FF BOYFRIEND : OUR 2nd MONTHS


Tittle
Our 2nd Months

Cast
No Min Woo

Park Ni Chan

Jo Young Min

Jo Kwang Min

Lee Ji Eun

Genre
Angst, Sad, Romance, Friendship

Rating
PG-15

Author
@ririnovi

Waktu bikin ff ini tuh pas BoyFriend lagi dalam perjalanan ke Singapura, sempet gemeteran di beberapa titik ff ini. Kebayang yg aneh-aneh. Misalnya gimana kalo BoyFriend ngalamin hal semacam kecelakaan di perjalanan? Tapi untungnya itu cuma sebuah ketakutan semata πŸ˜€

Okai, Minwoo is coming..

MINWOO POV

Aku berlari. Berharap tak seorang pun bisa mengejarku. Aku berlari walaupun mataku perih terkena debu-debu yang kubuat sendiri karena hentakan kakiku. Aku terus berlari meski aku sudah tak mau. Aku ingin berhenti, tapi aku harus berlari. Sedikit lagi.. Sedikit lagi..

“Yaaaa selamat kepada peserta bernomor punggung 36, No Min Woo!”, begitu terdengar suara sang pembawa acara, aku langsung terduduk di tanah. Nafasku terengah. Untuk minum saja pun aku tak sanggup.

“Wah kau hebat Minwoo-ah! Kau sungguh sangat keren!”, teriak temanku yang mendekatiku dan memberikanku sebuah handuk sambil merangkulku.

“Ya Minwoo-ah! Kau benar-benar berlari sangat cepat. Aku saja sampai tidak bisa melihat gerakan kakimu saking cepatnya!”, ucap temanku yang berambut blonde memamerkan wajah bahagianya.

Mereka berdua memang teman baikku. Teman satu sekolahku juga. Wajah mereka mirip. Hey apa kau bercanda? Ya jelas saja mereka mirip, mereka adalah sepasang kembar identik. Yang berambut blonde bernama Jo Young Min. Dan yang berambut cokelat bernama Jo Kwang Min.

“Apa kalian melihat Nichan?”, tanyaku setelah meneguk sebotol penuh air putih.

“Kami daritadi menunggumu disini, tapi kau malah menanyakan Nichan? Tidak berterimakasih sekali kau ini Minwoo!”, ujar Kwangmin memukul pundakku.

“Hey bukan begitu maksudku, aku hanya heran karena tak melihatnya dari tadi..”

“Kurasa pertanyaanmu akan terjawab dibelakang sana..”, ucap Youngmin sambil mengarahkan pandangannya ke arah di belakangku.

Aku melihatnya. Dia sedang berjalan kearahku sambil tersenyum manis seperti biasanya. Dia memang tak pernah memperlihatkan raut wajah sedihnya padaku meski ku tahu dia sering merasakan kesedihan. Aku tau dari sahabatnya.

“Selamat ya oppa, kau berhasil memperoleh tempat pertama..”, ucapnya tersenyum. Senyum yang sangat kusukai. Senyum yang selalu membuatku tak mau pergi jauh darinya.

“Terimakasih chagi, ini semua juga berkat dukunganmu.”, aku membalas senyumannya dengan senyuman yang tak kalah manis.

Aku baru menyadari bahwa si kembar sudah tak ada di tempat. Mereka mungkin pergi mencari makanan atau seperti biasa mencari korban untuk diusili.

Oya, aku lupa memberi tahu sesuatu. Hari ini di sekolah kami sedang diadakan pertandingan olahraga antar kelas. Aku dipercaya menjadi perwakilan kelasku dalam lomba lari berjarak 200m. Dan ya, aku berhasil! Berkat kerja kerasku berlatih selama ini akhirnya aku berhasil mendapat posisi pertama! Teman-teman sekelasku harus memberikanku penghargaan atas ini semua. Atau minimal mentraktirku makan di kantin sepuasnya, hehe.

Dan yeoja yang kuceritakan memiliki senyum manis ini adalah Park Ni Chan. Dia adalah yeojachingu ku tepat dari 2 bulan yang lalu. Kami memutuskan berpacaran bahkan sebelum kami mengetahui nama masing-masing. Memang agak aneh, tapi sampai sekarang semua baik-baik saja. Dia adalah adik kelasku. 2 tahun perbedaan usia kami. Aku sekarang sudah memasuki tingkat akhir yang sebentar lagi akan lulus. Sedangkan dia baru tingkat pertama yang baru saja merasakan bersekolah disini.

*FLASHBACK ON*

MINWOO POV

Aku sedang berjalan di koridor sekolahku. Melihat anak-anak baru yang sedang menjalani masa orientasi di lapangan. Aku tersenyum melihat mereka yang berdandan norak. Ya, meskipun itu bukan kemauan mereka tapi tetap saja mau-maunya mereka disuruh seperti itu. Aku memandang lurus kedepan ketika kutangkap seorang yeoja berdandanan aneh berlari tergesa-gesa. Dia menghampiriku sambil menunjukkan nafasnya yang terengah-engah.

“Mian sunbae, aku terlambat. Tadi aku harus mengantar adikku dulu ke sekolah. Jeongmal mianhae..”, dia membungkukan badannya beberapa kali. Mungkin dia kira aku panitia orientasi ini. Namun dia salah besar.

“Kalau begitu kau ikut aku..”, aku menarik yeoja bermata indah itu masuk ke arah lapangan. Hey matanya memang sangat indah jika kau ingin tahu.

“Ji Eun-ah, ada anak baru yang terlambat. Tapi tolong jangan sampai dia dihukum. Dia ini yeojachingu-ku”, ucapku pada Ji Eun temanku yang sedang memarahi anak baru yang terlambat.

“Kenapa? Semua anak yang terlambat harus dihukum supaya mereka jera dan tidak kembali terlambat besok!”

“Sudahlah Ji Eun-ah, yang ini saja satu. Kalau kau sampai kenapa-kenapa aku janji aku yang tanggungjawab..”, aku menunjukkan senyum termanisku pada Lee Ji Eun.

“Ah yasudah, hey anak baru cepat taruh tasmu disana dan masuk ke barisan. Jangan sampai ada senior lain yang melihat kedatanganmu..”

Gadis bermata indah itu tersenyum padaku. Senyumnya manis sekali. Kurasa aku menyukai senyumnya dan matanya yang indah. Juga caranya berlari menghampiriku. Caranya berbicara yang menurutku sopan sekali. Apa-apaan aku ini? Memuji-muji anak baru itu tanpa alasan yang jelas. Tapi sungguh aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Aku menyukainya di hari pertama aku bertemu dengannya. Tapi, siapa dia?

