FF EXO : KEMERDEKAAN


Title

KEMERDEKAAN

Cast

Suho EXO-K
Yunho TVXQ
All member EXO-K

Special Appearance

Kim Soo Hyun 😀

Genre

Action, Adventure

Rating

General

Length

Oneshoot

Author

@ririnovi

Nonton film ‘Merah Putih’ ternyata memberi dampak yang gak sedikit buat aku. Entah kenapa film itu sangat menyentuh kalbu, mendadak jadi nasionalis aja tiap selesai nonton film tersebut. Ide buat bikin FF kan dateng darimana aja ya, nah FF kali ini juga terinspirasi dari film ‘Merah Putih’ itu. Seperti biasa, awalnya obsesi ingin membuat FF yang bergenre nasionalis, haha. Dan yang pertama kebayang manusia dengan jiwa nasionalis itu adalah Suho.  Jadilah main cast-nya Suho. Ceritanya disini Suho bukan member boyband, tapi dia adalah seorang sutradara. Diatas juga ada kemuculan spesial dari Kim Soo Hyun, tapi jangan terlalu percaya. Dikit banget doi muncul disini 😀

Okai, let’s get it!

***

 

Libur kali ini akan menjadi yang paling mengesankan untukku. Aku bisa beristirahat dari aktivitas shooting yang biasa kujalani setiap harinya. Maklum saja, tawaran menjadi sutradara langsung membanjiri setelah aku menyutradarai film yang akhirnya sukses di pasaran, bahkan pasar dunia. Namun bukan waktu istirahat itu yang mengesankan untukku. Yang mengesankan adalah rencanaku untuk berlibur keluar negeri.

“Eomma, aku akan mengambil liburan ke Indonesia.”, ucapku pada Eomma.

“Tempat yang bagus. Dengan siapa kau akan kesana?”

“Sendiri. Aku benar-benar ingin liburan dan menenangkan diriku sendiri.”, ucapku yakin.

Esok siangnya aku sudah bersiap untuk pergi ke bandara. Ia tidak mau membuang waktu liburannya sedikitpun. Berbagai hal sudah kupersiapkan selama berada di Indonesia. Mulai dari tempat yang akan dikunjungi, hotel yang akan ditempati, dan juga berbagai oleh-oleh yang sudah terbayangkan. Bahkan sebelum melihatnya dalam bentuk asli.

“Lumayan jauh dari sini, apa disini tidak ada subway ya?”, tanyaku bermonolog sesaat setelah tiba di Bandara Soekarno Hatta.

“Kelihatannya Anda sedang bingung, kemana Anda akan pergi?”, tanya seorang petugas bandara fasih menggunakan bahasaku.

“Ah, aku ingin pergi ke Bandung. Kira-kira aku bisa menggunakan kendaraan apa dari sini?”, tanyaku sopan pada orang yang kurasa umurnya jauh diatasku.

“Anda bisa melakukan penerbangan lagi ke Bandung. Atau menggunakan kereta api dan bus. Travel juga banyak tersedia di sekitar sini.”, ucapnya ramah.

“Kurasa aku lebih tertarik menggunakan jalur darat, dimana aku bisa menemukan terminal bus menuju Bandung?”, tanyaku lagi.

Petugas tersebut merekomendasikanku untuk menggunakan taksi hingga ke terminal bus. Dia bilang mungkin hanya akan memakan waktu lima belas menit paling lama untuk sampai terminal, tapi nyatanya? Aku baru sampai pukul tiga sore setelah satu jam berkeliling menggunakan taksi ini. Dan aku harus membayar mahal untuk itu.

Ternyata kesialanku bukan hanya disitu saja. Tiket bus hanya tersisa untuk kelas ekonomi karena disini sedang ada tradisi.. Ah, aku lupa namanya. Midak? Muduk? Ya, mudik!

Mungkin bus kelas ekonomi disini tidak akan seburuk dan berdesak-desakan seperti yang ada di negaraku.

