FF EXO : WINTER BIRTHDAY


Title

WINTER BIRTHDAY

Cast

Park Ni Tae (@nataliaslstri)
Oh Se Hun

Other

Jung Soo Jung (Krystal)
Xi Lu Han

Genre

Romance

Length

Oneshoot

Rating

Teenage

Author

@ririnovi

FF khusus buat ulang tahunnya enaaaat, akhirnya rampung juga. Sesuai pesanan ya, kamu dan Sehun adalah main cast, endingnya pun happily ever after. Dikasihinnya juga pas sebulan setelah ulang tahun kamu, tanggal 26 Januari kemaren ya meskipun ketauan baru di post nya sekarang. Padahal pas tanggal 26 nya udah di post loh, ko bisa ilang ya? :/ ya sudahlah, bukan masalah besar, hehe.

Okai, Sehun is coming..

“Sehun-ah..”, panggil seorang yeoja pada namjachingunya. Namja yang diketahui bernama Sehun itu menoleh sejenak sebelum akhirnya fokus kembali pada benda dihadapannya.

“Sedari tadi kau sibuk sendiri. Memangnya apa yang sedang kau lakukan?”, tanya Park Ni Tae, yeoja yang tadi memanggil Sehun.

“Tidak ada.”, jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel yang sedang dimainkannya.

“Kau begitu menyebalkan hari ini, Oh Se Hun!”, geram Nitae sambil beranjak dan merebut paksa ponsel di tangan Sehun.

“Ya! Kembalikan ponselku!”

Sehun baru saja akan merebut kembali ponselnya, namun terhenti ketika sang yeojachingu menatapnya tajam. Otak Sehun berpikir, dan sepertinya Nitae akan marah sebentar lagi. Akan mengomel seperti biasanya.

“Oh Se Hun! Jadi sejak tadi kau diam dan tak menggubrisku karena sedang bermain game Angry Bird?! Menyebalkan sekali!!”, Nitae memukul kepala Sehun dengan ponsel yang dipegangnya. Melemparnya sembarang kemudian melangkah keluar dari practice room.

Mereka berdua adalah pasangan yang dipertemukan di gedung usang ini. Gedung SM Entertainment. Berawal dari sebulan lalu saat Nitae baru saja resmi menjadi salah satu trainee di agensi terbesar Korea Selatan tersebut.

“Annyeong..”, sapa namja berpostur tinggi tegap menghampiri seorang yeoja yang sedang duduk di loby gedung SM Entertainment.

“Ne?”, Nitae mendongak. Menatap wajah namja yang berbicara tadi.

“Kau Park Ni Tae, kan? Teman di sekolah dasarku dulu?”, tanya namja itu tanpa menghilangkan kerutan pada dahinya. Mencoba meraba ingatannya semasa sekolah dulu.

Sang yeoja refleks mengerutkan keningnya juga. Mencoba mengingat namja di hadapannya.

“Ah, ya!”, wajahnya berubah ceria. “Kau Oh Sehun yang dulu sering menangis di kelas kan?”, tanya Nitae antusias.

Sehun mengerucutkan bibir merahnya. Membuat Nitae tertawa cukup keras. Bahkan resepsionis yang ada disitu sempat menatap aneh kearah mereka berdua.

“Apa yang kau lakukan disini?”, tanya Sehun meredakan tawa Nitae.

“Aku trainee disini mulai hari ini, kau sendiri?”

“Aku bahkan sudah hampir dua tahun menjadi trainee disini. Senang bertemu denganmu lagi.”

Sehun tersenyum. Tapi rasanya Nitae punya perasaan aneh dengan senyum yang ditujukan Sehun. Perasaan bahwa dirinya akan mendapatkan sesuatu yang buruk dari namja ini.

Sepeninggal Nitae, Sehun memungut ponselnya yang ternyata jatuh keatas sofa. Fiuh.. Syukurlah, ucapnya dalam hati. Ia kemudian melanjutkan aktifitasnya karena sudah merasa aman dari Nitae.

Sementara itu, Nitae yang ternyata masih mengintip dari celah practice room sangat geram dengan ulah Sehun. Dihentakkan kakinya kemudian pergi dengan rasa kesal yang menumpuk di kepalanya.

NITAE’s POV

“Nitae, apa yang sedang kau lakukan disini? Bukankah jadwal latihanmu masih lima jam lagi?”, aku menatap sang pemilik suara, Soojung. Senyum kukembangkan sebisanya.