NICHAN POV

Aku terlambat hari ini karena harus mengantar adikku dulu ke sekolahnya. Padahal ini hari pertama aku bersekolah di highschool. Tapi seseorang menyelamatkanku dari kemarahan senior yang lain. Sunbae yang pertama kali kutemui di sekolah ini. Dia tampan. Dia manis. Dia sangat keren. Dan yang pasti dia pahlawanku. Dia membantuku dengan menyebutkan bahwa aku adalah yeojachingu-nya. Aku tahu itu hanya pura-pura. Tapi jika itu pun kenyataan aku tak akan menolaknya. Aku memang gadis pemimpi.

Aku segera menyimpan tasku dan masuk ke barisan. Aku memperhatikan sunbae tadi sempat tersenyum padaku sebelum dia pergi. Yang ku tahu sekarang dia ternyata bukan panitia. Huft.. beruntung sekali aku bertemu dia hari ini.

MINWOO POV

Sepanjang hari ini aku terus terbayang gadis bermata indah itu. Sepulang sekolah aku sengaja mengambil jalan ke lapangan meski aku harus memutar ke jalan yang lebih jauh. Tak apalah.

Mungkin ini bukan hariku. Lapangan sudah sepi. Sepertinya anak-anak baru sudah pulang daritadi. Aku memutuskan untuk pulang saja. Berjalan menuju gerbang sekolah seorang diri karena teman-temanku sudah pulang terlebih dahulu. Aku sedikit menyesal telah membiarkan teman-temanku pulang terlebih dahulu hanya karena ingin bertemu gadis itu.

Siapa itu? Sepertinya aku mengenalnya. Aku mengenalnya bukan dari fisiknya. Aku tidak bisa melihatnya terlalu jelas dari arahku berdiri. Aku mengenalnya dari apa yang kurasakan saat ini. Tubuhku bergetar halus. Perasaan damai yang kurasakan. Tak berapa lama aku mulai sadar siapa dia. Dia. Gadis yang tadi pagi kutemui. Dia. Gadis yang kucari di lapangan tepat sebelum aku berjalan kesini. Seakan tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini aku langsung menghampirinya. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang.

NICHAN POV

Appa sudah janji akan menjemputku sepulang sekolah. Tapi sudah 30 menit aku menunggu dia belum datang juga. Sekolah sudah mulai sepi.

“15 menit lagi appa tidak datang, aku akan nekat pulang!”, ucapku sambil memainkan phone cell-ku. Sudah berulang kali kucoba menghubungi appa namun dia tak menjawab panggilanku. Mungkin saat ini dia sedang di jalan akan menjemputku. Ya semoga saja.

“Ah!”, phone cell-ku terjatuh karena terus kuputar-putar daritadi. Aku hampir saja memungutnya jika saja tak ada orang yang mendahuluiku mengambilnya. Siapa dia?

“Ini. Hati-hati memegang phone cell-nya. Sayang kalau dibuang-buang”, ucap namja itu sambil memberikannya padaku.

“Kau? Eh.. Terimakasih sunbae. Aku juga lupa mengucapkan terimakasih untuk tadi pagi..”

Ya, dia sunbae yang tadi pagi kutemui. Dia masih tampan seperti tadi pagi. Aku sangat malu. Entah apa yang membuatku malu melihatnya.

“Ya sama-sama. Senyuman manismu itu sudah menjadi isyarat terimakasih untukku..”, dia tersenyum. Baru kusadari senyumnya manis sekali. Aku merasa itu bukan senyuman biasa. Senyumannya benar-benar membuatku merasa bahagia tanpa alasan yang jelas.

“Mengapa wajahmu memerah? Kau sakit?”, tanyanya. Wajahnya berubah seakan-akan kuatir padaku.

“Ah ani..”

MINWOO POV

Saat aku menghampirinya, phone cell-nya terjatuh. Langsung saja aku ambil dan kuberikan padanya. Dia mengucapkan terimakasih padaku.

“Ya sama-sama. Senyuman manismu itu sudah menjadi isyarat terimakasih untukku..”, entah kenapa aku ingin mengatakan itu padanya. Otak dan mulutku benar-benar tidak berkompromi sebelumnya. Dia diam.

“Mengapa wajahmu memerah? Kau sakit?”, aku agak panik melihat perubahan warna di wajahnya. Aku takut dia kenapa-kenapa.

“Ah ani..”

Saat dia mengatakan itu, wajahnya pun masih memerah. Aku baru sadar dia malu. Atau mungkin dia menyukaiku juga? Sejenak terlintas di benakku bahwa dia memang menyukaiku. Kalau begitu adanya, sekarang juga akan ku jadikan dia yeojachingu-ku. Baru saja aku berpikir seperti itu..

“Kalau aku tanya, apakah kau mau menjadi yeojachingu-ku, apa responmu?”, tayaku benar-benar bodoh. Aku memaki diriku sendiri dalam hati. Kuperhatikan wajahnya memerah lagi. Dan mungkin saat ini wajahku juga memerah karena kurasakan getaran panas di wajahku.

“Aku.. Aku mungkin.. Ya.. Atau tidak..”

NICHAN POV

Aku malu. Benar-benar malu. Belum selesai aku mengatasi rasa maluku itu, dia tiba-tiba menatapku.

“Kalau aku tanya, apakah kau mau menjadi yeojachingu-ku, apa responmu?”

Oh God! Kurasa wajahku semakin memerah. Apa dia serius mengatakannya? Aku bingung. Otakku tidak bisa memikirkan jawaban tepat. Aku terus berpikir namun aku sama sekali bingung harus memikirkan apa.

“Aku.. Aku mungkin.. Ya.. Atau tidak..”, ucapku terbata-bata. Aku melihat wajah sunbae itu juga memerah. Apa maksudnya? Tolong berikan aku penjelasan sejelas-jelasnya sunbae!

“Kau harus memberi jawaban pasti karena aku ingin tahu.”, ucapnya mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia malu? Dan aku bingung.

Aku memaksakan diri menjawab pertanyaannya. Mencoba mengatakan apa yang ada di dalam hatiku. Bukan sekedar pikiranku.

“Ya sunbae.”, setelahnya aku menunduk. Aku sangat malu. Bahkan lebih malu dari sebelumnya.

“Kalau begitu kau mau kan menjadi yeojachingu-ku? Harus kuakui sejak pertemuan kita tadi pagi aku terus saja memikirkanmu..”, dia mulai menatap kearah mataku.

Aku belum bisa menatap lama kearah matanya. Aku butuh waktu sejenak menuntaskan rasa malu yang tadi kubuat sendiri.

Sebuah mobil berhenti tepat didepanku. Aku bersyukur appa telah datang. Dia menyelamatkankku dari sunbae ini.

“Mianhae sunbae, aku harus pulang..,”

Belum sempat melangkahkan kaki, sunbae itu menahan langkahku.

“Hei jawab dulu pertanyaanku!”

Aku menatapnya dengan tegas sambil tersenyum.

“Ne sunbae.”, kemudian aku masuk ke mobil dan segera pulang bersama appa.

