FF EXO : YOUR HEART HURT ME


Title              : Your Heart Hurt Me
Cast               : Oh Se Hoon
Han Neul Chan
Park Chan Yeol
Other Cast : Byun Baek Hyun
Kim Jong In
Do Kyung Soo
Kim Joon Myeon
PG                : Teenagers
Genre          : Romantic

NB                : Sebelum membaca fanfiction ini lebih baik sambil mendengarkan lagu SNSD yang Time Machine, Tatiseo yang Love Sick, dan Joo yang Bad Guy agar dapat merasakan feel ketika saya membuatnya. Kalau ada,dibuat playlist 3 lagu tersebut sehingga akan terus bermain sampai kalian selesai membacanya. Selamat membaca.. Enjoy !!!

AUTHOR POV

“cheers…” sorak keempat Namja sembari mengacungkan gelas soju mereka.

“akhirnya kita bisa keluar dari kandang ini” ucap Jong In bersemangat.

“oh tentu saja.. sekolah ini bukan kandang, tapi neraka, haha” timpal Do Kyung setengah mabuk.

“bagaimana selanjutnya? Apa kita akan terus bersama seperti ini?” Tanya Baek Hyun tiba – tiba.

“ehm maafkan aku, kawan.. Orang tuaku menginginkanku untuk melanjutkan ke perguruan yang lebih tinggi di Jerman” jawab Se Hoon membuat ketiga temannya kecewa, “mianhae..”

“ani.. aniya, Se Hoon, gwaenchanayoo.. untuk apa ada internet dan telepon selular? Kita masih bisa berkomunikasi bukan?” usul Baek Hyun.

“benar juga ucapanmu, oh iya, apa Yeojamu sudah mengetahui rencanamu ini?” Tanya Jong In tiba – tiba juga.

“biar ku tebak, kau belum memberitahukannya, bukan?” tebak Do Kyung.

“hehe, benar.. aku takut memberitahunya, dia pasti akan memutuskanku” Se Hoon tertunduk lemas.

“jangan berpikiran macam – macam! Hampiri saja dia, lihat…. Dia sedang sendiri tertunduk di bangku itu” tunjuk Baek Hyun pada sebuah bangku taman dekat air mancur.

“ah benar sekali! Kemana teman – temannya, yah? Aneh sekali, tak seperti biasanya ia sendirian” Se Hoon mulai berjalan menghampiri Yeojanya.

“anyeonghaseo, Noona.. apa yang kau lakukan disini sendirian? Kemana Namjachingumu?” Tanya Se Hoon sembari memeluk leher Yeojanya.

“aish, Se Hoon!! Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Nyatanya kau yang lebih tua” berontak sang Yeoja.

“ahaha mianhae, chagi.. lagipula apa yang kau lakukan disini? Mengapa kau sendirian? Kemana teman – temanmu?”

“aku menunggumu menghampiriku, chagi. Kajja! Duduk disampingku, ada yang ingin ku bicarakan” pinta Yeojanya.

“arrasheo, Han Neul Chan!” Se Hoon dengan segera duduk di samping Neul Chan dengan bertopang dagu, “apa yang ingin kau bicarakan, chagi?”

“begini.. kau tau kan apa pekerjaan Appaku?” Tanya Neul Chan pada Namjachingunya itu.

“ne, aku tahu, di perusahaan pertambangan, bukan? Ada apa?”

“atasannya memindahkan wilayah pekerjaan Appaku”

“maksudnya?”

“aku mau tak mau harus ikut Appaku, kami… kami akan pindah rumah untuk sementara”

“mwo? Pindah? Pindah kemana? Ke kota apa?”

“ne, bukan ke luar kota, chagi.. ke luar negeri, di Amsterdam, Belanda, kata Appa di sana ada Universitas yang baik untukku juga”

“aigo? Belanda? Itu sangat jauh, chagi.. bagaimana denganku dan hubungan kita?”

“kita bisa melanjutkannya nanti, jika Appa dipindahkan lagi kesini”

“baiklah.. oh iya, kau juga harus mengetahui suatu hal, aku akan meneruskan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi”

“aigooo… aku mendukungmu, memang Universitas mana yang kau pilih, chagi?”

“sebenarnya, Appa yang memilihkannya untukku, aku pun masih belum tahu apa nama Universitasnya, hanya saja, Appa bilang tempatnya di jerman”

“mwo? Jerman? Itu jauh, chagi” keluh Se Hoon.

“ne, aku tahu.. aku tak ingin memikirkan seberapa jauh jarak antara Belanda dengan Jerman, yang aku pikirkan adalah, bagaimana dengan hubungan kita?”