“Aigoo.. Apa ini yang mereka sebut dengan bus?”, keluhku saat memasuki bus kelas ekonomi tersebut.

Wangi parfum mahalku tertutup oleh bau-bau tidak jelas. Ada penumpang yang membawa ayam, burung, orang yang malah sibuk berjualan tanpa tahu situasi. Ditambah pengap sekali udaranya, ventilasi yang kecil dan tidak ada pendingin ruangan.

Aku duduk di bangku belakang karena hanya bangku itu yang masih kosong.

“Menyesalnya aku duduk disini! Orang-orang bebas merokok. Apa tidak ada peraturan untuk kenyamanan dalam berkendara umum di negara ini??”, omelku. Tidak ada yang berkomentar, mungkin mereka tidak mengerti dengan apa yang kukatakan.

“Apalagi ini? Macet? Omona.. Sungguh aku sudah sangat lelah dan ingin cepat sampai di hotel..!!”

***

Wajahku sudah sangat kesal saat tiba di hotel. Baju wangiku langsung kubuang ke tempat sampah. Kemudian aku membersihkan tubuhku sampai benar-benar bersih dan wangi.

“Aku berjanji tidak akan menggunakan kendaraan itu lagi kemana pun aku pergi!”, teriakku di kamar mandi.

***

Keesokan harinya aku sudah bersiap mengenakan ransel dan menggantungkan kamera SLR keluaran terbaru di leherku. Aku menaiki taksi yag ada didepan hotel. Tak apa membayar mahal asalkan kendaraan yang kugunakan nyaman. Rencananya hari ini aku ingin mendatangi gunung yang ada disekitar Bandung.

“Tunggu, tunggu. Ada acara apa ini?”, tanyaku pada supir taksi. Salah satu hal yang kusukai dari negara ini, banyak orang yang mengerti bahasaku.

“Ini sedang ada perayaan kemerdekaan Indonesia.”, ucap sang supir.

“Sepertinya menarik, aku berhenti disini saja.”

Aku turun dan memberikan selembar uang lima puluh ribu. Kurasa itu cukup karena aku hanya menaikinya sekitar sepuluh menit.

“Permisi, bisa saya masuk kedalam?”, tanyaku pada seseorang di pintu gerbang.

Ah, put your money here and this field is yours.“, ucapnya ramah.

Aku hanya mengerti apa yang dia katakan tanpa bisa menjawabnya. Kumasukan selembar uang lima puluh ribu.

Thank you.“, ucapku sambil masuk ke area lapangan paling ramai.

“Jika boleh tahu, apa nama tempat ini?”, tanyaku pada guide yang menemaniku masuk sejak di gerbang tadi.

“Ini adalah lapangan tegallega.”

Rupanya sedang ada perlombaan yang mereka sebut dengan lomba 17-an, karena peringatan kemerdekaannya adalah tanggal tujuh belas Agustus. Tepat hari ini.

Aku mengambil beberapa foto dan merasa takjub. Ulang tahunku saja tidak pernah dirayakan semeriah ini. Sungguh erat persaudaraan warga Indonesia.

Langkahku terhenti sejenak di area perlombaan balap karung. Sungguh besar sekali tenaga yang anak-anak itu gunakan untuk sampai di garis finish dengan berlari menggunakan karung tersebut. Bagaimana kejadian aslinya ya hingga diciptakan perlombaan seperti ini?

Aku mulai mengkhayal seandainya sedang ada di jaman perang Indonesia dulu.

***

“Suho-ssi! Bagaimana kondisi kawasan timur?”, tanya Jenderal Yunho padaku.

“Siap, aman! Aktivitas normal seperti biasa!”, ucapku lantang.

“Jongin-ssi! Bagaimana dengan kawasan selatan?”

“Siap, aman terkendali! Keadaan pasar normal!”, ucap Jongin tak kalah lantang.

“Chanyeol-ssi! Bagaimana kawasan utara?”

