FF EXO : SASAENG FANS


Title

Sasaeng Fans

Cast

Kim Jong In (Kai)

Park Ni Chan as Kim Ni Chan

All member EXO-K with manager

Genre

Family

Rating

General

Length

Ficlet

Author

@ririnovi

 

FF pertama yang di publish ini sebenernya bukan ff pertama yang dibuat, cuma kebetulan ff yang pertama pertama masih dalam tahap pengeditan. Karena setelah dibaca lagi banyak kata-kata yang rancu dan pengejaan ataupun penggunaan kata yang salah. Sebenernya ff yang di publish ini juga masih banyak kesalahan kukira, tapi setidaknya lebih baik dari ff yang lain. Hehe.

Cus! Kai is coming..

“Oppa pergi dulu ya, oppa janji akan membelikanmu oleh-oleh yang banyak.”, ucap Kai sambil mengelus rambut yeodongsaeng-nya.

“Oppa kapan ada waktu bersamaku lagi? Sejak oppa merencanakan debut bersama grup oppa itu, oppa jarang ada di rumah.”, keluh Nichan.

“Liburan musim panas ini kita bisa pergi berlibur bersama, oppa janji.”

“Itu kan masih lama oppa. Sudahlah oppa pergi saja, aku benci oppa!”

“Kau jangan seperti anak kecil, Nichan. Kau ini sudah besar, lagipula oppa hanya pergi sebentar dan nanti akan kembali lagi!”, ucap Kai penuh kesal namun mencoba meredamnya.

“Oppa tau, aku hanya mengkhawatirkan oppa! Aku takut hal-hal aneh terjadi pada oppa! Sudah, itu saja!”

Yeoja kecil itu pergi meninggalkan Kai yang menunduk lemah. Dulu memang mereka sering sekali menghabiskan waktu bersama. Bahkan disaat Kai sedang sibuk training di agensi-nya, dia masih menyempatkan waktu untuk dongsaengnya itu. Hanya saja sejak Kai direncanakan debut bulan depan, jadwalnya jadi semakin padat dan tidak memungkinkannya untuk menemani dongsaeng kesayangannya tersebut. Jangankan untuk menemaninya, sekolah pun harus ia korbankan untuk meraih apa yang dia inginkan dari dulu.

Nichan setengah berlari meninggalkan oppa-nya di halaman rumah. Sebenarnya dia tidak membenci oppa-nya itu, hanya saja Nichan sedikit kecewa dengan aktivitas baru yang dilakukan Kai yang tentu saja banyak menyita waktu. Mungkin Nichan egois, namun dia benar-benar merasa kehilangan. Oppa yang selalu menemaninya sedari kecil, membantunya saat belajar, dan sering mengajaknya bermain kini hilang.

“Dasar oppa menyebalkan! Dia kan bisa mengatur jadwalnya agar tidak terlalu padat. Oppa tidak tahu bagaimana kesepiannya aku disini.”, Nichan mulai menangis di kamarnya.

Phone cell-nya yang berdering diacuhkan karena dia tahu siapa yang meneleponnya.

“Jangan membuatku berharap oppa akan peduli lagi padaku!”, ucap Nichan sambil melempar phone cell-nya itu hingga mati.

Dia tidak tahu, bahwa seseorang yang meneleponnya di ujung sana sedang mengkhawatirkan keadaannya. Berulang kali Kai mencoba menelepon Nichan untuk meminta maaf, tapi tak pernah ada jawaban. Malah di panggilannya yang terakhir, nomornya mendadak tidak aktif.

Dia sudah tahu bagaimana watak dongsaeng-nya itu. Kalau dia sedang marah, dia harus dibiarkan sendiri agar emosinya reda dengan sendirinya. Tapi itulah yang membuatnya semakin khawatir. Kalau dia sendirian, akan banyak kemungkinan yang terjadi karena tidak ada yang mengawasinya.

“Hyung, apa kita ada jadwal kosong minggu ini?”, tanya Kai pada manager yang duduk di sebelahnya.

