FF EXO : IMAGINE


Title

IMAGINE

 

Cast

Xi Lu Han

Han Rin Rin

Shin Ni Chan

 

Genre

Romance

 

Rating

Teenage

 

Length

Songfic

 

Author

@ririnovi

 

FF buat @innanichan yaaaa! Cast nya udah tuh Shin Ni Chan sama Han Rin Rin yang tak lain dua-duanya adalah namamu -_-

Ceritanya aku sama Rina mau saling bikinin FF, tapi mana ya FF dari Rina ko belom ada juga sampe sekarang? Wkwk ditunggu loh secepatnya 😉

Maaf kalo banyak typo, keterangan waktunya agak berbelit-belit dan hal-hal ga sempurna lainnya. Sesungguhnya FF ini baru aku baca ulang sekali dan belom sempet aku edit lagi, hahaaay.

Okai, nih cast utamanya member EXO-M, Luhan. Bias Rina di EXO selain uri uljima leader, Suho 😀

There are no necessary words to be said
The moment our eyes met

Aku berjalan masuk ke sebuah toko roti. Disinilah rutinitasku. Aku bekerja di toko roti ini untuk membiayai kuliah. Apa kau pikir orangtuaku tidak mampu membayar biaya kuliah? Bukan. Aku hanya tak mau bergantung pada mereka yang sudah jelas juga tidak mempedulikanku. Buktinya? Sudah 6 bulan ini aku pindah -lebih tepatnya kabur- dari China ke Korea sendiri. Tanpa mereka tahu. Dan tak sedikitpun mereka mencariku. Ck, bukan hal yang salah kan jika aku balik tak mempedulikan mereka?

Kehidupanku setelah lepas dari orangtua cukup membuatku lelah. Setiap siang aku harus pergi ke kampus untuk belajar. Sore harinya aku ke cafe untuk bekerja hingga larut malam.

“Gege..”

Ah, dia datang.

Rinrin. Dia yeojachinguku. Teman sekampusku juga, namun berbeda kelas. Aku datang ke Korea karena dia. Dulu kami pertama kali mengenal di salah satu jejaring sosial. Kami sering berkicau bersama disana. Lama-lama kami saling bertukar nomor telepon. Dan saat aku memutuskan untuk kabur dari rumah, tak segan-segan aku melarikan diri ke tempatnya.

“Kau datang hari ini? Apa tidak banyak tugas?”, tanyaku padanya.

“Tugasku memang sangat banyak. Tapi aku sempatkan sedikit waktu mampir kesini.”, ucapnya tersenyum manis.

“Gomawo, chagi.”

Aku memberinya sebungkus roti berwarna cokelat. Kesukaannya.

“Ini, bawa dan pulanglah. Aku tak mau kau dimarahi Park sonsaengnim lagi gara-gara tak mengerjakan tugas!”, ujarku galak.

“Aku seperti peminta-minta yang kau usir karena mengganggu.”, ucapnya sedih.

“Aniyo. Kau benar-benar manis saat tersenyum, jadi tersenyumlah.”

Pipinya merona.

“Geurae, aku akan segera pulang.”, ucapnya menyerah.

“Hati-hati chagi..”, ucapku saat dia keluar dari pintu toko.

Aku kembali ke belakang meja kasir, tempatku yang seharusnya disini. Biasanya pada jam 7 malam seperti sekarang orang-orang ramai berdatangan, namun tidak hari ini. Yeoja itu juga tidak datang. Bukan, maksudku bukan Rinrin. Seorang yeoja yang selalu duduk di dekat jendela. Memesan roti blueberry dan membiarkanku memandanginya hingga larut.

Nichan, Shin Ni Chan. Aku tak pernah tahu persis sejak kapan ia mulai menarik mata dan pikiranku. Namun sampai sekarang ia masih membuatku bingung. Dengan apa aku harus memberitahu dunia bahwa kami adalah sepasang insan yang saling mencintai?

Ah, dia datang! Aku memberikan senyum termanisku. Manisnya melebihi roti-roti yang ada dihadapanku. Ia tersenyum balik, menghampiriku dengan ceria. Berdiri dihadapanku. Tak membiarkan pandangannya jatuh kearah lain. Ya Tuhan, aku menyukainya!

Without letting the girl next to me know
So she won’t know anything
I am falling more and more for you

“Hari ini kau terlambat 10 menit untuk mengambil roti blueberry-mu.”, ucapku ramah.

Dia terkekeh manis. “Adikku sedikit memaksaku untuk tak keluar malam ini. Jadi, aku sedikit terlambat. Apa kau kesepian, oppa?”, tanyanya menggodaku.

“Aku memang kesepian. Kau lihat? Toko ini sangat sepi.”, ujarku mengadu.

“Iya benar, tidak biasanya. Mungkin Abeoji perlu menata ulang toko ini agar terlihat lebih menarik, bagaimana menurutmu?”

Ayahnya memang pemilik toko roti ini. Dan dia bertugas sebagai penerus yang harus memantau keadaan toko. Maka dari itu, Nichan selalu datang kemari pada jam 7 malam. Ayahnya mengatakan, jam-jam itu adalah penentu sukses atau tidaknya usaha kita.

“Ehm, bagaimana jika kita saja yang menata ulang toko ini? Kurasa Abeoji-mu takkan keberatan.”, usulku.

“Kau benar juga. Mungkin besok aku akan mengatakannya pada Abeoji.”, ujarnya sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mungkin mulai memikirkan hal apa saja yang perlu diubah dari toko ini.

“Desainnya memang terlihat klasik. Lebih cocok untuk orang-orang berumur diatas 30. Apa tidak ada anak muda seumuran kita yang datang kesini?”, tanyanya sambil meletakkan pandangannya pada kedua mataku.

“Sejauh yang kulihat memang kebanyakan hanya orang-orang seumur ahjussi-ku yang duduk mengobrol disini. Yang seumur kita paling hanya membeli dan langsung pulang kembali.”, laporku jujur.

“Kalau begitu besok siang apa kau ada acara?”, tanyanya.

“Ehmm.. siang? Sebenarnya..”

“Oh pasti kau ada acara dengan yeojachingumu ya? Ya sudah, biar aku membeli perlengkapan dekorasi sendiri saja.”, ucap Nichan sembari menyunggingkan seulas senyum tipis.

“Aniyo! Aku akan mengantarmu besok siang.”, ucapku refleks.

Apa yang baru saja kulakukan? Besok siang aku harus menunggu Rinrin di studio musik. Dia akan mengikuti audisi menyanyi untuk mengisi soundtrack salah satu drama yang akan rilis akhir bulan depan.

“Baiklah, aku sangat senang mendengarnya! Kuharap kau menghubungi besok, oppa!”, ujarnya ceria sembari berjalan ke sebuah meja dekat jendela. Tempat biasanya.

Seulas senyum terukir dibibirku. Mungkin jika Rinrin tak mengetahuinya semua akan tetap baik-baik saja. Aku tahu Nichan juga merasakan hal yang sama denganku. Dia juga menyukaiku meski ia sendiri tahu aku sudah mempunyai Rinrin.

 

I love her and I’ve never been like this before
But I only see you and I keep shaking
I’m unfamiliar with myself being like this

Keesokan harinya, aku berangkat ke kampus meski sebenarnya aku tak ingin. Mataku sangat terasa berat untuk terbuka. Tadi malam aku hanya tidur selama 2 jam. Pukul 11 aku menyudahi pekerjaanku dan segera pulang ke apartemen. Dan disanalah, otakku sibuk berpikir. Apakah aku lebih baik menemani Rinrin mengikuti audisi atau mengantar Nichan membeli perlengkapan dekorasi?

“Gege! Lihat apa yang kubawa hari ini!”, teriak seorang yeoja sambil berlari kearahku. Rinrin, seharusnya ia tak muncul di scene ini.