“Siap, sempurna! Tidak ada kejadian yang memprihatinkan!”, ucap Chanyeol dengan suara bass-nya.

“Dan.. Dimana Baekhyun? Bukankah ini saatnya melapor? Mengapa ia belum kembali?”

“Siap, mungkin masih berpatroli!”, ucap Chanyeol.

“Jenderal! Jenderal! Kawasan barat diserang musuh! Tentara Belanda menyerbu dengan truk dan tank yang besar!”, ucap Baekhyun terengah-engah sembari memegang erat senapannya.

“Suho-ssiwa Chanyeol-ssiwa Jongin-ssi, siapkan tentara kalian untuk maju melawan musuh. Dan Baekhyun-ssi, siapkan tentaramu untuk membuat penjagaan di sekeliling markas!”

“Siap, laksanakan!”

Dengan cekatan kami membawa senjata masing-masing lengkap dengan pelurunya dan segera bersiap di tempat persembunyian masing-masing. Aku mengambil tempat persembunyian dibelakang sebuah pohon beringin besar yang mampu menutupi tubuh kecilku ini. Aku akan langsung menembak pemimpin pasukan mereka saat kendaraannya melewati tempatku. Mereka harus musnah dari negara ini! Aku berjanji suatu hari negara ini akan menjadi negara merdeka yang diakui oleh seluruh negara di dunia. Bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya menjajah negeri ini, seperti mereka!

Aku memposisikan diriku sesiap mungkin agar saat tentara musuh lewat, aku bisa langsung menyerangnya. Ternyata Jongin bersembunyi di tempat yang bersebrangan denganku. Kurasa rencananya kurang lebih sama denganku.

Terdengar deru mesin mendekat, sepertinya itu suara kendaraan tentara Belanda. Senapanku sudah siap, kini berdoa semoga mereka tidak melihatku bersembunyi dibelakang pohon ini.

“Satu.. Dua.. Tiga!”

DUARR! Aku melepaskan peluru senapanku. Argh! Meleset. Hanya mengenai satu prajuritnya yang berada di sebelah sang komandan. Namun tak apa, setidaknya aku berhasil mengurangi satu dari mereka.

Kini semua pasukan Belanda itu balik menembakku. Aku hanya bisa sesekali menembak ke arah mereka karena aku sadar kekuatan senapan tradisionalku tak akan mampu menandingi senjata modern mereka. Ditambah pasukan mereka lebih banyak dari pasukanku.

Empat.. Lima.. Enam.. Sepuluh.. Dan lebih banyak pasukanku yang tertembak oleh mereka.

“Mundur! Semua mundur!”, ucapku lantang diikuti Jongin yang menginstruksikan hal yang sama pada pasukannya.

Sebelum pergi meninggalkan tempat itu, aku menembak salah satu ban kendaraan mereka. Semoga saja hal itu bisa mengulur waktu mereka untuk sampai ke markasku.

“Jenderal, kami tidak bisa menghentikan mereka. Saya rasa sebentar lagi mereka akan sampai disini.”, laporku pada Jenderal Yunho.

“Kuatkan pertahanan di markas! Musuh akan menyerang sebentar lagi. Pastikan semua sudut tidak ada yang kosong. Kita harus menang melawan mereka, MERDEKA!”, ucap Jenderal Yunho seraya mengikatkan kain berwarna merah putih di dahinya.

Seluruh pemimpin pasukan mengkoordinasikan anggotanya untuk segera bersiap.

“Takkan kubiarkan mereka menguasai tanah tercintaku ini!”, ucapku memegang erat senapanku.

“Suho-hyung, sepertinya mereka menyerbu perbatasan timur!”, teriak Jongin dari arah selatan.

“Baiklah teman-teman, pertempuran akan segera dimulai. Kencangkan ikat kepalamu, biarkan mereka mengakui bahwa kita adalah bangsa yang kuat dan pantang menyerah! Kita akan rebut kemerdekaan ini dengan hasil jerih payah kita sendiri! MERDEKA!”, teriakku memberi semangat pada teman-temanku.