“entahlah.. aku tak ingin kita berpisah begitu saja, sudah 3 tahun kita menjalin semua ini, ya walaupun secara diam – diam”

“begini saja, kita buat perjanjian, arra? Aku tunggu kau 5 tahun lagi di taman asrama ini pukul … ehm… pukul 8 malam, bagaimana? Kau mau?”

“kalau ternyata aku masih menetap disana, bagaimana?”

“akan aku tunggu satu tahun lagi, atau bahkan bertahun – tahun lagi hingga kita bertemu lagi, ya kecuali kalau kita sudah mempunyai pasangan masing – masing” gurau Se Hoon.

“mwo?? Chagi kau ingin melupakanku lalu bersama Yeoja lain disana?” Neul Chan mengerucutkan bibirnya.

“aniya, Chagi,,”

“jinjja?” Neul Chan menyodorkan kelingkingnya.

“ne, chagi..” Se Hoon menyambut kelingking Yeojachingunya itu.

“kajja, kita berdansa..” Se Hoon mengulurkan tangannya dan Neul Chan pun menyambutnya. Mereka berdua terhanyut dalam suasana romantis dalam acara perpisahan dan pelepasan tingkat ke tiga dari asrama Shinwa.

****

Lima tahun kemudian..

“anyeong…” ucap Se Hoon setibanya dirumah.

“aish, Saengku… kenapa datang terlambat?” sambut Chan Yeol yang tak lain adalah Hyung kandungnya Se Hoon.

“yaa!!! Hyung, kapan kau kembali ke Korea? Kenapa tidak memberitahuku? Tadi aku ada urusan dulu, Hyung.” Tanya Se Hoon.

“tepatnya setahun sebelum kau kesini, haha pertanyaanmu itu seperti orang amnesia saja, kita kan memang berbeda satu tahun” jawab Chan Yeol sembari menjitak ringan kepala Se Hoon.

“ne, Hyung.. aku tertimpa menara Eiffel, mendadak aku amnesia” Se Hoon berlebihan.

“emh, memang di Jerman ada Eiffel?” Tanya Hyungnya kebingungan.

“aniya, Hyung. Aku hanya bercanda, kemana Appa dan Eomma?”

“mereka masih diluar kota, nanti sore mereka pulang”

“hmm aku sangat merindukan mereka, Hyung”

“bagaimana dengan Yeojamu?” Tanya Chan Yeol tiba – tiba.

“Yeoja yang mana, Hyung?”

“yang dulu sering kau ceritakan ketika masih berada di asrama, sudah hampir dua tahun kau tak membicarakannya, apa hubungan kalian telah berakhir? Sangat disayangkan”

“entahlah, kami berjanji akan melanjutkan hubungan kami jika kami sudah berada di Korea lagi, tapi sepertinya ia masih belum ke Korea lagi, atau mungkin.. ia melupakanku”

“haha jangan berpikiran seperti itu, aigoo!! Aku lupa! Aku sedang memanaskan cream soup di oven” Chan Yeol bergegas ke dapur.

“tumben sekali Hyung memasak, memangnya ada apa?” Tanya Se Hoon.

“nanti malam Yeojachinguku akan kesini, kami akan membicarakan tentang pertunangan kami, sembari makan malam bersama Appa dan Eomma” Jawab Chan Yeol dengan kesibukkan barunya, MEMASAK.

“wuah, senangnya, Hyung. Kenapa tidak menceritakannya padaku? Tiba – tiba kalian akan bertunangan saja, sudah berapa lama hubungan kalian berjalan?”

“baru sekitar 3 tahunan, Se Hoon.. aku tak bermaksud menyembunyikannya, aku hanya ingin memberikan kejutan saja”

“ini bukan saja mengejutkan, tapi membahagiakan, Hyung. Berjanjilah padaku ketika Yeojamu datang dia harus bertemu denganku terlebih dahulu” paksa Se Hoon.

“ne, ne.. tapi jangan menggodanya yah, dia terlalu cantik untuk tak kau goda” Chan Yeol terkekeh.

“aku tak bisa menjanjikan, Hyung. Aku ke kamar dulu yah, penerbangan tadi cukup melelahkan”

“awas saja kalau kau goda Yeojaku! Beristirahatlah dan bangun esok hari saja” Chan Yeol tak terima ucapan adiknya tadi.

“aniya, Hyung, aku akan bangun tepat sebelum makan malam, haha”

****

Chan Yeol POV

“Oppa.. aku datang..” ucap Yeojaku penuh semangat, Appa dan Eomma menyambut kedatangan Yeojaku di ruang keluarga.

“chagi, mengapa terlambat? Bogoshipoyooo” selidikku pada Yeojaku.

“mianhae Oppa, aku terjebak macet tadi, mianhae…” jelasnya.

“sudah – sudah, yang penting Yeojachingumu sudah datang, kajja kita langsung makan saja” titah Eomma sembari merangkul Yeojaku.

