FF BOYFRIEND : HANYA AKU DAN DIA YANG TAHU


Title

HANYA AKU DAN DIA YANG TAHU

Cast

No Min Wo

Park Ni Chan

Jo Kwang Min

Jo Young Min

Other

Genre

Horor

Author

@ririnovi

Point Of View

No Minwoo

FF horor pertamaku. Cast-nya trio maknae dari BoyFriend. Kalo baca FF ini, pasti karakter yang paling ngena itu adalah Kwangmin-nya. Dia kan sebenernya emang 4D, tapi disini aku bikin lebih dari itu. Mungkin 8D atau 16D. Mianhae Kwangmin, entah kenapa tapi dirimu cocok sekali dengan karakter itu 😀

Lagi-lagi author muncul sebagai cast-nya dan kembali beradu peran dengan Minwoo, maklum kita ini senang sekali mengumbar kebersamaan dihadapan publik. wkwk

Banyak cincong ah, oke BoyFriend is coming..

***

Besok ada acara kemping sebagai salah satu ritual orientasi di sekolahku. Semua anak baru wajib mengikutinya termasuk aku. Yang pertama kubayangkan adalah suasana gelap saat malam hari. Bunyi-bunyi binatang yang terdengar jelas diantara kesunyian malam. Mungkin suara binatang, atau ada suara lain yang tak kuketahui berasal darimana.

Harus kuakui aku memang takut gelap. Itu karena dulu semasa kecil aku pernah terkunci dalam kamar mandi dalam keadaan gelap. Aku sangat takut dan panik. Hal itu terbawa sampai sekarang.

“Kau ikut kan besok?”, tanya Kwangmin yang tiba-tiba muncul dengan helm dikepalanya. Aku sendiri tak tahu apa maksudnya menaruh helm itu disana. Dia kan berangkat dan pulang sekolah dengan berjalan kaki.

“Aku tidak tahu Kwang, mungkin aku ikut tapi aku sendiri ragu..”

“Kalau kau tidak ikut besok maka kau tidak akan lulus masa orientasi.”, ucap Youngmin -kembarannya- berdiri disamping Kwangmin.

“Jangan bilang kau takut kemping?”, Kwangmin menunjukkan wajah so’ kagetnya.

Aku memandang aneh kearahnya. Ekspresinya itu terlalu berlebihan, tapi aku sudah terbiasa akan hal itu. Dia memang hyperactive. Dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah.

“Pokonya besok kita pergi bersama ya.. annyeooong”, ucap Kwangmin seraya pergi bersama Youngmin meninggalkanku di bangku kantin sendiri. Aku masih sibuk dengan pikiranku dan belum mau beranjak dari kursi itu meski keadaan kantin sudah semakin sepi.

“Ikut. Tidak. Ikut. Tidak. Ikut. Tidak.”, gumamku mecoba mengambil jawaban dengan jari tanganku.

“Arrghh! Ini semua membuatku binguung!!”, saking bingungnya aku sampai menggebrak meja kantin. Aku kaget sendiri. Kemudian mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Aku diam. Wah kantin ternyata sudah kosong. Kios-kios makanan yang ada disana pun sudah tutup semua. Aku terpaku melihat ke pojok ruangan. Aura di ruangan ini semakin dingin dan membuatku merinding.

“Huaaaaaaaaaaaa”, aku berlari menjauhi kantin itu. Berlari menyusuri koridor yang sudah sepi.

BRAKKK!

“Aduh!”

“Eh mianhae, mianhae. Aku tidak melihatmu tadi..”

Karena terlalu kencang berlari, di belokan aku sampai menabrak orang lain. Dia seorang yeoja pula. Aku jadi tak enak padanya. Tanganku masih bergetar karena ketakutan.

“Makanya hati-hati. Ini jalan umum, bukan jalan nenek moyangmu! Kau punya dua mata masih saja tidak melihat apa yang ada disekitarmu! Kau perlu berapa mata hah?”, ucapnya dengan nada yang tidak enak didengar.

“Aku kan sudah minta maaf, kenapa kau masih saja marah-marah? Lagipula kita bertabrakan tidak terlalu keras. Kau pun tidak sampai jatuh”, jujur aku tidak suka sekali dengan gaya bicaranya yang seenaknya itu.

“Tetap saja kau menggangguku! Membuatku menghabiskan sekian banyak kalori untuk mengomel padamu disini!”

Benar-benar yeoja yang aneh. Siapa suruh mengomel dan sekarang dia malah melanjutkan acara mengomelnya padaku? Yeoja macam apa dia?

“Ada apa Nichan-ah? Mengapa kau disini?”, 2 teman yeoja itu menghampiri kami. Ternyata namanya Nichan. Ah peduli apa dengan namanya?

Dia menceritakan semua pada kedua temannya itu sambil sesekali menunjuk kearahku. Kupikir aku akan gila jika berlama-lama disitu. Jadi aku memutuskan untuk pergi saja.

“Sudah menabrak orang, masih pula tidak sopan pergi begitu saja. Kalian lihat kan betapa tidak bermoralnya orang itu?”

Aku masih mendengar suaranya saat baru beberapa meter meninggalkannya. Tapi aku tidak peduli.

***

KEESOKAN HARINYA

“Minwoo-ah!”, teriak seseorang didepan rumahku. Aku langsung membawa tas besarku kedepan dan berpamitan pada kedua orang tuaku. Lalu keluar untuk menjumpai kedua temanku.