“MERDEKA!!”

“Kudengar itu adalah pasukan terakhir mereka, pasukan-pasukannya yang lain sudah habis dibantai oleh pasukan kita. Jadi jika kita mengalahkan mereka, kemungkinan besar kita bisa memerdekakan negara ini!”, ujar Jenderal Yunho mengambil posisi disebelahku dan bersiap dengan senjatanya.

Suara meriam yang sangat besar membuat kupingku sedikit sakit. Rupanya itulah serangan pertama yang dilancarkan tentara Belanda. Dari sudut kanan tampak pasukan-pasukan Chanyeol menyerang menggunakan panah beracun yang dapat menewaskan seseorang seketika itu juga.

“Awas, Chanyeol!!”, teriakku saat sebuah dinamit dilemparkan kearahnya. Dapat! Benda itu mengenai Chanyeol hingga ia terlempar cukup jauh.

Karena geram, aku menembakkan senapanku kearah orang yang melempar dinamit tersebut. Namun sayang, dua kali kucoba menembak tetap tidak mengenai sasaran.

“Jangan berperang atas dasar emosi, kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Berperanglah dengan ikhlas untuk membebaskan bangsa ini dari penjajah.”, ucap Jenderal Yunho masih berada di sebelahku.

“Si.. Siap Jenderal!”

Aku memusatkan kembali senapanku pada para tentara Belanda. Masih berobsesi untuk menembak komandan pasukan mereka. Namun ternyata komandan mereka menunggu diatas tank sambil melihat keadaan dari jauh -sekitar 100 meter- selagi pasukannya menyerang.

“Mulailah dengan tenang, redam emosimu.”, ucap Jenderal Yunho lagi.

Senapanku kuarahkan pada pasukan Belanda yang mulai mendekat. Kutembaki satu per satu dengan tenang namun tetap waspada.

“Baekhyun, hati-hati!”, teriakku saat kulihat Baekhyun menjadi sasaran tembak salah satu prajurit Belanda yang luput dari pandangan Baekhyun.

Untung saja Baekhyun langsung berbalik dan cepat menembaknya hingga ambruk seketika. Kemudian ia melemparkan senyum tipisnya padaku.

“Kau ingin dia mati sebelum mendengarmu? Lain kali jangan sia-siakan waktumu untuk memberitahunya, langsung gunakan senjatamu.”, nasihat Jenderal Yunho sambil beranjak ke sudut lain.

Benar juga apa yang Jenderal Yunho katakan, justru itu membuat keadaan jadi tidak efektif. Apalagi saat keadaan genting seperti ini.

Tiba-tiba terdengar suara dentuman keras dari arah selatan. Api berkobar dengan ganasnya, sangat cepat menghanguskan markas kami. Padang rumput dihadapannya pun ikut terbakar. Tak sedikit prajurit kami yang terkena semburan apinya juga. Tubuh mereka terbakar dan hangus kaku. Benar-benar kejam!

Emosiku tersulut lagi. Aku mulai menembaki musuh dengan beringas, tembak sana sini kemanapun kusuka. Tak ada senyum yang mengembang dibibirku meski aku berhasil membunuh puluhan pasukan mereka.

“Dasar tidak berprikemanusiaan! Makhluk macam kalian tidak pantas hidup di bumi! Biarlah Tuhan menuntun jalan kalian ke neraka paling panas!”, ucapku bangkit dari tempat persembunyianku.

Pasukan kami yang terlihat hanya tersisa beberapa orang saja. Bisa dihitung dengan jari. Sama seperti pasukan musuh. Kurasa saat ini kami imbang.

“Jongin sudah gugur, dia ikut terbakar bersama markas kita. Sekarang mungkin hanya tinggal aku, kau, dan beberapa prajurit saja.”, ujar Baekhyun melangkah kearahku dengan hati-hati.