“ada keributan apa ini?” adikku ternyata benar- benar terbangun saat makan malam, awas saja kalau ternyata dia akan menggoda Yeojaku, ku pecat jadi adik baru tahu rasa.

“kenapa kau bangun, bocah tengil? Tidur saja lagi!” ucapku kasar padanya.

“Chan Yeol, jangan bersikap kasar pada adikmu. Kajja, cepat bergegas, kita akan segera makan malam bersama Yeojachingu Hyungmu” ajak Eomma pada Se Hoon, aigo Eomma kenapa memberi tahunya?

“sudah datang? Aish Hyung kenapa tidak mengenalkannya padaku?” Se Hoon berlari menghampiri Eomma yang berjalan bersama Yeojaku.

“anyeong, aku Se…Hoon” mimik muka Se Hoon langsung saja berubah. Ada apa dengannya?

“Se Hoon? Aku.. aku Neul Chan, Han Neul Chan” ucap Yeojaku ragu-ragu.

“ehm, Eomma, aku ke kamar dulu yah, ada yang tertinggal” pamit Se Hoon.

“berganti pakaian, Saeng. Baumu tak tertahankan” ejekku padanya.

“ne, Hyung”

Neul Chan POV

“sudah datang? Aish Hyung kenapa tidak mengenalkannya padaku?” sepertinya itu adiknya Yeolli Oppa.

“anyeong, aku Se…Hoon” mwo? Se Hoon? Dia..

“Se Hoon? Aku.. aku Neul Chan, Han Neul Chan” ucapku ragu-ragu.

“ehm, Eomma, aku ke kamar dulu yah, ada yang tertinggal” pamit Se Hoon.

“berganti pakaian, Saeng. Baumu tak tertahankan” ejek Oppaku padanya.

“ne, Hyung” Se Hoon pergi begitu saja meninggalkan kami, membuka banyak kenangan yang pernah ada di otak dan hatiku.. Se Hoon, kenapa kau tak memberitahuku kalau kau memiliki seorang kakak kandung yang kini menjadi Namjachinguku? Mianhae…

“apa yang kau lamunkan, chagi? Kajja kita makan malam” pinta Yeolli Oppa lembut.

“aniya, Oppa.. kajja!!!” ku tarik tangan Oppa menuju ruang makan yang tak asing bagiku, sudah hampir 8 bulan aku rutin berkunjung ke rumah Yeolli Oppa. Tapi, selama itu pula aku tak pernah menemukan suatu hal pun yang menjelaskan hubungan persaudaraan Oppa dengan Se Hoon. Aigo.. dadaku rasanya sesak menerima kenyataan ini. Aku menerima pernyataan cinta Yeolli Oppa karena aku tak yakin Se Hoon akan kembali dan jikalau dia kembali, aku tak yakin dia akan ingat janjinya, aku mengenalnya. Aku tahu Oh Se Hoon.

“ohok..” tiba – tiba aku tersedak melihat Se Hoon yang baru turun dari tangga menuju ke tempat yang sama denganku lalu duduk begitu saja dengan gaya andalannya, gaya yang kusukai dan selalu kurindukan hampir 6 tahun belakangan ini.

“minum ini, chagi” Oppa menyodorkan gelasku dan membantuku untuk meminumnya, kulihat Se Hoon menatap seakan tak percaya dengan apa yang terjadi. Se Hoon, mianhae.. bukan ini mauku.

“gomawo, Oppa.. kajja habiskan makananmu” pintaku gugup dengan kepala tertunduk.

“waah waah neomu yeppo, Hyung” ucap Se Hoon girang. Dia memang selalu bisa bersandiwara, tapi.. apa sekarang dia sedang bersandiwara?

“gomawo, Se Hoon. Pilihanku selalu tepat” Oppa terkekeh, aku hanya bisa tersenyum singkat sembari menatap Se Hoon, tatapan kesakitan, entah kenapa terlalu sakit melihatnya di hadapanku sekarang? Dengan keadaan hubunganku dan dia yang masih tidak jelas sampai sekarang.

“dimana kalian berkenalan?” Tanya Se Hoon melihat ke arahku.

“Oppa seniorku di kampus, kami satu organisasi disana” jawabku takut. Entah kenapa.

“disana dimana? Belanda?” Se Hoon seperti mulai mengeluarkan rasa kesalnya, terlihat dari makanan yang hanya ia aduk padahal aku tahu itu makanan kesukaannya.

“ne..” ludahku tercekit untuk bisa berkata yang lain.

“ya, Se Hoon. Kalau saja kau masih dengan Yeojamu yang sering kau ceritakan semasa di asrama dulu, mungkin akan lebih menyenangkan dari sekarang” ucap Oppa yang tentu saja membuat aku dan Se Hoon sama – sama tersedak.

