini untuk mengeluarkan semua keluh kesahku.

“Sekarang apa yang kau lakukan, Jinyoung? Kau membuat seorang yeoja yang kau sebut TEMAN TERBAIKMU itu patah hati! Siapa yeoja yang menjadi calon istrimu itu, Jinyoung? Siapa??”, aku berteriak sambil menangis seperti orang gila.

“Yoomi. Tadi kau menyebut nama Yoomi? Apa dia Yoomi? Teman SMA kita dulu?”, tanyaku mungkin pada diriku sendiri.

“Jinyouuuuuung!”, teriakku sekencang-kencangnya kemudian keluar dari kamar mandi setelah sebelumnya membersihkan air mata yang membuat mataku bengkak.

Aku mengambil handphone-ku yang ada di dalam tas, dan kutemukan amplop putih pemberian Jinyoung tadi. Sakit saat melihatnya, namun terselip rasa penasaran utuk membukanya. Disana pasti tertera nama yeoja yang dipilih Jinyoung.

“Kira-kira aku akan menyesal atau tidak jika membukanya, ya?”

Amplopnya sudah basah karena tadi kuajak hujan-hujanan. Karena sudah rapuh, kusobek saja amplopnya dan langsung kubuang. Amplop berwarna putih itu sudah kehitaman, mungkin warna dari kertas undangannya luntur. Aku belum berani membuka mata untuk melihatnya, dan..

“Mwo? Undangan ulangtahun Jinyoung?? Ini.. Ini undangan ulang tahun? Bukan undangan pernikahan?”, tanyaku tanpa bisa mengatakan apapun lagi. Mataku gemas melihatnya. Sedetik kemudian, aku tertawa sekeras-kerasnya. Menertawakan kebodohanku sendiri.

“Jadi.. Jadi apa yang kutangisi sedari tadi?? Aigo.. Babo yeoja! Seharusnya kau melihatnya dulu sebelum membuat reaksi. Ah, Jinyoung pasti akan menertawakanku jika mengetahui ini semua!”, ucapku melanjutkan tawa sambil masih menatap undangan itu.

I wanna make your body move, so don’t stop baby
Let’s your body groove, let it drop to the floor floor floor

Nada telepon dari handphone-ku! Ah, panjang umur sekali Jinyoung. Aku menjawab panggilannya dengan ceria.

“Yeoboseyo Jinyoungie..”, sapaku.

“Yeoboseyo uri Nichan..”, jawabnya. “Bagaimana? Kau sudah membaca undangannya? Mianhae, tadi sebenarnya aku masih ada urusan dengan Yoomi. Tapi kuluangkan sedikit waktu untuk menemuimu.”, ucap Jinyoung panjang lebar.

“Gwaenchanha, memangnya ada urusan apa kau dengan Yoomi?”, tanyaku penasaran.

“Aku meminta bantuan Yoomi dan event organizer tempat ia bekerja untuk menangani pesta ulangtahunku.”, ucap Jinyoung.

Aku hanya mengangguk-angguk bahagia. Senang rasanya mendengar Jinyoung tidak punya hubungan khusus dengan Yoomi.

“Jadi.. Apa kau akan datang ke pesta ulangtahunku?”, Tanya Jinyoung.

“Kau bercanda? Aku akan jadi orang pertama yang datang!”, ucapku antusias.

“Gomawo, Nichan.. Saranghaeyo!”, ucapnya langsung memutuskan sambungan telepon kami.

Speechless. Aku mematung mendengar salam perpisahannya barusan.

“Apa yang dia katakan? Saranghaeyo.. Saranghaeyo? Saranghaeyo! Dia mengatakan saranghaeyo padamu, Nichan. Itu sungguhan!”, teriakku kegirangan.

***

22 September

“Saengil chukhahamnida, saengil chukhahamnida, saranghaneul uri Jinyoung, saengil chukhamanida!”, semua tamu yang datang dengan kompak menyanyikan lagu ulang tahun untuk Jinyoung.

“Terimakasih untuk semua yang telah hadir. Terlebih untuk seseorang yang beberapa hari lalu mengubah hidupku jadi lebih tenang. Karena selama ini aku memendam semuanya, yang akhirnya bisa kuutarakan juga. Aku senang dia menanggapinya positif, terimakasih untuk sahabat sekaligus yeojachingu-ku..”, ucap Jinyoung saat mengucapkan pidato terimakasihnya.

Tunggu.. Yeojachingu?

“Ehm.. Jinyoung sudah mempuyai yeojachingu?”, tanyaku pada Jaebum, salah satu teman Jinyoung yang kebetulan berdiri disampingku. Dia tidak menjawab pertanyaanku, malah memandangku aneh.

“Jinyoung, kenalkan kami siapa yeojachingumu!”, seru salah satu tamu undangan, entah siapa.

“Ya! Ya! Kenalkan yeojachingumu!”, timpal yang lain.

“Baiklah, aku akan mengenalkannya pada kalian.”, ucap Jinyoung membuat jantungku berdegup tak karuan.

“Hey, cepat kau maju!”, ucap Jaebum sedikit mendorong tubuhku.