“Kau kan tahu kita sedang gencar-gencarnya promosi, untuk tiga bulan kedepan jadwal kita sudah full.”

Kai semakin merasa bersalah mendengar kata-kata managernya itu.

“Pesawat berangkat 10 menit lagi, sebaiknya kita bergegas.”, ucap sang manager pada seluruh member grup EXO.

“Hyung, bagaimana jika aku tidak jadi ikut?”, tanya Kai ragu.

“Oppa tidak boleh pergi, aku takut terjadi sesuatu pada oppa..”, ucap Nichan sambil membenamkan wajahnya pada sebuah bantal.

Tanpa pikir panjang, dia lalu bergegas mengambil phone cell-nya. Setelah beberapa saat mengotak-atik phone cell-nya tersebut akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke airport. Berharap semoga Kai belum pergi.

“Maaf, tiket anda sudah dibatalkan.”, ujar seorang petugas saat dilakukan pemeriksaan.

“Dibatalkan bagaimana maksudmu?”, tanya manager kebingungan.

“Coba tanyakan pada bagian informasi.”

“Bagaimana bisa tiketnya dibatalkan?”, selidik manager sesaat setelah mereka sampai di bagian informasi.

“Dari data yang ada, tiket dengan nomor ini diganti keberangkatannya menjadi bulan depan. Bukankah anda sendiri yang mengkonfirmasinya?”, tanya petugas informasi.

“Saya membeli tiket ini atas nama Lee Sung Hwan, jadi anda harusnya berhati-hati!”, seru manager mulai kesal.

“Maaf tuan, tapi tiket ini juga dibatalkan atas nama yang sama.”

Manager tercengang mendengar apa yang dijelaskan oleh petugas informasi itu. Dia tidak mungkin membatalkan penerbangan untuk acara showcase EXO di China nanti malam. Acaranya tidak mungkin dimundurkan.

“Bagaimana ini, hyung?”, tanya D.O dengan wajah cemas.

“Kapan tepatnya tiket ini dibatalkan?”, tanya manager tanpa menggubris pertanyaan D.O

“Sekitar 15 menit yang lalu, jadi bukan anda yang menelepon?”, tanya petugas itu bingung.

“Jelas bukan. Tidak mungkin aku membatalkannya!”, ucap manager yang mulai menanjak emosinya.

“Sabar hyung, pasti ada jalan keluar. Oya, tadi anda bilang menelepon ya? Bisa kami meminta nomor teleponnya?”, tanya Kai setenang mungkin.

“Mianhanda, kami tidak bisa memberikan noomor teleponnya. Jika anda ingin, mungkin kami bisa me re-dial dari sini.”

“Itu lebih baik. Coba saja sekarang. Kita harus tahu siapa yang mungkin sedang mengerjai kita.”, ucap Chanyeol.

Petugas yang ber nametag Kim Eun Chan itu memencet beberapa tombol di telepon yang ada di mejanya. Wajahnya penuh dengan rasa cemas saat kupingnya menangkap suara nada sambung dari telepon itu. Wajah cemas juga mewarnai para member EXO dan juga managernya. Dibiarkan petugas saja yang berbicara dengan seseorang di seberang sana. Jika telepon itu sampai ke tangan manager, mungkin dia akan langsung marah dan memaki-maki orang tersebut.

“Bagaimana??”, tanya beberapa member serempak saat petugas menutup teleponnya.

“Dia memang secara sadar membatalkan tiket ini. Dia juga bisa menyebutkan nomor penerbangan serta nomor yang tertera pada tiket. Dia seorang yeoja, namanya Nichan.”

“Nichan??”, mata Kai membulat mendengar nama yang sudah tidak asing baginya itu.

“Siapa Nichan? Apa kau mengenalnya, Kai?”, tanya Sehun penasaran.

Di sudut lain seorang yeoja baru saja sampai didepan airport. Dia tidak tahu di terminal mana oppa-nya akan berangkat. Matanya beredar ke sekeliling, mencari sosok yang mungkin dia kenali. Tapi, banyak sekali orang yang berkeliaran disitu. Dia takut gara-gara terlalu lama mencari, oppa-nya keburu pergi. Akhirnya dia memutuskan untuk bertanya pada bagian informasi.