MINWOO POV

Aku membulatkan tekadku untuk menyatakan keinginanku menjadikannya yeojachingu-ku. Aku menanyakannya. Belum sempat dia menjawab, sebuah mobil berhenti didepan kami. Sudah kukira itu jemputannya.

“Maaf sunbae, aku harus pulang..”

Aku tak bisa melepaskannya begitu saja. Aku harus memastikan jawabannya hari ini juga agar tidurku nyenyak malam ini. Maka dari itu aku menarik tangannya hingga langkahnya terhenti.

“Hei jawab dulu pertanyaanku!”

Dia menghentikan langkahnya dan menatapku. Dia belum pernah menatapku seperti ini sejak pertemuan kami.

“Ne sunbae.”

Aku melepaskannya untuk pulang. Aku akan benar-benar tidur nyenyak malam ini!

*FLASHBACK END*

MINWOO POV

“Kau terlihat sangat kelelahan, apa kau tak mau beristirahat dulu? Teman-temanmu pasti mencarimu..”, ucapnya saat aku menariknya keluar lapangan.

“Aku akan bertemu lagi dengan mereka besok, tapi tidak denganmu kan? Aku ingin menghabiskan waktu sehari ini denganmu. Tanpa siapapun dan hanya kita.”

“Kau tidak bersiap-siap untuk keberangkatanmu besok pagi oppa?”

“Aku akan mempersiapkannya bersamamu hari ini. Ayo! Bantu aku menyiapkan semua kebutuhanku untuk besok..”, aku menarik lengannya dan membawanya pulang ke rumahku.

“Aku malu oppa, apa eomma dan appa mu tidak akan marah atas kedatanganku ini?”, tanyanya dengan wajah yang semu memerah. Dia ternyata benar-benar malu.

“Ani. Untuk apa mereka marah? Sudah masuk saja”

“Annyeong..”, aku membuka pintu dan menyapa orang-orang di rumahku. Tapi tak ada jawaban.

“Annyeong.. Aku pulang dengan yeojachingu-ku..”, ucapku lagi. Aku memandang kearah Nichan. Wajahnya semakin memerah. Tapi itulah yang membuat dia semakin menarik.

Ada sebuah kepala manusia yang memperhatikan kami.

“Hey! Sedang apa kau mengintip disitu?”, tegurku pada kakak perempuanku. Namanya Eun Bin.

“Hehe tidak saeng”, Eunbin-noona keluar dari tempatnya tadi mengintip. “Ini yeojachingu-mu Minwoo-ah? Manis sekali. Siapa namanya?”

“Annyeong eonni. Namaku Nichan. Park Ni Chan. Bangapseumnida”, akhirnya yeoja pemalu disampingku itu berkata-kata juuga.

“Nama yang bagus. Namaku Eunbin. Aku kakanya Minwoo. Nado bangapseumnida.”

Setelah Eunbin-noona memperkenalkan dirinya, eomma dan appa ku mendatangi kami yang sedari tadi masih di ruang depan.

“Wah Minwoo, kau datang dengan seorang yeoja? Siapa yeoja ini? Apa ini yeojachingu mu?”, ucap eomma sambil medekati Nichan.

“Iya eomma. Namanya Nichan. Dia memang yeojachinguku”, ucapku bangga.

“Kau ini sama seperti appa, Minwoo. Se..”

“Ah appa ini! Selalu saja membanggakan diri sendiri. Kasihan Nichan, baru pertama kali melihatmu nanti dia ilfeel.”, eomma memotong pembicaraan appa yang diketahuinya pasti tidak akan beres.

“Hehe gwaenchanha ahjumma.”, yeoja ku ini selalu membuat gregetan. Bicaranya sedikit tapi auranya benar-benar memenuhi ruangan ini. Mungkin hanya aku yang merasakannya. Karena hanya aku yang mengenalnya baik.

TING TONG TING TONG

Suara jam dinding di rumahku menunjukkan pukul 3 sore.

“Ah! Kita harus segera pergi chagi! Eomma, appa, noona, aku pergi dulu. Annyeong!”, aku kembali menarik lengan yeojachingu ku itu.

“Pelan sedikit oppa, tanganku sakit.”, aku melepaskan tanganku yang menariknya. Ah aku menyakitinya?

“Mianhe chagi, jeongmal mianhae. Apa tanganmu baik-baik saja? Masih sakitkah?”

“Ne gwaenchanha oppa. Tanganku baik-baik saja. Sebenarnya kita akan kemana? Kau membawaku pergi ke rumahmu dan kita tidak melakukan apa-apa disana. Sekarang kau sudah mengajakku pergi ke tempat lain.”

“Kita akan bersenang-senang hari ini. Seingatku selama 2 bulan ini aku belum pernah memberikanmu hadiah apa-apa kan? Aku akan memberikannya hari ini.”, ucapku sambil membayangkan semua rencana yang telah kususun untuk hari ini. Semoga saja berjalan baik. Dia terus bertanya padaku sebenarnya apa maksudku. Namun tak kuhiraukan. Aku ingin memberikan semua yang dia inginkan hari ini. Hanya membagi kebahagiaanku bersama orang yang kusayang.

NICHAN POV

Namjachingu ku ini memang aneh. Tapi entah mengapa aku bisa menyukainya. Dia baru saja mendapat tempat pertama dalam lomba lari berjarak 200m di sekolahku. Tadi sebenarnya aku akan memberikannya hadiah. Namun dia menarikku dan mengajakku pergi. Aku jadi tidak sempat memberikannya. Dia tadi mengajakku ke rumahnya, bertemu appa, eomma, dan juga noona-nya. Sekarang dia sudah membawaku pergi ke tempat lain yang aku sendiri tak tahu kemana.

“Apa kita masih jauh oppa?”, aku terus bertanya daritadi namun aku tak mendapat jawaban sedikitpun darinya. Akhirnya aku memutuskan untuk diam. Menunggunya berhenti di suatu tempat.

“Kita sudah sampai..”, ucapnya tersenyum padaku dan melepaskan tanganku yang sedari tadi ditariknya.

“Minimarket? Mengapa kau mengajakku kesini oppa?”

“Aku kan besok akan pergi, kau tidak mau membantuku membeli makanan? Apa kau senang jika aku kelaparan sepanjang perjalanan?”, dia memasang wajah sedihnya. Dan aku tahu dia hanya ber-acting.

“Ani oppa, kenapa kau tidak bilang daritadi”

Kami masuk ke dalam minimarket itu. Memilih-milih makanan. Aku yang memilihkan makanan untuknya. Dia harus makan makanan yang menyehatkan agar selama perjalanan 3 hari itu dia tidak sakit. Setelah selesai, kami menjauh dari minimarket itu. Duduk sejenak di sebuah bangku taman ditemani angin sepoi.

“Oppa, sebenarnya aku ingin memberikanmu hadiah..”

“Hadiah apa? Dan untuk apa?”

“Untuk hari jadi kita yang ke 2 bulan dan untukmu yang tadi mendapatkan tempat pertama. Tapi kurasa aku tak akan memberikannya sekarang.”