“Ani, Soojung-ah. Aku hanya menemani, ehm Sehun.”, jawabku ragu.

“Ah, kalian terlihat sangat serasi, saling mendukung satu sama lain. Aku jadi iri.”, ujar Soojung terkekeh. Dengan sangat terpaksa, aku juga ikut terkekeh.

“Eh, kau masih disini? Ayo kita ke kantin!”, ucap seorang namja sembari menarik lenganku. Meski belum melihat wajahnya, aku tahu itu pasti Sehun.

Aku melambaikan tangan kearah Soojung, teman dekatku yang sekarang sudah debut dalam girl group bernama f(x) dan mendapat nama Krystal. Meski sudah mendapat nama baru, aku lebih suka memanggilnya Soojung.

Senyum palsu yang kutunjukkan pada Soojung luruh kembali saat menatap punggung Sehun yang masih menarik lenganku.

“Lepaskan aku Sehun-ssi, aku bukan anak kecil yang berjalan saja harus dituntun.”, ucapku melepas lenganku yang ditariknya.

Ia melihat kearahku sejenak kemudian mulai berjalan lagi. Bahkan tanpa menyuruhku mengikutinya atau memberi jalan agar aku berjalan terlebih dahulu. Namja macam apa dia? Sangat berbeda dengan namja-namja romantis yang biasa kulihat di drama-drama televisi.

Aku duduk di salah satu bangku kantin sesaat setelah Sehun menempati salah satu kursinya. Ia memesan seporsi nasi dan sup ayam. Apalagi ini? Hanya seporsi? Benar-benar bukan namja yang baik!

“Kau tidak memesan makanan, Nitae-ya?”, tanya Sehun saat pesanannya baru saja datang.

“Ani.”, jawabku ketus.

Sehun mengangguk dan mulai melahap makanannya. Nitae menghembuskan nafas berat beberapa kali. Menahan emosi yang sesungguhnya sudah sangat ingin ia tumpahkan pada namja menyebalkan ini.

Sudah seminggu ini Sehun menjadi namjachingunya, tapi sifatnya tersebut semakin menjadi-jadi. Dia selalu acuh pada apapun dan siapapun, termasuk padaku. Saat menyatakan perasaannya saja, Sehun tidak mengutarakannya secara langsung padaku. Dia meminta bantuan seorang temannya, seorang trainee juga di agensi ini. Saat itu kupikir, mungkin Sehun adalah namja pemalu. Tapi tidak, ternyata Sehun namja yang sangat acuh.

“Minumlah ini.”, Sehun menyodorkan segelas jus alpukat padaku.

“Aku tidak suka alpukat.”

“Baiklah, kau pesan saja yang kau suka biar nanti aku yang bayar. Sekarang aku harus segera ke practice room. Teman-teman yang lain sudah menungguku.”, ucap Sehun sembari beranjak dari kursinya.

“Ne.”, jawabku tak mau kalah acuh darinya. “Eh, tunggu!”, ucapku menahannya. “Sampai jam berapa?”

“Aku belum tahu, kau pulang duluan saja. Bisa pulang naik taksi sendiri, kan?”, tanya Sehun. Aku mengangguk lemas, sudah lelah jika harus terus menahan kesal padanya. Kemudian Sehun segera pergi menuju tujuannya.

“Soojung-ah, jika kau bertemu Sehun, tolong katakan aku ingin menemuinya besok.”, ucapku menghubungi Soojug saat berada didalam taksi perjalanan pulang. “Aku tak enak mengganggunya yang sedang latihan. Dan aku sepertinya takkan kembali ke gedung SM hari ini, ada urusan mendadak.”, jelasku bohong.

“…”

“Ne, gomawo Soojung-ah.”

Sejujurnya aku sudah muak dengan perilaku Sehun. Aku tak mau tahu lagi soal Sehun hari ini. Besok mungkin terakhir kalinya kami bertemu dengan status sepasang kekasih. Aku sudah tak sanggup menerima sifat Sehun yang terlewat acuh.

Tanpa terasa, sebutir air mata menetes dari mata kananku. Kuhapus. Dan kuharap itulah satu-satunya air mata yang kuteteskan karena Sehun. Semoga.

AUTHOR’s POV

“Kau Park Ni Tae, kan?”, tanya seseorang namja berambut kuning emas.