“Bagaimana dengan Jenderal Yunho?”, tanyaku.

“Aku tidak tahu. Mungkin dia juga gugur entah dimana posisinya.”

***

Kutarik tubuhku ke balik sebuah pohon dan bergeser ke pohon-pohon disebelahnya. Mencoba lebih mendekat kearah musuh. Targetku masih tetap sama, komandan pasukan mereka. Baekhyun sudah memencar kearah lain.

“Harus dapat! Harus dapat!”, ucapku mengarahkan ujung senapaku pada komandan berkumis tipis itu.

Tiba-tiba.. DUARR! Sesuatu yang tajam menusuk kaki kananku. Tepat pada tulang keringku. Aku jatuh terduduk, merasakan sakit yang langsung menerpa ke seluruh tubuh.

“Ternyata ada tikus kecil yang berhasil sampai disini.”, ucap si komandan dengan wajah menghina.

Aku mengernyit saat kucoba menggerakan kakiku. Tembakannya sungguh tepat mengenai titik lemahku. Karena sulit digerakkan, aku akhirnya mencoba merangkak.

“Kau tidak akan menang! Kebenaran akan selalu menang!”, ucapku sambil mencoba meraih senapan yang jatuh tak jauh dariku.

“Oya? Apa aku harus percaya ucapanmu? Itu sangat mengerikan!”, ucapnya berpura-pura takut.

“Akan kubuktikan, kalian para penjajah akan bertekuk lutut pada negara ini!”

Aku hampir berhasil mendapatkan senapanku lagi. Sempat kulihat wajahnya. Terlihat sangat menyebalkan. Meremehkan, seperti kami tidak punya kekuatan. Dia salah jika berpikir seperti itu.

Dia mengarahkan senapannya kearahku. Aku berusaha lebih keras meraih senapanku sebelum dia menarik pelatuknya dan.. DUARR!

Aku menutup mata dan kulihat komanadan jangkung tersebut tumbang dihadapanku.

“Tenang saja, hyung! Aku disini untuk membantumu.”, ucap Baekhyun dari arah timur dengan wajah bangganya karena telah mengalahkan komandan pasukan Belanda. Lengannya mengeluarkan darah, mungkin tertembak oleh musuh.

“Kakimu terluka, hyung. Ayo kubantu kau ke tenda pengobatan.”

DUARR! Tubuh Baekhyun terhuyung jatuh dan hampir menimpaku.

“Baekhyun-ah! Baekhyun-ah!”, mataku menangkap sebuah lubang yang mengirim darah keluar dari punggung Baekhyun.

Di ujung sana sudah bersiap seorang tentara Belanda yang tengah mengarahkan ujung senapannya dan DUARR! Untung saja aku bisa menghindarinya dengan berguling beberapa kali kearah samping.

Kutarik senapan yang dipegang oleh Baekhyun dan kutembak beberapa kali kearahnya. Tembakan pertama, kakinya berhasil kulumpuhkan. Tembakan kedua, sepertinya mengenai lengannya. Dan tembakan ketiga, ia terhuyung tak berdaya.

“Dasar penjajah bodoh! Dia pikir aku tidak bisa melawannya? Meski dengan kaki seperti ini aku masih bisa membunuhmu!”, ucapku geram sambil mencoba berdiri.

Kulihat bendera berwarna merah, putih, biru tertancap manis diatas tank milik mereka. “Bendera apa itu? Harus segera kumusnahkan!”

Kucoba merangkak menuju tank tersebut dan terasa tubuhku yang lebih berat dari sebelumnya. Ditambah lagi tempat berpijak yang hanya berupa tanah berbatu membuatku lebih sulit berpindah.

DUARR! Sebuah tembakan melesat kearah kanan tubuhku. Kulihat dibelakang, tentara yang kukira sudah mati tadi ternyata masih hidup. Dengan cara merangkak sepertiku ia mencoba mendekatiku sembari melepaskan beberapa tembakan.