“ehm, ada apa? Kompak sekali kalian tersedak bersamaan?” Oppa seakan merasa ada kejanggalan diantara aku dan adiknya, Se Hoon.

“mereka sudah cocok sebagai adik dan kakak ipar ternyata” hibur Ahjumma.

“ne, tentu saja bukan?” Se Hoon tersenyum. Dan senyumannya itu berhasil menggoyahkan perasaanku lagi. Hentikan Se Hoon, jebal!!

“ehm, chagi..” Yeolli Oppa mengelus puncak kepalaku, “apa boleh aku melamarmu sekarang?”

DEG!!! Rasanya jantung ini berhenti berdetak. Chan Yeol melamarku?

“tidak bisa!” sontak Se Hoon menolak ucapan Oppa.

“waeyo, Se Hoon?” Tanya Oppa.

“eh.. proses lamaran itu kan harus disertai kedatangan orang tua kedua belah pihak, mana mungkin sah dalam keadaan yang seperti ini? Tanpa kehadiran keluarga sang Yeoja” jawab Se Hoon ada benarnya, sepertinya aku lupa memberitahunya.

“Appaku sudah meninggal, satu tahun yang lalu, akibat kecelakaan di pertambangan” jelasku sembari memberitahunya.

“oh” jawaban singkat dari Se Hoon.

“baiklah, apa kau mau menerima lamaranku?” Tanya Oppa padaku.

“tentu saja, chagi” jawabku tanpa pikir panjang.

“mwo? Aigooo gomawo chagi” Oppa langsung saja mengecup singkat punggung tanganku. Mukaku pasti sudah merah sekarang. Tanpa ku sadar ternyata perlakuan Oppa sama dengan Se Hoon waktu itu.

“aku turut berbahagia ya, Hyung” Se Hoon meninju lengan Oppa pelan.

“gomawo, Saengku..” Oppa menjitak kepala Se Hoon. Mereka memang terlihat akrab. Astaga Tuhan aku tak mau menghancurkan hubungan mereka dengan kenyataan bahwa aku pernah menjalin hubungan dengan adiknya Oppa, Namjachinguku sekarang. Apa tak perlu kuungkap semuanya?

“bolehkah aku mengajaknya berdansa? Sebagai bukti kalau aku sudah menerima ia sebagai kakak iparku” Tanya Se Hoon pada Oppa. Aigo apa maksudnya?

“tentu saja..” Oppa tak curiga sama sekali.

“Noona.. maukah kau berdansa denganku?” tanyanya kini padaku. Aigo.. dia memanggilku dengan sebutan itu?!

“ne..” dengan gerakan sigap ia menekan tombol pada home theater milik Oppa, sebuah lagu slow mengalun merdu, tapi.. tunggu dulu.. lagu ini..

“apa yang kau lamunkan, Noona? Lagunya indah bukan?” Tanya Se Hoon meraih pinggangku lembut.

“anii,, aniyaa.. ehm ne lagunya indah..” rasanya air mata ini sudah memenuhi mata, terlebih ketika melihat Se Hoon menatapku dengan tatapan khasnya, “lagu ini lagu yang sering ku dengar dulu, tapi terakhir ku dengar saat pesta dansa 6 tahun yang lalu”

“aku kira kau sudah lupa padaku atau pun segala hal tentang aku dan kita” Ucap Se Hoon yang berhasil membuat rasa bersalah muncul.

“tidak, sama sekali tidak,pelankan suaramu, aku mohon jangan sampai Oppa mengetahui semua ini” pintaku dengan lembut walau sedikit memaksa.

“baiklah, dan apa bisa aku mohon kau untuk kembali padaku?” secara spontan aku mundur beberapa langkah.

“ani.. aniyaa.. kau yang tidak menepati janjimu, aku sudah mengunjungi taman sekolah, tapi kau tak ada”

“jangan membohongiku! Lebih dari 6 jam aku menunggumu disana, tapi apa yang aku dapatkan? Nihil! Dan aku berfikir mungkin salahku yang menghilang begitu saja menjelang pengujian skripsiku, tapi ternyata kau yang mengkhianatiku” tangan Se Hoon kini mencengkeram lenganku.

“kutunggu besok di taman, akan ku selesaikan semua ini” ucapku pergi meninggalkannya begitu saja.

****

Se Hoon POV

“mau kemana, Saeng? Pagi buta seperti ini sudah berpakaian rapi” Tanya Yeol Hyung padaku.

“ada urusan, Hyung. Anyeoong” ucapku berlalu begitu saja. Ku lajukan mobil sportku dengan kecepatan yang tinggi, bagaimana pun aku tak ingin MANTAN Yeojaku sudah datang dan menungguku disana.

“hey” ternyata perkiraanku salah, Neul Chan sudah terlebih dulu datang. Sial!