“Ne, kau siapa?”, tanya Nitae yang baru saja hendak masuk kedalam practice room. Ini adalah minggu ketiga-nya menjalani kehidupan sebagai trainee.

“Perkenalkan, Xi Luhan imnida. Aku trainee disini juga, dan aku berasal dari China.”, ujar namja bernama Luhan tersebut.

“Ya baiklah, apa ada keperluan denganku?”, tanya Nitae tanpa basa-basi.

“Aku hanya ingin mengatakan, aku senang bisa melihatmu lagi setelah lama kita tidak bertemu. Kau cantik sekarang. Harus kuakui, aku menyukaimu saat pertama kali kita bertemu di gedung ini. Maukah kau menjadi yeojachinguku?”, tanyanya dengan senyum yang terlihat canggung.

Nitae mengerutkan keningnya, merasa ada yang janggal dengan namja dihadapannya itu. Kalau tidak salah, ia baru pertama kali melihat namja ini. Dan namja ini menyatakan perasaannya pada Nitae? Cukup membuat shock.

“Mi.. Mianhaeyo, tapi..”

Namja itu tertawa. Dalam benaknya, Nitae mengakui kalau namja bernama Luhan ini cukup manis saat tertawa. Tapi, mengapa ia tertawa?

“Kau pasti bingung, kan? Aku teman Sehun. Dan Sehun memintaku mengatakan semua itu padamu. Entahlah mengapa ia tiba-tiba tak berani menghadapi seorang yeoja.”, jelasnya.

Ternyata Sehun. Nitae mengakui, bahwa ia menyukai Sehun juga. Bahkan ia sangat senang saat tahu kenyataan Sehun seorang trainee di agensi yang sama dengannya.

“Jadi maksudmu, Sehun..?”

“Sehun ingin kau menjadi yeojachingunya. Apa kau mau, Nitae-ssi?”

Nitae tersenyum kemudian mengangguk pelan.

“Senang sekali mengetahui jawabanmu. Akan kuberitahu pada Sehun langsung. Gamsahamnida, Nitae-ssi..”

Luhan berlari menjauh sembari melambai-lambaikan tangannya. Pikiran Nitae tertuju pada Sehun sekarang. Masih tak percaya bahwa nyata atau tidak, tapi sekarang ia adalah yeojachingu Sehun. Dan Sehun adalah namjachingunya. Tanpa sadar ia tersipu.

Nitae menunggu kedatangan Sehun esok harinya. Soojung sudah memberitahunya untuk menemui Nitae di kantin gedung. Seperti yang seharusnya, Sehun terlambat. Hampir 15 menit belum juga ia menampakkan wajah acuhnya.

Nitae mengetuk-ngetuk jarinya di meja, tanda ia sudah bosan menunggu lama. Hingga terlihat seorang namja jangkung mendekati meja Nitae. Wajahnya tenang seperti tak terjadi apapun.

“Kau tidak latihan kemarin?”, tanya namja itu.

“Ani, aku pulang.”, jawab Nitae sekenanya.

“Banyak teman-temanmu yang bertanya mengapa kau tidak datang kemarin. Itu membuatku terganggu.”, ucap Sehun dingin.

Dan bukan khawatir karena Nitae tak datang, dia malah mengurusi perasaannya sendiri.

“Lalu apa yang ingin kau bicarakan denganku?”, tanya Sehun.

“Kau sadar, selama ini sikapmu terlalu acuh. Bahkan padaku.”, ujar Nitae tanpa basa-basi. “Apa memang kau tak peduli pada dunia sekitarmu, atau kau tak peduli padaku?”, Nitae mencurahkan semua yang mengganjal dihatinya selama ini. Tangannya ia biarkan berada diatas meja. Keduanya mengepal erat. Memberi isyarat pada Sehun bahwa ia benar-benar sangat kesal.

“Benarkah begitu?”

Hanya itu jawaban yang diberikan Sehun. Bahkan itu tidak bisa dikatakan sebagai jawaban. Pertanyaan retoris yang membuat darah Nitae naik ke puncak tertinggi di tubuhnya.

“Langsung saja Sehun-ssi, kupikir hubungan kita hanya akan sampai disini saja. Terimakasih atas perlakuanmu selama ini padaku.”

Nitae bangkit dari tempat duduknya, kemudian melangkah keluar kantin. Dilihatnya dari pantulan cermin, Sehun masih duduk dengan kepala menunduk. Apa yang Sehun pikirkan? Apa Sehun menyesal? Tanyanya dalam benak. Namun ia sadar, semua itu bukan urusannya lagi. Dihapusnya air mata yang sempat turun ke pipi.