Tapi melihat wajahnya yang sangat ceria aku tak berani mematahkannya. Jadi, kucoba membalas keceriaannya itu.

“Apa yang kau bawa? Apakah itu sebuah gitar??”, tanyaku antusias saat melihat barang yang ia sampirkan di pundaknya.

“Ya, aku akan memakai gitar untuk audisi hari ini. Yang kudengar, bila menggunakan instrumen akan menambah poin penilaian.”, ia menatap gitarnya penuh harap.

Audisi. Ya, audisi. Siang ini.

“Kau akan melihatku menang hari ini, gege. Tapi kau jadi mengantarku kan?”, tanyanya meyakinkan.

“Oh ne. Ne, tentu saja.”, jawabku gagap.

Kesalahan apa yang akan aku lakukan hari ini? Aku tak tega membuatnya bersedih karena harus mengikuti audisi tanpaku.

Dia mengucapkan beberapa kata yang tak dapat kutangkap karena terlalu sibuk melamun. Kemudian dia pergi masih dengan ceria. Rasa bersalah itu hadir lagi. Menjalar dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Aku bolos di semua mata kuliah hari ini. Memilih duduk di bangku samping kelas Rinrin. Memperhatikan kapan ia keluar. Menunggunya. Dan setelah ia keluar, aku akan mematahkan semangatnya? Manusia macam apa aku?

“Kurasa aku tak kuasa mengatakan langsung padanya. Bukan maksudku melakukan ini, chagi. Tapi izinkan aku kali ini saja bertindak sebagai pengecut.”

Aku mengetik sebuah pesan singkat untuk Rinrin.

To : Nae Chagiya

Chagi, maafkan aku. Aku tak bisa menemanimu audisi hari ini. Ada hal penting yang harus kulakukan, dan ini sangat penting. Ini berhubungan dengan orangtuaku. Kuharap kau mengerti.

SENT.

 

I want to go to you
You’re right in front of me, but next to me is her
I keep imagining bad things

Aku segera berlari menjauh dari kelas Rinrin. Berharap ia jangan dulu keluar dan melihatku. Aku tak siap bertemu dengannya sekarang.

“Kau dimana?”, tanyaku pada sebuah suara yang berasal dari ponselku. “Baiklah, aku ke toko sekarang juga.”

Geurae, aku akhirnya memilih mengantar Nichan membeli perlengkapan dekorasi toko daripada menemani Rinrin audisi. Perdebatan hati yang mengakibatkanku harus mengorbankan salah satu. Ponselku berbunyi. Mengalunkan nada penanda pesan masuk.

From : Nae Chagiya

Ne gege, gwaenchanha. Gege hati-hati ya, dan doakan aku.

Untung saja yeojachinguku ini baik hati. Tapi tetap saja banyak hal yang membuatku berat untuk melangkah. Rinrin sangat baik. Bahkan terlalu baik. Tapi aku malah membohonginya. Picik.

“Annyeong Luhan oppa.”, sapa seorang yeoja tepat saat aku baru memasuki pintu toko. Kulihat ia sedang duduk di meja dekat jendela. Tempat favoritnya.

“Annyeong Nichan. Mianhae membuatmu lama menunggu. Apa kita bisa pergi sekarang?”, tanyaku tanpa basa-basi.

“Duduk dan istirahat sajalah dulu selama beberapa menit. Kau tak sedang sibuk, kan?”, tanyanya lembut. Membuatku lupa untuk bernapas dalam beberapa detik.

“Ne, tapi bukankah lebih baik jika kita tidak membuang-buang waktu? Akan ada banyak pekerjaan setelahnya, bukan?”, tanyaku sedikit memaksa.

Nichan terlihat berpikir. “Ya, kau benar juga. Tunggu sebentar, aku ambil tasku dulu didalam.”

Aku mengangguk tanda menyanggupi permintaannya. Ponselku berdering lagi. Kali ini nada telepon masuk. Kurogoh dengan cepat benda itu di saku celanaku.

“Rinrin?”, ucapku sedikit terpekik. Kujawab panggilannya.

“Yobose..”

“Gege.. Gege.. aku takut..”, potongnya sebelum aku selesai menyapa. Suaranya tertahan, seperti sedang.. menangis?

“Waegeurae? Apa yang terjadi, chagi?”, tanyaku panik.

“Aku.. Aku gagal dalam audisi pertama..”, kini ia benar-benar terdengar sedang terisak. Membuat dadaku sakit.

“Kau.. gagal? Bagaimana mungkin?”, tanyaku tak percaya.

“Tadi aku terlalu gugup, jadi aku tak bisa mengontrol suaraku. Tapi untung saja juri baik hati itu mau memberiku kesempatan kedua. Setidaknya aku masih mempunyai harapan..”, suaranya mengecil. Tersirat nada keputusasaan dibalik kata-katanya.

“Aku akan mendukungmu, chagi. Apapun yang terjadi jika dengan kehadiranku bisa membuatmu lebih tenang, aku akan melakukannya.”

Aku menutup telepon tanpa persetujuan darinya terlebih dahulu.

“Kau baru saja menghubungi siapa, oppa?”, tanya Nichan yang sudah bersiap untuk pergi.

“Kau tahu aku mempunyai yeojachingu, dan dia prioritasku. Aku tahu kau akan sangat sakit hati tapi kumohon kau jangan membenciku. Mianhae, aku tak jadi mengantarmu. Yeojachinguku membutuhkanku sekarang juga. Sekali lagi, mianhae..”, aku membungkuk dalam untuk beberapa kali.

Sempat kutatap matanya. Aku tahu dia kecewa. Tarikan bibirnya yang mencoba tersenyum tak terlihat tulus. Aku hanya tak ingin menyesal. Aku juga tak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi jika Rinirin mengetahui bahwa aku telah membohonginya.

 

I can’t keep keep doing this, but
Though I know, though I know
I keep getting attracted to you

Aku tahu dimana audisinya akan dilangsungkan. Maka dari itu tak banyak waktu yang kubutuhkan untuk sampai disana. Nafasku tersengal-sengal. Kuharap aku tak terlambat.

Studio audisi masih sesak oleh para peserta yang memiliki minat yang sama dengan Rinrin. Disinilah aku. Ditengah kerumunan orang-orang yang tak kukenal. Seperti orang bodoh yang tersesat di hutan rimba.

Kumohon kali ini saja. Aku ingin benar-benar memfokuskan diri untuk menyemangati Rinrin. Aku tak ingin ada pikiran lain yang menggangguku.

“Rinrin..”, gumamku saat melihat seorang yeoja yang memakai dress berwarna merah muda. Sedang duduk manis bersama gitar yang sengaja ia pangku. Kedua tangannya menggenggam keras badan gitar. Dia sangat gugup. Aku menghampirinya, namun ia tak menyadarinya.

“Han Rinrin, kau pasti menang!”, ucapku lembut tepat di telinga kirinya. Ia mengarahkan pandangan padaku.

“Gege??”

Ditidurkan gitarnya di tempat yang semula ia duduki kemudian beralih memelukku.

“Gege, aku takut..”, kudengar samar isakannya. Aku mengelus pelan rambut panjangnya yang hitam legam. Mencoba membuatnya kembali tenang. Berharap kepercayaan dirinya akan bangkit lagi.

“Kau pasti bisa! Kapan waktu audisimu yang kedua?”, tanyaku.

“Lima peserta setelah ini. Kau akan tetap menemaniku, kan?”, tanyanya penuh harap.

Senyumku mengembang untuknya. Kurasa semangatnya mulai muncul lagi. Aku senang, meski setengah pikiranku tetap tertuju pada Nichan. Dalam diam, ada rasa bersalah karena meninggalkannya.