“Lama sekali kau ini Minwoo-ah! Kami sudah menunggumu disini sampai berjamur!”, ucap Kwangmin sambil menunjukkan syal putih yang ia kenakan dilehernya.

“Tidak mau bersabar sekali kau ini. Lagipula itu kan syal, bukan jamur”

Kwangmin tidak menghiraukan  ucapanku. Dia hanya bernyanyi-nyanyi di sepanjang perjalanan kami ke sekolah. Aku tak ingat pernah mendengar lagu semacam itu. Dia itu sangat berbanding terbalik dengan kembarannya, Youngmin. Youngmin sangat pendiam, dia bicara seperlunya saja. Dia pun tidak banyak bergerak. Sedangkan Kwangmin, dia sering menari-nari aneh ataupun berbicara ngawur.

Kami sampai di sekolah bersamaan dengan datangnya bus yang akan membawa kami ke lokasi kemping. Nyaliku mulai menciut lagi. Tapi sudah terlambat untuk membatalkan kepergian ini. Para senior sudah mengatur letak bus yang akan kami naiki. Aku, Kwangmin dan Youngmin satu bus dan satu tempat duduk -3 kursi berjajar didalam bus-.

“Hey kalian ingat tidak saat kita duduk di kelas 8, ada salah satu teman sekelas kita yang wajahnya seperti dia! Hahahaha”, Kwangmin tertawa puas sambil menunjuk orang yang dia maksud.

Orang itu diam. Wajahnya menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Sedangkan Kwangmin masih saja sibuk dengan aktifitasnya. Menertawakan orang itu.

“TERNYATA KAU DAN TEMAN-TEMANMU SAMA SAJA! TIDAK PUNYA SOPAN SANTUN!”, ucap orang itu sambil menunjuk kearahku. Ya Tuhan. Yeoja itu ternyata anak baru juga dan dia ikut acara kemping ini. Parahnya lagi dia satu bus denganku.

“Kenapa kau masih marah-marah padaku??”, tanyaku dengan wajah heran.

“Memangnya ada larangan aku untuk tidak marah padamu? Huh mengapa aku harus masuk di  bus ini?!”, ucapnya menggerutu.

“Hey kau tahu dia Minwoo-ya?”, tanya Kwangmin.

“Oh jadi namamu Minwoo? Tolong ya Tuan Minwoo, jaga sikapmu dan temanmu ini. Jangan sampai mengganggu ketertiban dalam bus!”, yeoja itu mulai mengomel lagi.

“Ya namanya Minwoo. Dan namaku Kwangmin!”, ucap Kwangmin tanpa memperdulikan ekspresi yeoja itu.

“Ah tidak penting!”

Yeoja itu pergi. Aku hanya memandang heran atas kepergiannya. Benar-benar aneh. Menyebalkan.

“Kau mengenalnya?”, tanya Youngmin setelah yeoja itu benar-benar pergi.

“Ani. Aku hanya kebetulan menabraknya kemarin dan sepertinya dia belum memaafkanku. Orang itu sungguh sangat menyebalkan! Dia tak henti-hentinya mengomel dari kemarin”, ucapku sambil memandang kesal pada punggung yeoja itu.

“Menyebalkan apanya? Dia lucu sekali. Aku harus berkenalan dengannya!”, ucap Kwangmin tanpa rasa bersalah.

Aku dan Youngmin kompak melihat kearah lain. Kwangmin kumat lagi. Aku sungguh tak pernah mengerti bagaimana jalan pikirannya.

2 jam kemudian kami sampai di tempat kemping. Sebuah lapangan luas yang kosong. Ada sedikit bagian tanah berwarna hitam seperti habis terbakar. Mungkin sebelumnya ada yang kemping dan membuat api unggun disini. Atau membuat api untuk memasak. Entahlah, aku tak ingin tahu.

Aku meletakkan tas besarku di tanah. Sakit sekali pundakku jika harus memikulnya terus-menerus.

“Baik. Untuk tugas pertama kalian harus mendirikan tenda masing-masing kelompok. Minimal 2 orang dan maksimal 3 orang saja”, ucap salah satu senior yang suaranya menggema dibantu speaker besar di tengah lapangan.

Tentu saja aku, Kwangmin, dan Youngmin satu kelompok karena aku belum mengenal anak baru lain selain mereka yang notabene teman-teman sekolahku juga dulu.

“Kita ambil tempat dimana?”, tanya Youngmin sambil melihat ke sekeliling lapangan.
“Disana saja bagaimana? Dekat tenda panitia agar lebih aman..”, ucapku sambil menunjuk kearah yang kumaksud.

“Ayo cepat kita bawa tendanya kesana!”, ucap Kwangmin antusias.

Jaraknya lumayan jauh dari tempat kami berdiri tadi. Dan dengan tas berat yang kami tanggung sangat sulit untuk mendekati tempat itu. Ya, tinggal 5 langkah lagi..

“Hey! Kami yang lebih dahulu melihat tempat ini!”, ucapku sedikit berteriak.

“Ah dia lagi! Kau mencoba menyerobot tempatku ya? Aku lebih dulu menginjakkan kakiku disini..”, yeoja pemarah yang selalu membuatku kesal itu lebih dahulu mempati tempat yang kumaksud. Kami hanya terlambat beberapa detik saja.

“Hey, kau yeoja yang tadi di bus itu kan? Annyeong, namaku Kwangmin. Jo Kwang Min. Senang bertemu denganmu yeoja lucu..”, ucap Kwangmin mendekati yeoja itu sambil mengulurkan tangannya.