NITAE’s POV

Aku melangkahkan kaki menuju practice room. Kuintip sejenak, disana rupanya telah ada Soojung dan tiga orang temanku yang lain. Sedang apa mereka? Seperti sibuk melakukan sesuatu. Aku masuk tanpa mengetuk pintu.

“Soojung-ah, apa yang sedang kau lakukan disini?”, tanyaku membuat gerak Soojung terhenti.

“Kau ternyata. Ini, aku sedang membereskan ruang latihan.”, jawab Soojung.

“Ini kan bukan jadwalmu latihan, kenapa kau ikut membereskan?”

“Hanya membantu yang lain.”, Soojung terkekeh sebentar. “Bagaimana pertemuanmu dengan Sehun?”

“Ya, seperti yang seharusnya terjadi. Kami memang tak mungkin bersama lagi.”, ucapku berlagak tegar.

“Ah? Apa kau yakin, Nitae-ya?”, tanya Soojung dengan tatapan khawatir.

“Ne, aku sangat yakin. Memang apa yang membuatmu berpikir aku tak yakin dengan yang kubicarakan?”, tanyaku mencoba sewajar mungkin.

“Aniyo, hanya saja kurasa kau masih setengah hati untuk melepasnya.”

Aku tertegun. Memang benar apa yang dikatakan Soojung. Tapi mau bagaimana lagi? Ini semua terjadi karena Sehun sendiri.

“Jangan memaki-maki dalam hati seperti itu, kau yakin kan takkan menyesal? Kupikir jika kau membicarakannya lagi dengan Sehun, semuanya akan jelas.”, ucap Soojung bijak.

Aku berpikir keras. Yang dikatakan Soojung untuk kedua kalinya harus ku benarkan. Selama ini aku memang belum pernah membicarakannya secara gamblang pada Sehun. Tapi, ingatkah kemarin? Aku hanya bertanya pada Sehun dan ia menanggapinya acuh. Kurasa namja itu tak pernah serius membuat hubungan denganku.

“Kurasa tidak perlu. Buktinya, dia tidak menolak atau menahanku saat aku meninggalkannya.”, entah mengapa terasa lirih saat aku mendengar kata-kataku sendiri.

“Kurasa kau belum mengenal dia yang sekarang, Nitae-ya..”

“Sehun teman lamaku, dan aku sudah mengenalnya baik.”, sanggahku tak terima.

“Teman lama, bukan? Siapa yang tahu jika sifat seseorang berubah.”

Benar lagi. Dan begitu jugalah yang kurasakan. Dulu Sehun tak seperti ini. Bahkan sifatnya berkebalikan dengan yang dulu. Dulu ia senang sekali bicara, terlalu cerewet untuk menjadi seorang namja. Tapi sekarang? Kurasa ada setan yang merasuki tubuhnya hingga ia seperti itu.

Aku mendesah panjang lalu menatap Soojung. “Baiklah, akan kubicarakan lagi dengannya.”

AUTHOR’s POV

“Nitae setuju untuk membicarakan lagi ini semua denganmu. Kuharap kau jangan mengecewakannya kali ini.”

Sehun mengangguk. Wajahnya hari ini lebih pucat dari biasanya. Mungkin lelah setelah beristirahat seharian. Tadi Jongin mengatakan pada Soojung kalau Sehun berlatih tanpa henti. Bahkan ia tetap berlatih meski ruang latihan sudah dibereskan. Mungkin Sehun sedang frustasi.

“Jadi apa rencanamu kali ini?”

Sehun mengisyaratkan tangannya agar Soojung mendekat. Kemudian membisikkan sesuatu.

“Kau gila?! Itu berbahaya, Sehun!”, pekik Soojung.

“Dengarkan aku dulu!”, Sehun menarik Soojung dan mulai membisikkan beberapa kata lagi. Soojung terlihat berpikir.

“Ini sangat sulit menurutku, apalagi waktunya sangat terbatas. Kau yakin akan berhasil?”, tanya Soojung khawatir.

Sehun mengangguk mantap sembari menunjukkan seringainya.

NITAE’s POV

“Kurasa aku harus bersembunyi, Nitae-ya..”

“Wae?”

“Kau harus membicarakan ini berdua saja dengan Sehun. Aku tak mau membuat suasana menjadi canggung.”