“Gege, sekarang waktuku.”, ucapnya membuyarkan lamunanku yang entah sejak kapan.

“Ya, hwaiting chagi!”, aku mengusap puncak kepalanya dan ia tersenyum bahagia.

Raganya mulai hilang, masuk ke sebuah ruangan yang kubayangkan terdapat 3 juri didalamnya. Aku duduk di kursi tunggu. Mereka-reka kejadian yang mungkin akan terjadi didalam.

Ingatanku kembali pada Nichan. Tanpa ragu kuketik sebuah pesan singkat untuknya.

To : Nichan

Bagaimana? Apa pencarianmu berjalan lancar?

Aku menunggu balasannya dengan keinginan untuk meneleponnya. Tapi kuurungkan niatku. Ternyata Nichan membalasnya cepat.

From : Nichan

Tentu saja. Aku menikmati perjalananku dan hampir semua barang yang kucari ada. Bagaimana dengan yeojachingumu?

Aku tersenyum puas. Bersyukur karena ternyata Nichan tak marah padaku.

To : Nichan

Semua berjalan lancar. Terimakasih sudah mau mengerti. Apa ada hal yang perlu kubantu?

Aku mulai senang dengan permainan ini. Semula kupikir aku akan terjebak dalam hal rumit. Namun, ternyata mereka berdua yeoja yang baik. Kupikir takkan apa jika mereka tak saling tahu yang sesungguhnya. Karena sekeras apapun kucoba menghilangkan bayangannya, tetap ia selalu bisa menarikku kembali.

 

You steal my heart and you enter my heart
You make me bad (You make me bad)
You make me go crazy

 

From : Nichan

Aku tidak berhasil menemukan hiasan-hiasan untuk ditempel di jendela. Kurasa warna kuning akan terlihat cerah. Maukah kau mencarikannya setelah urusanmu selesai?

To : Nichan

Tentu. Aku akan mencarikannya untukmu.

Rinrin keluar dari ruangan audisi tepat saat pesan untuk Nichan terkirim. Kutenggelamkan ponselku pada saku celanaku dan mengamati Rinrin. Ia membuat ekspresi yang sulit ditebak.

“Bagaimana, chagi?”, tanyaku kemudian.

“Aku sudah melakukannya lebih baik. Tapi belum, gege. Pengumumannya 3 hari lagi. Tapi kau tahu? Tadi juri..”

“Duduk dulu, chagi.”, aku menginterupsi perkataannya yang sangat antusias itu. Dia duduk tepat disampingku.

“Juri mengatakan bahwa aku mempunyai suara yang baik. Sangat baik, layaknya penyanyi profesional. Mereka juga memuji penghayatanku dalam bernyanyi dan instrumen yang kubawa sangat cocok dengan lagu yang kunyanyikan. Kau tahu, gege? Aku sangat sangat senang sekali!”, refleks ia memelukku.

Aku lega. Ini yang ingin kulihat darinya. Tunggu saja sampai ia mendapatkan gelar kemenangannya dari juri. Aku akan melakukan apapun yang diinginkannya untuk merayakan semua.

“Kau yakin akan menang kan, chagi?”, tanyaku dan kemudian ia melepaskan pelukannya. Menatapku ragu.

“Entahlah, kurasa aku tak berhak untuk banyak berharap.”, ia sedikit memasang ekspresi yang seakan berkata aku-belum-melakukan-yang-terbaik.

“Ya! Aku saja yakin kau akan menang, kenapa kau sendiri tak yakin? Sungguh, kau telah mematahkan semangat penggemarmu ini.”, aku berpura-pura sedih.

Ia tertawa kecil sebelum akhirnya menjitak kepalaku pelan. Aku meringis meski tak sakit.

“Kau harus yakin ya. Begini, kau boleh meminta satu hal padaku jika kau menang. Apapun itu.”, tawarku.

Dia seperti berpikir. “Benarkah? Aku boleh meminta apapun?”

Aku mengangguk. Dia tersenyum, terlihat senang dengan penawaranku.

“Oya ge, bagaimana dengan urusan orangtuamu? Mianhae membuatmu mengesampingkan urusan penting itu.”, ujarnya polos. Aku terhenyak.

“Untuk itu, ehm.. tidak penting. Itu.. sudahlah, tak penting.”, aku tak mengira ia akan bertanya soal kebohonganku itu. Aku teringat pesan Nichan. “Chagi, sudah selesai kan? Bagaimana jika kau mengantarku membeli beberapa barang? Toko tempatku bekerja sedang melakukan perombakan.” ujarku.

“Apa yang akan kita beli?”

“Tadi Nichan-ssi mengatakan aku hanya perlu membeli beberapa hiasan untuk ditempel di jendela. Kurasa kau memiliki selera yang sama dengannya.”

“Ehm baiklah. Kajja!”

Kami berjalan ke arah pusat perbelanjaan tak jauh dari situ. Tanpa ba-bi-bu langsung menuju toko pernak-pernik.

“Bagaimana konsep baru tokomu?”, tanya Rinrin.

Ah benar, aku sama sekali tak menanyakan soal konsep barunya. Lalu aku harus membeli barang seperti apa?

“Bodohnya aku, chagi. Aku tak bertanya bagaimana konsep barunya.”

Aku merogoh saku celana untuk mengambil ponsel, sementara Rinrin menertawakanku. Mungkin karena kelakuan bodohku ini.

“Yoboseyo.. Ya, aku lupa bertanya konsepnya, jadi aku tak tahu apa yang harus kubeli.. Ne? Couple?.. Kau dan aku?”, aku melirik Rinrin yang sedang asyik melihat-lihat barang.

Tak lama, kudekati Rinrin.

“Jadi bagaimana konsepnya, gege?”, tanyanya.

“Konsepnya couple. Ya, seperti kau dan aku.”, ucapku mengulangi perkataan Nichan di telepon tadi.

Rinrin mengangguk lalu mulai mencari-cari barang yang sekiranya cocok.

“Nichan-ssi sepertinya atasan yang baik.”, ucap Rinrin tanpa mengalihkan pandangan dari barang yang sedang ditelitinya.

“Tentu saja, aku menyukainya.”

Bodoh. Untuk apa aku mengatakan sejujur itu pada Rinrin?

“Aku menyukai caranya memimpin perusahaan.”, ralatku.

“Ya, kurasa dengan kebaikannya seperti itu, orang-orang pasti menyukainya juga.”

Aku tak tahu harus berkomentar apa. Kurasa Rinrin mulai curiga padaku. Pabo namja! Kenapa kau bisa mengatakan menyukai Nichan dihadapan Rinrin? Aku mengutuk diriku sendiri.

“Aku bukan curiga padamu, gege. Aku pun pasti menyukainya karena setahuku, dari cerita-ceritamu tentangnya, dia memang pantas untuk disukai.

 

I just do what I want
Locking eyes with you right now
Smiling at the stories you’re telling

Kami sampai didepan toko. Hari ini cafe sengaja ditutup lebih awal untuk persiapan rombak. Tidak lucu rasanya jika ada pengunjung yang datang saat kami sedang mendekorasi ruangan.

“Aku akan mulai mendekor toko ini. Tak apa kan jika kau pulang sendiri?”, tanyaku hati-hati.

“Ne, gwaenchanhayo. Semoga pekerjaanmu lancar, gege. Kau tahu aku sangat mendukungmu lebih dari yang kau tahu.”

Tanpa diduga, ia mendaratkan bibirnya di pipi kananku. Aku sedikit tersentak dengan spontanitasnya. Kurasa ia benar-benar bahagia saat ini dan tak bisa meredakan emosi bahagianya. Namun, aku ikut senang.

“Aku tahu. Sekarang pulanglah sebelum langit gelap. Aku akan menjagamu lebih dari yang kau tahu.”, aku mengulang sebagian kalimatnya. Membuatnya terkekeh pelan sebelum akhirnya berpamitan dan menaiki taksi pertama yang lewat didepan toko.