Tidak ada jawaban dari yeoja itu. Dia hanya menatap Kwangmin dengan tatapan buasnya. Namun yang ditatap tidak bergeming dan malah tersenyum melihatnya.

“Mungkin kita sebaiknya pergi saja dari sini”, ucap Youngmin agak berbisik.

“Kurasa begitu. Kwangmin, bukan saatnya bertingkah bodoh!”, ucapku sambil menarik Kwangmin dari belakang.

Kami mengedarkan pandangan ke seluruh lapangan lagi. Mencari tempat strategis untuk mendirikan tenda. Terlihat semua tempat sudah penuh.

“Kecuali disana!”, ucap Kwangmin menunjuk kearah sungai.

“Banyak sekali pohon besar didekat sana, kenapa kita tidak mengambil tempat ditengah-tengah lapangan saja?”, protesku. Rasa takutku mulai muncul kembali.

“Semua tempat sudah terisi Minwoo-ya, kurasa itu tempat satu-satunya yang tersisa..”, ujar Youngmin seraya berjalan ketempat itu diiringi Kwangmin. Aku dengan pasrah mengikuti mereka dari belakang.

***

Setelah mendirikan tenda kami diperbolehkan istirahat terlebih dahulu. Aku sangat lapar. Ternyata Kwangmin sudah satu langkah lebih cepat dariku. Kulihat dia sedang memasak air untuk merebus mie. Untuk beberapa waktu ternyata dia berguna juga.

“Kwangmin-ah! Kau tolong masakkan mie instant untukku dan Youngmin ya? Kami akan membereskan barang-barang didalam tenda..”, ucapku sambil memberikan dua cup mie instant padanya.

“Baiklah, taruh dulu saja disitu. Aku masih menunggu airnya matang.”

Aku menaruh mie itu didekatnya dan kembali masuk ke tenda. Membereskan barang-barang bersama Youngmin seperti yang tadi aku katakan pada Kwangmin.

Hampir satu jam terlewati. Aku dan Youngmin sudah daritadi selesai membereskan tenda. Kami sedang bersantai tidur-tiduran sembari mendengarkan musik.

“Oya Minwoo-ya, bukannya kau menitipkan mie instant pada Kwangmin?”, ucap Youngmin sambil menatap bingung kearahku.

“Oya aku lupa!”, ujarku sambil memukul halus telapak tanganku ke kening.

Aku bangun dari posisiku dan keluar dari tenda. Tidak ada siapapun didepan tenda kami.

‘Kemana Kwangmin?’, batinku.

Yang tersisa disana hanya dua cup mie instant. Aku meraih cup itu. Masih berat, berarti masih berisi. Aku membukanya.

“Omo! Mie nya sudah mengembang!”, aku masuk dan menunjukkannya pada Youngmin.

“Youngmin-ah! Lihat apa yang saudara kembarmu lakukan pada makanan kita!”, aku memberikan cup itu dan langsung dilihat olehnya.

“Dia memang tidak pernah melakukan sesuatu dengan benar..”, ucap Youngmin seraya mengerutkan keningnya.

“SEMUANYA BERKUMPUL DI TENGAH LAPANGAN SEKARANG JUGA!!”, ucap senior tetap keras terdengar melalui speaker.

Belum sempat aku memakan mie yang sudah -sangat- mengembang itu sekarang aku harus sudah melakukan aktifitas lagi? Darimana tenaga yang akan aku dapatkan? Youngmin berjalan dengan lemas ketengah lapangan. Mungkin dia merasakan apa yang kurasakan juga.

Setelah berbaris menurut kelompok masing-masing kami baru bertemu dengan Kwangmin lagi. Dia tersenyum pada kami. Namun kami membalasnya dengan tatapan malas. Gara-gara ulahnya itu aku dan Youngmin tidak sempat makan siang.

“Kalian ini kenapa? Tidak biasanya menatapku seperti itu. Wajah kalian sangat lucu dengan ekspresi itu! Hahahaha”, ucapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun sesaat setelah panitia membubarkan barisan.

Kami tidak menjawab. Aku bergegas ke tenda panitia dan mengambil bola untuk persiapan games yang tadi diumumkan oleh senior. Bukannya merasa bersalah, Kwangmin malah terus bercanda dan seolah mempermainkan aku dan Youngmin.

“Apa kau marah Youngmin? Kau juga Minwoo?”, tanyanya dengan ekspresi yang aku tak tahu apa maksudnya.

Aku melemparkan bola yang kupegang kearahnya tanpa berbicara sedikitpun. Kami memulai games. Setiap orang harus mengoper bola pada temannya tanpa menyentuh tanah. Dengan kaki dan tangan terikat. Bayangkan betapa sulitnya untuk menjangkau temanmu yang berada sekitar 7 meter darimu.

BRAKK!! Suatu suara dari arah sungai membuat semua yang ada ditengah lapang megalihkan pandangan kearahnya.

Hampir seluruh senior melangkahkan kakinya ke arah tersebut. Aku tak bisa dengan jelas melihat apa yang terjadi karena kerumunan yang dibuat oleh anak lain sangat mengganggu penglihatan.

“Ada apa katanya?”, tanyaku pada Youngmin yang berdiri disampingku.

“Entahlah, mungkin kita akan mendapat jawabannya saat Kwangmin kembali”

Kulihat Kwangmin sedang berlari dan mencoba masuk ke  kerumunan orang-orang itu. Niat sekali dia melakukannya. Kulihat dia tertawa dan kembali berjalan kearah kami setelah senior membubarkan kerumunan.

