FF BOYFRIEND : BEAUTIFUL MISTAKE


Title

BEAUTIFUL MISTAKE

Cast

Jo Young Min
No Min Woo
Lee Jeong Min
Park Ni Chan

Genre

Romance, Friendship, a bit Comedy

Length

Oneshoot

Author

@ririnovi

Warning! Yaoi. Pairing boy x boy.

Waaaaw, FF Yaoi pertama yang aku buat. Prosesnya agak sedikit lama, karena geli juga sebenernya ngebayangin bias sendiri ternyata demennya sama cowok, wkwk. Tapi, just for fun lah ya. FF ini merupakan salah satu ambisi juga yang akhirnya terwujud. Panas kan sebenernya baca FF FF di blog lain, bikin pairing YOUNGWOO, sedangkan aku hanya diam dan membaca. Gak mau kalah! Aku juga ikutan bikin FF Yaoi mereka. Berhubung aku YoungWoo shipper jadi sah sah aja ya, no protes 😀

Okai, YOUNGWOO are coming..

***

AUTHOR POV

Siang hari yang terik di Seoul International Highschool, dua orang namja duduk di pinggir lapangan melepas lelahnya. Keringat bercucuran dari kening keduanya. Udara panas semakin mengundang keringat mereka untuk keluar dari pori-porinya. 2 botol air mineral kosong tergeletak tak berdaya di samping mereka. Sudah kering sejak tadi.

YOUNGMIN POV

Lelah sekali. Berulang kali kuusap keringatku, namun tetap saja mengucur lagi. Aku menggerak-gerakan kedua tanganku. Membuat angin untukku sendiri. Baru saja aku memenangkan pertandingan antara aku dan seorang hyung-ku, Jeongmin. Kami sengaja bertanding disela-sela waktu latihan kami. Yang menang harus menuruti satu permintaan pemenangnya. Karena hanya satu, aku belum tahu akan meminta apa pada Jeongmin-hyung.

“Hyung, aku masih haus. Belikan aku minum!”, ucapku merasa menang.

“Tadi kubilang kau hanya boleh meminta satu hal untuk ku lakukan. Kalau kau menyuruhku membelikan minuman, habislah sudah kesempatanmu. Apa kau tak mau meminta tolongku untuk hal yang lebih penting?”

‘Benar juga kata Jeongmin-hyung. Aku lebih baik menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Mengingat selama ini Jeongmin-hyung selalu saja menyuruhku yang macam-macam.’

“Iya hyung benar, kalau begitu aku akan membeli minum sendiri saja. Hyung mau kubelikan juga?”

“Boleh boleh”

Aku melangkahkan kakiku ke arah kantin. Lekas membeli 2 botol air minum untukku dan Jeongmin-hyung. Segera kembali ke sisi lapangan, namun..

“Youngmin!”

Seseorang memanggilku. Nichan ternyata. Dia adalah teman sekelasku. Dia juga yeoja yang sedang dekat dengan Jeongmin-hyung. Jeongmin-hyung sering bercerita tentangnya padaku.

“Ada apa Nichan-ah?”

“Apa kau melihat Jeongmin-oppa? Biasanya dia bersamamu..”

“Ah ya, dia ada disana!”, aku menunjuk ke arah Jeongmin-hyung. Dia sedang bersama seorang namja disana.

“Eh dia dengan siapa disana?”, tanya Nichan.

“Aku tak tahu, sepertinya temannya.”, ucapku.

Kurasa aku belum pernah melihat namja disebelah Jeongmin-hyung itu. Aku bisa melihat senyumannya yang manis dari sini. Aku bahkan bisa mengatakan bahwa dia cantik. Lebih cantik dari seluruh yeoja yang ada di sekolah ini. Ah bicara apa aku ini?

JEONGMIN POV

Youngmin memang sangat polos. Apa dia tidak sadar aku sedang menipunya? Dia percaya saja dengan ucapanku. Tadinya aku yang disuruhnya membeli minum ke kantin. Aku sangat lelah, maka dari itu aku menipunya, haha.

Youngmin belum kembali, sudah datang Minwoo. Dia adalah sepupuku yang baru hari ini pindah sekolah. Sekaligus pindah ke rumahku juga.

“Hyung, aku bingung mencari ruang kesenian, tolong tunjukkan dimana letaknya..”, ucapnya saat baru muncul dihadapanku.

“Ah kau ini. Aku kan masih lelah. Harusnya kau membawa denah lokasi sekolah ini agar tidak usah bertanya-tanya padaku, arraseo?”

Dia hanya tertawa kecil. Dia menganggap ini sebuah lelucon padahal aku memang serius.

“Ayolah hyung, sekali ini saja..”

Dia memaksa namun aku tetap diam di posisiku. Tak memperdulikan dia yang terus saja memaksaku.

“Hyung, ini minumannya..”, Youngmin datang sambil menyodorkan botol air minum padaku.

“Gomawo. Eh Nichan? Mengapa kau disini?”

Kulihat sosok yeoja yang sudah tak aneh lagi untukku. Aku menyukai yeoja ini. Dia teman sekelas Youngmin. Aku memang janji akan mengantarnya pulang hari ini. Mungkin itu alasan dia mendatangiku.

“Kau tentunya tidak lupa dengan janji kita kan oppa?”, tanyanya.

“Ne, tentu aku ingat. Baiklah ayo kita pulang sekarang!”

YOUNGMIN POV

Ternyata mereka sudah ada janji untuk pulang bersama. Padahal tadinya Jeongmin-hyung akan mengantarku membeli bola basket ke toko olahraga di dekat rumahnya. Ya sudahlah, tak apa.

“Young, aku pulang ya, mianhae aku tak jadi mengantarmu membeli bola. Besok saja ya”

Aku tidak menjawab, hanya mengangguk.

“Eh hyung, kau kan mau mengantarkanku dulu. Ayolah hyung..”

Namja yang tadi kuceritakan itu berbicara juga. Aku masih penasaran sebenarnya siapa dia.