Seorang yeoja keluar dari toko sembari membawa satu kotak kertas yang sepertinya sudah menjadi sampah.

“Kau sudah datang, oppa? Kelihatannya lelah sekali. Ayo masuklah..”

Nichan memasukkan kotak tersebut pada tempat sampah didepan tokonya kemudian menarik tanganku masuk.

“Wah, sudah banyak yang ditata ulang ternyata. Kau melakukannya sendiri?”, tanyaku.

“Tentu. Tadinya aku akan melakukannya sendiri hingga akhir. Untung kau datang, jadi kau mau membantu, kan?”, pintanya.

“Aku tak punya alasan untuk menolak. Jadi setelah ini, apa yang akan kita kerjakan?”

Matanya yang indah mampu mengunciku. Memaksaku hingga enggan berkata tidak. Ia mulai mengarahkanku untuk pekerjaan selanjutnya dan kami melakukannya bersama-sama.

 

I’m sorry that I’m not doing those things
Actually, my eyes are busy
I didn’t even know your cup over flowing

Kami melakukannya dengan baik. Semua pekerjaan telah selesai sekarang. Hanya dalam waktu 3 jam saja. Toko ini masih bernuansa klasik dengan kayu-kayu jati kokoh di berbagai sudut. Namun, Nichan sengaja memberikan sentuhan modern dengan pernak-pernik khas remaja. Membuat toko ini terkesan lebih fresh. Lucu, namun tidak kekanak-kanakan.

Kami duduk di salah satu meja. Melepas lelah yang menumpuk di pundak sejak tadi.

“Biar kuambilkan kopi.”, ujar Nichan sembari bangkit dari tempat duduknya. Menghampiri meja kasir dan mengambil cup minuman. Kemudian ia beranjak kearah mesin penyeduh kopi yang berada di meja yang sama.

Aku mengambil posisi didepan meja kasir. Tepat dihadapan Nichan. Menatapnya, dan merasa menyukainya lebih jauh.

“Oppa, sebenarnya aku menyukaimu.”

Mataku membulat sempurna. Aku tidak salah dengar, kan? Dia bilang dia menyukaiku? Demi Tuhan aku sudah tahu. Tapi aku tak tahu bahwa ia akan mengatakannya langsung padaku.

“Mungkin kau sudah menyadarinya, oppa. Hanya kau pegawai yang kupanggil oppa, dan hanya kau pegawai yang selalu kutunggu untuk berada dibelakang meja kasir ini.”, ia berkata sedikit canggung.

“Mianhae, aku lancang.”, ucapnya menunduk sembari menyodorkan cup minuman yang sudah terisi penuh oleh capucino.

Aku menghembuskan nafas panjang. Tak tahu harus menjelaskan apa padanya. Mengatakan bahwa aku juga sudah lama mengaguminya? Menyukainya, bahkan mungkin mencintainya? Kurasa tidak.

“Gwaenchanha, terimakasih kau mau mengatakannya.”, ucapku. Ia tak menatapku. Sibuk mengambil cup untuk diisi dengan kopi lagi, untuk dirinya.

“Tapi..”, kutatap kedua matanya dengan gugup. “Kau tahu sendiri aku sudah mempunyai yeojachingu. Kuharap.. kuharap kau mengerti..”, aku ikut menundukkan kepala. Memaki diriku yang tak bisa berkata jujur padanya. Tak bisa mengatakan dengan tegas bahwa..

“Aku juga menyukaimu.”, kata-kata yang meluncur dari mulutku, tanpa aku menginginkannya keluar.

Mataku melihat pandangannya yang kosong. Menatap entah pada apa. Yang kutahu, dia pasti kecewa. Aku membuatnya kecewa lagi.

Suara air yang mengalir memecahkan keheningan. Nichan terperanjat saat didapatinya kopi yang meluap dari cup. Membuatnya gelagapan. Baru saja aku akan menawarinya sebuah kain, ia meninggalkanku dan berjalan kearah toilet.

Mian. Mianhae.

 

I love ’em all everything about her
Even if it’s so bad, I just wanna hustle
If you weren’t next to me
I think I would’ve gone to her and it
Would’ve gone down tonight

Nichan kembali setelah mencuci tangannya. Ia kembali mengambil cup minuman lalu mengisinya hingga penuh. Kali ini tak melebihi batas seperti tadi.

Setelah mengambil sebuah sedotan, ia duduk di sebuah meja. Aku tak mengikuti langkahnya. Baru mataku saja yang mengikutinya.

“Aku tahu kau sangat mencintainya, makanya aku tak pernah mengatakan ini padamu.”, ujarnya berbicara seperti tanpa beban.

Dan kenapa kini kau mengatakannya? Padahal aku sudah mencoba memendamnya.

“Aku mengatakannya karena aku iri. Iri pada yeoja yang bisa mendapatkan namja baik dan bertanggungjawab sepertimu. Selain itu, aku juga ingin kepastian. Apakah kau menyukaiku juga atau selama ini perhatian yang kau berikan hanya berupa wujud hormatmu pada seorang atasan.”

Aku mulai melangkahkan kakiku mendekatinya. Duduk berhadapan dengannya. Kulihat ia sedang asyik menghisap minumannya dengan sedotan. Agak berlebihan hingga ia menghabiskan setengahnya dalam waktu singkat. Aku mengerti keadaannya dan aku mengerti dengan jelas.

“Aku juga menyukaimu. Perhatian yang kuberikan padamu sama dengan yang kuberikan pada yeoja-ku. Tapi.. aku tahu batas. Aku tetap harus mencintainya lebih daripadamu.”

Ia bersandar di kursi. Melihat kearah jendela yang tertutup. Desahan kencangnya membuat hatiku terombang-ambing diatas rasa bersalah.

“Kau bisa mempercayai kata-kataku. Karena aku pasti akan langsung berlari pada yeoja-ku seandainya kau tak disini. Aku disini karena ada kau.”

“Kenapa kau masih mendekatiku jika nyatanya kau memang mencintai yeojachingu-mu?”, tanyanya menatap mataku dengan tatapan sayu.

“Karena aku tak bisa menolak saat kau ada didekatku. Aku tahu ini salah, tapi aku juga tak bisa menghindarinya. Nyatanya kau terlalu mudah masuk kedalam hidupku. Membuatku mengurungmu dan akhirnya seperti sekarang.”

“Aku ingin semuanya selesai malam ini juga.”, ucapnya yang kubalas dengan tatapan tak mengerti.

“Lebih baik kau mengundurkan diri dari sini. Aku tak ingin menyakiti perasaan yeojachingu-mu. Pulanglah ke rumah orangtuamu, mereka sudah mencarimu sejak lama.”, ucapnya membuat keningku berkerut. Heran. Tidak mengerti.

“Mianhae, mianhae karena aku sudah membohongimu selama ini. Aku sangat egois. Aku tak ingin cepat-cepat kehilanganmu, maka dari itu aku tak memberitahukannya padamu.”, suaranya merendah kemudian terdengar isakan kecil.

Aku kaget melihatnya tiba-tiba menangis. Ingin rasanya aku mendekap tubuh mungilnya. Memberi sedikit ketenangan untuknya. Namun kuurungkan.

“Hampir setiap siang orangtuamu menelepon kemari. Entah darimana mereka mendapatkan informasi tentang tempatmu bekerja. Yang pasti aku mengatakan pada mereka bahwa kau sudah tidak bekerja disini. Tapi aku berjanji akan memberitahu keberadaanmu.”, ia menangis dan kini aku benar-benar ingin memeluknya.