“Hahaha konyol sekali! Kalian tau yeoja lucu yang kita temui di bus itu kan?”, tanya Kwangmin setelah menemukan Aku dan Youngmin.

“Bisakah kau berhenti menyebutnya lucu Kwang?”, aku sudah kesal mendengarnya berbicara seperti itu terus.

“Sudahlah. Lanjutkan saja ceritamu Kwang!”, perintah Youngmin.

“Yeoja itu tidak sengaja melempar bolanya ke arah sungai sampai sebuah tenda didekat sana rubuh! Haha kalian tidak lihat bagaimana konyolnya tenda itu. Benar-benar rata dengan tanah!”, ucap Kwangmin melanjutkan tawanya.

“Apa katamu? Tenda dekat sungai? Kau bisa pastikan itu bukan tenda kita kan?”, Youngmin memasang wajah cemasnya.

“…”

Kwangmin benar-benar membuatku geram. Dia sama sekali tak menyadari bahwa yang ditertawakannya sedari tadi itu adalah tenda kami. Yang dia sebut konyol itu tenda kami. Dan yang dihancurkan oleh yeoja menyebalkan itu adalah tenda  kami.

Aku berjalan cepat ke arah tenda panitia sesaat setelah game selesai.

“Maaf sunbae, bisakah kau menceritakan bagaimana bisa tenda kami yang didekat sungai itu rubuh?”, tanyaku kesal namun tetap bersikap sopan.

“Oh jadi itu tendamu? Haha salah satu dari kalian melemparkan bola yang tidak sengaja mengenai tendamu. Tendamu rubuh ya? Kalau begitu kau cepatlah perbaiki. Hari sudah mulai gelap.”

“Tiang penyangganya patah sunbae, jadi kami tidak bisa mendirikan tenda lagi”, ucap Youngmin yang sudah ada dibelakangku entah sejak kapan.

“Ya itu kan tenda kalian, jadi tanggung jawablah sendiri. Kalian kan sudah besar. Dan bukan waktunya bermanja-manjaan disini..”, ucap sunbae itu meninggalkan kami dengan rasa kesal yang menggunung.

Kwangmin kembali menghilang saat kami mencoba mendirikan tenda lagi. Aku sudah tak peduli dia ada dimana. Sekarang sudah menunjukkan pukul 6 sore. Langit sudah kemerahan dan nampak semakin gelap. Beberapa kali aku dan Youngmin mencoba mendirikan tenda itu lagi namun tanpa tiang penyangga, semuanya sia-sia. Sialnya lagi, kami tidak menemukan kayu sebagai pengganti untuk menyangga tenda.

“Hai kalian! Aku kembali!”, ucap Kwangmin disela-sela kesusahan kami.

Diantara kami tak ada yang sedikitpun menggubris ucapannya.

“Aku tadi dari tenda yeoja itu. Yeoja yang merubuhkan tenda kita ini. Dia benar-benar keras kepala dan tak mau berkenalan denganku haha. Semakin lucu saja dia bukan?”, ucapnya tampak bahagia.

Biarkan saja dia bahagia dengan dunianya sendiri. Untuk apa aku memikirkannya jika dia sendiri tak memikirkan aku dan Youngmin?

Langit sudah benar-benar gelap sekarang. Kabar baik! Tenda kami belum bisa didirikan juga sampai sekarang! Sudah beberapa kali kami meminta tenda baru pada senior tapi tak diberikan. Jahat sekali memang mereka.

“Jadi kita akan tidur diluar malam ini?”, tanya Youngmin.

“Kurasa begitu.”, jawabku dengan nada lesu. Aku melirik kearah belakang. Disana banyak pohon-pohon besar dan gelap. Tanganku langsung bergetar takut.

“Ambil saja positifnya teman-teman. Kita bisa benar-benar menyatu dengan alam!”, ucap Kwangmin sedikit berteriak sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. Aneh.

Semua ini gara-gara yeoja itu. Sangat menyebalkan. Apapun yang berhubungan dengannya pasti akan menjadi kesialan bagiku. Sebenarnya dia mahkluk apa?

Saat batinku berkata seperti itu tiba-tiba saja bulu kudukku merinding. Aku teringat pohon-pohon besar dan gelap dibelakangku. Aku tak berani melihat kearah sana lagi. Ini benar-benar sudah lebih gelap dari yang tadi. Lampu yang dipasang benar-benar tidak mampu menerangi seluruh bagian lapangan ini. Apalagi di tempatku berada. Hampir di sudut lapangan.

“Apa kalian tak mau pindah dari sini? Kurasa disini semakin gelap..”, ucapku pada kedua teman kembarku itu.

“Kau takut Minwoo-ya? Haha baru segini saja kau sudah takut?”, ucap Kwangmin meremehkanku.

“Ehmm bukan begitu. Aku tak dapat melihat apapun jika gelap seperti itu. Mataku akan terasa sakit..”, ucapku berbohong.

Mendengar ucapanku itu mereka memutuskan untuk pindah ke dekat lampu. Disana sangat terang walaupun tak seterang rumahku.

Pergerakan jarum jam tidak bisa dihentikan walaupun hanya untuk sedetik saja. Tak terasa sudah pukul 9 malam. Beberapa saat yang lalu para sunbae sudah menyuruh kami semua untuk tidur. Semua anak masuk ke tendanya masing-masing. Kecuali kami tentunya. Mau masuk ke tenda mana? Tenda kami kan rubuh!