“Nah biar Youngmin saja yang mengantarmu, kau tidak keberatan kan Youngmin? Sudah ya aku pulang, ppyoooooooong!”, Jeongmin-hyung pergi dengan yeoja-nya itu.

Aku ditinggalkan bersama namja ini. Kami masih tidak bergeming. Aku menatapnya.

“Sebenarnya kau siapa? Dan jeongmin-hyung memintaku untuk mengantarmu kemana?”, tanyaku bertubi-tubi.

“Annyeong hyung, Minwoo imnida. Aku sepupunya jeongmin-hyung yang baru saja pindah kesini. Senang bertemu denganmu”, ucapnya sopan sambil menundukkan badannya.

“Oh Youngmin imnida. Baiklah Minwoo, kau ingin aku mengatarmu kemana?”, tanyaku mengulangi.

“Aku sedang mencari ruang kesenian hyung, apa kau bisa menunjukkannya padaku?”, ucapnya polos.

Aku setuju untuk mengantarnya ke ruang kesenian. Dalam perjalanan kesana aku dan dia sibuk dengan pemikiran masing-masing. Tak sama sekali bertegur sapa.

“Ini dia”, tunjukku ke ruang kesenian itu.

MINWOO POV

Temannya Jeongmin-hyung ini baik sekali padaku. Dia mengantarkanku sampai tepat didepan ruang kesenian. Niatku kemari adalah untuk mendaftar ke klub dance yang ada di sekolah ini. Daripada panas-panas berolahraga di lapangan aku lebih senang dance saja, toh sama-sama olah tubuh.

Hanya sekitar 10 menit aku di ruang kesenian. Karena mendaftar saja tak membutuhkan waktu lama. Saat keluar ruangan, kudapati Youngmin-hyung masih disana.

“Loh? Hyung masih disini?”, tanyaku heran.

“Ya, barusan Jeongmin-hyung mengirimkan pesan padaku katanya tolong antarkan kau pulang. Kau sudah mau pulang sekarang?”

“Ah Jeongmin-hyung keterlaluan. Padahal kan aku bisa pulang naik taksi. Gomawo hyung, aku tak ingin merepotkanmu..”

Sebenarnya bisa saja aku menerima ajakannya. Dan mungkin aku memang sangat membutuhkan tumpangannya itu karena aku belum tahu arah pulang ke rumah Jeongmin-hyung. Aku tinggal di rumahnya sekarang karena appa dan eomma ku belum kembali dari Jerman.

“Gwaenchanha, rumah Jeongmin-hyung dan rumahku kan satu arah jadi kita bisa pulang bersama. Kajja, sebelum hujan turun!”

Aku akhirnya menerima ajakannya tersebut.

YOUNGMIN POV

Phone cell-ku bergetar saat aku sedang membereskan barang-barangku. Bersiap untuk pulang.

From    :    Jeongmin-hyung

Young, sekali lagi aku minta tolong kau sekalian antarkan pulang sepupuku si Minwoo itu ke rumahku ya. Dia belum tau arah rumahku jadi aku takut dia tersesat. Aku tak bisa kembali lagi ke sekolah untuk menjemputnya. Kau bisa kan?

Aku yang memenangkan pertandingan basket tadi, aku yang seharusnya banyak meminta pada Jeongmin-hyung. Tapi kenapa sekarang dia yang malah menyuruh-nyuruhku? Tapi aku harus tetap bersikap sopan padanya, dia kan sunbae ku. Tak enak juga menolak permintaannya. Lagipula apa salahnya mengantar namja cantik itu pulang, rumah Jeongmin-hyung kan searah denganku.

To    :    Jeongmin-hyung

Geuraeyo hyung

Tanpa pikir panjang aku kembali ke ruang kesenian. Aku sedikit menengok ke dalam dan kudapati Minwoo masih berdiri disana. Mungkin sebaiknya aku menunggu dia keluar.

“Loh? Hyung masih disini?”, tanyanya saat baru keluar dari ruang kesenian.

“Ya, barusan Jeongmin-hyung mengirimkan pesan padaku katanya tolong antarkan kau pulang. Kau sudah mau pulang sekarang?”, ucapku dengan nada seramah mungkin.

“Ah Jeongmin-hyung keterlaluan. Padahal kan aku bisa pulang naik taksi. Gomawo hyung, aku tak ingin merepotkanmu..”, ya sebenarnya aku tahu dia pasti ingin menerima ajakanku. Siapa sih orang yang tidak mau pulang bersama namja keren sepertiku?

“Gwaenchanha, rumah Jeongmin-hyung dan rumahku kan satu arah jadi kita bisa pulang bersama. Kajja, sebelum hujan turun!”

Dia akhirnya mengikuti langkahku ke parkiran. Kuambil motorku yang terparkir disana dan segera pulang. Minwoo duduk dengan manis dibelakangku.

Aku berhenti didepan sebuah toko.

“Hyung mau kesini dulu?”, tanya Minwoo.

“Ehmm ya, kau mau menunggu sebentar kan?”

“Ani, aku tak ingin menunggu. Lebih baik aku ikut saja ke dalam hehe”, ucapnya sambil tersenyum. Senyumnya manis sekali.

Aku dan dia masuk ke toko alat-alat olahraga, langsung mencari barang yang kukehendaki. Bola basket. Minwoo sedang asyik mellihat-lihat barang yang ada disana saat aku baru saja membayar bolaku ke kasir.

“Ayo Minwoo, kita pulang..”, ajakku.

MINWOO POV

Youngmin-hyung ternyata mengendarai motor ke sekolah. Entah kenapa saat dia berada diatas motornya dia terlihat sangat keren. Di perjalanan kami saling diam. Aku pun tak berani mengajaknya bicara karena takut mengganggu konsentrasi mengemudinya.

Beberapa menit kemudian, dia menghentikan motornya di depan sebuah toko alat-alat olahraga.

“Hyung mau kesini dulu?”, tanyaku.

“Ehmm ya, kau mau menunggu sebentar kan?”

“Ani, aku tak ingin menunggu. Lebih baik aku ikut saja ke dalam hehe”, ucapku sambil tersenyum. Dia tak membalas senyumanku. Dia hanya memandangiku sebentar, entah apa maksudnya.