Aku mengangguk ragu. “Tunggu saja aku di ujung taman ini.”

Soojung segera beranjak dan melambaikan tangannya yang kubalas dengan lambaian singkat. Aku duduk pada salah satu bangku taman yang kosong sembari menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku yang sudah berbalut sarung tangan. Udara disini sangat dingin meski hari masih siang. Beginilah musim dingin, musim yang sangat dibenci olehku.

“Pantas saja aku tak bertahan lama dengan Sehun, aku lupa kalau sekarang musim dingin. Jika musim dingin tiba, aku pasti kena sial!”, umpatku pada diri sendiri.

Sudah 30 menit dan Sehun belum datang juga.

“Baiklah, disini mulai terasa semakin dingin. Dimana sebenarnya kau?”, aku mulai geram -lagi lagi- dengan kelakuan Sehun.

“10 menit belum muncul juga, aku pergi.”

Aku menghentak-hentakan kakiku karena bosan. Sesekali kulirik jarum pada jam tanganku yang terus bergerak.

“Kenapa kau tidak berhenti dan diam saja!”, aku memaki jam tanganku sendiri. Dalam hati, aku tak mau meninggalkan tempat ini. Aku sangat ingin bertemu Sehun, walau hanya sebentar saja.

10 menit.. 15 menit.. 20 menit..

Kekesalanku sudah mencapai puncaknya. Aku hendak beranjak dari bangku yang kududuki, namun..

“Eh?”

SEHUN’s POV

“Sampai kapan kau akan berdiri mematung disitu, Sehun?!”, terdengar suara Soojung dari ponselku.

“Sebentar lagi, aku hanya ingin membuatnya kesal karena menungguku.”, ucapku berbisik.

“Kau tak lihat? Dia sudah sangat kesal menunggumu sedari tadi. Ayolah Sehun, tidakkah kau kasihan pada sahabatku itu? Dia sudah cukup kesal selama ini dengan sifat acuhmu.”, Soojung terus saja merengek pada Sehun

“Aku juga melakukan ini semua untuknya.”

“Segera akhiri. Ayo! Kau mau dia benar-benar memutuskan hubungan kalian?”

“Geurae, geurae. Kau cepatlah kesini, bukankah kau juga ikut ambil bagian dalam rencanaku?”

“Ne, aku ke tempatmu sekarang.”

AUTHOR’s POV

“Eh?”

Sesuatu yang hangat tiba-tiba saja melingkar di leher Nitae. Membuat tubuhnya sulit bergerak kemanapun. Dirasakannya angin hangat menelusup masuk ke lehernya yang tertutup syal. Nitae terpaku dengan posisinya. Bukan tak berani melawan, entah kenapa ia merasa nyaman.

“Kau sudah lama menungguku?”, tanya sebuah suara seseorang dibelakang Nitae.

Nitae mengangguk tanda meng-iya-kan. Luruh semua rasa kesal yang sedari tadi terus menancap dalam dirinya.

“Berapa lama kau menungguku?”, tanyanya lagi lembut tanpa merubah posisi mereka.

“Hampir satu jam.”, ucap Nitae ringan.

“Harusnya aku yang menggerutu. Sudah dua jam aku menunggumu disini.”, dari suaranya, sepertinya ia sedang tersenyum kemudian terkekeh.

“Bagaimana bisa kau menunggu lebih lama dariku? Aku..”

Nitae menghentikan perkataannya saat lengan yang hangat itu terlepas dari lehernya. Namja itu kini duduk disamping Nitae. Memandang lurus kedepan tanpa melirik Nitae sekalipun.

“Kau bahkan tak menyadarinya? Sedari tadi aku berdiri tak jauh dibelakangmu. Mendengar semua ocehan yang kau tujukkan padaku.”

Sehun menatap Nitae. Tatapan yang membuat Nitae mendadak tak bisa bergerak. Ia berusaha meloloskan tatapannya dari mata Sehun, namun tak sama sekali berhasil.

“Kurasa aku merindukanmu.”, ucap Sehun sembari membuang muka.

Nitae membulatkan matanya. Kini lidahnya pun tak bisa bergerak. Kata-kata Sehun barusan, ia bersumpah tak pernah mengira sama sekali Sehun akan mengucapkannya. Ada apa dengan orang ini? Sikapnya sangat berbeda dengan yang kemarin-kemarin, pikirnya.