Tadinya Kwangmin mengajak kami nekat masuk ke tenda senior, namun itu hanya akan menambah masalah. Jadi kami menolak ajakannya tersebut.

Kami duduk beralaskan batu-batu tak jauh dari tenda senior. Disitu cukup terang. Namun tetap saja aku masih bisa melihat tempat-tempat gelap dengan pepohonan besar itu. Seketika terbersit adegan-adegan di film horor yang sering ditonton oleh umma. Hal itu membuatku bergidik ngeri.

“Kalian belum mau tidur? Aku sangat mengantuk. Hoaaam”, ucap Kwangmin sambil menutup tubuhnya dengan sleeping bag.

Aku mencoba menutup mataku. Setiap kututup selalu saja terbayang wajah-wajah menyeramkan dari hantu-hantu yang pernah kulihat di TV. Membuatku membuka mataku kembali. Saat kubuka mata, yang kulihat adalah gumpalan langit hitam dengan cahaya yang terpancar dari bulan purnama. Kadang melintas awan-awan putih yang terlihat seperti asap. Sangat tenang saat kulihat bulan itu. Dia benar-benar terlihat terang diantara langit gelap.
Aku kembali menutup mataku. Kupikirkan hal-hal menyenangkan yang terjadi selama hidupku.

Aku ingat pertama kali aku diajak ke Lotte World oleh orang tuaku saat aku berumur 3 tahun. Aku senang sekali saat itu. Hampir semua permainan sudah kujelajahi (permainan untuk seumuranku tentunya). Aku dibelikan permen gulali yang besar oleh appa. Oh Tuhan! Nyatanya Lotte World bukan hal menarik untuk kubayangkan! Baru teringat bahwa disana ada wahana Ghost House. Aku memang tak masuk. Hanya saja bayangan-bayangan mengerikan muncul lagi di otakku.

Dadaku berdebar kencang. Nafasku terengah-engah. Aku menggoyang-goyangkan kepalaku. Berharap bayangan itu segera hilang. Kupejamkan mataku erat. Lebih erat dari sebelumnya.
Aku mulai menghayal lagi. Kali ini aku membayangkan saat aku pergi karya wisata dengan teman-temanku tahun lalu. Kami melewati sekitar 12 jam perjalanan sebelum sampai di lokasi. Kami berangkat malam hari dan sampai pagi harinya.

Omo! Aku teringat lagi! Saat di perjalanan malam hari itu kami melewati sebuah pemakaman tua yang sangat mengerikan. Batu-batu nisan tertancap kuat pada setiap makam. Nafasku terengah kembali. Kali ini jantungku benar-benar berdebar dengan kencang. Aku sampai merasa kelelahan padahal tidak melakukan apa-apa.

Aku menyerah. Aku akhirnya diam. Tak mau membayangkan apa-apa lagi. Kini kubiarkan pikiranku kosong.

“krik krik krik krik krik”, suara serangga-serangga malam terdengar jelas di kesunyian.

“wush wush wush”, suara angin dingin terdengar saat menerpa daun-daun pohon.

Aku menutup telingaku yang mulai panas mendengar suara-suara itu.

‘Ya Tuhan tolong aku, aku hanya ingin tidur. Tidur nyenyak. Biarkan aku tidur tenang selama berada disini.’, ucapku masih menutup telinga. Mataku masih terpejam. Kakiku bergetar.

Keringat dingin mulai memenuhi seluruh lapisan terluar kulitku.

PRANGGG!

Sebuah suara keras yang terdengar sumbang memecahkan pikiranku. Aku yakin tadi aku sudah tertidur! Hal yang sedari tadi sangat sulit kulakukan!

Kurasakan keringat dingin mengucur dari dahiku. Bergerak ke arah telingaku dan sepertinya hilang diantara rambut-rambutku.

Aku bingung harus melakukan apa lagi. Pikiranku tidak bisa setenang tadi. Apalagi setelah suara sumbang itu muncul. Suara apa itu? Aku penasaran meski sangat takut.

Aku memberanikan diri membuka mataku. Perlahan. Kuhilangkan sejenak bayangan-bayangan yang mungkin akan muncul setelah aku membuka mata. Ya. Aku berhasil. Mataku terbuka sempurna. Masih pemandangan yang sama. Langit gelap dan bulan yang setia menerangi kami. Aku sedikit mengeluh karena lama sekali langit itu berubah cerah.

Aku mengarahkan pandanganku pada asal suara tadi. Di tenda senior. Disana sudah berkumpul beberapa senior. Mereka seperti sedang meletakkan barang yang jatuh.

“Ah mengagetkan saja!”

Kemudian aku melirik kearah 2 temanku. Kwangmin dan Youngmin masih tertidur pulas dengan posisi hampir sama. Jika gaya rambut mereka sama mungkin aku akan sulit membedakan mereka.

Aku kembali memejamkan mataku. Mencoba masuk ke alam bawah sadarku lagi. Untuk pertama kalinya aku merasa bosan berada di dunia nyataku ini. Aku ingin sekali seorang magician datang dan menghipnotisku agar aku tertidur.

“wush wush”

Telingaku memanas. Kakiku bergetar hebat. Keringat dingin mengucur lebih deras dibanding tadi.