Lalu aku dan dia masuk ke toko itu. Tanpa basa basi Youngmin-hyung menghampiri barang yang ingin dibelinya di bagian peralatan basket. Sedangkan aku memilih untuk melihat-lihat hal lain yang ada disini. Mulai dari peralatan sepakbola, baseball, softball, ski, golf, hoki..

“Ayo Minwoo, kita pulang..”, suara Youngmin-hyung memecahkan pikiranku.

Cepat sekali dia. Kulihat dia sudah berdiri di depan kasir sambil memegang satu buah bola basket. Kuhampiri dia dan kami bergegas pulang.

“Minwoo, bisakah kau bantu aku membawakan bola ini? Kurasa aku kesulitan mencari tempat untuknya..”, ucap Youngmin-hyung sambil memegang bola itu sesaat setelah mengutak-atik motornya. Tentu saja untuk mencari tempat bagi si bola.

“Ne hyung”

Aku memegang bola itu sampai kami tiba di rumah Jeongmin-hyung. Kulihat Jeongmin-hyung sedang duduk santai didepan rumah sambil memegang phone cell yang dia letakkan di telinga kanannya. Mungkin sedang menelpon seseorang.

JEONGMIN POV

Sepulang mengantar Nichan tadi aku langsung pulang ke rumah. Aku lupa kalau Minwoo belum tahu arah pulang ke rumahku. Eomma menyuruhku menjemputnya. Untung saja aku teringat Youngmin yang masih ada di sekolah. Dan untungnya lagi, dia mau menerima permintaanku, jadi aku tak perlu repot-repot ke sekolah lagi.

Aku duduk di meja depan rumah dan menelepon Nichan. Aku sedang mencari waktu yang tepat untuk memintanya menjadi yeojachingu-ku. Sebenarnya dari banyak gosip yang beredar, banyak yang mengatakan bahwa Nichan juga menyukaiku. Jadi aku tak perlu takut dia akan menolakku. 99% kemungkinan dia akan menerimaku.

Rencananya aku akan mengatakannya besok, tepat tanggal 26. Karena aku tahu Nichan sangat menyukai angka 26.

Suara berisik kendaraan membuatku harus menyingkirkan phone cell-ku sejenak. Ternyata itu Youngmin dan Minwoo.

“Wah kalian sudah datang rupanya, cepat sekali..”, ucapku basa basi.

Aku mendekatkan phone cell-ku lagi ke telinga.

“Nichan, bisa kita sambung nanti? Ne ne. Ppyong”

“Gomawo ya Young sudah mengantarkan sepupuku ini, lain kali aku minta tolong lagi tidak apa-apa kan? Lagipula sepupuku ini yeppeo. Iya kan?”, ucapku menggoda sepupu kecilku ini.

“Apa sih hyung, aku ini seorang namja. Berarti aku kyeopta, bukan yeppeo!”

Minwoo masuk ke rumah meninggalkan aku dan Youngmin. Tak lama Youngmin pun pamit pulang karena hari juga sudah mulai gelap.

“Mereka itu, menggangguku saja.”, kuraih phone cell-ku dan kuhubungi kembali Nichan.

***

KEESOKAN HARINYA SEPULANG SEKOLAH

“Hyung, kau sudah siap untuk kukalahkan lagi hari ini? Bersiaplaah!”, Youngmin menghampiriku dengan riang. Aigoo aku sangat malas bermain basket hari ini.

“Eh mianhae Young, aku tidak bisa hari ini. Aku sudah ada janji bersama seseorang..”, ucapku sambil memasang ekspresi menyesal padanya.

“Yah.. Yasudah gwaenchanha hyung, mungkin aku akan bermain sendiri saja”

“Hyung!”

Belum juga Youngmin pergi dari tempatku sudah datang bocah ini. Mereka berdua sangat cocok. Sama-sama senang menggangguku.

“Kau Minwoo.. Ada apa?”, ujarku malas.

“Aku ingin pulang hyung. Ya hyung tahu sendiri kan aku belum hapal jalan pulang..”

Wajah aegyeo nya itu sungguh menyebalkan. Pura-pura manis didepanku. Ya kuakui dia memang manis, tapi tidak untuk kali ini. Ehmm tunggu. Tiba-tiba saja terpikir sesuatu di otakku.

“Ah Young, apakah Nichan sudah pulang?”

“Ne. Kelasku sudah kosong..”

“Kalau begitu mianhae Minwoo aku tak bisa mengantarmu. Ah aku punya ide! Bagaimana jika kau menemani Youngmin bermain basket? Nanti biar dia yang mengantarmu pulang? Iya kan Young? Ne? Gomawo Young, kau memang dongsaeng yang baik. Annyeong..”

Aku pun meninggalkan mereka yang masih bengong. Mungkin heran melihatku. Tapi apa peduliku?

YOUNGMIN POV

Jeongmin-hyung akhir-akhir ini sering menomor dua-kan permainan basket kami. Dia lebih suka jalan-jalan bersama Nichan. sebenarnya itu hal wajar, hanya saja aku sedikit terganggu. Contohnya sekarang, dia menolak bermain basket denganku dan malah menanyakan soal Nichan. Dia juga malah meninggalkanku bersama namja sepupunya ini disini.

“Ah Jeongmin-hyung selalu begini!”, ucapnya dengan nada lesu.

“Ya dia memang begitu. Eh kau bisa bermain basket?”, tanyaku. Aku sangat ingin bermain basket hari ini. Tapi agak aneh juga jika harus bermain sendirian.

“Sedikit.. Aku pernah mengikuti klub basket di sekolah lamaku meski berhenti di tengah jalan, hehe”, dia tersenyum polos. Wajahnya mengingatkanku pada anak pamanku yang masih bayi.

“Kalau begitu kau temani aku bermain sebentar saja ya?”

Dia menerima tawaranku. Mungkin karena dia anak baru dan junior-ku juga makanya dia tidak berani menolak. Tapi apa peduliku? Yang penting aku punya teman bermain.