“Aku lupa, apa aku sudah pernah meminta maaf padamu?”, tanya Sehun tampak benar-benar mencari jawaban.

Nitae mencoba menemukan jawaban yang tepat. Tentunya agar Sehun tidak tersinggung.

“Kurasa belum.”, ucap Nitae ragu.

“Apa sudah terlambat jika aku mengatakannya sekarang?”

“Tentu saja tidak.”

“Kalau begitu, mianhaeyo Nitae-ya..”, kedua tangannya menggenggam erat tangan Nitae.

Nitae kembali terdiam. Ia takut semua ini hanya akal-akalan Sehun agar ia mau memaafkan segala kesalahannya. Maka dari itu, sesegera mungkin Nitae melepaskan tangannya.

“Kita sudah bukan siapa-siapa lagi Sehun-ah..”

“Kau yakin?”, Sehun mengerutkan keningnya. Setelah itu ia memandang kearah lain. Mungkin ia bingung dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

“Apa kau tidak merindukanku?”, tanya Sehun penuh harap.

“Ani.”, ucap Nitae mantap. Hal itu dilakukannya agar tak membuat Sehun curiga.

“Kalau begitu, saengil chukhahaeyo..”, ujar Sehun memberikan sebuah kotak dengan tangan kirinya tanpa melihat kearah Nitae.

Kini giliran Nitae yang mengerutkan keningnya.

“Ulangtahunku sudah dua bulan yang lalu, Sehun-ah..”

Sehun mengangguk. “Aku tahu. Terima saja.”, ucapnya tanpa melihat kearah Nitae.

Nitae mengambil kotak yang disodorkan Sehun.

“Kubuka sekarang?”, tanyanya.

“Terserah kau saja, yang penting kau membukanya di tempat ini.”

Tak dipedulikannya perkataan Sehun meski ia ingin tahu apa maksudnya. Perhatiannya tersita pada isi dari kotak tersebut. Disana hanya ada sebuah tombol berwarna merah.

“Tekan saja tombol itu jika kau ingin tahu.”

Meski jantungnya berdegup sangat kencang saat itu, ia memberanikan diri menekan tombol merah tersebut, dan..

“Aaaaah!”, Nitae refleks menutup mata dengan kedua telapak tangannya.

Suara meriah dan kertas-kertas yang berhamburan dari sebuah confeti memecahkan suasana siang itu. Nitae memegang dadanya yang masih terasa shock. Sehun hanya terkekeh pelan melihat ekspresi Nitae.

Belum selesai rasa kaget Nitae, seorang badut datang menghampirinya dan Sehun.

“Ya! Sehun-ah! Tolong aku! Usir dia! Usir dia!”, Nitae menenggelamkan wajahnya pada lengan Sehun.

“Wae? Wae?”, tanya Sehun heran.

“Aku takut! Aku takut badut!”

Terasa setitik air mulai membasahi pipi Nitae. Sehun mengisyaratkan badut itu untuk meninggalkan tempat.

“Nitae-ya..”, ucap sebuah suara lain. Suara seorang yeoja.

“Nitae-ya, badutnya sudah kuusir. Sekarang kau buka matamu, ayo..”, ucap Sehun mencoba membuat Nitae beranjak dari posisinya.

“Kau yakin badutnya sudah tidak ada?”, tanya Nitae dengan suara parau. Ia mengusap air matanya perlahan.

Diberanikan dirinya untuk membuka mata.

“Saengil chukhahaeyo, Nitae-ya..”, ucap Sehun sekali lagi.

Tapi, pandangan Nitae bukan tertuju pada Sehun. Melainkan pada seseorang yang mengenakan pakaian badut didepannya. Nitae sudah tidak takut, karena badut itu sudah tak mengenakan topengnya. Disanalah Luhan sedang tersenyum penuh arti padanya, tak lupa dengan kostum badut yang masih melilit tubuhnya.

“Luhan.. Oppa?”

“Kau tak mau menyapaku, Nitae-ya?”, tanya seseorang yang datang membawakan sebuah kue tart.

“A.. Ani, Soojung. Aku hanya terkejut.”, ucap Nitae tergagap.

Soojung membawa sebuah kue, sepertinya manis. Terdapat tulisan diatasnya, ‘Saengil Chukhahamnida, Park Ni Tae’

“Kau berterimakasihlah pada Sehun. Susah payah ia menyiapkan ini untukmu. Padahal persiapannya kurang dari sehari.”, Soojung tersenyum penuh arti pada Sehun. Yang ditatap hanya menggaruk kepalanya, terlihat salah tingkah.