“ya, maaf sudah membuatmu menunggu” ku garuk leher yang sama sekali tak terasa gatal, setidaknya dapat menutupi kecanggunganku karena jantung ini yang entah mengapa masih selalu berdetak lebih kencang bila menatap matanya.

“tak apa, oh iya, ijinkan aku berbicara dan menjelaskan semuanya duluan” pintanya padaku.

“ne, silahkan”

“aku dan Hyungmu menjalin hubungan tepat saat kami dipercaya menjadi ketua pelaksana sebuah konser di salah satu event, kami saling mengenal karena dosen Hyungmu mempercayakan aku sebagai pembimbingnya membuat skripsi, aku jatuh cinta padanya karena..”

“karena dia lebih tampan dariku dan dengan mudah kau melupakanku” sela ku.

“aniya! Karena sikapnya terlalu mirip denganmu, gerak – geriknya pun serupa denganmu, dan kau tahu? Saat aku benar – benar merindukanmu, dan segala hal tentangmu, Chan Yeol Oppa muncul begitu saja”

“tapi itu bukan hal yang dapat membuat kau melupakan janjimu, aku yakin itu!”

“rencananya, aku kembali ke Korea tepat di hari yang sama dengan kepulanganmu, tapi.. Appaku meninggal setahun sebelum aku dapat menyelesaikan kuliahku, mau tak mau aku harus kembali ke seoul sendirian, karena Hyungmu sudah menjadi Namjachinguku, dia pun pulang bersamaku dan membantuku setiap hari, aku masih merasa dia itu kau, kau dan kau” pada kata – kata terakhir nadanya meninggi, kulihat air matanya jatuh membasahi pipinya.

“jebal, jangan menangis. Aku tak bisa menenangkanmu, kau milik Hyungku. Lagipula kau terlihat bahagia dengannya”

“aku memang bahagia, tapi tak sebahagia denganmu, tetap ada rasa sakit ketika aku sadar dia itu bukan kau!” kini tubuhnya terjatuh di atas tanah, tangisnya benar-benar pecah, “bukan ini yang ku mau.. bukan ini, aku sudah membayangkan ketika kita bertemu, tapi ternyata itu hanya bayangan saja”

“jebal, jangan menangis. Sekarang lebih baik kau nikmati yang ada, bahagiakan Hyungku seperti aku membahagiakanmu, sekarang sudah jelas bukan? Sudah tak ada apa-apa antara kita karena memang sudah tidak ada yang bisa kita perjuangkan, terlebih kau akan segera menikah dengan Hyungku” ucapanku ini pasti menyakitkannya untuk sekarang, tapi pasti akan memberikan kebahagian nantinya walau aku yang harus terluka selamanya.

“kita buka lembar baru saja, kau dan aku, bukan dengan Hyungku, jebal..” pintanya. Tanpa sadar kini ia memelukku, pelukan yang memang aku butuhkan saat ini.

“tak bisa! Kau tunangan Hyungku dan akan menjadi istri sahnya minggu depan, lagi pula dengan kau meninggalkannya itu akan membuatnya mati begitu saja, Hyungku memiliki riwayat jantung lemah, sedikit hal mengejutkan akan membuatnya mati, kau tahu hal itu bukan?” ucapku sedikit kesal, peluh dan keringat mulai membasahi wajah dan tanganku, harus berapa lama aku menahan rasa sakit ini?

“apa? Jantung Yeolli Oppa lemah? Setahuku tak ada riwayat penyakit apapun padanya.”

“berarti kau belum mengenal Yeolli Hyung dengan baik. Selamat menempuh hidup baru dengannya, aku akan datang sebagai pendamping pengantin menggantikan Appamu, sekaligus dengan resmi melepaskanmu untuk Hyungku” kulepaskan pelukannya lembut lalu pergi tanpa berpamitan. Tuhan ambil nyawaku saja sekarang daripada rasa sakit ini terus meradang.

****

Hari yang ditunggu Hyungku pun tiba, hari pernikahannya bersama mantan Yeojaku. Hari ini aku dan Hyung berpakaian sama atas permintaan Eomma. Dan aku harus menjemput pengantin dirumahnya dan mengantarnya sampai ke altar gereja. Pekerjaan yang mungkin dapat dengan mudah bagi setiap orang melakukannya, tapi tidak untukku. Rasanya seperti menyerahkan jiwa ini pada Tuhan dan mati. Lebih baik aku mati daripada melakukan ini.

“neomu kyeopta…” ucap Eomma memegang kedua bahuku.

“gomawo, Eomma” ku kecup singkat pipinya.

“tahun depan anak Eomma yang tampan ini harus menyusul Hyungnya. Ajak Yeoja yang selalu kau ceritakan pada Eomma ya, pasti Yeojanya tak kalah cantik dengan Neul Chan” ucapan Eomma tadi layaknya garam yang menggenangi luka basah. Menyakitkan, cukup pedih, dan sangat miris.