***

Setelah 20 menit bermain kami memutuskan untuk beristirahat. Dia pemain yang cukup baik. Gerakannya gesit dan larinya juga cepat. Hanya saja dia kurang bisa menguasai bola. Beberapa kali bola terlempar dari pegangannya.

“Kau hebat! Kau bisa berhasil menjadi pemain basket profesional jika kemampuanmu itu diasah lagi!”, ucapku antusias.

“Ani hyung. Aku tak sehebat itu..”, kulihat wajahnya memerah.

MINWOO POV

Aku menerima ajakan Youngmin-hyung untuk menemaninya bermain basket sebelum pulang. Dia bermain dengan sangat baik. Dia benar-benar ahli dalam permainan ini. Kami bermain selama 20 menit.

“Kau hebat! Kau bisa berhasil menjadi pemain basket profesional jika kemampuanmu itu diasah lagi!”, ucapnya dengan ekspresi yang sangat membuatku malu.

“Ani hyung. Aku tak sehebat itu..”, ujarku sedikit menundukkan wajah.

Cukup lama kami mengobrol. Langit sudah lebih gelap sejak tadi. Kami memutuskan untuk pulang. Youngmin-hyung mengantarku lagi sampai ke rumah.

“Gomawo hyung, mungkin aku harus secepatnya menghapal jalan kesini, hehe” ucapku sesaat setelah turun dari motornya.

“Tidak menghapal jalan pun tidak apa-apa. Aku masih bisa mengantarmu..”

Saat mengatakan hal itu mungkin wajahku memerah. Aku sangat malu. Entah kenapa.

Setelah basa-basi sebentar, Youngmin-hyung akhirnya pulang.

YOUNGMIN POV

Aku bergegas pulang ke rumah setelah mengantar Minwoo. Dia ternyata sangat menyenangkan. Pengetahuannya luas. Jadi, tema obrolan apapun yang kami bicarakan selalu bisa dia tanggapi. Kami membicarakan tentang basket, dance, sampai tentang jenis-jenis kucing langka di dunia. Benar-benar orang yang sangat menarik. Aku masih mengingat obrolan kami bahkan sampai saat ini.

Jam menjukkan pukul 23:45. Aku tak bisa tidur. Kau tahu apa yang aku pikirkan? Minwoo. Aku sendiri heran mengapa aku memikirkannya sampai tak bisa tidur. Hal ini pernah aku alami ketika aku baru saja menyatakan perasaanku pada mantan yeojachingu-ku dulu. Ya, yeojachingu. Tapi Minwoo kan seorang namja. Apa aku salah merasakan ini semua? Kira-kira apa yang akan teman-temanku lakukan jika mengetahui ini semua?

KRIIIIIIIIIIIING

Aku terbangun. Jam 05:30. Aku segera mandi dan bersiap mengenakan seragam sekolahku. Kulihat diriku di cermin. Aku mungkin bisa mendapatkan yeoja manapun yang kuinginkan. Tapi bagaimana jika namja?

MINWOO POV

Aku pergi diantar oleh Jeongmin-hyung. Dia baru mau mengantarku setelah ditegur oleh ahjumma yang tak lain adalah eomma nya.

Setibanya di lapangan parkir aku melihat Youngmin-hyung.

“Youngmin-hyung!”, aku memanggilnya entah untuk apa.

Youngmin-hyung pun mendekati aku dan Jeongmin-hyung.

“Annyeong Minwoo, annyeong hyung..”

“Wah kalian ternyata sudah akrab ya, sepertinya aku kehilangan banyak cerita..”, Jeongmin hyung menatap aku dan Youngmin-hyung bergantian. Mungkin dia sedang mencoba menebak apa yang telah terjadi dengan kami.

Jeongmin-hyung tidak akan tahu hal-hal menyenangkan yang sudah kami lalui tanpanya. Aku lebih senang berada didekat Youngmin-hyung dibandingkan dengan Jeongmin-hyung. Sungguh.

“Ah tidak juga hyung. Hyung apakah kau ada waktu sepulang sekolah nanti? Aku ingin bicara sebentar denganmu. Hanya beberapa menit saja.”, ucap Youngmin-hyung bernada serius.

“Ada apa? Tumben sekali kau seperti ini, terdengar seperti sesuatu yang sangat serius.”

Aku menatap mereka bergantian. Tak mengerti apa yang sedang mereka obrolkan. Sepertinya masalah yang tak kuketahui.

“Ne. Ini benar-benar serius, aku sangat membutuhkan bantuanmu.”

Aku benar-benar tidak mengerti. Untungnya pembicaraan ini segera berakhir dan kami masuk ke kelas masing-masing.

YOUNGMIN POV

Aku sangat gugup saat berhadapan dengan Jeongmin-hyung. Dia sebenarnya tidak menintimidasi atau melakukan hal lain yang membuatku seperti ini. Tapi aku sendiri yang membuat jadi begini.

“Hyung.. Aku.. Sebenarnya aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Tapi aku takut kau memandang negatif padaku setelah aku menceritakannya..”

“Ah ya Young, tunggu! Aku ingin memberitahumu bahwa Nichan sudah menjadi yeojachingu-ku sejak kemarin! Wah kau tak tahu betapa bahagianya aku saat ini!”, dia begitu antusias mengatakannya. Aku sedikit kesal karena seharusnya aku yang bercerita.

“Haha hyung, aku ikut senang mendengarnya..”, ucapku malas.

“Gomawo Gomawo. Kalau begitu apa ceritamu? Ceritakan saja dulu, soal lainnya itu urusan nanti. Kajja waktuku tak banyak..”

Baik. Tekadku sudah kuat untuk menceritakannya. Dan semoga saja dia bisa membantuku.

“Aku sedang menyukai seseorang hyung..”

“Wah sudah lama sekali ya sejak kau putus dengan yeojachingu-mu yang terakhir. Siapa yeoja yang kau sukai sekarang Young?”

Pandangangannya sungguh membuatku takut mengatakan ini semua.

“Ada hal yang berbeda kali ini hyung, ini tak seperti yang kau bayangkan..”, aku menunduk. Tak berani menatap Jeongmin-hyung.