“Ya benar, aku saja sampai kaget saat dia memintaku berpakaian seperti badut untuknya.”, Luhan terkekeh.

“Kenapa melakukan ini? Aku kan sudah bilang, ulang tahunku sudah lewat dua bulan lalu.”, Nitae memandang Sehun bingung.

“Tapi dua bulan lalu kita belum bertemu lagi, Nitae-ya..”, jelas Sehun singkat.

Nitae meng-iya-kan dalam hatinya.

“Lalu kenapa selama ini kau terus saja mengacuhkanku?”, tanya Nitae yang merubah tatapannya menjadi tatapan kesal.

“Itu karena.. Karena aku bingung bagaimana harus bersikap romantis pada seorang yeoja.”, ujar Sehun menatap Nitae ragu.

Nitae diam. Entah apa yang dipikirkannya saat ini.

“Kau tahu Sehun-ah, aku takkan memaksamu untuk bersikap romantis padaku. Tenang saja, aku menyukaimu apa adanya.”, Nitae berucap ragu.

“Tapi kau sudah memutuskanku kemarin.”

Nitae tercengang. Ia bingung harus mengatakan apa pada Sehun.

“Aku tahu kau merindukanku, kau masih menyukaiku kan?”, goda Sehun. Pipi Nitae seketika merona. Ia ingin berkata iya, namun tak tahu bagaimana cara penyampaian yang baiknya.

“Percaya diri sekali kau!”, Nitae mengerucutkan bibirnya. Berpura-pura kesal.

“Lucu sekali kau ini!”, Sehun mencubit pipi Nitae karena gemas melihatnya. “Jadi, apa kau mau menarik kembali ucapanmu agar kita kembali lagi seperti dulu?”

“Bagaimana ya? Aku jadi berpikir ingin mencari namja lain saja yang bisa bersikap romantis.”, ungkap Nitae.

“Kau bilang tadi menyukaiku apa adanya! Kau plinplan sekali Nitae!”, Sehun berkata dengan nada kesal.

“Kau kesal, huh? Apa kau berpikir, bagaimana kesalnya aku selama ini menghadapi kelakuanmu yang sangat acuh itu? Rasanya seperti ini!”, Nitae mencolek krim yang ada pada kue ulangtahunnya -yang masih berada di tangan Soojung-, kemudian mendaratkannya tepat di wajah Sehun.

“Ya! Apa yang kau lakukan?! Aku sudah memesan kue itu dengan harga yang mahal dan kau tak menghargainya sama sekali?!”, wajah Sehun terlihat kesal dibalik krim yang menghiasinya. Sementara Nitae sudah beranjak dari kursi dan memposisikan dirinya berjauhan dengan Sehun.

“Memangnya aku peduli?”, Nitae menjulurkan lidahnya. Membuat Sehun tak bisa tinggal diam. Ia mengejar Nitae yang bersembunyi dibalik tubuh Luhan yang besar karena masih memakai pakaian badut.

“Kau takkan bisa lari dariku!”, Sehun mengejar Nitae.

“Kalian! Ya! Jangan berputar-putar disekitarku! Kalian tahu baju ini berat sekali!”, omel Luhan mencoba menghentikan tingkah kenakan-kanakan keduanya. Sementara Soojung asyik menertawakan kekonyolan mereka dari bangku taman yang tadi diisi Sehun dan Nitae. Dia cukup senang mendapati teman-temannya kini berbahagia.

“Kau lihat? Musim dingin bukan kesialan bagimu, kan?”, tanya Sehun menghentikan gerak keduanya.

“Hanya untuk kali ini saja aku setuju dengan ucapanmu.”, Nitae kembali berputar mengelilingi tubuh Luhan. Namja berpakaian badut itu hanya pasrah karena tak ada satupun dari mereka yang menggubris ucapannya.

 

END

24 Januari 2013

Waaaah, ceritanya agak melenceng sih sama ide awal, bingung masukin kata-katanya nih. Nanti deh kalo ada waktu aku edit lagi sesuai ide awal ya, karena menurut aku masih kecean ide awal itu. Tunggu aja deh hasil editan selanjutnya ūüėČ

One thought on “FF EXO : WINTER BIRTHDAY

  1. Pingback: Winter Birthday | EXO Fanfiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s