“Kau memang salah, tapi aku harus berterimakasih padamu karena tak memberikan informasi tentangku pada orangtuaku. Mungkin sudah saatnya aku kembali menemui mereka. Kau tahu? Ternyata mereka tak seacuh yang kubayangkan.”, ia terisak semakin kencang dalam dekapanku.

 

My heart is shaking
I shouldn’t be like this, but
I hate myself for stealing and imagining things

Aku duduk di meja belajar kamarku. Semua pengakuan Nichan membuatku sedikit shock. Dan kenapa ia mengatakan semuanya hari ini? Apa ia sudah siap untuk kehilanganku?

Tentang pengakuannya yang meyukaiku. Apa dia berharap aku akan memberi lebih padanya? Rasa bersalah itu muncul lagi. Haruskah aku mengatakan juga pada Rinrin? Tapi aku tak ingin membuat ini menjadi sebuah masalah.

Dan tentang orangtuaku. Apa aku harus menghubungi mereka dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja disini? Tapi jika begitu, aku harus siap kembali ke China karena mereka akan dengan mudahnya mengecek kediamanku.

Terkadang aku merasa diriku tak berguna. Mengapa aku harus membayangkan semua hal buruk yang terpikir olehku menjadi kenyataan? Dan mengapa dengan mudahnya imajinasiku bekerja, bahkan tanpa harus kusuruh? Aku terkadang membenci hidupku.

 

I know very well that we can’t ever be
Because the girl next to me right now
Is very precious too

Nichan memintaku datang ke toko pada jam 11 siang. Ku iya-kan. Sebelumnya kuberitahu Rinrin bahwa orangtuaku menghubungi lewat toko. Ia sangat senang dan memaksaku untuk ikut siang ini.

“Tapi kau masih ada kelas pada jam 11.”, tolakku halus.

“Tak apa, hanya bolos sehari. Aku hanya ingin tahu langsung, gege. Aku janji aku bisa menyusul materi hari ini.”, ucapnya memohon dengan sangat.

Sikap polosnya membuatku luluh hingga mengizinkannya untuk ikut.

“Tunggu saja sebentar lagi, pasti akan menelepon.”, ucap Nichan mempersilahkan kami duduk.

Sebenarnya aku agak tak enak pada Nichan karena membawa Rinrin kesini. Terlebih, aku tak ingin membuat hatinya semakin sakit. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tak bisa melakukan apa-apa.

Toko ini sudah buka dan lebih ramai daripada sebelumnya. Konsep yang dibuat Nichan benar-benar ajaib. Sangat berhasil.

Kulihat Nichan kini berdiri dibelakang meja kasir. Melayani seorang pelanggan dengan ramah hingga telepon berdering. Dan ia mengangkatnya. Beberapa kali Nichan mencuri pandang padaku, sebelum akhirnya mengisyaratkanku untuk menghampirinya. Kuraih lengan Rinrin untuk mengikuti langkahku.

“Ini Luhan, aku akan memberikan telepon padanya sekarang.”, ucap Nichan dengan bahasa mandarin yang fasih, membuatku sedikit tercengang. Dia tak pernah menceritakan padaku sama sekali.

Nichan menjauh dari kami.

“Halo.”, ucapku ragu. Rinrin menggenggam tanganku erat. Menyalurkan segenap kekuatanku.

“Kabarku baik disini, ma. Mama tidak perlu khawatir.. Tentu saja, banyak yang membantuku disini.. Seorang gadis? Eh, mama tahu darimana?.. Nanti akan kuceritakan..”

Aku memberikan nomor ponselku pada mama. Mama janji akan menghubungiku lagi. Setelah itu, ia menutup teleponnya.

Rinrin menatapku seperti memintaku bercerita. Saat berbicara di telepon tadi, aku memang sepenuhnya memakai bahasa mandarin, jadi pantas saja jika Rinrin tak mengerti pembicaraanku.

“Mama terdengar sangat khawatir padaku, dia menanyakan kabarku dan alasan mengapa aku pergi tanpa memberitahu siapapun. Dan mama menanyakan tentangmu juga..”, ucapku sambil tersenyum.

“Aku? Dia tahu aku?”, Rinrin tercengang.

“Aku juga tidak mengerti. Nanti mama akan meneleponku lagi di waktu yang lebih senggang.”

Tak disadari tangan Rinrin terus menggenggam tanganku erat. Dia memang yeoja yang sangat baik. Dia selalu ada disaat aku membutuhkannya. Dan dia tidak pernah mengeluh sedikitpun dengan sifatku yang kuakui sangat ceroboh.

Aku bodoh bukan, telah merusak kepercayaan yang dia berikan padaku? Aku menatap Nichan yang sedang duduk tak jauh dari kami. Meski Nichan juga gadis yang baik, tapi aku tak boleh menyiakan yeoja yang jelas-jelas selalu menyimpan harapan dan kepercayaannya padaku.

I shouldn’t do this
I keep getting attracted to you, but
I can’t help it

Hatiku mengatakan aku harus menghampiri Nichan, dan kedua kakiku melakukannya. Kurasa Rinrin mengikutiku dari belakang.

“Aku sangat berterimakasih untuk semua kebaikan yang kau berikan padaku.”, ucapku saat tiba dihadapannya.

“Aku yang harusnya berterimakasih, kau selalu ada saat aku membutuhkan bantuan.”, ia menatapku tegas.

Tatapannya mengisyaratkan keteduhan yang sangat jelas. Itulah yang membuatku tak dapat menarik diri dari pesonanya. Dan saat aku melihatnya lagi, perasaanku bergejolak. Berontak tak terkendali.

“Aku menyukaimu.”, ucapku tulus.

Dia menatapku bingung dan sedikit salah tingkah. Senyumnya kini terlihat dipaksakan. Kulihat Rinrin terpaku menatap kami dengan tatapan yang tak dapat kuartikan. Aku jadi ikut salah tingkah. Dua kali aku mengungkapkannya pada Nichan, tapi kali ini Rinrin mendengarnya.

“Ne, aku juga menyukaimu Luhan-ssi. Kau orang yang mudah diajak bekerjasama.”, ucap Nichan pada akhirnya. Aku hanya tersenyum meng-iyakan. Jujur, aku tak tahu apa yang Rinrin rasakan saat ini. Mianhae.. Mianhae karena aku terlalu bodoh untuk tidak menahan perasaanku sendiri. Aku terlalu kecil saat berada diantara kalian.

 

I don’t know what’s wrong with me these days
But, I just can’t help it
I’m sorry

Aku tak beranjak dari tempat tidurku meski waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Sudah kuputuskan untuk tidak kuliah hari ini. Kepalaku pusing dan pikiranku jauh melayang entah kemana. Entah ke China -pada orangtuaku-, entah ke kampus -pada Rinrin-, dan entah ke toko -pada Nichan-. Yang jelas, hari ini aku ingin istirahat total tanpa ada yang mengganggu.

Ponselku berdering. Sial! Aku lupa mematikannya!

Dengan malas kuraba meja kecil disamping tempat tidurku. Dapat.

“Nomor telepon siapa ini? Kuharap sesuatu yang penting! Yoboseyo..”, jawabku malas.

“Halo..”, jawab suara diujung sana.

“Mama..”, gumamku langsung terbangun dari tempat tidur.

“Iya, ini mama. Apa kau baru bangun? Disana seharusnya pukul 9 pagi sekarang, kan?”

Aku tersenyum getir. Apa harus dengan cara pergi dari rumah agar dia memberikan perhatian seperti ini padaku?

“Ya, aku baru bangun.”, jawabku singkat.

“Luhan, mama ingin kau pulang..”

Aku mendesah. Pasti ini tujuan orangtuaku.

“Aku masih betah tinggal disini, ma. Aku belum mau ingin pulang.”, jujurku.

“Tapi rumahmu disini, Luhan. Mama dan papa sangat merindukanmu. Kami ingin kita berkumpul lagi seperti dulu.”, sepertinya saat ini ekspresi mama sangat gusar.