“Jangan bilang yeoja yang kau sukai itu adalah Nichan? Hey apa kau ingin bertarung denganku hah?”

Mataku langsung membulat. Mana mungkin aku menyukai yeoja nya itu. Ah hyung, aku ingin kau mengerti tanpa harus kukatakan. Sangat sulit ternyata mengatakan ini.

“Aniyo hyung. Aku menyukai saudaramu..”, badanku bergetar. Tiba-tiba saja perutku sakit.

“Saudaraku yang di kelas 3F itu? Yoona? Wah seleramu bagus juga Young..”

Jeongmin-hyung memukul pundakku pelan. Ah dia masih tidak mengerti juga. Ayolah hyung, bantu aku mempercepat ini semua. Aku sungguh gugup. Benar-benar gugup.

“Bu.. Bukan.. Aku.. Aku menyukai saudaramu yang baru pindah itu. Aku menyukai Minwoo hyung!”, mataku tertutup saat mengucapkannya. Sungguh aku benar-benar telah gila.

Suasana sempat hening beberapa saat.

“Hahahahahahahahaha”

Jeongmin-hyung tertawa sangat keras. Sepertinya dia puas sekali. Aku memandangnya heran. Masih gugup karena dia belum berkomentar. Dia pasti akan terus menertawakanku dan menganggap aku main-main. Setelahnya mungkin aku akan dianggap aneh. Dia akan menyebarkan cerita ini pada seluruh sekolah dan aku akan menjadi orang paling dikucilkan di sekolah ini. Ah apa yang telah aku lakukan? Aku sungguh menyesal telah mengatakan ini padanya.

“Apa kau ini serius?”, wajah Jeongmin-hyung berubah menatapku. Kali ini tatapannya tidak seperti orang sedang bercanda.

“Ne.. Ne aku serius hyung. Dan kau kan masih berhutang padaku di pertandingan kita beberapa hari lalu, jadi aku ingin memintamu untuk.. Agar.. Ah bagaimana mengatakannya?”, aku frustasi. Benar-benar sangat sulit mengucapkannya.

“Kau ingin aku mengatakannya perlahan pada Minwoo agar dia mau mengerti? Atau kau ingin aku diam dan tak membicarakan hal ini pada siapapun??”, wajahnya menunjukan rasa penasaran yang sangat tinggi.

“Opsi pertama hyung.”, aku menunduk entah untuk keberapa kalinya.

“Hey kau gila Youngmin!! Minwoo itu seorang namja!!”

JEONGMIN POV

Tak pernah aku mengira, ternyata adik kelas ku ini mempunyai pikiran yang entah darimana dia dapat. Aku mengenalnya sudah lama. Aku hampir mengenal seluruh sifatnya. Kecuali yang ini. Ini tiba-tiba saja terjadi. Dia mengatakan padaku bahwa dia menyukai saudaraku. Kata-katanya masih normal kan? Tapi bagaimana kalau aku katakan bahwa saudaraku itu adalah seorang namja? Youngmin menyukai seorang namja. Sangat tidak masuk akal. Di sekolah ini banyak sekali yeoja yeppeo yang bisa dia dapatkan dengan mudah. Mengapa harus seorang namja?

Ya kuakui Minwoo saudaraku itu memang terlalu yeppeo untuk jadi seorang namja. Tapi bagaimanapun juga dia tetap seorang namja. Aku bingung harus mengatakan apa pada Youngmin. Ternyata dia benar-benar serius.

“Kau ingin aku mengatakannya perlahan pada Minwoo agar dia mau mengerti? Atau kau ingin aku diam dan tak membicarakan hal ini pada siapapun??”, aku semakin penasaran dibuatnya. Aku masih tidak percaya dengan apa yang dia katakan.

“Opsi pertama hyung..”

“Hey kau gila Youngmin!! Minwoo itu seorang namja!!”

“Maka dari itu aku ingin meminta pendapatmu hyung. Aku juga tidak tahu mengapa semua ini bisa terjadi padaku. Tiba-tiba saja aku merasakannya. Hal yang biasanya kurasakan pada yeoja yang kusuka..”

Aku menatap batu yang sedari tadi hanya diam. Aku bingung harus mengatakan apa lagi. Youngmin tidak bisa disalahkan atas semua ini. Aku yakin dia pun tidak dengan sengaja menyukai Minwoo. Apa Minwoo yang harus disalahkan karena dia terlalu yeppeo? Tidak bisa juga. Itu kan sudah takdirnya.

“Ah geurae Young. Aku akan coba mengatakannya pada Minwoo..”

MINWOO POV

Hari ini kucoba pulang sendiri. Walaupun harus berjalan kaki. Aku sangat berniat untuk menghapal jalan ke rumah Jeongmin-hyung. Aku tak mau merepotkannya lagi. Aku juga tak mau merepotkan Youngmin-hyung karena harus menggantikan Jeongmin-hyung mengantarku pulang. Terlebih karena aku tak mau terlalu dekat dengan Youngmin-hyung. Aku tak tahu mengapa seharian ini aku terus saja mengingatnya. Dan mengingatnya selalu sukses membuatku merasa aneh. Merasakan sesuatu yang kupikir tidak pas.

“Ah! Dimana  ini?”, aku terhenti di sebuah perempatan jalan. Aku yakin tak pernah kemari sebelumnya.

“Apa ini benar jalan pulang? Aigoo aku ternyata masih belum hapal jalannya.. Apa aku harus kembali?”

Aku membalikkan tubuhku. Melihat kesekitar. Aku tak tahu bahkan kemana aku harus melangkahkan kakiku.

“Kucoba saja, lagipula ini masih di Seoul. Aku takkan tersesat jauh..”

JEONGMIN POV

Adik kelasku ini memang menyusahkan. Apa yang harus kukatakan pada Minwoo? Apa langsung saja aku bilang, ‘Minwoo, Youngmin menyukaimu. Dia ingin kau jadi namjachingu-nya..’. Ah tidak. Dia pasti akan shock mendengarnya.

“Ah eotteokhae??”, aku meremas rambut ikalku sampai terlihat sedikit berantakan.