“ehm, ne Eomma, doakan saja” aku hanya bisa tersenyum pahit untuk menghibur Eommaku ini.

“cepat bergegas, kau harus menjemput Neul Chan terlebih dahulu, jangan lupa diminum obatnya, Eomma tak ingin kau sakit seperti tempo hari” peringatan dari Eomma mulai menyadarkanku akan sesuatu.

“ne, Eomma.. Se Hoon pergi dulu ya. Anyeong..” aku pun pergi meninggalkan kamarku dengan membawa obat yang Eomma maksud, “aku bisa tanpa obat itu, Eomma!”

Sepanjang perjalanan menuju rumah Neul Chan, pikiranku terus melayang ke gereja dimana akan berlangsungnya pernikahan Hyungku dengan Yeoja yang sangat aku cintai, mungkin akan menyakitkan, tapi aku harus mulai terbiasa, kalau bukan sekarang, kapan lagi aku dapat terbiasa melihat semua itu?

Kini mobilku tiba di halaman gereja, kubukakan pintu mobil, keluarlah Neul Chan dengan gaun merah muda yang makin memperlihatkan kecantikannya. Benar – benar terlihat seperti putri raja. Neul Chan melihat ke arahku dengan tatapan nanar. Pandangannya kosong. Namun kucoba menyemangatinya.

“pengantin tidak boleh melamun, nanti pernikahannya gagal loh” hiburku dengan senggolan di pinggangnya. Sementara Neul Chan hanya tersenyum masam.

“kalau begitu aku akan melamun saja” ucapnya datar.

“jangan bilang kau lupa lagi dengan ucapanku waktu itu?” Tanyaku sembari menggandeng tangannya menuju gereja.

“aniya, aku ingat” jawabnya singkat.

Kini pintu gereja terbuka, terlihat semua mata menatap kearah kami. Hyung pun terlihat tampan dan gagah sebagai pengantin pria. Hyung telah berdiri layaknya pangeran yang menunggu putrinya datang. Dan aku adalah pengawal putrinya.

Pernikahan pun dimulai dengan Hyung yang mulai mengucapkan janji sehidup semati dengan Neul Chan, rasanya kini aku mulai sulit untuk bernafas. Air mata pun sudah membasahi pipi Eomma yang terlihat sangat terharu. Appa dengan kuat menahan tangisnya dan berdiri gagah tepat di sebelah pastur. Terlihat beberapa kali Neul Chan melirik ke arahku. Sementara aku masih menahan air mata ini. Biarlah hanya aku yang merasakan sakit ini.

Seluruh tamu yang datang mulai pergi dari gereja menuju tangga diluar gereja, aku pun kini bersiap membawa bunga untuk menaburkannya di sepanjang karpet merah yang akan dilalui pengantin baru itu menuju ke dalam mobilku, sementara tamu yang lain mulai bersiap menaburkannya ketika pengantin melewati mereka.

Sorak riuh puluhan tamu mengantarkan Hyung dan Neul Chan ke dalam mobilku. Hyung melambai padaku, disusul Neul Chan yang tersenyum padaku. Semoga kau bahagia nantinya. Seiring kepergian mobil itu, gereja menjadi mulai sepi, dan inilah yang kubutuhkan.. tempat untuk menenangkan diri.

“mau kemana?” Tanya Eomma.

“ke dalam gereja, Eomma. Ada barang yang tertinggal. Tunggulah di mobil” pintaku.

“ne, hati – hati. Eomma menyayangimu” dipeluknya tubuhku singkat. Entah kenapa ini seperti sebuah perpisahan saja.

“aku juga, aku sangat sangat menyayangimu” balasku.

Neul Chan POV

“akhirnya kau resmi menjadi istriku, chagi..” ucap Oppa manja. Kini kami sedang dalam perjalanan menuju rumah baru kami.

“ne Oppa, apa kau senang?” tanyaku.

“tentu saja, kau juga bukan?”

“ehm, tidak”

“maksudmu?”

“tidak mungkin aku tak bahagia Oppa bila aku bersamamu?”

“haha kau mengagetkanku saja, oh ya, panggil aku dengan sebutan yeobo, arra?”

“ne, opp.. yeobo maksudku”

Tut tut.. suara phonecell Oppa berbunyi.

“anyeong?” jawab Oppa pada phonecell nya.

“……..”

“jeongmal?” wajah Oppa berubah pucat.

“………”

“ne, kita bertemu disana, lalu Eomma ceritakan padaku, arra?”

“………”

Klik! Kini wajah Oppa terlihat sangat cemas. Apa yang terjadi sebenarnya?

“ahjusii, tolong pergi ke rumah sakit di pusat kota, cepat!” titah Oppa.