Aku mendecak pelan. Bahkan dulu kami tidak pernah benar-benar berkumpul seperti keluarga. Untung aku anak tunggal. Jika aku punya kakak dan adik, kasihan mereka akan merasakan hal yang sama denganku.

“Aku akan pulang jika aku ingin, ma. Kumohon jangan memaksaku.”, ucapku lembut.

“Papa sudah tahu kediamanmu di Seoul, dia bisa saja menyuruh orang untuk membawamu kembali kesini. Sebelum itu terjadi, mama ingin kau pulang dengan baik-baik. Ini semua demi kebaikanmu, Luhan.”

Aku diam. Paksaan lagikah yang akan kuterima dari orangtuaku? Mereka tidak berubah. Aku kini sudah tak mengerti apa yang harus kulakukan untuk memberi efek jera pada mereka. Di mulut, mereka berkata merindukanku, seakan mereka benar-benar menyayangiku. Apa paksaan merupakan bagian dari kasih sayang? Kurasa tidak.

“Aku akan memikirkan semuanya. Tapi selama aku memikirkannya, kumohon mama jangan memaksaku dulu. Biarkan aku berpikir jernih untuk memutuskan yang terbaik bagi hidupku. Selamat pagi.”

Kututup telepon. Kumatikan. Dan kulempar ponselku entah kemana.

Tok tok tok.

Aku terbangun karena suara ketukan. Kadang terdengar suara ketukan pintu, kadang juga terdengar suara bel yang sangat nyaring. Kuperhatikan jam dinding sejenak, pukul dua siang. Aku tidur cukup lama rupanya.

Kugerakkan tubuhku sedikit demi sedikit. Aku masih terlalu lelah untuk beraktivitas hari ini. Lagipula, sudah terlambat untuk berinteraksi dengan orang lain pada jam seperti ini. Tapi mau apalagi? Suara bel itu terus saja menyerang telingaku.

“Tunggu sebentar!”, ucapku cukup keras agar terdengar hingga keluar. Akhirnya suara-suara menyebalkan itu hilang.

Dengan wajah yang kurasa masih kusut, kulangkahkan kaki untuk membuka pintu. Ah, Rinrin. Hari ini aku sedang tidak ingin menemuinya atau siapapun, tapi kenapa dia datang?

“Apa gege baik-baik saja?”, tanyanya khawatir.

“Ya, aku baik-baik saja.”, ucapku walau nyatanya aku sedang tidak dalam keadaan baik.

“Kenapa gege tidak ke kampus hari ini?”

“Aku sedang malas.”, jawabku acuh.

Dia mengerutkan kening. Wajahnya seakan berkata bahwa dia heran sekaligus khawatir tentu. Tapi aku benar-benar sedang tidak ingin diganggu saat ini.

“Mungkin aku harus meninggalkan gege sendiri. Tapi ge, jangan matikan ponselmu. Kalau kau ingin bercerita apapun, segera hubungi aku. Arrasseo?”

Aku mengangguk lemah. Kusunggingkan sedikit senyum. Entah terlihat atau tidak olehnya.

“Baiklah kalau begitu. Gege jangan lupa makan, aku akan pulang sekarang.”

Aku masih berdiri di ambang pintu. Dia juga belum beranjak meski sudah berpamitan tadi. Kurasa dia masih ragu meninggalkanku sendiri.

Setelah beberapa detik, ia akhirnya tersenyum dan mulai berpaling. Dilangkahkan kakinya menuju lift yang segera membawanya turun. Mianhae, bukan maksudku mengacuhkanmu. Aku benar-benar tidak mengerti dengan diriku sendiri. Aku hanya ingin sendiri sekarang. Merenungkan kelanjutan hidup yang baik untuk diriku sendiri.

 

Somehow, I feel like tonight is gonna be a long night
I only have an apologetic heart toward my girl

Sepeninggal Rinrin, aku duduk di sofa ruang tamu. Kubiarkan tanganku membuka lembaran majalah walaupun mataku tak ikut menjamahnya. Mataku menerawang ke masa depan. Kira-kira keputusan apa yang akan kuambil selanjutnya. Pindah rumah namun tetap di Korea? Atau kembali ke China dengan mengorbankan kehidupanku disini? Hidupku sudah ada di Korea sekarang. Tidak untuk kembali ke China lagi. Meski kuakui, aku merindukan paman yang selalu menemaniku saat orangtuaku sibuk dengan urusannya.

Memikirkan ini membuatku sungguh gila. Dan juga lapar. Tidak ada makanan di lemari pendingin. Aku lupa membeli persediaan makanan untuk minggu ini. Ya, mau tak mau aku harus pergi keluar. Tadinya aku ingin mengajak Rinrin, tapi kehadirannya justru akan membuatku semakin bimbang. Maka kuputuskan pergi keluar sendiri.

“Ehm, mungkin ramyun tidak akan terlalu buruk untuk malam ini.”, gumamku sembari mengenakan jaket tebal. Malam ini benar-benar dingin.

Kukunci apartemen dan mulai merangsak ke jalanan kota yang ternyata masih ramai. Sebenarnya jarak rumah makan ramyun itu cukup jauh dari sini, tapi aku tak tega jika harus menyia-nyiakan pemandangan indah Kota Seoul pada malam hari. Lampu yang bersinar terang menggantikan bintang yang enggan muncul malam ini. Mobil-mobil yang berlalu lalang tanpa khawatir akan terjebak macet. Udaranya cukup segar, walaupun cukup buruk juga bagi kesehatan.

Aku lupa. Rumah makan ramyun itu dekat dengan cafe tempat aku bekerja. Dan jalan kesana haruslah melewati cafe. Aku sudah resign dari sana kemarin. Nichan memaksaku untuk segera kembali ke China dan meninggalkan pekerjaanku disini. Lagipula setelah pernyataan yang sama-sama kami ungkapkan kemarin, aku jadi merasa canggung untuk bercengkrama dengannya. Padahal di awal perjumpaan saja, kami tidak pernah secanggung ini.

Cafe ini masih buka. Tentu saja, karena sekarang baru jam 7 malam. Kulihat sosok yeoja yang sedang duduk di meja dekat jendela. Siapa lagi kalau bukan Nichan? Ingin kusapa ia, namun banyak pertimbangan yang membuatku lebih tak ingin melakukannya. Terutama Rinrin. Bagaimana kabarnya ya? Aku sangat merasa bersalah dengan perlakuanku tadi siang padanya. Apa dia akan marah padaku? Aku juga belum menghubunginya. Aku hanya merasa waktunya belum pas. Aku belum ingin membagi kekacauan hatiku padanya.

Rinrin? Bukankah besok adalah hari pengumuman audisinya? Pabo namja. Seharusnya aku memberikan semangat untuknya. Semakin besar rasa bersalahku padanya sekarang. Kenapa kau terlalu baik untukku, Han Rinrin?

Sampailah aku di rumah makan ramyun. Rinrin yang merekomendasikan rumah makan ini padaku dulu. Dia bilang rasanya sangat enak dan khas sekali, dan aku setuju. Ternyata rumah makan ini sedang sepi. Terbukti dengan kosongnya beberapa meja yang biasanya selalu ramai saat aku datang. Kupesan semangkuk ramyun yang datang beberapa saat kemudian. Hangat sekali. Perutku serasa diberikan makanan surga. Tentu saja karena aku lapar.

Ponselku berdering. Nada sms.

From : Nae Chagiya

Gege, besok adalah hari pengumuman audisiku. Apa kau mau mengantarku? Tapi jika kau keberatan, aku tidak apa datang sendiri. Karena kupikir kau sedang sangat butuh istirahat.