Aku merasakan angin dingin melewati telingaku. Bukan sekedar angin dingin. Angin dingin dengan suara yang sangat membuatku merinding. Bayangan menyeramkan kembali mengisi pikiranku. Suasana menjadi sangat horor. Lebih horor daripada sebelumnya.

“Srek.. Srek..”, terdengar lagi sebuah suara.

Aku yakin aku tak ingin mendengarnya. Tapi suara itu terus saja terdengar. Suara itu seakan merobek telingaku. Semakin terdengar kurasakan semakin panas. Aku semakin panik dalam pejaman mataku.

‘Aku harus membuka mataku!’, batinku seraya menggenggam erat tanganku sendiri.

Perlahan kucoba membuka mataku. Kututup lagi. Kucoba membukanya lagi. Dan kututup lagi. Sampai aku benar-benar berusaha keras membuka mataku.

“Tidak ada apa-apa..”, gumamku.

SREEET

“Hah? A.. Apa itu?”

Sebuah benda berwarna putih baru saja terbang melayang diatas kepalaku. Tepat dipandanganku. Melesat cepat menembus langit malam yang gelap. Warna yang kontras dengan kegelapan saat ini. Tenggorokanku tercekat. Sulit sekali untuk berteriak. Ah jangankan berteriak, mengucapkan satu huruf pun aku tak sanggup! Tak ada seorang pun yang kulihat berkeliaran disekitarku. Mungkin semua orang disini sudah lelap tertidur. Aku mencoba tenang. Potisive thinking. Kuhilangkan kembali bayangan-bayangan menyeramkan itu. Aku mencoba memejamkan indera penglihatanku lagi.

“OMONA!”, mataku terbuka kembali saat kurasakan suhu di sekitarku berubah.

“Hey dimana ini??”, mataku membelalak melihat pemandangan disekelilingku. Langit berubah menjadi kemerahan. Bulan menghilang dari tempat terakhir yang kulihat. Semua tenda lenyap. Kucari kedua temanku,mereka pun tiada. Aku mulai ketakutan.

“Kemana semuanya? Mengapa aku bisa disini?”

“APA ADA YANG MENDENGARKU??”, teriak ku bernada panik.

“Dimana kalian semua? Cepatlah kalian kembali! Aku takut!”, ucapku mungkin pada diriku sendiri.

Aku berdiri. Mulai melangkahkan kakiku. Melihat ke depan. Ke belakang. Ke kanan. Ke kiri. Mungkin saja teman-temanku tiba-tiba datang dan mengagetkanku.

“Baru kusadari awan berwarna kemerahan, apa sekarang sudah pagi dan aku ditinggalkan karena terlambat bangun? Tidak. Kwangmin dan Youngmin tidak akan setega itu padaku. Lalu kemana mereka?”, aku melangkahkan kakiku entah kemana. Aku sama sekali tidak tahu daerah ini.

Tiba-tiba saja..

“Minwoo, ikuti kami ke arah kanan!”, aku mengenal suara itu.

“Kwangmin! Dimana kau? Aku tak mau berjalan kesana sendirian!”

Kulihat ke arah kananku. Disana. Aku melihat tempat itu. Pohon-pohon besar yang bersuara  menyeramka ketika tertiup angin.

‘Apa aku benar-benar harus kesana?’, batinku ragu.

Aku membulatkan tekadku untuk ke tempat itu. Kulihat semakin jauh semakin gelap.

Tapi aku harus kesana. Melawan  ketakutanku. Daripada aku disini sendirian dan terjadi hal-hal aneh padaku? Oh aku tak mau itu.

Aku berjalan mengendap. Mencoba tak menghasilkan suara sedikitpun. Takut-takut ada makhluk lain yang mendengar dan mengira aku adalah mangsanya. Kuperhatikan pohon disana kokoh sekali, mungkin salah satu faktor umur juga. Kuperkirakan pohon itu berumur lima ratus juta tahun. Baiklah, mungkin tidak setua itu.

Aku mulai nyaman dengan suasana disini. Meski gelap namun disini tenang sekali. Aku merasa ada dalam duniaku sendiri. Tak membolehkan orang lain masuk kedalamnya. Tak pernah aku merasa setenang ini dalam kegelapan. Ya mungkin ini pertama dan terakhi..

“Ya Tuhan!”, kakiku kembali gemetar. Ketenangan yang kurasa hilang seketika itu juga. Ingin sekali aku melepas telingaku sebentar saja. Kudengar suara yang seakan merobek telingaku lagi. Suara seorang yeoja. Suara yeoja yang menangis.

Pikiran negatif ku muncul. Aku kembali merasakan ketakutan. Segala kemungkina tentang suara itu terbayang olehku.

Aku menutup telingaku agar tak ada suara yang terdengar. Namun suaranya begitu keras. Telingaku masih sanggup menerima gelombangnya.

“Tolong hentikan! Aku menyerah! Aku takut! Aku takut!”, teriakku yang entah akan didengar oleh siapa.

Aku tak peduli. Saat ini aku hanya merasa takut.

“Ah? Siapa disana?”, suara tangisan itu berhenti. Dia berbicara.

Rasa takutku mulai hilang. Suara itu mungkin bukan berasal dari makhluk menyeramkan yang ada di bayanganku.

“Apa kau yang tadi menangis??”, teriakku sambil mencari asal suara.

“Ya! Syukurlah aku menemukan orang lain disini! Hey aku dibelakangmu!”

Aku bisa dengan jelas mendengar suara yeoja itu. Tapi.. Dibelakangku? Mengapa dia ada disana? Di film-film horor, saat pemainnya melihat kebelakang maka saat itulah hantunya akan muncul.