“Kenapa tidak? Hari jadi kita yang ke 2 bulan kan hari ini, lalu aku juga memenangkan lomba itu hari ini. Kenapa kau tidak memberikannya sekarang saja?”, wajahnya terlihat sangat kebingungan.

“Aku akan memberikannya padamu setelah kau pulang dari acara study tour mu 3 hari lagi supaya kau selalu merindukanku dan ingin cepat pulang..”, ucapku sambil tersenyum padanya.

“Tidak disogok dengan hadiah pun aku pasti akan merindukanmu chagi,” katanya sambil membelai rambutku.

Aku tersenyum lagi padanya. Kami hanya duduk di bangku taman ini tapi aku merasa sangat nyaman karena aku bersamanya. Ya, jika bersamanya aku selalu merasa aman. Aku tak tahu bagaimana keadaanku jika tak ada dia.

“Oppa..”

“Ne?”

“Aku ingin menceritakan sesuatu padamu..”

Dia lalu menatapku dengan heran.

“Kau? Ayo cepat ceritakan sekarang..”

MINWOO POV

Kami duduk di bangku taman. Sempat terjadi keheningan beberapa saat setelah aku membelai rambutnya tadi.

“Oppa..”, dia memanggilku lembut.

“Ne?”

“Aku ingin menceritakan sesuatu padamu..”

Aku menatapnya heran. Wajahnya serius dan sepertinya dia ingin menceritakan hal yang serius juga. Kalau kau ingin tahu, selama 2 bulan ini dia tak pernah menceritakan sesuatu hal pribadinya. Dia hanya menceritakan tentang kesehariannya di sekolah dan mengenai teman-temannya saja. Itu pun tak banyak.

“Kau? Ayo cepat ceritakan sekarang..”

“Setelah lulus nanti kau akan kemana?”, dia bertanya tanpa memandang kearahku.

“Bukankah tadi kau bilang kau akan bercerita? Mengapa kau malah bertanya padaku?”

“Jawab dulu pertanyaanku oppa!”

“Sebenarnya orangtuaku menyuruhku kuliah di Jepang, tapi aku tak mau karena aku ingin bersamamu disini. Memangnya ada apa?”

“Ani oppa. Sebaiknya kau menuruti kata orangtuamu untuk kuliah di Jepang..”

“Untuk apa? Disana pun aku tinggal sendiri. Aku tidak punya saudara di Jepang!”

“Setelah lulus dari sekolah ini juga aku tidak akan berlama-lama di Seoul. Aku akan tinggal bersama eomma-ku di Paris.”

Aku menatapnya heran. Tinggal bersama eomma-nya?

NICHAN POV

Suasana di taman inilah yang membuatku ingin menceritakan semuanya pada Minwoo-oppa. Sebelumnya aku tak pernah menceritakan tentang kehidupan pribadiku padanya. Dia sempat bertanya namun tak kujawab. Tapi aku tiba-tiba ingin menceritakan semua padanya.

“Setelah lulus dari sekolah ini juga aku tidak akan berlama-lama di Seoul. Aku akan tinggal bersama eomma-ku di Paris.”

Dia diam. Mungkin sedang memikirkan sesuatu.

“Oppa bingung ya? Aku memang tak menceritakan ini pada siapa-siapa. Sebenarnya appa dan eomma-ku sudah bercerai semenjak 5 bulan yang lalu. Aku tetap tinggal bersama appa disini. Sedangkan eomma mengurus bisnis keluarganya yang ada di Paris. Eomma memintaku tinggal bersamanya karena dia merasa kesepian disana. Appa membolehkanku dengan syarat aku harus menyelesaikan sekolahku disini..”

“Dan kau tak pernah menceritakan hal sepenting itu padaku?”, dia memandangku penuh pertanyaan sambil menunjuk wajahnya sendiri.

“Mianhae oppa, tapi sekarang kan aku sudah menceritakannya padamu.”

“Ne. Aku janji akan terus memberikan support untukmu. Kau jangan sedih karena hal itu ya..”

“Ne oppa”

“Lalu apa maksudmu menyuruhku menuruti orangtuaku untuk kuliah di Jepang?”

“Agar saat aku pindah ke Paris nanti, kita sudah terbiasa dengan hubungan jarak jauh oppa..”, ucapku sambil tersenyum padanya.

“Aku tetap akan memilih tinggal disini dan melewatkan hariku bersamamu sebelum kau pindah ke Paris.”

Setelah itu sebenarnya dia mengajakku bermain menghabiskan hari ini bersama. Namun aku menolak ajakannya. Dia harus segera pulang dan menyiapkan staminanya untuk besok. Besok dia akan pergi karya wisata bersama teman-teman seangkatannya selama 3 hari. Dan aku tak mau dia sampai terlambat. Akhirnya dia mengantarkanku pulang.

Aku menemuinya di halaman sekolah keesokan harinya. Dia menggendong tasnya yang lumayan besar dan cukup berat. Belum lagi tas yang dijinjingnya. Aku ingin membantu membawakan tasnya namun tak mendapat izin darinya. Aku hanya membantu memegang jaketnya saja.

“Kau kesini untuk mengantarkan kepergianku, bukan untuk menjadi pembantuku..”, begitu alasannya.

Sebenarnya hari ini aku memang libur. Pasti. Karena ini Hari Minggu. Namun aku sengaja datang ke sekolah untuk mengantarkan kepergian namjachinguku. Lama sekali menunggu dia pergi. Bus yang akan membawanya terlambat sekitar 30 menit dengan alasan bannya bocor. Jika mendengar kendala seperti itu saat akan melakukan perjalanan, aku sering membayangkan hal-hal buruk.

“Aku pergi dulu chagi. Aku akan datang 3 hari lagi. Kau tidak perlu menghawatirkanku. Tidak akan terjadi hal-hal buruk padaku.”

Aku mengangguk. Ya. Seperti yang dia katakan. Tidak akan terjadi hal-hal buruk.

MINWOO POV

Bus yang ditunggu-tunggu datang. Aku segera berpamitan pada yeojachingu-ku yang sedari tadi setia menemaniku disini. Aku melihat raut muka yang sepertinya kuatir padaku.

“Aku pergi dulu chagi. Aku akan datang 3 hari lagi. Kau tidak perlu menghawatirkanku. Tidak akan terjadi hal-hal buruk padaku.”

Aku tersenyum dan dia mengangguk. Dia memberikan jaket yang dipegangnya padaku. Aku melangkahkan kakiku ke arah bus. Namun aku kembali berbalik kearahnya. Kucium kening gadis yang sangat kusayangi itu. Dia agak tersentak namun tetap memamerkan senyum manisnya.

“Aku akan merindukanmu. Setelah 3 hari ini kau harus memberikan hadiah itu padaku. Jaga dirimu baik-baik ya selama aku pergi. Saranghae Nichan-ah!”, aku membelai rambut halusnya.