Tersirat secarik harapan dalam isi pesannya tersebut. Besok mungkin akan lebih baik dari hari ini, jadi tentu saja aku akan mengantarnya. Tidak, aku bukan mengantarnya. Aku menemaninya. Dan mungkin aku akan mulai menceritakan masalahku padanya besok.

To : Nae Chagiya

Aku sudah tidak apa sekarang. Besok aku akan menjemputmu. Tunggu aku!

 

But still, the inside of my heart is flickering
It’s a night where I want to see you one more time

“Aku sangat gugup, ge..”, ceritanya saat kami duduk di bangku penonton. Dihadapan kami terdapat sebuah panggung kecil dengan podium. Disanalah mungkin panitia itu akan mengumumkan pemenangnya.

“Aku juga gugup, tapi aku yakin kau pasti menang!”, ujarku mencoba menyemangatinya.

Ia tersenyum seadanya. Terlihat air mukanya yang mengatakan sebuah keraguan. Kugenggam jemarinya lembut. Sekedar menyalurkan sedikit semangatku untuknya. Dia menggenggam tanganku. Lebih terasa keraguan yang awalnya hanya kuanggap biasa saja. Tangannya gemetar.

“Itu dia, panitianya sudah naik.”, ucapku tak perlu, karena Rinrin juga bisa melihatnya dengan jelas.

“Gege, bisakah kita meninggalkan tempat ini? Aku sungguh belum siap mendengar pengumumannya.”, ucapnya tergesa-gesa. Berdiri dan menarik tanganku yang masih menggenggamnya.

“Ada apa denganmu? Duduklah disini chagi, tak akan ada sesuatu yang buruk. Kau sudah melakukan yang terbaik, bukan?”, nasihatku sembari mengajaknya untuk kembali duduk.

Dia menurut meski gerak-geriknya masih menunjukkan sikap yang sama sekali bukan dirinya. Kukira dia orang yang percaya diri selama ini.

“Aku pernah berjanji padamu, bukan? Jika kau menang, kau boleh meminta satu hal padaku.”

“Justru itulah yang membuatku takut. Motivasi kemenanganku adalah tawaranmu tadi. Aku ingin meminta satu hal darimu. Dan aku tahu sangat sulit untukmu mengabulkannya. Makanya, aku berusaha keras untuk lolos pada audisi ini.”

Aku diam. Dia ingin sesuatu dariku?

“Maka dari itu, percayalah untuk menang. Aku yakin kau akan mendapatkan hal itu, apapun itu dariku.”

Dia memandangku dengan mata yang berkaca-kaca. Sikapnya sungguh aneh. Kenapa dia tak langsung mengatakan keinginannya padaku?

Panitia diatas podium sudah mulai memberikan sambutan-sambutan seperti biasanya. Membuat jantungku semakin bergemuruh tak menentu. Aku ingin yeoja-ku ini menang. Aku ingin dia mendapatkan kemenangan ini. Sesuatu yang sangat diharapkannya. Dan aku ingin segera mengetahui, apa yang sebenarnya ia inginkan dariku.

“Dan.. pemenangnya adalah..”

Aku menggenggam tangannya semakin erat. Ia menenggelamkan wajahnya dibahuku. Dia tidak menangis, hanya tubuhnya terasa tegang.

“Pemenangnya adalah seorang yeoja.”, ucap panitia itu lagi.

Oh ayolah segera umumkan. Rinrin ini seorang yeoja. Katakan bahwa namanya adalah Han Rinrin.

“Pemenangnya bermarga Han.”

Han! Yeoja-ku ini bermarga Han! Terdengar teriakan histeris dari peserta lain. Mungkin teriakan kekecewaan karena namanya bukan bermarga Han. Atau juga teriakan senang karena namanya bermarga Han. Rinrin sendiri masih bersembunyi dibalik bahuku. Tangannya yang bebas semakin erat menggenggam tanganku.

“Han..”

Ya Tuhan, apa yang dilakukan orang ini? Apa dia ingin membuatku mati muda?

“Han.. Han Rin Rin. Bernomor peserta 2854. Chukhahaeyoooo!”

Mataku membesar melebihi batasnya. Rinrin melepaskan genggamannya tanpa sedikitpun merubah posisi kami.

“Chagi, apa kau mendengarnya?”

Dia mengangguk.

“Chagi, kau memenangkannya! Lihat, lihat nomor pesertamu! Ini 2854, kau menang!”

Aku menarik tubuhnya agar bisa menatap matanya, tapi ia memejamkannya. Air mata dengan derasnya meluncur dari kedua indera penglihatannya itu.

“Dimanakah pemenangnya? Ayo, apa kau tak ingin hadiah menggiurkan ini? Uang yang cukup lumayan untukku. Dan, tentu saja mengisi soundtrack dalam drama seri yang akan dibintangi oleh seorang Song Joong Ki!”

Penonton lainnya riuh.

“Ppali chagi, ambil hadiahmu dan perlihatkan padaku!”, aku menghapus air matanya.

Dia mengangguk paham. Wajahnya merah seperti terbakar. Sudah kuyakinkan dia pasti menang, dan benar saja, dia menang. Keinginannya akan segera terkabul sebentar lagi. Aku pemberi tepuk tangan paling riuh saat ia naik keatas panggung. Ia menggeleng malu saat panitia menyodorkannya microphhone, sekedar untuk memberikan speech kemenangan. Yang ia lakukan hanya membungkuk dalam pada penonton sedari tadi. Tak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Tapi, dari wajahnya saja sangat terlihat bahwa ia ingin mengatakan rasa kebahagiaan yang luar biasa saat ini.

Kami berjalan bersama di sebuah taman. Ia memeluk erat trophy yang didapatnya dari lomba tadi. Tak mau melepasnya, padahal aku juga ingin merasakan kebanggaan dari trophy setinggi kurang lebih 50 sentimeter tersebut.

“Jadi, apa yang ingin kau minta?”, tanyaku kemudian.

Dia mengubah ekspresi bahagianya saat menatapku. Apa maksud dari ekspresinya ini?

“Mungkin aku lebih baik tidak mengatakannya saja.”

“Katakan sekarang, chagi.”, ucapku meyakinkannya.

“Ini semua berhubungan dengan kita, dan.. seseorang yang lain.”, ucapnya sembari menunduk.

Kita.. dan seseorang yang lain?

“Bisa kita cari tempat yang lebih baik? Kurasa tak cocok berbicara sambil berdiri seperti ini.”, ajakku yang sebenarnya ingin mengulur waktu. Apa yang ingin dia katakan sebenarnya? Perasaanku mendadak tidak bagus.

Kami duduk di sudut taman. Sebuah bangku usang yang mungkin sudah tidak terjamah manusia untuk waktu yang lama.

“Lanjutkan perkataanmu tadi. Katakan saja.”, ucapku gugup.

“Sebenarnya aku sudah tahu lama, gege menyukai orang lain selain aku. Benar, kan?”

Aku diam. Tak berani menatapnya barang sekejap. Apa ini berkaitan dengan..?

“Nichan-ssi.”, ucapnya segan.

Dia tahu. Dia tahu semuanya.

“Maaf jika aku salah dan menuduh gege yang macam-macam, tapi..”

“Aniyo, kau benar. Aku yang seharusnya minta maaf.”, ucapku menunduk. Kulihat dari sudut mata, ia menunduk juga.

Terjadi keheningan untuk beberapa saat. Sebenarnya banyak hal yang ingin kuungkapkan padanya. Namun aku terlalu berat untuk mengatakannya. Aku tak ingin membuatnya sakit. Tapi tetap, semua harus terungkap. Lagipula, aku sudah terlalu basah untuk tidak mengakui ini.

“Mungkin ini saatnya aku jujur padamu. Terlalu banyak hal yang aku tutupi selama ini.”, aku menghela nafas sejenak. “Aku memang menyukai Nichan. Kau benar-benar hebat karena bisa mengetahuinya.”