“waeyo, yeobo? Ada apa di rumah sakit? tenanglah” Tanyaku mencoba menenangkannya.

“Se Hoon, dia..”

“dia kenapa?” mendadak rasa khawatir itu muncul.

“dia ditemukan tak sadarkan diri di altar gereja, penyakitnya kambuh”

“mwo? Penyakit? Tak sadarkan diri?”

“ne, astaga Tuhan selamatkan adikku” ucap Oppa panik. Sangat panik.

“memang, penyakit apa?” selidikku.

“jantungnya lemah, ia terlahir premature. Kami kira Se Hoon sudah sembuh, tapi minggu kemarin ia mengeluh sulit bernafas, ketika Eomma membawanya ke rumah sakit, Dokter Kim Joon bilang ada lubang di jantungnya. Menurut Dokter Kim Joon, ia terkejut dan tertekan sehingga kini penyakitnya rawan kambuh dan bisa – bisa ia mati seketika bila terjadi dekompensasi jantung” jelas Oppa.

“bukannya Oppa yang memiliki penyakit itu?” tanyaku gemetaran menahan tangis.

“aniya, Oppa sangat sehat. Itu kebiasaannya, selalu tak mau mengakui penyakitnya sendiri dan bersandiwara seakan – akan dia sehat” jawab Oppa dengan air mata yang mulai tumpah.

“Dokter Kim Joon pernah bilang, umur Se Hoon tidak akan lebih dari 30 tahun mengingat lubang di jantungnya yang akan membesar dan bocor tepat di umurnya yang ke 30” tambah Oppa.

“apa itu sudah pasti?”

“Itu hanya perkiraan kasar saja. Semua tergantung dari situasi dan kondisi Se Hoon sendiri”

Astaga, jadi ia berbohong padaku?

AUTHOR POV

Sesampainya di rumah sakit, Chan Yeol dan Neul Chan bergegas menuju ruang ICCU. Neul Chan bersusah payah berlari meninggalkan high heels nya dan mengangkat gaun pengantinnya. Tangisannya sudah pecah tak tertahankan. Hampir bertahun – tahun Se Hoon menyembunyikan penyakitnya dan sebodoh itukah Neul Chan hingga tak bisa mengetahui penyakitnya Se Hoon?

“bagaimana keadaannya?” Tanya Chan Yeol pada Appa dan Eommanya di deretan kursi ruang tunggu pasien.

“Se Hoon masih koma, Dokter Kim Joon masih tak bisa menyadarkannya, kesempatan hidupnya hanya 50% jika ia tak sadar” jelas Appanya. Sedangkan Eommanya masih terus menangis.

“bagaimana kejadiannya?” Tanya Neul Chan sembari menahan tangisnya.

“sebelum kami pulang, Se Hoon meminta ijin untuk mengambil barangnya yang tertinggal di dalam gereja, sepertinya ia berdoa juga. Karena Eomma sempat melihatnya menunduk di depan altar” jawab Eomma.

“lalu?” Chan Yeol pun ikut menyimak.

“kami tunggu selama 10 menit namun ia tak kunjung keluar gereja, biseo di rumah pun menelepon Appa, katanya ia menemukan sebotol obat Se Hoon yang sepertinya sengaja ia buang ke dalam tempat sampah yang ada di depan rumah, perasaan Eomma pun tak enak, jadi Eomma putuskan menghampirinya, namun ternyata terlambat, Se Hoon sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan muka yang sudah membiru” tangisan Eomma pun meledak lagi.

Anyeong, hyung..

Mungkin ketika kau membaca surat ini, alam kita sudah berbeda. Tapi ada hal yang perlu kau tahu, maafkan aku karena aku masih tak bisa membawa yeoja yang sering kuceritakan padamu. Aku tak bisa membawanya ke hadapanmu, karena kini ia telah menjadi istrimu, hyung. Maaf mungkin hal ini sangat terlambat kusampaikan, tapi setidaknya kini kau sudah mengetahuinya, jaga ia seperti kau menjaga keluargamu, lindungi ia seperti kau melindungiku, bahagiakan ia seperti kau membahagiakanku, bahkan kalau bisa, lebih dari itu. Aku titip Neul Chan, Eomma, dan Appa ya. Jaga dirimu, hyung.

Salam hangat,

Se Hoon.

(maafkan kebodohanku ya, karena membuang semua obat yang kau belikan untukku)

“Appa menemukan surat ini di samping tubuh Se Hoon saat di gereja” diberikannya surat itu pada Chan Yeol.

“astaga, Se Hoon” tangis Yeolli menatap surat tersebut. Ia masih sangat tak percaya ternyata selama ini Se Hoon menyembunyikan hal besar ini dari seluruh anggota keluarga.