“Pasti oppa. Nado saranghae.”

Setelah dia mengucapkan itu pikiranku menjadi tenang. Aku masuk kedalam bus dan mengambil tempat duduk dekat jendela supaya aku bisa mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kali padanya sebelum aku pergi.

“Annyeong hi gyeseo chagi!”, aku melambaikan tanganku. Dan kulihat dia pun melambaikan tangannya padaku.

NICHAN POV

Aku pulang ke rumah setelah bus yang ditumpangi Minwoo-oppa hilang dari pandanganku. Dalam perjalanan pulang aku tak pernah berhenti mendoakan keselamatannya. Belum 10 menit kami berpisah, dia sudah mengirimkan pesan singkat padaku.

From: Nae Namjachingu πŸ™‚

Chagi, kau langsung pulang ke rumah ya. Jangan mampir kemana-mana dulu. Aku harus pastikan kau sampai di rumah dengan selamat πŸ™‚

Aku tersenyum sambil terus berjalan. Ada-ada saja namjachingu-ku ini.

To: Nae Namjachingu πŸ™‚

Tentu oppa, aku sedang dalam perjalanan ke rumah. Kau juga hati-hati selama di perjalanan. Jangan lupa makan agar kondisi tubuhmu tetap fit πŸ™‚

From: Nae Namjachingu πŸ™‚

Pasti chagi. Saranghae πŸ™‚

Aku menatap pesan yang dikirimkannya. Lucu sekali dia ini. Hari ini dia sudah mengatakan ‘saranghae’ padaku sebanyak 2 kali padahal sebelumnya tak pernah sama sekali.

TOOOOOOOOOOOOOOOT!

Suara klakson mobil yang sangat keras membuatku kaget. Aku sampai melompat kecil ke arah samping.

“Hey hati-hati kalau menyebrang! Kau tak melihat lampu jalan berwarna hijau?!”, orang yang menyetir mobil itu memakiku. Badanku gemetar karena dimarahi seperti itu.

“Mian ajhussi, ini memang salahku. Aku tidak memperhatikan jalan sedari tadi. Mianhae. Jeongmal mianhae..”, ucapku sambil membungkukkan badan.

“Perhatikanlah jalan kalau sedang berjalan. Matikan saja phone cell mu jika perlu. Namjachingu mu itu tidak akan mati jika kau tak menghubunginya semenit saja!”

Bahkan saat akan pergi pun dia masih saja memakiku. Huh dasar orang aneh! Aku menghela nafasku dan kembali berjalan. Phone cell sudah kumasukkan kedalam tasku agar kejadian tadi tak terulang lagi.

MINWOO POV

Aku punya firasat aneh. Perasaanku tak enak daritadi. Aku terus teringat akan Nichan. Kali ini mengingatnya tak sama sekali menenangkanku. Atau mungkin hanya sedikit menenangkanku. Hari sudah semakin gelap semenjak aku memasuki bus ini. Bayangkan saja, aku memasuki bus ini pukul 08.30 dan sekarang sudah pukul 19.00. Kami belum sampai di lokasi study tour. Untuk sampai kesana memakan waktu 13 jam perjalanan. Nichan tidak membalas pesanku sejak tadi siang. Mungkin dia sedang beristirahat.

“Ah aku mengantuk..”, ucap Kwangmin yang duduk bersamaku di bus.

“Perkataanmu itu membuatku juga ikut mengantuk!”, ucapku yang kemudian bersandar di tempat dudukku dan memejamkan mataku. Kupakai jaketku. Terasa aura Nichan yang memeluk jaket ini tadi pagi. Itu membuatku cukup tenang.

NICHAN POV

Setelah sampai di rumah tadi pagi aku langsung mengerjakan tugas sekolahku yang menumpuk. Aku baru ingat bahwa aku belum membalas pesan dari Minwoo-oppa. Kurogoh tasku dan kuambil phone cell-ku. Itu mengingatkanku pada peristiwa di jalan. Aku sangat bersyukur tidak sampai tertabrak tadi.

To: Nae Namjachingu πŸ™‚

Mian oppa, aku sedang mengerjakan tugas-tugasku sampai lupa akan segalanya tadi, hehe. Bagaimana perjalananmu? Apakah menyenangkan?

Dia tak membalas pesanku. Mungkin sedang tertidur. Aku pun merasa sangat lelah dan ingin sekali tidur. Aku segera merebahkan tubuhku di tempat tidur dan menutupi diriku dengan selimut. Padahal ini baru jam 7 malam.

MINWOO POV

Aku terbangun dan bus masih berjalan. Masih belum sampai juga. Kulirik phone cell ku dan kudapati sebuah pesan dari yeojachingu-ku. Dia membalas pesan ini sekitar 3 jam yang lalu.

From: Nae Yeojachingu πŸ™‚

Mian oppa, aku sedang mengerjakan tugas-tugasku sampai lupa akan segalanya tadi, hehe. Bagaimana perjalananmu? Apakah menyenangkan?

To: Nae Yeojachingu πŸ™‚

Sama sekali tidak menyenangkan chagi, aku bosan. Aku sangat merindukanmu!

“Anak-anak, kita sebentar lagi sampai di tempat tujuan..”, ucap guruku.

Aku mendudukkan badanku hingga tegak. Menyadarkan diriku yang baru saja bangun dari tidurku. Kwangmin belum bangun rupanya. Aku tak tega membangunkannya karena dia terlihat sedang bermimpi indah sampai senyum-senyum sendiri.

Bus membelok kearah kanan.

BRUG! Tiba-tiba suara keras terdengar dan bus langsung oleng. Bukan, bus bukan hanya sekedar oleng. Bus ini sekarang dalam keadaan miring 45 derajat.

Aku panik. Semuanya panik. Semua langsung bangkit dari tempat duduknya. Anak perempuan bahkan banyak yang berteriak histeris.

“Anak-anak, jangan banyak bergerak! Tetap pada posisi kalian masing-masing!”, ucap guruku lagi berusaha menenangkan seluruh murid. Aku diam. Semuanya juga ikut diam.

Hanya untuk beberapa saat kami memang benar-benar diam. Ya sebelum bus ini kembali oleng. Kali ini kemiringannya hampir 90 derajat.

Kami kembali panik. Guru kami pun kali ini tampak panik. Aku tak bisa diam di tempatku. Aku bangkit dan berlari menju pintu keluar. Berbarengan dengan anak-anak lainnya. Pijakan kakiku pun kini adah kursi-kursi, bukan pijakan seharusnya di bus. Kulihat jendela di bus sudah hampir setara dengan tanah pijakan kami. Kami semua semakin panik dan berebut keluar dari pintu.

Bus kembali berguncang sebelum anak-anak sempat keluar. Kini guncangannya semakin hebat. Kurasakan mobil mulai terperosok kedalam tanah. Tak ada jurang disini. Tanah disini amblas.