“Sangat terlihat dari caramu melihatnya. Caramu memperlakukannya. Dan bagaimana kau bersikap terhadapnya, itu terlalu jelas, ge.”

“Apa kau tahu bahwa dia juga menyukaiku?”, tanyaku.

“Aku memang sempat ragu, tapi entah kenapa aku selalu merasa Nichan-ssi juga mempunyai perasaan yang sama denganmu.”

“Kau memang benar, dia mengatakannya langsung padaku beberapa hari yang lalu.”

“Dan karena itulah aku ingin membuat satu permintaan padamu.”, dia menggeser sedikit tubuhnya agar bisa menatapku. Aku balik menatapnya yang ternyata sudah hampir menangis. Kenapa aku menyakitinya lagi?

“Katakan saja.”

“Mungkin ini sedikit sulit untuk gege, tapi aku sangat menginginkannya. Aku ingin gege berhenti memperlakukan Nichan-ssi seperti itu. Gege tahu kan, semua yeoja pasti ingin dianggap istimewa oleh namjanya. Aku pun sama.”, dia menghentikan perkataannya. Sejenak menghapus air mata yang mengalir begitu deras. Maaf, selama ini aku bukan namja seperti itu.

“Tapi jika gege tak bisa melakukannya, aku yang akan mengalah dan pergi. Aku hanya tak ingin menjadi penghalang bagi kalian. Kurasa semua perlakuan baikmu selama ini sudah cukup. Aku senang.”, dia menghapus air matanya lagi.

“Aku..”

“Semua ini cukup menyiksaku, ge. Saat aku audisi tempo hari, aku tahu kau tidak ada urusan dengan orangtuamu, kan? Apa kau pergi dengan Nichan-ssi?”

Aku diam. Dia benar-benar tahu semuanya.

“Aku sebenarnya tidak ingin membebanimu dengan keinginanku ini. Hanya saja, aku juga berpikir tentang gege. Gege tidak mungkin selamanya berbohong padaku. Aku juga tidak ingin gege terlibat dengan masalah yang lebih rumit dari ini. Jadi..”

Kupeluk dia. Erat. Sangat erat. Dia menangis. Lebih kencang daripada sebelumnya. Kapan aku berpikir tentang perasaannya? Aku egois. Aku hanya memikirkan diriku sendiri selama ini. Aku tidak memikirkan perasaan Rinrin, Nichan juga. Aku hanya berpikir tentang kebahagiaan untuk diriku sendiri. Aku egois. Benar-benar egois.

“Jangan mengatakan apa-apa lagi. Kau benar. Aku sudah banyak membohongimu selama ini. Maaf, meski kutahu mungkin sangat sulit untuk memaafkanku.”

Yang kudengar hanya suara tangisnya. Tawa yang selama ini dia pertunjukan padaku rupanya hanya topeng. Begitu dalam kepedihan yang ia tanggung. Dan semua itu karenaku. Aku terus saja merutuki kebodohanku dalam hati. Sangat berharap Rinrin masih mau menerimaku lagi. Meski sekali lagi kukatakan, ini pasti akan sulit untuknya.

“Gege..”, panggilnya dengan suara yang serak.

“Ya?”

“Jangan peluk aku seperti itu, aku bisa kehabisan nafas.”, ucapnya bernada gurauan.

Aku melepaskannya, menatapnya yang sedang tersenyum tanpa beban padaku. Kenapa ia terus menutupi kesedihannya? Kenapa ia tak melepaskan semuanya? Entah itu dengan cara memukulku, menamparku, atau menghujatku dengan kata-kata kasar. Setidaknya aku jadi lega jika ia melakukan itu.

“Nah gege, jadi bagaimana keputusanmu?”

“Gege, bangun! Bukankah pesawat akan berangkat jam 9 pagi ini? Jangan bilang kau masih bergelut dengan selimutmu!”, teriak seorang yeoja di ponselku.

“Kau ini, iya aku bangun. Lagipula ini masih.. Hah? Setengah 9??”

“Ya gege! Kau belum mandi dan sekarang..”

Bla-bla-bla. Aku tidak mendengar apa yang dikatakannya lagi. Aku segera bergegas menuju kamar mandi. Sekedar mencuci muka dan gosok gigi seadanya. Mengganti baju serta menggendong ransel yang sudah disiapkan Rinrin kemarin. Dia membantuku packing.

“Apa kau masih disana?”, tanyaku sembari memakai sepatu.

“Aku berbicara padamu daritadi, jadi kau tidak mendengarnya? Gege!”

“Mian mian, aku sedang bersiap-siap. Bagaimana denganmu? Apa sudah siap?”

“Sejak sejam yang lalu aku sudah menunggumu. Jadi ge, kau masih akan menjemputku?”

“Iya, tapi sepertinya aku akan ke cafe dulu. Apa kau mau ikut?”, tanyaku.

“Aku menunggu saja. Aku percaya padamu.”

Aku tersenyum meski tak terlihat olehnya. Rinrin masih percaya padaku meski aku sudah mengkhianatinya. Aku berjanji untuk tidak merusak kepercayaannya lagi. Aku akan menjadi namja yang memperlakukannya secara istimewa. Hanya dia, seperti apa yang ia minta kemarin.

Hari ini aku akan pulang ke China. Kemarin malam mama sudah mengatakan padaku untuk pulang dengan segera. Papa akan mengirim anak buahnya ke tempatku jika dalam 2 hari aku tidak pulang. Aku beralasan tak ingin pulang ke China karena Rinrin. Aku tak mau meninggalkannya disini. Aku juga tak mau melakukan hubungan jarak jauh. Bagaimana jika aku tiba-tiba merindukan Rinrin? Apa mama akan bertanggungjawab? Tentu saja tidak. Lalu, apa yang mama katakan?

“Ajak pacarmu kemari. Mama juga ingin melihat, wanita mana yang bisa membawamu terbang ke Korea. Mama akan pastikan kau memilihnya sebagai bagian dari keluarga kita.”

Aku senang mendengarnya. Rinrin juga setuju untuk ikut ke China. Dia bilang, dia juga butuh kesegaran di tempat lain. Dan aku, butuh tempat untuk menuntaskan masalah ini. Setidaknya, jauh dari Nichan akan membuatku lebih melihat sisi lain Rinrin yang mestinya kubanggakan sejak dulu.

“Oppa, selamat jalan.”, ujar Nichan saat aku berkunjung ke cafe untuk mengucapkan perpisahan. Dia masih seperti awal. Matanya yang indah itu masih bisa menarik hatiku. Tapi, sebuah komitmen dalam diriku menolaknya dengan keras.

Aku tersenyum padanya, terlebih karena ponselku berdering untuk kesekian kalinya hari ini.

“Ne chagiya, aku akan segera menjemputmu.”

“Terlalu lama. Aku sedang dalam perjalanan ke airport.”

“Kenapa kau tidak menungguku? Masih ada waktu 10 menit dan jarak ke airport tidak terlalu jauh.”

“Tiketnya ada padaku. Jangan salahkan jika aku datang lebih dulu dan meninggalkanmu.”

“Ya ya! Kau tidak bisa begitu!”

“Tentu saja aku bisa!”

“Aniyooo! Aku yang mengajakmu ke China!”

“Aku akan bertemu orangtuamu.”

“Han Rin Rin!”

 —

END

22 Maret 2013

Agak maksa ending nya? Emang. Gini nih akibat keburu-buru pengen bikin FF baru yang dapet ide ceritanya dari mimpi. Semacam dapet wangsit gitu kalo kata Icut. Kalo kecewa maaf ya, asal jangan kecewa berlebihan aja 😀 tetep loh ya ditunggu FF buat akunyaaaa 😉

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s