“Apa.. Apa?”, perkataanku terhenti saat semua mata tertuju padaku. Jaebum menarikku hingga aku berada di sebelah Jinyoung. Dia sendiri langsung kembali ke tempatnya dan tersenyum pada kami.

“Jinyoung, apa maksudmu?”, tanyaku berbisik.

“Kenapa? Kau malu? Gwaenchanha.”, ucapnya tersenyum.

“Apa maksudmu? Kau bilang, kau akan mengenalkan yeojachingumu, mana yeojachingumu?”, tanyaku mecoba sebiasa mungkin.

Dia memandangku seakan berkata, “Apa kau baik-baik saja?”

“Apa kau baik-baik saja?”, Tanya Jinyoung tepat seperti apa yang kupikirkan.

Aku diam, tak menjawab pertanyaannya. Otakku bergelut dengan semua kemungkinan-kemungkinan yang ada.

“Kau tidak terpaksa menjadi yeojachingu-ku, kan?”, Tanya Jinyoung sukses membuat dahiku mengkerut.

“Tapi.. Kau kan setuju untuk datang kemari, bukankah itu berarti kau juga setuju untuk menjadi yeojachingu-ku?”, tanyanya lagi dengan rasa kalut yang tinggi.

Aku merasa semua mata tertuju padaku dan Jinyoung sekarang. Meski mungkin mereka tidak mendengan percakapan kami, tapi mereka pasti menangkap gelagat aneh yang kami pertontonkan.

“Aku.. Menjadi yeojachingumu?”, tanyaku ragu.

“Ne. Kau membaca surat undanganku, kan?”, Tanya Jinyoung masih mencoba mencari kepastian yang juga sangat kubutuhkan.

“Aku membacanya, lalu ada apa?”, tanyaku lagi.

“Aku menuliskan surat pernyataan cintaku di permukaan dalam amplop itu. Kukira kau bersedia menjadi yeojachinguku, makanya kau dengan senang hati datang kemari.”, wajah Jinyoung mulai meredup. Terlihat gurat kekecewaan darinya.

“Tunggu tunggu, sepertinya ada kesalahan komunikasi diatara kita. Kau ingat kan hari itu hujan? Baju dan tasku basah semua saat pulang.”, jelasku.

“Ah, mianhae Nichan aku tidak mengantarmu pulang. Mianhae..”, gurat kekecewaan itu kini bercampur dengan ekspresi menyesal yang terlihat dalam.

“Gwaenchanha, gwaenchanha. Tapi, surat undanganmu ikut basah amplopnya. Jadi langsung kubuang. Untung saja undangannya masih bisa kubaca.”, ungkapku sejelas-jelasnya.

“Jadi kau tidak membaca pengakuanku?”, Tanya Jinyoung membulatkan matanya.

“Tentu saja tidak. Memang apa yang kau tulis?”, tanyaku lagi penuh harap.

“Apa aku harus mengatakannya lagi padamu?”, Tanya Jinyoung dengan pandangan yang tak bisa kuartikan apa maksudnya.

“Ayolah Jinyoungie.. Aku ingin tahu!”, desakku.

“Jika kau mau menjadi yeojachinguku, mungkin aku akan memberitahukanmu.”, ucap Jinyoung hati-hati.

Jantungku berdegup seratus, tidak. Seribu kali lebih kencang daripada biasanya.

“Ini sangat mengejutkan, tapi.. Tentu saja aku mau.”, ucapku tersipu malu. Mungkin wajahku sudah sangat merah sekarang.

“Kau mau? Ah.. Gomawo.”, ucapnya juga sambil tersipu.

***

Untuk sahabat terbaikku, Park Ni Chan.

Selama dua tahun ini aku selalu mencoba untuk ada disampingmu, menemanimu saat suka maupun duka

Mungkin kau tidak tahu apa yang kurasakan, perasaanku padamu lebih dari sekedar sahabat

Dan baru sekarang aku berani mengungkapkan perasaanku walaupun hanya dengan tulisan seperti ini

Jadi Nichan, kalau kau bersedia menjadi yeojachinguku, kau harus hadir di pesta ulangtahunku. Tapi jika kau tidak mau, kau mungkin tidak perlu menghadirinya. Ini mungkin terkesan memaksa, tapi aku ingin kau menjadi kado terindah di hari ulangtahunku tahun ini.

Sahabat yang selalu menyayagimu, Jinyoung.

END

13 september 2012

Maaf lagi ya kalo banyak typo, kebiasaan nih males buat ngedit lagi 😀 Oya, FF ini juga ada rombakannya. Jadi ceritanya waktu itu ada lomba FF, dan aku pengen ikutan. Karena waktunya mepet, akhirnya aku pake aja FF ini (berhubung waktu itu FF ini belom dipublish dimana pun). Cuma cast-nya diganti. Karena yang bikin event adalah EXO Fanfiction, jadi main cast-nya diganti D.O. Gak menang sih, karena setelah aku cek, banyak typo dan kependekan juga. Diminta oneshoot, aku malah pake yang ficlet, kan gak lucu, wkwk. Nanti aku posting deh yang satu lagi disini 😉

One thought on “FF JJ PROJECT : INVITATION CARD

  1. Pingback: FF EXO : BURGER KIMCHI | Born to be an Imaginer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s