Beberapa temanku bisa keluar dari bus dan melompat ke bagian tanah yang diperkirakan aman. Aku sendiri masih di bus dalam keadaan semakin panik. Aku melompat secepatnya kearah teman-temanku.

“Arrggh!”, lompatanku tak cukup untuk sampai ke tanah tempat mereka berpijak. Untung saja tanganku berhasil meraih aspal di sekitar tanah yang amblas. Kwangmin berada dibelakangku. Aku tak tahu bagaimana nasibnya. Aku sudah tak melihat bus itu. Bus itu jatuh tepat saat aku melompat tadi. Tanah ini amblas pada kedalaman yang tak bisa kuperkirakan. Aku tak bisa melihat ujungnya.

Salah seorang temanku menarik tanganku dari atas. Kurasakan tangannya gemetar. Dia takut, sama sepertiku.

“Ayo Minwoo-ah! Aku akan menarikmu!”, ucapnya sambil menarik tanganku. Aku tak tahu siapa dia. Aku hanya bisa melihat sepatunya saja. Aku menarik tangannya agar aku bisa tertarik keatas. Berat sekali. Rasanya berat badanku 5 kali lebih berat dari biasanya. Aku tak bisa menarik badanku sendiri keatas. Bahkan setelah aku mengerahkan seluruh tenagaku.

“Aku masih mencoba menarikmu Minwoo-ah, ayo bersemangatlah!”, aku sedikit mendongak. Pandanganku agak kabur namun aku bisa melihat teman-temanku. Mereka berusaha menarikku agar aku tak jatuh ke dalam tanah yang amblas itu. Di barisan depan ada Youngmin. Dia masih berusaha menarikku sambil menahan air matanya. Mataku membasah. Pandanganku semakin kabur.

“Aku.. Aku.. Le.. Lelah..”, aku berbicara dengan sisa tenaga yang kumiliki. Aku benar-benar telah mengerahkan seluruh kekuatanku untuk tak melepas tarikan tangan teman-temanku.

NICHAN POV

“Aaaaaaaaaaaah!”, saat aku membuka mataku aku seakan melihat sosok Minwoo-oppa dihadapanku. Dia menampakkan dirinya seperti hantu. Hanya berupa bayangan yang langsung menghilang. Aku sempat melihat bayangan itu tersenyum. Bahkan itu seperti Minwoo-oppa yang nyata.

Nafasku terengah.

“Huft.. Huft.. Mungkin aku belum sadar betul. Aku kan baru saja bangun tidur..”, ujarku menenangkan diriku sendiri.

Kuraih ponselku. Ada pesan dari Minwoo-oppa.

From: Nae Namjachingu πŸ™‚

Sama sekali tidak menyenangkan chagi, aku bosan. Aku sangat merindukanmu!

Tiba-tiba ada perasaan takut saat aku membaca pesan itu. Rasa takut kehilangannya. Aku mempunyai firasat jika aku akan sangat merindukannya walaupun hanya untuk 3 hari ini. Jantungku berdebar kencang mengingatnya. Aku merasakan kekacauan dalam hati dan pikiranku. Apa aku se-khawatir ini padanya? Dia kan bilang dia akan baik-baik saja. Lagipula mungkin dia sekarang sudah tidur. Aku melirik jam dinding. Pukul 10 malam.

“Selamat tidur oppa, aku tak akan mengganggumu. Aku akan menghubungimu lagi besok pagi..”, ucapku sambil menyimpan phone cell-ku di samping tempat tidurku. Tapi aku belum bisa tidur. Pikiranku masih pada Minwoo-oppa. Aku sangat mengkhawatirkannya.

MINWOO POV

‘Aku harus bisa naik! Aku harus bisa menarik tubuhku keatas! Aku masih ingin bertemu keluargaku! Aku masih ingin bermain dengan teman-temanku! Aku masih ingin menghabiskan banyak waktu bersama Nichan!’

Aku memberi semangat pada batinku sendiri. Berharap ada kekuatan ajaib yang bisa membantuku. Tanganku mulai memerah. Sudah terasa perih. Tubuhku menggantung diatas amblasan tanah yang dalam. Mungkin setelahnya ini akan jadi jurang.

Aku masih ingin hidup. Aku masih ingin berjuang. Aku kembali menarik tubuhku. Teman-temanku masih membantuku.

“Aku tetap akan menarikmu Minwoo-ah!”, teriak Youngmin yang sudah bercucuran air mata. Dia menarikku dengan seluruh tenaganya. Aku melihat dia lelah. Tapi dia masih melakukannya untukku.

Aku mendorong tubuhku keatas. Ya, aku sedikit naik. Aku bisa. Aku bisa.

“Arrgh!”, lenganku tergores potongan batu yang kulalui. Darah segar mengalir dari lenganku. Sangat perih. Luka bercampur tanah yang sedari tadi berjatuhan.

Tidak! Ini tidak sakit! Lebih sakit lagi jika aku tidak bisa selamat dari sini!

Aku kembali mendorong tubuhku. Lebih kuat lagi. Masih dengan bantuan teman-temanku. Aku bisa naik lagi meski hanya sedikit. Kini aku bisa melihat pohon-pohon tinggi disamping jalan. Aku senang, tapi perjuanganku belum selesai. Aku masih terus berjuang. Yang terpikir olehku saat ini adalah Nichan. Dia motivasi terbesarku untuk melewati ini semua.

NICHAN POV

Sudah 15 menit dan aku masih belum bisa tidur. Beberapa kali kucoba memejamkan mataku namun aku tak pernah terlelap. Aku masih memikirkan Minwoo-oppa. Apa aku hubungi dia sekarang?

Ah tidak. Mungkin aku hanya akan mengganggunya. Dia pasti sangat kelelahan dengan perjalanannya. Biarkan dia beristirahat.

Tapi tetap saja, seberapa keras usahaku membuat pemikiran-pemikiran positif untuk diriku sendiri, pemikiran negatif itu selalu datang. Itu selalu membuatku takut. Aku takut terjadi sesuatu hal yang buruk dengan Minwoo-oppa. Meski aku tak boleh berpikiran seperti itu, namun otakku terus saja memikirkannya.

Aku benar-benar tidak tenang. Otakku kacau. Dan tak terasa aku meneteskan air mata. Air mata ketakutan.

MINWOO POV

Aku berhasil naik lagi. Mendorong tubuhku keatas. Wajahku sudah berlumur tanah yang sedari tadi jatuh. Lenganku tak henti mengeluarkan darah. Semangatku terus terpompa oleh Nichan yang mengisi pemikiranku sejak tadi.

“Sedikit lagi Minwoo-ah! Kau pasti bisa!”

“Ayo Minwoo-ah! Berusaha terus! Kami akan terus menolongmu!”