“Oppa? Kau kenapa?”

Ya Tuhan. Aku kenal suara itu dan aku tak boleh menunjukkan ekspresi aneh didepannya.

“Eh Nichan. Haha gwaenchanha. Mengapa kau disini?”

“Bukankah kita ada janji pulang bersama? Kau kan yang menyuruhku ke parkiran tadi..”, matanya mengisyaratkan berbagai pertanyaan. Ah dia tidak tahu saja aku sedang bingung.

“Ya! Mianhae chagi aku lupa hehe”, aku mencoba setenang mungkin.

“Kau kenapa oppa? Kau tidak seperti biasanya. Apa kau sedang ada masalah? Apa kau tidak enak badan?”

“Aniyo, gwaenchanha. Kajja kita pulang sebelum orangtuamu mencarimu..”

Untuk menghindari pertanyaan lain aku langsung naik ke atas motorku. Dia mengikuti apa yang kulakukan. Kami langsung bergegas pulang.

MINWOO POV

“Aigoo, aku semakin tak mengenal daerah ini. Sebenarnya ini dimana? Appa, eomma, tolong aku..”, gumamku pada diri sendiri.

“Daritadi banyak orang yang lewat kenapa tak ada yang berniat menanyakan keadaanku? Apa tak ada yang simpati padaku?”

Aku memandang orang-orang disekitarku yang sedari tadi melewatiku tanpa henti.

“Dasar babo! Kau yang harus bertanya, bukan berharap orang lain bertanya padamu! Tapi aku tidak mengenal mereka, kalau aku berbicara pada mereka, nanti mereka malah berniat yang tidak baik padaku.. Ah..”, aku bersandar pada sebuah bangunan di dekatku.

“Hey kenapa aku tidak telepon Jeongmin-hyung saja ya? Aigooo..”

Kukeluarkan phone cell yang ada di tasku.

“Lowbat. Ah yang penting bisa dipakai menelpon semenit saja.”

Aku men-dial kontak Jeongmin-hyung. Sudah tersambung. Lama sekali dia mengangkat teleponnya. Ya! Diangkat!

“Yoboseyo hyung. Hyung tolong aku, aku tersesat. Aku tak tahu ini dimana. Kurasa tak terlalu jauh dari sekolah. Aku tak bisa.. Ah! Mati!”

Ya. Phone cell-ku mati. Bagus. Aku masih tersesat. Aku tak tahu jalan pulang. Dan aku lapar.

JEONGMIN POV

Di perjalanan aku terus memikirkan cara mengatakan hal ini pada Minwoo. Sampai-sampai aku tak fokus pada jalan didepanku.

“Oppa! Awas!!!”

“Yaaa!”

Ah hampir saja aku menabrak tiang listrik didepanku. Kalau tak ada Nichan yang memperingatkanku mungkin aku sudah di rumah sakit sekarang.

“Kau ini kenapa oppa? Daritadi kuperhatikan kau seperti sedang banyak pikiran..”

“Ne chagi.. Eh sepertinya phone cell-ku berbunyi. Dimana? Aigoo”, aku mengobrak-abrik isi tasku. Mencari keberadaan phone cell-ku itu.

“Oppa! Hey oppa! Ini. Kau kan yang tadi menitipkan phone cell mu padaku..”

“Ah aku lupa! Siapa yang menelpon?”

“Minwoo. Ini cepat angkat.”

Nichan memberikan phone cell-ku.

“Yoboseyo hyung. Hyung tolong aku, aku tersesat. Aku tak tahu ini dimana. Kurasa tak terlalu jauh dari sekolah. Aku tak bisa..”

tut tut tut tut tut

“Minwoo? Minwoo? Hey apa kau masih disitu??”

Percuma saja. Nada teleponnya sudah terputus. Aku bahkan belum mengatakan satu kata pun padanya. Tapi tadi bilang dia tersesat? Gawat. Kalau dia tidak ditemukan, aku pasti akan dimarahi oleh eomma.

“Ada apa oppa?”

“Minwoo tersesat. Dia memang sangat menyusahkan. Mengapa ingin pulang sendiri kalau ternyata belum hapal jalan? Ah apa kau mau membantuku mencarinya chagi?”

“Ne, kajja oppa.”

“Eh tunggu. Sebaiknya kuhubungi Youngmin terlebih dahulu..”

Aku menelpon Youngmin segera.

“Kenapa harus Youngmin? Kenapa kau tidak menghubungi appa atau eomma mu saja?”

“Itu karena..”

Telepon tersambung. Menyelamatkanku dari pertanyaan Nichan.

“Youngmin, Minwoo hilang! Dia tersesat! Ne..Ne.. Kita cari dia. Aniyo, kita cari bersama saja. Kutunggu kau di jalan besar dekat sekolah. Ne”

Youngmin akan segera disini. Aku meminta Nichan menunggu sebentar. Untung saja dia mau.

YOUNGMIN POV

Tadinya aku akan pulang bersama Minwoo lagi hari ini. Namun Jeongmin-hyung bilang Minwoo sudah pulang terlebih dahulu. Jadi aku pulang sendiri.

Baru saja aku sampai di rumah. Segelas air baru saja habis kuminum. Jeongmin-hyung meneleponku.

“Mwo? Minwoo tersesat? Dia belum pulang? Baik, kau cari dimana dan aku cari dimana? Geuraeyo hyung aku kesana sekarang”

Setelah menutup telepon aku langsung mengambil helm dan kunci motorku. Kulajukan motorku ke jalan besar dekat sekolah. Tempat aku dan Jeongmin-hyung akan bertemu untuk mencari Minwoo.

Sampai disana aku bertemu Jeongmin-hyung bersama yeoja nya.

“Eotteokhae hyung? Kita akan mencari kemana?”

“Kita susuri saja jalan didekat sini sampai kearah rumahku. Ayo chagi!”

Kami pergi mencarinya. Aku bahkan mencari ke jalan-jalan kecil disekitar. Takut-takut dia masuk kesana entah untuk apa. Aku mencari di bagian jalan sebelah kanan dan Jeongmin serta Nichan mencari di bagian jalan sebelah kiri.

