FF BOYFRIEND : DIMANA DONGHYUN OPPA??


Title

DIMANA DONGHYUN-OPPA??

Cast

Park Ni Chan (12 years old)

Appa dan Umma Nichan

Kim Donghyun (13 years old)

Lee Jeongmin

Shim Hyunseong

And other cast

Genre

Comedy

Length

Ficlet

Rating

General

Author

@ririnovi

 

FF kedua, cast nya masih BoyFriend. Sebenernya ini ngedadak bikin, cuma 3 apa 2 jam gitu. Ngotot banget pengen bikin FF spesial buat ulang tahunnya leader Donghyun! 😀 isi ff nya bukan tentang ulang tahun sih, yang penting main cast nya leader Donghyun -dan aku pastinya- kkkkk ngomong-ngomong, fitnah banget kalo umur leader Donghyun segini! Jangan ada yang percaya!

Okai, leader Donghyun is coming..

“Aku sembunyi dimana ya?”, gumamku sambil mencari tempat untuk bersembunyi di sekitar bandara ini.

Aku kemudian bersembunyi di belakang sebuah meja. Berharap Donghyun-oppa tidak menemukanku. Eomma dan appa sedang duduk manis di waiting room, menunggu jam terbang pesawat kami. Aku dan keluargaku akan pergi berlibur ke Australia. Dan sekarang kami sedang transit di Singapura. Aku bosan jika harus menunggu dengan hanya duduk saja, maka aku mengajak Donghyun-oppa untuk bermain. Donghyun-oppa adalah anak tetangga kami. Dia ikut berlibur bersama kami untuk menemaniku agar aku punya teman main disana.

“Bersiaplah Nichan! Aku akan mencarimu!”

Aku menunduk, berharap agar Donghyun-oppa tidak cepat menemukanku. Mungkin ya, setelah sekitar 10 menit Donghyun-oppa belum juga menemukanku. Aku merasa khawatir juga, takut-takut dia mencariku ke tempat jauh yang aku pun tak tahu dimana itu. Aku keluar dari tempat persembunyianku. Kini malah giliran aku yang mencari Donghyun-oppa.

“Eomma, appa, apa kalian melihat Donghyun-oppa?”, tanyaku sambil berdiri didepan kedua orangtuaku.

“Bukankah dia tadi bermain denganmu?”, eomma malah bertanya balik.

“Ya, aku dan dia bermain petak umpet tadi. Tadi aku bersembunyi tapi sampai sekarang Donghyun-oppa belum juga menemukanku. Malah aku yang sekarang mencarinya..”

“Mungkin dia ke toilet atau membeli makanan disana.”, ucap appa sambil menunjuk sebuah kantin kecil.

Aku menghampiri kantin itu dan memperhatikan orang-orang disana satu per satu. Namun tak kutemukan sosok Donghyun-oppa. Aku kembali pada kedua orangtuaku.

“Dia tidak di kantin itu appa”

“Tunggu saja sebentar, mungkin dia akan kembali sebentar lagi..”

5 menit kemudian, terdengar operator bandara mengumumkan jadwal keberangkatan ke Australia. Kami harus secepatnya masuk ke pesawat karena pesawat akan lepas landas 10 menit lagi.

“Eomma, bagaimana dengan Donghyun-oppa? Masa kita mau meninggalkannya disini?”, tanyaku saat melihat appa dan eomma meraih kopernya.

“Mungkin appa akan coba lihat ke toilet..”

Selagi appa mencari Donghyun-oppa ke toilet, aku mencoba menghubungi phone cell nya namun tak ada jawaban. Phone cell Donghyun-oppa memang sering di silent sehingga jika ada sms atau teleppon yang masuk, dia seringkali tidak menyadarinya.

“Bagaimana appa?”, Tanya eomma saat appa datang tanpa membawa apa-apa dari toilet.

“Dia juga tidak ada di toilet.”

“Bagaimana ini eomma? Apa Donghyun-oppa hilang di bandara ini?”, aku memeluk eomma dengan mata yang sedikit berair. Sebentar lagi mungkin air itu akan jatuh.

“Coba kita tanyakan pada petugas yang ada disana..”

Aku dan eomma menghampiri 2 sosok petugas memakai seragam berwarna hitam yang sedang sibuk mengatur arah jalan para calon penumpang.

“Excuse me, sir.”, ucap eomma yang aku tak tahu apa artinya.

“Ya, can I help you?”, Tanya petugas itu.

“Did you see him?”, eomma menunjukkan foto Donghyun-oppa saat aku dan dia duduk di halaman rumahku kemarin sore.