Semangat-semangat yang diberikan teman-temanku benar-benar memberi energi besar. Aku terus mendorong tubuhku. Setengah dari tubuhku sudah sejajar dengan tanah. Aku sedikit tersenyum. Sedikit lagi. Aku harus berjuang demi teman-temanku yang sudah berusaha keras menolongku. Demi keluargaku dan yeojachinguku yang menungguku untuk kembali.

Aku kembali naik. Naik. Naik hingga satu kakiku bisa mencapai tanah. Teman-teman yang tadi hanya melihat dibelakang mulai mendekatiku dan menarikku. Mereka menarik tubuhku sampai aku benar-benar ada di tanah. Aku lelah. Tenagaku habis. 20 menit paling menegangkan dalam hidupku baru saja kulalui.

Aku masih terduduk disamping tanah yang amblas itu. Tangan kananku tak bisa digerakkan karena luka tadi. Kepalaku juga pusing. Aku memberikan waktu untuk diriku sendiri bernapas.

Tiba-tiba sebuah benda menggenggam pergelangan kakiku erat. Itu tangan seseorang. Sebuah tangan yang berasal dari tanah amblas tempat teman-temanku menolongku tadi. Tubuhku masih lemah. Untuk berbicara saja aku sulit.

“Young.. Youngmin.. Kaki..”, belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, tangan itu menarikku hingga aku hampir jatuh lagi ke tanah tersebut. Sangat beruntung! Youngmin dengan sigap mencengkeram tanganku kuat. Dia menahanku dengan segala tenaga yang dimilikinya. Tubuhku lemas. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana lagi.

Tangan itu masih mencengkram pergelangan kakiku. Aku merasakan beban yang semakin berat. Kurasa dia sedang menggantung sepertiku tadi dengan kakiku sebagai penahannya. Tapi aku sudah terlalu lemah. Tenagaku sudah kuhabiskan untuk menarik diriku sendiri tadi. Tubuhku mulai merosot dan terus merosot. Kekuatan teman-temanku pun sudah tak sekuat tadi. Mereka juga sudah kelelahan menarikku.

“Young.. Lepaskan aku..”, ucapku dengan suara yang bergetar.

“Tidak Minwoo-ah! Aku harus menarikmu dan seseorang dibawah sana. Kau harus selamat dan kembali bersama kami disini!”, Youngmin kembali meneteskan air matanya. Tak pernah aku melihat wajah teman-temanku panik seperti ini. Mereka biasanya selalu ceria dan penuh dengan tawa.

“Aku.. Aku lelah.. Aku.. Aku hanya ingin.. Kau.. Kau katakan pada Nichan.. Mian.. Mian.. Aku tak bisa pulang.. Dan.. Tolong katakan.. Juga.. Bahwa aku.. Aku sangat.. Aku sangat mencintainya.. Go.. Gomawo untuk.. Hadiah yang.. yang dia berikan.. Mianhae aku.. Aku tak bisa.. Menerima hadiah.. Hadiah itu.. Dan.. Gomawo semua..”, aku berusaha melepaskan tanganku yang dicengkram oleh Youngmin. Kini tak seerat tadi. Mungkin tenaganya benar-benar sudah terkuras habis.

“Minwoo-ah.. Kau akan pulang! Kau pasti pulang! Kau akan mengatakannya langsung pada Nichan!”, ucap Youngmin sedikit terisak.

Aku tak sanggup berkata-kata lagi. Pandanganku mulai kabur. Aku mulai tak bisa merasakan apa-apa. Sakit yang kurasa sedari tadi seakan tak berarti apa-apa lagi. Semuanya terasa sunyi dan semakin gelap. Mataku terpejam. Dan semuanya hilang.

NICHAN POV

“Aku harus menelpon Minwoo-oppa sekarang!”, aku mengambil phone cell-ku dan memanggil kontak bertuliskan ‘Nae Namjachingu :)’. Nomornya berada diluar jangkauan. Aku semakin panik. Aku sangat khawatir. Tak pernah sekhawatir ini padanya sebelumnya. Apa yang sedang terjadi padanya? Dia akan baik-baik saja! Tentu dia akan baik-baik saja seperti yang dia katakan sebelumnya.

OUTSIDE POV (Youngmin)

Sedari tadi aku menahan tangan Minwoo. Aku tak ingin dia jatuh lagi. Aku tak ingin kehilangannya setelah aku mengetahui bahwa saudara kembarku ternyata masih didalam bus yang jatuh ke amblasan tanah itu. Aku tidak ingin kehilangan 2 kawan terbaikku. Aku sudah kehilangan satu, dan aku akan mempertahankan yang tersisa. Dia menyuruhku melepaskan cengkraman tanganku. Teman-teman yang lain menyuruhku merelakan Minwoo. Namun aku tetap bersikeras membawanya kembali keatas. Dengan bercucuran air mata dan tenaga yang tersisa aku masih menariknya walaupun dengan beban yang lebih berat dari sebelumnya.

“Aku.. Aku lelah.. Aku.. Aku hanya ingin.. Kau.. Kau katakan pada Nichan-ah.. Mian.. Mian.. Aku tak bisa pulang.. Dan.. Tolong katakan.. Juga.. Bahwa aku.. Aku sangat.. Aku sangat mencintainya.. Go.. Gomawo untuk.. Hadiah yang.. yang dia berikan.. Mianhae aku.. Aku tak bisa.. Menerima hadiah.. Hadiah itu.. Dan.. Gomawo semua..”, Minwoo berusaha melepaskan cengkraman tanganku. Aku tetap tak mau. Tapi harus kuakui aku sudah mulai lelah dan sulit mencengkram tangannya lagi.

“Minwoo-ah.. Kau akan pulang! Kau pasti pulang! Kau akan mengatakannya langsung pada Nichan!”, ucapku semakin terisak. Aku melihat wajahnya yang sudah pasrah. Semangat hidupnya harus kubangkitkan lagi meski aku bingung harus bagaimana.

Mata Minwoo terpejam. Aku tak bisa melihat jelas bagaimana ekspresi wajahnya karena kepalanya tertunduk. Bebanku terasa semakin berat. Dia tidur? Dia pingsan? Apa yang terjadi dengannya?

Tubuhku lemas saat mengetahui Minwoo kini tak sadarkan diri. Sedikit demi sedikit cengkraman tanganku melonggar. Dengan cepat tubuh Minwoo turun. Semakin turun.

“Youngmin-ah, dia hanya sampai disini..”, ucap seseorang dibelakangku lirih.

Tubuhku gemetar dan tangan Minwoo terlepas dari cengkramanku. Pandanganku kosong. Air mata terus bercucuran dipipiku.

“Kau sudah melakukan yang terbaik Youngie, mungkin takdir mereka yang mengharuskan sampai disini..”, aku baru mengetahui bahwa itu adalah Ji Eun.

Aku masih tidak bisa berkata-kata. Aku tak percaya dengan apa yang baru saja aku lakukan. Aku melepaskan tangannya.

“Aku melihatnya Youngie, seseorang yang menarik kaki Minwoo dan jatuh bersama Minwoo barusan ternyata adalah saudaramu, Kwangmin..”, yeoja itu mulai menangis. Suaranya berubah parau.