Dengan sulitnya aku harus merangkak menahan sakit yang tak kunjung reda, malah semakin bertambah karena tembakannya mengenai kakiku yang satunya lagi.

Aku mempercepat gerakanku. Tembakannya mengenai paha kiriku, namun aku masih tak gentar. Aku terus merangkak hingga sampai didepan tank tersebut.

Kugunakan tanganku sebagai penopang tubuh agar aku bisa sedikit berdiri dan naik ke tank untuk merobek bendera menjijikan itu.

Kuraih ujung bendera berwarna biru, kutarik hingga seluruh warna biru lepas dan menyisakan warna merah serta putih yang terlihat gagah dalam pandanganku.

“MERDEKA..!!”

DUARR! Kurasakan sesuatu menembus punggung hingga dadaku. Gerakan yang begitu cepat hingga semuanya gelap.

***

“Mianhada, lapangan ini akan dibersihkan Tuan.”, ucap guide yang masih menemaniku bahkan hingga acara ini selesai.

“Ah ya, maaf.”, ucapku bergerak keluar dari lapangan tersebut.

Kapan perlombaan ini berakhir? Kurasa aku terlalu lama melamun, pikirku.

***

Beberapa minggu setelah kembali dari Indonesia.

CUT! Bagus! Sekarang scene terakhir!”, ucapku pada Kim Soo Hyun yang menjadi aktor di film terbaruku.

“Setelah harus berdersak-desakan di bus kumuh itu aku harus berlari memakai karung goni ini?”, tanya Soohyun padaku.

“Ne, tentu saja.”, ucapku tanpa melihatnya karena sedang mengatur kru lain.

“Wae? Kenapa ada adegan yang aneh seperti itu?”, protesnya.

“Kau ini bermain untuk film-ku, jadi ikuti saja apa yang kukatakan.”

“Baiklah jika aku harus berdesak-desakan didalam bus kumuh, tapi kenapa harus ada scene lomba lari menggunakan karung di film ini?”, tanyanya belum puas.

“Kau belum baca script terbaru? Dalam epilog diceritakan kau ikut serta dalam lomba balap karung di hari peringatan kemerdekaan. Kau tahu kenapa harus balap karung? Karena dulu para pejuang kemerdekaan Indonesia dengan susah payah merebut kemerdekaan tanpa peduli apa mereka bisa berjalan atau tidak. Walaupun dengan kesulitan itu mereka yakin bisa mencapai garis finish yaitu kemerdekaan negaranya. Ya! Kalau kau ingin tahu, perayaannya sangat meriah sekali. Kau harus datang ke Indonesia pada tanggal 17 Agustus.Dan kau tidak boleh banyak mengeluh tentang bus kumuh. Ingatlah pengorbanan para pahlawan itu lagi, tanpa mereka tidak akan ada kendaraan umum yang bisa dinaiki secara bebas. Semua itu perlu perjuangan yang tidak mudah, arra?”, ucapku panjang lebar.

“Arraseo, aku akan ajak teman-temanku kesana pada tanggal 17 Agustus. Gomawo!”, ucap Soohyun sambil berlari menuju lokasi scene selanjutnya.

END

24 Agustus 2012

Kesannya Suho tahu banget gitu soal sejarah Indonesia, wkwk. Mianhae kalo banyak typo atau kata-kata yang kurang berkenan. Di bagian awal emang kesannya aku ngejatuhin banget Indonesia, ngejelek-jelekin dan kesannya ga berjiwa nasionalis aja. Tapi ditengah ke akhir kan aku bikin semuanya berbalik. Ada banyak hal yang masih bisa dibanggain dari Indonesia ko, daripada terus menghina-hina bangsa sendiri. Toh, kalo kita terus ngehina bangsa sendiri, terus nanti siapa yang bakal bikin negara ini maju? Aishhhh bahasa gue E:

FF ini udah pernah dipublish juga di EXO Fanfiction dan kebanyakan komentarnya positif. Terimakasih semuanya :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s