“Kau.. Kau.. Kau manusia atau bukan?”, ucapku bergetar.

“Aku manusia. HEY!”

Sekejap yeoja itu sudah ada dihadapanku. Wajahnya sedikit basah. Mungkin karena dia menangis tadi.

“Kau??”

“Kau namja menyebalkan itu? Kenapa kau ada disini?”

“Dan kau yeoja menyebalkan? Sedang apa kau disini sendiri?”

Dia menekuk wajahnya. Mungkin kesal karena aku tak menjawab pertanyaannya. Malah bertanya balik padanya.

“Sudahlah! Aku tak tahu mengapa aku ada disini. Saat aku bangun semuanya sudah berubah. Aku sudah ada diluar tenda dan semuanya hilang. Tadi aku mendengar suara temanku memanggilku kesini namun sampai sekarang aku tak menemukannya..”, ucap yeoja itu sedikit tercekat. Kurasa ia sedang menahan air matanya.

“Jjinja?? Sama sepertiku! Apa kau membaca pikiranku dan mengarang semuanya??”, ucapku sedikit memaksa.

“Untuk apa aku membaca pikiranmu? Untuk apa aku mengarang semuanya? Dan apa kau berpikir tangisanku tadi hanya akting saja?”, dia mulai meneteskan air matanya. Aku tak tega juga.

“Mi.. Mianhae, mungkin kau benar. Sekarang lebih baik kita cari teman-teman kita bersama. Kajja!”

Aku menariknya. Tak peduli seberapa besar rasa kesalku padanya sebelum ini. Punggungku mulai mendingin. Tengkuk ku merinding.

“Aku merinding..”, ucap yeoja itu sambil memegang leher belakangnya.

‘Kenapa dia merasakan hal yang sama denganku?’, batinku.

Langkahku tiba-tiba tertahan. Mungkin apa yang aku dan dia rasakan akan terjawab sekarang.
Kulihat sesosok kain putih berdiri didekat pohon tak jauh dari tempatku berdiri. Tidak benar-benar putih. Ada bercak-bercak merah diantaranya. Kurasa itu darah. Sebuah benda hitam berjuntai indah dari bagian atasnya. Kurasa itu sebuah rambut. Panjang sekali.

Aku memandang penuh tanya pada yeoja disebelahku. Yang kupandang ternyata sedang memamerkan kepucatan wajahnya. Matanya tertuju pada sosok yang tadi kulihat.

“Nichan.. Kurasa kau merasakan apa yang aku rasakan..”, ucapku padanya.

“Aku mengerti Minwoo, tapi apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku benar-benar takut!”, baru kali ini aku melihatnya berekspresi seperti itu. Semua kekesalanku padanya luruh saat itu juga.

“Apa kau punya ide lain? Sepertinya ideku ini terlalu beresiko..”, ucapku padanya.

“Kurasa ide yang kudapat sama dengan idemu.”, dia memandang kearahku sekilas. Kemudian memandang pada sosok didepan kami itu.

“Baik. Kita lakukan sekarang.”

Aku berdoa dalam hatiku semoga langkah yang kuambil ini benar. Yeoja itu mulai melangkahkan kakinya.

Aku benar-benar belum menyentuhkan langkah pertamaku ke tanah, ketika..

“MINWOO!!”

Yeoja itu berteriak histeris sambil menatap keatas. Aku mengarahkan pandanganku ke arah yang sama.

Sosok putih yang tadi berada di hadapan kami kini berada diatas kepala kami. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Aku benar-benar takut. Aku seperti sedang berada dalam pembuatan film horor. Hanya saja tanpa script. Sosok putih itu menampakkan wajahnya. Wajah pucat. Dia tersenyum. Lebih tepatnya menyeringai ke arah kami. Dari sudut-sudut bibirnya terlihat darah segar yang mengucur perlahan. Aku tak tahu makhluk apa yang ada dihadapanku.

“MINWOO! Makhluk apa itu??”, Nichan memelukku. Kurasakan tubuhnya bergetar hebat.

“Tenang. Kau.. Coba kau tenangkan dirimu dulu..”, ucapku mencoba menenangkannya meski aku sendiri takut melihat apa yang terjadi dalam pandanganku.

Yeoja ini sepertinya menangis. Kalau aku tak punya muka, aku pun sangat ingin menangis disini. Tak pernah aku mengalami kejadian seperti ini dalam hidupku.

“Baiklah, hitungan ketiga kita lari dari sini, arrasseo?”, ucapku so dewasa.

Dia mengangguk.

“Satu.. Dua..”

Yeoja itu sudah berlari sebelum aku mengucapkan angka tiga. Aku mengikuti langkahnya. Berlari sekencang yang kumampu. Aku sempat melemparkan pandanganku keatas. Sosok menyeramkan itu sudah hilang. Namun aku belum berani menghentikan laju kakiku karena kupikir dia masih dibelakangku.

“Kita akan lari kemana lagi Minwoo-ah?”, tanya yeoja itu memalingkan wajahnya kearahku saat kami dihadapkan dengan jalan yang bercabang.

“Aku tak tahu, sesukamu saja. Aku akan mengikutimu”, jawaban yang sungguh bodoh.

Yeoja itu mengambil jalan ke kanan. Aku tak peduli kemana jalan ini akan mengarahkan kami, yang terpenting sekarang bisa jauh dari makhluk mengerikan itu.