“Oppa?”, dilihatnya seseorang yang berdiri didepan meja informasi bersama beberapa orang lainnya.

“Oppaaa!”, teriak Nichan sembari berlari menghampiri oppanya.

“Nichan??”, Kai menunjukkan wajah tidak percaya.

“Nichan? Bukankah itu adikmu, Kai?”, Baekhyun menatap Kai dan yeoja yang berlari ke arahnya.

“Nichan itu nama adikku.”, ucap Kai lemah.

“Oppa, kau belum berangkat?”, tanya Nichan bahagia karena masih bisa melihat wajah oppanya.

“Jadi nama adikmu Nichan? Dan dia yang membatalkan penerbangan kita?”, tanya manager Lee menatap tegas pada Nichan.

“Kau ini keterlaluan, Nichan! Oppa hanya pergi dua hari dan setelah itu kau bisa bertemu oppa lagi! Lagipula oppa sudah bilang, liburan musim panas nanti kita akan berlibur bersama. Apa itu tidak cukup?”, ucap Kai melepaskan semua emosinya.

“Maksud oppa apa?”, tanya Nichan bingung.

“Jangan memasang wajah polos seakan tidak terjadi apa-apa! Kau ingin menghancurkan impian yang sudah oppa bangun dari dulu?”

“Oppa, aku tidak me..”

“Sudahlah, kau puas oppa tidak jadi berangkat?? Ini kan tujuanmu membatalkan tiket penerbangan oppa, huh? Sekarang kau boleh senang, tapi ingat oppa tidak mau bertemu denganmu lagi!”, bentak Kai.

Nichan masih terpaku menatap orang yang sudah berpaling ke arah lain itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Tak pernah ia mendapat perlakuan seperti ini dari oppa-nya semenyebalkan apapun dirinya. Dia selalu sabar menghadapi Nichan. Berusaha meredam emosinya agar tidak sampai menyakiti Nichan. Tapi apa yang terjadi hari ini?

“Kau masih disini rupanya? Untuk apa kau menangis??”

“Sudahlah Kai, dia hanya anak kecil.”, ucap Chanyeol dewasa.

“Tapi dia sudah keter..”

“Terserah oppa mau bilang apa, aku tidak mengerti dengan apa yang oppa bicarakan sedari tadi. Tentang tiket, aku yang keterlaluan dan hal-hal aneh itu aku tidak mengerti. Aku datang kesini hanya untuk bertemu dengan oppa sebelum oppa pergi ke China. Di perjalanan kesini tadi aku sudah berpikir untuk merelakan oppa pergi, karena aku tahu oppa akan bahagia karena hal itu. Tapi aku malah dituduh sesuatu yang tidak aku lakukan! Sekarang aku benar-benar membenci oppa!”, ucap Nichan berlari menjauhi tempat itu sambil sesekali menghapus air matanya yang tak bisa ia tahan lagi.

“Apa bukan kau yang keterlaluan, Kai?”, tanya D.O lembut.

“Aku tidak mengerti apa yang dia katakan.”, ucap Kai dingin.

“Mungkin dia berkata yang sesungguhnya. Anak kecil biasanya berkata jujur kan?”, tanya Suho.

“Mungkin kali ini dia sangat nekat. Tolong maafkan dia, sekarang kita pikirkan bagaimana sekarang saja.”, ucap Kai mencoba menenangkan diri.

“Kau kejar saja dongsaeng-mu itu.”, ucap Baekhyun bijaksana.

Kai terlihat memikirkan sesuatu. Sesungguhnya dia sedang menenangkan diri karena hatinya sedang kacau sekarang, perasaan tidak enak menghantuinya. Matanya mengedar ke seluruh penjuru. Mencoba untuk tidak bertatapan dengan siapapun agar pikirannya jernih kembali. Dilirikan matanya ke kanan, kiri, kanan, kiri, kanan.

“Ush!”, matanya tertangkap oleh flash kamera yang menyilaukan.