“No, I didn’t. You must be carefully, you must protect your son. Or..”, petugas itu menghentikan kata-katanya dengan nada yang menggantung.

“Or what??”, umma kelihatan sangat penasaran.

“I don’t wanna make you scared. Have a nice day..”, kemudian petugas itu kembali melakukan tugasnya kembali. Mengatur arah jalan para calonpenumpang.

“Apa katanya eomma?”, tanyaku saat kami berjalan menjauhi petugas itu.

“Bukan hal yang penting. Kita sebaiknya melaporkan kehilangan ini pada bagian informasi supaya mereka membuat pengumuman dan Donghyun pasti mendengarnya.”

Aku dan kedua orangtuaku pergi ke bagian informasi. Setelah memberikan foto Donghyun-oppa, orang di bagian informasi itu menyalakan mic-nya dan memberi pengumuman kehilangan. Aku mendengar suaranya terdengar di seluruh penjuru bandara. Bahkan katanya di tempat parkir pun suara informasi ini terdengar. Semoga saja Donghyun-oppa mendengarnya atau ada seseorang yang menemukannya lalu membawa Donghyun-oppa ke bagian informasi.

Rupanya harapan itu segera terjawab. Seseorang menelponku dan memberitau bahwa ia menemukan Donghyun-oppa. Aku memberikan phone cell ku pada umma. Membiarkan eomma yang berbicara karena aku terlalu senang akhirnya ada seseorang yang menelpon menggunakan nomor Donghyun-oppa dan berkata dia telah menemukan Donghyun-oppa. Tunggu! Kenapa orang itu harus menelpon menggunakan phone cell Donghyun-oppa? Dan kenapa Donghyun-oppa tidak menelpon sendiri? Dia tidak akan lupa bagaimana cara menelpon kan sampai harus menyuruh orang lain untuk menelpon?

“What?”, eomma ku setengah berteriak setelah mendengar perkataan orang di telepon yang entah apa, aku tak mendengarnya.

“Where are you now?”, mata eomma membelalak. Appa terlihat sangat khawatir melihat eomma seperti itu. Aku sendiri mencoba tenang meskipun kini jantungku berdebar kencang. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku hanya mengira-ngira bahwa Donghyun-oppa pasti sekarang dalam keadaan yang tidak baik. Aku sangat kuatir jika membayangkan hal-hal buruk yang kemungkinan terjadi pada Donghyun-oppa.

Eomma menutup teleponnya, dia langsung terduduk. Appa membawa eomma ke tempat duduk yang lebih tenang untuk umma bercerita.

“Donghyun.. donghyun diculik..”, eomma menitikan air matanya. Aku juga. Appa berusaha menenangkan kami berdua.

“Lalu apalagi yang penculik itu katakan? Apakah Donghyun baik-baik saja?”, tanya appa sesaat setelah eomma agak tenang.

“Dia bilang, dia akan memastikan Donghyun baik-baik saja asalkan kita memberinya tebusan satu juta dollar tepat jam 7 malam ini.”, eomma masih sedikit terisak.

“Lalu apa yang harus kita lakukan eomma? Aku sangat takut..”, suaraku sedikit bergetar. Aku hampir menitikan air mataku lagi.

Kami bertiga bergegas meninggalkan bandara itu menuju tempat yang ditujukan oleh si penculik. Tadi appa menelponnya lagi dan telah disepakati akan menebus Donghyun-oppa seketika itu juga. Tak peduli sudah berapa lama pesawat yang harusnya membawa kami ke Australia pergi.

Akhirnya taksi yang membawa kami pergi dari bandara menurunkan kami di sebuah lapangan basket cukup terkenal di Singapura. Lapangan itu cukup sepi.

Aku bersembunyi dibelakang badan eommaku. Appa mencari dimana keberadaan si penculik, belum ada tanda-tanda kehadirannya.

“Mungkin dia masih dalam perjalanan..”

Tak berapa lama, datang satu buah mobil yang sepertinya ada 2 orang namja didalamnya. Aku semakin menenggelamkan tubuhku dibalik punggung eommaku. Namja itu keluar dari mobilnya memakai helm. Ini seperti adegan film-film action, dimana penjahat tidak pernah mau menunjukkan wajahnya karena takut dikenali oleh polisi.

“Dimana anak kami?”, Tanya eomma saat penjahat tersebut mendekati kami.

“Tenang saja, dia ada didalam mobil. Serahkan dulu uangnya..”, suara namja itu halus namun berwibawa. Sepertinya jika menyanyi suaranya akan terdengar bagus.