“kenapa kau tak menceritakan padaku, yeobo? Kenapa?” Tanya Chan Yeol pada Neul Chan. Tiba – tiba Dokter Kim Joon keluar dari ruang ICCU.

“kalian bisa masuk ke dalam, tapi hanya dua orang saja, sisanya bisa melihat dari luar. Pasien membutuhkan dukungan dari keluarga” titah Dokter Kim Joon.

“biar kami yang masuk” ucap Chan Yeol tanpa basa – basi. Setelah pakaian tamu pasien selesai dikenakan, tanpa aba – aba Neul Chan memasuki ICCU.

“Se Hoon..” ucapnya sedikit bergetar, “bangunlah..”

“dasar adik yang bodoh! Bisa – bisanya membohongiku” Chan Yeol mencoba bergurau, “kalau kau mau, kita bisa berbagi istri, Neul Chan pasti mau, benarkan?”

“kalau itu bisa membuatmu sadar, aku mau. Cepat bangun, jangan tidur saja!” Neul Chan memukul pelan lengan Se Hoon.

Seketika monitor kecil penunjuk kerja jantung Se Hoon menunjukkan grafik penurunan, itu berarti jantung Se Hoon mulai berdetak sangat lemah. Hal itu membuat Neul Chan dan Chan Yeol panik.

“Dokter Kim Joon, Dokter Kim Joon” panggil Neul Chan masih dengan tangisannya.

“tenanglah” pinta Dokter Kim Joon.

“tolong selamatkan Se Hoon, Dokter Kim Joon. Kami mempercayaimu” ucap Chan Yeol.

Tiba – tiba grafik itu menunjukkan garis lurus dengan suara yang khas yang cukup terdengar sampai ruang ICCU, Eomma sontak histeris melihat keadaan Se Hoon.

“maafkan kami, ini usaha terbaik kami. Tak ada keinginan untuk sadar pada diri Se Hoon” Dokter Kim Joon pun pergi meninggalkan ruangan, sementara para suster melepaskan alat pembantu yang terpasang pada tubuh Se Hoon lalu memakaikan Se Hoon selimut putih yang menutupi seluruh tubuhnya.

“Se Hoon, jebal jangan tinggalkan aku, bangunlah..” Neul Chan histeris.

“sudahlah, ini sudah takdir. Mianhae Saeng, ini salahku..”

“ani, aniya. Aniya!!! Ini salahku, aku yang mengkhianatinya. Aku harus membayarnya, aku pula yang bodoh mempercayai ucapannya” seketika Neul Chan berlari keluar rumah sakit. Entah apa yang ada di pikirannya. Ia terus berlari tanpa memperdulikan ucapan Chan Yeol ataupun Eommanya.

“Neul Chan, awaaaaaaas!” Chan Yeol berteriak.

Brakkk!!!!! Sebuah mobil membantingkan stirnya ke arah lain guna menghindari tabrakan, tapi naas, sebuah mobil dari arah lain dengan kecepatan tinggi berbalik hingga menimpa tubuhnya.

****

“mianhae, mianhae.. ini semua salahku”

“aniya, ini sudah takdir, Neul Chan. Salah Eomma juga yang tidak bisa menjaga mereka dengan sebaik – baiknya” ucap Eomma membantah ucapan Neul Chan.

“seharusnya aku yang mati, Eomma. Bukan Oppa..”

“kau ditakdirkan Tuhan untuk menemani Eomma dan Appa, chagi.. kini tugas kami menjagamu dengan sebaik – baiknya”

“kajja kita pergi, langit sudah mulai gelap” ajak Appa pada Eomma dan Neul Chan.

“duluan saja, Appa. Aku masih ingin disini sebentar saja” pinta Neul Chan.

“baiklah, hati – hati chagi..” ucap Appa.

“ne Appa Eomma..” ucap Neul Chan tersenyum.

“Tuhan, mungkin Engkau mengambil kedua orang tuaku dan kedua Namja yang aku cintai, tapi terimakasih juga atas pemberianmu ini, semua peristiwa ini mengajarkanku tentang arti cinta, kasih sayang, kejujuran dan pengorbanan yang tak berbatas. Tuhan, aku titip mereka disampingMu ya.. sampaikan salamku pada mereka, dan katakan untuk bersabar, aku pasti akan menemui mereka di sana” Neul Chan pun pergi menyusul Appa Eommanya yang sudah terlebih dahulu berada di mobil.

THE END.

(mianhaee kalau banyak typo..)

Tulisan diatas ga ada yang aku edit satu pun, sumpah! FF ini murni hasil buatan @neshanyipnyip buat @nataliaslstri juga, agak ngenes emang. Bayangin aja cast yeoja nya itu kamu nat 😀 sekali lagi ini FF buatan Nesha ya, aku cuma posting doang..

Advertisements

21 thoughts on “FF EXO : YOUR HEART HURT ME

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s