Si pemotret tadi memang sengaja ingin memotretnya. Dan dia masih berdiri di tempat itu. Menggoyang-goyang secarik kertas foto yang baru saja keluar dari kamera polaroid nya. Dipandanginya lekat si pemotret itu hingga orang tersebut menemukan tatapan matanya. Dia segera megambil map dan tas yang tadi dia dudukkan diatas kursi. Dengan wajah takut yeoja itu mulai berjalan entah akan kemana.

“Hyung, aku ingin ke toilet sebentar.”, ucap Kai tanpa mengalihkan pandangan dari yeoja yang masih memegang kamera polaroidnya tadi.

Yeoja itu berjalan cepat ditengah kerumunan orang yang berlalu lalang. Tidak mudah untuk Kai mengawasi gerak-geriknya.

“Hey!”, Kai menarik tangan yeoja itu hingga map yang digenggamnya jatuh. Seluruh isinya berhamburan, kertas-kertas dan juga lembaran-lembaran foto yang Kai duga berasal dari kamera polaroid-nya.

Diambilnya satu foto yang tercecer itu. Sebuah gambar yang tidak asing untuknya. Sebuah meja, meja informasi yang tadi dia dan teman-temannya datangi. Dia melihat Baekhyun, wajahnya tampak tenang meski masih ada gurat cemas di wajahnya. Juga ada gambar dirinya yang tengah menunduk. Kai pikir, foto ini diambil sewaktu dia selesai memarahi Nichan tadi.

“Siapa kau?”, tanya Kai sambil memicingkan matanya.

Yeoja itu tidak langsung menjawab, tangannya bergetar kencang. “Aku.. Aku..”

Tit tunit tunit tunit tunit

Phone cell yeoja itu berbunyi. Dia mengangkat telepon itu masih dengan tangan bergetar. “Yeo.. Yeoboseyo?”, suaranya juga bergetar.

“Kau sepertinya kurang pintar, nona.”, ucap namja yang muncul dari balik kerumunan orang.

“Kau terkepung.”, ujar yang lainnya.

“Jadi, siapa namamu dan kenapa kau bisa tahu nomor penerbangan kami?”, tanya Kai dengan senyum yang membuatnya terlihat jahat.

“Aku.. Aku membayar pegawai disini agar bisa mencegah kalian pergi, dan.. dan mengambil foto-foto kalian..”, ucapnya menunduk dengan suara yang bergetar.

Semua member tercengang mendengar pengakuannya, kecuali sang manager.

“Aku sudah pernah mengalami ini sewaktu menjadi manager BoyFriend. Biar aku yang menanganinya.”, ujar manager Lee mendekati yeoja itu. “Kau, jangan terlalu terobsesi dengan artis yang kau sukai. Jangan merendahkan harga dirimu seperti itu hanya untuk mendapat secarik foto ini. Ingat, kau hidup di dunia nyata.”

“Apa kau senang?”, tanya manager Lee.

“Sangat senang! Oppa juga terlihat sangat senang!”, ucap Nichan berseri-seri. “Oya ajhussi, bagaimana dengan fans yang tadi siang di bandara itu?”

“Sasaeng fans itu? Dia mungkin sedang merenungi perbuatannya di kantor polisi. Orang seperti dia kalau dibiarkan bisa membahayakan nyawa oppa-mu.”, cerita sang manager.

“Ah jangan sampai! Kumohon ajhussi menjaga oppa-ku agar dia tetap baik-baik saja. Aku ingin melihatnya lagi di panggung yang lebih besar dari ini.”, ucap Nichan sembari membalas lambaian tangan Kai yang berada diatas panggung showcase-nya.

END

17 MEI 2012

Yaaah, alurnya emang sedikit maksa dan kecepetan ga sih? Ya begitulah, saya juga masih banyak kekurangan, maka dari itu butuh kritik dan saran yang tentunya bisa membangun 🙂

Oya, tanggal yang  paling bawah itu berarti aku ngeberesin bikin ff ini tanggal segitu, hehe.

See you next story! *deep bow*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s