“Tidak! Kita serahkan bersama-sama. Kami tidak mau ditipu olehmu!”, appa berkata secara bijaksana.

“Baik-baik, kami akan membawa anak itu kemari. Hyunseong bawa anak itu kesini sekarang!”, panggil penjahat yang memakai helm itu.

“Kau jangan menyebutkan namaku babo! Nanti jika mereka melaporkan ke polisi bagaimana?”, namja bernama Hyunseong itu keluar dari mobil bersama seseorang yang sangat aku kenali.

“Donghyun-oppa!”, aku refleks berteriak melihat Donghyun-oppa dibawah oleh namja itu.

“Nichan!”, Donghyun-oppa juga berteriak melihatku. Dia bergegas lari menghampiri kami.

“Nichan! Aku sangat takut sekali. Mereka menarikku saat aku mencarimu di bandara, lalu mereka mengambil phone cell ku. Sampai sekarang mereka tidak mengembalikan phone cell ku..”, Donghyun-oppa bercerita panjang lebar setelah dia menemukanku berada disampingnya.

“Hyunseong! Bodoh sekali kau! Kenapa kau melepaskan anak itu? Kau ingin kehilangan uangnya?!”, namja itu melepaskan helmnya. Dia sangat emosi pada kawannya itu.

“Maafkan aku Jeongmin-ah, tadi dia lari begitu saja sebelum sempat aku menahannya..”, ucap Hyunseong memelas. “Sudah cepat sekarang ambil saja uang mereka.”

“Oke kalau begitu. Baiklah kalian, ayo cepat serahkan uang itu!”

“Baiklah, ini uangnya..”, eomma hampir saja menyerahkan uang itu kalau appa tidak menariknya.

“Kalian pikir kami bodoh? Anak kami ini sudah kembali pada kami. Untuk apa kami memberikan uang ini pada kalian?”, appa tersenyum licik.

“Ah Tuhan! Gagal lagi! Sudah 38 kali kami mencoba melakukan penculikan dan hasilnya tetap saja gagal! Arrgh!”, namja bernama Jeongmin itu bertekuk lutut. Dia sepertinya sedang dalam keadaan sangat kacau dan labil.

Eomma yang hatinya mudah tersentuh menghampiri Jeongmin.

“Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian sampai kalian melakukan hal seperti ini?”, Tanya eomma lembut. Namja bernama Jeongmin itu tidak menjawab. Yang menjawab malah namja satunya lagi.

“Kami sedang mengumpulkan uang untuk kembali ke rumah kami. Kami sangat putus asa karena sulit sekali mendapatkan uang. Maka dari itu kami melakukan semua ini..”, Hyunseong tiba-tiba menangis.

Tak pernah kulihat di film manapun seorang penjahat secengeng ini. Aku jadi malah meragukan apakah mereka penjahat sungguhan atau bukan.

“Memangnya dimana tempat tinggal kalian?”, appa mulai mendekati umma dan kedua penjahat itu.

“Kami tinggal di Australia, kami harus segera pulang kesana karena orangtua kami sedang sakit.”, jelas Jeongmin pada eomma.

“Australia? Kami baru saja akan kesana jika saja kalian tidak membuat kekacauan ini!”, ucap eommaku.

“Bagaimana jika kalian ikut kami ke Australia? Kami akan membayar tiket pesawatnya..”, ucap appa sedikit melunak.

“Benarkah??”, Tanya kedua namja itu bersamaan.

“Kami benar-benar harus berterimakasih pada kalian..”, ucap namja yang tadi membawa Donghyun-oppa.

“Baiklah kalau begitu, kalian siapkan saja barang-barang kalian..”, appa berkata pada mereka.

“Barang-barang kami sudah ada di mobil semuanya, kami siap untuk berangkat.”

“Nichan! Donghyun! Ayo masuk kedalam mobil ahjussi-ahjussi ini. Kita akan mengambil penerbangan 1 jam dari sekarang !”, eomma mengajak kami segera berangkat.

“Baik umma, baik appa..”,ucapku sambil masuk ke mobil bersama Donghyun oppa.

Kami pun bersama-samma ke bandara dan pergi ke Australia bersama juga.

Ternyata penjahat tidak selamanya akan jahat kawan-kawan!

 

END

12 FEBRUARI 2012

Ngepost nya hampir barengan mau setaun jadinya ff ini ya, haha saengil chukhahamnida Donghyun Oppa! *liat kalender woy!*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s