Kami hampir sampai ke dekat rumah Jeongmin-hyung. Keputus asaan mulai menghinggapiku. Dimana sebenarnya Minwoo? Aku sangat menghawatirkannya.

“Apa mungkin dia sudah kembali ke rumah? Coba telepon dulu oppa..”,  ucap Nichan pada Jeongmin-hyung saat kami beristirahat sejenak.

“Ah ya. Kucoba menelponnya dulu”

MINWOO POV

Hari mulai gelap. Aku masih di jalan tadi. Menunggu Jeongmin-hyung datang menjemputku. Kenapa dia belum menemukanku juga? Apa aku ada di tempat yang dia tidak tahu? Ah atau mungkin dia tidak mencariku dan malah dengan santainya jalan-jalan dengan yeoja nya itu? Harusnya tadi aku menelpon Youngmin-hyung saja. Tapi aku kan tidak punya nomor teleponnya.

Aku memandangi phone cell-ku. Masih tak bisa dinyalakan.

“Hyuuuuung kau dimana? Aku membutuhkanmu!!!”

JEONGMIN POV

Kucoba menelepon Minwoo. Tapi nomornya tidak aktif. Mungkin phone cell nya mati. Atau dimatikan. Atau apalah aku tak tahu.

“Lalu kita harus kemana lagi hyung?”, tanya Youngmin membuatku bingung. Aku melihat gurat kekhawatiran di wajahnya.

“Aku tak tahu, mungkin aku harus mengatakan ini pada eomma ku. Bersiaplah aku untuk mendapat ocehannya!”

“Aku akan membantumu menjelaskan pada eomma mu hyung..”, ucap Youngmin sepertinya ingin menenangkanku.

“Ya oppa. Aku juga akan ikut membantumu menjelaskan semua pada eomma mu..”, jika Nichan yang mengatakannya aku baru tenang.

Kami akhirnya memutuskan untuk ke rumahku. Menjelaskan yang terjadi pada eomma. Mungkin eomma akan memberikan saran yang lebih baik.

Aku membelokkan motorku ke kanan. Ada seseorang yang sedang berjongkok didekat situ. Membuatku mengarahkan pandanganku padanya.

“Hey kau! Sedang apa kau disini?”, Youngmin membuyarkan pandanganku.

MINWOO POV

Omona! Hari sudah gelap. Aku ingin menangis. Aku takut gelap dan aku takut sendirian disini. Orang-orang yang lewat kesini sudah sangat jarang.

Aku berjongkok. Kakiku pegal berdiri terus sedari tadi. Aku masih menunggu Jeongmin-hyung datang. Aku tak berani berjalan kemanapun karena takut akan tersesat semakin jauh.

Sebuah lampu menyilaukan menghampiriku. Yang kutahu dari suaranya adalah sebuah motor. Motor itu baru saja lewat dihadapanku. Diikuti dengan satu motor lagi dibelakangnya.

“Hey kau! Sedang apa kau disini?”, sebuah suara membuatku menengadahkan kepalaku.

“Youngmin-hyung! Huaaa untung saja kau kesini! Aku sungguh ketakutan!”

Refleks aku berdiri dan memeluknya. Aku tak peduli lagi dengan apapun. Aku terlalu senang karena menemukannya disini. Aku selamat! Aku selamat!

“Kau sedang apa diam sendiri disini Minwoo? Kau menunggu kami??”, tanya Jeongmin-hyung membuatku melepaskan pelukanku dari Youngmin-hyung.

“Aku menunggumu daritadi hyung! Aku kan sudah menelponmu dan mengatakan bahwa aku tersesat, kenapa kau tidak mencariku? Aku sungguh ketakutan sejak tadi. Aku takut tak bisa pulang!”

“Lalu kau tahu jalan kesini darimana?”, tanya Youngmin-hyung.

“Aku hanya mencoba mengingat jalan. Kau kan tahu aku belum benar-benar hapal tempat disini. Sudahlah hyung, antarkan aku pulang sekarang!”

“Eh? Tunggu, aku ingin bertanya padamu. Apa kau tersesat di tempat ini sedari tadi?”, tanya Jeongmin-hyung.

Aku mengangguk. Aku sudah mulai kesal padanya. Dan kau tahu apa yang dia lakukan? Dia malah menertawakanku. Diikuti Youngmin-hyung dan noona ini. Mereka berdua juga ikut menertawkanku. Menyebalkan.

YOUNGMIN POV

Aku tertawa menyaksikan pengakuan Minwoo. Sungguh dia benar-benar lucu. Wajahnya sangat lugu saat mengangguk tadi.

“Hey Minwoo! Kau ini bodoh atau apa? Kemari ikuti aku!”, ucap Jeongmin-hyung sembari menarik lengan Minwoo.

Aku tak tega dia ditarik seperti itu. Sepertinya terasa sakit. Jeongmin-hyung membawanya ke sebuah jalan di dekat mereka.

“Kau kesini, kau belok, dan..”

“Wah itu rumahmu!”, ucap Minwoo antusias.

Sedari tadi dia berdiam diri di tempat ini hanya menunggu kedatangan Jeongmin-hyung. Dia mengira dirinya tersesat padahal dia hanya berada sekitar 100m dari rumahnya sendiri. Aigoo sungguh dia telah membuatku khawatir untuk hal yang tak penting.

“Ya Minwoo! Jadi untuk apa kau sedari tadi diam disini? Membuatku repot saja!”, ucap Jeongmin-hyung sembari memukul pelan puncak kepala Minwoo.

“Aduh. Mianhae hyung, aku kan tidak tahu..”, dia menunjukkan senyum innocent-nya. Manis sekali.

“Kau minta maaflah pada Youngmin, dia sudah menghawatirkanmu sejak tadi!”

Kata-kata Jeongmin-hyung barusan membuatku malu. Kenapa dia harus mengatakannya didepanku? Wajahku mungkin memerah. Untung saja hari gelap jadi tidak terlalu terlihat.

“Eh? Kau menghawatirkanku hyung?”

Aku sungguh tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang.