Dia berhenti. Aku ikut berhenti dibelakangnya.

“Aku lelah, aku ingin istirahat sebentar.. Apa makhluk itu masih mengikuti kita?”, tanya yeoja itu dengan nafas terengah.

Aku mengarahkan pandanganku kebelakang. Hanya ada pohon-pohon besar.

“Ya mungkin kita akan beristirahat sebentar disini. Aku juga lelah..”, ucapku sambil merebahkan tubuhku di akar-akar pohon yang besar.

Suara kresek kresek (?) dari dedaunan diatas kepalaku mewarnai kesunyian. Tak kuhiraukan. Aku menutup mataku. Merasakan rasa lelah yang semakin lama semakin luruh dari tubuhku. Nafasku mulai teratur.

Suara-suara dedaunan itu masih terdengar. Intensitasnya meningkat. Semakin sering terdengar. Kubuka mataku perlahan.

“Aaaaaaaaaaaaaaa………..”, aku bangun dari posisi tidurku. Aku langsung berlari tanpa memperdulikan Nichan.

Saat membuka mata tadi sosok yeoja berambut hitam panjang dengan kain putih yang melingkar di tubuhnya menghiasi kedua indera penglihatanku. Sudut bibirnya masih mengeluarkan darah yang kurasa lebih banyak daripada terakhir aku melihatnya. Dia menyeringai kearahku. Lengannya memanjang dan hampir saja menyentuh ujung rambutku.
Aku sedikit melihat kebelakang. Kuperhatikan Nichan masih berlari menyusulku. Langkahnya semakin berat. Kurasa dia semakin lelah. Aku tak tega melihatnya seperti itu. Aku memperlambat lariku sampai dia bisa menyusulku.

“Kau.. Kau masih kuat berlari Nichan-ah?”, tanyaku khawatir.

Dia mengangguk.

“Kau harus berusaha untuk keselamatan kita. Fighting!”

Aku sempat melihat kebelakang. Sosok putih itu ada disana. Dia tidak terlihat bergerak, namun dia pun seolah tak menjauh. Tapi bukan saatnya mempermasalahkan itu.

“AAAH! MINWOOO!”, aku mendengar teriakan Nichan. Dia hilang dari pandang..

“AAAAAAAAAAAHHH!!”

***

“Uh!”

Mataku yang baru saja membuka menutup lagi. Silau. Cahaya yang diterima indera penglihatanku terlalu besar sehingga ia tak mampu menerimanya.

“Minwoo! Kau sudah sadar??”

Aku mengenal suara itu.

“Eh, Kwang?? Mengapa aku disini bersamamu?”

Aku melihat ke sekitar. Sebuah tenda yang cukup luas. Ini tenda senior. Kulayangkan pandanganku ke tiap sudut.

Dia tersenyum padaku. Dia. Yeoja itu. Yeoja yang baru saja bertaruh nyawa denganku.

“Aku disini menunggumu sadar. Kau tidak tahu apa yang baru saja terjadi dengan dirimu sendiri?”

“Aku berlari menghindari sebuah makhluk mengerikan bersama seorang yeoja. Makhluk itu hampir saja menyentuhku, untungnya aku berhasil kabur. Kemudian aku terperosok ke sebuah lubang di tanah. Aku tak tahu lagi”, ceritaku panjang lebar.

“Kau ini bicara apa? Tadi malam saat kita sedang tidur diluar, kau tiba-tiba mengamuk. Aku dan Youngmin sangat panik melihat tingkahmu itu. Semua orang berkumpul melihatmu. Kau bersuara aneh, bukan suaramu. Kau juga bicara  ngelantur, bicara dalam bahasa lain yang tak kuketahui..”

“Kau kesurupan, Minwoo..”, ucap Kwangmin dengan nada horor.

“Mwo? Aku kesurupan??”, aku memandangnya tak percaya.

Jadi yang kualami tadi malam itu hanya mimpi?

“Dan kau tahu apa? Sesaat setelah kau kesurupan, yeoja lucu itu juga kesurupan. Panitia susah payah menenangkan kalian berdua, haha kenapa harus kalian ya?”

Hah? Jadi yeoja itu juga?

Pertanyaan Kwangmin kini memenuhi setiap sel di otakku juga. Kenapa harus yeoja itu?

“Yeoja lucu itu juga baru sadar beberapa menit sebelum kau sadar..”, lanjutnya.

Yeoja yang baru saja dibicarakan Kwangmin lewat didepan kami. Dia tersenyum kearahku. Aku tersenyum balik padanya.

‘Mungkin kejadian tadi malam memang benar-benar terjadi..’, batinku.

“Hey kalian! Cepat keluar! Youngmin.. Youngmin kesurupan diluar!!”, ucap seorang sunbae pada kami.

“MWO??”

Aku dan Kwangmin dengan segera melangkahkan kaki kami ke lapangan. Disana. Youngmin. Aku  melihatnya. Bukan hanya ada dia disana. Di belakangnya ada sosok yeoja berambut hitam itu. Persis tadi malam. Masih dengan seringainya.

Nichan memandangku. Hanya aku dan dia yang tahu kondisi Youngmin sekarang.

END

7 MARET 2011

Jangan tanyakan ya kenapa ceritanya kaya gini. Aku cuma terobsesi pengen bikin cerita horor, dan beginilah jadinya, wakwaaaak. Buat yang lagi searching FF dan tiba-tiba buka page ini dan kemudian baca, gomawo yaaaa 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s