Aku masih diam. Aku semakin diam saat mengetahui bahwa aku baru saja melepaskan kedua kawan terbaikku secara bersamaan. Harusnya aku bisa membawa mereka kembali disini. Seharusnya aku lebih berusaha keras untuk mereka. Seharusnya aku mengorbankan diriku untuk mereka. Seharusnya aku menyelamatkan mereka.

NICHAN POV

Aku sama sekali belum tertidur semenjak tadi malam. Aku masih memikirkan Minwoo-oppa. Aku belum tahu bagaimana kondisinya sekarang. Nomornya sama sekali tak dapat dihubungi.

From: Youngmin-sunbae

Nichan-ah, mianhae

Aku kaget melihat pesan yang datang dari Youngmin-sunbae.

To: Youngmin-sunbae

Ada apa sunbae? Apakah kau bersama Minwoo-oppa? Mengapa dia tidak menghubungiku?

From: Youngmin-sunbae

Datang saja ke sekolah hari ini pukul 3 sore

Aku tersentak. Untuk apa? Apa mereka sudah pulang dari tempat study tour mereka? Bukannya mereka berangkat 3 hari?

Aku menunggu pukul 3 sore sambil bertanya-tanya apakah yang terjadi. Pukul 2 siang aku memutuskan segera berangkat ke sekolah. Wajahku sangat lesu karena semalaman tidak tidur. Rambutku agak kusut, mungkin aku terlalu memikirkan hal yang aneh-aneh.

OUTSIDE POV (Youngmin)

Polisi datang ke tempat kejadian. Setelah dimintai keterangan, kami dan rombongan kembali ke Seoul. Menggunakan bus lain yang disewa. Aku meninggalkan tempat itu dengan penuh rasa sesal. Disepanjang perjalanan banyak siswa yang menangis karena kehilangan teman-temannya. Menurut data terbaru, jumlah siswa yang menjadi korban adalah 56 orang. Termasuk Minwoo dan Kwangmin didalamnya. Aku duduk dengan pandangan kosong, sesekali air mata menetes karena tak dapat kubendung.

Sesaat kemudian aku tersadar. Aku harus memberitahu Nichan secepatnya. Sesuai dengan amanat terakhir yang disampaikan Minwoo untuk kusampaikan lagi pada Nichan. Aku tahu Nichan akan lebih terpukul dibandingkan ku.

Kami sampai di sekolah pukul 14:38 dengan disambut rangkaian-rangkaian bunga yang mengutarakan belasungkawa. Seorang guru memelukku sambil menangis. Aku tak memperdulikannya. Aku sama sekali tak mengatakan apa-apa. Bahkan tak berekspresi sekalipun. Aku langsung mencari Nichan. Kulihat jam tanganku,belum pukul 3 mungkin dia belum datang.

Tapi aku salah. Disanalah Nichan. Duduk sendiri di bangku taman. Kurasa dia melamun. Aku tak sanggup mendekatinya. Apalagi harus mengatakan apa yang terjadi Minwoo. Namun inilah pesan terakhir Minwoo.

“Nichan-ah..”, suaraku parau. Tidak. Aku tak boleh menangis dihadapannya.

“Aku tak ingin basa-basi sunbae, aku ingin kau mengatakan semuanya..”, dia tak sama sekali melihat kearahku. Itu membuatku ingin menangis. Tergurat kesedihan dalam suaranya. Kurasa dia tahu apa yang akan aku katakan.

“Aku cukup mengatakan.. Namjachingu mu termasuk kedalam 56 orang itu..”, aku menunduk. Kulihat dari samping matanya berair dan air itu menetes.

NICHAN POV

Aku sudah cukup bingung dengan suasana sekolah penuh bunga seperti ini. Apalagi bunga berduka cita. Guru-guru yang menunggu di halaman hampir semuanya menangis. Aku menghampiri wali kelasku.

“Sebenarnya ini ada apa?”, tanyaku polos.

“Rombongan karya wisata mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan. 56 dari mereka tidak selamat..”, wali kelasku menangis. Aku diam. Air mataku menetes.

Aku berjalan dengan tatapan kosong ke arah taman. Kududukkan diriku di salah satu bangku. Aku tak memikirkan apapun. Tentu saja kecuali Minwoo-oppa. Jangan sampai firasat-firasatku itu benar.

“Nichan-ah..”, seseorang memanggilku. Aku tahu itu suara Youngmin-sunbae meski terdengar sedikit berbeda.

“Aku tak ingin basa-basi sunbae, aku ingin kau mengatakan semuanya..”, pandanganku tak teralihkan. Aku masih memandang kosong kedepan. Tak melirik sedikit pun kearah Youngmin-sunbae.

“Aku cukup mengatakan.. Namjachingu mu termasuk kedalam 56 orang itu..”

Aku terdiam. Air mataku tanpa kusadari menetes. Begitu deras. Bahkan sampai dadaku sakit. Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Dia pasti berbohong! Tapi.. Ini tidak lucu!

“Dia bilang dia lelah, dia ingin aku menyampaikan permintaan maafnya padamu, dan tentang hadiah yang tak bisa dia terima. Dia juga tak lupa mengatakan bahwa dia sangat.. sangat mencintaimu..”, aku melihatnya menangis. Aku juga ikut menangis.

“Aku juga sedih tak bisa menyelamatkannya. Kau tahu? Saudaraku, Kwangmin juga termasuk dalam 56 orang itu. Kita harus berjuang bersama-sama untuk mereka Nichan-ah..”

“Ya sunbae, aku menyadari akhir-akhir ini banyak hal aneh terjadi. Dia mengajakku ke rumahnya, bertemu orangtua dan juga noona-nya. Dia mengajakku jalan-jalan di hari terakhir kami. Aku tiba-tiba menceritakan semua padanya. Dia jadi sering mengucapkan saranghae padaku. Hanya satu yang kusesalkan sunbae.. Aku belum menyerahkan hadiah 2 bulan hari jadi kami dan hadiah atas kemenangannya di lomba lari kemarin..”, aku menunduk. Mengeluarkan kotak kecil. Hadiah untuk Minwoo-oppa.

“Ini hadiah untukmu oppa, aku senang kita sudah melakukan yang terbaik di hari terakhir kita. Kita melakukannya bersama. Aku memberikan hadiah ini padamu tepat 3 hari setelah study tour mu selesai..”

Aku meletakkan kotak itu diatas pusara yang bertuliskan namanya. No Min Woo. Aku sangat mencintaimu. Jeongmal Saranghaeyo oppa. Kita benar-benar akan melewati hubungan jarak jauh. Aku disini dan kau telah disana.

 

END

25 FEBRUARI 2012

 

Wuaaaah Minu nya matiiii T_T

Tapi di FF yang selanjutnya, Minwoo aku buat hidup lagi! Kkkkkk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s