“Dia sangat menghawatirkanmu Minwoo, haha. Kau bingung kan? Kau pasti ingin tahu. Sebenarnya Youngmin ini menyukaimu!”, ucap Jeongmin-hyung blak-blakan.

“Hyung! Mengapa kau mengatakannya disini??”, tanyaku shock.

“Lebih cepat kan lebih baik. Nah Minwoo, apa kau mau menjadi namjachingu-nya Youngmin?”, tanya Jeongmin-hyung lagi. Membuat lututku lemas. Aku sangat gugup.

“Hyung..”, bocah manis itu menatapku. Aku tak tahu harus bagaimana.

“Ya Minwoo, apa yang dikatakan Jeongmin-hyung itu benar. Apa kau mau menjadi namjachingu-ku? Aku tahu ini aneh. Aku juga tak tahu mengapa ini semua bisa terjadi..”, aku menunduk.

“Hyung, sebenarnya aku juga.. Aku juga merasakan hal yang sama denganmu hyung..”

Aku memeluknya. Aku tak perlu menunggu dia mengatakan hal lainnya lagi padaku. Itu semua sudah cukup membuatku bahagia.

“Wah manis sekali ya mereka, haha sama seperti kita..”, terdengar samar suara Jeongmin-hyung.

Aku melepaskan pelukanku pada Minwoo kemudian menatapnya. Dia menatapku juga. Aku sungguh bahagia. Tak pernah seperti ini sebelumnya. Mungkin aku seharusnya tak boleh merasakan ini. Tapi aku dan dia ternyata merasakan hal yang sama.

“Andwae! Pergi dariku sekarang juga!”

Pandanganku teralih pada asal suara itu. Nichan. Aku melihatnya baru saja mendorong tubuh Jeongmin-hyung. Kemudian dia menatap horor padaku dan Minwoo.

“Jadi kalian? Kalian kan namja.. apa kalian? Kau juga oppa? Apa kau selama ini menipuku? Aku tak mau bertemu lagi dengan kalian! Oppa, kita hanya sampai disini!”

Nichan berlari menjauhi kami.

“Chagi! Chagi! Tunggu aku! Aku berbeda dengan mereka! Aku tidak sama dengan mereka! Nichan! Tungguuu! Chagiii kau kan baru sehari menjadi yeojachingu-ku! Nichan kembalilah kesini!”

Aku dan Minwoo hanya tersenyum melihat mereka. Apalagi wajah Jeongmin-hyung begitu lucu saat mengejar Nichan. Mungkin di mata orang lain ini akan terasa aneh. Namun bagiku dan Minwoo ini sungguh membahagiakan. Aku tahu ini salah. Tapi untukku ini adalah kesalahan yang paling membuatku bahagia.

END
19 MARET 2012

Yaaw, maafkan atas segala typo yang beredar. Aku puas sih sama hasil FF yang ini, suka aja sama jalan cerita yang sebenernya gak terlalu kepikiran bakal gimana endingnya, wkwk. Oya, seneng sih banyak yang nyasar dan akhirnya dengan terpaksa baca salah satu postingan di blog ini. Diliat dari status kunjungannya, tiap hari grafiknya ningkat terus. Meski gak ada jejak komentar atau sekedar jempol buat nge-like, aku cukup senang 🙂

Advertisements

11 thoughts on “FF BOYFRIEND : BEAUTIFUL MISTAKE

    • Aku agak geli sendiri soalnya karena ini pertama dan sampe saat ini satu satunya ff yaoi yang aku bikin 😀

      Btw makasih ya udah sempetin baca dan komen 😉

  1. Uwahaha, sebelum bulan Ramadhan nyempet-nempetin baca FF NC sebanyak-banyaknya xD dan entah kenapa postingan Yaoi disini kebanyakan bias aku semua xD mulai dari BTOB sampai Boyfriend juga ada, main cast nya Youngmin pula!! Ahahahahha. Suka sama yang satu ini, lebih ke perasaan dan nggak menjurus ke yadong ^^ (y)

    • Hayoloh ntar udah beres bulan ramadhan nya balik lagi baca ff nc gitu? Lol.
      Aku bikin ff yaoi cuma yang ini doang kok, feel nya suka agak burem soalnya kalo bikin yaoi, dan aku juga gak terbiasa buat bikin ff berbau yadong gitu. Ya paling kuat ya rated 17 ㅋㅋ

      Dan sekali lagi makasih ya udah sempetin baca dan komen juga ;;)

  2. thor pinter banget si!! mereka emang cocok !!! (y)
    tp aku kira bakal lebih panjang lagi cerita nya! ternyata.. y gitu deh!! 🙂

  3. Huwahhh,, My Favorite Couple in Boy Friend.. Author inii Ff manis amat yakk.. Sampai2 aku diabetes loh(?) huhh gumawo author yang paling kece badai, halilintar ulala. Buat yang kayak gini lagi yah keren amat soalnya..
    #yakk teganya dirimu mengambiL minwoo oppa dariku*cipok youngmin -,-

    • terimakasih loh kamu yeoja k-popers wkwk tapi sejujurnya, bikin ff yaoi buat aku itu butuh kerja keras banget, gak biasa soalnya, bukan fujoshi sih author huhu
      Tapi…… bila diizinkan oleh YME bikin lagi ko ff yang manis ini, cuma gapapa kalo diabetes kamu makin parah karna kemanisan? 😀
      Sekali lagi makasih loh yaaa, ditunggu kunjungan selanjutnya;-)

  4. Uwaaaa ini so sweeeet XDD
    Cara penggambaran masing-masing tokoh lewat POV yang bergantian itu keren, aku suka XDD
    YoungWoo duuuh, mereka terlalu unyu bersama XDD
    Si Nichan malah kabur akhirnya. Kasihan Jeongmin XDD
    Teruskan ne ^^
    Daebak! \^0^/

    • Makasih udah baca, komen, dan pujiannya jadi tersipu *dicium minwoo* *eh*
      Karna bias mungkin jadi bikinnya dengan senang hati wkwk
      Makasih sekali lagi ya chingu *bow*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s